.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Hening.
Dalam perjalanan menuju point meeting dengan W.O sangat hening di dalam mobil yang luas ini. Mungkin semua sedang menahan takut atau juga gelisah karena memikirkan peperangan yang akan terjadi sebentar lagi. Karena kali ini mereka bukan menghadapi misi seperti biasanya, misi kali ini adalah untuk menguak semua tentang kejadian sembilan tahun yang lalu. Shikamaru terus menerus memperhatikan wajah kekasihnya yang terlihat murung dan terus-menerus menghela napas.
"Kau takut?" tanya Shikamaru.
Ino menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Ada kamu… kenapa aku harus takut?"
Shikamaru membalas senyuman Ino dan menggenggam tangannya. Ino kembali merenung ketika Shikamaru tidak lagi menatap dirinya, dia termenung karena ucapan aneh dari seseorang yang terjadi kemarin, saat Ino memaksa kakaknya untuk menemui dirinya…
"Aku ingin bisa kita seperti dulu lagi, Kak."
Deidara tersenyum sambil menyenderkan tubuhnya di bangku taman yang kini mereka tempati. "Keadaan sekarang tidak semudah yang kau pikirkan, Ino."
"Kalau begitu denganku saja, kakak berhubungan baik denganku saja, bagaimana? Kakak tahu, 'kan, kau satu-satunya keluarga yang tersisa untukku," pinta Ino sambil menggenggam tangan Deidara.
Deidara tersenyum pada adiknya, dari dulu selalu begitu. Deidara pasti luluh oleh genggaman manis dari Ino yang sangat dia sayangi, tapi sekarang tidak lagi sama seperti dulu. Deidara melepas tangan Ino dengan pelan, "Ino… lebih baik kau pulang sekarang, sudah hampir malam."
"Uhm… baiklah," jawab Ino lesu, "kapan kita akan bertemu lagi?"
Deidara yang sudah berdiri menjawab tanpa menoleh, "Saat kita bertemu lagi, lebih baik kita bertingkah seakan kita tidak saling mengenal. Agar masing-masing bisa fokus dengan tugasnya, tanpa terikat tali persaudaraan yang terkadang bisa mengancam nyawa."
Mata Ino melotot dan langsung memeluk tubuh Deidara. "Aku tidak mau! Aku tidak mau berpura-pura tidak mengenal saudara kandungku sendiri!"
Deidara tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil membalikkan tubuhnya lalu menepuk kepala Ino, "Kalau aku terlahir kembali, saat itulah, aku mau kita hidup sebagai saudara yang normal."
Ingatan yang terlintas dalam benak Ino membuatnya mengerutkan kedua alisnya. Apa maksud ucapan Deidara kemarin? Kenapa sepertinya pertarungan ini akan menjadi sesuatu yang berakibat… fatal?
"Sampai," ucap Jiraiya yang mengendarai mobil.
Mereka sampai di sebuah tebing yang curam, di situ juga sudah berkumpul beberapa anggota W.O yang akan ikut serta kecuali Itachi yang kini sedang memanipulasi sistem keamanan di markas besar kepolisian.
"Jadi, di mana letak markas Asuma?" tanya Sasuke pada Sasori yang mengambil alih selama Itachi tidak ada.
"Kita harus melewati tebing yang curam ini dulu, lalu kita akan ke sana memakai kapal yang sudah kami sediakan," jawab Sasori.
"Markasnya di tengah-tengah laut?" tanya Sakura.
"Di pulau kecil lebih tepatnya," sambung Hinata.
"Ini perlengkapan untuk menuruni tebing ini." Sasori memberikan mereka satu per satu alat keamanan untuk menuruni tebing.
"Sebentar!" cegah Sasuke. "Sakura harus memakai ini? Melilit benda ini di perutnya dan menuruni tebing?!"
"Sasuke-kun, kita sudah sepakat," ucap Sakura dengan nada yang sedikit kesal.
"Tapi bagaimana kalau tali yang akan melilit tubuhmu ini menekan perutmu?!"
"Tidak akan aku ikat kencang, okay?"
"Kalau kau tidak ikat kencang kau akan jatuh!"
"Terus aku harus bagaimana?!"
"Sudah sudah sudah! Jangan bertengkar," potong Jiraiya, "biarkan Sakura turun dengan Tsunade yang menjaga keamanannya, apa kau puas dengan usulku?"
"…" Sasuke diam dan memalingkan wajahnya. "Terserah."
Semua mulai memasang pengaman pada diri mereka masing-masing. Sasori membantu Sakuya untuk memasangkan pengaman pada dirinya. Tidak usah heran kalau Sasori akan sering membantu Sakuya karena itu adalah permintaan dari Gaara. Ino melihat Deidara dan Hidan yang sedikit menjauh dari dirinya. Hidan berbicara normal dengan Karin begitu pula dengan Deidara, tapi kenapa dengan dirinya… Deidara tidak bisa berbicara selayaknya saudara biasa?
Sesampainya di bawah, mereka melepaskan pengaman dan menaiki kapal yang sudah dipersiapkan oleh W.O. namun ada satu orang yang tidak melanjutkan langkahnya untuk menaiki kapal tersebut, dan tindakan orang itu membuat seluruh orang menoleh padanya.
"Orochi-sensei? Ayo cepat naik," ucap Karin.
Orochimaru hanya menatap datar kapal tersebut. Di samping itu Tsunade yang berada di sampingnya hanya menahan tawa. "Maaf yah, Orochimaru ini takut naik kapal, apalagi dia mabuk laut," ucap Tsunade yang sukses membuat E.A tertawa menggelegar, bahkan Sasuke menahan tawanya sendiri.
"Bagus Tsunade, sangat bagus," gumam Orochimaru kesal.
Akhirnya dengan segenap hati, Orochimaru memberanikan diri untuk menaiki kapal tersebut. Hidan mulai menjadi nahkoda, Sakura dan Sasuke duduk bersampingan, di samping Sakura ada Sakuya yang sedang memainkan liontinnya yang terbuka itu, Ino menyenderkan kepalanya di bahu Shikamaru, Karin dan Hinata membicarakan bagaimana nanti mereka di sana, sementara Kakashi berdiri sambil menikmati angin malam. Sedangkan Tsunade dan Jiraiya menenangkan Orochimaru yang sedang menahan muntahnya.
Sasori memperhatikan Sakura dengan wajah cemas. Sakura belum tahu kalau Sasori dan Gaara adalah sepupu jauhnya. Dan lagi saat ini dia memergoki Deidara yang sedang memandangi Sakura lalu ke Ino, lalu kembali lagi ke Sakura. Begitu seterusnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sasori pada Deidara.
"Hmmff, tidak ada apa-apa," jawab Deidara sambil terkekeh.
Sebenarnya tadi Deidara sedang membayangkan, mungkin betapa bahagianya apabila dia bertemu Sakura terlebih dahulu dibandingkan oleh siapa pun. Lalu mereka menjalin hubungan serius dan hubungan Deidara dengan Ino tidak seperti ini. Dia, Sakura dan Ino hidup bahagia bersama… mungkin ditambah dengan pasangan Ino. Namun itu adalah khayalan Deidara yang sangat mustahil.
"Kapan kita akan sampai?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi… kau takut?" tanya Sasuke balik sambil menggenggam tangan Sakura.
"Ng, sangat takut," jawab Sakura pelan.
"Kau takut menghadapi pertarungan… atau takut kenyataannya?"
"Mungkin dua-duanya," gumam Sakura sambil memejamkan keduanya.
Mengingat Sakura yang sadis apabila melihat darah di zaman dulu, Sasuke pikir Sakura tidak takut untuk pertarungan. Yang wanitanya takuti itu adalah… Asuma.
"Ah, jangan lupa pakai ini." Kakashi memberikan benda seperti headset kecil yang menempel di telinga masing-masing dan sudah dilengkapi oleh microphone. "Sebentar lagi kita harus berkomunikasi dengan Naruto dan Gaara."
Saat mereka baru saja memakai peralatan komunikasi itu dan menekan tombol aktifnya…
"Haai haai haii! Akhirnya kalian mengaktifkan alatnya."
"Naruto-nii?" sapa Sakuya.
"Saat ini aku dan Gaara sedang mencoba mencari password keamanan mansion tersebut, Itachi sudah berhasil mengirimkan sistem jalurnya."
Saat mendengar Itachi sukses dalam tugasnya, semua tersenyum dan beberapa orang mengepalkan tangannya sambil mengucapkan 'bagus'.
"Ah, Sasori," kali ini Gaara yang berucap, "aku titip Sakuya padamu."
"Tenang saja, aku pasti menjaganya," jawab Sasori yang kini Sakuya sukses menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Sakura.
"Hinata-chan, sudah kau berikan pada mereka alat yang baru kau rangkai itu?" tanya Naruto.
"Ah, aku lupa. Maaf," ucap Hinata yang merogoh tasnya. Hinata mengeluarkan beberapa kalung dengan bentuk bulat di tengah-tengahnya, "Ini kalung dengan kamera di tengah-tengahnya, kamera ini akan aktif secara otomatis saat kalian mengenakannya, dan kamera itu akan terhubung dengan Naruto dan Gaara."
"Idenya Neji-nii?" tanya Sakuya pada Hinata.
"Iya, aku ingin ada unsur Neji dalam pertarungan kali ini," jawab Hinata dan dibalas senyuman oleh Sakuya.
Semua memakai kalung itu secara bersamaan, dan di posisi Naruto kali ini terlihat beberapa layar di ruangannya adalah sudut dari masing-masing anggota E.A maupun W.O.
"Sempurna," gumam Naruto yang menyeringai. Dan karena masing-masing kalung sudah ditentukan siapa yang akan memakainya, maka sesuai dengan layar yang sudah diberikan nama oleh Naruto, "Aku bisa melihat dari segi pandang Sakura- chan dan Karin, juga Sasuke."
"Jangan kau pergunakan alat ini untuk mesum, Naruto!" kata Karin ketus.
"Nyehehehehe, tenang saja Karin, aku akan gunakan alat ini hanya untukmu."
"NARUTO!" bentak Karin dengan wajahnya yang memerah.
Tibalah saatnya mereka akan memasuki pulau kecil di mana markas Asuma berada. Mereka turun dari kapal dan menatap tajam mansion yang lebih besar dari mansion E.A. saat mereka akan jalan mendekati gerbang.
"Tunggu!"
"Ada apa, Gaara?" tanya Sakura.
Tidak ada jawaban dari Gaara, beberapa detik kemudian, "Beres, silakan teruskan."
Entah apa yang Gaara lakukan tidak ada yang tahu. Yang jelas saat ini Naruto sedang menyengir lebar dan Gaara senyum menyeringai. Begitu mereka mendekati gerbang besar itu tiba-tiba gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya, membuat semua memasang kuda-kuda.
"Selamat datang di medan pertempuran," ucap Naruto yang ternyata sudah membobol sistem keamanan mansion tersebut bersama Gaara.
.
.
Teeeeeeet Teeeeeet Teeeeeeet!
"Penyusup! Ada penyusup masuuk!" teriak beberapa pengawal.
Kegaduhan terjadi tiba-tiba di mansion Asuma. Kabuto yang sedang mengutak-atik laboratorium langsung berlari keluar meninggalkan apa yang sedang ia kerjakan. Menma yang tadi berada di dalam kamarnya kini keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan Asuma dan Kurenai yang sedang tidur membuka mata mereka.
"Ada apa ribut-ribut begini?" gumam Kurenai.
"PENYUSUUUUUPP! SIAPKAN KEAMANAN! JAGA SEMUA POS MASING-MASING!"
Begitu Asuma medengar salah satu pengawalnya berteriak seperti itu, dirinya langsung bangkit dan memakai pakaiannya lalu menelepon seseorang. Begitu telepon itu diangkat, "KABUTO! JANGAN SEKALI-KALI KAU MENINGGALKAN LABORATORIUM! INI PERINTAH!"
Mendengar perintah tuannya, Kabuto kembali ke lab yang dia tinggalkan tadi. Asuma yang sedang memakai pakaiannya itu langsung menghidupkan beberapa layar monitor yang terdapat di kamarnya. Setelah tombol di dekat tembok ditekan, kamar tidur itu berubah menjadi seperti tempat dojo.
"Asuma?" panggil Kurenai yang juga memakai pakaiannya.
"Heh, bocah sialan," gumam Asuma saat semua layar monitornya mati total.
"Asuma? Ada apa ini? Kenapa di luar berisik sekali? Siapa yang bisa menyusup ke sini? Bukankah system keamanan di sini tidak bisa ditembus bahkan oleh polisi sekalipun?"
"Kurenai… siapkan senjata, kita kedatangan tamu mendadak hari ini," seringai Asuma membuat Kurenai langsung menangkap maksud ucapannya itu.
Asuma menekan salah satu tombol di dekat layar dan berucap, "Menma, bawa semua orang-orang yang sudah kita siapkan ke atas, dan biarkan para tikus berkeliaran sesuka mereka di dalam mansion ini."
Menma yang mendengar suara Asuma dari kamarnya langsung menjawab, "Tapi—"
"Tidak ada tapi, bikin mereka semua terpencar dan serang mereka satu per satu, dan ingat… jangan biarkan mereka hidup satu pun, kecuali… Sakura," ujar Asuma yang langsung memutuskan koneksinya.
"SIALAN!" gertak Menma sambil menendang bangku di hadapannya. Sebelum Menma melakukan perintah Asuma, sempat-sempatnya dia mengunci kamarnya agar tidak dapat dibuka oleh siapa pun dan meninggalkan kode pengaman di sana.
.
.
"Hehehe, siap untuk mempraktikkan apa yang kalian lakukan kemarin?" ucap Jiraiya saat melihat beberapa gerombolan orang yang akan menyerang dari sisi kanan dan kiri.
"Serang!" ucap Sasuke.
Karin melompat ke atas tembok dengan dinding yang menjadi penghalang, kemudian dia membidik sniper pada perkumpulan musuh-musuh yang menyerang teman-temannya lalu menembak kepala mereka satu per satu. Sasuke melawan satu per satu musuh yang menyerang sambil sesekali menembakkan phyton pada kepala atau dada musuh sambil melindungi Sakura yang dia tarik ke belakangnya. Sakuya dengan lincah melompat ke sana-sini hingga membuat lawan terkecoh oleh kelincahannya. Sesekali Sakuya membenturkan kedua kepala lawan satu sama lain dari atas dengan bahu lawan yang lain sebagai tumpuan untuk dia melompat.
Ino dan Tsunade tidak mengikuti mereka yang melawan musuh, karena mereka akan sangat membutuhkan medis nantinya. Orochimaru dan Jiraiya sangat kompak menghadapi lawan, tidak ada yang berubah dari dulu tentang mereka kalau sudah terjun ke medan pertarungan. Hinata mengandalkan Kakashi sebagai tumpuannya untuk menghadapi musuh. Saat Hinata menempelkan beberapa benda pada musuh….
"SEMUA MENUNDUK!" teriak Hinata.
Saat semua musuh kebingungan karena mereka yang tiba-tiba tiarap, beberapa tubuh dari lawan meledak hingga ledakan itu mengenai orang yang berada di dekatnya. Dengan hitungan detik Hinata menjatuhkan banyak lawan.
"Tindakan yang bagus," puji Kakashi sambil menepuk kepala Hinata.
Saat beberapa lawan mengundurkan diri, di situlah semua akan memasuki mansion.
"Tsunade-sensei dan Ino, kalian tunggu di sini," ucap Shikamaru.
"Baik," jawab Tsunade.
Ino menatap Deidara yang tidak menatapnya sama sekali, dengan memberanikan diri Ino berteriak, "Kalian semua harus kembali dengan selamat!"
Karin turun dari atas dan menepuk pundak Ino, "Mereka pasti selamat, juga kakakmu."
"Aku titip mereka padamu, Karin," ucap Ino dan Karin mengedipkan matanya sambil menyusul yang lain.
Saat Karin menyusul, Hinata dan Kakashi-lah yang sedang memimpin jalan karena mereka yang hafal dengan susunan mansion ini… selain Deidara tentunya. Tiba-tiba Hinata menghentikan langkahnya dan melemparkan batu ke lantai yang beberapa langkah lagi akan mereka lewati, dan benar saja dugaannya, begitu batu terlempar beberapa jebakan keluar dari bawah lantai dan langit-langit.
Masing-masing bisa menghindari dan melindungi diri masing-masing, begitu jebakan tersebut sudah berhenti muncul….
"Apa ada yang terluka?" tanya Sasuke.
"Tidak kami baik-baik saja," ucap Karin yang memastikan tidak ada yang terluka.
Mereka melanjutkan aksi mereka sampai mereka menemukan ruangan tengah yang luas dan….
"Sepi," gumam Sakura.
Secara otomatis semua membentuk lingkaran dengan posisi yang saling bertolak belakang dan mengawasi setiap sudut ruangan. Tapi tidak ada penyerangan atau musuh yang keluar satu pun. Ada yang aneh, tidak mungkin satu mansion ini langsung pergi begitu mereka datang diam-diam, musuh tidak akan mempunyai waktu untuk itu.
"Coba kalian cek satu per satu ruangan yang ada di sana," ucap Naruto.
Shikamaru mengangguk pada Sasuke, Karin, Kakashi dan Jiraiya. Mereka meninggalkan formasi lingkaran tersebut dan membuka kamar satu per satu. Jiraiya sudah tahu salah satu kamar ini pasti terdapat ruangan Asuma. Tapi dia tidak tahu kamar yang mana, Kakashi yang sudah pernah ke sini pun tidak pernah memasuki kamar-kamar tersebut, Shikamaru menempelkan telinganya sebelum membuka kamar yang ternyata kosong itu, Sasuke pun melakukan hal yang sama, dan ternyata hasilnya sama dengan Shikamaru. Saat Karin membuka kamar bagiannya….
"Loh? Dikunci?" gumam Karin.
Shikamaru menghampiri Karin dan mengambil alih pekerjaannya. "Benar dikunci. Pegang ini." Shikamaru memberikan senapannya pada Karin dan mencoba untuk mendobraknya tapi tidak berhasil.
"Kubantu," ujar Sasuke. Namun hasilnya tetap sama, pintu itu tidak bergerak sama sekali.
"Aku akan memeriksa ruangan di atas," ucap Jiraiya.
"Aku ikut denganmu," kata Orochimaru. "Kakashi, kau di sini."
Kakashi mengangguk. Karin, Shikamaru dan Sasuke masih berusaha membuka pintu yang sama sekali tidak bergerak itu.
"Coba kulihat," ujar Naruto, "Karin dekatkan lehermu ke arah sisi pintu sampai gagang pintu."
Karin melakukan apa yang Naruto perintahkan, dan di posisi Naruto dia sedang menganalisa dan mengambil gambar yang terdapat di layarnya, dia mengirimnya pada Gaara agar membantunya untuk menganalisis pintu yang terlihat aneh di dalam kamera. Terlihat dari luar memang seperti pintu kayu biasa.
"Pintu ini memakai kode," ucap Naruto.
"Kode? Pasti ada sesuatu yang berharga sampai diberi kode segala," ucap Hinata.
"Bisa kau pecahkan kodenya, Naruto?" tanya Shikamaru.
"Sebentar, kodenya adalah… hhmmm, sulit juga sistem yang dia pakai, bukan algoritma biasa, dia memakai algoritma yang berbasis—"
"Apa pun itu aku tidak mengerti, sudah kau pecahkan saja kodenya!" sewot Karin yang jengkel mendengarkan penjelasan Naruto.
"Hahahaa, baik baik Nona Karin." Naruto kembali memecahkan kode pintu yang kini sudah dia dapatkan. "…"
"Naruto? Sudah kau temukan kodenya?" tanya Sasuke.
"Sakura?"
"Ya?" sahut Sakura.
"Ah, bukan. Aku tidak memanggilmu… maksudku, kodenya adalah… Sakura?" Naruto dan Gaara saling tatap dengan pandangan cemas.
Saat Naruto memasukkan kodenya, Sasuke mencoba membuka pintu tersebut dan… berhasil. Ruangan yang sangat gelap sampai tidak terlihat apa-apa. Begitu Karin mencoba mencari di mana saklar lampunya dan menekan saklar itu, semua lampu di ruangan itu menyala, betapa kagetnya Sasuke, Shikamaru dan Karin begitu melihat seluruh dinding terdapat foto Sakura. Bahkan ada yang diperbesar, di atas meja, di samping tv, dan di atas kasur. Dari Sakura kecil sampai sosok Sakura yang sekarang.
"Apa-apaan ini?!" ucap Sasuke.
"Oh, shit…!" ucap Naruto.
"Kau tahu sesuatu, Naruto?" tanya Karin.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Sakura dari luar yang akan masuk ke dalam.
"JANGAN MASUK!" cegah Sasuke. "Jangan berani-beraninya kau masuk ke sini!"
"Apa sih?! Aku ingin tahu," sewot Sakura.
Sasuke yang melihat Sakura melangkahkan kakinya ke kamar langsung berlari dan mencegah Sakura untuk lebih dekat lagi, "Aku bilang jangan masuk!"
Tapi sayang, dari jarak itu pun, Sakura dapat melihat apa yang terdapat di ruangan itu. Mata Sakura melotot dengan tatapan takut. "Ke-kenapa ada foto-fotoku?" tanya Sakura heran.
Sasuke mengernyitkan dahinya dan membiarkan Sakura masuk karena sudah terlanjur melihatnya.
"Kamar siapa ini?" tanya Sakura pelan.
Saat Sakura sedang mencari sesuatu yang dapat dia temukan jawabannya, dia melihat ada sebuah bingkai tertutup di atas meja, saat Sakura membuka bingkai itu. "HAH!" Sakura menutup mulutnya dan matanya terbelalak. Karena penasraan, Shikamaru, Sasuke dan Karin menghampiri Sakura dan melihat foto di bingkai tersebut.
"Na-Naruto ada dua?!" ucap Karin.
"…" Naruto hanya terdiam di sana.
"NARUTO!" bentak Sasuke.
"Dia adalah Menma…" ujar Naruto tiba-tiba, dan bersamaan dengan itu… sosok Menma datang menghampiri orang-orang yang masih berbentuk lingkaran di tengah ruang utama itu. "Dia adik kembarku."
"Na-Naruto?" gumam Sasori yang melihat Menma.
"Jadi ini… tikus-tikus yang dimaksud oleh Asuma?"
"Bukan, dia bukan Naruto," ucap Karin yang keluar dari kamar. Melihat kamarnya terbuka, Menma mengerang dan menghampiri Karin sambil mencekiknya. Gerakannya sangat cepat sehingga tidak ada yang sadar kalau Menma sudah bergerak.
"Akh!" rintih Karin.
"SIAPA YANG BERANI MEMBUKA RUANGANKU?!"
"Karin!"
Saat Hinata menyebut nama Karin dan terdengar keributan di luar, Sasuke, Sakura dan Shikamaru memutuskan untuk keluar. Saat itulah kedua mata Sakura dan Menma bertemu, dan Sakura… perlahan mengingat sekilas momen-momen di mana dia bertemu Menma dulu. Begitu melihat Sakura, Menma melepaskan cekikannya pada Karin.
"Kau…"
"Sakura…" panggil Menma dengan suara yang tiba-tiba melembut. Mendengar Menma memanggil nama Sakura, Sasuke menodongkan phyton tepat di kepala Menma.
"Sasuke!" Sakura mencegah kekasihnya. Dan Sasuke melirik Sakura… sinis.
"Dia adalah musuh," ucap Sasuke dingin.
"Aku tahu… tapi~…"
"Kau… tidak melupakanku?" tanya Menma pelan dan tidak memedulikan todongan Sasuke, dan itu membuat Sasuke sangat kesal yang akhirnya membuat Sasuke menarik pelatuk phyton-nya.
"Sasuke, aku mohon!" cegah Sakura lagi sambil menahan lengan Sasuke.
Keadaan menjadi tegang seketika, dan saat yang bersamaan, alat komunikasi mereka berbunyi.
"Kalian bisa dengar suaraku?"
"Jiraiya-sensei?" gumam Sakuya.
"Dengar, aku dan Orochimaru sedang terjebak di suatu ruangan yang banyak jeruji, kami tidak bisa bergerak. Kakashi atau Hinata bisakah kalian ke sini? Tenang saja semua musuh sudah kami lumpuhkan. Sakuya, Sasori, Deidara dan Hidan ikutlah dengan Hinata atau Kakashi, karena di ruangan selanjutnya itu salah satu ruangan yang akan menghubungkan kita pada Asuma."
"Aku yang akan ke sana," ujar Hinata, "Sasori, Sakuya, Hidan dan Dei—"
Mereka baru sadar akan satu hal, Deidara tidak ada bersama mereka.
"Mana Deidara?" tanya Hinata.
"Dei?!" panggil Hidan.
"Sepertinya di antara kalian ada yang berkhianat, eh?" ujar Menma menyeringai.
Saat Sasuke lengah, Menma menendang lengan Sasuke, namun Sasuke tidak melepaskan genggaman phyton-nya. Sasuke membalas memukul Menma yang ditangkis oleh kedua lengannya, Menma menunduk dan menyengkat Sasuke tapi Sasuke berhasil menghindarinya. Selagi Sasuke dan Menma bertarung, Karin membawa Sakura menjauh dari mereka.
"Kau ingin melawanku, hah?" tantang Menma.
"Dengan senang hati," ucap Sasuke.
"Dengan tangan kosong?" tawar Menma.
Sasuke melempar phyton-nya pada Shikamaru dan di tangkap dengan sukses. "Siapa takut," jawab Sasuke.
"Sakura, kau jangan pergi dari sini," perintah Sasuke.
"Tapi—"
"Benar, bukankah kau ingin tahu… kenapa aku bisa berada di sini?" ucap Menma.
Mengetahui bahwa Menma dan Sakura saling mengenal, membuat Sasuke makin panas. "Tidak, aku berubah pikiran. Shikamaru, bawa Sakura dan lindungi dia."
"Baiklah. Ayo, Sakura."
Sakura menurut dan menatap Sasuke juga Menma. Tanpa melontarkan kata-kata, Sakura meninggalkan Sasuke yang akan bertarung sendirian.
"Bagaimana kau bisa tahu dia?" tanya Karin. "Dialah yang aku temui di saat aku belanja bersama Naruto dulu."
"…" Sakura terdiam, dan di sisi lain pun Naruto yang mendengarnya juga terdiam. "Dulu… sebelum aku bertemu Naruto, aku lebih dulu bertemu dengan Menma. Dan aku pikir Naruto itu adalah Menma, makin lama aku semakin sadar, kalau Naruto dan Menma itu beda orang."
"Tapi kenapa Menma bisa bergabung dengan Asuma?" tanya Karin.
Lalu Shikamaru menyadari suatu hal. "Jangan bilang… Naruto, apa keluargamu…"
Naruto terdiam dan menutup matanya, "Ya… keluargaku ini… salah satu pendiri Yakuza bersama Asuma."
Mendengar jawaban Naruto semua terkejut, dan dengan waktu yang bersamaan, lagi-lagi musuh menyerbu dengan jumlah yang bisa dibilang tidak sedikit ini.
"Harus ada yang bisa di sini setidaknya tiga orang," ucap Shikamaru.
"Aku, Hidan dan Sasori akan di sini, sisanya ikut dengan Hinata," ucap Kakashi.
"Baiklah, ayo terus maju," ucap Shikamaru.
Saat ini, tidak ada Sasuke, dan Sakura mau tidak mau harus membantu rekan-rekannya yang lain, bukan? Pertama kalinya Sakura menatap tajam para musuh, dan membuka katana yang terbungkus di samping pinggangnya itu. Pertarungan yang akan menentukan hidupnya.
A/N : yeaayy! update chapter 24 hasil BETA dari Suu Foxie, cup cup muuaahh! :* tengkyu cayaaaang
pertarungan awal ini, maaf yah kalo ngga gereget =="
chapter depan aku usahain lagi update cepet XD
pengen cepet-cepet selesaiin ini terus bisa lanjut Lover Eternal XD
terima kasih yah yang sudah review, maaf lagi kalo aku g bales review kalian :)
regards
V3Yagami
