MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF DAN MAAF
hanya itu yang bisa saya ucapkan atas keterlambatan fict ini :(
saya benar-benar sibuk, sebenarnya saya juga ngga mau sibuk begini, capek loh... kalau bisa saya teriak di atas patung liberty saya teriak deh :(
dan saya hanya bisa berhadapan dengan fict ini saat malam pulang kerja, kadang saya lupa membuka laptop karena terlalu lelah :(
dan ini berkat saya nyicil, jadi selesailah chapter ini
Fitri semoga chapter 18 bisa kamu perbaiki ya, aku merasa ngga maksimal di chapter ini, maaf juga jarang hubungin kamu :(
dan untuk para reader, maaf ya sudah menunggu lama :(
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
"Hemmm, jadi mereka tidak waspada dengan sekitarnya ya," ucap sesosok pria yang memakai suit formal sambil memegang segelas red wine di tangan kanannya.
"Ya, dan juga… sepertinya dia akan berbalik berpihak pada elite assassin."
"Hahaha, itu tidak akan mempengaruhi apapun, karena dia hanyalah alat untukku."
"Selanjutnya, apa yang harus saya lakukan?"
"Terus awasi mereka, kita akan bergerak saat mereka benar-benar lengah."
"Baik," setelah menjawab, orang yang tadi menghadap bos besar yang terlihat gagah ini pergi meninggalkan ruangan besar yang di penuhi oleh ukiran-ukiran dan patung hewan yang sudah dikeringkan.
Setelah orang yang tadi keluar, sosok bos besar ini menggeram dan menggenggam gelas yang dia pegang itu dengan kencang, sehingga gelas itu pecah dengan mudahnya, "Jangan pikir kalian menang karena sudah menghabisi anak buahku, bocah-bocah sialan!"
.
.
"Ngghhh~"
Suara erangan dan desahan terdengar di dalam kamar yang terlihat sangat berantakan itu. Sosok laki-laki yang menguasai permainan cinta di atas kasur itu terlihat sangat membara, seakan tidak membiarkan sang wanita beristirahat untuk sebentar saja. Sasuke terus menerus mengulum bibir Sakura sampai bibir wanita itu memerah. Gerakan yang kini dia ciptakan membuat Sakura tidak bisa menguasai tubuhnya yang menerima kenikmatan yang tiada henti itu.
"Aahh~ Aaaahhhh! Aannnghhhh! Sa-sukeeee~ aaaanghh~"
"Uuugh~ aahh!"
Dorongan terakhir berhasil membuat kedua orang itu mencapai klimaksnya. Ini sudah ke lima kalinya Sakura klimaks dan ke tiga kalinya Sasuke klimaks. Saat Sakura akan istirahat, Sasuke tidak membiarkannya. Laki-laki yang kini kembali mencium kekasihnya itu membuat Sakura sedikit berontak.
"Sasuke kun! Sudah~ cukuuup~ maafkan aku… aku le- Hyaaa~ aaaahhhnnn~"
Sasuke memotong ucapan Sakura dengan cara menjilat kewanitaan Sakura dengan gerakan lidah yang cepat dan dorongan lidahnya. Sehingga membuat Sakura kembali klimaks, "Hyaaaa~ aaaahahhnnnn! Ngghhhhh~"
Melihat Sakura yang menangis karena lelah, Sasuke mengelus kepala wanita itu dan mengecup keningnya, "Hukuman ini belum berakhir, sekarang istirahatlah, lain kali kita akan lanjutkan lagi," ucap Sasuke sambil memeluk tubuh Sakura dengan lembut.
Sakura… walaupun dia merasa sangat lelah atas perlakuan Sasuke tapi dia masih bisa merasa nyaman di dalam dekapan laki-laki yang bertubuh atletis itu. Perlahan Sakura memejamkan matanya dan tertidur lelap. Sedangkan Sasuke masih terbangun dan terus membelai rambut Sakura helai demi helai.
Sasuke tahu, Sakura tidak menyukai perlakuannya saat bercinta tadi, ketika dia tidak memikirkan perasaan Sakura yang baru saja klimaks, Sasuke masih saja terus melanjutkan aktivitasnya. Tapi ini adalah hukuman untuk Sakura yang sudah bercinta dengan laki-laki lain. Dan sebenrnya ada satu hal yang ingin Sasuke lakukan pada Sakura, namun ini bukan saat yang tepat, lagi pula kalau tanpa seizin Sakura… itu akan menjadi hal yang sangat hina.
Pagi hari kembali tiba, Sasuke yang sudah selesai mandi dan kini hanya memakai handuk yang berbentuk piyama itu duduk di sebelah Sakura yang masih tertidur. Handuk kering terletak di atas kepalanya, kini rambut yang biasanya terlihat seperti pantat ayam itu menurun karena basah. Sambil termenung, Sasuke teringat kata-kata Itachi dulu tentang jati diri Sakura, dimana kalau saat marah Sakura seperti manusia yang mempunyai kepribadian ganda.
"Ngh~" Sakura terbangun dari tidurnya dan melihat ada Sasuke yang duduk di sampingnya, "Sasuke kun? Jam berapa ini?"
"Jam 9, cepat bangun dan siap-siap," ucap Sasuke sambil menyibak pelan rambut Sakura.
"Aku tidak sabar untuk hari ini," ucap Sakura yang bangun dari tidurnya dan memeluk lengan Sasuke, "Akhirnya aku akan dilatih oleh Tsunade-sensei."
Entah harus bangga atau khawatir, yang jelas saat ini Sasuke hanya bisa mendukung apa yang Sakura mau, "Makanya siap-siap, cepat mandi," kata Sasuke sambil mengacak-acak rambut Sakura.
Sudah tiga hari sejak pulangnya Sakura ke mansion ini dan selama tiga hari juga Sakura tidak keluar dari kamarnya. Tidak perlu bertanya kenapa Sakura tidak keluar karena semua sudah tahu jawabannya, dan hal ini sudah di prediksikan oleh elite assassin. Setelah Sakura selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan celana jeans pendek dan kaos putih, dia mengikuti Sasuke yang juga berpakaian santai seperti Sakura, dia hanya memakai celana selutut dan kaos hitam.
Mereka berjalan ke ruangan bawah tanah, saat mereka sampai di depan pintu ruangan itu Sakura melihat ada Kyo yang sedang duduk di depan pintu.
"Kyoooo!" panggil Sakura riang, dan ketika Kyo menoleh, anjing itu berlari dan menerkam Sakura dengan pantat yang tanpa buntutnya itu bergoyang-goyang, "Hahahaha, iya aku juga kangen sama kamu."
Sasuke melirik sinis pada Kyo, namun Kyo sendiri tidak peduli dan terus menjilati wajah Sakura. Sampai akhirnya Sasuke memisahkan mereka dengan paksa, "Sudah cukup! Ayo kita masuk," ujar Sasuke dengan nada kesal.
"Sasuke kun… kau ini, masa cemburu pada anjing," ucap Sakura.
"Berisik," gerutu Sasuke pelan dengan wajah yang memerah.
Saat Sasuke membuka pintu, mata Sakura terbelalak lebar ketika melihat Ino dan Karin sedang adu fisik begitu pula dengan Sakuya dan Naruto, bahkan Hinata dan Kakashi pun ikut serta.
"Ino pertahankan lenganmu! Tahan serangan Karin!" terdengar bentakkan dari Tsunade yang mengawasi mereka.
"Naruto, jangan ragu untuk menyerang Sakuya, dan Sakuya jangan mengandalkan kecepatanmu untuk terus menghindar! Serang Naruto sekuat tenagamu!" kini Jiraiya yang berteriak.
"I-Ini…"
"Spesial training untuk mereka, para sensei tidak hanya memberikan pelatihan tentang cara menembak, mereka juga akan melatih kita semua agar bisa bertarung one on one tanpa senjata," jelas Sasuke pada Sakura yang sedang terpesona pada gerakan Ino yang sangat lincah.
"Baru tiga hari mereka berlatih… tapi Ino sudah sangat hebat," gumam Sakura.
"Aku yakin kau bisa melebihinya, Sakura," ucap Orochimaru yang datang dari belakang mereka berdua.
"O-Orochimaru-senseeeeiii!" jerit Sakura yang langsung memeluk gurunya itu.
"Senang kau sudah kembali, untung saja Sasuke berhasil membawamu, kalau tidak mungkin saat ini Sasuke sudah kuberi hukuman."
Sakura hanya menyengir dan Sasuke membuang mukanya karena sedikit tidak rela melihat Sakura yang memeluk guru kesayangan mereka itu. Selama mereka dilatih, Orochimaru khusus melatih Sakura dan Sasuke. Begitu Tsunade melihat Orochimaru yang kini sedang mengarahkan gerakan Sakura, Tsunade menghampiri mereka.
"Aku pikir kau sudah sepakat kalau yang akan melatih Sakura adalah aku," ucap Tsunade pada Orochimaru.
"Tsunade-sensei!" seru Sakura.
"Apa kau sudah siap untuk pelatihan khususmu, Sakura?" tanya Tsunade.
"Aku sangat siap dari dulu, hanya saja ada seseorang yang tidak mengizinkanku untuk ikut sera dalam elite assassin ini," sindir Sakura sambil tersenyum.
"Wah, orang itu pasti anak didik seseorang yang sama-sama tidak peka perasaan wanita, hohohohoho," jawab Tsunade.
Mendengar Tsunade menyindirnya, Orochimaru melangkah mendekati Tsunade dan mengangkat dagu wanita itu "Kalau aku yang kau maksud, katakan saja langsung."
"Ya, memang itu kamu! Dan jangan mengambil alih jatahku untuk melatih Sakura," tantang Tsunade.
"Kau berani memerintahku?"
"…" Tsunade terdiam saat Orochimaru makin mendekatkan wajahnya sambil membelai rambut wanita yang ditakuti oleh Jiraiya kalau marah itu.
"Be-benar-benar seperti Sasuke ya Orochimru-sensei itu," gumam Ino dan Hinata tanpa mereka sadari satu sama lain.
.
.
Sudah beberapa hari terlewati mereka berlatih bersama di ruang bawah tanah. Kini Karin makin kompak dengan Ino dan Hinata. sedangkan Sakura, kemampuan bertarungnya berbeda dari yang lain. Kalau yang lain lebih di fokuskan pada tembak menembak, Sakura di fokuskan untuk bertarung memakai pedang kayu. Sedangkan Sakuya sangat kompak dengan Naruto, karena mereka sama-sama gesit dan lincah.
Shikamaru, Neji dan Sasuke? Jangan di tanya karena mereka sudah ahlinya bertarung dan tembak hari ini adalah hari dimana mereka harus kembali pada aktivitas sehari-hari, yaitu sekolah.
"Aaahhh~ Sakuya malas sekolaaaah~" gerutu Sakuya yang meletakkan dagunya di meja makan.
"Jangan malas! Bisa-bisa kau bodoh seperti Naruto," tegur Karin yang sedang membuatkan saran pagi.
"Hey! Kalau aku bodoh aku tidak akan bisa memecahkan kode selama misi," protes Naruto sambil membuatkan jus untuk yang lain.
"Selamat pagi," sapa Sakura yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Sasuke. Maksudnya, kamar dia dan Sasuke.
"Pagi mama-chan, hari ini Sakuya malas sekolah, boleh Sakuya tidur saja di sini?" izin Sakuya pada Sakura.
"Tidak boleh," Sasuke yang menjawab, "Bagaimana nanti kalau kau bodoh seperti Dobe."
"Kenapa selalu aku yang dijadikan contoh? Kenpa tidak Shikamaru atau neji!" protes Naruto sambil menuangkan jus ke dalam gelas satu persatu.
"Neji? Shikamaru? Mereka terlalu bagus untuk dibandingkan denganmu," ledek Sasuke.
Di saat Naruto sedang adu mulut kecil-kecilan dengan Sasuke, Sakura menghampiri Karin dan membantu Karin meletakkan omelet yang sudah selesai dibuat ke atas piring yang sudah di sediakan.
"Bagaimana dengan Sasuke?" tanya Karin dengan suara pelan,
Sakura tersenyum kecil, "Kamu pasti sudah tahu ceritanya kan, tentang kenapa aku tidak bisa kembali ke sini saat itu."
"Ya," jawab Karin, "Aku yakin Sasuke pasti memaafkanmu."
"Ya, dengan hukuman yang sangat menyakitkan," jawab Sakura dengan nada candaan.
"Hahaha, tapi syukurlah kalian sudah kembali seperti dulu, jujur aku sangat khawatir dengan hubungan kalian, aku benar-benar tidak mau hubungan kalian berakhir," jawab Karin dengan tatapan sedih yang tertuju pada omelet.
"Terima kasih, Karin… kamu benar-benar seperti kakakku, aku bersyukur bisa bertemu denganmu, kamu begitu perhatian dan lembut, laki-laki yag menjadi pasangamu nanti akan sangat beruntung," ucap Sakura.
Ucapan Sakura membuat hati Karin sedikit pilu, bukan sosok kakak yang Karin harapkan dari Sakura. Karin ingin Sakura melihatnya sebagai wanita dewasa yang mencintainya, namun cinta terlarang ini tidak bisa Karin ungkapkan pada Sakura. Sampai akhirnya Karin hanya bisa menatap wajah Sakura yang sedang terseyum sambil menyuapi Sasuke dengan tatapan sedih.
Sering kali Karin berpikir andai saja dia terlahir sebagai laki-laki, sudah pasti dia akan dengan senang hati bersaing secara sehat dengan Sasuke. Saat Karin menghela nafasnya dengan pelan, ternyata Naruto dari tadi memperhatikan gerak-gerik Karin.
Dalam perjalanan ke sekolah, suasana mereka sudah mulai mencair yang tadinya saling perang dingin kini terlihat Neji dan Shikamaru sudah kembali normal. Hanya saja Sakuya lah yang kini terlihat sangat lesu.
"Kau lesu kenapa?" tanya Neji sambil menyenderkan lengannya di atas kepala Sakuya.
"Huuuh~ Sakuya tidak mauuu~ Sakuya tidak mau jadi Cinderella~"
"Oohh, jadi itu yang kamu pikirkan dari tadi, tenang saja Sakuya, kamu cocok kok dengan Gaara," ledek Ino.
"Ino nee-samaaa!"
"Hahaha, aku jadi tidak sabar ingin melihatmu dengan Gaara itu," sambung Shikamaru.
"Aaaa! Sakuya benci kaliaaaan!" teriak Sakuya sambil berlari meninggalkan yang lain di belakang.
"Kami juga mencintaimu!" sahut Neji.
"Hahaha, Sakuya itu, sama sekali tidak kelihatan ya kalau ternyata dia itu bisa membunuh orang dengan sadis," ucap Karin.
"Sekejam-kejamnya Sakuya, dia hanyalah anak kecil yang belum pernah merasakan kasih sayang dari sosok seorang kakak," jawab Neji.
"Kau benar, lagi pula sepertinya Sakuya menyukai Gaara," sambung Naruto, "Wajahnya selalu memerah kalau kita meledeknya."
"Hah? Aku tidak akan setuju dia dengan si rambut merah itu!" protes Sasuke.
"Kenapa?" tanya Karin sambil melirik Sakura, dan Sakura hanya bisa diam, dia tidak mau terlalu banyak berkomentar tentang anggota white organization saat ini.
"Apa perlu alasan untuk tidak setuju?" tanya Sasuke balik pada Karin dengan nada sinis.
"Ck! Tuan muda egois, kalau Sakuya menyukainya? Kita harus mendukungnya," jawab Karin.
"Jangan bahas itu ya," potong Sakura tiba-tiba, "Kita bahas yang lain saja, hehehe, oh iya pulang sekolah nanti kita akan latihan drama, kalian nonton ya."
"Oh ya? Aku pasti nonton," jawab Karin.
"Aku dan Shikamaru tidak bisa, maaf ya," ucap Ino.
"Aku juga tidak bisa, nanti saja aku melihat kalian saat pentas," ujar Neji.
"Kalian tidak seru, tapi yang penting Karin datang," ujar Naruto menyengir lebar.
"Sepulang sekolah di auditorium ya, jangan lupa," ucap Sakura yang dalam hatinya merasa lega percakapan tentang white organization terputus.
.
.
Selama pelajaran berlangsung, tidak selirikpun Sakura berani menatap Gaara. Sasuke benar-benar mengawasi Sakura supaya Sakura tidak lagi berhubungan dengan para white organization tanpa seizinnya. Bahkan saat istirhat, Sasuke meminta tolong pada Karin agar mengawasi Sakura, tentu saja dengan Karin yang berpihak di Sakura. Karin memberi tahu Sakura kalau dirinya di minta tolong oleh Sasuke.
Sejak kejadian mengakunya Sakura pada Sasuke tentang hubungannya dengan Deidara, Sasuke menjadi lebih amat protektif pada Sakura. Dan Sakura tidak menyalahkan Sasuke atas sikapnya itu. Andai saja saat itu Sakura tidak memutuskan untuk kabur dari mansion, mungkin Sasuke tidak akan se was-was seperti saat ini.
Saat pulang sekolah, seluruh peserta drama berkumpul di auditorium untuk berlatih. Terlihat mereka yang sedang memegang masing-masing naskah dan posisi sesuai peran mereka.
"CINDERELLAAAAAA!" teriak Sakura dengan ala kakak tiri Cinderella yang kedua, "Tolong setrika gaunku untuk ke pesta dansa! Cepat ya!"
"Ba-baik kak…" jawab Sakuya yang benar-benar takut saat Sakura memainkan perannya dengn baik.
"Waw, Sakura memainkan perannya dengan baik," gumam Naruto yang duduk di samping Karin.
"Se-Seka-lian… gaun…ku… AARGGHHH! Aku berhenti! Adegan konyol begini mana bisa kumainkan!" gerutu Sasuke sambil membanting naskahnya.
"Sasuke Uchiha, apa kau ingin mengulang kelas seni mu, hah?" tanya sang guru yang dari tadi duduk manis bersila kaki.
"Tidak bisakah aku bertukar peran?"
"Ini sesuai dengan undian, dan sekarang mainkan peranmu, ayo!" jawab sang guru.
"Konyol! Aku tidak peduli lagi," geram Sasuke yang berjalan meninggalkan panggung.
"Uchiha!" teriakan guru tidak di dengarnya, Sasuke terus berjalan tanpa mempedulikan yang lainnya.
"Ehm… biar aku saja yang membujuknya," usul Sakura pada sang guru, ketika diberi izin pada guru, Sakura berlari mengejar Sasuke.
Sakuya melirik Gaara yang sedang membaca naskahnya dengan serius, wajah Sakuya sedikit merona melihat wajah Gaara yang terlihat serius dan menimbulkan kesan keren pada sosoknya yang sedang berdiri sambil bersender di tembok itu. Sedangkan Karin hanya termenung ketika melihat sosok Sakura yang mengejar Sasuke.
"Wajahmu itu jelek kalau merenung tahu," ucap Naruto yang menepuk kepala Karin.
"…" Karin hanya diam menanggapi ucapan Naruto.
"Hhh, kita ini sama-sama patah hati ya," utar Naruto tiba-tiba sambil menyenderkan kepalanya di bahu Karin, "Sama-sama menyukai orang yang sama, dan orang yang kita sukai itu adalah penyelamat kita."
"Jangan samakan aku denganmu," gumam Karin pelan.
"Hehehehe, aku kagum loh padamu, kau wanita kuat dan tegar," ucap Naruto yang mengetahui kalau Karin saat ini tengah menangis karena bahu Karin yang sedikit gemetar, "Tidak apa menangis karena patah hati, menangis itu wajar, keluarkan saja."
Karin hanya terdiam dan makin menundukkan kepalanya. Siapa yang menyangka kalau Karin yang terkenal tegas dan kuat itu bisa menangis karena cinta? Hanya Naruto yang tahu, karena saat ini mereka sama-sama merasakan perasaan yang bercampur aduk. Antara sedih karena tidak bisa memiliki orang yang mereka cintai dan bahagia karena melihat orang yang mereka cintai kini bisa bahagia bersama laki-laki yang dicintainya.
.
.
"Sasuke kuuun! Tunggu!" Sakura akhirnya bisa menggenggam lengan Sasuke, "Aku mohon kembalilah ke auditorium."
"Dan melakukan peran yang menggelikan itu? Tidak terima kasih."
Saat Sasuke akan melanjutkan langkahnya, Sakura menahan lengannya, "Tunggu! Aku mohon, Bantu kami agar acara ini sukses, ini adalah festival pertama untukku yang sudah lama aku impikan."
Melihat Sakura menahannya dengan tatapan memohon, Sasuke menghela nafas, "Baiklah, baiklah! Jangan menatapku begitu… tapi ada satu syarat."
"?"
Sasuke menarik Sakura ke dalam ruangan musik yang sudah tidak dikunjungi oleh orang-orang lagi. Saat masuk ke ruangan itu, Sasuke menarik leher Sakura dan menciumnya.
"Aku ingin melanjutkan hukumanmu," bisik Sasuke.
"Tu-Tunggu Sasuke kun~ i-ini di sekolah!"
"Aku tidak peduli."
Sasuke kembali mencium Sakura dengan panas namun berkesan lembut, Sakura pun tidak bisa membohongi tubuhnya yang merespon ciuman Sasuke. Tanpa Sasuke minta, Sakura membuka mulutnya dan mengajak Sasuke untuk bermain lidah, tentu saja dengan senang hati Sasuke menerimanya.
Tangan Sasuke memeluk pinggang Sakura agar tubuh wanitanya itu tidak terjatuh, sedangkan lengan Sakura kini sudah melingkar di leher Sasuke dan kaki Sakura sedikit menjijit, bahkan satu kaki dia angkat menandakan Sakura pun menginginkan hal yang sama dengan Sasuke saat ini.
Sasuke melepas ciuman mereka dan tersenyum, "Kau menginginkannya?"
Sakura mengangguk malu dan Sasuke mulai membuka seragam Sakura. Sambil berciuman dengan panas, Sakura pun membuka kancing Sasuke satu persatu. Tidak sampai habis Sakura membuka karena mereka tidak mau terburu-buru saat selesai nanti.
"Sasuke kun~ di percepat saja, nanti ada yang datang," pinta Sakura.
"Dengan senang hati," jawab Sasuke.
Kembali berciuman, Sasuke meraba dada Sakura memakai tangan kanannya yang melingkar di punggung Sakura, dan tangan kirinya mulai mengangkat rok Sakura. Merasa celana dalam Sakura sudah basah, Sasuke memasukkan jarinya ke dalam lorong Sakura.
"Aahhh~"
"Sssttt," Sasuke menutup mulut Sakura agar tidak mendesah kencang dengan cara menciumnya kembali.
Saat Sasuke memaju mundurkan jari-jarinya di lorong Sakura, dengan cepat Sakura mencapai klimaksnya, "Nggghhhh!"
"Cepat sekali?" tanya Sasuke bingung.
Sakura melepaskan pelukannya dan mulai berlutut di hadapan Sasuke, bingung dengan aksi Sakura akhirnya Sasuke hanya diam dan melihat apa yang wanitanya itu lakukan. Saat Sakura membuka resleting Sasuke.
"Sa-Sakura tunggu! Apa kau yakin?" tanya Sasuke kaget, karena setahu dia Sakura bukan tipe wanita yang suka melakukan blow job.
Sakura tidak menjawab, dia meneruskan kegiatannya dan membebaskan kejantanan Sasuke yang kini sudah menegang. Sakura memijitnya pelan kemudian melirik Sasuke yang kini mendongakan kepalanya. Posisi mereka kini Sasuke yang bersender di tembok dan Sakura yang berlutut di hadapan Sasuke.
Sakura tanpa ragu menjilat ujung kepala adik kecil Sasuke, dan itu berhasil membuat Sasuke mendesah, "Aaahh~" mendengar Sasuke mendesah membuat Sakura bersemangat. Dan Sakura pun memasukkan seluruh kejantanan Sasuke ke dalam mulutnya sambil memainkan lidahnya di dalam dan memijit kejantanan Sasuke yang tidak masuk ke dalam mulut Sakura memakai tangannya.
"Aaahh~ Sakuraa~" desah Sasuke sambil menjambak pelan rambut Sakura.
Memutar lidahnya di ujung kepala kejantanan Sasuke dan memaju mundurkan kepalanya membuat Sasuke makin menegang.
Sakura terus memaju mundurkan kepalanya sampai Sasuke menegangkan kedua pahanya, menandakan bahwa sedikit lagi Sasuke klimaks, "Sa-Sakura… lepaskaan~ aahh~"
Sakura tidak melepaskannya, Sakura tetap memaju mundurkan kepalanya sampai, "Aasshhhh! Aaaahhh~" Sasuke mengeluarkan cairnnya di dalam mulut Sakura, dan tanpa ragu Sakura langsung menelannya.
"Apa yang kau lakukan? Bukankan kamu bukan tipe yang suka melakukan-"
"Ini karena aku mencintaimu, kamu suka kan?" jawab Sakura dengan wajah polos, Sasuke tersenyum lembut dan mencium keningnya, "Aku juga mencintaimu."
"Nah, lanjutannya setelah kita latihan ya," ujar Sakura sambil memasang kembali kancing seragam Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum dan merapikan rambut Sakura memakai jari-jarinya.
.
.
Di mansion, Hinata masih berlatih dengan Kakashi. Hanya mereka berdua yang berda di dalam ruangan itu karena saat ini Jiraiya sedang ber istirahat, kalau Orochimaru dan Tsunade? Jangan tanya dimana mereka berada kalau kalian tidak ingin mendengar adanya suara desahan yang hebat dari kamar tamu.
Hinata terus menerus menyerang Kakashi dengan gerakan-gerakan bela dirinya dan sesekali menembakkan pistol yang berisikan cat warna. Tidak ada satupun tembakan yang berhasil mengenai tubuh Kakashi, membuat Hinata kecewa pada kemampuannya sendiri dan kini dia terjatuh di lantai karena terlalu lelah.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Kakashi pada Hinata sambil membantu wanita itu berdiri.
"Sudah kubilang, kalau di sini jangan panggil aku Nona," tegur Hinata.
"Maafkan saya."
"Kau ini, kenapa bisa ikut dengan mereka sih? Lalu bagaimana dengan ayah?" tanya Hinata dengan suara yang sangat pelan.
"Ayah anda baik-baik saja, ada hal yang ingin aku sampaikan," ujar Kakashi.
"Apa itu?"
"Sepertinya… dia sudah mengetahui kalau anda akan berbalik menyerang dan bergabung dengan elite assassin."
"Dari mana dia tahu? Kau bermuka dua ya?" tuduh Hinata.
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu, aku berani bersumpah tidak bermuka dua, kesetiaanku hanya kuberikan pada Nona Hinata," jawab Kakashi sambil berlutut dan mencium punggung tangan Hinata.
"Terima ksih, Kakashi… memang hanya kamu yang selalu mengerti aku, bahkan ayahku sendiri tidak mengerti aku," ucap Hinata.
"Aku akan melindungimu, karena untuk itulah aku diselamatkan oleh keluarga Hyuuga."
"Terima kasih, sekarang aku ingin istirahat, dan terima kasih juga ya sudah mengajariku cara bertarung," ucap Hinata.
"Senang bisa berguna untuk anda."
Hinata berjalan meninggalkan Kakashi di ruangan khusus latihan para elite assassin, Hinata harus segera mengambil keputusan atas tindakannya, karena kalau tidak nyawanya juga pasti akan terancam. Karena dia bukanlah tipe orang yang akan mudah mengampuni pengkhianat walau wanita sekalipun. Makanya Hinata memutuskan untuk membongkar jati dirinya malam ini pada semua anggota elite assassin, juga para pelatihnya.
Hinata tidak lagi peduli apakah Sakura nanti akan menyerangnya lagi, atau bahkan kejadian buruk menimpanya saat dia membongkar identitasnya. Yang Hinata pedulikan saat ini adalah, balas budi pada elite assassin yang mengajarkannya apa itu kebersamaan dan persahabatan. Perasaan yang Hinata lupakan selama ini, dan perasaannya pada Neji yang sebenarnya Hinata sangat sayang pada kakak sepupunya itu.
.
.
Suasana terang yang tercipta di ruangan yang kini penuh dengan suara desahan dari seorang wanita dewasa yang sangat cantik dan seksi. Membuat sang pria yang kini berda di bawahnya ikut mendesah hebat akibat permainan yang lihai dari sang wanita tersebut.
"Aahhh~ kau memang hebat." Ucap sang pria saat merasakan klimaksnya.
"Hihihi, untukmu aku bisa melakukan apa saja," ujar sang wanita itu.
"Apa saja? Termasuk membunuh anakmu sendiri?"
"Dia tidak akan mengenaliku, karena dari lahir dia tidak bersamaku," ucap sang wanita sambil menyalakan rokoknya, "Lalu bagaimna denganmu? Bukankah kehadiran anakmu itu cukup membuatmu takut akan hancurnya yakuza ini?"
"Yah, elite assassin cukup lihai, aku penasaran… siapa yang melatih mereka." Ucap sang pria sambil membuka hpnya dan menekan tombol-tombol hp itu.
"Sedang apa kau?" tanya sang wanita.
"Membalas pesan dari Jiraiya, dia ingin bertemu dengan kita, katanya dia rindu mabuk bersama."
"Hahaha, dia tidak berubah. Sejak di tolak Tsunade dia selalu mabuk-mabukan," kata sang wanita smabil mematikan rokok yang baru beberapa kali dia hisap.
"Ah, mungkin aku bisa meminta tolong Jiraiya untuk menghancurka tikus-tikus kecil itu," gumam sang pria.
"Ide bagus, saat festival sekolah nanti, apa perlu kita yang langsung turun tangan?"
"Tidak usah, belum saatnya kita menampakkan sosok kita pada anak-anak yang lucu itu, Hahahahahaha."
A/N : author note dua-duanya saya tulis barengan, hadeeeh bener-bener sibuk. karena ini udah dini hari... sekitar jam 3 pagi, maaf ya, saya ngga bales review kalian. sumpah saya lelah nya poolllll!
dan untuk chapter 18, semoga fitri updatenya cepet, pemberi tahuan aja, dia juga lagi sedikit sibuk ngurusin dokumen-dokumennya untuk persiapan sekolah di Taiwan... jadi kalian yang sabar dan mohon di maklumin ya.
kami bener-bener minta maaf loh :(
