i'm so soooorrryyyy yah updatenya ngaret, fict ini ngga akan discontinue kok, pasti akan tetep lanjut, hanya aja aku dan raffa lagi sibuk banget, aku sih udah agak merenggang kesibukannya, tapi raffa belum.. jadi chapter depan mungkin aku lagi yang akab bikin kalau raffa ngga sempet :D

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

Latihan demi latihan mereka jalani, hari demi hari telah mereka lewati dengan kegiatan latihan drama dan juga latihan bertarung. Saat ini sepulang mereka dari latihan drama, Sakura, Naruto dan Karin lebih dulu sampai di mansion dibandingkan dengan yang lain. Karena Sasuke masih harus berlatih dan di temani oleh Sakuya, Gaara, Shikamaru, Ino dan Neji. Maka ketiga orang yang kini sedang bersantai di ruang tamu ini pulang duluan menyiapkan diri mereka untuk pentas besok.

"Sakura, bagaimana latihan dramanya?" tanya Hinata yang tiba dari kamarnya.

"Sukses, Sasuke kun juga sudah mulai bisa mendalami karakternya," jawab Sakura yang berhasil membuat Hinata tercengang.

"Sasuke? Mendalami perannya sebagai kakak tiri Cinderella?"

"Hahahaha, kau harus lihat penampilannya besok, dijamin bikin tertawa sampai nangis," ujar Naruto.

"Tapi Sakura sangat cocok memerankan kakak tiri kedua," kata Karin.

"Hihihi, oh iya, nanti malam ada yang ingin aku bicarakan pada kalian," ucap Hinata.

"Tentang apa?" tanya Naruto.

"Nanti malam akan kuberi tahu semuanya," jawab Hinata.

"Oke, aku ingin istirahat dulu," ujar Sakura sambil menekan tombol remote AC di rungan tersebut, "Aaahhh~ segarnyaaa, di luar panas sekali."

"Kamu istirahat di sini?" tanya Karin yang melihat Sakura menyenderkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan kedua matanya.

"Iya, aku bosan di kamar, aku ingin istirahat sebentar di sini," jawab Sakura dengan suara lemas.

"Baiklah, aku kembali ke kamar ya," ucap Hinata.

"Aku juga, ada yang harus kuselesaikan," sambung Naruto.

Hinata dan Naruto kembali ke kamarnya masing-masing, sedangkan Karin masih duduk ditempatnya sambil memandangi wajah Sakura yang kini sudah tertidur pulas. Perlahan Karin mengubah posisinya dan berjalan pelan menghampiri sosok Sakura. Dengan sangat lembut Karin menatap Sakura dan membelai beberapa helai rambut pink-nya. Sampai yakin tidak ada yang melihat, Karin mendaratkan sedikit kecupan kecil tepat di bibir Sakura. Setidaknya Karin merasa tidak ada yang melihat kejadian itu, tapi…

"Karin, aku butuh bantuan…" ucapan Naruto terputus saat dia memergoki apa yang Karin lakukan.

Karin hanya diam dengan wajah takut saat Naruto melihatnya mencium Sakura, tahu atas kepanikan Karin, Naruto segera menarik Karin menuju kamarnya dan meninggalkan Sakura yang tidak sadar sama sekali dengan apa yang baru saja terjadi.

"Apa yang kau lakukan!" tegur Naruto, "Bagaimana kalau yng melihat bukan aku tapi Sasuke?"

"Aku tahu aku nekat, tapi aku… aku ingin sekali merasakannya, aku ingin mencium Sakura walau harus mencurinya sekalipun," jawab Karin tanpa melihat ke arah Naruto.

"Karin lihat aku!" Naruto mencengkram kedua pipi Karin dan memaksanya agar menatap Naruto, "Apa kau bahagia? Dengan cara seperti itu apa kau bahagia?"

Perlahan Karin mengeluarkan air matanya kemudian menggeleng, "Tidak~ tapi aku mencintainya… Naruto~ apa yang harus kulakukan?"

Melihat Karin menangis pilu seperti ini membuat Naruto terkejut kemudian langsung memeluknya, "Tenang, aku tahu ini sangat sulit bagimu, kita lupakan bersama, aku juga akan menyerah tentang Sakura, dengan begitu kita bisa berjuang bersama untuk menghilangkan perasaan kita padanya pelan-pelan, ok?" ujar Naruto lembut sambil membelai kepala Karin yang sedang di peluknya itu.

Karin hanya memejamkan matanya saat dipeluk oleh Naruto dan mencengkram kemeja Naruto. Mereka berdua kini mencoba bersama agar bisa menghilangkan perasaan mereka pada Sakura sedikit-sedikit. Memang pasti akan sulit, apalagi mereka tinggal satu atap dan akan selalu bertemu setiap hari. Tapi ini semua tidak bisa berlanjut seperti ini, mereka harus mundur demi damainya hubunga para elite assassin.

.

.

Di suatu tempat yang sangat luas ruangannya dipenuhi oleh lukisan-lukisan aneh yang menggambarkan iblis dan persembahannya, serta hewan-hewan yang dikeringkan untuk dijadikan pajangan di kedua sisi tempat duduk yang kini di duduki oleh sosok seorang pria dewasa dengan rokok yang menempel di bibirnya, serta segelas red wine di tangan kanannya.

Salah satu orang berambut pirang yang msuk ke ruangan itu dan berlutut memberi lapor.

"Lapor Tuan, hamba dapat informasi bahwa putri tunggal Hyuuga kini telah berbalik mendukung mereka."

"Heh, sudah kuduga, dasar anak kecil tidak berguna."

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya wanita berambut hitam yang duduk di pangkuan sang pria.

"Kita buat kejutan besar untuk anakku tercinta," ucap sang pria sambil menyeringai licik.

"Maksudmu?"

"Kita akan ikut serta dalam penyerangan saat festival sekolah itu."

Sang wanita tersenyum seolah tidak sabar menantikan terjadinya hari itu,"Dengan senang hati, aku juga tidak sabar bertemu dengannya, kira-kira seperti apa ya dia sekarang."

"Jangan bercanda, kau kan sudah melihat fotonya," ledek sang pria sambil mematikan rokoknya.

"Hanya di foto, aku ingin lihat secara langsung, apakah dia mirip denganku, atau tidak," ujar sang wanita sambil menjilat bibir sang pria.

"Dengan siapapun dia mirip, itu tidak akan mengubah takdir kalau kehadiran anak itu hanyalah mengganggu rencana kita."

"Hihihi, kau jahat sekali."

"Itu kan yang kau suka dariku."

"Ehm, ma-maaf mengganggu," potong orang yang sedari tadi masih di situ, "Hamba mendapat info yang lain lagi, sepertinya mereka akan mendapat bantuan dari W.O."

Mata sang pria terbelalak ketika mendengar info terakhir itu, "BANTUAN DARI W.O?"

"Tapi W.O itu kan bekerja untuk kita, berani sekali mereka berkhianat," ujar sang wanita.

"Ah, aku tahu… pasti Itachi! Brengsek!" geram sang pria, "Informasi yang bagus, tidak sia-sia kau kumasukkan ke dalam anggota itu."

Orang itu tersenyum, namun senyuman yang sulit di artikan.

"Kerja bagus, Deidara," ucap sang wanita, "Kalau ada informasi yang penting lagi, aku harap kau lekas beri tahu kami."

"Pasti."

"Sekarang kau boleh pergi," ucap sang pria.

Deidara berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, sesudahnya dia menutup pintu, Deidara mengubah ekspresinya mejadi dingin dan menatap ke luar jendela, hari sudah menunjukkan hampir malam, warna langit samar-samar berubah menjadi sedikit merah, seolah sedang ada pertempuran darah di atas sana.

.

.

Malam harinya di mansion, ini adalah malam yang bisa dibilang sangat ramai, karena saat ini mereka sedang berlatih kembali drama untuk diperankan besok. Dan saat ini pula kita bisa melihat para pelatih mereka sedang tertawa terbahak-bahak, kecuali Orochimaru tentunya, saat ini ekspresi Orochimaru seolah sedang melihat hal yang sangat buruk dan nista, padahal yang dia lihat adalah sosok Sasuke yang memerankan peran kakak tiri Cinderella.

"Memalukan!" geram Orochimaru,"Sasuke, apa kau sudah tidak punya harga diri lagi, hah!"

"Jangan begitu Orochi-sensei! Ini demi kesuksesan festival sekolah, seharusnya sensei mendukung!" protes Sakura. Ya… hanya Sakura yang berani mengeluarkan protes seperti itu pada Orochimaru.

"Jangan mengharapkan dukungan darinya, Sakura," ucap Tsunade yang dari tadi ikut tertawa, "Lihat saja wajahnya sudah menyeramkan begini saat pertama kali Sasuke memainkan perannya."

"Bisakah kalian tidak tertawa! Aku makin malas melakukannya!" bentak Sasuke dengan wajahnya yang memerah.

"BAHAHAHAHAHAHHAHAHAA," tapi Neji dan Naruto malah sengaja mengeraskan tawa mereka. Sedangkan Sakuya hanya menahan agar tawanya tidak menggelegar, karena kalau dia juga ikut tertawa, Sakuya takut nanti Sasuke akan mengurungkan niatnya lagi untuk menjadi kakak tiri Cinderella.

Saat semua masih dalam keadaan setengah tertawa, Hinata yang tadi juga tertawa kini mengatur nafasnya, begitu dirinya sudah siap Hinata berdiri dan mulai mengucapkan sesuatu.

"Maaf aku mengganggu malam yang hangat ini," ucap Hinata tiba-tiba, "Sesuai janjiku pada kalian, aku ingin memberi tahu kalian beberapa hal yang sangat penting."

Saat Hinta berbicara, Kakashi menatapnya dari tempat duduk yang berada di pojokan. Kemudian Hinata melanjutkan, "Alasanku kenapa bisa ada di sini, kenapa aku bisa berada di depan mansion, dan siapa yang hendak menembakku saat itu… itu semua sudah direncanakan."

"APAA!" teriak Ino, Sakuya dan Naruto. Sakura pun sebenarnya kaget, namun dia lebih memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya seperti ketiga temannya itu.

"Aku… bisa mengetahui mansion ini dari pengawal pribadiku," lanjut Hinata sambil menatap ke arah Kakashi, dan itu makin membuat para elite assassin terbelalak matanya, "Dia pun… selama ini hanya bersandiwara menjadi pelatih kalian agar dapat mengetahui keberadaan… Sakura…"

Keadaan langsung sunyi dan Hinata sedikit risih dengan kesunyian ini, dia berharap akan ada yang membentaknya atau memakinya, kesunyian ini di luar prediksinya.

"Lalu siapa yang mengutusmu?" tanya Jiraiya.

Hinata menatap Kakashi dengan tatapan takut, saat Kakashi mengangguk Hinata pun ikut mengngguk kemudian menjawab, "Ayahku."

"Ayahmu?" geram Neji.

"Ayahku pun disuruh oleh orang lain, orang yang benar-benar berkuasa, aku harus menolong ayahku dengan menjadi mata-mata di sini dan menghancurkan hubungan elite assassin, kalau tidak… dia akan membunuh ayahku~" jawab Hinata panik.

"Tidak semuanya salah Nona Hinata," sambung Kakashi sambil berdiri dan berjalan menuju Hinata, dirangkul pundak mungil Hinata yang gemetar karena takut, dan itu membuat ketakutan Hinata sedikit meredup, "Dia hanya menjalankan perintah."

"Jadi kau pun dari pihak merek, eh? Kakashi Hatake?" tanya Orochimaru dengan nada dingin.

"Ya," jawab Kakashi tegas, "Dan aku tidak menuruti perintah mereka, yang kuturuti hanyalah perintah Nona Hinata."

"Lalu…" kini Sakura yang membuka mulut, "Apa maksudmu memberi tahu semua ini pada kami?"

"Nona Hinata bermaksud untuk-"

"Aku tidak bertanya padamu," potong Sakura pada Kakashi, "Aku bertanya kepada Nona-mu ini."

"Maafkan aku, aku berani bersumpah sekarang aku tidak mau lagi menjadi pengancur bagi kalian, aku suka berada di sini, aku kagum pada hubungan kalian… kalian ini… tidak sebahaya yang dia ceritakan padaku…" jawab Hinata.

"Bahaya? Kami?" Shikamaru mulai menganalisa.

"Ng, dia bilang keberadaan kelompok elite assassin itu membahayakan dirinya dan ayahku, makanya…" Hinata menghentikn ucapannya dan menunduk kebawah.

"Sudah cukup," ucap Sasuke yang sedikit membuat Sakura menoleh padanya, karena dalam nada Sasuke saat ini sangat tenang dan tidak ada emosi sama sekali, "Bagus kau mau mengakuinya, aku sangat menghargai keberanianmu."

Hinata tersenyum dan membungkuk pada Sasuke, "Terima kasih, Sasuke."

"Sekarang apa rencanamu?" tanya Sasuke.

"Mungkin saat ini pihak mereka sudah tahu kalau aku sudah berbalik mendukung kalian, jadi… maukah kalian mengizinkanku untuk tinggal di sini lebih lama? Aku… takut untuk pulang," jawab Hinata ragu.

"Boleh, silahkan saja," jawab Sasuke. Jawaban Sasuke membuat Sakura bingung, kenapa Sasuke menjadi berubah? Kenapa Sasuke bisa menerima alasan Hinata? Sasuke yang biasanya pasti akan mengamuk, apalagi tahu kalau Hinata di utus untuk mengetahui keberadaan Sakura. Tapi Sasuke yang kini berada di hadapan Sakura… malah menyambut hangat alasan Hinata.

"Kamu tidak keberatan kan? Sakura?" tanya Sasuke yang membuat Sakura tersentak dari lamunannya.

"Eh? Ah.. i-iya… tentu saja."

"Asal tidak menghancurkan hubungan orang lagi saja," sindir Karin sambil merapikan kukunya.

"Dan tidak membuat onar," lanjut Sakuya.

Hinata menghampiri Sakuya dan mengulurkn tangannya, "Maafkan aku ya, sudah membuat suasana di mansion ini hancur."

Melihat Hinata yang tersenyum tulus membuat Sakuya salah tingkah dan wajahnya sedikit memerah, "Ah… yaaa, sama-sama.. Sakuya juga banyak bicara ketus."

"Nah mulai sekarang, kamu panggil aku Hinata onee-sama, okay?"

"TIDAK!" jawab Sakuya langsung dengan ekspresi yang berubah 180 derajat menjadi judes, "Kamu tetap obake-san!"

"Kenapa Ino kamu panggil onee-sama?" protes Hinata.

"Karena Ino onee-sama itu wanita yang anggun, cantik dan berkelas! Tidak seperti kamu yang seperti obake!" jawab Sakuya ketus.

Mendengar Sakuya memujinya, Ino memegang kedua pipinya yang memerah. Walaupun Hinata dan Sakuya kini adu mulut, namun tidak ada kesan bertengkar, malah terkesan sedikit jauh lebih akrab dibanding sebelumnya. Hal ini sedikit membuat Neji merasa lega, sebenci apapun Neji pada Hinata… gadis itu tetap saudaranya.

.

.

Sakura melamun di tepi jendela sambil memandangi langit, bulan yang kini terlihat sedikit merah membuat pikiran Sakura melayang. Dia membayangkan sebuah sosok yang tidak asing baginya, sosok pria dewasa yang dulu pernah menggendongnya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Betapa dia merindukan kedua orang tuanya saat ini.

Saat Sakura masih melamun, Sasuke memeluknya dari belakang dan mencium leher Sakura, "Apa yang kau lamunkan?"

Sakura tidak menjawab ucapan Sasuke, dia malah melepas pelukan Sasuke dan berjalan ke tempat tidur, menarik selimut dan menutup matanya. Dan tentu saja hal itu membuat Sasuke bertanya-tanya.

"Apa lagi yang aku lakukan sehingga kau marah padaku?" tanya Sasuke.

"…" Sakura tidak menjawab, Sasuke menghampirinya dan duduk di samping tubuh Sakura yang kini menghadapnya, "Kau berbeda hari ini," ucap Sakura.

"Maksudmu?"

"Kau… jadi lebih lembut pada Hinata…" gumam Sakura.

Sasuke tersenyum sambil membelai rambut Sakura, "Kau cemburu?"

"Kalau kau melakukannya dengan sengaja, aku bisa membalasmu dengan Dei-"

"Jangan kau sebut nama laki-laki lain di depanku apalagi dengan niatmu yang seperti itu," ucap Sasuke dengan nada yang dingin.

"Kau sendiri menyebalkan! Aku tidak mengerti kenapa dengan mudahnya kau menerima alasan Hinata dengan lapang dada!" bentak Sakura yang beranjak dari tidurnya dan sedikit mendorong dada Sasuke.

"Sakura dengar, kalau aku mengamuk tadi, apakah kau akan lega? Apa kau ingat dulu kau pernah bilang semua orang membutuhkan kesempatan kedua, dan aku pikir dia harus mendapatkan kesempatan kedua itu. Apa prinsipmu berubah?" ucap Sasuke lembut.

"Bukan, aku hanya…"

"Kau khawatir Hinata akan menghancurkan hubungan kita lagi? Aku tidak akan membiarkan hal itu," potong Sasuke.

Sakura terdiam dan menempelkan kepalanya di dada Sasuke "Maaf… aku hanya kaget melihat reaksimu tadi yang berbeda, biasanya kau pasti akan marah apalagi tujuan Hinata untuk mencari keberadaanku."

"Kau tidak tahu? Aku sudah menebaknya bersama Shikamaru dan Neji dulu," jawab Sasuke.

"Eh?"

"Tujuan Hinata sudah bisa kami prediksi, makanya aku tidak terkejut saat dia mengakuinya," sambung Sasuke, "Yang masih dalam pikiranku, siapa orang dibalik semua ini, bahkan ayah Hinata yang terkenal sebagai salah satu orang penting di Jepang sekalipun dikendalikan olehnya."

"Apakah dia biang keladi kajadian sembilan tahun yang lalu?" tanya Sakura.

"Kalaupun benar, itu sangat bagus, karena kita tidak usah repot lagi untuk mencarinya," jawab Sasuke sambil tersenyum dan mendorong Sakura kembali tidur, "Sekarang tidurlah, besok hari yang kau tunggu-tunggu kan?"

"Ng, Sasuke…"

"Hn?"

"Maafkan aku yang tadi ya," ucap Sakura dengan suara yang parau dan mata yang terkantuk-kantuk.

Belum sempat Sasuke menjawab, Sakura sudah menutup rapat kedua matanya. Sasuke menyentuh pipi Sakura dan mencium kening wanitanya itu, "Aku akan selalu memaafkanmu," bisik Sasuke.

.

.

"YIHAAAAA, Ayooo silahkan masuuuk, siapa yang ingin melihat pertunjukkan drama Cinderella dipersilahkan masuk ke ruang theater," teriak dua orang siswa dan siswi sebagai panitia acara tersebut.

Karena permintan Sakura dan Sakuya. Ino, Neji, Shikamaru, dan Karin duduk di barisan paling depan. Sasori dan Hidan berada di barisan belakang mereka, dan di belakangnya lagi adalah para pelatih elite assassin yang khusus datang karena diminta oleh Sakura. Sedangkan Itachi dan Deidara, mereka berpencar menjaga ruangan itu, Itachi berdiri di pojok dekat pintu masuk sedangkan Deidara berdiri di atas dekat lampu-lampu.

"Walaupun aku sudah melihat akting Sasuke, entah kenapa aku masih merasa geli saat melihat dia menjadi kakak tiri Cinderella," ucap Shikamaru.

"Apalagi kali ini Sasuke akan memakai gaun," tambah Ino sambil cekikikan.

"Benar-benar kejadian yang sangat jarang," ujar Neji.

"Maka dari itu, aku akan mengabadikannya," ucap Karin sambil memegang handycam.

"Kau akan dibunuh Sasuke setelah itu," ucap Neji sambil terkekeh.

"Hahaha, tenang saja, ini adalah permintaan Sakura," jawab Karin dengan santai.

Sementara itu di belakang panggung, terlihat Sakuya yang sangat gugup. Wajahnya pucat dan telapak tangannya keringat dingin. Kalau bisa memilih, Sakuya lebih memilih untuk membunuh beberapa penjahat dari pada mersakan gugup seperti ini. Gaara yang sedang memakai baju pangerannya melihat Sakuya yang mondar-mandir dengan pakaian upik abunya yang bagian belakang resletingnya sedikit terbuka.

"Sakuya-san," panggil Gaara mendekati Sakuya.

"A-Apa? Mau apa kau panda-san?" tanya Sakuya gugup.

"Maaf," Gaara mendekat dan berbisik pada Sakuya, "Resleting belakang punggungmu sedikit terbuka."

Wajah Sakuya sukses memerah akibat bisikan Gaara yang sangat dekat ditelinganya. Saat ini Sakuya sedang memakai wig panjang berwarna pirang namun rambutnya dikedepankan oleh Sakuya sehingga punggungnya terlihat. Gaara menaikkan sedikit resleting baju itu kemudian merapikan wig Sakuya kembali ke belakang.

"Kau cantik Sakuya-san," gumam Gaara tanpa dia sadari, dan tanpa dia sadari juga kalau Sakuya mendengar gumamannya itu.

"A-a-apa ka-kau bilang?" ucap Sakuya gugup dan langsung sedikit menjauh dari Gaara.

"Ah, ma-maaf… aku tidak bermaksud menghinamu… kau… berbeda dari biasanya," ucap Gaara yang ikut grogi saat melihat Sakuya berusaha menyembunyikan wajah merahnya.

"Kepada seluruh pengunjung di mohon perhatiannya, saat ini pentas drama Cinderella akan segera di mulai. Harap semua tenang demi kelancaran bersama, terima kasih," ucap Narator dari ruang siaran.

Lampu ruangan menggelap, tirai mulai di angkat dan drama berjalan sesuai skenario. Naruto yang menjadi sang ayah dari Cinderella mengenalkan keluarga barunya. Dan terlihat akting Sakura yang sepertinya sangat menjiwai sampai-sampai Sakuya benar-benar takut berhadapan dengan Sakura yang jahat ini.

Dan saat adegan Sasuke, semua selalu tertawa menggelegar, seperti bukan menonton drama percintaan tapi drama komedi. Semua orang tahu seperti apa Sasuke itu, saat Sasuke memakai gaun berwarna biru muda, wig hitam panjang dan suara falset, benar-benar membuat Orochimaru yang saat ini menonton ingin menembak langsung kepala murid kesayangannya itu.

Drama berjalan sangat lancar sampai di tengah pesta dansa, dimana Cinderella bertemu sang pangeran dan berdansa di sana. Saat melihat Sakuya dan Gaara berdansa, Sakura merasakan aura yang berbeda diantara mereka berdua, seolah mereka benar-benar saling jatuh cinta di dunia nyata, bukan di dunia drama.

Kini dalam drama, jam menunjukkan arah 12, saatnya Cinderella pergi sebelum sihirnya menghilang.

"Ma-Maafkan aku pangeran, aku harus pergi," ucap Cinderella.

"Tunggu, apakah kita akan bertemu lagi? Dimana istanamu?" tanya sang pangeran.

Cinderella tidak menjawab, dia berlari sampai…

"Laksanakan," ucap seseorang.

Klik.

Seluruh lampu panggung mati, membuat suara gemuruh tercipta diruangan itu. Dengan cekatan Sasuke menggenggam pinggang Sakura yang dari tadi berada di sampingnya, dan Gaara menempelkan punggungnya pada Sakuya.

"Ada apa ini?" teriak Naruto pada salah satu panitia.

"Tidak tahu, coba cek ditempat lain, apakah mati lampu juga?" jawab salah satu panitia.

"Tidak bisa dibuka! Seluruh pintu tidak ada yang bisa dibuka!"

"Ada apa ini?"

"Apa yang terjadi?"

"Sasuke kun…" panggil Sakura pelan.

"Ssstt, tenang… Itachi-nii sudah memprediksikan hal ini," ucap Sasuke yang sedang sibuk sendiri.

"Kau sedang apa?" tanya Sakura.

"Mengganti pakaian."

DOR!

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Suara tembakan sukses membuat seluruh di dalam ruangan theater menjerit keras dan berlarian kesana-kesini.

"Suara tembakan? Siapa yang tertembak?" tanya Sakura, "Sakuyaa! Sakuya kamu dimanaaaa?"

"Mama-chaan! Sakuya di sini! Sakuya bersama panda-san!"

"Gaara, tolong jaga Sakuya!" pinta Sakura.

"Pasti," jawab Gaara.

Beberapa orang yang ada di dalam theater ini menyalakan hp-nya masing-masing agar mendapatkan cahaya untuk bisa saling melihat di sekelilingnya, begitu pula dengan para elite assassin serta para pelatihnya.

"Siapa yang tertembak tadi? Dan siapa yang menembak?" tanya Karin memeriksa sekelilingnya.

DOR! DOR! DOR!

"KYAAAAAAA!"

Seluruh ruangan makin panik mendengar ada beberapa tembakan yang diluncurkan lagi. Sekilas Shikamaru melihat ada sinar laser merah menuju kepala Sasuke, "SASUKE MENUNDUK!" teriak Shikamaru.

Karena sedang sibuk melepas semua gaunnya, Sasuke tidak sempat menunduk, dan Gaara lah yang mendorong Sasuke.

Syiuuuuu!

Satu peluru meleset, Shikamaru langsung mencari dari mana sumber sniper itu, tapi tidak ketemu karena terlalu gelap. Banyak suara tangisan yang menjerit nama-nama korban yang tadi tertembak. Shikamaru terus menyuruh Ino menunduk di bawah kursi bersama Karin. Kemudian Naruto yang satu-satunya mempunyai penglihatan yang bagus dikegelapan melihat ada beberapa sinar laser yang diarahkan kesegala orang.

"SEMUA MENUNDUUUUUK!" teriak Naruto yang berlari menuju Karin yang tepat di depannya kemudian memeluk Karin agar menunduk, begitu semua menuruti kata-kata Naruto, beberapa tembakan dengan menggunakan machine gun terjadi di ruangan itu.

DRRRTTTT! DRRRTT! DRRRTT! DRRRT! DRRRT!

Semua memegangi kepalanya masing-masing di bawah kursi, sedangkan Sakura, Sakuya, Sasuke dan Gaara berada di belakang sound system.

"A-Apa yang terjadi?" tanya Sakuya bingung.

Klik.

Tiba-tiba lampu menyala dan sekeliling ruangan itu telah banyak jatuh korban yang tertembak tadi. Reflek Sakura langsung menutup mata Sakuya.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!" jerit seluruh murid yang ada di dalam ruangan itu.

BRUUK!

3 mayat yang Itachi lempar ke tengah-tengah membuat seluruh orang menatapnya, mayat-mayat itu sedang memegang senapan dan beberapa pistol. Rupanya Itachi berhasil menemukan salah satu persembunyian musuh.

"Mereka ada di beberapa titik tempat tidak terlihat, dan juga… ada beberapa yang menyamar menjadi penonton di sini," ucap Itachi.

"Itu artinya…" tebak Neji ragu.

"Bersiaplah untuk pertempuran kalian yang sebenarnya," sambung Tsunade, Jiraiya dan Orochimaru yang berdiri sambil membuka baju mereka menjadi pakaian bertarung mereka.

"Mama-chan, tetap di sini, Sakuya dan panda-san akan memeriksa bagian belakang," ujar Sakuya yang merobek gaun bagian bawah sehingga kini gaun yang dia pakai menjadi pendek di atas lutut.

"Hati-hati," ucap Sakura.

Saat Sakuya dan Gaara pergi, Sasuke melihat salah satu penonton memakai jas hitam mengambil sesuatu dari dalam jasnya, ketika Sasuke melihat pistol-lah yang orang itu ambil dan kebetulan posisi orang itu ada di belakang Itachi, Sasuke langsung berteriak.

"ITACHI-NII! DI BELAKANG!"

Belum sempat Itachi menoleh, Neji sudah mengambil tindakan dengan menendang orang itu, namun orang yang kini menyeringai itu dengan cekatan menangkap tendangan Neji dan melempar kaki Neji ke sembarang arah, sehingga Neji menubruk beberapa kursi di sana. Tidak tinggal diam, Jiraiya kini mengambil aksi, dengan cekatan Jiraiya melompat dan mengunci leher orang tersebut kemudian langsung mematahkannya.

Melihat ada satu sniper yang dipergoki oleh Tsunade, tanpa ragu-ragu wanita kuat itu mengangkat salah satu kursi yang berantakan kemudian melemparkannya tepat kepada sniper. Dan lemparan itu sukses mengenai sang sniper sehingga langsung jatuh pingsan. Aksi Tsunade cukup membuat orang-orang di dalam tercengang.

Kali ini yang datang bukan hanya satu atau dua orang, tapi bergerombolan orang datang dengan memakai jas hitam yang sama tanpa senjata. Itu artinya para elite assassin harus bertarung dengan tangan kosong. Sesuai dengan apa yang sudah dipelajari oleh mereka baru-baru ini.

Naruto menghajar beberapa orang yang datang dari atas, Karin sebisa mungkin melindungi beberapa anak kecil dan pengunjung dari bahaya dan lemparan-lemparan yang terjadi di ruangan itu dibantu oleh Ino. Shikamaru, Sasori dan Hidan juga menghajar beberapa orang yang akan menyerang Sakura dan Sasuke.

"Sasuke, bawa Sakura pergi dari sini," ucap Shikamaru yang berhasil menghampiri mereka.

"Tidak, kami akan ikut bertarung bersama kalian," tolak Sakura dan disambut senyuman oleh Sasuke yang artinya Sasuke menyetujui keputusan Sakura.

Shikamaru hanya menghela nafasnya, kemudian bersama dengan Sasuke dan Sakura, dia turun dari atas panggung menuju arena pertempuran. Karin dan Ino membawa anak-anak dan ibu-ibu serta pengunjung yang lain ke pojokan, "Kalian sebisa mungkin pergi dari ruangan ini, lewat belakang pasti aman, cepat!"

Mereka mengangguk setelah Karin memberi perintah, saat Karin akan menyusul yang lain bersama Ino, gerakannya terhenti karena ada anak panah yang melewati tepat di depan wajahnya. Satu senti saja Karin melangkah tadi, mungkin kepalanya lah yang sudah tertancap.

"Wah, instingmu lumayan bagus juga ya," ucap seorang wanita kira-kira seumuran dengan mereka.

Mendengar suara wanita yang tidak asing bagi elite assassin kecuali Sakura, semua menoleh pada wanita yang terlihat di cepol dua itu, "Hai, lama tidak bertemu, Karin."

"T-Tenten?"

Bukan hanya Karin yang terkejut tapi Sasuke, Neji, Naruto, dan Shikamaru pun terkejut. Tenten mantan kekasih Neji yang katanya pindah sekolah ke luar kota itu kenapa bisa ada di sini? Mengenakan jas hitam yang sama seperti orang-orang yang baru saja mereka kalahkan. Ditambah lagi… Tenten menyerang Karin? Padahal mereka dulu cukup akrab saat SMP.

"Tenten…" panggil Neji bingung.

"Hai Neji, kau makin tampan, apa kau masih menjadi lady killer?" tanya Tenten dengan nada riang.

"Apa maksudnya ini?" tanya Naruto.

"Masih tetap sama ya, Naruto yang keingin tahuannya sangat besar," ujar Tenten.

"Apa maksud semua ini? Kenapa kau menyerang Karin?" kali ini Shikamaru yang mengeluarkan suaranya.

"Hmm, hihihi… aku tidak mau menjawab," jawab Tenten sambil terkekeh.

"Kenapa?" bentak Neji.

"Karena akulah yang akan menjawabnya," ucap seorang pria yang datang bersama wanita berambut hitam.

Dengan serempak, seluruh ruangan theater di penuhi oleh orang-orang yang bersenjata. Dan lagi ada satu sosok yang membut mata Neji terbelalak hebat. Sosok pria dewasa berambut panjang, memiliki warna mata sama dengannya dan juga Hinata, sosok itu tengah membawa tubuh Sakuya yang sudah tidak sadarkan diri di pundaknya dan tubuh Gaara yang juga setengah tidak sadar dengan posisi di seret. Sosok itu datang dari kerumunan orang-orang bersenjata. Saat melihat Neji, pria itu melempar tubuh Sakuya dan langsung di tangkap oleh Neji dengan tepat, sedangkan Gaara di tendang sampai mendarat di kaki Sasori.

"Apa maumu… paman?" tanya Neji dengan wajah yang sinis.

"Aku hanya menjalankan tugas, keberadaan kalian sangat membahayakan untuk masa depan kami."

"Hinata… jangan-jangan kita di khianati lagi?" tanya Ino pada Shikamaru.

"Ah, anak itu… anak yang sudah tidak berguna lagi, dia tidak ada di sini?"

"Kau ayahnya! Kenapa kau bersikap begitu pada anakmu sendiri!" bentak Neji.

DUK! DUK! DUK! DUK!

Suara pintu utama yang terkunci itu di pukul oleh seseorang di luar sana.

"Sakuraa! Sasuke! Ino! Kariin! Narutoo! Kalian di dalam? Kenapa tidak bisa di buka?"

Elite assassin dan para pelatih yang tadi sedang membatu karena melihat dua sosok yang mengagetkan itu kini tersadar ketika mendengar teriakan dari luar.

"Hinata? kenapa Hinata ada di sini?" tanya Ino pada Karin.

"Siapa kalian sebenarnya!" tanya Sasuke menggeram.

"Uuuhhh, galak sekali, apa begitu caramu menyambut calon mertuamu, hah?" ucap sang pria sambil menyalakan rokoknya.

Memperhatikan pria itu dengan seksama, mata Sakura terbelalak lebar. Sosok pria itu sangat mirip dengan sosok pria yang selama ini ada di dalam pikirannya. Bahkan para pelatih elite assassin terdiam melihatnya, benar-benar keadaan yang rumit. Sedangkan W.O, hanya Deidara yang dari tadi bersikap tenang.

"Apa kabar… Sakura?" ucap sang pria dewasa itu.

Saat orang itu menyebut nama Sakura, para pelatih elite assassin menoleh pada Sakura yang kini membatu dan menyebut, "P-Pa… Paman Asuma…"

Orang yang bernama Asuma itu hanya tersenyum, namun bukan senyum lembut yang ditunjukkannya, melainkan senyum puas dan sinis,"Atau bisa kau bilang… ayah?" ucapnya sambil menghembuskan asap rokok.

Kata 'ayah' yang diucapkannya itu sukses membuat elite assassine terbelalak, bahkan Hinata dan Kakashi yang berada di luar mendengar pembicaraan ini ikut terkejut.

"Ayah?" tanya Hinata pada Kakashi, "Kakashi, bisakah kau dobrak pintu ini?"

"Aku coba," jawab Kakashi.

Berkali-kali Kakashi mencoba mendobrak pintunya tapi tidak juga berhasil, sementara itu semua yang berada di dalam masih dibuat bingung oleh kehadiran pria yang mengaku bahwa dia adalah ayah Sakura.

"Apa maksudmu… Asuma," tanya Jiraiya yang mengepalkan tangannya.

"Jujur, aku kaget melihatmu bersama para kurcaci ini, dunia begitu sempit, tidak kukira bahwa kau adalah salah satu yang melatih mereka, pantas saja mereka menjadi hebat," ucap Asuma.

"Dan lagi, aku tidak menyangka kau masih mau ikut dalam kelompok dimana wanitamu direbut oleh sahabatmu sendiri," ejek wanita di samping Asuma.

"Diam kau, dasar wanita jalang!" geram Shikamaru. Diantara semua Shikamaru lah yang paling marah kalau pelatih mereka di hina orang lain.

"Ckckck, Shikamaru… apa begitu caramu berbicara dengan ibu kandungmu?" ujar Tenten sambil melingkarkan lengannya di lengan wanita itu.

Ucapan Tenten membuat Shikamaru tertawa geli, "HAHAHAHA, kau tidak bisa menjebakku dengan permainan takdir seperti ini, ibuku sudah lama meninggal."

"Lalu bagaimana caranya kau memasuki keluarga nista itu? Sampai-sampai kau diperkosa oleh ayah tirimu sendiri, hm?" ujar sang wanita berambut hitam itu.

"Kurenai, kau terlalu vulgar memberikan informasinya," tegur Asuma.

"Ah, maaf… habis aku gemas dengan mereka."

Ucapan Kurenai sukses membuat Shikamaru membatu, melihat ekspresi Shikamaru yang terkejut itu membuat Ino marah.

"Dengar ya! Siapapun dirimu untuk Shikamaru, bagi dia ibunya telah mati, dan bagi Shikamaru… lebih baik dia menganggap tidak pernah mempunyai sosok seorang ibu dibandingkan mengetahui sosok ibunya adalah wanita iblis sepertimu!" bentak Ino.

"Sudah selesai perkenalannya?" utar Hiashi,"Ingat, kita tidak bisa lama-lama berada di sini."

Hiashi mengambil langkah pergi dari hadapan Neji, "TUNGGU!" cegah Neji, "Untuk apa kalian kesini! Membunuh orang-orang tidak bersalah, membuat kerusuhan tidak jelas!"

"Kerusuhan tidak jelas? Tujuan kami jelas kok," jawab Tenten dengan wajah yang polos.

"Kami hanya ingin memperkenalkan diri kami masing-masing dan menyatakan perang langsung pada kalian," sambung Kurenai.

"Ah, satu lagi hadiah untuk kalian," ujar Asuma sambil melepas rokok dari mulutnya, "Ada bom waktu di sekitar ruangan ini, mungkin kira-kira waktunya kurang lebih tinggal beberapa menit lagi, selamat mencari."

"TUNGGU! Paman Asuma! Apa benar… kau ayahku? Ayahku… bukankah sudah meninggal sembilan tahun yang lalu?" teriak Sakura dengan wajah yang frustasi.

Asuma menoleh ke arah Sakura dan tersenyum sinis, "Apa untungnya aku menjawab pertanyaanmu?"

Kemudian Tenten, Asuma, Kurenai dan Hiashi pergi dari ruangan itu bersama orang-orang yang bersenjata itu. Semua tidak berani ada yang bergerak karena orang-orang yang bersenjata itu sangat banyak. Sampai semua sudah menghilang Neji langsung mencari dimana bom waktu yang dimaksud itu.

"Naruto, cari di pojokan! Sasuke cari di atas, Sakura kau cari di sekitar panggung, Karin Bantu Naruto," ujar Neji yang meletakkan tubuh Sakuya pelan-pelan.

Saat yang bersamaan pintu baru berhasil di dobrak oleh Kakashi berkat bantuan papan pengumumuman yang digunakan untuk merusak tengah-tengah pintu itu.

"Ada apa ini? Sakuyaaaaaa," Hinata berlari ke arah Sakuya.

"Bukan waktunya khawatir dengan Sakuya, Hinata dan Kakashi kalian cari juga dimana bom waktu itu, aku harus segera menjinakannya kalau tidak satu ruangan ini bisa hancur!" bentak Neji.

"I-Iya," jawab Hinata.

Shikamaru dan Sakura mengenyampingkan dulu rasa depresi mereka, begitu pula dengan para pelatih mereka yang kini berwajah rumit, antara bingung, marah dan sedih. Bagaimana bisa, Asuma dan Kurenai salah satu sahabat mereka, satu perguruan mereka menjadi musuh mereka. Bahkan ayah dari salah satu murid kesayangan mereka.

Hinata berjalan menuju arah panggung, di situ ada Hidan yang sedang berada di bawah panggung memeriksa bom yang dimaksud Asuma. Sasori menemani Gaara yang baru sadar penuh, begitu sadar Gaara langsung mencari sosok Sakuya yang tergeletak 5 meter dari dirinya. Langsung saja Gaara memeriksa keadaan Sakuya, baru kali ini Sasori melihat Gaara yang khawatir terhadap wanita.

"Di bawah panggung tidak ada," lapor Hidan.

"Di sini juga tidak ada," sambung Sakura yang berada di atas panggung.

"Di sini juga," kata Naruto yang berada di atas bersama Karin.

"Hati-hati, di beberapa tempat ini sudah di pasang jebakan oleh mereka," ucap Kakashi memperingatkan.

"Bagaimana bisa? Kapan mereka memasang jebakan?" tanya Ino.

"Mereka itu pintar, memasang jebakan saat kita bertarung tadi," jawab Shikamaru dengan wajah yang lesu. Melihat wajah Shikamaru, Ino merasa pilu karena pada kenyataannya, wanita yang mengaku sebagai sosok ibu Shikamaru itu… membuat Shikamaru terpuruk.

Karin berjalan menuju tangga bawah, dan ketika Karin menginjak anak tangga ke lima, terdengar bunyi gesekan besi yang nyaring. Kemudian muncul beberapa jarum tajam yang menyebar kesembarang arah.

CRUUUUT! CRUUUUUUT! CRUUUUUUT! CRUUUUUT!

"Aaaarrgghhh!"

"Hyaaaaaaaa!"

Jarum-jarum kecil itu hanya menghujani orang-orang yang berada di bawah, sehingga semua terkena jarum dan menancap di tubuh mereka, "Ma-Maafkan akuu! Semuanya maafkan kecerobohanku!" teriak Karin yang panik melihat semua tertancap jarum-jarum kecil.

"Salah satu jebakan ya," gumam Gaara sambil melindungi tubuh Sakuya yang masih pingsan.

Hinata yang sibuk ikut mencari dimana bom itu mulai merasa frustasi, apalagi kini makin banyak murid-murid yang berdatangan untuk melihat apa yang terjadi karena ada berbagai keributan di ruangan theater. Ada yang berteriak setelah melihat tumpukkan mayat di dalam ruangan itu, ada yang langsung pingsan. Namun semua tidak peduli pada reaksi murid-murid, karena saat ini pikiran mereka terfokus pada bom waktu yang dipasang oleh Asuma itu.

"Hhhh, di pasang dimana sih bom itu!" gerutu Hinata sambil duduk di lantai dekat sudut panggung. Saat telapak tangan Hinata menempel di lantai, dia merasa seperti telah menekan sesuatu di lantai itu. Perlahan dia menoleh kebawah dan memucat, "B-Bom waktu?"

"Hah?" Neji mendengar ucapan Hinata dan langsung datang menghampiri sepupunya itu, "Jangan angkat tanganmu."

Neji menganalisa apa yang barusan Hinata sentuh. Bentuknya bulat seperti ranjau, tidak ada kotak penghitung waktu, Neji tersenyum frustasi, "Ini bukan bom waktu… ini Bom otomatis," gumam Neji pelan.

Mendengar gumaman Neji membuat Hinata makin pucat, bom otomatis? Yang artinya kalau Hinata melepaskan tekanan telapak tangannya, maka usailah sudah semua hidup mereka.

"Dengar, jangan berkomentar apa-apa," bisik Neji pada Hinata, "Sasuke, Shikamaru, Naruto!"

Para laki-laki itu berkumpul mendekati Neji kemudian Neji dengan sangat cepat menggantikan telapak tangan Hinata memakai tangannya.

"A-Apa yang kau lakukan!" bentak Hinata.

"Aku bilang jangan berkomentar apa-apa!" geram Neji, "Sasuke, bawa Sakura keluar sekarang, Shikamaru jaga Ino, Naruto aku titip Karin dan Sakuya padamu."

"Apa-apaan kau Neji?" tanya Naruto.

"Tolong panggilkan para guru, tapi jangan sampai Sakura, Karin dan Ino datang mendekat, aku mohon…" pinta Neji.

Melihat tangan Neji yang tidak bergerak dari lantai, Shikamaru dan Sasuke sudah menebak apa yang telah terjadi. Naruto memanggil para pelatih mereka, saat mereka sudah berkumpul Neji tersenyum lembut pada orang-orang dewasa itu, "Terima kasih karena sudah mengajariku banyak hal."

"Neji…" Tsunade melihat gerak-gerik Neji yang aneh, "Jangan lakukan ini."

"KETEMU!" jerit Ino yang sedang menatap sebuah lukisan di dinding, "Ini bom waktunya! Waktunya tinggal 1 menit lagi!"

"APA!"

"CEPAT BAWA MEREKA KELUAR!" bentak Neji.

Sasuke memeluk Neji dengan erat, tanpa mengatakan apa-apa Neji menerima pelukan Sasuke. Setelah itu Sasuke berlari dan menyeret Sakura keluar, "Sa-Sasuke kun? Ada apa? Kenapa buru-buru? Bagaimana dengan yang lain?" Sasuke tidak menjawab semua pertanyaan Sakura. Terlihat ekspresi pilu yang terlukis di wajah Sasuke.

"Neji… aku akan menunggumu pulang," ucap Shikamaru.

"Heh, aku yang seharusnya menunggumu di sana nanti," jawab Neji mengedipkan matanya. Shikamaru menjulurkan kepalan tangannya dan di sambut oleh kepalan Neji. Saat Shikamaru berjalan sambil menggandeng tangan Ino, "Shikamaru, kenapa meninggalkan yang lainnya?" Shikamaru tidak menjawab.

"Tsunade-sensei, kau yang mengajariku banyak hal tentang wanita, Orochimaru-sensei, walaupun kau sangat dingin, tapi aku belajar dari caramu memperlakukan wanita dengn lembut. Jiraiya-sensei… kau yang terbaik," ucap Neji tersenyum dengan jantan.

"Kami akan membalaskan dendammu," ucap Tsunade menahan air matanya agar tidak keluar.

"Sasori! Itachi! Hidan! Deidara! Bawa tubuh Sakuya dari ruangan ini, Bantu Gaara berdiri dan cepat bergegas pergi!" ujar Neji.

Itachi mengangguk dengan penuh rasa hormat menatap Neji, saat Hidan akan menggendong Sakuya, kesadaran anak itu terbangun, dan dia melihat sosok Hinata dan Neji yang sedang saling tatap, "Neji-nii? obake-san?" gumam Sakuya.

"Naruto, jaga Karin… dia sangat rapuh dan-"

"Aku tahu!" potong Naruto sambil menangis memeluk Neji, "Aku tahu jangan kau teruskan lagi, aku akan membalas semua ini, aku janji!"

Neji tersenyum dan menepuk pundak Naruto memakai satu tangannya, "Aku akan mengawasi kalian."

Naruto melepaskan pelukannya dan membawa Karin lari dai ruangan tersebut, sebelumnya Karin kurang sadar apa yang sedang terjadi, namun saat Karin menatap Neji, dan Neji tersenyum lembut pada Karin akhirnya Karin menyadari ada suatu hal yang aneh pada Neji.

"Naruto, apa maksudnya kita semua keluar tapi Neji tidak bersama Hinata?" tanya Karin, "Dan kenapa kau menangis?"

"Waktumu tinggal 10 detik Nona, pergilah," ucap Neji.

Hinata menggeleng kepalanya dengan keras, air matanya terus mengalir. Ini pertama kalinya Hinata menangis di depan orang dengan hati yang merasa bersalah, Hinata berlutut dan meminta maaf pada Neji.

"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Neji.

"Aku minta maaf padamu~ huhuhuhuuu~ kenapa kau menyelamatkanku~ biarkan aku saja yang menekan bom ini~"

Neji terdiam dan mengangkat wajah Hinata yang menunduk itu, kemudian sambil tersenyum Neji berkata, "Tidak ada salahnya kan membuat salah satu keluarga Hyuuga berhutang budi padaku."

Hinata makin menangis, Neji memberi kode pada Kakashi agar membawa Hinata pergi dari sini. Kakashi menggendong Hinata yang terus memberontak, "Ne… Neji-Nii! jangan tinggalkan akuuu!" jerit Hinata yang akhirny mengakui status Neji sebagai kakak sepupunya.

5

Seluruh elite assassin sudah berada jauh dari ruangan theater tersebut, Sasuke dan Shikamaru memerintahkan semua orang agar menjauh dari ruangan yang terletak dekat auditorium itu. Sedangkan Karin menatap horror suasana ruangan yang hening itu. Di jinakkan atau tidak bom waktu itu, nasib Neji sudah tidak bisa diubah.

4

Sakuya yang sudah pulih akan kesadarannya mulai panik karena yang keluar hanyalah Kakashi yang sedang menggendong tubuh Hinata yang tengah menangis sambil menjerit nama Neji. Tanpa pikir panjang, Sakuya berusaha berlari menghampiri gedung auditorium itu, tapi Gaara memeluknya dari belakang sehingga Sakuya tidak dapat bergerak.

"Tidak lepskan Sakuya! Neji-Nii! Neji Nii-saaaaaaan!

3

Sakura mulai menangis berpelukan dengan Ino, bahkan Tsunade pun mengeluarkan air matanya yang kini sedang dipeluk oleh Orochimaru dan Jiraiya.

2

Neji yang merasa puas mengorbankan diri demi teman-temannya hanya tersenyum tenang saat ini. Sambil melihat ke atas, Neji mengingat kembali masa lalu mereka saat-saat di mansion. Saat dimana mereka tertawa bahagia dan saling canda tawa. Mengingat semua itu membuat Neji mengeluarkan air mata namun masih tersenyum, untuk terakhir kalinya Neji berucap,"Aku sayang kalian."

1

Dengan sangat tiba-tiba Karin berlari meninggalkan teman-temannya dan menghampiri gedung tersebut, tanpa tahu bahwa sedikit lagi bom di dalam itu akan meledak. Dengan cepat Karin berlari di susul oleh Naruto.

0

DUAAAAAAAAAAAAARRRRRRRR! DUUUAAAAAARRRRRRR! DUUUUAAAAARRRRRRR!

Terdengar tiga ledakan bom yang tercipta, tepat saat bom meledak, Naruto menerkam Karin sehingga mereka berdua jatuh ke tanah, "Aaaarrgghhh!" mendengar Naruto menggeram membuat Karin khawatir, saat memeriksa keadaan Naruto…

"NARUTOOOOOOOO!"


A/N : masih belum bisa sesi tanya jawab nih, aku sedikit buru-buru harus ke kantor imigrasi lagi T_T

untuk chapter ini mohon maaf kalau ada kekurangan yah, aku udah berusaha manjangin loh, hehehee, untuk typo jangan di tanya ah... =_= maaf kalau merusak mata

oke, chapter depan aku usahain cepet tapi ngga kilat yah, jadi jangan minta untuk update kilat, hahahahahaaa XD

V3Yagami