ngga nyangka udah sampe chapter 16 XD
tapi... lover eternal gueeeee TT_TT *buang raffa ke tempat sampah*
kemaren g ada jawaban review ya, pemales emang dia, sok-sok sibuk, paling sibuk mau bikin resepsi nikah sama onta XD
langsung jawab review aja yaahhh :D
Icha yukina clyne : iya ini juga udah bareng lagi kok mereka
Arai KazuRa : 4 jempol buat dia? aku berapaaa? *ngais2 tanah* PJ? PJ apaan? emang dia jadian sma siapa? ._. yg ngajakin jadian kan dia, PJnya minta lah ke dia, yg ngarep jadian kan raffa, bukan eyke, wakakakkaa
Naomi Kanzaki : aahhhh, siapa yg jadian sama dia, ga mau, g sudi =3= (becanda yah)
Ninda : pacar asli aku? yg mana nih, banyak soalnya, wakakakakakaa
HikariNdychan : hahahahaa, adegan cinderella nnati kita liat yah, bakalan ngikin sih kalo aku ngebayangin sasuke jadi kk tiri, wakakaka
OYO LECHLIEZ : =_=" lagi kurang bisa update secepet dulu nih, maap yah...
harappa : chapter kemaren emang nguras emosi, soalnya yg bikin juga lagi emosi sama bossnya, wakakkakakaa
Ngga log-in : ngga, kita ga jadian, kita pacaran.. wkwkwkwkwkk, g akan long last deh kayaknya, males long last sama dia, XD
meyrin kyuchan : PBJ apaan tuh?
d3rin : hahahaa, semoga lancar jadi cinderella yah si sakuya, hahahaa
Bluremi : hahahaaa, fangirl ngambek, sumpah baru sekali ngalamin, tapi bagus dong, ityu artinya dia bisa mengeluarkan ekspresinya :D salut kok sama dia ^^
Yoo : gi-gigit? silahkan gigit akuu! *nyibak rambut* *nyodorin leher*
Poetrie-chan : another congrats, hehehee, makasih yaaa :D
FelsonSpitfire : baru mampir ke kotak review? gimanaa siihh, ga mau maafin! keterlaluan kamu ezperansa *buang muka ala telenovela*
Doremi saku-chan : chapter ini panjang ngga yah? ._.
Virtual Sister : hahahaa, ucapanmu dewasa sekali kisanaak *bicara ala tutur tinular*
miku chan : Itachi memang selalu baiikk :D
Mey Hanazaki : iyaaa, sakura disini emang jujur bgt, kayak aku, nyahahahahaa
Kim Na Na : iyaaa, aku sering kena kejahilannya =3=
Defbra Ino d' MixXenea : oh sebutan panda masih ada doong XD
Pah : konflik baru? emang iya yah? ._.a
Wakamiya Hikaru No Login : dibilang jangan lama2 update maunya kita sih kayak gitu, cuma apa boleh buat, waktu berlalu begitu cepat *g nyambung*
Ran Murasaki SS : chp ini balik kok :D
Bembi : eehh? beneran? *jadi malu* hehehee, kenapa baru review sekarang? kalo dari kemaren mungkin aku yg jadian sama kamu, nyahahaha
pokotanyaro : ahahhaaa, Rino... apa kabarnya anak itu? kenapa jarang nongol? aku kangen, suruh dia nongol dooong =3= sakura ngga kepribadian ganda kok :D
sasusaku lover : hahaha, bisalah... dia kan manusia juga =3=
Vincy Raviella De Mitchell : =3=, maap g bisa kilat cyiiinn
Aiko Furizawa : sakuya-gaara pasti kita bikin sweet :D
Kikyo Fujikazu : hehehe iya makasih yooo :D
nininisasasa : nanti aja yah, PP (pajak putus) wakakakakaa
Karasu Uchiha : eehh? ampun deh g sadar aku review udah 700 =="
Chadeschan : hahahahaa, judulnya babon pembawa berkah XD nyahahahahaa
YuuKina ScarJou : ngga kok, sakura ngga berkepribadian ganda :D kok pada mikir gitu yah? ._.
uchihaiykha : iyaaa, aku juga suka sakura yg meledak2 gini :D
Saqee-chan : chp depan shikaino banyak kok :D
FhYyLvRhYy ELF : heheheee, para guru dateng ngebuat kaget yah XD makasih doanya yaaah *kecups*
Aoi Ciel : aku sudah sembuh kooook, terapi juga udah selesai, hehehehe sakit sih masih, apalagi gusi ini, ngeselin bgt, bikin emosi! *jadi curhat*
annonymous99 : terlalu sinetron bgt yah? hhmmm, g tau deh, g pernah nntn sinetron sih =="
kelinci kecil : iyaaa, ini dibikin balik kok
Hoshi Yukinua : siip, ini updateannya :D
Unyu2 : judulnya... "cintaku berakhir di FFN" ? hahahahahahaaa
Yukannee : jahahahaa, cieeee anak gahoool nongkrongnya di sepel elepen XD
Nona Kirana : maafkan saya nona kirana, kami lagi sibuk ngurus sesuatu jadi susah untuk ngetik fict nya =="
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Malam pun perlahan datang. Akhirnya Naruto dan Karin memutuskan untuk menahan Hinata di taman sebelum kembali ke mansion. Saat mereka kembali, Orochimaru menyambut mereka di depan mansion dengan wajah yang tidak menyenangkan… ehm, bagi Naruto dan Karin, Orochimaru memang tercipta dengan wajah yang tidak menyenangkan. Tapi percayalah, hati Orochimaru itu menjadi selembut kapas kalau sudah berhubungan dengan Sasuke dan Sakura.
Hinata reflek memundurkan tubuhnya berlindung di belakang Karin saat Orochimaru muncul membukakan pintu. Sepertinya gadis itu trauma oleh sikap Orochimaru saat pertama kali mereka bertemu tadi pagi.
"Bisa kau jelaskan kenapa dari pulang sekolah tadi Sasuke terus mengurung di kamarnya?" tanya Orochimaru dengan nada datar.
"…" Naruto dan Karin saling menunggu siapa duluan yang akan menjawab. Karena tidak ada yang berani menjawab, Orochimaru mengangkat dagunya beberapa derajat seolah tidak suka menunggu lama-lama. Mengetahui gerakan tubuh pelatih yang hanya mau melatih Sasuke itu, Naruto memutuskan untuk menjawabnya.
"Ada masalah besar, Orochimaru-sensei," jawab Naruto.
Orochimaru menggeser tubuhnya agar anak didik teman-temannya ini bisa memasuki mansion mereka. Saat mereka menuju ruang tamu, betapa kagetnya Hinata melihat Neji dan Shikamaru sudah kembali saling tegur. Bahkan saat ini mereka sedang saling ejek, di tambah Ino yang berada di tengah-tengah mereka memasang wajah murung. Sedangkan para pelatih elite assassin sedang saling bentak… Jiraiya dan Tsunade lebih tepatnya, kalau Kakashi… dia asik tiduran di sofa yang panjang.
"Si teme itu, masih megurung diri?" tanya Naruto pada dirinya ketika tidak melihat penampakan Sasuke di sana.
"Berikan aku kunci cadangannya," pinta Orochimaru pada Karin.
"Ah, sebentar aku ambilkan di kamarku," jawab Karin yang langsung berlari ke kamarnya. Begitu kunci kamar Sasuke ketemu Karin langsung megambilnya dari laci dan kembali ke tempat Orochimaru.
"Ini," Karin memberikan kunci pada Orochimaru.
"Anak itu harus diberi pelajaran sedikit," ucap Orochimaru pelan. Saat Orochimaru berjalan menuju kamar Sasuke, Tsunade dan Jiraiya saling tatap dan tersenyum kecil.
.
.
"…"
Itachi terdiam di depan pintu kamar Sakura. Diketuk dan di panggil nama Sakura berkali-kali olehnya namun Sakura tidak menjawab. Kemudian datang Gaara menepuk pundak Itachi, membuat Itachi membalikkan tubuhnya.
"Ada yang ingin kuceritakan," ucap Gaara.
Gaara membawa Itachi ke kamarnya, begitu merasa aman dan tidak ada yang menguping Gaara mulai menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi. Dari kejadian Sakura dan Sasuke di perpustakaan sampai kejadian di atap, dimana Sakura bersikap sangat berbeda. Mendengar cerita dari Gaara, ekspresi Itachi berubah, sejak kapan Sakura bisa meledak-ledak seperti itu?
"Jadi itu alasan Sakura mengurung dirinya di kamar?" gumam Itachi.
"Menurutku, Sasuke-san tidak marah pada Sakura-san," ucap Gaara yang membuat Itachi meliriknya, "Karena saat Sakura-san mengatakan hal yang sebenarnya, aku melihat sekilas eskpresi Sasuke-san yang terlihat pilu… seolah kasihan oleh kondisi Sakura-san."
"Ah, aku lupa kalau kau ini ahli dalam menganalisa seseorang," jawab Itachi tersenyum.
"Jadi, aku berpikir untuk mempertemukan Sakura-san dan Sasuke-san kembali, mereka berdua masih sangat saling mencintai."
"Ya, aku pikir juga begitu," jawab Itachi, "Sudah waktunya Sakura kembali ke tempat dimana Sasuke berada."
"Apa Itachi-san akan baik-baik saja?"
"Tentu saja, menurutmu demi siapa aku seperti ini, dan berapa lama aku menunggu agar kedua adikku yang manis itu bersatu?"
Gaara tersenyum kecil saat melihat Itachi dengan percaya diri berkata seperti itu sambil melangkah keluar. Sekilas Gaara teringat sosok Sakuya yang memintanya untuk menjaga Sakura. Gaara tersenyum tipis sambil bersender di meja, "Ternyata kalau sudah berhubungan dengan Sakura-san, dia akan menjadi semanis itu."
.
.
Terdengar suara kunci dan pintu terbuka. Orochimaru memasuki kamar murid kesayangannya itu dengan wajah dingin. Saat melihat sosok Sasuke yang kini sangat kacau, Orochimaru hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan kasihan. Tapi Orochimaru tidak bisa memanjakan Sasuke dan mengucapkan kata-kata lembut, akhirnya Orochimaru mengangkat tubuh Sasuke yang tadi tergeletak di lantai dengan tatapan kosong, kondisi kamarnya pun sangat berantakan. Saat Orochimaru mengangkat Sasuke dan membantingnya ke kasur, Orochimaru mencengkran kerah Sasuke.
"Ini bukan seperti Sasuke yang ku kenal," geram Orochimaru.
PLAAK!
"Sadarlah."
Tamparan yang lumayan keras membuat Sasuke menatap gurunya itu, "Sensei… apa yang harus kulakukan?" tanya Sasuke dengan wajah yang datar, "Sakura… walaupun aku tahu dia bercinta dengan pria lain… aku tidak marah padanya… aku justru kasihan padanya, saat ini… Sakura pasti sangat merasa bersalah dan merasa tidak pantas berada di sisiku lagi."
"Kalau begitu, buat dia merasa pantas," jawab Orochimaru singkat.
"… caranya?"
"Kau yang paling tahu akan hal itu, paksa dia, bersihkan tubuhnya dari laki-laki lain itu," jawab Orochimaru sambil melepaskan cengkramannya dan meninggalkan Sasuke yang kini mematung.
Setelah sadar apa maksud dari gurunya itu, Sasuke memasang wajah yang terlihat sangat yakin akan keputusan yang baru saja dia dapatkan itu. Sasuke beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil jaketnya yang berwarna hitam, saat keluar kamar dia melihat semua sedang berkumpul di ruang tamu.
"Sasuke, mau kemana malam-malam begini?" tanya Tsunade.
"Bukankah sensei ingin bertemu Sakura," jawab Sasuke yang membuat satu ruangan tercengang, "Dobe, ikut aku, kau yang tahu dimana dia berada."
Naruto menyengir dan langsung bergerak, "Siaapp!"
"Sasuke! Kau akan menjemput Sakura?" tanya Karin.
"Akhirnya papa-kun menjemput mama-chan?"
"Go Sasuke! Aku yakin kau bisa meyakinkan Sakura," ucap Shikamaru.
"Ya, asal jangan sampai kau buat Sakura tidak bisa jalan sampai seminggu," ledek Neji.
"Kalian cari mati ya?" geram Sasuke.
"Sasuke," Jiraiya merogoh sakunya dan memberikan sebuah benda yang membuat Naruto memerah karena tidak sengaja melihatnya, "Ini condom, hadiah dariku dan Kakashi."
Begitu Sasuke melirik Kakashi, dia sedang memberikan tanda 'v' pada Sasuke, "Dasar kalian, ayo dobe kita berangkat."
Saat Naruto mendengar Sasuke kembali memanggilnya dengan panggilan dobe, Naruto tersenyum karena akhirnya Sasuke kembali pada sosok Sasuke yang asli. Itulah yang ada di dalam pikiran semua orang kecuali Hinata. gadis itu yang dari tadi hanya diam merasa ada yang aneh pada diri Sasuke, dia merasa Sasuke seperti akan melakukan hal yang buruk.
.
.
Naruto dan Sasuke kini berada di depan rumah kediaman white organization. Dengan Naruto yang menyetir, dia menempelkan kepalanya di stir mobil, "Apa yang akan kau lakukan sekarang, teme?"
"Ada di kamar yang mana dia?"
"Sebelah kanan, jendela nomor tiga," jawab Naruto.
Sasuke membuka pintu mobil dan keluar dari mobil mewah itu. Naruto hanya menunggu sambil tersenyum karena melihat Sasuke yang sangat pecaya diri itu, entah apa yang dikatakan oleh Orochimaru pada Sasuke, saat ini Naruto merasa berterima kasih pada gurunya yang sangat dingin itu karena sudah memberi Sasuke kepercayaan diri kembali.
Saat Sasuke memasuki gerbang rumah itu, ada beberapa jebakan yang di luar dugaan, namun insting Sasuke sangat kuat sehingga dia berhasil menghindari tombak-tombak yang tiba-tiba muncul dari permukaan tanah. Sasuke menekan bel, dan pintu langsung terbuka. Sosok laki-laki berambut merah menyambut kedatangan Sasuke dengan wajah bingung.
"Mau apa kau?" tanya Sasori.
"Menjemput tuan putriku, keberatan?"
Sosori merubah ekspresinya menjadi sinis, "Kau membuatnya menangis."
"Dan apa hubungannya denganmu?" tanya Sasuke sambil menyingkirkan tubuh Sasori agar bisa masuk ke dalam.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang kebahagiaannya!" bentak Sasori.
"Dan kau pikir kau tahu? Kau baru saja beberapa minggu bersama dengannya."
"Kau salah… aku…"
"Sasuke?" panggilan Itachi yang tiba-tiba muncul dari kamar Sakura membuat Sasori menghentikan ucapannya. Itachi tersenyum pada Sasuke, "Masih bertindak ceroboh, masuk markasku tanpa waspada?"
"Aku tahu kau tidak akan menyerangku," ujar Sasuke.
"Hemm, dia ada di dalam," kata Itachi sambil menunjuk ke belakang pintu, "Sedikit lagi, aku akan mendapatkan informasi yang dari dulu kita cari," melihat ekspresi Sasuke yang sedikit kaget, Itachi menambahkan, "Sakura yang memberi tahuku kalau tujuan kita sama, kalau sudah dapat informasinya-" Itachi melangkahkan kaki mendekati Sasuke, "- aku ingin kita kerja sama."
Sasuke terdiam sambil memandangi tangan Itachi yang mengajak berjabat, "Atas dasar apa kau percaya kalau aku mau bekerja sama dengan kalian?"
"Percaya padaku, kau butuh kekuatan kami, saat festival sekolah… akan terjadi peperangan besar yang sudah di rencanakan oleh pihak 'dia'."
"Dari mana kau tahu? Dan kenapa tiba-tiba kau menjadi begini? Kenapa tidak dari dulu kau mencariku dan Sakura!" bentak Sasuke.
"Pertama, aku mempunyai informan yang sangat lihai… aku tidak mencarimu dan Sakura karena aku pikir, kalian akan aman kalau di rumah, aku tidak mau kalian terlibat hal ini."
"Tinggal di rumah kau bilang! Mana bisa kami tinggal di sana! Banyak kelompok mereka yang datang ke sana! Kau pikir kami bahagia? Kau pikir-"
"Maaf," potong Itachi, "Maafkan aku… aku tahu dengan meminta maaf aku tidak akan bisa mengembalikan suasana kita yang seperti dulu, tapi tolong izinkan aku bekerja sama dengan tim-mu."
"…" Sasuke terdiam, melihat sorot mata Itachi yang menunjukan keseriusan, sorot mata yang pernah Sasuke lihat saat mereka kecil, saat Itachi membantu ayahnya untuk menganalisa grafik saham yang membuat beberapa perusahaan bangkrut, "Akan kupikirkan."
Itachi tersenyum dan menyingkir agar Sasuke dapat berjalan ke arah pintu kamar Sakura, "Pelan-pelan, dia masih dalam keadaan down."
"Hn."
Itachi membukakan pintu untuk Sasuke, saat pintu di buka Sasuke melihat kondisi Sakura yang masih termenung di atas kasur, entah berapa lama wanitanya itu menangis. Sasuke menghampirinya dan mengelus kepala Sakura, sehingga wanita itu mengangkat wajahnya, saat dia melihat sosok Sasuke, mata Sakura terbelalak.
"Sa-Sasuke kun? Ke-ke-kenapa ada di sini?"
"Ssshhh, jangan takut," bisik Sasuke pelan sambil menyentuh pipinya, "Aku ke sini, untuk menjemputmu."
Mata Sakura kembali terbelalak, "Ti-tidak… tidak… aku tidak bisa… aku…"
"Itu akan kita bicarakan di mansion, sekarang kau ikut aku pulang," ucap Sasuke dengan tegas.
"Tidak mau… aku tidak bisa menampakkan wajahku pada mereka, aku- kyaaaaaa!" Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan meletakannya di pundak kanannya, "Sasuke kun! Tu-turunkan akuuu!"
Sasuke keluar dan melewati Itachi, "Nii-san," panggil Sasuke yang membuat Itachi terkejut, ini pertama kalinya Sasuke memanggil dirinya dengan sebutan nii-san bernada ramah, "Aku akan memberi jawaban secepatnya."
"Hm, kutunggu," jawab Itachi sambil tersenyum.
"I-Itachi-nii! Itachi-nii tolong akuuuu!"
"Maaf Cherry, ini demi kebaikan kalian," tolak Itachi tersenyum sedikit jahil.
"Itachi-nii! aku benci Itachi-niii!" jerit Sakura.
"Ya, aku juga mencintaimu," jawab Itachi sambil melambaikan tangannya.
Saat Sasuke dan Sakura sudah benar-benar hilang, Sasori menatap Itachi dengan tatapan seolah Itachi itu adalah musuhnya, "Ada apa?" tanya Itachi pada Sasori.
"Aku pikir kau bisa membuat Sakura bahagia," ujar Sasori.
"Tidak, yang bisa membuatnya bahagia hanya Sasuke, percayalah."
"Aku…"
"Jangan khawatir, sepupumu itu akan baik-baik saja, aku menghormatimu sebagai sepupu Sakura, makanya aku mengajakmu bergabung, Sasori… tapi kalau sampai kau mencampuri hubungan mereka, aku tidak akan lagi menghormatimu," ucap Iatchi.
"…" Sasori terdiam dan mematung, sejak kapan Itachi tahu kalau Sasori, Gaara dan Sakura masih ada hubungan saudara?
.
.
"Turuuunkaaan akuu! Sasuke kuun!"
BRRUK
Sasuke memasukkan Sakura ke mobil di bagian belakang, terpaksa dirinya juga harus ikut duduk di belakang, mencegah Sakura memberontak, dan kemungkinan yang lebih parah lagi kalau tiba-tiba Sakura membuka pintu dan lompat di tengah jalan.
"Selamat datang kembali, Sakura-chaaaan!"
"Na-Naruto…"
"Cepat jalan," perintah Sasuke.
Tanpa ragu Naruto langsung menginjak gas, dengan kecepatan yang tinggi membuat mereka lebih cepat sampai di mansion. Saat mereka sudah berhenti di depan pintu, Sakura merasa sangat grogi untuk bertemu dengan yang lain. Makanya dia hanya diam tidak bergerak di tempat.
"Ayo turun," ajak Sasuke.
"Ti-Tidak mau…" tolak Sakura pelan.
"Ck!" Sasuke mendecih dan langsung menggedong tubuh Sakura… lagi.
"Kyaaaaaaa! Sa-Sasuke kuuun! Tidak mauu…. Aku takut masuk ke dalaaam…"
Sasuke tidak mendengarkan protesan dari Sakura. Dia terus berjalan sambil membawa tubuh Sakura di pundaknya melewati para elite assassin dan guru-gurunya dengan santai. Bahkan Sakura tidak sempat mengucapkan salam pada mereka karena Sasuke langsung membawanya ke kamar. Sakura hanya terus memprotes dan yang lain hanya bisa melihat dengan wajah kasihan pada Sakura.
"Berjuanglah, Sakura," gumam Karin dengan senyum anehnya.
Begitu kamar di kunci oleh Sasuke, dia membanting tubuh Sakura ke kasurnya yang mepuk itu. Lalu Sasuke menindih tubuh Sakura, membuat Sakura makin memundurkan tubuhnya.
"Ka-ka-kau mau apa… Sasuke kun?"
"Katakan padaku… apa kau menyukai laki-laki itu?"
Tidak perlu bertanya siapa yang Sasuke maksud dari kata laki-laki itu Sakura sudah paham, "Tidak, aku sama sekali tidak menyukai Deidar-"
"Jangan sebut namanya di hadapanku!" bentak Sasuke. Kali ini Sakura melihat ekspresi Sasuke benar-benar menyeramkan. Perasaan cemburu yang berhasil Sasuke singkirkan kini muncul kembali. Melihat ekspresi Sasuke yang marah, Sakura berhenti bergerak bahkan tidak mengucapkan satu kata sama sekali.
"Kau tahu.. aku membencimu, kau mengkhianatiku dan aku ingin membunuhmu," geram Sasuke sambil menjambak pelan rambut Sakura, kemudian dia menempelkan keningnya pada kening Sakura, "Andai saja aku bisa melakukan semua itu… tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa membencimu, walaupun kau sudah mengkhianatiku… jangankan membunuhmu, membencimu saja aku tidak sanggup."
Sakura menangis mendengar pengakuan Sasuke. Dia sadar sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, andai saja dia tidak terjatuh dalam ucapan Hinata, andai saja dia tidak memutuskan untuk pergi dari mansion, dan andai saja malam itu dia tidak mabuk. Semua tidak akan seperti ini.
"Sasuke… kun… maaf~ maafkan aku~" ucap Sakura yang kini berada dalam kuasa Sasuke.
Lagi-lagi Sakura menangis, memang hanya itu yang kini bisa dia lakukan. Menyesali perbuatannya yang sudah sangat kelewatan, dan Sakura sendiri tahu Sasuke tidak mungkin memaafkannya begitu saja.
"Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja," ucap Sasuke. Dan Sakura sudah tahu akan hal itu, "Kau harus di hukum."
"Eh?"
Sasuke mencium Sakura dengan panas dan memaksa Sakura untuk membuka mulutnya agar dia bisa memasukkan lidahnya. Sakura sedikit berontak, dia belum bisa melakukan hal ini dengan Sasuke karena dia masih merasa kotor.
"Nggmmpphh!"
Sakura mendorong Sasuke hingga ciuman mereka terlepas, "Sa-Sasuke kun, maaf… aku… aku tidak bisa."
"… kenapa?"
"Aku… aku kotor, malam itu aku tidak yakin kalau Dei- dia mengeluarkannya dimana…"
"Sakura…. Jawab pertanyaanku dengan jujur, apa saat itu kau menikmatinya?"
"Tidak! Aku tidak menikmatinya sama sekali, walaupun aku… saat itu aku membayangkan sosokmu, tapi aku tidak menikmatinya sama sekali. Aku merasa sangat hina, makanya aku tidak berani kembali ke si-" ucapan Sakura terputus karena Sasuke yang tiba-tiba memeluknya.
"Syukurlah," gumam Sasuke kecil.
"Sa… Sasuke kun?"
"Tapi itu tidak akan mengubah hukumanmu," sambung Sasuke.
"Eh?"
Tanpa izin dari Sakura, Sasuke membuka baju wanita itu dan menyerangnya. Menjilati setiap lekuk dari tubuh Sakura. Karena dirinya masih merasa kotor, maka Sakura hanya bisa berusaha untuk berontak dan berteriak. Sakura merasa tidak untuk melakukan hubungan intim dengan Sasuke saat ini.
"Tidak! Sasuke kun jangan! Aku mohon~"
Sasuke tidak menghiraukan ucapan Sakura. Makin Sakura berontak, makin jadi pula Sasuke menjamah tubuhnya. Saat kait bra Sakura sudah terlepas, Sasuke langsung melahap salah satu buah dada Sakura yang sudah mengeras, walaupun Sakura berkata tidak, namun tubuhnya sangat merindukan sentuhan dari Sasuke, sentuhan yang selama ini dia harapkan.
Sasuke sendiri hampir gelap mata, karena sudah berapa lama Sasuke tidak melakukan hubungan sex dengan Sakura. Sasuke melepas semua pakaian Sakura kemudian langsung menjilat area sensitive Sakura, membuat Sakura makin teriak dengan desahan di sela-sela teriakannya itu.
"Aahahhh! Nghh~ Sa-Sasukeee kuunhh~" Sakura sendiri tidak bisa mengontrol suaranya sampai-sampai yang ada di luar dapat mendengarnya. Karena sudah tahu akan terjadi seperti ini, Neji memasangkan headset pada Sakuya agar tidak mendengar desahan Sakura yang berisik itu.
"Kenapa hanya aku yang memakai headset ini?" tanya Sakuya pada Ino yang kini wajahnya tengah memerah.
PRAANG.
"…"
Suara pecahan yang terjadi di dalam kamar membuat Ino menoleh, dan Shikamaru berkata, "Jangan khawatir, mereka tidak berantem kok."
Saat ini Sakura sudah dalam posisi membungkuk dan tubuhnya bersender di pinggir kasur, mencengkram seprai sekuat tenaga karena saat ini Sasuke sedang memaju mundurkan pinggulnya di dalam lorong Sakura.
"Aaahh! Nggghhh~ Sa-Sasukee hyaaa~ hen…tikaaaaan~ aaaahh~"
Sasuke makin mempecepat gerakannya, tidak mempedulikan Sakura yang sudah beberapa kali mencapai klimaksnya. Saat ini Sasuke sudah merasakan dirinya akan klimaks, dan Sakura merasa kejantanan Sasuke makin memanjang dan mengeras, menusuk spot Sakura dengan tepat.
"Aaaahhhh~ aaannggghhhh~ Sa-Sas~ uke kuunnhh~ aaahhhhnnggggg~"
"Hahhh~ hahh~ uugh!" dorongan terakhir Sasuke membalikkan tubuh Sakura dan menggendongnya. Sasuke mengeluarkan semua cairannya di dalam rahim Sakura. Membuat Sakura mendesah panjang akibat semprotan cairan itu.
"Hah… hah… Sasuke~ kun~ maafkan… aku~"
"Masih belum," ucap Sasuke sambil melepaskan kejantanannya dan memeluk Sakura di atas tempat tidur, "Sekarang istirahatlah, besok kau akan lebih lelah lagi."
Mata Sakura terbelalak, "Itu namanya kau memperkosaku," ucap Sakura dengan nafas yang masih tidak beraturan.
"Aku tidak peduli, aku akan terus melakukannya sampai bayanganmu tentang dia hilang, sampai kau tidak lagi memikirkan tentang malam itu, aku tidak peduli kau menjerit dan menangis, aku akan terus melakukannya sampai dirimu hanya penuh olehku," ucap Sasuke sambil mencium kening Sakura.
"Apa… kau akan makin mengurungku juga?" tanya Sakura dengan nada pilu.
"Ya, aku akan makin mengurungmu seperti burung yang berada di sangkarnya, aku akan membuatmu candu akan tubuhku, itulah hukumanmu," jawab Sasuke.
Sakura hanya bisa diam mendengar jawaban Sasuke, memang ini semua adalah salahnya dan dia menerima semua hukuman dari Sasuke. Bahkan Sakura rela terus di kurung oleh Sasuke. Saat ini Sakura menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sasuke, Sakura bersumpah dalam hatinya untuk tidak akan lagi meninggalkan Sasuke apapun yang terjadi.
"Aku mencintaimu~ percayalah," ucap Sakura pelan.
"…" Sasuke terdiam, ingin sekali dia menjawab dan berkata 'aku juga mencintaimu lebih dari siapapun', tapi saat ini Sasuke tidak bisa berkata apa-apa, antara senang karena Sakura sudah kembali ke pelukannya dan marah. Karena saat bercinta tadi, Sasuke merasa Sakura masih memikirkan kejadian di saat dia bercinta dengan Deidara.
Cemburu… Sasuke sangat cemburu hingga ingin membunuh Deidara sekarang juga. Tapi hal itu akan dia undur sampai urusan mereka semua selesai, dan Sasuke bersumpah dalam hati, bahwa Deidara… pasti akan mati di tangannya.
.
.
"…"
"Sudah selesai?"
"Tiba-tiba sepi."
Semua yang berada di ruang tamu saling tukar pandang dan Neji melepas headset yang Sakuya pakai. Sementara Tsunade melirik Orochimaru dengan tatapan curiga. Kemudian Tsunade menyeringai dan menghampiri Orochimaru.
"Apa yang kau usulkan pada murid kesayanganmu itu, eh?"
"Bukan urusanmu," jawab Orochimaru dingin.
"Tentu saja urusanku, Sakura itu akan jadi anak didikku nanti!"
"Aku menyuruhnya melakukan apa yang kulakukan padamu saat kau dan Jiraiya berciuman dalam keadaan mabuk," jawab Orochimaru lagi dengan santai dan membuat Tsunade memerah.
"O-Oh begitu…"
Mendengar jawaban Orochimaru, semua elite assassin menganga tidak percaya apa yang dikatakan oleh gurunya yang terkenal dingin itu, kecuali Hinata, Ino dan Sakuya karena mereka tidak tahu apa-apa tentang mereka. Lalu Naruto dan Karin lah yang paling bersemangat bertanya.
"HEEEHHH! Tsunade-senseeeiii?" ucap Karin.
"Dan Orochimaru-senseeeii! kalian…"
"Hei hei, tidak sopan, begitu-begitu Orochi-kun ini manusia juga loh yang mempunyai perasaan," ujar Jiraiya.
Mendengar ucapan jiraiya mereka makin menganga, bagaimana mungkin bisa seorang Orochimaru dan Tsunade menjadi sepasang kekasih, apalagi mereka tidak keliahatan sama sekali kalau terjadi hubungan mesra diantara mereka. Dengan cekatan, para elite assassin membentuk sebuah lingkaran.
"Apa kalian percaya?" tanya Neji.
"Sepertinya tidak mungkin, aku pikir Tsunade-sensei akan bersama Jiraiya-sensei," jawab Shikamaru.
"Eh, tapi kalau di ingat-ingat Orochimaru-sensei kadang menatap lembut Tsunade-sensei loh," ujar Karin.
"Karin, kau membuatku merinding," kata Naruto yang membayangkan wajah Orochimaru tersenyum lembut.
"Anu, kalian membahas apa? Sakuya ingin tahu."
"Percuma, kamu tidak akan mengerti Sakuya," ujar Ino yang hanya senyum-senyum mendengar teman-temannya berdiskusi.
"Anak yang tidak mengenal cinta tidak akan mengerti," ledek Neji.
Saat Neji meledek Sakuya, terlintas wajah Gaara di pikiran Sakuya dan itu membuat Sakuya memerah tanpa disadari oleh dirinya sendiri, namun reaksi Sakuya di dsadari oleh yang lainnya.
"Haaahhh! Sakuyaaaa, kau sedang jatuh cintaaaa?" tanya Karin heboh.
"Eh? Ti-tidak! Bu-bukan… Sakuya tidak suka de-dengan hal seperti itu!"
"Jawaban yang berbeda degan reaksinyaaa!" ejek Naruto, "Katakan padaku siapa orangnya."
"Kita seleksi dulu, pantas atau tidak dengan Sakuya," usul Shikamaru.
"Atau jangan-jangan kalian sudah pacaran?" tebak Ino.
"TIDAK! BUKAAAAN!" jerit Sakuya dengan wajahnya yang memerah.
"Aaiiiihh~ wajahmu memeraah, lucu sekaliii," Neji makin meledek sambil memeluk Sakuya.
"Tidak! Sakuya tidak menyukai si panda! Enak sajaaa!" teriak Sakuya yang membuat semuanya terdiam heran.
"Panda?" tanya Ino dan Sakuya menutup mulutnya dengan reflek.
"AAHHH!" Naruto teriak karena menyadari siapa yang di maksud oleh Sakuya dengan sebutan panda itu, "Kau menyukai Gaara, Sakuya?"
Wajah Sakuya sukses memerah karena ucapan Naruto yang langsung menusuk hatinya.
"TIDAAAAAAK! SAKUYA TIDAK SUKA PADA ORANG YANG ANEH DAN SOK BAIK ITU!"
"Tenang, aku akan menyelidik dia, baik atau tidaknya untukmu," ujar Ino.
"Tidak, Sakuya belum pantas pacaran," tolak Neji.
"Kakak yang protektif, eh?" ledek Karin.
Mendengar suara tawa elite assassin yang entah bagaimana suasananya mulai mencair dari pada kemarin, para pelatih hanya tersenyum lega melihat anak didik mereka kembali rukun. Dan satu suara membuat semua menoleh pada seseorang yang kini tengah tertawa kencang.
"Hahahahahahaha," menyadari semua memandanginya, Hinata menghapus air mata yang keluar dari matanya karena tertawa itu, "Maaf, aku lancang tertawa, tapi hubungan kalian lucu sekali."
Ino dan Karin tersenyum pada Hinata, "Akhirnya kau menunjukkan ekspresimu yang sebenarnya," ujar Ino.
"Akan lebih bagus lagi kalau kau tunjukan sifat aslimu pada kami," usul Naruto.
Hinata tersenyum lembut pada mereka, "Terima kasih semuanya, terima kasih sudah memaafkanku, walaupun aku tahu ada beberapa yang tidak bisa memaafkanku," ujar Hinata sambil menatap Neji.
"Sebagai permintaan maaf, aku akan memberi tahu kalian sesuatu," lanjut Hinata, "Ini ada hubungannya dengan balas dendam Sasuke dan Sakura."
Mendengar ucapan Hinata, Kakashi yang dari tadi membaca novel dengan santai mulai bereaksi, "Aku akan memberi tahu kalian hal sebenarnya kenapa aku bisa ada di sini, tapi nanti saat Sasuke dan Sakura sudah selesai menyelesaikan urusan mereka."
"Wah, akhirnya mau membuka mulut juga, obake-neesan," ujar Sakuya sambil menyengir.
"Berhenti memanggilku begitu, aku tidak suka," tegur Hinata dengan gaya ala tuan putrinya.
"Weee, Sakuya tetap tidak mau akur denganmu."
Melihat Hinata yang sedikit sudah mulai diterima oleh elite assassin, para pelatih pun menghela nafas lega. Kecuali Kakashi yang dari tadi menatap Hinata dalam-dalam, menyadari dirinya sedang di tatap seperti itu Hinata menoleh ke arah Kakashi dan tersenyum. Senyum yang sangat sulit di artikan.
A/N : chapter ini masih pendek? duh maaf ya plotnya emang cuma segini =="
warning chapter depan akan ada adegan lemon yg sangat keras, jadi anak kecil jangan baca yah, baca sih gpp, tapi g nanggung resikonya :p
typo pasti banyak bgt di chapter ini, maaf ya... semoga masih bisa dinikmati... =="
dan raffa sekarang lagi ada di arab, kawin sama onta, wakakakkaaa, jadi udpatenya ngga janji yaaah :D
V3Yagami
