Nah, maaf yah kalau chapter ini pendek, ternyata plot chapter 14 Cuma sampai segini =~=

Harappa : hahahaa, tobat apa? Sama aku juga mau tobat jadi gagal, wkwkwkwkk.

BlackCherryBee : beta boleh review? Boleeh, ada yg bilang g boleh kasih tau gue… wakkakkaaa, eh kata2 sasuke itu yg raffa bilang ke gue juga loh… tentang klimaks cewek terbagi 2, XD

Icha : sasusaku bersatu kayaknya chapter depan deh, hehehehe… ganjaran sih dapet, hinata disini udah mulai jadi baik kok XD

Ran murasaki SS : hahaha. Loh? Sakura bukan di rape ituuuu =3= sama-sama mauu, wakkakaa

Doremi saku-chan : aku sudah smebuh koook :D, nasib hina? Chapter depan ketauan kok nasibnya bagaimana.

GerardErza : hahahahaaa, ayahnya shikamaru gey pedo, pernah denger istilah itu? Itachi ga mungkin ngebunuh Dei, kalau tujuannya udah selesai mungkin baru bisa ngebunuh Dei, hahahaa

SasuSaku Lovers : nyeheheheee, setelah begituan sama Dei Sakura malah jadi lebih dewasa lohh :D

HikariNdychan : iya, masa lalu shika tragis, gimana coba rasanya diperkosa laki *kita tanya pada raffa* (loh?)

Miku chan : iyaaa, aku juga makin lama suka sama sakuya, heheheee

Purpl3'love : DeiSaku itu tuntutan scenario =3=, maaf yah bagi yang protes, tapi itu tuntutan alur cerita euy =.="

Ninda : hahahaa, lemon nya kenapa? *lagi lemot maap*

Naomi kanzaki : itu ujian untuk sasusaku, hahahaaa

Ayra : eehhh? Sasuke di lemonin sama cewek lain? O.0 ngga kepikiran akan hal itu akuuuuu =3=

Sasusaku : yah begitulah, duh bingung mau jawab apaaa TT_TT (raffa oon nih, pake bikin alur deisaku lemonan segala)

Blueharuchi : lemon sama lime? Ahahahahahaa, aku ngga tau =_=, kayaknya kalau lime itu Cuma yang halus2 yah, ngga se vulgar lemon, bener ngga sih? ._.

Poetri-chan : ketauan sama Itachi kok :D

Chadeschan : aku juga baru tau loh istilah pulkot, wkaakkaakaaa, iya dia udah selesai dinas setelah di templokin sama babon betina, nyayhhahahahaa.

OYO LECHLIEZ : hahahahaa, tahan kok tahan, yg ngga tahan bales review banyak, (sumpah kecantikanku aku Cuma becanda).

RaffaFitri : iya kau udah sembuh kok, oh kamu suka deisaku? Aku sih kurang begitu, ngga ada hintsnya soalnya :D nama lengkap raffa itu Christian Raphael Ariete. Keberatan nama yah, hahahahaa

D3rin : hahahaa, maki2 aja raffa nya, di izinkan kok :D.

Sky pea-chan : okaaayy! :D

Yuukina ScarJou : eh kamu yg adik kakak, kok ngga pernah duet lagi reviewnya? (nyanyi kali ah duet) iya deisaku lemon kebutuhan cerita beibiih, hahhaa, emang chp 12 bikin pundung?

Hasni : hahahahaa, yg bikin sakura mabuk kan hidan, kok nyalahinnya Itachi neng? =3=

Meyrin : =_=" kalo dihapus beda cerita dong.

Toeto : hai, gebetannya roman, hahahhaaa Sasori mulai banyak kok perannya, banyak peran unpredictable loh di fict ini *wink wink*

Karsu uchiha : dei tewas? Ide bagus! Hahahaha

Morningsun : iyaa, chapter depan udah mulai banyak sasusakunya lagi kok, raffa mesum? Emang =_= rajanya dia mah.

Ngga log-in : ini sebenernya siapa sih? Aku penasaran dari dulu loh… XD

Defbra Ino : hahahahaaa, was-was, nanti juga ngerasain kok, nyahahahahahahaa! Wah, PJ nya murah banget neng XD

Bella Haruno : yg update chp ini aku, hehehee

Kim Na Na : hahaha, pada ngira impotent yah, kocak XD mana bisa update chapter 2 sekaligus =3= ilmu kita belum setinggi itu, hahaha

Wakamiya Hikaru : chap depan ada lemon SasuSaku di perpustakaan! *bocoran dari raffa* bukan lemon sih, lebih tepatnya Cuma semi, hahahahaaa, eh? Muram yah? Hidup raffa emang lagi muram, biarin aja nanti juga tewas sendiri XD

Lupa pass : kenapa bisa lupa pass? Kecewa yah, maaf yah.

Dae Uchiha : hahahahaa, Dei perannya lumayan penting nih di siniiiiii, aku udah sembuh kok, makasih yaaah :D

Kikyo : iya kayaknya Gaara sama Sakuya :D

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

Cahaya matahari pagi dengan lembut menyinari kamar yang tadi malam baru saja terjadi adegan panas. Membuat sang pemilik mata aquamarine terbangun, merasa ada seseorang yang kini sedang memandanginya, Ino mendongakan kepalanya.

"Pagi."

Ino tersenyum melihat senyum pagi yang terdapat di wajah Shikamaru.

"Pagi," balas Ino.

"Tubuhmu… baik-baik saja?" tanya Shikamaru lembut sambil membelai pelan rambut pirang yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.

"Ng, tidak apa-apa kok," jawab Ino yang memejamkan matanya, merasakan setiap belaian Shikamaru di rambutnya.

Mengingat kejadian tadi malam wajah Ino memerah, Shikamaru melakukannya dengan sangat lembut seolah sering melakukannya dengan wanita lain, padahal mereka sama-sma pemula. Dan Ino berani jamin, pelajaran yang diberikan oleh Sasuke benar-benar dicerna baik oleh Shikamaru.

"Shikamaru," panggil Ino pelan, "Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan masa lalumu, kalau memang itu adalah hal yang sangat ingin kau lupakan."

"Orang tuaku dulu sangat kaya raya," tiba-tiba Shikamaru berucap dan sedikit membuat Ino terkejut, "Lebih tepatnya… ibuku lah yang sangat kaya raya. Saat ayahku meninggal waktu aku masih bayi, ibuku menikah lagi dengan laki-laki yang brengsek."

Ino sedikit mengangkat tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, menatap sosok Shikamaru yang sedang menyalakan rokoknya.

"Saat keuangan ibuku sudah benar-benar jatuh, ibu sakit-sakitan plus candu alcohol… saat aku pulang sekolah, aku menemukannya tergantung di kamarnya," ucap Shikamaru.

Ino menutup mulutnya yang terbuka, terkejut mendengar cerita Shikamaru yang menceritakannya dengan nada santai.

"Saat itu aku sangat tertekan, dan ayah tiriku adalah satu-satunya orang yang kupunya. Sampai suatu saat… dia memperkosaku…"

"Tu-Tunggu dulu… ayah tirimu…"

"Aku membunuhnya," potong Shikamaru sambil menatap Ino pilu, "Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, aku menusuknya dengan pisau saat dia mencoba memperkosaku untuk yang kedua kalinya."

Terlihat cairan bening menumpuk di mata Ino, "Sesudah aku membunuhnya… aku lari dari rumah itu dalam keadaan yang menjijikan, aku bahkan tidak mengenakan celanaku, heh… sangat hina…" ujar Shikamaru sambil membuang abu rokok yang sudah menumpuk di batang rokok tersebut.

"Saat itu aku tidak sadarkan diri, dan saat aku tersadar… wajah Sakura lah yang pertama kali kulihat… wajahnya sangat khawatir dan terus menangis sambil menggenggam tanganku, begitu aku penuh dengan kesadaran, aku sudah berpakaian penuh… dan yang memberiku pakaian adalah Neji-"

Ucapan Shikamaru terputus karena Ino tiba-tiba langsung memeluknya. Memeluk erat seolah mengatakan apapun yang terjadi Ino akan tetap menerima Shikamaru apa adanya, "Itu semua tidak akan mempengaruhi perasaanku padamu… tidak akan…" ucap Ino lirih.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat pusing akibat sake yang dia minum secara berlebihan tadi malam. Begitu dia membalikan badanya, ada sosok telanjang dada yang sedang tertidur dan tanpa Sakura perhatikan, dia malah memeluknya sambil bergumam, "Sasuke kun~"

"Aku bukan Sasuke kun."

Begitu sosok itu berbicara, mata Sakura terbelalak lebar dan begitu dia mendongakan kepalanya, bukan rambut raven yang dia temukan melainkan rambut pirang panjang yang terurai indah, ditambah lagi Sakura sadar kalau dirinya saat ini tidak memakai sehelai benang-pun. Begitu pula dengan laki-laki yang kini terbangun dan menatap lurus emerald Sakura.

"Tu-tu-tu-tunggu dulu… i-i-i-ini salah paham kan?" ucap Sakura terbata-bata.

"Tidak," jawab Deidara tegas.

"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin melakukan itu denganmu!" Sakura mulai panik.

"Kau memang tidak melakukan itu denganku," jawab Deidara dengan tenang.

"Eh?"

"Karena saat kita melakukannya, kau terus menerus memanggil nama Sasuke."

Wajah Sakura langsung memucat. Ternyata dia benar-benar melakukan sex dengan orang lain selain Sasuke, dia mengkhianati Sasuke.

"Dengar, Sakura," ucap Deidara lembut sambil membelai beberapa helai rambut Sakura, "Aku bersedia membantumu melupakannya, bersama dengan Sasuke atau Itachi… itu hanya akan membuatmu terus tertekan, kau berhak mendapat kebebasan."

Wajah Sakura terlihat sangat ketakutan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Sasuke mengetahui semua ini. Mungkin untuk masalah Sasuke bisa di tutupi karena saat ini mereka beda tempat. Tapi ada satu orang yang juga membuat Sakura takut kalau dia sampai tahu, dan orang itu…

"Sakura, apa kau sudah ba-"

Sakura menoleh ke arah pintu yang kini terbuka, wajahnya terlihat makin pucat. Sosok Itachi yang terlihat sangat shock ketika melihat Sakura dan Deidara berada di ranjang yang sama, dan masing-masing tanpa busana pula. Tanpa pikir panjang Itachi masuk dan menghampiri Deidara.

BUAAK!

Deidara terhempas jatuh dari ranjang dan Itachi melompat lalu menindih tubuh Deidara.

"Itachi-nii hentikan!"

BUG!

Sekali lagi pukulan keras mendarat di wajah Deidara.

"Aku titip Sakura padamu bukan berarti kau bisa menidurinya! Brengsek!" bentak Itachi sambil memukuli Deidara.

BUG! BUG! BUG!

"Itachi-nii! ini semua-"

"Kau diam!" ini pertama kalinya Itachi membentak Sakura, membuat Sakura terbungkam.

"Kau tahu! Kenapa aku mencium Sakura malam itu?" geram Itachi sambil menjambak rambut Deidara, "Agar kau, Hidan, Sasori atau Gaara tidak menyentuhnya! Sakura itu milik Sasuke!"

BRUUK!

Deidara mendorong Itachi keras, "Kau pikir Sakura senang di perlakukan seperti itu?" kini Deidara menggeram balik, "Kau perhatikan baik-baik wajahnya, apakah dia senang oleh ke-obsesianmu dan Sasuke? Kau mengurungnya… kalian mengurungnya, kau tahu… saat pertama kali kau menyuruhku mengintai kehidupan mereka, apa pendapatku tentang Sakura?"

Itachi terdiam dan Sakura hanya menyimak, kemudian Deidara melanjutkan, "Dia seperti mayat hidup, tertawa namun tidak memliki makna kehidupan."

Ucapan Deidara berhasil membuat Itachi tersentak sedangkan Sakura hanya diam dengan ekspresi pilu, tidak menyangkal penggambaran yang Deidara berikan untuknya.

"Aku… tidak akan mengurung Sakura, kalau itu aku… aku akan membiarkan Sakura bebas, melakukan apa yang ingin dia lakukan."

Saat menyimak ucapan dan menganalisa tatapan Deidara saat ini, Itachi menoleh pada sosok Sakura lalu kembali ke Deidara, "Kau menyukainya?" tanya Itachi dengan nada amarah pada Deidara.

Deidara menyeka darah yang keluar dari mulutnya,"Ya, aku menyukainya, keberatan?"

BUG!

Sekali lagi Itachi menghajar wajah Deidara, saat Itachi akan mendaratkan pukulan teakhir, Sakura memeluk lengannya.

"Itachi-nii aku mohon hentikan~" pinta Sakura, "Bukan sepenuhnya salah Deidara kami melakukan ini."

"Apa maksudmu?" kini nada yang terdengar dari ucapan Itachi sangat dingin.

"A-aku…" sebenarnya Sakura sangat takut mengakuinya, tapi memang benar ini bukan sepenuhnya salah Deidara, "Aku mengira… Deidara adalah Sasuke, jadi…"

"Itu karena kau mabuk, dan bajingan ini tahu kalau kau mabuk tapi kenapa dia tetap melakukannya!" geram Itachi.

"Pengakuanku tadi kurang jelas? Itu karena aku menyukainya," jawab Deidara.

"Kau! Mau kukeluarkan dari W.O, hah?" ancam Itachi.

"Silahkan, kau tidak mungkin melakukannya karena kau tahu satu-satunya yang dapat mencari info dengan cekatan dan akurat selain Gaara adalah aku," tantang Deidara.

Itachi terdiam dan melepaskan jambakannya pada rambut Deidara, "Aku tidak akan memaafkanmu," ucap Itachi, "Sakura pakai bajumu, ada yang harus kubicarakan."

Sakura mengangguk dan melihat Itachi pergi meninggalkan kamarnya, wajah Itachi tadi sangat terpukul, ekspresinya membuat Sakura bingung, antara marah, khawatir dan bingung bercampur menjadi satu. Dan ada satu yang membuat Sakura makin bingung pada ucapan Itachi tadi. Apa maksudnya dari 'Sakura itu milik Sasuke?' bukankah dulu Sakura berjanji pada Itachi kalau dia akan menikahi Itachi? Kenapa sekarang Itachi malah mengatakan kalau Sakura itu milik Sasuke?

Di saat Sakura sedang kebingungan, Deidara memakai pakaiannya, "Aku tidak menyesali kejadian ini," ucap Deidara. Sakura menoleh dan mengeratkan selimut pada tubuhnya, "Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada Sasuke, aku mengerti posisimu."

Wajah Sakura merengut, entah dia harus berterima kasih pada Deidara atau tidak karena tidak akan memberi tahu Sasuke tentang kejadian ini. Saat ini yang Sakura rasakan hanyalah perasaan bingung, "Ucapanku tadi serius," lanjut Deidara yang kini sudah lengkap berpakaian, saat Sakura menatapnya, "Aku akan membebaskanmu dari Uchiha bersaudara itu."

Setelah mengucapkan kalimat itu Deidara pergi dan menutup kamar Sakura. Begitu keluar dia melihat Sasori yang sudah berada di situ entah sejak kapan.

"Wajahmu bengkak," ujar Sasori.

"Ah, bukan masalah."

"Kau melakukan hal yang sangat berbahaya, Dei," ujar Sasori dengan nada datar.

"Maksudmu? Apa karena aku menantang kedua Uchiha itu, atau…" Deidara melangkahkan kakinya menghadang Sasori, "Kau cemas kalau sepupu kesayanganmu ini menderita?"

"Jaga bicaramu," geram Sasori.

"Ah, maaf maaf, aku lupa kalau Itachi bahkan Gaara sekalipun tidak mengetahui hal yang sebenarnya yah," sindir Deidara.

"Deidara, aku peringatkan padamu," geram Sasori, "Kali ini aggap saja Itachi mewakiliku untuk memukulimu, tapi kalau hal seperti ini terjadi lagi… aku akan membunuhmu."

"Dengan senang hati kuterima tantanganmu," balas Deidara.

"Apa kau akan baik-baik saja, kalau Ino yang berada di posisi Sakura saat ini?" sindir Sasori dan sindiran itu berhasil membuat Deidara tersentak.

"Bisa kau bayangkan? Kalau Ino bercinta dengan laki-laki yang tidak dia sukai sama seka-"

BRUK!

Deidara dengan cekatan mencengkram dan mendorong tubuh Sasori ke tembok, "Jangan sekali-kali kau membawa Ino dalam masalah ini. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini, selamanya… Ino akan tetap menjadi adik kebanggaanku."

"Heh, semoga harapanmu itu benar," balas Sasori sambil menepis tangan Deidara. Setelah dia merapikan kerah kemeja seragam sekolahnya, Sasori meninggalkan Deidara.

.

.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Yeaay! Sakuya berhasil membuat enam telur mata sapi!"

"Nah, sekarang kau letakkan telur itu di-"

Ting Nooong.

Ucapan Karin terhenti ketika dia sedang mengajari Sakuya membuat sarapan pagi. Dirinya bertanya dalam hati, siapa yang menekan bell mansion di pagi hari ini? Dan siapa juga yang tahu kediaman ini selain…

"Aaahhh!" jerit Karin yang langsung melepas celemeknya dan berlari ke arah pintu kamar masing-masing dengan panik dan mengetuknya.

DUK! DUK! DUK! DUK!

"Mereka dataaang! Cepat bangun dan siap-siaaap!" jerit Karin dan langsung berlari ke arah pintu luar mansion. Membuat Sakuya berdiri kebingungan melihat tindakan Karin.

Sementara itu yang kini sedang tertidur lelap di kamar masing-masing bergegas untuk bangun, bahkan Sasuke sekalipun. Dan tentu saja Ino kebingungan melihat Shikamaru yang buru-buru mengenakan pakaiannya dan menyuruh Ino cepat-cepat membersihkan badannya setelah dia keluar dari kamar mandi.

"Ino cepat, aku akan menunggumu di luar, kalau sudah selesai sebisa mungkin kau temui aku di ruang tamu, ok," ujar Shikamaru.

"O-Okay," jawab Ino dengan ekspresi bingung.

Di luar, Karin bergegas membukakan gerbang untuk tamu besar yang akan mengunjungi mansion mereka dengan dadakan seperti ini. Tamu agung yang akan mengamuk apabila mansion kotor, dan akan berisik kalau salah satu antara mereka ada yang berkelahi.

Setelah Karin menekan tombol otomatis terbukanya gerbang utama, sebuah mobil mewah memasuki kediaman mansion tersebut. Karin yang kini berada di pintu masuk mansion hanya bisa mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup di depan mereka. Sangat kebetulan Sasuke keluar dan di ikuti oleh Naruto. Begitu empat sosok keluar dari mobil, Sasuke, Karin dan Naruto sedikit membungkuk.

"Selamat datang, sensei," ucap mereka serempak.

Terlihat sosok wanita cantik berambut pirang dengan pakaian suit hitam yang terkesan seksi karena buah dadanya yang berukuran besar, dengan kacamata hitam yang terkesan modis membuat wanita cantik ini terlihat sangat stylist. Sosok yang lain adalah laki-laki berambut perak dengan pakaian suit yang sama namun lebih rapi dengan adanya dasi di kemejanya, dan memakai masker untuk menutupi setengah wajahnya. Sosok satu lagi laki-laki berambut putih panjang yang juga memakai suit, dari tadi hanya menyengir sambil menyenderkan salah satu lengannya di bahu sosok wanita berambut pirang itu.

Sosok terakhir adalah laki-laki berambut hitam panjang dengan wajah tanpa ekspresi, juga memakai suit hitam seperti yang lainnya. Sasuke melangkahkan kakinya menuju orang itu dan dengan sangat sopan Sasuke membungkukkan badannya sekali lagi.

"Selamat datang, Orochimaru-sensei."

"Hei bocah! Kenapa kau begitu sopan setiap kali bertemu dengan Oro-kun?"

"Jiraiya! Jangan berteriak di dekat telingaku!"

"Tsunade, jaga bicaramu sebagai wanita."

"Diam kau Kakashi, kau sendiri laki-laki cabul, tidak jauh beda dengan Jiraiya," geram Tsunade.

"Itu karena kita sehati," ucap Jiraiya dan Kakashi dengan kompak sambil saling merangkulkan lengan mereka di pundak masing-masing.

"Kenapa kita bisa dilatih oleh mereka sih?" bisik Karin miris pada Naruto.

"Aahh, aku lapar, kalian masak apa pagi ini?" tanya Tsunade pada Karin.

"Telur mata sapi, tadi aku dan Sakuya yang membuatnya," jawab Karin.

"Sakuya?" tanya Jiraiya pada Naruto.

"Ah itu yang belum kami jelaskan, ada beberapa orang lagi yang masuk ke mansion ini," jawab Naruto.

"Siapa lagi sih yang di pungut oleh Sakura?" tanya Kakashi dengan nada bosan.

Begitu mereka masuk, Ino dan Sakuya sudah berdiri di ruang tamu. Dan tentu saja sosok mereka berdua membuat para pelatih elite assassin ini terkejut. Tsunade melepas kacamatanya dan menatap Ino dengan teliti, kemudian Tsunade melangkahkan kakinya dan mengangkat dagu Ino, "Habis bercinta dengan siapa kau?"

"Hah? A-a-aku…"

"Tsunade-sensei," panggil Shikamaru dari belakang, "Tolong jangan jahil," pinta Shikamaru dengan nada sedikit bete.

"Ooohh, jadi ini wanitamu Shikamaru? Wah kau memang sangat pintar memilih yah," puji Tsunade yang langsung berjalan kebelakang Ino, "Dadanya juga lumayan besar," lanjut Tsunade sambil meremas dada Ino.

"Kyaaaaa!"

"Tsunade! Kau curang! Aku juga mau memegangnya!" ucap Jiraiya menggebu-gebu.

Saat Jiraiya hendak memeluk Ino, Tsunade dengan cekatan mengeluarkan tongkat kecil dari saku jas-nya yang tiba-tiba berubah menjadi tombak tajam yang panjang, "Berani menyentuh wanita orang lain akan kuhabisi kau," geram Tsunade yang berhasil membuat gerakan Jiraiya terhenti.

"Dan ini…" ucap Orochimaru sambil menunjuk kepala Sakuya.

"Ah, dia Sakuya," jawab Neji yang dari tadi menatap sinis Shikamaru saat Tsunade menebak Ino habis bercinta.

"Perkenalkan, Sakuya Kanbara di sini," ucap Sakuya dengan sangat sopan dan membungkuk dalam-dalam.

Melihat kesopanan Sakuya yang bertubuh mungil membuat Tsunade tersipu dan langsung memeluknya, "Kamu masih SD ya? Pasti berat yah tinggal bersama para pembunuh ini," ujar Tsunade sambil membelai kepala Sakuya.

"Ah, kalian salah paham, Sakuya berumur 14 tahun, dan kemampuan membunuhnya tidak bisa dibilang biasa," jelas Shikamaru.

"Heeehh! Tidak kelihatan! Kenapa kerdil begini?" ujar Tsunade.

Terlihat urat yang terbentuk di dahi Sakuya, memang Tsunade tipe orang yang kalau ngomong asal ceplos, para elite assassin sudah sangat biasa menghadapinya. Namun orang baru pasti akan sangat kesal kalau berhadapan dengan Tsunade.

"Loh?" Tsunade melemparkan pandangan ke seluruh sudut, dan menemukan satu sosok yang sedang berdiri di pojokan, "Siapa dia?"

Semua menoleh pada sosok Hinata yang seolah terasingi, "Dia…" jawab Karin pelan dan ragu.

"Hinata Hyuuga sepupu Neji, karena suatu kejadian dia harus tinggal di sini sementara, dan karena suatu kejadian juga… Sakura pergi dari mansion ini," sambung Naruto sinis.

Mendengar Sakura pergi dari mansion, bukan hanya Tsunade, Jiraiya dan Kakashi yang terkejut. Bahkan Orochimaru yang terkenal dengan personality yang sangat dingin itupun bereaksi. Orochimaru menatap Sasuke seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sasuke tidak bisa menjawab tatapan Orochimaru, karena Orochimaru adalah satu-satunya orang yang ditakuti oleh Sasuke.

"Ada apa ini?" akhirnya Orochimaru membuka suara.

"Karena kehadiran dia mama-chan jadi pergi!" jawab Sakuya dengan nada lantang sambil menunjuk Hinata, "Dia yang menyebabkan mama-chan tidak betah di sini!"

"Mama-chan?" tanya Jiraiya.

"Sebutan untuk Sakura dari dia," jawab Naruto sambil berbisik pada Jiraiya.

Para pelatih itu menatap Hinata yang kini sudah berkaca-kaca matanya. Orochimaru bergerak mengambil pistol di saku jas-nya dan memberikannya pada Sasuke, "Masih ingat kata-kataku?" tanya Orochimaru dengan nada yang datar dan terkesan dingin, "Kalau ada yang memecahkan hubungan kalian, bunuh orang itu."

Ucapan Orochimaru membuat Ino dan Sakuya tersentak, memang mereka sangat kesal pada Hinata, tapi bukan berarti mereka harus membunuhnya juga.

"Lakukan," perintah Orochimaru pada Sasuke.

"Tunggu dulu," cegah Tsunade sambil menghampiri Hinata, "Sepertinya gadis ini ingin mengucapkan pesan terakhirnya sebelum mati."

Ino dan Sakuya bergidik, kenapa para pelatih ini begitu kejam?

"M-M-Maaf… Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf!" ucap Hinata sambil membungkuk dan kini air mata mengalir deras di wajahnya.

"Aku mohon maafkan aku, aku akan melakukan apa saja agar kalian memaafkanku, tolong beri aku kesempatan, aku sangat menyesal," pinta Hinata.

"Bagus kalau kau menyesal," ujar Tsunade menepuk kepala Hinata, "Tenang saja, aku tidak sekejam itu untuk membunuhmu, hanya saja aku sedikit kaget kalau ternyata hubungan elite assassin bisa retak begini."

"Tapi… Sakuya kan hanya bilang kalau mama-chan yang pergi, bukan berarti hubungan elite assassin retak, kan?"

"Sakuya sayang," jawab Jiraiya sambil menepuk kepala anak itu, "Tidak harus memakan waktu sehari untuk mengetahui apa yang terjadi di sini."

"Shikamaru, Neji… perbaiki hubungan kalian," utar Kakashi sambil berjalan melewati mereka, "Aku tidak akan melatih kalian lagi kalau sepulang sekolah nanti kalian masih tidak saling tegur."

"Iya, masa hanya karena wanita persahabatan kalian hancur," kedip Tsunade pada Ino dan itu membuat Ino salting.

"Dan satu lagi!" teriak Jiraiya, "Kami ingin melihat Sakura sore ini, bagaimanapun caranya."

"Tapi Jiraiya-sensei, Sakura-chan-"

"Tidak ada tapi, Naruto," potong Jiraiya.

Menyadari ekspresi Sasuke yang kini merenung, Orochimaru menepuk kepala murid kesayangannya itu, "Rebut dia kembali, apapun caranya."

Senyum yang penuh dengan percaya diri terlukis di wajah Sasuke, "Baik, sensei."

"Nah, sekarang cepat berangkat! Kalian tidak usah sarapan, sarapan kalian biar kami yang makan," usir Jiraiya sambil menyegir.

"Orang dewasa yang bodoh," gumam Shikamaru.

"Hei! Aku mendengarmu!"

"Hinata," panggil Karin sambil sedikit tersenyum, "Syukurlah kamu sudah menyesal, sekarang aku minta padamu untuk ikut kami ke sekolah."

"Haah! Untuk apa?" protes Ino.

"Membawa Sakura kembali ke mansion ini," Neji yang menjawab, "Setidaknya itu bukti penyesalanmu."

Hinata menghela nafas, lega ternyata elite assassin mempunyai sifat pemaaf, dan ada satu pelajaran yang Hinata ambil dari mereka. Tidak semua yang kita mau itu bisa tercapai. Dengan senyuman yang lega Hinata menjawab "Ya, aku akan ikut dengan kalian."


A/N : chapter ini pendek yah, (merasa) chapter depan mudah-mudahan raffa bikinnya panjang. Nah mohon maaf kalau ada kekuarang di cerita ini dan typo bertebaran dimana-mana :D *langganan typo*

Sampai jumpa di chapter depan.

V3Yagami.