Chapter 3: As usual, you can't predict anything
"There's nothing you can do without trying your best unless you are super lucky or I can say, you are God's beloved child." – Anonymous
(continuation from the previous chapter)
"Block macam apa itu? Aku terus yang menang. Ini terasa membosankan. Ayo pulang, Acchan."
"Masih belum, permainan ini masih belum selesai," walaupun Acchan berkata seperti itu, gerakannya sangat lambat.
J tertawa kecil, "Memangnya kau bisa mengalahkanku? Napasmu saja tidak beraturan seperti itu. Ayo pulang."
J melemparkan bola yang dia bawa dari tadi ke arah Acchan. Acchan hanya bisa tertawa terkikih melihat hal itu. Lagi-lagi, Acchan kalah dari J. Ini adalah kekalahan untuk kesekian kalinya yang diterimanya. Acchan tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Hanya saja, Acchan merasa ada yang aneh dengan perilaku J yang sering melamun. Walaupun begitu, dia tidak menunjukkan hal lain yang berubah dari kebiasaannya yang selalu bisa merebut bola dari tangan Acchan.
Acchan sendiri sebenarnya merasa ada seseorang yang mengawasinya dari tadi. Akan tetapi, Acchan tidak ingin membuat J khawatir dengan hal sepele seperti itu. Siapa tahu saja, ada seseorang yang menaksir temannya itu. J termasuk cowok cool, menurut Acchan, walaupun dia berpakaian sederhana. Para pelanggan di toko biasanya selalu meminta bantuan J, termasuk anak-anak SMA yang biasanya mempotret J secara diam-diam. Acchan tidak terlalu iri dengan ketenaran temannya. Acchan hanya merasa kasihan dengan orang-orang yang mencoba untuk mendekati J secara terang-terangan. Entah temannya itu terbilang kurang peka atau dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga orang-orang di dekatnya tidak terlalu dihiraukan selain dirinya dan manajernya.
Acchan mulai berpikiran negatif. Apa dia jangan-jangan seorang -?
"Oi, Acchan, ayo cepat. Nanti keburu malam. Aku malas menunggumu berpikir yang aneh-aneh, apalagi bengong di tempat seperti ini," Acchan sebenarnya hanya nama julukan yang J berikan karena ketika mereka berdua bertemu, rambut Acchan berwarna merah, tetapi rambutnya seperti wanita. J kemudian menjulukinya dengan nama Acchan. J menggigil kedinginan. Waktu itu memang sudah malam dan J tidak terlalu suka berada di luar dalam jangka waktu yang lama. Selain dingin, dia selalu merasakan ada seseorang yang mengamatinya dari kejauhan. Jika dia berada di dalam ruangan, J merasa aman. Selain dia sudah hafal dengan bangunan tempat dia tinggal, J bisa melihat wajah orang yang berusaha untuk menghancurkan hidupnya untuk ke dua kalinya. Karena itu, J selalu membiasakan diri untuk waspada dalam segala medan, termasuk malam hari. Ya, malam hari bisa dibilang sebagai waktu yang sangat tepat untuk seorang pemburu membunuh mangsanya, entah itu manusia atau hewan.
"Iya, Ryou, sebentar, aku mau menata barang-barangku di tas ini," jawab Acchan.
Lama sekali J menunggu Acchan membereskan barang-barangnya. J melihat keadaan sekitarnya. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang berkumpul di taman. J berpikir jika mereka hanyalah orang-orang yang sedang melakukan kencan buta. Walaupun kedengarannya hal itu dilakukan oleh orang dewasa, remaja jaman sekarang tidak mau kalah dengan orang yang lebih tua dari mereka. Mereka pasti hanya sedang mencari kesenangannya sendiri. Sementara J hanya bisa iri melihat mereka yang tertawa seolah-olah hal itu adalah hal yang paling natural yang dilakukan oleh remaja seumuran J. Sementara J harus menyembunyikan identitas aslinya, sebagai buronan yang kepalanya dihargai seperti binatang langka. J hanya bisa menggigit bibirnya sampai berdarah.
Acchan yang mendekatinya spontan kaget melihat bibir J berdarah. J pun tidak sadar jika dia menggigit bibirnya sendiri. Acchan panik, kemudian mengambil handuknya untuk mengelap darah yang ada di sekitar bibir J. J spontan menolak pemberian temannya itu karena dia tahu handuknya sudah dipakai untuk membersihkan keringat yang menempel di leher Acchan. J membersihkan darah yang melekat dengan air keran dan kaosnya. Dia tidak membawa saputangan waktu itu sehingga dia berinisiatif untuk memakai kaosnya yang berwarna putih. J tidak merasa sayang dengan bercak merah yang ada di kaos putih kesayangannya itu.
Acchan menawarinya untuk pergi ke klinik tempat Acchan biasa berobat tetapi J menolaknya dengan halus. J merasa agak baikan melihat temannya yang khawatir dengan keadaannya. J kemudian teringat dengan masa lalu yang dia coba lupakan. Waktu itu dia terluka cukup parah. Akan tetapi, tidak ada yang memperdulikan dengan keadaannya sampai dia pingsan beberapa hari kemudian. Penjaganya membawanya ke klinik dan dirawat dengan obat seadanya. Dia tidak ingin kembali ke tempat itu, tempat di mana manusia diperlakukan seperti hewan.
J merasa sedih jika mengingat tentang hal itu. Acchan sadar dengan perubahan mood sobatnya itu. Dia mencoba mencairkan suasana hati J dengan ceritanya tentang keluarganya yang tidak masuk akal. J mendengarkannya dengan seksama. Walaupun Acchan mencoba untuk membuat J tertawa, dia tidak pernah bisa membuatnya tertawa secara langsung. Reaksinya sangat lambat. Acchan memahami tentang keadaan temannya. Mungkin saja ada sesuatu hal yang terjadi sehingga J tidak bisa tertawa lepas seperti dirinya.
J berbincang-bincang dengan temannya cukup lama sampai mereka berdua kembali lagi ke kamar J. J memasak makan malam untuk mereka berdua sementara Acchan mengecek barang-barang yang masuk ke toko hari itu. J semula tidak bisa memasak. Dengan bantuan temannya itu, Acchan, dia bisa memasak masakan yang simpel. J merasa beruntung mendapat teman seperti Acchan. Dia tersenyum ketika dia bisa mengatakan hal seperti itu. Bersyukur menikmati apa yang J dapat adalah sesuatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh dirinya waktu dulu. Sekarang, dia dapat menikmati apa yang dia peroleh. Dia seharusnya tidak perlu iri kepada remaja lain yang memiliki orang tua yang dapat mereka percaya.
(pyar) suara kaca jendela yang membuyarkan lamunan J.
J segera mengambil senjatanya yang dia selipkan di celana. Dia mencoba mendekat ke tempat asal suara dengan pelan-pelan. Dia melihat orang-orang yang selalu menghantuinya di masa lalu mendobrak masuk ke dalam toko. Dia sudah memprediksi jika kehadirannya akan terendus oleh mereka, kelompok yang membuatnya merana. J tidak bisa mengelak lagi. Dia memencet tombol yang ada di sebelah tembok tempat dia berdiri.
(boom) suara bom yang J tanam sebelumnya meledak.
J sendiri bisa selamat dari ledakan itu berkat lubang rahasia yang dia modifikasi tanpa sepengetahuan orang lain. J berlari sekuat tenaga dari tempatnya dia bekerja. Dia muak dengan hidupnya yang sudah tenang, tetapi dihancurkan oleh orang-orang yang sama. Dia berlari tanpa arah. Ketika J sudah mulai sadar dengan dirinya sendiri, dia mencoba menelpon Acchan. Acchan memberitahu J jika dirinya sedang berada di stasiun bawah tanah karena ada barang yang kurang, sehingga dia memutuskan untuk mengambil barang itu langsung ke tempatnya. J menanyakan jika Acchan sekarang sedang sendirian di tempat itu. Acchan mengiyakan dan J mendapat firasat buruk. J berteriak agar dirinya segera lari dari tempat itu tetapi Acchan bingung dengan permintaan J itu.
(jleb) suara pisau yang bergerak terdengar dari suara ponsel yang J terima.
J lari ke stasiun bawah tanah terdekat dan dia melihat temannya terkapar tak berdaya. Dia sudah meninggal dunia akibat pisau yang menancap di bagian punggungnya. J tidak bisa menangis. J kemudian mengganti pakaian Acchan dengan miliknya. Tubuhnya kemudian didesain serapi mungkin agar tubuh Acchan bergerak seperti orang bunuh diri yang menabrakkan diri ke kereta yang berjalan dengan cepat. Sedangkan pisau yang membuat Acchan terbunuh dia simpan sebagai pengingat bahwa temannya terbunuh oleh benda itu dan bersumpah untuk mencari siapa yang membunuh temannya. Setelah itu, J sendiri mendapat surel dari orang yang mengaku dapat membantunya jika dia mau bekerja sama dengannya di organisasi tempatnya bekerja. Dia pun menyanggupinya dan memakai nama Jun Kanzaki, nama asli Acchan, sebagai nama aliasnya di organisasi tersebut.
"Who said that you are good enough to live peacefully, mere copy cat?" – Anonymous
(The End)
Disclaimer:
Seluruh hal yang berhubungan dengan Bloody Monday merupakan milik author Bloody Monday itu sendiri, Tadashi Agi dan Megumi Koji. Seluruh kejadian terjadi hanyalah FIKSI BELAKA. Jika anda menemuinya di dunia nyata, maka bisa dipastikan kalau itu hanyalah KEBETULAN SAJA.
Special Thanks to:
Miss Aoi~~~
Author Bloody Monday, Tadashi Agi dan Megumi Koji
Readers yang baik hati mau membaca fic ini \(^o^)\ \(^o^)/ /(^o^)/
