Retno UchiHaruno : hahahaa, jadi pengennya fict ini tamat atau ngga? XD aku sih mau cepet2 tamat yah, soalnya pengen tamatin lover eternal juga ;_;
Icha yukina clyne : tenaang tenaaaang, happy ending kok XD (menurut aku :p)
Tsukiyomi Aori Hotori : hahahaa, sasuke g mungkin kalah, jam trebangnya jauh beda si menma mah XD
Karasu Uchiha ; LANJUTKAN! (macem pemilihan presiden XD)
Saqee-chan : yap! Ini udah lanjut XD
poetri-chan : eh? Lumayan gereget? ALHAMDULILLAH! T_T iya nih, maaf yah lover eternal terbengkalai T^T
: tidak bisa update kilat beibiih =3=
Michelle : sasuke pasti menang dooong XD di sini sakura udah mulai bertarung sedikit kok XD eh awas jangan jerit2 malem2, ntar ada yg ngikutin loh
Hikari ndychan bLackOnyx : iyaaa, lover eternal akan aku lanjutkan setelah pesan-pesan berikut ini *buagh! Setelah LOVE maksudnya XD
Kim Na Na Princess Aegyo : hahahaa, kamu sih ngomogn udang dibalik bakwan… jadi laper kan tengah mlm begini =3=
Mizuira Kumiko : done! XD
Feriredbeat : ehh? Follow twitter? Pasti aku accept kok, mention yah untuk follback J
toge-chan : XD
skyesphantom : =3=, menma sedikit terobsesi iya cinta itu… menghalalkan segala cara XD
Sindi 'Kucing Pink : chap ini udah inti sayang, bukan masih inti XD
cloUdis'ta-chan : g janji bisa cepet update yah, tapi aku usahain akan update terus kok… chapter ini mudah2an bisa bikin perasaan penasaran kamu lega XD
cherry angella : XD, istimewa.. XD indom*** rasa istimewa? LOL
Tsurugi De Lelouch : iyaaa, kemaren update cepet, dan mulai sekarang aku mau usahain uodate cepet lagi, kalo bisa loh, tapi g janji XD
Aozu Misora : KYAAAAA (ikutan teriak) eh? Nama fb kamu apaaa deehh? =A=a
Anka-Chan : sip, ini udah update XD
d3rin : done, done, done… ini udah update XD
Killua ShoriChii : ini sudah dilanjuutt :3
Aoi Ciel : eehh? Aku dikangeniiin XD Kyaaaaaaa! XD wah, nice question. Berhubung account ffn itu g bisa di block, jadi aku diemin aja, ngga aku apa-apain, palingan yaah g ada updatean fict lagi dari :)
Raiha Laf Qyaza : hahahaa, tali pengaman aku juga bikinnya smabil geleng2 kepala XD
Ai Tanaka : hai hai hai, makasih yah udah mau sempetin review :D yep, ini dilanjut kok XD
Amaterasu Uchiha sasuke-black : XD, sip… ini udha dilanjut XD
Farberawz : hahhaaa, ngarang sendiri? Gmn gmn? Kasih tauuuuu XD
sakuraBELONGtoSASUKE : eehhh? Lemon narukarin? Disini udah g aka nada lemon lagi say : ( maaf yaaah :(
scarlet uchiha : gyahahahahaa, dia nanyain nikah XD, nikah chapter terakhir mungkin yah XD
song min ah : ini chapter 25nyaaaaaa XD
Shaylo Missa : makacih sarannya kakaaaaak XD, boleh mampir lagi di chapter selanjutnya yah kakaaaaak XD
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Shikamaru, Sakura, Karin, Hinata dan Sakuya sudah meninggalkan Kakashi, Hidan dan Sasori di belakang. Kini mereka menuju lokasi di mana Jiraiya dan Orochimaru terperangkap dalam jebakan yang dipasang dalam mansion. Karin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa pelatih mereka terjebak oleh jebakan? Sebelum mereka sampai pada lokasi pelatih mereka, ada satu ruangan yang harus mereka lalui. Shikamaru yang memimpin gerakan mereka dan membuka pintu tersebut dan—
Syuuut!
—terlihat beberapa anak panah dan kunai beterbangan menuju arah mereka. Dengan cekatan mereka menghindari semua senjata itu.
"Wah wah wah… aku tidak menyangka kalian bisa secepat ini menyerang kami," ucap suara wanita dari pintu pojok.
Ruangan ini terlihat sangat kosong, ada beberapa rak buku yang sepertinya dulu adalah perpustakaan. Ketika wanita itu menampakkan dirinya.
"Nenek sihir!" geram Sakuya.
"Huh, anak kecil tidak sopan! Hanya segini yang datang?"
"Tenten… kenapa kaulakukan ini semua?" tanya Shikamaru pada wanita yang kini rambutnya dicepol dua.
"Kenapa? Sudah jelas karena aku ingin!" jawab wanita bernama Tenten.
"Bahkan kau sampai mengkhianati Neji," sambung Karin.
"Neji tidak pernah mencintaiku, dia itu bisa suka pada siapa saja asal wanita itu bisa ditidurinya," ucap Tenten.
"JAGA MULUTMU! Neji-nii bukan laki-laki seperti itu!" bentak Sakuya.
"Oowww, lucunyaaa~, ternyata Neji mempunyai adik yang pemarah seperti ini," ledek Tenten.
"Jangan ladeni dia, ayo kita pergi," ujar Karin.
"Eits! Tunggu dulu, kalau kalian ingin melewati pintu ini… kalian harus mengalahkanku dulu," cegah Tenten yang merentangkan tombak yang muncul dari belakang tubuhnya ke arah mereka.
"Sakuya dengan senang hati membunuhmu," ujar Sakuya.
"Sakuya~," panggil Sakura dengan cemas.
"Mama-chan pergi saja, Sakuya akan menyusul, Sakuya janji."
Sakura mengangguk dan percaya akan kemampuan Sakuya. Karin dan Sakura mengambil langkah lebih dahulu sebelum Hinata menyusul mereka. Shikamaru menatap Tenten sinis sebelum dia menyusul ketiga rekannya. Sekarang tinggal Sakuya dan Tenten di dalam ruangan yang entah ada berbagai macam jebakan apa yang terdapat di ruangan itu. Sakuya menatap Tenten dengan saksama, begitu pula dengan Tenten. Dari lekuk tubuh Tenten, Sakuya tahu bahwa wanita yang berada di hadapannya itu adalah petarung yang hebat.
Sakuya memasang kuda-kuda setelah beberapa saat menyentuh liontinnya.
"Siap untuk menggali kuburanmu sendiri?" tanya Tenten.
Sakuya tidak menjawab, dia hanya fokus untuk menyerang atau bahkan membunuh wanita yang sudah menjelek-jelekkan Neji ini.
Tenten melaju cepat ke arah Sakuya sambil melemparkan beberapa jarum kecil yang di sebar ke arah Sakuya, dengan cekatan dan lihai Sakuya menangkis semua jarum tersebut memakai belati kecil yang ia miliki. Saat tubuhnya mendekati Tenten, Sakuya sengaja menjatuhkan dirinya namun kedua tangannya menumpu badannya agar tidak menyentuh lantai kemudian kedua kaki Sakuya melayang ke atas dan sukses menendang perut Tenten.
Tenten terlempar dan menubruk lemari besar sehingga buku-buku berserakan di mana-mana. Saat Tenten bangkit dan menyeka darahnya, dia tersenyum. "Hebat juga kau, Bocah."
Sakuya tidak menjawab karena menurutnya menjawab ucapan Tenten hanya akan membuang tenaganya cuma-cuma. Sakuya masih tetap berdiri setelah serangan pertamanya tadi, sedangkan Tenten menyeringai dan menjentikkan jarinya. Tiba-tiba jaring muncul dari langit-langit, untung saja Sakuya menyadari hal itu dan berhasil menghindarinya. Sakuya melompat salto dan berguling ke depan untuk menghindari jaring tersebut. Namun ternyata jaring tersebut hanyalah pengecoh, karena saat ini Tenten melempar beberapa buku ke arah wajah Sakuya sehingga Sakuya refleks menutup wajahnya memakai kedua lengannya. Di saat Sakuya menutup wajahnya, Tenten mendekati Sakuya dan menendang perutnya hingga Skauya terpental dan menubruk tembok.
"Akh!"
"Hehehe, kita satu sama," ucap Tenten.
Sakuya bangkit kembali, perutnya terasa sangat nyeri, berbeda sekali saat berlatih bersama pelatih mereka dan anggota E.A lainnya. Kali ini benar-benar pertarungan yang tidak mengurangi kekuatan sama sekali saat lawan menyerang.
.
.
Masih dengan pertarungan sengit yang terjadi pada Sasuke dan Menma. Saat ini terlihat Sasuke yang berada di atas Menma, menekan leher pemuda itu memakai satu lengannya dan menindih tubuhnya. Dengan napas yang tidak teratur Sasuke mengeraskan tekanan di lengannya itu. Keadaan mereka sama sekali tidak imbang, Menma kalah dari Sasuke. Jelas saja kalah, Menma tidak pernah terjun langsung ke medan perang sebelumnya, dia hanya berlatih bersama Kabuto di ruang laboratorium.
"Masih bagus kau tidak langsung kubunuh!" geram Sasuke. Mengingat Menma adalah satu-satunya keluarga yang Naruto miliki.
Menma menyeringai. "Heh, kautahu… apa saja yang sudah kuperbuat pada Sakura? Pada foto-fotonya yang terdapat di seluruh sudut kamarku?"
Sasuke tidak menjawab, dia hanya diam menunggu Menma meneruskan ucapannya, "Sudah berkali-kali dia kujadikan fantasi malamku, membayangkan bercinta dengannya, dan bagaimana rasanya saat—"
DUAAK!
Kali ini Sasuke mencengkeram kerah Menma dan memukul wajahnya.
DUAAK!
Sebelum Menma meneruskan kalimatnya lagi, Sasuke sudah menghantamnya dengan pukulan terakhir, mengangkat tubuh Menma dan melemparnya ke dinding.
BRUUK!
Menma masih dengan kesadarannya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha berdiri dan menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
"Kautahu, aku memang bukan tandinganmu… kau kuat, sangat kuat. Aku berharap yang kuhadapi saat ini adalah Naruto bodoh itu."
"…"
"Aku menyerah, lagi pula… si Asuma itu juga tidak memedulikanku, apalagi sudah terjadi kekacauan seperti ini. Ayah pasti sudah kabur meninggalkanku."
"Tunggu… ayahmu… ayah Naruto, masih hidup?" tanya Sasuke bingung.
"Yah, dia salah satu orang yang membangun mansion ini dan kelompok yakuza yang brengsek ini. Dan dia juga yang merencanakan pembunuhan sembilan tahun yang lalu," jawab Menma.
Mendengar penjelasan Menma yang tiba-tiba membuat Sasuke terkejut, bahkan Naruto ternyata baru tahu akan hal itu.
"Yang kutahu adalah, ayah… dia rugi besar akibat analisis saham keluarga Uchiha dan Haruno," lanjut Menma.
Sasuke terdiam mendengarnya. Entah siapa yang harus disalahkan atas kejadian sembilan tahun yang lalu. Pihak yang tidak tahu apa-apa namun merugikan banyak orang atau pihak yang dirugikan kemudian mengamuk hingga terjadi pembunuhan? Sasuke sudah tidak tahu lagi.
"Cepat kejar teman-temanmu, terutama Sakura… ada hal yang sangat besar yang akan dia hadapi nanti," ujar Menma.
"Hal besar?"
"Aku malas member tahu rival, pergi sana!"
"Ck!" Sasuke mendecak kemudian mulai meninggalkan Menma yang akhirnya tumbang.
Naruto memegangi kening dan mengernyitkan alisnya. Masih banyak hal yang ingin dia ketahui tentang ayahnya juga tentang kejadian sembilan tahun yang lalu. Tapi dia tidak boleh meninggalkan Gaara sendirian di sini.
"Pergilah, sepertinya mereka juga akan memerlukanmu," ucap Gaara tiba-tiba.
"Eh?"
"Aku bisa mengatasi hal ini, lagi pula sebentar lagi Itachi datang ke sini," jelas Gaara.
Naruto menatap Gaara dengan tatapan segan, namun dia harus melakukan ini. Naruto membuka headset-nya kemudian lari dari ruangannya. Naruto mengambil motor besar di garasi dan melaju kencang menuju tempat tebing yang sebelumnya tempat berkumpul E.A dan W.O.
Sementara itu, Ino dan Tsunade hanya bengong di depan pintu masuk mansion Asuma dengan tatapan kosong. Terdengar helaan napas dari Ino beberapa kali dan hal itu mengambil perhatian Tsunade pada anak didiknya.
"Ada apa? Kau terlihat lesu," tanya Tsunade.
"Ehm, Tsunade-sensei… apa yang akan Sensei lakukan kalau saudara kandung sensei memutuskan tali persaudaraan kalian?" tanya Ino balik.
Sejenak Tsunade menatap wajah muruh Ino yang sangat tidak biasa dia tunjukan, kemudian langsung ditembak dengan pertanyaan, "Apa yang Deidara katakan padamu?"
"…" Ino memeluk kedua lututnya erat-erat kemudian menceritakan pada sensei-nya tentang apa yang Deidara ucapkan pada Ino saat sehari sebelum keberangkatan mereka menuju mansion ini.
"Dia… mengatakan itu padamu?"
Anggukan kecil Ino mewakili jawabannya pada pertanyaan Tsunade. Melihat wajah cemas yang tersirat pada Ino, sebagai wanita Tsunade sangat mengerti situasinya sekarang. Tsunade menepuk kepala Ino dan tersenyum. "Susul mereka."
"Eh?"
"Kau penasaran, 'kan? Biar aku yang menjaga di sini," lanjut Tsunade.
Belum sempat Ino menjawab, beberapa musuh kembali datang dengan senjata tombak yang mereka pegang masing-masing. Tsunade menyeringai dan mengeluarkan machine gun dari belakangnya. "Cepat masuk, aku sudah lama tidak pemanasan," ujar Tsunade.
Ino mengangguk dan meninggalkan sensei-nya melawan beberapa musuh yang datang. Sebelum Ino benar-benar masuk, dia melihat sosok Tsunade yang melompat sambil menembakkan machine gun pada lawan-lawannya. Benar-benar sensei yang hebat.
.
.
Langkah lari terdengar di sepanjang koridor, mereka melompati beberapa anak tangga agar cepat sampai tujuan.
"Di mana sih Jiraiya dan Orochi-sensei?!" gerutu Karin sambil beberapa kali menembaki senapannya pada musuh yang datang menghadang.
"Lewat sini," ucap Hinata yang menggeser pintu tatami.
Tepat saat Hinata membuka pintu itu, terlihat sosok wanita cantik yang pernah mereka lihat bersama Asuma di gedung teater sekolah. Tempat di mana Neji kehilangan nyawanya. Yang paling mengagetkan bagi mereka, di samping wanita berambut hitam itu berdiri seorang pria berambut pirang yang sangat mereka kenal.
"Deidara…" gumam Sakura.
"Selamat datang, Elite Assassin," sapa wanita yang kini memakai yukata sexy dengan belahan dada yang cukup terbuka lebar, dengan posisi duduk di kursi sambil melipat kakinya. Tangan kanannya menopang kepala yang dia senderkan dan tangan kirinya menggenggam sebuah belati panjang.
"Sudah kuduga kau berada di pihak mereka," ucap Shikamaru.
"Kita impas," ujar wanita bernama Kurenai sambil menatap Hinata, "pengkhianat dibayar dengan pengkhianat."
DUUAARRR!
"Su-suara apa itu?" tanya Sakura.
"Ah… dua orang yang terperangkap tadi pasti menekan asal-asalan tombol yang ada di sekitar mereka, entah ruangan mana yang meledak," ucap Kurenai dengan santai.
"Orochimaru-sensei!" seru Sakura.
"Dan Jiraiya-sensei," kata Hinata.
"Sepertinya tugas kita sudah jelas,"ujar Shikamaru yang menyiapkan senapan yang di ujungnya memakai tombak.
"Baiklah, kami pergi ke tempat Orochimaru-sensei dan Jiraiya-sensei dulu," ujar Sakura.
"Hati-hati," ucap Karin.
Hinata dan Sakura mengangguk kemudian berlari meninggalkan kedua rekannya, sementara Shikamaru menatap sinis ke arah Deidara dan Kurenai.
"Jadi, kau siap melawanku? Shikamaru?" tanya Kurenai menyeringai.
"Tidak, yang melawanmu adalah aku," ucap Karin.
Deidara melangkahkan kakinya dan mengambil bambu panjang dan tajam yang tertempel di dinding ruangan. Begitu dia menggenggam senjata tersebut, Deidara langsung menyerang Shikamaru tanpa mengurangi tenaga sedikit pun. Shikamaru bisa merasakannya, Deidara seolah memaksa Shikamaru untuk mati-matian bertempur melawan dirinya.
Kemudian disusul oleh Karin yang menyerang Kurenai. Karin berusaha memukul wajah Kurenai namun tidak berhasil karena Kurenai menahan serangan Karin memakai belatinya. Saat Karin kembali pada posisinya, Shikamaru berlari dan melompat ke belakang Deidara, meraih kerah dan melempar tubuh Deidara sehingga dia menubruk pintu tatami hingga hancur. Shikamaru terus menghampiri Deidara dan akan menusukkan tombaknya, namun Deidara dengan cekatan mengangkat kedua kakinya dan melebarkannya kemudian merapatkannya lagi sehingga menghimpit tubuh Shikamaru dan membantingnya ke belakang.
Kini keberadaan Karin dan Shikamaru sudah terpisah. Karin berada di dalam ruangan sedangkan Shikamaru sudah berada di koridor. Saat itu sebelum Shikamaru menyerang Deidara kembali, kakak kandung Ino itu mengeluarkan pistol dari saku celananya dan diarahkan pada Shikamaru. Beruntung Shikamaru cekatan sehingga berhasil menghindari tembakan yang terjadi secara tiba-tiba itu.
Kini Shikamaru masih dengan posisinya setelah menghindar, matanya melirik ke arah Karin yang juga masih bertarung dengan Kurenai. Sampai sekarang Shikamaru tidak percaya dan tidak mau percaya kalau Kurenai adalah ibu kandungnya.
.
.
Melayang dari sudut ke sudut, Sakuya menghindari beberapa senjata yang dilemparkan Tenten padanya. Begitu pula Sakuya yang berhasil mengambil beberapa senjata yang dilempar itu, kemudian dia lempar balik ke arah Tenten sambil sesekali menembakkan pistol kecil miliknya pada Tenten. Tembakan itu berhasil menggores pipi Tenten.
Tenten menatap Sakuya dengan tatapan sinis, dia tidak menyangka kalau anak itu sangat cekatan bagaikan ninja. Dengan tatapan tajam Sakuya meniup pistol kecil itu dan memasukkannya kembali ke dalam jaketnya.
Melihat Sakuya yang benar-benar santai membuat Tenten kesal, dia lompat lagi ke arah yang berlawanan dari Sakuya, kemudian dia mengeluarkan beberapa kunai yang dihimpit dimasing-masing sela jari-jarinya. Sebelum itu Tenten melemparkan bom asap lalu dilemparlah kunai-kunai tersebut ke arah Sakuya.
Dan beruntungnya, Sakuya pernah berlatih situasi seperti ini sehingga dia dapat membaca gerak-gerik Tenten. Dengan cekatan Sakuya melompat ke belakang Tenten dan menodongkan pistol kecil pada kepalanya, sambil memasang wajah datar Sakuya mengucapkan, "Ini untuk Neji-nii."
DOOR!
Darah segar membasahi wajah Sakuya. Kini Tenten tergeletak tidak bernyawa dalam keadaan bagian belakang kepalanya berlubang. Melihat jasad Tenten tidak membuat Sakuya merasa kasihan, Sakuya malah tersenyum sambil menjilat darah yang menempel di sekitar bibirnya.
"Hi-hihihi-hi-hihi~…."
Sakuya berlutut dan mengeluarkan belati kecilnya kemudian ditancapkannya pada leher Tenten.
CREEEP!
"Hahahahahaha! Ini untuk memastikan kalau kau benar-benar mati! Gara-gara kau! Gara-gara kau Neji-nii harus pergi!"
CREEEP! CREEEP! CREEEP! CREEEP! CREEEP!
Sakuya berkali-kali menusuk leher Tenten tanpa ampun. Tusukan Terakhir membuat ekspresi Sakuya menjadi sendu, "Neji-nii…"
Saat air matanya menetes, segera ia hapus dan langsung berdiri.
"Sakuya harus menyusul yang lain."
.
.
Sakura dan Hinata terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Sampai saatnya mereka tiba di ruangan yang sangat terang dan melihat kedua pelatih mereka yang sedang terkurung di dalam ruangan kaca dengan berbagai tombol. Sakura mendekati kaca itu dan mencoba memanggil salah satu di antara mereka.
"Jiraiya-sensei?"
"Sakura!"
Ah, untunglah bukan kedap suara.
"Kalian ini kan sensei, kenapa bisa sampai kena jebakan?" tanya Hinata sambil meneliti beberapa sudut.
"Ini semua gara-gara dia!" tunjuk Jiraiya pada Orochimaru yang sedang duduk dan menekuk satu lututnya. "Karena dia sok tahu makanya kami terperangkap!"
"Kau yang mengusulkan masuk ke sini!" bentak Orochimaru dengan wajah jengkel.
"Kalau kau pintar kenapa tidak memberikan usul yang lain?!"
"Diam atau kutembak kau!" geram Orochimaru yang menodong senapan ke arah Jiraiya.
"Baik, Tuan," jawab Jiraiya cepat.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya dan melihat Hinata yang masih meneliti tempat tersebut. Hinata memperhatikan setiap sudut yang ada, sampai dia menemukan keganjalan pada sebuah patung burung gagak yang berdiri tegak di samping pintu. Hinata memegang kepala gagak tersebut dan mencoba memutarnya, tiba-tiba….
Greek greeek greeek~
"Eh? Suara apa itu?" tanya Sakura.
Orochimaru dan Jiraiya saling tatap, perasaan mereka tidak enak saat mendengar bunyi tersebut. Dengan kompak mereka menatap langit-langit.
"WAAAAAAAAAAHHHHHHHH!" jerit Jiraiya panik. "LANGIT-LANGITNYA TURUN! LANGIT-LANGITNYA TURUUUN!"
"Hi-Hinataa, apa yang kaulakukan?" ucap Sakura yang ikut panik.
"Hahahaa, maaf maaf, aku pikir ini apa, ternyata bukan pembuka kaca itu," jawab Hinata cengengesan.
"JANGAN MALAH CENGENGESAN! CEPAT CARI CARA AGAR KAMI BISA KELUAR DARI SINI!" jerit Jiraiya panik.
"Diamlah! Jangan buyarkan konsentrasinya!" tegur Orochimaru.
"Sebentar! Sebentar," ucap Hinata yang juga ikut panik, "aduuh, di mana yah~?" Hinata mencari dan mencari, sampai dia mencoba untuk melihat beberapa tombol yang ada di dalam tempat di mana kedua pelatihnya sedang terkurung.
"Hinata, percepat!" pinta Orochimaru yang melihat lamgit-langit sudah mulai makin mendekat.
Hinata berusaha mempercepat analisanya, namun tatapannya tertuju pada tombol di belakang Jiraiya, dan itu membuat wajah Hinata jengkel. "JIRAIYA-SENSEI! BAGAIMANA BISA KALIAN TIDAK SADAR TOMBOLNYA ADA DI BELAKANG KALIAAN!"
Orochimaru dan Jiraiya saling menoleh, dan benar saja ada tombol yang bertulisan 'out'.
"Cepat tekan tombolnya!" jerit Sakura.
Jiraiya tidak melakukan itu, dia ragu untuk menekannya karena terakhir kali dia menekan malah terjadi ledakan di mana-mana. Akhirnya Orochimaru yang menekan tombol itu. Dan di saat langit-langit sudah sangat mendekat, kaca tersebut terbuka dan mereka berdua bisa keluar dari ruangan itu.
"Jiraiya-sensei bagaimana, sih?" tegur Hinata.
"Maaf, aku trauma menekan tombol, hehehe."
"Ayo kita pergi dari sini," ajak Sakura.
"Tunggu, kalian duluan saja," ucap Jiraiya, "aku… masih ada yang harus kulakukan."
"Pastikan kau menyusul kami," ujar Orochimaru.
"Pasti."
Setelah mengangguk, Orochimaru, Sakura dan Hinata pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar Asuma. Setelah mereka bertiga benar-benar pergi, Jiraiya berjalan ke arah yang berlawanan dan menuruni anak tangga. Jiraiya memutuskan untuk langsung terjun ke lantai dasar dengan menggunakan beberapa benda untuk menjadi tumpuannya turun.
Sesampainya di ruang utama tadi, dia melihat semua sudah berantakan dan sepi. Tanpa memedulikan sekitar Jiraiya melanjutkan langkahnya sampai….
"Jiraiya-sensei!"
Ino yang baru saja tiba memanggilnya.
"Ino? Sedang apa kau di sini? Bukankah harusnya kau berada di luar dengan Tsunade?"
"Aku khawatir dengan yang lain, jadi aku menyusul mereka," jawab Ino.
"Mereka di atas, susul saja mereka."
"Sensei mau kemana?"
"Aku ada urusan di lantai bawah."
"Baiklah, Sensei nanti menyusul yah?" ucap Ino.
Jiraiya tersenyum dan mengancungkan jempolnya pada Ino. Ino kembali berlari untuk menyusul rekan-rekannya yang lain.
.
.
Langkah demi langkah ia ambil dengan sangat pelan sambil memegangi perutnya. Menma saat ini berusaha untuk berjalan ke arah di mana dia sebisa mungkin akan membantu Sakura yang akan menemui Asuma di atas. Mengingat mansion ini memiliki tiga lantai, Menma harus turun ke basement dahulu agar bisa memakai akses cepat menuju ruangan Asuma. Sebelum Menma berhasil sampai di tempat, langkahnya terhenti karena suara seseorang.
"Entah aku harus bangga atau malu mempunyai anak sepertimu."
Menma mendongakan kepalanya dan melihat ada sosok pria berambut pirang sedang berdiri sambil menatapnya… sinis.
"A-Ayah…"
"Kenapa kau bisa dikalahkan si Uchiha dengan cepat?"
"Di-dia terlalu kuat untukku… lagi pula…" jawab Menma terbata-bata tanpa menatap mata ayahnya.
"Lagi pula apa?"
"Sa-Sakura dalam bahaya… sepertinya Sasuke bisa menyelamatkannya," ujar Menma
BUG!
Pukulan keras mendarat tepat di perut Menma.
"Uhuuk!"
Senyum sinis ditampakkan Minato. Sama sekali tidak terkesan bahwa ia merasa bersalah telah melukai anak kandungnya sendiri. "Menyedihkan. Mengalah hanya karena seorang perempuan berada dalam bahaya, eh? Lebih lagi … perempuan itu adalah musuhmu." Dan sebuah tendangan kini dilontarkan pada tubuh Menma yang sudah melemah dan tidak bisa melawan.
"Uhuk!" Darah segar kembali keluar dari mulut Menma. "Ayah sendiri yang bilang padaku dulu, bahwa kita harus melindungi orang yang kita cintai."
"Orang yang kaucintai katamu? Heh!" Minato mendengus. "Wanita jalang itu yang sudah menyebabkan kematian ibumu dan kau masih berani bilang bahwa kau mencintainya?"
"Tidak! Ayah, jangan sangkut pautkan Sakura dengan masa lalu! Sakura tidak ada hubungannya dengan permainan saham orang dewasa. Lagi pula, ibu waktu itu—"
GREB!
"Akh!" Menma merintih saat ayahnya memotong ucapannya dengan mencengkeram kerah dan kemudian mengangkatnya.
"Di pihak siapa kau berada?"
"A-Ayah… kenapa Ayah bisa berubah ?" tanya Menma dengan tangan yang menggenggam lengan ayahnya. "Ke mana ayah yang dulu hangat? Ke mana sosok Minato yang terkenal ramah dulu?"
BRUAAK!
Minato melepaskan cengkeramannya—setengah membanting anaknya yang sudah tidak berdaya tersebut.
"Ukh!"
"Kautanya ke mana Minato yang ramah dulu?" Minato merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil. "Baiklah, kalau kau masih mau melihatku yang ramah seperti dulu, akan kuberi kau satu kesempatan lagi."
Bangkit dari posisi terkaparnya, Menma kemudian duduk bersandar ke sebuah tembok yang ada di dekatnya. Pemuda berambut gelap itu terus memegangi perut dan memaksa agar kesadarannya tetap ada di sela-sela rasa sakit yang semakin menjalar. Ia pun perlahan mengatur napas kembali hingga ia pun bisa berkata, "Ke… sempatan?"
Minato beranjak mendekat ke arah Menma dan kemudian berjongkok di depan sang anak. Ia memperlihatkan pisau yang sudah ada di tangannya tepat ke depan wajah Menma dan kemudian tersenyum. Sekilas, senyum itu terlihat lembut. Namun, Menma bisa merasakan kekejaman yang terpancar dari senyum tersebut.
"Ya, satu kesempatan lagi untuk anakku yang bodoh," ujar Minato masih sambil tersenyum, "saat ini, mungkin Uchiha itu sudah memercayaimu yang sudah membiarkannya lolos dengan mudah. Gunakan kesempatan ini … dan dekati si pinkish itu."
Minato kemudian menggerakkan pisaunya ke dekat leher Menma yang tidak bisa berkata apa-apa. Meski demikian, Minato tahu bahwa anaknya itu sudah dapat menebak ke arah mana percakapan ini akan berlanjut.
"Dengan pisau ini," imbuh Minato perlahan sambil menempelkan pisaunya ke leher Menma, "bunuh gadis itu!"
Sesuai dugaannya. Dan karena sudah mengantisipasi, dengan cepat—bahkan nyaris tanpa berpikir—Menma menyeringai kecil dan menjawab, "Huh! Aku menolak!"
Seketika itu, senyum lembut namun palsu yang ditunjukkan Minato pun hancur. Matanya berkilat oleh amarah. Seakan iblis dalam dirinya bangkit, Minato pun bagai lupa bahwa pemuda di hadapannya adalah darah dagingnya sendiri.
"ANAK SIALAN!" bentaknya sambil menggampar wajah Menma dengan punggung tangannya yang terkepal.
Sekali lagi, Menma terjerembap. Sekali lagi, pemuda itu memuntahkan darah dari mulutnya.
"KAU SAMA SEKALI TIDAK TAHU BERTERIMA KASIH, HAH? YANG TERBUNUH AKIBAT KELUARGA UCHIHA DAN HARUNO ITU ADALAH IBUMU SENDIRI!"
Minato bangkit dan kemudian menginjak perut Menma.
"GWAAH!"
Erangan Menma terdengar begitu memilukan. Namun, Minato menulikan telinga. Ia kembali meracau.
"Dan kau… kau memilih wanita jahanam itu dibandingkan ibumu? Anak macam apa kau? Haaah?"
Satu tendangan. Lagi. Tembok di belakang secara tidak langsung mengunci pergerakan Menma. Ia tidak bisa melarikan diri. Bertubi-tubi, ia hanya bisa menerima penyiksaan dari sang ayah.
Sakit, sakit, sakit. Sekujur tubuh Menma merasa sakit. Tapi tidak hanya itu. Sakit … hatinya. Ayahnya bahkan tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan padanya. Apa arti dirinya di mata ayahnya sebenarnya? Apa Minato menganggapnya anak sekadar untuk membantunya membalas dendam pada orang-orang yang menyebabkan istrinya meninggal? Apa Minato hanya menganggapnya sebagai … alat?
"Aaaaghh!" Jeritan panjang kali ini dilontarkan oleh Menma saat Minato menginjak telapak tangannya dengan keras. "Aah… haaah…."
Minato yang sekarang benar-benar bagaikan kerasukan! Setelah mengangkat kakinya dari telapak tangan Menma, pria berambut kuning terang itu sekali lagi mencengkeram kerah baju Menma yang sama sekali tidak memberikan perlawanan.
"Baiklah, Menma," ujar Minato setengah berbisik, "kalau kau tidak mau menerima kesempatan itu, berarti kau sudah tidak ada gunanya lagi. Tidak ada guna. Sama sekali."
Ah … bukankah Menma sudah bisa menduga? Hanya sedemikianlah harga dirinya di mata ayahnya. Dan kini, setelah dia tidak dianggap berguna, apa lagi yang akan ia terima?
Bertemu ibunya? Heh—sepertinya tidak terlalu buruk.
Tanpa sadar, bibir Menma melengkungkan senyum yang tidak luput dari penglihatan Minato.
"Setidaknya … aku … tidak membiarkan S-Sakura terbunuh…. Tidak seperti Ayah … y-yang tidak bisa melindungi ibu dari ancaman kematian…. A-yah … bahkan tidak peduli. Heh! B-baru sekarang saja … berlagak jadi … suami yang begitu mencintai istri?"
Mata biru Minato semakin terbelalak saat mendengar kesinisan yang terlontar dari anaknya yang tinggal menunggu maut tersebut. Dibutakan oleh amarah kebencian, Minato mengubah cengkeramannya dari kerah baju ke leher Menma.
"Baiklah kalau kau begitu ingin mati, Menma! Akan kukabulkan keinginanmu!" ujar Minato sambil menekan leher Menma dengan satu tangan, sementara tangan lain yang memegang pisau, siap melancarkan aksinya.
Sampai di sini saja rupanya, batin Menma. Ia pun menutup mata, bersiap menemui malaikat maut yang sudah di depan mata.
"Kh~!"
Beberapa detik berlalu dan tidak ada yang terjadi. Lebih dari itu, cengkeraman menyesakkan pada leher Menma pun perlahan melonggar dan akhirnya lepas sama sekali. Tubuh Menma merosot ke bawah tanpa ada yang menyangga.
"KAAUU! ANAK SIALAAAN!"
Perlahan mata Menma terbuka. Bayang-bayang di hadapannya masih sulit ditangkap oleh kedua matanya. Ia bahkan berpikir bahwa ia tengah melihat ilusi—dua orang Minato yang kini saling berhadapan.
Tidak.
"Na … ruto…."
Saudara kembarnya baru saja menyelamatkannya.
.
.
"Sebentar lagi, kita akan sampai ruangan Asuma," jelas Hinata yang bersiap-siap mengeluarkan pistol kecilnya.
Orochimaru mengeluarkan senapan panjangnya, sedangkan Sakura menggenggam erat katana-nya. Mereka bertiga berlari sepanjang koridor, Hinata mengokang pistolnya dan begitu sampai di pintu yang dengan keadaan terbuka itu, Hinata memelankan langkah dan menempelkan tubuhnya di sisi pintu.
Orochimaru mengikuti langkah Hinata dan mengambil alih memimpin jalan. Perlahan Orochimaru mengintip pada ruangan yang kosong. Memang terlihat sangat kosong, tapi Orochimaru tidak bodoh. Dengan menggunakan keker yang terpasang di senapannya yang panjang itu, Orochimaru membidik beberapa sudut. Kemudian mata Orochimaru menargetkan senapan pada sosok sniper yang sedang bersiap membidik target. Dengan seringai Orochimaru menekan senapannya.
Siyuuuuut!
Crep!
Peluru jarum yang dipasang di senapan tersebut berhasil mengenai leher sang sniper, bisa dipastikan sniper itu pasti langsung mati karena peluru jarum yang Orochimaru pakai sudah dilumuri racun yang sangat mematikan.
Tanpa mereka ketahui ada salah satu pengawal yang mengetahui kematian rekannya.
"PENYUSUUPP!"
"Ck, sialan!" geram Orochimaru.
Beberapa pengawal dengan senjatanya masing-masing keluar dari berbagai sudut.
"Sepertinya kita harus melawan mereka semua," ucap Orochimaru, "apa kalian siap?"
Melihat Sakura mengangguk, Hinata menyambungkan, "Aku akan melempar flash granat, setelah penglihatan mereka buram, kalian bisa langsung menyerangnya."
"Ok," ucap Sakura dan Orochimaru mengangguk.
Begitu beberapa pasukan yang tidak bisa dihitung tiba, Hinata mengambil flash granat dari sakunya kemudian membuka kait granat dengan memakai mulutnya. "Sensei, Sakura! Kalian siap?"
"Siap!"
Saat semua pasukan mendekat, Hinata melemparkan granat pada mereka, dan dengan waktu bersamaan, Orochimaru, Sakura dan Hinata langsung menutup mata mereka agar tidak terlalu terpengaruh dengan sinar yang diciptakan dari flash granat tersebut.
Selang waktu beberapa detik, mereka bertiga membuka matanya dan melihat seluruh kawanan musuh sedang menutup matanya.
"Sekaraaang!"
Orochimaru menembakkan senapannya pada musuh yang kini pelurunya diganti oleh peluru biasa. Hinata berlari sambil melawan beberapa musuh yang berhasil menghindari flash granat. Sakura yang benar-benar baru pertama kali melawan musuh membuka katana-nya, memfokuskan pandangannya pada mereka, dengan satu gerakan Sakura berhasil menebas lawannya. Darah segar menciprati wajah Sakura.
Sesaat Sakura diam dan menyentuh darah segar yang menempel di pipinya, begitu dia melihat darah tersebut, Orochimaru memergoki murid kesayangannya itu…
… menyeringai.
Sakura menggenggam katana-nya dengan erat dan bergerak dengan sangat gesit. Satu per satu lawan berhasil dia tebas tanpa ampun. Melompati tubuh lawannya sambil menebaskan katana-nya membuat Hinata dan Orochimaru sedikit terpana pada gerakan indah Sakura yang indah… namun menyeramkan.
"Sakura?" gumam Hinata.
Bagai orang yang kesurupan, Sakura membantai lawannya satu per satu dengan seringai di wajahnya, seakan puas dengan apa yang ia lakukan. Bahkan lawan yang akan Orochimaru tembak sekalipun Sakura ambil alih. Tusuk bagian belakang, tebas badan, memenggal kepala Sakura lakukan tanpa ekspresi takut sekali pun. Inikah yang dimaksud Sasuke dulu?
Tanpa mereka sadari, semua lawan mereka telah tumbang. Ada satu orang yang masih berusaha bergerak. Sakura menghampirinya, dengan tatapan sinis dan wajah serta tubuh dilumuri darah Sakura memandang lawannya.
Orang itu menatap seolah meminta ampun pada Sakura, namun gadis itu malah mengangkat katana-nya. Sebelum Sakura menancapkan katana itu pada tubuh sang lawan, Hinata segera menghentikannya.
"Sakura, cukup!"
Suara Hinata kembali membuat Sakura sadar akan tindakannya, tangan Sakura melemas dan memasukkan kembali katana pada sabuknya. "Ayo kita masuk," lanjut Sakura sambil menatap pintu besar yang berada di hadapannya.
"Sakura, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Hinata ragu, Sakura tidak menoleh namun tidak juga menyahut. Hinata tetap meneruskan pertanyaannya, "Tadi, apa kamu melakukannya dengan sadar?"
Sakura terdiam sebentar sebelum kepalanya menoleh pada Hinata dan tersenyum seperti Sakura yang biasa. "Aku sadar kok," jawab Sakura.
Dan jawaban itu membuat Hinata trekejut, namun membuat Orochimaru tersenyum… bangga.
Orochimaru membuka pintu besar bersama Hinata, begitu pintu tersebut terbuka Sakura melangkahkan kakinya ke dalam ruangan diikuti oleh orochimaru dan Hinata. Di luar perkiraan mereka, ternyata Asuma sudah menunggu kehadiran Sakura di ruangan itu. Dengan berdiri memakai pedang panjang, Asuma mengembuskan asap rokoknya.
"Selamat datang, Putriku."
A/N : HUAAAAAAAAAAAA! PENGEN TERIAK RASANYA GYAAAAAAAAAAAAAAAAA! *selesai*
XD
sumpah, yah... chapter ini sesuatu banget! susaaaah banget mikir adegan minato dan menma... sampai akhirnya saya meminta bantuan SUU FOXIE untuk membuat adegan itu.
yap! benar! yang membuat adegan Minato adalah dia, anakku yang hebat! *angkat tinggi suu foxie*
dan, maaf baru sekarang mulai bales2in review lagi, makin kesini aku makin payah bikin fict LOVE. habis bingung bikin adegannya. well, ini awalnya kan fict yang dipikirkan oleh dua orang XD tiba-tiba harus mikir sendiri memang jadi sulit =3=. tapi kesulitan itu hilang seketika karena ada kalian yang mendukung di review, anakku sayang yang bantu rela begadang sampe jam 3 pagi demi membuat adegan minato. dan isty yang mau menyumbang beberapa ide XD
ty, g pernah review lagi lu T_T
semoga chapter ini memuaskan T_T
regards
V3yagami beserta Suu Foxie
