.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Keadaan sunyi saat Tsunade menceritakan masa lalunya sebelum bertemu dengan para Elite Assassin dulu. Yang lain keluar namun bukan berarti mereka tidak mendengarkan cerita itu. Dan cerita Tsunade cukup membuat niat Sakura untuk terjun ke missi menjadi ragu. Beda dengan Sasuke yang langsung mengambil tindakan, seperti yang Tsunade katakan… Sasuke itu Orochimaru kedua.
"Aku tidak akan mengizinkanmu," ucap Sasuke.
"Apa?! Ta-tapi Sasuke-kun…"
"Tidak ada kata tapi, tidak ada protes dan tidak ada pertimbangan. Kau tunggu di sini, biar aku yang membalaskan dendam Neji… juga keluarga kita."
"Bukan! Bukan hanya itu yang ingin kulakukan, aku ingin memastikannya, masih banyak misteri yang membuatku mati penasaran!" sentak Sakura sambil mencengkram lengan Sasuke.
"Kalau aku sudah bilang tidak, maka hasilnya tidak! Kau diam di sini, tidak ada lagi latihan untukmu," jawab Sasuke tegas.
"Sasuke-kun! Aku mohoon~" pinta Sakura.
"Saat itu pun, Tsunade memohon padaku," kali ini Orochimaru yang ikut campur, sambil mendekati Sakura dan mengelus kepalanya, "Dan aku sangat menyesali keputusanku karena mengikuti ego-nya."
"Saat itu aku juga sangat menyesal," sambung Tsunade sambil menatap Sakura dengan tatapan miris.
"Tidak, kalian tidak mengerti… saat ini dan dulu berbeda, aku… aku… aku ingin memastikan apa benar Asuma adalah ayah kandungku," ucap Sakura dengan keadaan air mata yang sudah keluar dari emerald-nya.
"Tidak, aku tidak akan-"
"Sasuke-kun! Apapun akan aku lakukan untukmu, untuk kalian semua, tapi untuk yang satu ini aku mohon dengan sangat, izinkan aku! Aku mohon!" pinta Sakura yang memotong kalimat Sasuke.
Sasuke sendiri sebenarnya tidak mau terlalu mengekang Sakura seperti ini, tapi saat ini Sakura sedang mengandung anaknya… anak mereka. Sasuke memejamkan matanya dan menghela nafas.
"Hhhh, ada satu syarat," ucap Sasuke dan itu membuat Tsunade dan Orochimaru menoleh padanya. Sasuke melanjutkan, "Kau tidak boleh bertarung satu kali pun, kau berlindung di belakangku sampai kita sampai di ruangan Asuma, mengerti?"
"Tapi kalau ada yang menyerangku?"
"Aku pastikan tidak ada satu musuh pun yang akan menyentuhmu, deal?" usul Sasuke.
Sakura mengangguk, "Ng, deal."
Melihat Sakura yang benar-benar ingin ikut terjun ke medan peran itu membuat Sasuke stress, sementara Tsunade dan Orochimaru meninggalkan mereka berdua, Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan Sakura sangat tahu, itu adalah kebiasaan Sasuke kalau dia sedang stress atau resah akan sesuatu. Tidak perlu ditanyakan lagi apa yang saat ini Sasuke resahkan.
"Sakura, aku serius… kalau ada apa-apa nanti kau harus meneriaki namaku, dan tidak ada pertarungan dengan satu orang pun," pinta Sasuke.
"Aku janji Sasuke-kun, aku akan selalu di sampingmu saat penyerbuan nanti," jawab Sakura.
Sasuke mendekati Sakura dan memeluknya, "Kau tidak tahu… betapa bahagianya aku sekarang," gumam Sasuke yang kemudian melepaskan pelukannya lalu mencium perut Sakura, "Ayah akan menunggumu keluar, kamu baik-baik di dalam perut ibu ya."
Melihat Sasuke yang berbicara dengan calon anak mereka membuat Sakura tersenyum dan terkekeh kecil, "Mau kita namakan siapa?" tanya Sakura.
"Masih belum, jenis kelaminnya saja belum diketahui."
"Ah, aku berpikir… kalau anak ini lahir, bagaimana dengan Sakuya ya? Kamu tahu sendiri kan, dia menganggap kita seperti orang tuanya sendiri," kata Sakura.
"Ah, aku yakin dia bisa memakluminya, ah dan…" Sasuke merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda kecil yaitu liontin, "Hadiah untuk Sakuya yang kau pesan, tadi aku membelinya diperjalanan pulang. Sudah kau siapkan fotonya?"
"Ah sudah, sebentar," Sakura perlahan beranjak dari tempat tidurnya dan membuka laci di meja rias miliknya. Sakura menggunting beberapa bagian yang tidak perlu agar foto itu muat di dalam liontin berbentuk lingkaran dengan ukiran cantik di depannya.
"Aku juga menyiapkan foto Sakuya dengannya berdua," ucap Sakura.
"Hn, dia pasti senang, biar kau yang menyerahkan benda ini padanya," utar Sasuke.
"Baiklah, sepertinya mereka masih di luar," jawab Sakura sambil mengambil benda yang Sasuke tunjukan padanya.
Begitu Sakura keluar, Sakuya langsung berlari ke arahnya dan memeluk Sakura, "Mama-chan membuatku khawatir setengah mati," gumam Sakuya.
Sakura tersenyum dan membelai kepala anak itu, "Sakuya, aku belum memberimu hadiah ulang tahun, ini terima lah, Sasuke dan aku memilihkannya untukmu," ujar Sakura sambil melingkarkan liontin panjang itu di leher Sakuya.
Begitu Sakuya lihat dan membuka liontin tersebut, sudah terdapat dua foto di dalamnya. Satu foto Sakuya bersama Elite Assassin, yang satu lagi foto Sakuya hanya dengan Neji. Begitu melihat foto tersebut Sakuya terdiam, rasa rindu dan sedih kembali menyelimuti hatinya.
"Neji… akan selalu ada di hati kita," ucap Sakura sambil menepuk kepala Sakuya.
Sakuya tersenyum dan mengangguk pelan sambil menggenggam liontin yang kini sudah menggantung di lehernya. Ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah Sakuya miliki.
.
.
Ke empat sosok yang kini telah berkumpul di tempat pelatihan memasang wajah yang sangat serius. Tsunade melipat kedua tangannya sambil bersender di tembok, Orochimaru duduk bersender di lantai, Jiraiya menolak pinggang dan berdiri di samping Kakashi yang sedang menunggu jawaban Tsunade.
"Kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?" tanya Kakashi sekali lagi.
"Kau bertanya padaku apakah memungkinkan Sakura ikut dalam missi atau tidak? Sudah tentu jawabnku tidak!" jawab Tsunade.
"Aku yakin Sakura keras kepala dan tetap ingin ikut," tebak jiraiya.
"Jangan sampai ke egoisannya menghalangi rencana Elite Assassin," utar Kakashi.
"Aku harus bicara dengan Sasuke, dia harus membujuk Sakura agar mengurungkan niatnya," ucap Tsunade.
"Percuma, Sasuke tidak akan bisa melawan ego seorang wanita yang sedang hamil," sambung Orochimaru.
"Pengalaman, eh?" sindir Jiraiya yang langsung di death glare oleh Tsunade.
"Dia sangat ingin tahu tentang kebenaran apa yang Asuma katakan, Jiraiya! Asuma sahabatmu bukan? Yang akan kita serbu ini adalah sahabatmu, tidak mungkin kau tidak tahu apa-apa tentang semua ini," sewot Tsunade.
"Yaa, kami sahabat minum bersama, bukan berarti aku harus tahu segalanya tentang dia kan?" jawab Jiraiya.
"Kau dari dulu selalu begitu, selalu memberi kesan pada kami kalau kau terhubung dalam sesuatu yang misterius, sama seperti saat itu!" kini Tsunade kehilangan kendali emosi, "Apa yang kau ketahui tentang Sakura yang kami tidak ketahui!"
Jiraiya membalikkan tubuhnya dan berbicara seolah menganggap pertanyaan Tsunade tadi adalah lelucon, "Mana mungkin aku tahu sesuatu, kita sama-sama menemukan Sakura malam itu kan?"
"JANGAN BOHONG! Kenapa sih kau tidak pernah mau jujur sekalipun pada kami!"
"Tsunade hentikan," potong Orochimaru sambil beranjak dari duduknya, "Apapun yang Jiraiya lakukan, aku yakin dia punya rencana sendiri," lanjut Orochimaru yang mengetahui… ekspresi apa yang Jiraiya pasang saat ini ketika dia membelakangi rekan-rekannya.
Ekspresi pilu yang selalu Jiraiya sembunyikan dari mereka. Jiraiya sangat tahu siapa Sakura, saat malam itu…. Malam yang disiram air hujan deras dan bau darah yang anyir. Sekali melihat, Jiraiya sudah sangat tahu siapa Sakura sebenarnya, karena wajah dan warna rambut Sakura itu sangat mirip dengan wanita yang sangat Jiraiya cintai dulu, wanita yang dulu sangat Jiraiya lindungi mati-matian, namun pada akhirnya jatuh ke tangan pria lain.
Begitu Jiraiya keluar dari ruang pelatihan tersebut, dia memergoki Sakura yang sedang berusaha membawa pedang ke taman belakang. Jiraiya tersenyum lembut pada sosok Sakura dan menghampirinya perlahan. Saat Sakura akan mengayuhkan pedang itu, dengan lembut Jiraiya merebutnya.
"Sebaiknya kau istirahat, Sakura," ucap Jiraiya sembari mengambil pedang yang Sakura genggam.
"Jiraia-sensei? Kau mengagetkanku," ujar Sakura.
"Nah, apa yang mau kau lakukan? Berlatih? Sudah cukup, nanti kesehatanmu terganggu."
"Tapi aku harus! Aku ingin jadi lebih kuat," jawab Sakura.
Jiraiya tersenyum dan menepuk kepala Sakura, "Kau benar-benar mirip dengannya."
"Eh? Mirip dengan siapa?" tanya Sakura bingung.
Jiraiya tidak menjawab, dia hanya memberikan senyuman lembut pada Sakura, "Bolehkan aku memelukmu?" tanya Jiraiya lembut.
"Tentu," jawab Sakura ceria yang langsung memeluk Jiraiya.
Saat Jiraiya memeluk tubuh Sakura, teringat jelas wajah sosok wanita berambut pink panjang yang sedang tersenyum padanya. Sosok wanita itu tersenyum, cemberut, tertawa dan marah. Semua ekspresi wanita itu terlintas di benak Jiraiya, "Andai saja aku lebih cepat mengambil tindakan," gumam Jiraiya.
"Hm? Sensei bilang apa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Kau sudah seperti anakku sendiri, jaga calon bayimu ini baik-baik, Sakura."
Jiraiya melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Sakura yang sedang bengong membatu.
.
.
Di sebuah ruangan yang gelap, pemuda yang diketahui bernama Menma sedang memainkan video game dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Begitu pintu terbuka, "Menma, sampai kapan kau akan di sini?" tanya sosok laki-laki berkaca mata.
"Sampai aku menyelesaikan game ini, kau jangan menggangguku Kabuto," jawab Menma.
"Asuma memanggilmu."
Mendengar hal itu yang tadinya Menma sibuk dengan jari-jari yang memencet tombol di controller kini dia hentikan kegiatannya.
"Aku nyalakan lampunya yah," ucap Kabuto.
"JANGAN!" bentak Menma, "Jangan sekali-kali kau nyalakan lampu kamarku!"
"Baiklah, kalau begitu cepat, Asuma menunggumu," ucap Kabuto yang langsung menutup pintu kamar Menma.
Begitu Kabuto sudah benar-benar pergi, Menma menendang console game-nya dengan emosi yang tidak wajar lalu menyalakan lampu-lampu kamarnya yang bisa dibilang sangat luas itu. Begitu keadaan menerang, terlihat di sekeliling temboknya terdapat foto-foto Sakura. Dari Sakura kecil sampai terakhir kali Sakura keluar dari mansion. Menma menghampiri salah satu foto Sakura yang terdapat di balik pintu kamarnya, foto dimana Sakura seolah tersenyum lembut padanya. Menma pun ikut tersenyum… tapi lebih menjurus seperti menyeringai.
"Sebentar lagi… mungkin kita akan bertemu… Sakura," ujar Menma sambil mencium bibir di foto Sakura.
Menma keluar dari kamarnya dan menguncinya sebelum pergi meninggalkan ruangannya. Karena dia tidak mau sampai ada yang tahu tentang dirinya yang bisa dibilang stalker itu. Sesampainya di ruangan Asuma, Menma memasang wajah dingin.
"Kenapa wajahmu begitu? Kau ini tidak pernah ramah yah padaku," ucap Asuma ketus.
"Apa maumu?" tanya Menma.
"Jangan begitu Menma, kau tidak mau kan ayahmu bernasib sama dengan ibumu? Sopanlah sedikit padaku," ujar Asuma sembari menyalakan rokoknya.
"Tidak ada kata sopan di kamusku terhadap orang yang menelantarkan putrinya sendiri!" geram Menma.
Asuma menghembuskan asap rokoknya ke atas dan tertawa, "Hahahaha, kau tahu… ada berita bagus untukmu, untukku dan untuk kita semua… kalau saatnya tiba, dan kalau anak itu mau mendengarkanku… aku akan menikahkanmu dengannya, bagaimana?"
Mata Menma terbelalak mendengar ucpan Asuma, "A-Apa maksudmu?"
"Jangan kau pikir aku tidak tahu, kau sudah lama jatuh cinta dengan Sakura kan? Jauh sebelum kakakmu itu ditemukan oleh mereka," tebak Asuma licik, "Karena itu kau sangat membenci kakakmu, karena kakakmu… ibu yang sangat kau cintai itu mati, ditambah lagi wanita yang kau cintai itu lebih peduli pada kakakmu, bahkan melupakan dirimu."
"DIAM!"
"Hahahahaha, kembalilah ke kamarmu, aku hanya ingin member tahumu itu saja," ucap Asuma sambil mengibas-ibaskan tangannya.
Menma pergi dengan wajah yang mengeras, keluarnya dia dari ruangan Asuma… Menma mengepalkan tangan kanannya dan meninju salah satu patung yang terpajang di lobby hingga hancur, "Naruto-nii, akan kubunuh kau!"
.
.
Hari demi hari pun berlalu, selama Sakura disuruh mempelajari teori-teori tekhnik bertarung oleh Tsunade, para Elite Assassin yang lain terus berlatih di ruang pelatihan… kecuali Sasuke. Saat yang lain sedang berlatih mati-matian, di mansion ini tidak ada sosok Sasuke sama sekali, dan Sakura pun terlihat tenang-tenang saja sambil membaca buku yang diberikan oleh Tsunade tentang tekhnik bertarung. Sampai suara mobil terdengar tepat di depan pintu mereka, dan keluar sosok Sasuke yang ngos-ngosan dengan membawa satu ekor… anjing?
"Ah, Sasuke-kun selamat datang, bagaimana?" tanya Sakura dengan senyum polosnya.
"Ya, ini sudah yang ke lima kalinya kau menolak semua jenis anjing untuk di pasangkan oleh Kyo, apa yang ini sekarang sesuai dengan kriteriamu?" tanya Sasuke sambil menunjuk anjing Doberman jenis betina yang sedang duduk di belakang Sasuke.
"Ah, yaaa, ini baru cocok!" jawab Sakura riang.
Sasuke dan Tsunade hanya saling tatap dengan pandangan aneh, memang apa bedanya dengan anjing-anjing yang dari tadi Sasuke bawa? Sasuke membawa empat jenis anjing yang sama dari tadi namun selalu Sakura tolak, sampai yang kelima kalinya Sasuke harus mencari sampai ujung Shibuya, barulah Sakura bisa menerima anjing yang akan dipasangkan dengan Kyo. Apa wanita hamil memang semengesalkan ini?
"Kyoo, aku membawakan pasangan untukmuuuu," ucap Sakura menuju kandang Kyo yang terletak dekat dengan ruang pelatihan.
Ino melihat Sakura yang sedang membawa anjing Doberman hitam dengan wajah berseri-seri, kemudian dia bertanya pada Shikamaru, "Sakura… bukannya dia sudah punya anjing?"
"Yah, katanya karena dia sedang hamil, dia jadi kepikiran tentang Kyo yang tidak mempunyai pasangan, dan katanya dia berpikir Kyo juga pasti ingin mempunyai anak. Jadi terjadilah hal ini," jawab Shikamaru.
"Yang lebih kasian lagi Sasuke, dia harus mencari ke beberapa tempat untuk membeli anjing yang sesuai dengan kriteria Sakura-chan," sambung Naruto.
"Hahahaha, bagaimana tampang Sasuke sekarang yah?" ucap Karin sambil menyeka keringatnya.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau Sakura sudah mulai meminta yang macam-macam," sambung Hinata yang ikut berkumpul dengan mereka.
Di saat yang lain menggosip, Sakuya hanya memandangi mereka dengan senyuman lembut. Dia berpikir ini adalah keluarganya yang baru, keluarga yang menerima dia apa adanya, apalagi sebentar lagi dia akan mempunyai adik. Saat sedang memperhatikan kakak-kakaknya, tiba-tiba Sakuya teringat pada sosok Gaara yang selalu baik padanya. Kemudian Sakuya menoleh pada Ino yang sedang membersihkan keringat Shikamaru memakai handuk, lalu pada Naruto yang memberikan botol minum kepada Karin. Perlahan Sakuya membayangkan kalau hal itu terjadi pada dirinya dan Gaara.
Sakuya menggelengkan kepalanya, dia melamun dan memejamkan matanya. Ini bukan waktunya untuk memikirkan perasaan seperti itu, Sakuya berpikir harus fokus untuk membalaskan dendamnya untuk Neji. Namun Sakuya sangat penasaran dengan perasannya pada Gaara ini, setiap kali mengingat Gaara, dada Sakuya merasa seperti sesak dan debaran tak menentu.
Selesainya mereka berlatih, mereka kembali ke kamar masing-masing setelah itu mereka berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Semua hadir kecuali para pelatih mereka yang memang ada saatnya mereka pergi ber empat tanpa di ikuti oleh murid-murid mereka. Saat makan malam, Sakura melihat wajah Sakuya yang akhir-akhir ini terlihat lesu. Akhirnya setelah makan malam selesai, para Elite Assassin kembali ke kamar masing-masing. Sakuya melepas rambut yang akhir-akhir ini sering dia ikat itu dan meletakkan pita di atas mejanya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, Sakuya menaiki kasurnya dan memeluk kedua lututnya. Entah kenapa dia begitu merasa sepi, dulu sebelum tidur dia pasti akan mampir ke kamarnya Neji untuk menjahilinya. Saat Sakuya tersenyum pilu, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Sakuya beranjak dari kasur dan membuka pintu, ternyata…
"Sakuyaaa~"
Sakuya hanya bengong melihat Sakura, Ino, Karin dan Hinata yang langsung masuk ke kamarnya dengan pakaian piyama. Ino membawa majalah wanita, Karin membawa cemilan, Hinata membawa minuman dingin dan Sakura membawa bantal-bantal kecil dan beberapa es krim.
"Hari ini kita akan mengadakan yang namanya acara 'girls talk'," ucap Ino.
"Dan kita akan membahas semua pembicaraan tentang wanita, Hinata tolong tutup pintunya," ucap Sakura sambil memposisikan dirinya di atas kasur Sakuya.
"Ayo Sakuya, sini… " Karin menarik lengan Sakuya dan mendudukannya di kasur, kemudian Karin mengambil sisir dan menata rambut Sakuya, "Rambutmu sudah panjang yah."
"Biasanya wanita yang sedang jatuh cinta itu pasti akan memanjangkan rambutnya loh," ucap Sakura sambil membuka salah satu es krim yang di bawa olehnya.
"Eh? Sakura, waktu kau jatuh cinta dengan Sasuke rambutmu bukannya sudah panjang?" tanya Karin.
"Hahaha, aku bahkan lupa kapan aku jatuh cinta padanya," jawab Sakura sambil memasukkan suapan pertamanya.
"Wanita jahat," ucap Ino yang melepas kuncirannya sendiri, "Jadi, kapan pertama kali hubunganmu dengan Sasuke resmi?" tanpa basa-basi lagi topik mereka pun langsung pada intinya.
"Ehm, aku lupa… dari dulu aku dan Sasuke memang sangat dekat, dekat juga dengan Itachi-nii. Aku tidak tahu kapan resminya yang jelas saat pertama kali Sasuke menyatakan cintanya padaku itu saat pertama kali kita melakukan sex."
"Oh, saat Sasuke di beri obat perangsang itu?" tebak Karin mencoba mengingat.
"Hahaha, iya… salahkan Jiraiya-sensei dan Kakashi-sensei," ucap Sakura, "Ngomong-ngomong tentang Kakashi-sensei, sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga pada sosoknya."
Spontan seluruh mata langsung menuju pada sosok Hinata, bahkan Sakuya yang kini rambutnya sedang di sisir oleh Karin. Hinata yang merasa di perhatikan langsung mem-blushing, "A-Apa? Kenapa semua menatapku?"
"Hyuuga Hinata, yang awalnya ingin menghancurkan Elite Assassin kini berubah bergaung dengan mereka, dan yang tadinya ingin memisahkan Sasuke dan Sakura, kini jatuh cinta pada pengawal pribadinya sendiri atau bisa dibilang pada salah satu guru kita," ucap Karin panjang lebar, "Benar kan?"
"Ja-Jangan mengambil kesimpulan sendiri!" sewot Hinata sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahahaha,dia malu-malu," ledek Ino.
"A-Aku tidak malu-maluu!" bentak Hinata dengan wajah yang memerah, "Kau sendiri, aku selalu memergoki kamu mesum dengan Shikamaru."
"Oh wajar dong, kami kan sepasang kekasih, lagi pula Shikamaru itu sangat hebat, dia bisa membuatku begitu nyaman di tangannya," ucap Ino dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Ah, aku tahu, Shikamaru sering konsultasi dengan Sasuke soal itu," ucap Sakura.
"Oh ya? Kalau di ranjang, bagaimana perlakuan Sasuke padamu?" tanya Ino.
"CUKUP! Ada anak di bawah umur! Kalian bagaimana sih," tegur Karin.
"Ahahahaa, iya maaf maaf," ucap Sakura dan Ino bersamaan.
"Nah, Karin! Bagaimana hubunganmu dengan Naruto?" tanya Hinata langsung.
"Apanya? Biasa saja, dia tetap menyebalkan!" jawab Karin ketus.
"Tapi aku suka melihat hubungan kalian," ujar Sakura yang membuat Karin sedikit memberhentikan kegiatannya, "Kalian seperti saling mengisi satu sama lain," lanjut Sakura sambil tersenyum.
Karin terdiam sejenak.
Saling mengisi?
Ya, mungkin Sakura benar, karena itu Karin bisa lebih terbuka dengan Naruto. Mereka sama-sama mencintai orang yang sama.
"Ah, ngomong-ngomong soal Naruto, waktu aku belanja baju, aku bertemu seseorang yang mirip sekali dengannya, hanya beda di warna rambut dan… mata," ucap Karin.
"Rasanya dulu aku juga pernah bertemu, tapi warna rambut mereka sama, hanya warna mata mereka yang berbeda… aku rasa, dan sifat mereka," ucap Sakura sambil mengemut es krimnya.
"Kalian bertemu dimana?" tanya Karin.
"Itu sudah lama sekali, jauuuh sebelum aku bertemu Naruto," jawab Sakura, "Nah sekarang… Sakuya-chan," panggil Sakura dengan nada manja.
"Ya?"
Sakura tidak melanjutkan kata-katanya, hanya tatapan penasaran yang terlihat di wajahnya, begitu juga dengan yang lain begitu Sakuya memperhatikan wajah para kakak-kakaknya itu.
"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Sakuya canggung.
"Aku melihatmu dengan Gaara berdansa dengan mesranya, apa kau tdiak mempunyai perasaan yang khusus padanya?" tanya Ino.
"…" Sakuya termenung dengan wajah sendu.
"Eh? Maaf, aku salah ngomong yah?" ucap Ino dan Sakuya menggelengkan kepalanya.
"Sakuya… bingung," akhirnya Sakuya menjawab.
Selagi Karin menyisir rambut Sakura dan menggulung-gulung rambur Sakuya sehingga menjadi sedikit ikal, Sakuya melanjutkan ucapannya, "Setiap kali Sakuya melihat Gaara-san, Sakuya merasa aneh… dada Sakuya terasa sesak, baru kali ini Sakuya rasakan hal seperti ini… apalagi kalau Sakuya mengingat betapa baiknya Gaara-san pada Sakuya… jantung Sakuya berdebar sangat cepat…"
Sakura tersenyum lembut dan mengambil sebuah cermin sedang yang terdapat di meja Sakuya, "Kau tahu Sakuya, apabila seorang wanita sedang jatuh cinta, mereka akan memancarkan kecantikan yang luar biasa, apalagi saat dia membicarakan orang yang dia cintai itu dengan wajah seperti ini," ucap Sakura yang mengarahkan cermin itu pada wajah Sakuya.
"Dan apabila wanita sedang jatuh cinta, wajahnya akan terlihat sangat cantik," sambung Karin yang menggerai rambut Sakuya yang menjadi ikal ke depan.
"Selamat, kamu sudah jatuh cinta, Sakuya," ucap Ino dengan lembut.
"Jatuh cinta? Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat atau tidak, tapi sekarag aku harus fokus pada balas dendam Neji-nii yang-"
"Neji pasti bangga padamu, aku berani jamin itu," potong Sakura, "Yang harus kamu lakukan sekarang adalah jujur pada perasaanmu sendiri, jangan sampai kau menyesal pada akhirnya."
"Kamu tidak perlu khawatir kalau Gaara tidak meresponmu, karena dia sudah terjerat olehmu," sambung Hinata.
"Ba-Bagaimana kalian bisa yakin?" tanya Sakuya bingung.
"Karena kami ahlinya," jawab mereka berempat yang membuat Sakuya akhirnya tersenyum.
Sakura merasa lega akhirnya Sakuya bsia kembali tersenyum seperti Sakuya yang dulu. Dan Sakuya sendiri merasa sangat bersyukur bisa bergabung dengan mereka. Keluarga tidak sedarah yang begitu perhatian dan saling peduli satu sama lain. Membuat Sakuya ingin melindungi mereka sekuat tenaganya.
"Terima kasih, semuanya."
.
.
Hari berganti hari terlewati, kini para Elite Assassin sedang berkumpul di ruang utama, berpakaian serba hitam dengan jenis yang berbeda-beda. Sasuke mengisi dan memutar phyton-nya, Karin memastikan bahwa sniper rifle-nya terisi peluru dengan penuh, Sakuya merenggangkan otot-ototnya dengan gaya rambut yang kini di kuncir kuda, Shikamaru memakai sarung tangannya dan Ino memakai jaket hoodie hitamnya.
Sebelum mereka pergi meninggalkan mansion untuk bertemu W.O di luar sana, Sasuke memastikan sesuatu.
"Naruto," panggil Sasuke, "Pastikan missi kali ini berhasil, awal ini semua bergantung padamu dan Gaara," ucap Sasuke yang melihat Naruto dengan laptop dan beberapa layar di ruangannya.
"Beres! Serahkan padaku," jawab Naruto.
"Gaara, aku mohon kerja samamu," ucap Sasuke.
"Kulakukan sebisa mungkin," jawab Gaara yang sudah stand by di tempat.
"Kalau begitu-"
"Tunggu dulu," Sakuya mengelak dan menghampiri Gaara, "Setelah missi ini selesai, ada yang ingin kusampaikan padamu," ucap Sakuya malu-malu.
Gaara tersenyum dan membuka belt kecil yang melingkar di lengan jubah putihnya, di ikatkan belt kecil itu di pergelangan Sakuya seolah seperti gelang jimat keberuntungan, "Kau harus kembali," ucap Gaara yang membuat Sakuya memerah.
Sakuya tersenyum dan mengangguk.
"Kami berangkat," pamit Sakuya.
"Loh? Mana Sakura?" tanya Sasuke pada Elite Assassin yang sudah berkumpul di luar.
"Aku di sini," jawab Sakura dari belakang mereka.
Begitu Sasuke menoleh, Sakura mengenakan celana pendek hitam, sepatu kets hitam dan di tambah balutan seperti yukata mini untuk menjadi atasannya yang berwarna hitam, dan yang membuat Sasuke terkejut adalah bukan senapan yang Sakura bawa.
"Katana?" tanya Sasuke bingung.
"Aku memutuskan untuk menggunakan katana," ucap Sakura.
"Ingat perjanjian kita, tidak menyerang satu musuhpun, aku izinkan kamu membawa senjata untuk jaga-jaga, bukan untuk menyerang, mengerti?" ucap Sasuke protektif.
"Iya Sasuke-kun, aku mengerti," jawab Sakura, "Nah, bisakah kita berangkat sekarang?"
"Sudah akan di mulai, apa kau siap… Orochimaru?" tanya Tsunade pada laki-laki yang kini menguncir rambut panjangnya yang berwarna hitam itu.
"Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini," jawab Orochimaru.
"Baiklah, ayo berangkat."
A/N : naaah, maaf lagi yaah kalo ngga ada balesan review, insya allah chapter depan aku bales2in deh reviewnya (kalo masih pda mau sih :D)
nah, untuk yang ngga tahu cerita masa lalunya Tsunade, kalian bisa baca story mereka di accountnya suu yang judlnya elder's story
ini linknya
s/8562502/1/
okay?
dan maaf sekali lagi kalo banyak typo, cuma ngecek sekali soalnya XD
ah, Phyton itu semacam pistol jenis magnum tapi namanya phyton
sedangkan sniper rifle itu senapan yang bisa digunakan untuk jarak jauh maupun dekat :D
dan chapter depan... pertarungan akan dimulai :D
regards
V3Yagami
