Mudah-mudahan, walaupun fict ini aku buat sendiri, isinya tetap menarik dan ngga kacau yah T_T

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

"KAMI TIDAK BOLEH MELIHATNYA?"

Suara menggelegar di lorong rumah sakit yang sukses membuat para suster yang berlalu lalang menoleh ke arah Sakura yang kini memasang wajah panik pada sang dokter.

"Ya, ini permintaan dari sang pasien," jawab sang dokter dengan tenang.

"Tapi sebelumnya apa mereka baik-baik saja? Apa alasan mereka tidak mengizinkan kami menjenguk?" tanya Sakura sambil menarik kemeja sang dokter.

"Sakura tenang," Sasuke yang berada di belakangnya menarik pundak kekasihnya itu untuk menenangkan.

"Ya, saat kami bertanya alasannya, pasien yang bernama Karin menjawab 'tidak ada alasan khusus.' Hanya itu."

Sakura terdiam mendengar penejelasan dari dokter. Memang ini semua hak Karin untuk mau atau tidaknya di jenguk. Tapi Sakura tidak bisa menghilangkan rasa gelisah dan betapa khawatirnya dia dengan operasi transplantasi mata yang Karin lakukan untuk Naruto.

"Kita pulang, kau harus istirahat. Orochimaru-sensei bilang ada yang ingin dia bicarakan pada Elite Assassin," ajak Sasuke pelan.

"Tentang?" tanya Sakura dengan nada heran.

"Entahlah. Tentang rencana selanjutnya, strategi, Hinata, ata-"

"Hinata?" potong Sakura.

"Ya, tadi dia bilang begitu padaku."

"Dan sejak kapan kau memanggil nama depannya?" tanya Sakura dengan nada ketus.

"…" Sasuke diam. Dia memperhatikan raut wajah Sakura yang merengut, dan itu adalah… "Kau cemburu?" goda Sasuke.

"Jangan main-main denganku, Sasuke Uchiha," jawab Sakura ketus yang membuat Sasuke kaget. Ada apa dengan Sakura? Kenapa akhir-akhir ini dia terkesan menjadi… gelap?

"Oke, Sakura, aku mintaa maaf. Aku hanya berusaha untuk menerima anak itu di-"

"Dalam Elite Assassin. Jadi kau sudah mengambil keputusan memasuki Hinata dalam anggota E.S tanpa sepengetahuanku?" potong Sakura lagi.

"Sakura aku yang memimpin E.S dan aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Sasuke dengan lembut dan mencoba memegang kedua pipi Sakura. Namun Sakura menepis kedua tangan Sasuke dan pergi meninggalkan Sasuke.

"Pertengkaran suami istri, eh?" ejek Jiraiya yang tiba-tiba muncul dari belakang Sasuke.

"Jiraiya-sensei? Sejak kapan kau di sini?" tanya Sasuke dengan nada malas.

"Aaww, kenapa nadamu seperti itu? Apa kau lebih senang kalau Orochimaru yang datang?"

Sasuke mengabaikan ucapan Jiraiya dan berjalan pelan menyusul Sakura. Tidak perlu di kejar karena Sasuke tahu kalau Sakura pasti duluan masuk ke mobil dan menunggu Sasuke dengan wajah yang super jutek. Entah ada apa dengan Sakura akhir-akhir ini, emosinya cepat naik, walaupun masalah wanita datang tiap bulannya, Sakura tidak pernah terpengaruh sebegini besarnya.

"Wanita memang seperti itu, nanti juga kau terbiasa. Sakura mulai menunjukkan sifat berontaknya padamu," ujar Jiraiya pada Sasuke.

"Aku tahu," jawab Sasuke pelan sambil menghela nafas. Sasuke melanjutkan, "Lagipula, perempuan itu bisa menyimpan perasaan sayang nya bertahun-tahun, tapi tidak bisa menyimpan rasa cemburunya walau semenit."

"Ya memang benar…" Jiraiya ingin menyetujui ucapan Sasuke, tapi setelah dia mengingat bagaimana Sasuke mengamuk saat dulu Jiraiya mencoba menggoda Sakura yang masih kecil, Jiraiya membalikkan pernyataan itu pada Sasuke, "Memangnya kau bisa?"

"Bisa apa?" tanya Sasuke bingung sambil melirik gurunya yang mesum itu.

"Menyimpan rasa cemburumu itu. Jangan semenit, aku bertanya sedetik… apa kau bisa?" ledek Jiraiya.

"Jiraiya-sensei," panggil Sasuke pelan yang kini sudah menapakkan kakinya di depan mobilnya.

"Ya?"

"Sensei sudah bisa bisa menghilangkan rasa cemburu sensei pada Orochimaru-sensei atau belum?"

Balasan Sasuke lebih tepat kena sasaran dibanding apapun untuk Jiraiya. Hingga kini Jiraiya hanya bisa mematung dan melihat Sasuke memasuki mobilnya. Sasuke menyeringai menang sambil menutup pintu.

"Kenapa menyeringai begitu?" Tanya Sakura heran.

"Tidak apa-apa, hanya mendapat kemenangan yang telak," jawab Sasuke tersenyum dan mengecup bibir Sakura lalu menyetir mobilnya menuju mansion.

Sementara itu Jiraiya yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit tersenyum lembut, "Mereka sudah besar, sedih juga, hehehe. Aahhh! Saatnya memberikan benda ini pada Naruto dan Karin," lanjut Jiraiya yang melangkah masuk ke dalam rumah sakit kembali.

.

.

Sesampainya di mansion, Sakura membuka sabuk pengaman dan mencoba keluar duluan. Tapi Sasuke menahan lengannya dan langsung mencium Sakura dengan lembut, "Maafkan aku," ucap Sasuke dengan pelan, "Maaf kalau perkataan dan tindakanku tadi ada yang membuatmu resah dan gelisah."

Sakura terdiam dan menatap Sasuke dengan tatapan kesal namun terlihat manja, "Aku tidak suka kalau kamu mengambil sebuah keputusan… tapi tidak berdiskusi dulu denganku~" ucap Sakura manja.

"Iya iya, maaf ya," ucap Sasuke sambil memeluk tubuh Sakura.

Saat mereka masuk ke dalam mansion, terlihat Tsunade yang sedang duduk di atas Orochimaru sambil berciuman dengan mesra di ruang tamu, dan itu membuat Sasuke jengkel melihatnya, "Aargh, get a room, please," gerutu Sasuke.

"Ah, Sasuke, Sakura… sudah datang rupanya," ucap Tsunade yang menghentikan kegiatan mereka dan kembali duduk dengan posisi yang normal, "Aku pikir kalian akan lama di rumah sakit."

"Karena sensei pikir kami akan lama, maka dari itu kalian akan mencoba melakukannya di ruang tamu?" tebak Sasuke dengan nada yang datar.

"Sasuke-kun!" tegur Sakura, "Karin tidak mau di jenguk, aku juga tidak tahu kenapa, makanya kami pulang cepat."

"Ohh, sayang sekali. Padahal kalian sengaja tidak mengikuti acara pemakaman masal di sekolah karena untuk menjenguk Karin dan Naruto ya," ucap Tsunade.

"Sasuke duduk. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, dengan Sakura juga," ucap Orochimaru.

Sakura dan Sasuke menuruti ucapan gurunya dan duduk dengan sopan di depan kedua gurunya yang kini berwajah serius.

"Ini tentang Hinata," ucap Tsunade. Saat mendengar nama Hinata, entah kenapa Sakura sedikit malas dan secara otomatis memutarkan kedua bola matanya, Tsunade yang melihat reaksi Sakura sedikit terkejut, "Sakura? Ada apa denganmu?"

"Tidak ada apa-apa sensei, teruskan saja," ucap Sakura yang tiba-tiba kembali lembut.

"Hmm, baiklah… aku ingin Sasuke memasukkan Hinata ke dalam E.S dan menggantikan posisi Neji pada Hinata," ucap Tsunade.

"Apa?" Sakura tersentak.

"Tadi malam dia meminta pada kami untuk melatihnya apa yang pernah kami latih pada Neji, dan kebetulan sekali yang melatih Neji dulu adalah Kakashi, jadi-"

"Tunggu dulu… Hinata? Menjadi anggota E.S?" tanya Sakura dengan nada yang sedikit tinggi.

Sasuke yang sudah merasa Sakura akan berkomentar, sedikit menarik baju belakang Sakura, memberi tanda agar tidak berkomentar apa-apa, karena saat ini Orochimaru tengah menatap Sakura dengan tatapan kaget. Sejak kapan Sakura berani memotong ucapan gurunya saat sedang berbicara?

"Keberadaan Neji, posisi Neji itu tidak tergantikan oleh siapapun! Tidak boleh ada yang menggantikannya!" protes Sakura.

"Sakura dengarkan aku dulu Bagaimanapun juga kita membutuhkan seseorang yang mempunyai keahlian seperti Neji," jelas Tsunade.

"Tapi kenapa harus dia? Kalian tahu kan? NEJI MATI GARA-GARA HINATA!" akhirnya Sakura membentak dengan keras tanpa tahu kalau semua sudah pulang dari pemakaman masal di sekolah.

Dan kini Sasuke menoleh melihat ekspresi Hinata yang sedikit shock karena ternyata Sakura menganggap kejadian Neji itu semua akibat dirinya. Sakura menoleh kebelakang karena mendengar pintu terbuka. Betapa kagetnya Sakura melihat Hinata yang kini memotong habis rambut panjangnya yang indah menjadi pendek seleher. Keadaan semakin canggung. Tidak ada yang menanggapi ucapan Sakura tadi, juga tidak ada yang mencairkan suasana.

"Mama-chan… Sakuya setuju apa yang mama-chan katakan… Neji nii-san memang meninggal karena kecerobohan obake nee-san… tapi lihatlah," ucap Sakuya sambil menunjuk sosok Hinata, "Obake nee-san sudah menunjukkan pada kami bahwa dia akan membantu untuk membalaskan dendam pada orang-orang itu."

"Kalian percaya? Setelah apa yang dia lakukan? Bahkan ayahnya saja adalah salah satu orang yang-"

"Begitu pula dengan ayahmu, Sakura," potong Shikamaru dengan tegas, dia berjalan ke arah Sakura dan menepuk pundak Sakura, "Ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu seperti ini."

Sasuke beranjak dari duduknya ketika Shikamaru menepuk pundak kekasihnya kemudian melingkarkan lengan kanannya di seluruh bahu Sakura, "Kau lelah, butuh istirahat… kita ke kamar," ajak Sasuke.

Saat Sakura menurut apa yang Sasuke ucapkan, Sasuke menoleh ke arah Shikamaru dan memberi kode agar menghandle situasi di situ. Shikamaru paham dan mengangguk.

Saat di kamar, Sasuke menutup pintu dan bersender sambil melingkarkan tangannya, "Ada apa denganmu? Ini seperti bukan Sakura yang ku kenal."

"Oh, jadi Sakura yang kamu kenal itu adalah Sakura yang selalu baik hati dan memaafkan siapa saja yang berbuat salah, begitu?" ucap Sakura ketus sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.

"Sakura yang kukenal adalah Sakura yang selalu juju padaku dan terbuka, membicarakan apapun yang membuat hatinya gelisah padaku," jawab Sasuke yang menghampiri Sakura dan membelai kepalanya, "Katakan ada apa sebenarnya?"

Sakura hanya bisa diam dalam posisi terbaring itu. Sasuke yang tidak mendapat respon dari Sakura hanya bisa menghela nafas. Ingin sekali Sasuke memarahinya sekarang tapi Sasuke berusaha untuk melawan egonya itu. Kalau Sasuke mengeluarkan amarahnya, bisa-bisa mereka kembali bertengkar hebat. Keadaan masih diselimuti oleh duka, Sasuke hanya tidak mau memperkeruh suasana. Melihat tatapan Sakura yang kini sedikit kosong seolah memikirkan sesuatu, Sasuke menggoyangkan tubuh Sakura.

"Sakura?"

"Ah, ng? Kenapa?" jawab Sakura yang terkejut mendapat guncangan dari Sasuke.

"…" Sasuke menganalisa wajah Sakura dengan seksama. Saat itulah Sasuke tahu apa yang terjadi pada Sakuranya itu, "Kau memikirkan masalah orang yang bernama Asuma itu, kan?"

"…"

"Aku tahu ini pasti sangat tiba-tiba bagimu, seseorang datang dan mengaku dia adalah ayahmu, padahal sebenarnya… jelas-jelas ayahmu itu sudah meninggal 9 tahun yang lalu."

Sakura bangkit dari tidurnya dan mengerutkan dahinya, "Tidak… Sasuke-kun. Sebenarnya aku sangat ingat… dulu paman Asuma itu sering datang mengunjungi rumahku… dan kami sering bermain bersama… karena itulah saat pertama kali pindah aku sangat terpuruk~"

"Apapun kenyataannya nanti, kau harus kuat. Kami di sini semua akan membantumu, terutama aku… akulah yang akan selalu membantumu," ucap Sasuke lembut.

Sakura mulai mengeluarkan ekspresinya yang pilu, tiba-tiba wanita itu memeluk Sasuke dengan erat sambil bergumam, "Aku takut.. aku takut Sasuke-kun, aku takut~"

"Keluarkan saja semua apa yang ingin kau katakan," ucap Sasuke yang memeluk kembali dengan erat tubuh Sakura.

"Aku takut… kalau suatu saat nanti hal yang terjadi pada Neji akan terjadi padamu. Aku takut akan menambah lagi korban yang baru. Aku takut menghadapi kenyataan kalau paman Asuma itu adalah dalang dari semua ini… Aku takut apa yang dikatakan paman Asuma itu adalah benar, bahwa dia adalah ayahku~ aku takut-"

Ucapan Sakura terputus oleh ciuman Sasuke, ciuman yang sangat lembut dan menenangkan. Saat Sasuke melepaskan ciumannya, "Kalau kau takut kehilanganku, aku berjanji akan selalu berada di sampingmu. Kalau kau takut akan ada lagi yang jatuh korban aku akan meminta seluruh E.S hati-hati. Kalau kau takut menerima kenyataan… anggaplah itu semua tidak benar, jangan biarkan hal itu mengubah dirimu seperti dulu," jawab Sasuke.

"Kau tidak perlu mengubah dirimu menjadi kuat agar yang lain tidak khawatir. Ingat… aku tidak ingin melihatmu seperti sosok saat kau membunuh orang itu dengan sadisnya dulu," pinta Sasuke, "Aku tidak mau tanganmu kotor karena darah."

"Dulu itu karena aku tidak bisa mengontrol emosiku, Sasuke-kun… Aku butuh tenaga dan keberanianku saat itu, aku ingin bisa mengontrolnya," ucap Sakura.

"Tapi itu bahaya."

"Aku mohon~ aku ingin membantumu juga. Aku lebih takut menunggumu di sini sendiri, lebih baik aku ikut dengan kalian terjun ke arena perang," pinta Sakura.

Dan tentu saja Sasuke pasti menolaknya. Tapi melihat mata Sakura yang benar-benar memohon dan merasakan tangan Sakura gemetar, Sasuke menghela nafasnya dan menggenggam kedua tangan Sakura, "Asal kau janji menuruti setiap instruksi Tsunade-sensei."

"Yeeeyy!" Sakura melompat dan memeluk Sasuke dengan erat, "Terima kasih Sasuke-kun, terima kasiih… Aku mencintaimu."

.

.

Ino berada di dapur menggantikan tugas Karin untuk menyiapkan makan malam dibantu oleh Sakuya. Ino yang meletakkan piring-piringnya dan Sakuya yang membawa makanannya. Saat Sakuya mengecek ulang jumlah piring yang terletak di atas meja makan, Sakuya melihat ada satu piring yang lebih di sana.

"Ino nee-sama, piringnya kelebihan satu," ujar Sakuya.

"Kelebihan satu? Sudah pas kok," jawab Ino tanpa menoleh pada Sakuya karena Ino sedang menyiapkan minuman.

"Ini kelebihan satu, dan terletak di tempat Neji nii-san," jelas Sakuya dengan tatapan sendu pada Ino dari belakang.

Ino terdiam dan langsung menoleh, benar juga… Kenapa dia meletakkan piring di tempat Neji? Seolah dia masih menganggap Neji masih ada, "Ah iya, maaf maaf, akan aku angkat lagi," ujar Ino sambil bergegas membereskan piring tersebut.

Sakuya memperhatikan ekspresi kakak angkatnya yang paling anggun itu. Ekspresi pilu dan menahan tangis yang pernah Sakuya rasakan juga saat berada di lokasi dimana Neji terbunuh. Setelah menyiapkan makan malam, Ino kembali ke kamar sebentar sebelum memanggil yang lain untuk berkumpul di ruang makan. Saat Ino menutup pintu kamarnya dengan pelan, dia teringat kembali saat Neji mencoba menyerangnya di sini… di kamar ini.

Ino menyenderkan tubuhnya di pintu dan perlahan terjatuh duduk di lantai sambil menutupi mulutnya agar suaranya tidak keluar sekencang air matanya mengalir. Kepergian Neji benar-benar membawa efek yang buruk bagi para E.S.

Selesai mengeluarkan emosinya, Ino mencuci mukanya kemudian bercermin, "Hhh, apa yang harus kukatakan pada Shikamaru," gumam Ino saat melihat matanya yang sangat sembab.

Akhirnya Ino memutuskan untuk memakai make up dan beralasan untuk keluar sebentar. Saat di ruang makan, semua sudah berkumpul. Bahkan Sakura yang tadi sedikit aneh kini sudah terlihat seperti biasa. Entah apa yang Sasuke lakukan padanya yang jelas Ino hanya bisa berpikir, yang bisa menenangkan Sakura hanyalah Sasuke, begitu juga sebaliknya.

Saat Ino menduduki tempatnya, Shikamaru memperhatikan wajah Ino. Ada yang aneh dengan kekasihnya satu ini. Ino sendiri berusaha agar tidak bertatapan lama dengan Shikamaru. Untung saja keadaan yang canggung itu terbuyarkan oleh kedatangan Jiraiya yang tiba-tiba.

"Selamat malaaaam semuanya!" sapa Jiraiya dengan semangat yang membuat Orochimaru memutar kedua bola matanya, "Aku datang membawa kabar gembira."

"Cepat katakan dan duduk, lalu kita makan," jawab Orochimaru tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.

"Hehehe, ehem! Sambutlah kedatangan mereka, Naruto dan Karin yang sudah di izinkan keluar dari rumah sakit hari ini!" teriak Jiraiya sambil berpose melebarkan kedua tangannya pada Naruto dan Karin yang berdiri di belakangnya.

Namun yang bersangkutan hanya diam tidak merespon hebohnya Jiraiya member kabar tersebut. Mata Sakura terbelalak melihat penampilan baru mereka. Bukan hanya Sakura… bahkan semua pun terkejut. Karin tersenyum pada Sakura dengan satu mata kanannya yang ditutup dengan penutup mata seperti bajak laut berwarna orange. Sedangkan Naruto memakai penutup mata itu di mata sebelah kirinya dengan warna yang berbeda dari Karin, Naruto memakai penutup mata berwarna merah, dengan mata barunya yang juga berwarna merah.

Keadaan sunyi sejenak sampai akhirnya Karin tersenyum dan mengatakan, "Kami pulang."

Sakura beranjak dari tempat duduknya dan melompat memeluk Karin sambil menangis, "Kenapa kau larang aku menjengukmu! Kau membuatku khawatir!" bentak Sakura.

"Maaf Sakura, aku hanya ingin mengejutkan kalian dengan penampilan kami yang baru, iya kan Naruto?" ucap Karin sambil membelai kepala Sakura yang memeluknya.

"Maaf Sakura-chan, kami tidak bermaksud membuatmu khawatir," ucap Naruto menepuk pundak Sakura.

Naruto menatap teman-temannya satu persatu, matanya berhenti pada sosok Sakuya yang kini sedang menahan tangisnya. Naruto menyengir dan merentangkan kedua tangannya, "Tidak mau memelukku, Sakuya?"

"Huaaahaaaaa!" saat Naruto mengucapkan itu, dengan cepat Sakuya melompat ke dalam pelukan Naruto. Sakuya menangis kencang saat itu, karena sebelumnya Sakuya mempersiapkan mental kalau terjadi hal yang buruk pada kakaknya ini. Tapi ternyata semua baik-baik saja, betapa leganya hati Sakuya saat ini.

DUK DUK!

Suara pukulan pelan di meja terdengar dari arah Orochimaru yang masih duduk tenang, "Cukup adegan dramanya. Sekarang kembali ke meja masing-masing."

Sambil sedikit terkekeh mereka menuruti perintah guru yang paling menakutkan itu. Saat makan malam selesai Orochimaru membuka topik malam ini. Dan ini adalah hal yang sangat jarang dilakukannya.

"Dengar semuanya. Aku tahu sejak kejadian Neji kalian semua terpuruk, kesal, sedih, dan marah menjadi satu. Aku ingin melihat tekad kalian, apakah kalian yakin akan melakukan aksi balas dendam ini?" Tanya Orochimaru.

"Ya, kami yakin," jawab Naruto mewakili semuanya.

"Bukan hanya demi membalaskan dendam untuk Neji, ada hal lain yang harus kupastikan," ujar Shikamaru.

"Aku juga," sambung Sakura.

"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku akan membagikan kelompok untuk pelatihan khusus yang benar-benar harus kalian dalami," ujar Orochimari yang mengambil secarik kertas dari Tsunade kemudian menuliskan sebuah nama-nama di situ.

Semua terdiam menunggu hasil kelompok yang Orochimaru putuskan. Ino dan Karin saling tatap dan tersenyum seolah Ino menandakan lega melihat Karin sudah datang kembali, dan Karin pun melemparkan senyuman kembali pada Ino. Sasuke menggenggam tangan Sakura karena dia tahu, saat ini Sakura sedang gugup.

"Ini, aku sudah mendiskusikannya pada yang lain," ujar Orochimaru yang menyerahkan kertas itu pada anak-anak didiknya.

Yang akan dilatih oleh Jiraiya adalah Karin, Naruto, dan Shikamaru. Tsunade akan melatih Ino dan Sakuya. Kakashi akan khusus melatih Hinata. Dan Orochimaru khusus melatih Sasuke.

"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Sakura.

"Kalian akan latihan besok sedangkan Sakura lusa," ucap Orochimaru.

"Tapi aku dengan siapa?" Tanya Sakura kembali.

"Kau akan dilatih oleh Tsunade juga denganku," jawab Orochimaru yang sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.

Saat mendengar ucapan Orochimaru, Sakura mulai keringat dingin begitu pula dengan yang lain. Dilatih oleh Tsunade saja mereka sudah mau menangis, apalagi ditambah oleh Orochimaru. Sasuke menatap Sakura dengan tenang, "Kau pasti bisa," ujarnya lembut, namun tidak berpengaruh apa-apa untuk Sakura. Karena yang terakhir Sakura ingat adalah, saat Sasuke dilatih oleh Orochimaru, saat itu Sasuke babak belur dan harus dirawat selama seminggu.

.

.

Semua kembali ke kamarnya masing-masing Saat ini Karin berdiri di jendela dan menempelkan keningnya di kaca jendela tersebut, betapa dia menikmati pelukan Sakura tadi. Andai saja dia bisa memeluknya seperti itu lagi dengan perasaan yang sama, itu pasti akan lebih menyenangkan. Namun perasaannya itu kini buyar karena suara laki-laki yang muncul dari belakangnya.

"Sedang memikirkan apa?"

"Naruto? Ada apa?" Tanya Karin yang menoleh karena kaget.

"Tidak ada apa-apa, hanya saja…" Naruto mendekatkan dirinya pada Karin, "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."

"Tentang?"

"Kenapa kau mendonorkan matamu untukku?"

"…" Karin tidak menjawab, karena dia juga bingung. Hal ini terjadi spontan begitu saja, dia hanya tidak ingin kehilangan lagi orang yang dia sayang, "Aku hanya tidak ignin kehilanganmu, sudah cukup Neji yang menjadi-"

"Apa benar itu alasannya?" potong Naruto.

"Ya, memang kau mengharapkan aku menjawab apa?" Tanya Karin dengan ketus dan membalikkan tubuhnya.

"Apa kau yakin kau tidak mempunyai perasaan khusus padaku?" Tanya Naruto to the point.

"Bicara apa kau? Kau sendiri tahu kan aku mencintai siapa," ucap Karin jengkel.

Naruto memegang tangan Karin dengan lembut, "Kau memang mencintainya, tapi itu dulu… Aku bisa melihatnya, cara melihatmu pada Sakura, aku melihatnya sendiri memakai matamu, perasaan itu perlahan mulai hilang," ujar Naruto sambil menggenggam kedua pundak Karin dengan lembut.

"Apa maumu?" Tanya Karin dengan tatapan sedih dan pasrah.

"Kita melangkah ke depan bersama. Lupakan Sakura, jadilah kekasihku," pinta Naruto dengan nada suaranya yang berat dan pelan.

Belum sempat Karin menjawab, Naruto langsung menciumnya. Karin sempat berontak saat Naruto melumatnya, "Mphh! Naru-"

"Diamlah," ucap Naruto pelan dan kalem sambil melanjutkan ciuman mereka. Perlahan Karin luluh atas tindakan Naruto, entah karena ciumannya yang begitu lembut dan memabukkan itu, atau memang sebenarnya… di dalam hati kecil Karin, wanita itu memang mencintai Naruto?

.

.

Sementara itu Ino yang duduk lesu di atas kasurnya sedang menghadapi sedikit masalah dengan Shikamaru. Laki-laki yang kini bersender di tembok dengan kedua lengan yang terlipat itu menunggu jawaban dari kekasihnya. Jawaban yang tidak kunjung keluar dari mulut Ino.

"Aku tanya padamu sekali lagi, apa yang menyebabkanmu menangis?"

"Shikamaru… aku lelah… aku ingin tidur," yang keluar dari bibir merah itu bukanlah jawaban dari pertanyaan Shikamaru.

"Kau memikirkan Neji?" tebak Shikamaru sinis.

"Astaga Shikamaru, Neji adalah sahabatmu! Apa pantas kau bertanya seperti itu dengan nada yang-"

"Aku tidak melarangmu sedih karena kepergian Neji, Ino… tidak sama sekali," potong Shikamaru dengan nada kecewa, "Tapi setidaknya beri tahu aku kalau kau menangis, kau tahu? Aku merasa seperti tidak berguna bagimu."

Mata Ino terbelalak, dia tidak menyangka kalau Shikamaru berpikiran seperti itu padanya. Karena yang Ino rasakan selama ini adalah kecuekan Shikamaru padanya, sesekali memperhatikan namun lebih besar persen kecuekannya itu.

"Maaf kalau aku mengganggumu," ucap Shikamaru yang melangkah keluar. Belum sempat memegang kenop pintu, Ino berlari dan memeluk Shikamaru dari belakang.

"Maafkan aku, jangan pergi… aku mohon jangan pergi~"

Shikamaru terdiam dan membalas pelukan Ino dengan cara merengkuh lengan kecil Ino yang melingkar di pinggangnya. Shikamaru mendongak ke atas sambil bergumam, "Dia adalah partnerku dalam hal apapun," ucapnya tiba-tiba, dan Ino tahu betul siapa 'dia' yang Shikamaru maksud itu.

"Bersama dengannya membuatku percaya bahwa kita bisa mempercayai seseorang. Dia juga yang berusaha mencoba membuatku bisa merasa kalau E.S adalah keluargaku."

Ino merasakan ada air yang menetes di lengannya, dia juga merasakan tubuh Shikamaru yang sedikit gemetar. Ino tahu Shikamaru adalah laki-laki dengan harga diri yang tinggi, maka dari itu Ino tidak membalikkan tubuh kekasihnya itu. Ino terus memeluk Shikamaru sampai dirinya yakin kalau Shikamaru tidak lagi menangis.

"Tadi siang, sekilas aku teringat kembali saat Neji berusaha… menyerangku… entah kenapa… dadaku sakit, aku… merindukannya~" sahut Ino.

Shikamaru membalikkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Ino. Ino yakin sekali saat ini yang paling terpuruk adalah Shikamaru, mengingat seberapa dekatnya Shikamaru dengan Neji dulu. Sekuat apapun Shikamaru menahan kesedihannya, dia juga manusia yang suatu saat akan mengeluarkan emosinya, baik disengaja maupun tidak sengaja.

Dalam keheningan malam, masing-masing mempunyai kisah pribadi yang cukup berkenan di hati mereka. Naruto dan Karin masih dalam posisi seperti tadi, begitu pula dengan Shikamaru dan Ino. Sakura yang sudah tidur di dalam dekapan Sasuke, sedangkan Sasuke masih terjaga seolah melindungi Sakura dari mimpi buruknya. Sakuya yang melamun di sisi jendela sambil menggenggam tali berwarna biru. Tali itu adalah tali pita yang dia gunakan untuk mengikat rambut Neji dulu. Sedangkan Hinata menatapi potongan rambutnya yang tersimpan di laci.

"Aku bersumpah akan membalaskan dendammu, Nii-san… walaupun harus melawan ayah sekalipun," gumam Hinata sambil menghapus air matanya.


A/N : first of all, aku mau ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk kalian yang mengikuti fict ini sampai pada batasnya kesanggupan Raffa :D

terima kasih buat dukungan kalian, terima kasih untuk review-review kalian yang sangat menghibur, aku tahu fict ini ngga akan semenarik kemarin-kemarin karena sekarang aku sendiri yang ngerjain project ini, aku harap kalian masih mau terus ngikutin fict ini sampai habis (kalau ngga mau sih gpp, hehehee)

sebenernya pengen sih ngucapin satu persatu, tapi kebanyakan hehehehe, yang jelas untuk SEMUA anak-anak FFN yang mengucapkan bela sungkawa, aku ucapin sekali lagi terima kasih dan terima kasih juga untuk dukungan kalian untuk aku :D

Terima kasih untuk Suu yang masih mau gambarin karakter2 fict LOVE dan selalu ada untuk aku waktu kemarin aku nge down (untung ngga mati saya) hahahaha, dan buat isty juga yang selalu ngayomin aku kalau aku mulai depresi lagi, dia juga yang nge beta fict ini. thank you both of you...

makasih buat Laura yang cerewet kalau di twitter :D, Eka yang cerewet di FB, Icha, ningz, defbra, Kevin, Alp, Ratna, Maria, guntur, Sandra, Akina yang selalu nongol di wall FB aku :D makasih yah kalian, berkat adanya kalian pikiranku ngga kemana-mana dan stay focus pada wajarnya. (yang ngga kesebut maaf yah)

Regard

V3Yagami