haaai, maaf atas keterlambatan chapter 15, saya benar-benar minta maaf. kemarin saya ada sedikit masalah di perusahaan om saya, jadi yaaa begitu deh.

untuk urusan update chapter ini saya yang bertanggung jawab, jadi biarkan fitri bercinta dengan pacar barunya... pacar aslinya aja di cuekin, gimana fanfict *peluk2 fitri* kangen~

sekian cuap-cuapnya.

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

"Seram."

"Menakutkan."

"Aku tidak menyangka kalau pelatih kalian itu semenyeramkan ini! God, baru saja mereka sampai dan mereka sudah bisa langsung menebak apa yang terjadi di mansion," celoteh Ino.

"Sakuya seram pada Jiraiya jii-san yang hendak menerkam buah dada Ino nee-sama."

"Hei hei, jangan berlebihan. Mereka banyak sisi baiknya kok," ucap Shikamaru sembari merangkul Ino.

"Bisakah kalian tidak melakukan PDA di sini?" sindir Neji.

"Apa itu PDA?" tanya Sakuya.

"Public display affection," jawab Karin singkat sambil mengelap kacamatanya.

"Oohh."

"Dan lagi Jiraiya-sensei itu ingin bertemu Sakura-chan sore ini, bagaimana caranya membawa Sakura-chan ke mansion lagi?" tanya Naruto sambil membawakan tas Karin karena tangan Karin sibuk memberishkan kacamatanya.

"Aku akan membantu kalian, itu kan janjiku tadi," jawab Hinata dengan nada ketus.

"Kau ini, sudah bagus Karin nee-san mau memberimu kesempatan," sindir Sakuya.

"Neji," panggil Sasuke dari depan dan Neji mempercepat langkahnya, "Aku tidak mau pulang sekolah nanti hubungan kalian masih seperti ini, mengerti?"

Neji melirik Shikamaru dimana Shikamaru juga sedang melirik Neji. Saat kedua mata mereka bertemu, Neji memalingkan wajahnya. Di sini Shikamaru memutuskan untuk mengalah, dan dia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Neji secepat mungkin, sebelum sekolah selesai.

"Hinata," panggil Karin dengan nada tegas, "Aku akan mengatur dimana kau akan bertemu Sakura nanti, sebelum itu, kau diam saja dulu di halaman belakang."

"I-Iya," jawab Hinata pelan.

Karin melirik sedikit ke arah Hinata yang entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi penurut. Ada apa dengan gadis yang biasanya angkuh itu? Apa sejak kehadiran para pelatih mereka yang menyeramkan itu makanya Hinata menjadi penurut? Kalau memang benar begitu, Karin benar-benar tertawa gembira dalam hati saat ini.

"Karin wajahmu menyeramkan," bisik Naruto saat melihat Karin menyengir sendiri tanpa alasan.

"Diam kau."

.

.

Kini di ruang utama para White Organization terlihat Itachi yang sedang berdiri di depan Sakura yang duduk termenung. Melipat kedua tangannya dan menatap tajam sosok Sakura yang tidak berani mendongakan kepalanya sama sekali. Sakura merasa stress . pertama karena Sasuke yang mencampakkannya, kedua tanpa dia sadari, dia bercinta dengan Deidara, yang terakhir yang paling parah…

"Itachi-nii… serius?"

"Sangat serius."

"… apa aku tidak bisa diberi waktu sebentar lagi?"

Itachi menekuk lututnya dan menggenggam tangan Sakura, "Sebentar lagi, balas dendammu akan tercapai. Tinggal menunggu Deidara yang mencari informasi di mana letak markas besar mereka, itulah alasan kenapa aku tidak membunuhnya tadi pagi."

"Tapi… aku belum siap… untuk kembali ke mansion itu…"

"Sakura, cherry-ku… kau sudah bisa sedikit menembak dalam jarak dekat, Sasuke pasti bangga padamu," ujar Itachi.

"Dia tidak akan mau menerimaku lagi setelah apa yang telah aku lakukan tadi malam bersama Deidara."

"Kalau begitu jangan sampai dia tahu," ujar Itachi, "Aku tidak berani jamin bagaimana reaksi Sasuke nanti kalau dia tahu akan hal itu."

"Itachi-nii… kenapa tiba-tiba mendukung hubunganku dengan Sasuke kun?"

Pertanyaan Sakura membuat Itachi melepaskan genggamannya, namun Sakura langsung menariknya kembali, "Apa ada yang di sembunyikan dariku?"

"… kau ingat, saat kita berjanji akan menunggu Sasuke menemukan pendamping hidupnya, barulah kita akan menikah," ujar Itachi pelan dan Sakura mengangguk.

"Maafkan aku, karena telah memanipulasimu," ujar Itachi sambil membelai pipi Sakura, "Sejak kejadian tadi aku sadar, sudah saatnya aku mengatakan apa yang kujanjikan pada Sasuke."

Sakura memiringkan kepalanya, bertanda ingin agar Itachi meneruskan kalimatnya. Dan Itachi pun meneruskan apa yang tadi terpotong, "Dulu tanpa sepengetahuanmu, aku dan Sasuke membuat janji,. Apabila aku bersamamu, pastikan tidak ada orang yang akan mendekatimu dan mengambilmu. Makanya malam itu aku menciummu di depan Deidara. Dan janjiku padamu dulu, maaf aku berbohong… di dunia ini tidak ada orang yang sangat mencintaimu selain Sasuke."

Ucapan Itachi membuat Sakura mengeluarkan air matanya, "Itachi-nii… sekarang… bagaimana aku harus berhadapan dengan Sasuke kun~"

Itachi mengusap kepala Sakura dan mencium pucuknya, "kita pikirkan jalan keluarnya bersama, ok," bisik Itachi, "Sekarang hapus air matamu, dan siap-siap untuk berangkat sekolah. Aku sudah pesan pada Gaara agar selalu ada di sampingmu untuk jaga-jaga."

"Ng, terima kasih Itachi-nii."

.

.

Suara gemuruh dari para murid terdengar di dalam kelas. Saat ini sedang tidak ada pelajaran, bukan berarti para murid harus belajar sendiri. Karena saat ini guru sedang menjelaskan apa yang akan terjadi di sekolah ini. Dan tentu saja hal itu membuat para elite assassin memasang wajah malas, karena hal itu adalah hal yang paling mereka hindari sejak mereka smp.

"Cinderella," ucap sang guru tiba-tiba setelah menuliskan kata itu dengan huruf besar di papan tulis, "Penampilan drama perdana kalian di tahun ini, dalam festival sekolah yang akan di adakan dua bulan lagi! Ayo semangaaaatt!"

"Waaahhh, pasti akan seru!"

"Aku ingin jadi Cinderella."

"Yang jadi pangerannya pasti Uchiha."

Bisik-bisik mulai bermunculan dari para murid, kecuali Sasuke dan Naruto yang memasang wajah bête di tengah-tengah keramaian kelas. Saat Naruto melirik ke arah Sakuya…

… Betapa kagetnya dia melihat wajah Sakuya yang sedang berbinar-binar.

"Sakuya… Sakuya ingin melihat mama-chan menjadi putri," ucap Sakuya antusias.

"Peran ditentukan oleh undian, Sakuya," jawab Sakura.

"Nah, sekarang silahkan ambil undian sesuai urutan bangku masing-masing,dan-" ucapan sang guru terputus karena Sasuke mengangkat tangannya.

"Maaf, aku tidak tertarik dengan acara ini, boleh aku keluar?" ucap Sasuke dingin.

"Sayang sekali, tuan Uchiha tapi drama ini menentukan nilai senimu nanti," tolak sang guru.

Sasuke hanya bisa terdiam jengkel, begitu pula dengan Naruto. Mereka paling lemah dengan hal-hal seperti itu. Mereka lebih memilih untuk memecahkan kode brankas, memantau orang atau membunuh daripada harus melakukan drama yang menurut mereka itu menggelikan.

Satu persatu murid-murid bangkit dari duduknya dan mengambil undian yang sudah disediakan oleh sang guru di atas meja. Banyak yang bergumam berharap bisa menjadi Cinderella dengan pasangan Sasuke, Naruto atau Gaara yang menjadi pangerannya. Saat semua sudah memegang kertas yang berasal dari kotak itu, sang guru melebarkan karton yang sudah dituliskan nama peran di dalam drama Cinderella.

"Nah, coba kita putuskan, siapa yang mendapat peran sang ayah?" tanya sang guru.

Naruto mengangkat tangannya, menahan sebisa mungkin wajahnya tidak memerah karena malu, "Oh bagus Uzumaki, peran yang sangat cocok untukmu. Lalu siapa yang akan menjadi ibu tiri?"

Ada murid laki-laki lain yang mengangkat tangannya.

"Kakak tiri pertama?"

Tidak ada yang mengangkat tangan, semua saling lempar pandang satu sama lain menunggu siapa yang mendapatkan peran itu.

"Siapa yang mendapat peran itu tolong angkat tangannya."

Tiba-tiba satu orang mengangkat tangannya dan membuat satu kelas menganga, bahkan Naruto, Sakuya dan Sakura juga ikut menganga.

"Uchiha, peran yang sangat pantas untukmu."

"Tidak mau! Apa-apaan ini! Aku cukup bekerja di balik layar saja!" tolak Sasuke.

"Masing-masing sudah di tentukan oleh undian, Uchiha," jawab sang guru dengan tegas, "Lanjut, siapa yang menjadi kakak tiri kedua?"

"A-Aku," jawab Sakura malu-malu sambil mengangkat tangannya.

Naruto sedikit terkejut dan sedikit pula menahan tawanya. Ingin sekali dia melihat Sasuke dan Sakura bermain drama menjadi sepasang adik kakak yang jahat pada Cinderella, itu pasti akan menjadi sebuah fenomena yang bersejarah dalam hidup para elite assassin. Saat sang guru menanyakan siapa saja yang menjadi peran-peran dalam dongeng itu, di mulai dari ibur peri, peñata rambut, kostum, dan narrator. Kini sampai pada tahap terakhir, yaitu peran pangeran dan Cinderella.

"Sekarang, siapa yang mendapatkan peran pangeran?"

Dengan santai orang yang duduk di belakang Sakuya mengangkat tangannya sambil menjawab, "Aku," dan jawaban itu membuat Sakuya bergidik.

"Lalu, Cinderella?"

Kembali lagi seperti tadi, tidak ada yang mengangkat tangan membuat sang guru hilang kesabaran, "Cepat jawaab!"

"Sa-Sakuya! Sakuya mendapat peran Cinderella!" ucap Sakuya dengan nada cepat.

"Bagus! Kalau begitu semua sudah beres, sekarang kalian boleh belajar bebas… ah, kalau kalian lupa cerita tentang dongeng itu, kalian bisa membacanya di perpustakaan," kemudian sang guru mengambil kotak itu kembali dan berjalan meninggalkan kelas.

"Mama-chaaann!" jerit Sakuya sambil memeluk Sakura, "Sakuya tidak mau jadi Cinderella kalau yang jadi pangerannya adalah si panda!"

"Gaara orang yang baik kok, Sakuya… cobalah berteman dengannya," utar Sakura sambil mengelus kepala Sakuya.

"Tapi… Sakuya ingin mama-chan dan papa-kun yang menjadi pangeran dan putrinya."

Mendengar kalimat Sakuya, Sakura merasakan keinginan dan harapan besar Sakuya betapa inginnya anak itu untuk melihat Sakura dan Sasuke bersatu kembali. Namun keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sakura berpikir, sangat tidak mungkin Sasuke memaafkan dirinya yang sudah melakukan hal nista bersama laki-laki lain. Untuk mengalihkan pembicaraan, Sakura beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sakuya, Naruto, Sasuke dan Gaara di kelas. Tingkah Sakura membuat mereka bingung, kecuali Gaara yang kini menatap Sakura dengan belas kasihan.

Sakura melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Tidak terlalu ramai di sana, sangat cocok untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah gelisah, kalau Sakura memilih beristirahat di atap, sudah pasti akan langsung di temukan oleh para elite assassin yang lain maupun white organization.

Sakura meraba buku yang berjejer satu persatu di bagian novel sejarah, mencari judul yang menurutnya menarik. Namun kembali lagi pada diri Sakura yang tidak menyukai sejarah, dia tidak menemukan satu judulpun yang menarik perhatiannya. Lalu kenapa Sakura memilih untuk berada di rak novel sejarah? Karena hanya di rak itulah Sakura bisa merasa tenang, itu adalah salah satu rak yang sangat jarang dikunjungi oleh murid-murid.

Sesaat Sakura mengingat wajah Sasuke tadi di kelas, betapa rindu wanita ini pada laki-laki yang dari tadi saling mencuri lirik satu sama lain. Kemudian Sakura menyenderkan keningnya di tumpukkan buku-buku sambil menghela nafasnya, "Hhhh, kenapa jadi begini?"

"Apanya yang jadi begini?"

"Kyaa- hmmpph!"

Mulut Sakura terbungkam oleh seseorang yang mengagetkannya dari belakang. Sakura tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapa pemilik suara berat itu.

"Aku merindukanmu," ucap laki-laki itu masih sambil menutup mulut Sakura, menempelkan wajahnya di leher mulus Sakura.

Perlahan orang itu melepaskan tangannya dan membiarkan Sakura mengeluarkan suaranya, "Sasuke… kun…"

"Dengar… aku tahu ini terdengar bodoh, walaupun kau mengkhianatiku dengan pergi meninggalkanku dan menyembunyikan informasi tentang Itachi… aku memaafkanmu. Jadi… aku mohon… kembalilah padaku… pada kami…" gumam Sasuke pelan.

"Sasuke kun," bisik Sakura, "Lepaskan aku, aku susah bergerak."

Sasuke melepaskan tubuh Sakura yang dari tadi dipeluknya itu kemudian menghadapkan tubuh yang dirindukannya itu bertatapan dengannya.

"Pertama… aku ingin minta maaf padamu, aku tidak bermaksud pergi meningalkanmu, aku hanya ingin menjadi kuat agar aku cocok berada di sampingmu," ucap Sakura dengan nada yang sangat pelan, namun cukup terdengar oleh Sasuke.

"Kedua, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu tentang Itachi-nii, karena aku sendiri juga sangat kaget kalau ternyata Itachi-nii masih hidup… dia ketua dari white organization."

"Ketiga, white organization tidak jahat, Itachi-nii mempunyai tujuan yang sama denganmu, hanya saja caranya berbeda, dia lebih memilih untuk berpura-pura bekerja sama dengan para pemerintah."

"Aku mengerti," ucap Sasuke sambil membelai wajah Sakura, "Dan aku memaafkanmu… aku terima semua alasanmu, kau tahu… tadi pagi para sensei datang kerumah, dan mereka ingin bertemu denganmu."

"Oro-sensei?"

"Ya, dia juga datang… karena itu, kembalilah… Sakura," pinta Sasuke, "Atau… kau sudah tidak mencintaiku lagi?"

Sakura tersentak mendengar tebakan Sasuke itu, "Tidak! Aku masih mencintaimu, aku akan selalu mencintaimu!" jawab Sakura sambil memeluk Sasuke, "Aku sangat merindukanmu… aku juga tertekan saat melihat ekspresimu saat itu dan Karin. Apalagi sejak kemarin kau mencampakkanku di sekolah… aku tersiksa~"

"Sakura… tahan suaramu," ucap Sasuke.

"Eh?-"

Belum sempat Sakura bertanya, Sasuke membungkam mulut wanita itu sekali lagi, namun kali ini memakai mulutnya langsung, "Nghh," Sasuke menekan leher Sakura dan memeluk pinggang wanita itu. Hingga tubuh Sakura seolah terkunci di dekapan Sasuke.

Sementara itu Sakuya berjalan ke arah perpustakaan untuk mencari buku cerita tentang Cinderella. Saat perjalanannya dari satu rak ke rak yang lain dan akan mendekati rak novel sejarah. Tiba-tiba tubuh Sakuya tertarik oleh seseorang dan mulutnya terbungkam.

"Maaf, tapi sebaiknya kamu jangan dulu ke rak bagian itu," ucap sangat pelan suara laki-laki.

Saat Sakuya mencoba melirik, dia melihat rambut yang berwarna merah membuat Sakuya makin memekik dan berontak. Di tambah lagi… wajah Sakuya sukses merona.

"Aku lepaskan, asal kau bicara dengan nada yang sangat pelan," bisik Gaara dengan sangat pelan dan Sakuya mengangguk.

"Sakura-san dan Sasuke-san ada di sana, jangan ganggu mereka," bisik Gaara.

"Hah? Kau menguntit mereka, panda-san? Tidak kusangka kau punya hobi yang buruk-"

Gaara mengisyaratkan agar Sakuya diam dan gadis itu pun terdiam. Mereka berdua terlihat sangat penasaran apa yang di lakukan oleh Sakura dan Sasuke. Akhirnya mereka mengintip dari sela-sela rak buku.

Sasuke melepaskan ciumannya untuk memberikan Sakura oksigen, melihat wajah Sakura yang memerah dan seolah menikmati ciuman itu, Sasuke menyerangnya kembali. Sakura tidak dapat menahan lututnya yang lemas sehingga kehilangan keseimbangan, namun Sasuke dengan lihai langsung menahan tubuh Sakura cukup dengan satu tangannya yang melingkar di pinggang Sakura.

Walaupun Sakura sudah kehilangan keseimbangannya, Sasuke tidak menghentikan ciuman mereka. Sampai sekarang posisi mereka sudah berada di bawah. Sakura terduduk menyender di rak dan Sasuke menahan kepala Sakura sambil sedikit menjambak rambut wanita itu dengan pelan. Sasuke memasukkan tangannya ke dalam seragam Sakura dan langsung menembus bra-nya. Membuat Sakura tersentak dan akhirnya ciuman mereka terputus.

"Ngh! Sa-Sasuke~ kuun~" desah parau Sakura pelan.

"Sshh~ aku akan melakukannya dengan cepat," bisik Sasuke.

Sakura tenggelam oleh aroma tubuh Sasuka yang sangat dia rindukan itu. Akhirnya Sakura membiarkan Sasuke meraba tubuhnya sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Sasuke, dan sesekali mencium leher laki-laki itu. Betapa saling sayangnya mereka berdua.

Namun saat tangan Sasuke berganti haluan ke arah bawah, tempat titik paling sensitive bagi kaum hawa, Sakura tersentak. Sesaat dia terbayang sosok Deidara lah yang sedang menjamahnya saat ini, "Sa-Sasuke kun~ Sasuke kun~!" Sakura berusaha berontak namun Sasuke tidak mempedulikannya, Sasuke tetap memasukkan jarinya ke dalam lorong Sakura, "Sasuke kun! Hen-hentikan…. Aku mohon~" air mata Sakura mulai mengalir dan menetes di leher Sasuke, membuat Sasuke menghentikan kegiatannya dan menatap Sakura.

"Ada apa? Kau tidak lagi menyukai hal ini?" tanya Sasuke dengan lembut dan menyibak pelan rambut Sakura ke belakang telinganya.

"Astaga, papa-kun lembut sekali, ayo papa-kun, bawa mama-chan pulang kembali," bisik Sakuya dengan sangat pelan.

"…" Gaara hanya diam mendengar komentar Sakuya yang terdengar seperti bisikan yang antusias.

Sakura menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Sasuke.

"Maafkan aku~ Sasuke kun~ aku sudah mengkhianatimu… aku tidak pantas bersamamu~" ucapan Sakura terdengar perih dengan suaranya yang bergetar.

"Aku sudah bilang memaafkanmu kan?"

Sakura kembali menggelengkan kepalanya sambil terus menangis. Lalu sesaat dia teringat ucapan Itachi agar jangan sampai Sasuke mengetahui hal nista itu. Namun kalau Sasuke tidak tahu dan Sakura hidup dalam menyimpan sebuah kebohongan yang besar, Sakura tidak mau itu.

"Aku memaafkanmu, Sakura," bisik Sasuke sambil merengkuh wajah Sakura dan menjilat air matanya.

"Tidak… kesalahanku sangat besar~ kamu tidak mungkin memaafkanku~"

"Aku pasti akan memaafkanmu, apapun kesalahanmu," jawab Sasuke sambil menciumi Sakura.

"Tidak!" Sakura mendorong tubuh Sasuke, dan kini wajah Sakura makin terlihat pilu, "Kau tidak sebaik itu, kau tidak akan memaafkanku untuk hal ini~"

"…" Sasuke mulai curiga pada ucapan Sakura, "Memang… apalagi yang kau lakukan?"

"Hiks~… maafkan aku… aku benar-benar minta maaf… malam itu… saat kau mencampakkanku… aku sangat tertekan… dan aku… mabuk~"

"Kau yang mencampakanku, bukan aku yang mencampakanmu!" kini Sasuke mulai lepas kendali.

"Kenapa mereka jadi bertengkar?" gumam Sakuya. Dan Gaara hanya terdiam, sudah tahu apa yang akan Sakura ucapkan.

"Aku… aku pikir dia itu dirimu~ jadi…"

"Aku sudah bilang, aku akan memaafkanmu apapun yang kau laku-"

"Aku bercinta dengan Deidara!" lanjut Sakura. Tidak berani menatap wajah Sasuke, Sakura memalingkan wajahnya. Belum melihat reaksi Sasuke, Sakura bangkit dan berlari pergi meninggalkan Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya mematung karena shock yang sangat besar.

"Ma-Mama-chan!"

"Sakuya ayo kejar Sakura-san," ajak Gaara menarik lengan Sakuya.

"Tapi… papa-kun?"

"Lebih baik biarkan Sasuke-san sendirian dulu, sekarang Sakura-san lebih gawat keadaannya," jab Gaara tegas.

Melihat Gaara yang sepertinya perhatian pada Sakura membuat Sakuya kembali merona, di tambah ketegasan Gaara yang terlihat keren di mata gadis yang saat ini jantungnya berdebar kencang.

Sakura berlari sekencang mungkin tanpa melihat ke depan. Saat Sakura menaiki tangga satu persatu, dipertengahan jalan dia menubruk seseorang.

"Kyaaaaaa!"

Namun dengan cekatan orang itu langsung mencengkram lengan Sakura agar tidak jatuh, "Sakura?"

Sakura mendongak dan terlihat Karin dan Ino berdiri di hadapannya, "Kebetulan kami sedang mencarimu, ada yang ingin ka… mi… Sakura, kau menangis?" tanya Karin.

"Huhuuuu… Kariiin!" Sakura langsung memeluk Karin dengan erat sambil menangis meraung-raung. Karin hanya bisa saling tatap dengan Ino, saling bertanya dalam hati sebenarnya apa yang telah terjadi.

.

.

Di saat yang lain sedang tegang dengan apa yang terjadi. Kini di kelas yang sama ada dua laki-laki juga yang sedang tegang karena hal lain. Saling menunggu siapa yang menegur pertama, antara melepas gengsi dan baikan atau saling mempertahankan gengsi tapi begitu pulang mereka kena celoteh dari para pelatih. Akhirnya, Shikamaru memutuskan untuk mengalah terlebih dahulu.

"Aku tahu kau kesal padaku."

"Sangat."

"…" Shikamaru terdiam mendapat jawaban yang sangat cepat dan tegas dari Neji.

"Bersainglah secara sehat," ucap Shikamaru sambil menghampiri bangku Neji dan mengepalkan tangannya pada Neji, "Rebut dia dariku, bukankah kita adalah sahabat dan rival?" ucap Shikamaru menyeringai.

Neji menatap kepalan Shikamaru yang di tujukan padanya, perlahan dia tertawa pelan dan menundukkan wajahnya, "Kenapa bodoh sekali, hanya karena satu wanita kita bisa bertengkar," gumam Neji yang kemudian menempelkan ujung kepalannya pada kepalan Shikamaru.

"Heh, kau yang memulai."

"Kalau begitu traktir aku ramen selama seminggu," utar Neji.

"Kau ini Naruto atau Neji sih?"

Melihat aura Shikamaru dan Neji yang sudah sedikit membaik membuat satu kelas kebingungan, karena dari kemarin aura mereka terasa sangat dingin.

.

.

Karin membawa Sakura ke atap bersama Ino dan menunggu Sakura tenang dari tangisnya. Kini Sakuya dan Gaara berhasil mengikuti Sakura, dan Sakuya terus menerus memainkan roknya menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Sakura. Karena tidak kunjung keluar juga sepatah katapun dari mulut Sakura, maka Karin mematahkan kesunyian ini.

"Nah, Sakura… kalau memang kamu belum mau cerita pada kami apa yang terjadi, aku ingin memberi tahumu sesuatu," ucap Karin. Sakura menatap Karin bingung dan Karin melanjutkan ucapannya, "Ada yang ingin meminta maaf padamu, dia ingin bertemu denganmu."

Sakura menyipitkan matanya karena terasa perih habis menangis, "Siapa?" tanya Sakura.

"Aku," jawab suara wanita dari arah pintu, wanita itu muncul bersama Naruto di belakangnya.

Hinata berjalan ke arah Sakura, sebelum Hinata mendekat Sakura berdiri dan di ikuti oleh yang lainnya. Gaara menatap dingin pada sosok Hinata dan itu di sadari oleh Sakuya.

"Sebelumnya aku ingin berkata jujur padamu, Sakura," ucap Hinata dengan nada yang sedikit ketus, "Aku tidak menyukaimu, aku ingin menggantikan posisimu di mansion itu, makanya aku bilang padamu kalau kau itu hanyalah hambatan bagi Sasuke."

Ucapan Hinata membuat pikiran Sakura makin runyam, awalnya dia berpikir ini semua adalah salahnya, tapi saat mendengar ucapan Hinata tadi. Sakura mulai berpikir ke belakang, andai saja Hinata tidak ada, andai saja Hinata tidak masuk ke dalam mansion, dan andai saja Hinata tidak mengucapkan kalimat bodoh itu. Saat ini, Sakura pasti masih bisa tertawa bahagia bersama para elite assassin.

"Tapi aku sadar, aku menyesal, aku-"

"AARRRGGHHHH!" Sakura menjerit dan itu membuat semuanya terkejut, ini pertama kalinya Sakura menjerit sekeras ini, apalagi jeritan yang terdengar mengandung amarah dan kesedihan.

Sakura berlari dan mendorong Hinata keras hingga jatuh.

PLAAK!

"INI SEMUA GARA-GARA KAU! BRENGSEK! ANDAI SAJA KAU TIDAK DATANG KE MANSION! AKU TIDAK AKAN MENGALAMI SEMUA HAL INI!"

PLAAK!

Sakura terus-terusan menampar Hinata dan menjambak rambutnya sambil menjerit, "AAAARRGGHH!" jerit Sakura sambil menjambak Hinata dengan kencang.

"Kyaaaaaaaaa! Aaaaaaaahhhhhhhh!"

"Sakura!"

"Sakura-san!"

"Sakura-chan!"

Karin dan Gaara menarik kedua lengan Sakura sedangkan Naruto mengangkat tubuh Sakura agar tidak lagi menindih tubuh Hinata. Ino dan Sakuya membantu Hinata berdiri, ini pertama kalinya mereka semua melihat Sakura mengamuk.

"KAU TAHU! LEBIH BAIK KAU YANG KENA TEMBAK SAAT ITU! LEBIH BAIK KAU MATI!"

Hinata hanya bisa menangis melihat ekspresi Sakura, kini dia sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

"KAU MENYUKAI SASUKE KUN? AMBIL SAJA KALAU KAU BISA! SASUKE KUN TIDAK AKAN PERNAH MAU MELIRIK WANITA YANG BERPERILAKU MURAHAN SEPERTIMU! KAU TIDAK JAUH BEDA DENGAN PELACUR DI LUAR SANA YANG MENGGODA LAKI-LAKI ORANG LAIN! KAU-"

PLAAK!

Naruto melepas lengan Sakura dan menampar pipi Sakura, membuat Sakura terdiam dan menghentikan makiannya.

"Ini bukan Sakura-chan yang kukenal," ucap Naruto dengan lembut.

Karin tanpa sadar ikut menangis seolah merasakan kesakitan hati Sakura yang selama ini di pendamnya. Sakura menggertakan giginya, sadar kalau Gaara selalu membawa pistol kecil di saku celananya dengan cekatan Sakura mengambil pistol itu dan mendorong Karin. Sakura mengarahkan pistol itu ke arah Hinata dan menembaknya berkali-kali.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Lima tembakan berhasil Sakura luncurkan dari pistol kedap suara itu, dan tindakan Sakura saat ini di luar dugaan mereka semua. Semua mata terbelalak, namun semua tembakan itu meleset. Sakura hanya menggertak Hinata agar jangan macam-macam dengannya, melihat Hinata yang ketakutan sampai pipis di celana, Sakura menyeringai dan melemparkan pistol itu hingga mengenai kepala Hinata.

"Selamat, keinginanmu untuk membuatku pisah dengan Sasuke sudah berhasil, dan ini hadiahmu," ucap Sakura sambil berjalan meninggalkan mereka semua yang masih terbengong di tempat atas tindakan Sakura tadi.

Hinata merasa lututnya sangat lemas dan terjatuh dengan wajah yang shock plus pucat, "M-M-M-Ma-maaf… maafkan aku~ Sakura… maafkan akuuu~" gumam Hinata.

Ino merasa kasihan pada Hinata yang kini terlihat sangat kacau. Gaara tidak berkomentar apa-apa, dia melangkahkan kakinya menyusul Sakura, namun langkahnya terhenti ketika Sakuya memanggilnya saat dia menuruni tangga, "Gaara-san."

Gaara menoleh, "Ehm… tolong titip mama-chan yah, jaga dia…" pinta Sakura malu-malu dan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Gaara tersenyum lembut, senyum lembut pertama yang pernah Sakuya lihat yang terlihat di wajah datar Gaara, "Senang akhirnya kau memanggil namaku," ucap Gaara, "Tenang saja, aku akan menjaganya untukmu."

Setelah itu Gaara melanjutkan jalannya dan Sakuya hanya bengong sambil menatapi punggung Gaara dengan wajah merona, tersadar dengan keadaan yang sebenarnya, Sakuya kembali ke atap bersama yang lain.

"Tutupi dengan ini," Ino meminjamkan sweater yang selalu dia pakai ke sekolah agar terlihat modis pada Hinata.

"Pipimu bengkak, nanti bisa kita kompres di mansion," ujar Naruto.

Hinata tidak berhenti menangis, makin lama tangisannya makin menjadi-jadi. Melihat Hinata yang menangis seperti itu membuat Karin tersenyum dan menepuk kepala Hinata, "Sudah sadar kesalahanmu?"

Hinata mengagguk.

"Jujur saja, aku tidak menyangka Sakura-chan bisa semarah itu," kata Naruto.

"Ya, aku juga… aku…. Hampir melihat sisi Sakura saat lima tahun yang lalu," sambung Karin.

"Sebenarnya, tadi Sakura menangis kenapa?" tanya Ino pada Sakuya.

"Anu… Sakuya tidak sengaja mendengar apa yang terjadi pada mama-chan dan papa-kun," jawab Sakuya pelan, "Di perpustakaan, mereka sempat baikan, tapi tiba-tiba mereka bertengkar karena…"

Sakuya terdiam.

"Karena apa?" tanya Naruto.

"Saat papa-kun mengajak mama-chan kembali ke mansion, mama-chan menolaknya, dan mama-chan terus menerus minta maaf karena… sudah bercinta dengan orang yang bernama Deidara," jelas Sakuya.

Mata Ino terbelalak lebar saat mendengar nama yang sangat tidak asing di telinganya.

"Makanya, mama-chan langsung pergi ketika mengatakan hal itu."

Ino tiba-tiba beranjak dan berlari.

"Inooo!" panggil Karin namun Ino tidak memperdulikan teriakan Karin, "Hhhh, kenapa sih semua jadi begini."

"Ini semua… hiks… salahku… maaf… aku benar-benar minta maaf~"

Karin dan Naruto saling tatap begitu pula dengan Sakuya, mereka bingung harus di bawa kemana Hinata sekarang. Kalau di bawa ke mansion sudah pasti akan jadi pertanyaan besar dari para pelatih mereka. Dan mereka malas untuk berdebat dengan para pelatih elite assassin itu.

Ino terus melangkahkan kakinya dengan cepat, mencari dimana sosok kakaknya itu berada. Saat Ino memasuki ruangan kelas 3 satu persatu, akhirnya dia menemukan sosok Deidara yang sedang berbicara dengan Hidan di pojokan. Dengan ekspresi yang marah, Ino menghampiri dan menampar keras wajah Deidara.

PLAAAK!

Membuat Deidara mematung.

"Apa yang kakak lakukan pada Sakura, aku tidak akan pernah memaafkannya!" jerit Ino yang kemudian meninggalkan Deidara.

Hidan hanya bisa menganga melihat Deidara di tampar oleh adik kebanggaannya sendiri di depan teman-teman sekelasnya, sedangkan Deidara hanya bisa terdiam, merasa tamparan itu belum ada apa-apanya di banding sakitnya hati Sakura saat ini.


A/N : ini chapter 15 nya!
hehehee, duh maaf banget ya, untuk chapter ini saya tidak bisa jawab review kalian.

saya itu lagi ngga ada waktu, dari pagi sampai malam kerja terus. ini aja saya update tengah malem T_T, saya sudah lelah dan mengantuk, mau sih bales review kalian, tapi banyak banget. next time saja ngga apa-apa kan? biar fitri yang ngewakilin bales review di chapter depan, okay.

maaf kalau banyak typo, walau ngantuk saya tetep cek sekali lagi kok, tapi kalau ada yang miss mohon di maklumi, hehehee

saya cuma mau jawab satu pertanyaan dari banyak orang aja ya.

iya, fitri sudah jadi pacar saya sekarang *Akhirnya* hahahaa

dan ternyata sifatnya itu misae banget =_=

udah segitu aja dulu ya, saya benar-benar mengantuk, heheheee