Sudah lama sekali ya saya ngga pernah bikin author note sendiri, dan sudah lama juga ngga ngetik fict ini, hehehehe
Aku dengar FFN sedang berkabung? Turut berduka cita untuk Arnanda Indah (maaf kalau salah nyebut) semoga amal dan ibadah diterima di sisinya, juga seluruh keluarga diberi ketabahan, Amin :)
Oh iya, saya hanya mau ngasih tahu kalau sekarang saya akan jarang berada di Indonesia, jadi komunikasi dengan fitri hanya via YM, dan mungkin saya akan jarang juga berkunjung ke FFN ini, saya mau menceritakan sedikit keadaan saya, karena saya sudah menganggap kalian yang sering review adalah keluarga dunia maya saya :D
Keadaan ayah saya sedang kritis, ayah saya tidak bisa lagi berjalan karena alat pemicu jantung yang sedikit besar, jadi ayah saya harus terus berbaring. Keluarga saya memang ada keturunan penyakit jantung.
Dan saya sendiri (maaf fit, aku ngga ngasih tahu kamu sebelum aku berangkat) saya memutuskan untuk pindah ke australi karena disana keluarga saya punya kenalan dokter spesialis jantung yang lumayan bagus. Kondisi jantung saya sendiri sudah jelek, kemarin saya sempat pingsan karena penyumbatan darah (yang udah buat isti, suu dan fitri khawatir, maaf ya)
Jadi, kalau seterusnya fict ini bukan saya lagi yang buat, saya harap kalian masih mau terus mengikuti fict ini :)
Salam hangat.
C.R.A
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
"NARUTOOOOOOOO!" Karin menjerit ketika melihat Naruto dengan kedua matanya yang tertusuk serpihan-serpihan kayu dari ledakan barusan.
"Aaarrrgghhhhhh!" Naruto menggeram kesakitan sambil meringkuk di tanah.
"Naruto bertahanlah, Sakuraaaa! Sasukee! Naruto-"
"Biar kulihat," potong Sasuke pada ucapan Karin.
Sasuke sedikit membalikkan tubuh Naruto dan melihat kondisi sahabatnya yang sudah parah itu. Beberapa potongan kayu yang menancap di kedua mata Naruto membuat pemuda itu terus menggeram. Keramaian yang terjadi membuat elite assassin sadar bahwa mereka masih berada di lingkungan sekolah. Terlihat ada anak yang sedang menelepon dan memanggil ambulans untuk orang-orang yang terkena ledakan maupun yang terluka di dalam rungan tadi.
Sakuya masih terpaku sambil menatapi gedung yang sebagian sudah hancur itu, dengan tubuhnya yang masih di dekap oleh Gaara. Mata Sakuya memandang pilu ke arah gedung auditorium yang di jadikan tempat theater itu. Ino membantu Shikamaru dan Jiraiya yang seluruh tubuhnya tertusuk jarum-jarum jebakan tadi. Karena melindungi Ino, maka Shikamaru lah yang lumayan banyak terkena tusukan jarum-jarum itu.
Begitu pula dengan Kakashi yang melindungi Hinata, dan dengan keadaan Itachi, Hidan, Sasori dan Deidara. Saat Deidara akan berjalan ke arah Ino, Sasori mencegahnya dengan menarik lengan laki-laki itu, "Aku harap kau bisa menjelaskan semuanya," ujar Sasori.
"Apa maksudmu?" tanya Deidara.
"Tidak perlu bersandiwara lagi, sudah ada satu orang yang menjadi korban, sudah saatnya kau mengatakan hal yang sebenarnya pada kami," ujar Sasori.
Belum sempat Deidara membalas ucapan Sasori, beberapa ambulans telah tiba dan mengangkut para korban. Karin, Sakura dan Sasuke menemani Naruto ke dalam mobil ambulans, sementara yang lain memberi kesaksian pada polisi yang datang. Beruntung ada Tsunade yang pintar mengarang cerita dan menyamar jadi ibu angkat mereka semua.
.
.
Di rumah sakit, Karin, Sakura dan Sasuke menunggu Naruto di luar ruang pemeriksaan. Karin terus berdoa agar Naruto baik-baik saja, dia merasa sangat bersalah karena gara-gara melindungi dirinya, Naruto menjadi seperti ini. Sakura yang kini memakai jas Sasuke hanya bisa saling tatap dengan laki-laki itu.
Tidak lama kemudian, dokter yang memeriksa Naruto keluar dan langsung dihampiri oleh Karin.
"Bagaimana keadaan Naruto, dokter?" tanya Karin.
"Lukanya sangat parah, serpihan potongan kayu itu tepat merusak kornea matanya sehingga menyebabkan buta," jelas sang dokter.
Wajah Karin dan Sakura memucat, buta? Bagaimana bisa begini? Apa yang Naruto bisa tanpa kedua matanya itu? Bagaimana cara Naruto nanti melakukan hacking dan sebagainya kalau dia tidak mempunyai mata untuk melihat?
"Apa tidak bisa transfuse mata?" tanya Sasuke.
"Saat ini pihak rumah sakit tidak ada stok transfuse mata, maafkan kami, kalau kalian mau kalian bisa tunggu sampai-"
"Tidak bisa menunggu, operasi sekarang!" potong Karin, "Pakai sebelah mataku, bisa kan? transfusikan sebelah kanan mataku untuk Naruto."
"Karin?" Sakura mencoba menenangkan Karin yang saat ini mencengkram jubah sang dokter.
"Kalian pasti bisa kan? aku siap kehilangan satu mataku, asal Naruto bisa melihat kembali, walaupun hanya satu, akan kuberikan satu mataku, kalau perlu dua-duanya kuberikan!"
"Karin tenanglah," ujar Sasuke yang menepuk kepala wanita itu, "Apa bisa kalian lakukan permintaan wanita ini?" tanya Sasuke pada sang dokter, mendengar Sasuke memberi izin Karin menyumbang matanya untuk Naruto, Sakura terbelalak.
"Kami bisa lakukan itu," jawab sang dokter.
"Lakukan segera," perintah Sasuke.
Sang dokter mengangguk dan berjalan menghubungi beberapa petugas operasi. Sakura menatap Sasuke dan Karin dengan wajah heran.
"Apa kalian yakin? Aku pikir Naruto tidak akan terima akan hal ini," ucap Sakura.
"Terima atau tidak, dia harus menerimanya, mata adalah hal yang berharga untuknya," ujar Karin sambil menahan tangisnya.
"Karin… kamu…" ujar Sakura ragu, saat Sakura akan melanjutkan kalimatnya, Sasuke menepuk pundak kekasihnya itu dan menggelengkan kepalanya. Sakura mengerti apa maksud Sasuke, akhirnya mereka membiarkan Karin yang berjalan sendiri ke arah pintu dimana Naruto terbaring, Karin mengawasi Naruto dari balik pintu yang ada kacanya. Naruto sudah di bius oleh dokter.
"Sasuke, Sakura… kalian pulang duluan saja ke mansion, kalau operasinya sudah akan dimulai aku akan menghubungi kalian," kata Karin tersenyum lembut.
Menyadari tubuh Sasuke yang terluka, Sakura menyetujui usul Karin itu, "setelah kami memberi tahu yang lain apa yang terjadi, kita semua akan kembali ke sini," kata Sakura.
"Ng, terima kasih," ucap Karin.
Saat Sakura dan Sasuke pergi, Karin menyenderkan keningnya di tembok. Sekilas teringat kembali detik-detik sebelum terjadinya ledakan itu. Dan Karin mengingat kembali masa-masa dia dimana selalu bertengkar dengan Neji. Saat Neji mengejeknya juga adu mulut dengannya. Begitu akrab mereka sampai Neji selalu bercerita tentang Tenten dan bagaimana saat Neji naksir Ino dulu. Semua ekspresi Neji terlintas di pikiran Karin yang saat ini sedang cemas oleh keadaan Naruto.
Tidak tahan dengan rasa sedih yang begitu dalam, Karin menurunkan tubuhnya, dia menutup wajahnya sambil berjongkok membelakangi tembok rumah sakit. Menahan agar tangisnya tidak meledak dan terdengar kencang.
.
.
Di mansion, ketika Sasuke dan Sakura sudah tiba, terlihat semua sudah berkumpul dengan keadaan yang sudah dipenuhi oleh balutan perban. Sakura mengambil peralatan obat dan membuka kemeja Sasuke yang duduk di tengah-tengah elite assassin serta W.O.
"Bagaimana keadaan Naruto?" tanya Shikamaru.
"…" Sakura tidak berani menjawab, bukannya tidak berani hanya saja dia bingung bagaimana menjelaskan kondisinya pada mereka. Yang Sakura lakukan hanya mengobati luka di tubuh Sasuke.
"Dia buta, akibat serpihan potongan kayu yang menancap di matanya," jawab Sasuke.
"Buta? Apa ada transfuse mata?" tanya Shikamaru yang panik.
"Tidak ada, Karin… akan menyumbangkan satu matanya untuk Naruto," jawab Sasuke.
"Karin? Untuk Naruto?" tanya Tsunade bingung.
"Ya, ini sudah keputusannya, aku hanya bisa menghargainya," ujar Sasuke.
"Aku setuju, karena kalau tidak begitu bagaimana bisa Naruto melakukan kegiatan favoritenya," ucap Ino.
"Tapi masih ada Gaara, kita bisa pakai Gaara kalau yang kalian maksud dengan kegiatan favoritenya itu adalah hacking," sambung Itachi.
"Sudahlah hentikan semua ini!" teriak Sakura yang membuat seluruh yanga da di ruangan itu menoleh padanya.
"Kita akhiri saja semua… kita lupakan tentang masalah balas dendam, kita lupakan kejadian yang dulu… Neji… sudah ada Neji yang jatuh korban, nanti akan ada siapa lagi? Hah! Aku tidak mau melihat ada lagi yang menjadi korban, kalau kita tetap melakukan balas dendam, nanti akan bermunculan balas dendam yang lain." sambung Sakura yang membuat keadaan menjadi hening.
Saat semua hening, Shikamaru lah yang memecahkan keheningan itu.
"Maaf Sakura, kali ini aku tidak bisa setuju denganmu," utar Shikamaru, "Aku setuju oleh ucapanmu melakukan balas dendam akan memunculkan balas dendam yang lain, tapi khusus yang satu ini, aku akan kejar mereka. Aku tidak akan menerima lagi red mail, yang aku fokuskan saat ini adalah mereka… mereka yang telah merenggut nyawa Neji."
Ini pertama kalinya Shikamaru berucap panjang dan lebar, saat mendengar percakapan Sakura dan Shikamaru. Ino menyambung, "Kalian membicarakan balas dendam, dan korban… maafkan aku yang lancang, kita kehilangan satu orang yang sangat kita cintai, apakah sebelumnya kita berpikir, sudah berapa orang yang kita habisi yang dicintai oleh orang lain?"
Ucapan Ino sangat tepat pada sasaran, walaupun Ino dan Sakuya baru bergabung tapi Ino sudah bisa merasakan persahabatan yang sangat dalam di elite assassin ini. "bisa dibilang aku ini baru bertemu dengan kalian, dibandingkan oleh Shikamaru, Sakura, Sasuke, Karin dan Naruto… tapi aku bisa merasakan sedih yang mendalam saat Neji…" Ino tidak berani melanjutkannya, dan keadaan masih hening.
"Karena… kalian tahu? Persahabat itu bukanlah siapa yang paling lama saling kenal, melainkan siapa yang selalu ada dan tidak akan pernah pergi… kalianlah yang mengajarkanku hal ini," sambung Ino yang membuat Shikamaru tersenyum.
Sakuya yang dari tadi berdiri sambil memandangi luar jendela kini berbalik dan berjalan menuju mereka yang berkumpul. Kemudian Sakuya mengeratkan kedua genggamannya.
"Sakuya… baru pertama kali menemukan keluarga yang seperti ini… Sakuya sudah menganggap Sakura nee-chan sebagai mama Sakuya, Sasuke nii-san sebagai papa Sakuya, begitu pula dengan Ino nee-sama, Karin nee-chan, Naruto nii-chan, Shika nii-san… dan Neji nii-san," ucap Sakuya dengan nada yang bergetar, "Sakuya suka dengan keluarga ini… Sakuya tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba merusak keluarga ini!"
"Ini demi Neji," sambung Orochimaru, "Kita lakukan perang terakhir demi Neji."
Tsunde tersenyum mendengar Orochimaru pertama kalinya melakukan sesuatu demi seseorang.
"Bagaimana Sakura? Ikut dengan kami?" tanya Shikamaru.
Sakura terdiam, masih sedikit ragu untuk melakukan pertarungan hidup dan mati ini. Sebelum Sakura menjawab, Sasuke menatap Itachi, "Bagaimana denganmu?" tanya Sasuke pada Itachi.
"Apapun akan kulakukan demi adikku," jawab Itachi dan direspon oleh senyuman mantap dari Sasuke.
"Gaara-san, maaf selama ini Sakuya selalu marah-marah padamu, untuk kali ini… maukah kau menjadi partner Sakuya?" ucap Sakuya sopan.
Gaara tersenyum dan menepuk kepala Sakuya, "Kau tahu… kau memang ceria, tapi aku melihat kerapuhan pada sorot matamu… setelah melihat hal itu, entah kenapa aku tidak bisa membiarkanmu."
Ucapan Gaara sukses membuat Sakuya memerah dan seluruh elite assassin dan W.O tersenyum melihat tingkah mereka, Gaara menoleh ke arah Sasori, "Bagaimana denganmu?"
"Keputusanmu adalah keputusanku," jawab Sasori datar, "Lagipula, aku masih ada urusan dengan si Asuma itu."
"Kau kenal dengannya?" tanya Jiraiya pada Sasori.
"Ya, dia itu-"
"Bagaimana kalau kalian siapkan diri kalian dulu sebelum bertarung? Apa kalian yakin skill kalian cukup untuk menyerbu mereka yang mempunyai pasukan sebanyak itu?" potong Deidara tiba-tiba.
"Tapi siapa yang tahu markas dia?" tanya Sasuke.
"Aku tahu," jawab Hinata, begitu semua menoleh pada Hinata, "Aku pernah kesana beberapa kali dengan ayahku, aku dan Kakashi akan ikut bersama kalian."
"Baiklah, kita tunggu sampai kondisi Karin dan Naruto membaik, kami akan melatih kalian lebih keras lagi, apa kalian siap?" tanya Tsunade.
"Siap!"
.
.
Malam harinya, di halaman belakang mansion, Deidara sedang merokok dan menatapi bintang-bintang. Kemudian Ino datang perlahan menuju kakaknya itu sambil memberi secangkir kopi hangat.
"Ah, thanks," ucap Deidara.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Ino dan Deidara mengangguk pelan, "Sebenarnya… ada di pihak mana dirimu?"
Pertanyaan Ino membuat kegiatan Deidara yang tadi sedang meminum kopinya terhenti, "Kalau kau memihak kami, tolong beri tahu kami apa yang kau tahu, kalau kau memihak mereka, kenapa kau berada di sini?"
"Itu urusanku," jawab Deidara.
"Kalau kau seperti ini, mereka akan mencapmu sebagai pengkhianat!"
"Aku tidak peduli apa pendapat mereka, aku melakukan apa yang aku mau," jawab Deidara santai.
"Kau tahu kenapa dulu mama selalu marah padamu, itu karena kau tidak pernah jelas melakukan sesuatu, kau seperti bunglon kak!" bentk Ino.
"Oh, maafkan aku karena tidak bisa menjadi sosok anak dan kakak yang bijak dan berwibawa."
"Bukan! Aku tidak mempermasalahkan hal itu! Aku hanya ingin kau sedikit lebih terbuka denganku, apa kau sudah tidak menganggapku sebagai adik? Hah!"
"Tidak masalah bagiku kalau kau berpikir aku menganggapmu begitu."
"Kak! Kenapa kau jadi dingin begini? Kau berubah! Kau tidak lagi selembut dulu, dulu kau sangat menyayangiku! Dulu kau-"
"Aku pun masih menyayangimu!" bentak Deidara balik, "Tapi apa yang harus kulakukan hah! Kau tidak mengerti posisiku sekarang! Hal yang selama ini aku lakukan hanyalah ingin melindungimu dan Sakura!"
"Sakura? Apa hubungannya dengan Sakura?" tanya Ino,"Sakura sudah punya Sasuke, tolong jangan ganggu mereka."
"Apa rasa suka itu bisa di atur? Kau mencintai Shikamaru, apa itu sudah direncanakan?" tanya Deidara.
Ino terdiam mendapat pertanyaan yang benar-benar tidak bisa di jawab itu. Saat Ino terdiam, Deidara beranjak dari duduknya, "Sudah malam, tidurlah," meninggalkan Ino yang kini termenung.
.
.
Mendapat telepon dari Karin yang akan menjalani operasi malam itu, saat itu juga Sakura dan yang lain menuju rumah sakit kecuali para guru mereka yang menjaga mansion agar tidak terjadi hal yang buruk, seperti penyerbuan tengah malam misalnya. Sesampainya di rumah sakit, mereka bertemu Karin yang sudah berada di atas kasur dorong dan akan dibawa ke ruang operasi.
"Kariinn!" panggil Sakura, "Semua pasti baik-baik saja."
Karin tersenyum lemah, karena efek obat bius yang sudah di suntikan oleh dokter. Saat Karin di bawa ke dalam ruang operasi, Sakura dan para elite assassin menunggunya di luar. Sesekali Sakuya mengintip di jendela yang tertutup tirai. Karena tubuhnya pendek maka Sakuya harus sedikit menjinjit untuk dapat melihat di balik tirai tersebut.
Beberapa jam mereka menunggu akhirnya sang dokter keluar sambil membuka maskernya.
"Operasi berjalan sukses, hari ini biarkan mereka istirahat, lusa kita bisa membuka perban mereka," ujar sang dokter.
Begitu mendengar operasi berhasil, Sakura menyenderkan tubuhnya di dada Sasuke dan Sasuke memeluknya. Begitu pula Shikamaru yang menyenderkan kepalanya di bahu Ino. Hanya Sakuya yang melepas kelegaannya dengan menghela napas sendiri.
.
.
Ke esokan harinya, mereka sudah kembali berkumpul lagi di rumah sakit, dan saat ini kondisi Karin sudah siuman namun dengan mata yang masih tertutup perban. Mereka meminta agar Karin dan Naruto dijadikan satu kamar. Semua berkumpul di kamar itu kecuali para guru, W.O, Hinata dan Kakashi… dan Sakuya.
"Aku tidak mendengar suara Sakuya, kemana dia?" tanya Karin.
"Katanya dia akan menyusul, dia masih mengantuk," jawab Ino.
"Tumben sekali Sakuya tidak bersemangat ya, padahal selama ini dia yang selalu ber api-api," ujar Sakura.
Itulah yang mereka tahu, padahal saat ini Sakuya sedang berada di lokasi kejadian saat Neji duduk terdiam menunggu ledaknya ruangan itu. Sakuya menjelajahi tempat yang sudah diberi pembatas polisi itu, langkah demi langkah Sakuya menapak sambil meneliti tempat itu. Saat Sakuya sampai di posisi dimana Neji duduk, Sakuya menyerngit dan memfokuskan kedua matanya ke arah bawah.
Ternyata ada sebuah benda berwarna merah kusam seperti terbakar berbentuk gelang, Sakuya mengambil benda itu dan dilihatnya, itu adalah gelang pelacak yang pernah Neji ciptakan untuk dibagikan masing-masing pada elite assassin. Saat melihat gelang itu, Sakuya teringat akan ucapan Neji yang sudah meganggapnya sebagai adik sendiri. Saat ini Sakuya ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada satu kata yang bisa keluar dari mulutnya, bukannya suara yang keluar malah air mata yang mengalir dari kedua mata biru muda gadis ini.
Menyadari air mata yang sudah lama tidak keluar kini keluar tanpa seizinnya, Sakuya berlutut sambil memeluk gelang tersebut. Mencoba untuk menahan tangisnya, dadanya sesak karena menahan tangis. Saat Sakuya makin menunduk, dia merasa ada yang menepuk pundaknya, ketika Sakuya menoleh ternyata orang itu adalah Gaara. Melihat Gaara yang menatapnya dengan prihatin, Sakuya langsung memeluk Gaara.
"HUAAAAAAAA! HAAAAAA! NEJI NII-SAAAAAAN! Huhuuuuu!"
Gaara membiarkan Sakuya menangis di pelukannya, laki-laki berambut merah itu makin mengeratkan pelukannya saat Sakuya makin mengencang tangisannya.
"Huaaa! Huaaaaahaaaaa! Neji nii-saaan! Sakuya akan balaaasss! Sakuya akan balas mereka!"
Sementara Sakuya menjerit-jerit, Gaara hanya diam mendengar jeritan Sakuya yang terdengar pilu itu. Sambil mencoba untuk sedikit menenangkan Sakuya dengan pelukannya itu.
.
.
Di mansion, Hinata merenung di kamarnya sendirian sambil kembali mengingat kata-kata terakhir Neji sebelum Kakashi membawa pergi dirinya dari sana. Hinata memejamkan kedua matanya kemudian membukanya pelan-pelan. Sudah hampir setengah hari Hinata mengurung diri di kamar, sekarang dia memutuskan sesuatu. Hinata mengambil gunting di lacinya kemudian dia memotong rambutnya yang panjang dan indah itu seleher. Kemudian rambut itu dia genggam dan di ikat memakai tali dengan rapih kemudian dia masukan ke dalam laci.
Hinata keluar kamar dengan keadaan rambut yang acak-acakan, sedikit membuat para pelatih elite assassine tekejut, termasuk Kakashi.
"No- Hinata? ada apa dengan rambutmu?" tanya Kakashi.
"Tsunade-sensei, Orochimaru-sensei, Jiraiya-sensei, dan… Kakashi-sensei… tolong ajarkan aku bagaimana cara merancang senjata, meracik bom dan semua hal yang pernah Neji nii-san lakukan dulu," ucap Hinata sambil berlutut.
Kakashi sangat terkejut oleh perubahan sikap Hinata yang sangat drastic, karena seorang Hinata tidak akan pernah mau berlutut seperti ini, bahkan sampai memotong rambut yang dia banggakan itu.
Tsunade tersenyum dan menghampiri Hinata, "Kau cukup berubah pesat, nona muda."
"Bukan porsiku untuk mengajarkanmu hal itu," jawab Orochimaru.
"Ya, aku juga melatih pertarungan, bukan dalam bidang seperti itu," ucap Jiraiya.
"Eh? Lalu siapa dulu yang melatih Neji nii-san?" tanya Hinata bingung.
Seluruh mata pelatih itu menuju pada Kakashi, dan itu membuat Hinata terbelalak.
"EEEHHH? Kakashi? Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"
"Aku pikir itu bukan hal yang penting, jadi…"
"Hahaha, sudahlah, aku yakin Neji pasti bangga dengan niatmu, Hinata," ucap Tsunade, "Sebelum Kakashi melatihmu, sini… kurapihkan rambutmu."
A/N :
Maaf kalau chapter ini pendek yaa, chapter ini memang chapter berkabung : ( jadi chapter depan tanyakan ke fitri, minta fitri bikin lebih panjang lagi, hahahaha
Saatnya menjawab review :
Mey hanazaki : chapter kemarin yah? Si fitri oke banget deh kalau bikin angst, tenten mihak asuma nanti diceritain kok :)
Micehelle : eehhmm, lagu apa itu? Hahahaha, dramanya tadi tuh mau kita tambahin sedikit lagi, tapi buntu ide =_=
Fumiki Ai : kurang panjang? Mau sampe berapa halamaaaaan? Hahhaaa, lover eternal ya? Nanti saya sampaikan ke fitri, oke!
Aoi Ciel : sayang sekali Neji harus mati :)
Hoshi Yukina : Gore? Dibagian mananya?
Lovev3raffa : naruto oke kok, dalangnya? Dalangnya ya… saya dan fitri ._.
Jensuina Ao Yuki : iya neji mati :D, narukarin? Kalian bisa nilai sendiri kok, hehehe
Chadeschan : sayang sekali neji harus mati di fict ini :(
Kitty kuromi : iya akhirnya update juga, itu kata kalian, kalau kata kita "Akhirnya nulis juga" wakakakakaa. Nah, itu missnya fitri, mereka itu dateng lewat pintu belakang yang Sakuya lalui bareng Gaara. Maslah hinata dan kakashi, mereka dobrak pintu utama yang dikunci otomatis. Kenapa cari2 bom, soalnya itu ada di sekolahan, walaupun mereka pembunuh tapi sebisa mungkin jangan sampai membuat kekacauan di sekolahan, walaupun ujung-ujungnya kacau, tapi setidaknya mereka udah usaha, hehehe
Miku chan : iya gpp kok, kita juga jarang update nih
Sasusaku Lover : buat adegan sakukarin? Dimana? Nejinya kan udah mati =_=
Meyrin kyuchan : hahaha, jamuran? Jangan lupa olesin kalpanax… hahahaa, rumit ya? Memang fict ini kan di design untuk rumit, sampai2 yang nulis pun mumet, hahahaha
Scarlet Uchiha : sakura cemburu berat sama sasuke ada kok, ditunggu aja yaaa :D
Cebong : oohhh, baru liat penname ini :D, gpp gpp, silahkan review semau kalian, hahahaha… kalian hanya menanti fitri doang? Yaudah saya keluar dari FFN *ngambek* hahahaha
HikariNdychan : wakakakakakakaaa, *ngakak baca review kamu* kita usahain ngga update lama kok :D
Me : naruto ngga akan mati kook, tenang aja :D tapi kalau neji… maaf :(
Sindi 'Kucing Pink : hhehehehee, thank you, makasih ya udah selalu nunggu chapter ini.
Sslove : EA berkurang satu, tapi nanti tambah satu ;)
D3rin : hehehee, banyak yang ngga terima neji mati memang, tapi harus dibikin begitu :(
Icha : bedanya tenten dan sakuya itu… tenten sebenernya g suka sadis2, kalau sakuya dia emang rada psycho, hahahaha… notes yang fitri buat itu setengahnya berdasarkan pengalaman pribadi *buka aib* hahahaha
Hasni : iyaaa, Sakuya dan Karin yang paling terpukul atas pulangnya Neji ke maha kuasa :(
Doremi Saku-chan : iya neji mati : (
Dd fans : loh? Ini chapter 19 XD
Kim na na : okee, chapter depan minta ke fitri ya :p
Zeta hikaru : iya, naruto gpp kok :D
Aya-chan dattebane : ini chap barunya :)
Lailan : hehehe, maaf ngga bisa, neji memang mati di sini : (
Larry : Naruto ngga mati kok :D
Raiha : te-tenang tenang! *nyodorin tissue* chapter kemren emang nguras emosi bgt ya?
Caprineptuniamania : yoosshhh! Ini udah update :D
Wakamiya hikaru : ngga log in terus, hahahhaa… neji harus mati di sini : (
Sky pea-chan : siip!
Crystal babyblue : nice question… tadinya kita mau bikin happy ending, tapi setelah kita telaah, kita pikir2 dulu, hehehehe, apakah adil sekelompok pembunuh bayaran berakhir bahagia tanpa mendapat balasan? : )
Princess kairi Oceania : thanks!
Evil smirk of the black swan : yaaa, sayang sekali neji harus mati : (
Pain the leader akatsuki : ini lanjutannya sudah update :D
Aoisunoire : aawww~ terima kasih, g akan discontinue kok apapun yang terjadi, misalnya aku mati sekalipun ada fitri yang ngelanjutin, ya ngga fit? *kabuuur*
OYO LECHLIEZ : nejinya mati : (
SakuraBELONGtoSASUKE : hehehehee, maaf bikin mati karakter MK satu :p Naruto ngga mati kok :D
