.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

"Menma?"

"Hhmm, sepertinya…" Menma sejenak memberi jeda pada ucapannya dan memperhatikan sosok Naruto yang kini berada di hadapannya dengan seksama, kemudian kedua matanya berhenti pada wajah Naruto… mungkin lebih tepatnya pada mata Naruto, "Keadaanmu tidak terlalu baik, nii-san."

"Ke-Kenapa kamu…" wajah Naruto memucat ketika melihat sosok yang kini berdiri sambil melipat kedua tangannya. Sosok yang dulu sangat akur dengannya, bahkan mereka tidak bisa dipisahkan.

"Apa mereka tahu?" potong Menma dengan wajah senyumnya yang licik, "Tahu kalau kau dulu salah satu bagian dari kami."

"HENTIKAN! Kalian tidak ada hubungannya lagi denganku, aku memutuskan untuk keluar dari lingkungan kalian, jangan libatkan aku, jauhi kau!" bentak Naruto.

"Dan~" ucap Menma mengabaikan bentakan Naruto, "Apakah wanitamu itu tahu asal-usulmu?"

Mata Naruto terbelalak ketika mendengar Menma mengucapkan 'wanitamu' pikirannya langsung fokus pada Karin, "Jangan libatkan Karin," ucap Naruto.

"Dia sangat cantik, warna rambutnya pun menyerupai ibu… ibu yang meninggal dunia karena stress akibat kaburnya dirimu dulu," utar Menma sinis.

"Kalau kau ingin balas dendam, limpahkan padaku, jangan ganggu dia!" geram Naruto.

"Oh tenaang~ aku tidak akan mengganggunya kok," ucap Menma menyeringai licik, "Aku lebih tertarik pada si pinky yang seksi itu."

Melihat seringai yang Menma tunjukkan itu membuat Naruto berpikiran buruk. Bedanya Menma dan dirinya walaupun mereka kembar adalah, Menma lebih bisa melakukan hal yang nekat dan sangat berani melakukan apapun tanpa berpikir lebih dahulu ketimbang Naruto. Saat Naruto sedang mematung, Menma membalikkan tubuhnya dan memakai topi yang dari tadi dia sangkutkan di celananya, "See ya, Brother."

.

.

"LAMA SEKALI!" teriak Karin.

"Sebentar lagi jam 7 dan Sakuya akan segera bangun," ujar Shikamaru yang melihat ke arah jam tangannya.

"Kenapa Naruto bisa lama begini? Tidak biasanya," kata Ino yang dari tadi memainkan rambutnya sendiri.

Sakura menatap Sasuke seolah memohon untuk menyusul Naruto.

"Kau memintaku untuk menyusulnya? Kau pikir Naruto bocah 5 tahun yang akan nyasar apabila ingin pulang?" ucap Sasuke memperjelas tatapan Sakura.

"Ayolah Sasuke-kun, aku khawatir tidak biasanya Naruto begini," pinta Sakura.

"Lakukanlah Sasuke, istrimu loh yang meminta" ledek Jiraiya.

"Kita tunggu sebentar lagi, kalau sampai jam 7 dia tidak datang-"

"Aku pulaang!" sapa Naruto tiba-tiba dengan wajah cengengesan.

Karin menghampiri laki-laki pirang itu sambil menggeram dan mencengkram bajunya, "Kau kemana saja! Kenapa kembali lama sekali!"

"Hehehe, maaf maaf, tadi aku tersesat di jalan," ucap Naruto yang membuat Sakura seolah mengatakan pada Sasuke 'sudah kubilang, kan'.

Begitu melihat ada yang aneh dari cengiran Naruto itu, Karin melepaskan cengkramannya dan menepuk pundak Naruto, "cepat mandi dan ganti baju," ucap Karin memelan.

Begitu Naruto sadar, ternyata seluruh orang yang ada di ruangan ini sudah memakai baju yang rapih, para wanita memakai warna gaun yang sama namun dengan model yang berbeda, dan yang laki-laki memakai suit formal.

Begitu Naruto sudah selesai mengganti pakaiannya, tepat bersamaan dengan Sakuya yang baru bangun tidur. Dia masih berjalan sambil memejamkan kedua matanya menuju dapur yang sudah di hias oleh para elite assassin. Sakuya membuka kulkas dan mengambil botol air kemudian meminumnya, masih belum sadar kalau sekelilingnya banyak orang dengan pakaian rapihnya. Jiraiya merasa gemas dengan Sakuya, kemudian membuat tindakan yang diluar dugaan.

Jiraiya mendekap wajah Sakuya sehingga Sakuya pikir dia di serang, dengan cekatan Sakuya memukul perut Jiraiya, memutar lengan dan menginjak pundak Jiraiya, "SIAPA KAU!" bentak Sakuya.

Begitu Sakuya sudah sangat sadar, dia melihat Jiraiya yang merintih di bawahnya dan suara tawa dari sekelilingnya.

"Selamat ulang tahun Sakuyaaaa!" ucap Sakura, Ino dan Karin sambil memeluk Sakuya yang masih bengong.

"Akhirnya umurmu bertambaaaah" ucap Ino sambil mengacak-acak rambutnya.

"Kau sudah bisa mulai menjalani kisah percintaanmu, aku bangga padamu," ujar Karin.

"Dan jangan lupa, pertama kali bagimu dengan laki-laki yang kamu cintai, okay," ujar Sakura.

Ucapan demi ucapan terlontar dari seluruh anggota Elite Assassin, sedangkan Sakuya hanya terdiam mematung oleh ucapan yang terdengar seperti suara gemuruh di telinganya itu. Sampai Tsunade menghampiri mereka yang sedang mengelilingi Sakuya, "Sepertinya dia bingung, Sakuya sebaiknya kau ganti pakaian yang sudah Karin sediakan nanti, sebentar lagi acaramu akan di mulai."

"Ah, i-iya," jawab Sakuya canggung.

Sakuya berjalan meninggalkan mereka semua, sesampainya di kamar wajah Sakuya memerah dan sedikit air mata keluar dari kedua bola matanya. Tangis haru yang menyebabkan wajahnya tersipu sambil bergumam, "Baru kali ini ada yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Sakuya setelah mama dan papa Sakuya meninggal."

Selagi Sakuya mengganti bajunya, Sakura langsung bergegas mengambil hp-nya dan menekan tombol hp itu, di tempelkan di telinganya, diikuti oleh Karin dan Ino yang mendekatkan telinga mereka ke telinga Sakura.

"Kenapa wanita itu sangat merepotkan sih?" gumam Shikamaru.

"Karena mereka senang mengurus hal yang tidak penting," jawab Sasuke.

"Hahaha, jangan begitu, mereka melakukan ini kan demi Sakuya juga," sambung Naruto dan itu membuat Sasuke makin menekuk wajahnya. Karena Sasuke sangat keberatan tadinya oleh kehadiran seseorang yang akan datang nanti.

Hinata hanya tersenyum melihat tingkah Sakura, Ino dan Karin yang sedang heboh ketika seseorang di sebrang telepon itu menjawab. Dan ekspresi mereka membuat Hinata sedikit terkekeh.

"Mulai menyukai mereka?" tanya Kakashi yang berada di sampingnya.

"Ng, kenapa dulu aku bisa berniat menghancurkan keluarga ini ya?" gumam Hinata.

"Kau banyak berubah menjadi jauh lebih baik, aku bangga padamu," ucap Kakashi sambil menepuk kepala Hinata dan itu membuat nona muda ini memerah wajahnya.

"Be-benarkah kau bangga?"

"Ya, sangat. Dan rambutmu, kau terlihat lebih segar sekarang," puji Kakashi.

"Terima kasih, ini nona Tsunade yang merapikannya."

Kakashi tersenyum melihat Hinata menjadi lebih lembut dibanding sebelumnya. Dampak kematian Neji memang sangat kacau bagi seluruh Elite Assassin, tapi dibalik kekacauan itu berbuah kepositifan yang terjadi di masing-masing anggota.

Sesudah Sakuya selesai memakai gaun berwarna ungu violet yang disiapkan oleh Karin, dia keluar dan menghampiri semua orang di ruang tamu. Dengan gaya rambut Sakuya yang kini di kuncir kuda kemudian cara jalannya yang pelan dan terkesan anggun itu membuat semua terpana.

"A-apa? Ada yang aneh?" tanya Sakuya sambil memperhatikan tubuhnya sendiri.

"Tidak, kau sangat cantik Sakuya," ucap Naruto.

"Te-Terima kasih, Naruto-nii juga keren," ucap Sakuya malu-malu.

"Nah, tunggu sebentar lagi sampai-"

Ting Noong

"Mereka datang," sambung Sakura saat ucapannya terpotong bel tadi.

"Siapa yang datang?" tanya Sakuya.

"Lihat saja nanti," jawab Ino yang mengedipkan sebelah matanya.

Saat Sakura kembali, mata Sakuya terbelalak ketika di belakang Sakura muncul beberapa gerombolan yang salah satu anggotanya membuat Sakuya salting.

"Aku sengaja mengundang mereka untuk memeriahkan acaramu," jelas Sakura.

Saat mereka datang, sasuke menghampiri salah satu di antara mereka, "Itachi-nii, apa kabar?" tanya Sasuke sambil menjabat tangannya.

"Baik, bagaimana latihan kalian?" jawab Itachi.

"Sangat lancar, Sakura sudah makin mahir," walaupun Sasuke menjawab pertanyaan Itachi, namun matanya kini melirik ke arah sosok laki-laki pirang yang sedang memperhatikan sosok Sakura yang sedang berbincang-bincang dengan Sakuya, Gaara dan Sasori.

"Temanmu itu, sudah bosan memiliki mata, hah?" geram Sasuke.

"Sasuke, ini acara Sakuya, jangan mengacaukannya, abaikan saja dulu," pinta Itachi.

Sementara itu Hidan menghampiri Deidara yang sedang berdiri dan… memang benar, dia sedang memperhatikan tubuh Sakura yang begitu seksi dengan mini dressnya ditambah rambutnya yang di sanggul ke atas. Mengingatkannya pada malam itu, walaupun Sakura mengira dirinya itu adalah Sasuke tapi malam itu tidak bisa dia lupakan.

"Berhentilah memandanginya, kau cari mati dengan Uchiha namanya," bisik Hidan.

Mengikuti saran Hidan, Deidara mengganti arah pandangannya pada sosok wanita berambut pirang. Adiknya yang sangat dia sayang dan lindungi dulu kini berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Membuat Deidara tersenyum bangga melihat perubahan Ino yang pesat itu. Merasa ada yang memperhatikannya, Ino menoleh dan memergoki Deidara yang sedang tersenyum lembut ke arahnya itu. Langsung saja Ino melangkahkan kakinya menuju Deidara.

"Kakak, apa kabar?" sapa Ino sambil memeluk Deidara.

Sedikit canggung, Deidara memeluk balik tubuh Ino, "aku baik, apa kamu senang berada di sini?"

"Sangat! Mereka benar-benar seperti keluargaku sendiri, kakak kenapa tidak ikut denganku saja sih? Aku yakin mereka mau memaafkan kesalahan kakak dulu," tanya Ino.

Deidara tersenyum sambil mengelus pipi Ino, 'masalah yang kubuat tidak se simple yang kau pikir, Ino.' "masih banyak yang harus kulakukan di luar sana, melihat kau baik-baik saja itu sudah cukup bagiku," ucap Deidara.

"Kalau begitu, sesekali hubungilah aku, kau satu-satunya keluarga kandungku, aku tidak mau kehilanganmu," gumam Ino.

"Bagaimana kalau aku yang menghubungimu?" sambung Hidan sambil tebar pesona di depan Ino, "Aku tidak kalah tampannya kok dengan pria-mu itu."

"Apa yang kau maksud itu aku?" sambung suara Shikamaru dari belakang Hidan.

"Waahh! Kau membuatku kaget! Jangan dibiasakan muncul tiba-tiba begitu! Nanas!" bentak Hidan.

"Kau saja yang tidak bisa merasakan kehadiran orang, minggir kau banci," ujar Shikamaru sambil menggeser tubuh Hidan dan menggandeng tangan Ino.

"APA KAU BILANG!"

"hahaha, sudah Hidan hentikan," cegah Deidara yang tertawa lepas.

"Adikmu dibawa pergi tanpa mengucapkan apa-apa padamu!" sewot Hidan.

"Tidak apa-apa, kita nikmati saja acara ini dengan santai selagi bisa, aku ingin melupakan semua masalah sementara dengan adanya pesta ini," ujar Deidara dengan ekspresi yang tenang.

Melihat Deidara yang seperti ini malah membuat Hidan khawatir, tidak biasanya Deidara bersikap seperti ini.

Sementara itu, sesudah Sakuya meniup lilinnya music di putar oleh Karin dan Naruto langsung menariknya ke tengah-tengah untuk berdansa. Tsunade yang sangat ingin dansa di tolak mentah-mentah oleh Orochimaru, hingga kini tsunade menarik-narik jas Orochimaru dengan paksa namun tetap di tolak. Karena kesal akhirnya Tsunade melangkah menuju Jiraiya yang sedang meminum sake di pojokan bersama Kakashi, melihat tujuan Tsunade, Orochimaru langsung menarik lengannya dan menuruti kemauan wanitanya itu.

Sasuke mengajak Sakura dengan gaya formalnya kemudian diterima oleh Sakura yang tersenyum pada kekasihnya itu. Sedangkan Ino dan Shikamaru memilih untuk duduk dan melihat mereka yang sedang berdansa. Sakuya sendiri hanya diam di samping kue ulang tahunnya yang tingginya melebihi pinggangnya sendiri itu.

"Apa kamu bersedia berdansa denganku?" tiba-tiba sosok laki-laki muncul di hadapannya sambil mengulurkan tangannya.

"Ke-Kenapa Sakuya harus berdansa denganmu?" ucap Sakuya ketus.

"Karena aku ingin berdansa denganmu."

"Sa-Sakuya tidak mau berdansa dengan panda-san," tolak Sakura yang menahan wajahnya yang memerah.

"Dan apakah aku boleh tahu alasannya?" tanya Gaara dengan sopan.

Sakuya terdiam, dia sadar akhir-akhir ini dia selalu ketus pada Gaara padahal Gaara tidak melakukan salah apapun, justru Gaara lah yang menenangkan dirinya saat kematian Neji, dan sekarang pun walau Sakuya ketus padanya, Gaara tetap bersikap sopan padanya, akhirnya Sakuya memutuskan untuk sedikit jujur dan ramah pada Gaara.

"Sa-Sakuya tidak bisa dansa," jawab Sakuya terbata-bata.

"Akan aku ajarkan caranya," ucap Gaara yang langsung menggenggam jemari Sakuya dan membawa gadis itu ke tengah-tengah. Melihat Gaara berhasil membawa Sakuya ke lantai dansa, Sakura, Karin dan Ino mengedipkan mata mereka, bertanda rencana mereka berhasil.

"Maaf," ucap Gaara sebelum dia meletekkan tangannya di pinggang Sakuya lalu menuntun tangan kiri Sakuya untuk memegang pundaknya.

"Akhirnyaaa," ucap Hinata sambil tertawa dari samping Kakashi.

"Mereka saling menyukai, hanya saja Sakuya masih terlalu kecil utnuk menyadari perasaannya," sambung Kakashi.

"Hahaha, iya, sewaktu aku meledeknya tadi malam pun dia menahan malunya habis-habisan."

Kakashi tersenyum di balik masker yang selalu dikenakannya itu. Kemudian dia meletakkan gelas sakenya dan menjulurkan tangannya pada Hinata, "Shall we dance? My lady."

Hinata yang melihat tangan Kakashi tersipu malu dan akhirnya tersenyum sambil menggenggam tangan yang besar itu, "My pleasure, sir."

Seiringnya pesta itu berlangsung dengan cepat, sesudah melakukan dansa bersama para pasangannya mereka kembali ke acara inti yaitu makan-makan. Di sana terlihat Sakura yang tidak menyentuh makanan apa-apa dan Sasuke yang memaksanya untuk makan. Hal itu membaut Tsunade tersenyum karena mengingatkannya pada Orochimaru saat pertama kali Tsunade tidak nafsu makan karena sakit. Sasuke benar-benar menjadi seperti Orochimaru kedua.

Saat sedang ditengah-tengah acara makan, Sasuke meletakkan piring dan membuka pembicaraan inti.

"Semuanya, dengarkan aku," ucap Sasuke tiba-tiba yang membuat semua menoleh ke arahnya, "aku akan mengumumkan sesuatu."

"Akhirnya kau memutuskan kapan menikah? Selamat Sasukeee!" teriak Naruto.

"Tidak, bukan itu," jawab Sasuke singkat.

"Ehm, aku dan Sasuke sudah memutuskan… untuk penyerangan balik pada Asuma," sambung Sakura sambil berdiri.

Mendengar topickitu, seluruh Elite Assassin dan White Organization memasang wajah serius, kemudian Sakura melanjutkan, "aku tidak mau mengambil keputusan sendiri makanya aku ingin bertanya pada kalian terlebih dahulu, bulan depan… bagaimana kalau bulan depan?"

"Aku bisa kapan saja," ucap Shikamaru.

"Ya, aku dan Naruto juga," sambung Karin.

"Sebelum itu, kita harus rencanakan strategi matang-matang," usul Itachi, "Karena kami bisa mengakses departemen kepolisian, jangan khawatir dengan system keamanan."

"Aku akan membantu Naruto memantau kalian," sambung Gaara dan di jawab oleh senyuman Naruto.

"Baiklah, kalau begitu sisanya langsung terjun ke medan perang," ujar Sasuke.

"Ah sebelum itu, Hinata bisa beri tahu kami desain detail mansion Asuma?" tanya Shikamaru.

"Ya, " Hinata mengambil kertas panjang dan pulpen lalu menggambarkan situasi juga denah mansion tersebut, "Di depan gerbang sini akan banyak sekali pengawal, dan cctv terpasang di setiap sudut."

"Itu bisa kumatikan," ucap Naruto.

"Dan begitu masuk ke dalam gerbang, kalian akan di hadapkan oleh tiga orang bertubuh besar, mereka mempunyai tenaga yang sangat kuat," lanjut Hinata sambil menunjuk pada kertas, "kalau kita berhasil mengalahkan mereka, kita dapat memasuki ruangan depan. Mansion ini bergaya rumah jepang kuno dan banyak jebakan yang terpasang di masing-masing ruangan."

"Bagaimana dengan lokasi Asuma sendiri?" tanya Shikamaru.

"Asuma baisanya selalu berada di kamarnya yang terletak di lantai dua sini," jawab Hinata.

"Selain itu?" tanya Shikamaru lagi.

"Tidak ada lagi, hanya beberapa pengawal yang akan menghadang kita… dengan jumlah yang sangat banyak tentunya," jawab Hinata.

"Baiklah, begini alurnya. Sakuya, Karin, aku dan Sasori akan melewati tahap pertama selagi Naruto mencoba mematikan system cctv di sana," jelas Shikamaru dan ditanggapi oleh anggukan dari mereka, "Hinata, setelah kami berhasil masuk kau dan Kakashi menyusul dan menerobos masuk ke dalam dan kenali beberapa jebakan di sana selagi kami melawan tiga orang yang bertubuh besar ini."

"Okay," jawab Hinata.

"Aku minta untuk Jiraiya-sensei dan Orochimaru –sensei untuk menjadi backingan kami melawan orang ini. Lalu untuk Tsunade-sensei, aku ingin anda dan Ino tidak terlalu ikut sering bertarung, karena kami sangat membutuhkan orang medis nantinya," jelas Shikamaru, "Sisanya, Sasuke, Sakura, Hidan dan Deidara, kalian menyerang masuk ke ruang Asuma."

"Lalu aku?" tanya Itachi.

"Kau, jangan sampai polisi datang mencegah aksi kita, hanya kau yang mengerti bagaimana cara melakukan itu," jawab Shikamaru sambil tersenyum optimis dan dijawab kembali oleh senyuman optimis dari Itachi.

"Baiklah kalau begitu, bulan depan aku bisa jamin untuk bisa menguasai apa yang Tsunade-sensei ajarkan padaku!" ucap Sakura dengan semangat.

.

.

Setelah pesta selesai, hari-hari pun kembali normal seperti semula. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak normal di kediaman Elite Assassin ini. Kemurungan Naruto dan Sakura. Saat ini Naruto sedang melamun di taman belakang, Karin yang melihat Naruto selalu melamun akhir-akhir ini menghampiri laki-laki pirang itu.

"Ada apa?" tanya Karin sambil memegang pundak Naruto dari belakang.

"Ah, tidak…" ucap Naruto ragu kemudian pandangannya kembali melamun, "Tidak ada apa-apa," gumamnya pelan.

"Kau bohong," tebak Karin.

Naruto menoleh pada Karin dan terlihat wajah cemas pada wanita itu, Naruto tersenyum dan menggenggam tangan Karin lalu menempelkan keningnya di lengan Karin, "Aku… bingung."

Karin hanya diam, menunggu kelanjutan kalimat apa yang akan di lontarkan oleh Naruto, "Harus dari mana aku memulai ini semua," kata Naruto melanjutkan.

"Memulai… apa?" tanya Karin bingung.

Naruto memejamkan matanya, masih dengan posisi awal. Bayangan Menma terus menerus teringat di kepalanya. Apa yang harus dia katakan pada seluruh anggota Elite Assassin tentang Menma? Tentang masa lalunya, tentang jati dirinya yang sebenarnya. Apa mereka akan memaafkannya? Masih mau menerimanya? Dan kini Naruto makin merasa bersalah ketika mengingat kalau Neji tidak sempat tahu siapa diri Naruto yang sebenarnya.

"Yah, hehehe… aku ini memang tolol," gumam Naruto.

"Naruto, aku serius… ada apa denganmu?" kini Karin mendorong tubuh Naruto sambil menatap matanya.

Naruto tersenyum dan tiba-tiba mengecup bibir Karin, "Ada yang harus kubicarakan padamu, pada kalian juga," ujar Naruto.

Sementara itu, Sakura yang kini melamun di ruang tamu sambil menghela nafas berkali-kali. Menunggu Sasuke yang sedang diajak oleh Orochimari pergi ke suatu tempat untuk melakukan pelatihan khusus. Saat itu Tsunade memperhatikan Sakura, wajahnya sedikit pucat dan sedikit lebih kurus di bagian pipinya.

"Sakura, kamu sakit?" tanya Tsunade.

"Ah, tidak kok, hanya saja aku tidak nafsu makan," jawab Sakura spontan saat mendengar suara Tsunade.

"Tapi wajahmu pucat," Tsunade berjalan dan memegang keningnya, "Tidak panas."

"Memang tidak, aku tidak sakit kok," ucap Sakura.

"Hhmmm, aku ingin bertanya padamu, ada yang aneh dengan gerakanmu saat kemarin aku mengajarkan gerakan terakhir itu, ada apa sebenarnya?"

"Gerakanku yang aneh? Maaf… aku tidak menyadarinya," ucap Sakura dengan nada pelan.

"Sakura…"

Untuk mencegah topik berlanjut, Sakura memutuskan untuk beranjak dai situ, "Ah, lebih baik aku siapkan beberapa senjata untuk nanti kita-"

Bruuk.

Mata Tsunade terbelalak ketika Sakura yang tadi berdiri sekarang terjatuh pingsan.

"SAKURAA!" dengan bergegas Tsunade mengangkat tubuh Sakura ke kamarnya.

Mendengar jeritan Tsunade yang lumayan keras tadi membuat para elite Assassin datang ke sumber suara. Sakuya yang sedang kebetulan ada di dapur langsung mengikuti Tsunade ke kamar Sakura.

"Mama-chan, ada apa dengannya?" tanya Sakuya cemas.

"Sakuya, ambilkan air hangat dan peralatan medis di kamarku, cepat!"

"Ba-Baik."

Sakuya dengan cekatan langsung pergi menuju kamar Tsunade, di waktu yang bersamaan Ino, Hinata, Shikamaru, Karin dan Naruto datang ke kamar Sakura sementara Kakashi menunggu di luar.

"Tsunade-sensei, apa yang terjadi dengan Sakura?" tanya Ino.

Belum Tsunade menjawab, Sakuya sudah datang kembali dengan peralatan medis yang Tsunade pesan itu. Tsunade langsung menditeksi detak jantung Sakura dan memeriksa tensinya. Mengecek beberapa denyut nadi. Saat Tsunade meletakkan stetoskop di perut Sakura, Tsunade terdiam dan menghela nafas.

"Ya Tuhan, aku pikir kenapa," hela Tsunade yang terlihat lega namun juga terlihat cemas.

"Apa yang terjadi?" tanya Karin.

Tsunade menatap para anak didiknya itu dengan wajah cemas, saat Tsunade akan menjawab… suara laki-laki muncul dari pintu.

"Apa yang terjadi? Kenapa semua berkumpul di sini?"

Sasuke.

Itu Sasuke, dan ini membuat Tsunade makin ragu untuk mengatakannya.

"Sakura? Ada apa dengan Sakura?" tanya Sasuke yang panic dan langsung menghampiri Sakura. Di ikuti oleh Orochimaru yang kini berdiri di samping Tsunade.

"Sakura… bangun!, kau kenapa?" panggil Sasuke.

"Engh~" perlahan Sakura membuka matanya, dan hal itu membuat semua merasa lega, "Loh? Sasuke-kun? Sudah pulang? Loh? Semua kenapa ada di sini?"

"Tadi kau pingsan, aku yang membawamu ke sini," jawab Tsunade.

"Pingsan?" ucap Sakura bingung.

"Jadi, kenapa Sakura bisa pingsan?" tanya Karin.

Tsunade terdiam sebentar, reaksi Tsunade sangat tidak wajar dan Orochimaru sangat tahu akan hal ini, karena dulu mereka pernah mengalami situasi yang sama.

"Sakura…" ucap Tsunade pelan dan ragu, "Kamu… hamil."

Pernyataan Tsunade cukup membuat keadaan kini menjadi sunyi. Dan lagi ekspresi Sakura yang sepertinya benar-benar kaget.

"Hamil?" tanya Sakura dengan nada bingung.

"Ya, kamu hamil… aku sarankan agar kau tidak ikut dalam rencana penyerbuan balik pada Asuma, kalau kau tidak mau kehilangan calon bayimu… dan bayi Sasuke," usul Tsunade.

"Tidak.. tidak, tidak! Aku harus ikut! Apa pun yang terjadi aku harus ikut dalam missi itu!" protes Sakura.

"Aku sebagai gurumu tidak mengizinkannya," tolak Tsunade.

"Kalau begitu pecat aku sebagai muridmu!" pinta Sakura.

"Sakura…" Sasuke berusaha menenangkan Sakura.

"Tidak bisa di negosiasi, kau harus diam di sini," ujar Tsunade tanpa memperdulikan ekspresi Sakura yang kini ingin menangis.

"Tidak mau! Aku ingin pergi, aku harus pastikan semua yang dikatakan Asuma itu benar atau tidak!" utar Sakura.

"Sakura, tenang," ucap Sasuke.

"Jangan suruh aku tenang! Bagaimana aku bisa tenang kalau begini! Apapun yang terjadi aku harus pergi!" jerit Sakura.

"Jadi ini sebabnya kenapa Sakura akhir-akhir ini bersikap aneh, mungkin karena hormone wanita yang sedang mengandung," gumam Shikamaru pada Ino yang sedang cemas melihat Sakura.

"Sakura… dia… pasti sangat bingung saat ini," gumam Ino balik.

"Yang lain, tolong keluar," perintah Tsunade.

Saat mereka semua sudah keluar, Tsunade menatap Sakura dengan tatapan tegas, "Aku tidak akan mengizinkanmu untuk ikut serta dalam missi, sebagai gurumu dan sebagai wanita yang pernah mengalami hal yang sama denganmu."

Sakura terdiam ketika Tsunade mulai menggenggam tangan Sakura dengan ekspresi pilu, "Dulu aku kehilangan calon bayiku saat aku bersi keras untuk mengikuti missi bersama Orochimaru dan Jiraiya."


A/N : eehhmmm. hanya ingin mengatakan *elah bahasanya baku bgt* cuma mau bilang maaf sama kalian semua kalo kali ini aku ngga jawab review2 kalian T_T maaf maaf dan maaf yah.

chapter depan udah masuk pertarungan inti... yang artinyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, jeng jeng jeeng jeeeeeng... Fict ini sebentar lagi akan tamaaaaat yeaaayyy! XD

dukung terus di chapter2 berikutnya yaaah nyonyah nyonyah dan tuan-tuan sekaliaaaan XD *raffa mode on*

dan maaf kalo typo bertebaran, motto saya : g ada typo g indah *plaaak

oke deh, see u next chap

cup cup muaaaahhH!

V3Yagami