Dokter, I Love You: Call Me Shi Chan.
Naruto: Masashi Kishimoto.
Warning: OOC, AU, GaJe-Ness Fic, typo. Deidara's female. Don't like don't read...
oOo oOo
Pagi yang cerah di Rumah Sakit Konoha. Meski waktu baru menunjukkan pukul 07.00, rupanya semua pegawai rumah sakit sudah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing.
Seperti sehari sebelumnya, Deidara dokter baru di rumah sakit ini datang ke kamar Sasori untuk memeriksa keadaan pemuda itu. Tapi, betapa terkejutnya gadis itu saat mengetahui jika Sasori tidak berada dikamarnya.
"Sasori, kamu dimana?" Deidara mencari Sasori ke seluruh penjuru ruang, termasuk dibawah ranjang dan di kamar mandi, tapi nihil, Sasori tidak ada disana. Dan saat Deidara melongokkan kepalanya ke luar cendela, barulah ia dapati sosok yang sedaritadi dicarinya. Ternyata Sasori sedang bermain sepak bola dengan beberapa anak-anak yang sedang dirawat di tempat yang sama. Saat itu, barulah Deidara bisa bernafas lega.
oOo oOo
Dihalaman belakang rumah sakit, Sasori sedang bermain sepak bola dengan teman-teman kecilnya. Anak kecil dari panti asuhan yang sedang di rawat ditempat itu...
"Ayo tendang bolanya kesini!" kata Sasori pada salah satu anak-anak disana.
Duuk.
Hup! Sasori menangkap bola yang ditendang oleh salah satu anak kecil yang berambut hitam.
Tiba-tiba permainan bola itu dihentikan, saat Deidara muncul,
"Pagi semuanya..." sapanya pada Sasori dan anak-anak itu.
Mendengar suara perempuan itu, mereka semua langsung menoleh ke asal suara tersebut.
"Dokter?" ucap Sasori agak kaget karena kedatangannya.
Deidara hanya menebarkan senyum termanisnya pada pemuda yang baru saja menyapanya.
"Nah, anak-anak! Cepet kembali ke kamar kalian, nanti kalo suster tau, kalian bisa dimarahi lho!" Goda Deidara sambil tersenyum. Anak-anak kecil itu segera berlari kembali ke kamarnya.
oOo oOo
Sasori berjalan mendekati dokter yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Anak-anak itu kasian banget ya Dok," ucap Sasori saat melangkah bersama Deidara menuju kamarnya.
"Iya, dengar-dengar mereka keracunan makanan!" balas Deidara.
"Bukan! Mereka kasihan, karena udah nggak punya orang tua," kata Sasori. Ia tau betul bagaimana perasaan anak-anak yatim itu. Perasaan sakit dan sedih karena diusia sedini itu sudah tidak memiliki orang tua, sama seperti dirinya yang sudah ditinggal pergi oleh kedua orang tua sejak masih berumur 7 tahun.
Deidara mengangguk, "Iya... kamu benar". "Oya, gimana keadaanmu sekarang?" Deidara mengalihkan pembicaraan.
"Seperti yang dokter liat, saya jauh lebih baik," balas Sasori sambil berpose ala binaragawan. Wajahnya sendunya langsung berubah sok keren.
Deidara tersenyum simpul.
"Dokter manis banget kalo senyum, bikin saya jadi deg-deg'an~" Sasori garuk-garuk kepala.
"Jangan panggil dokter, panggil aja Deidara" gadis itu nggak kalah malu.
"Supaya lebih akrab kan? Kalo gitu... oke deh!" mengangkat jempolnya.
oOo oOo
Di bangsal tempat Sasori dirawat...
"Detak jantung kamu sudah agak normal, mungkin besok kamu sudah boleh pulang," kata Tsunade, dokter langganan Sasori setelah
memeriksa keadaan Sasori selama beberapa saat.
"Apa, nggak bisa ntar sore dok pulangnya?" tanya Sasori dengan nada kecewa.
"Mau ada pertandingan lagi ya?" tanya Tsunade yang sudah tau betul soal pasiennya yang satu itu. Bahkan, Sasori menganggap dokter paruhbaya itu seperti ibunya sendiri.
Sasori mengangguk, "Iya~".
Sementara itu Deidara asisten baru Tsunade yang juga berada diruangan yang sama hanya diam dan memperhatikan saja.
"Nanti siang, kalo keadaan jantung kamu sedikit lebih baik dari sekarang, kamu boleh pulang," kata Tsunade.
Sasori ber-yes dan tersenyum pada dokter yang masih terlihat muda itu.
"Ya sudah, jangan lupa minum obatnya!" pesan Tsunade. Sasori hanya membalasnya dengan anggukan.
Tsunade pun meninggalkan kamar itu di ikuti Deidara dibelakangnya.
oOo oOo
Waktu di Konoha baru saja menujukkan pukul 9 pagi. Tapi, wajah Sasori nampak begitu murung. Dia terlihat begitu bosan karena sendirian di dalan kamar.
Chio sedang berada dirumah. Kankuro, Temari dan Gaara tentu saja sedang sekolah. Bukannya tidur diatas ranjangnya Sasori malah mondar-mandir seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Huuuh, apa nggak ada yang menarik di rumah sakit ini?" desah Sasori.
"Lagian, gue udah nggak apa-apa kok, kenapa Dokter nggak langsung nyuruh gue pulang aja?" Sasori berbicara sendiri.
"Ngapain lo bicara sendiri gitu Sas? Kayak orang gila aja?" tanya seseorang yang tak lain adalah Tobi yang baru datang untuk menjenguknya.
Sasori menoleh. Melihat temannya datang, pemuda itu mendekati Tobi lalu memeluknya, "Gue seneng lo dateng! Ya ampun~..." meluk-meluk Tobi dengan kegirangan. Padahal yang dipeluk udah pasang ekspresi jijik.
"Ini kita bawain buah!" suara lain muncul dari belakang Tobi.
"Itachiiii..." giliran pemuda Uchiha itu yang dipeluk oleh Sasori. Tidak kuat menahan Sasori, Itachi pun terjatuh bersama Sasori bertumpu di atas dadanya.
Begitu Itachi menatapnya dengan aura ingin membunuh, Sasori cepat-cepat bangkit dan tersenyum tanpa rasa bersalah pada si Uchiha.
oOo oOo
Beberapa saat kemudian, Sasori mengajak kedua temannya itu duduk di sofa yang berada di kamarnya, lalu menyomot apel dan memakannya tanpa dikupas terlebih dahulu. Ia lahap sekali memakan apel pemberian kawan baiknya itu.
"Kayaknya lo udah sehat ya, Sas?" Terka Itachi.
"Iya, gue sehat banget. Mungkin, hari gue udah boleh pulang".
Tobi dan Itachi manggut-manggut.
"Syukur deh kalo lo udah sehat, soalnya 4 hari lagi kita bakal lawan tim Oto," ucap Tobi. "Tenang aja! Gue nggak mungkin ngebiarin kalian bertanding tanpa ada gue sebagai kapten tim..." Sasori masih asyik melahap apel merah pemberian kedua kawannya.
"Oya Sas, ngomong-ngomong, lo itu sakit apa ya?".
Mendengar pertanyaan Itachi yang amat sangat mendadak, Sasori yang sedang makan langsung keselek. Tobi menepuk-nepuk punggung cowok itu pelan, sedang Itachi menyodorkan air minum untuk Sasori.
Setelah aksi tersendak itu berakhir, barulah Sasori buka suara, "Sebenernya... gue sakit gagal jantung..." ucapnya dengan wajah serius.
Tobi dan Itachi mendelik kaget. Keduanya tidak menyangka jika sahabatnya mengidap penyakit gagal jantung.
"Gue nggak nyangka kalo penyakit lo bakal separah itu, Sas?" ucap Itachi turut prihatin.
"Iya Sas~ gue juga" timpal Tobi.
"Gue juga nggak nyangka kalo kalian percaya ama omongan gue~..." kata Sasori menahan ketawa.
Hah? Tobi dan Itachi kaget untuk yang kedua kalinya.
"Soalnya gue kan cuma bercandaaaa! Uwaaaahaha..." Sasori ngakak geje sambil guling-guling. Mengetahui jika ia dibohongi, Tobi dan Itachi langsung mendekati Sasori dan memukulnya dengan bantal yang ada. "Jadi, wajah sok cool barusan juga bohong?" tanya Tobi. Sasori mengangguk.
"Dasar~... gue pikir itu beneran..." sahut Itachi.
Sasori masih tertawa sambil memegangi perutnya. Padahal dalam hatinya ia sangat sedih karena belum bisa berkata jujur pada kawan-kawannya.
"Maafin gue Tobi, Itachi~... Gue belum bisa jujur ke kalian..." umpat Sasori dalam hati.
oOo oOo
Esok harinya...
Seperti biasa, suasana Universitas Konoha begitu ramai oleh para remaja. Tapi dikelas sastra Mandarin, suasana terkesan lebih tenang dan sedikit menegangkan. Tentu saja karena hari ini, mereka sedang mengerjakan ujian.
"Ck, kalo tau gini, mending gue masuk besok aja ya?" pikir Sasori dalam hati. Kemarin, Tsunade mengijinkannya untuk pulang. Tentu saja Sasori sangat senang kerena ia dapat segera berkumpul dengan teman-temannya. Tapi sayangnya, hari ini ada ujian yang menyebalkan. Apalagi untuknya yang belum belajar. Sasori kembali mendesah untuk kesekian kalinya. Tapi, saat itu, tiba-tiba saja ia teringat pada Deidara. Asisten dokter yang mampu menarik perhatiannya.
Sambil senyam-senyum sendiri, anak itu bergumam, "Deidara~ elo lagi ngapain ya sekarang?..." gumamnya tanpa sadar.
"Ehem," Ebisu si dosen berdehem saat tau jika siswanya sedang senyam-senyum gak jelas. Saat tau jika sang dosen sudah berdiri disebelahnya, Sasori langsung pura-pura mengerjakan soal. Padahal, tidak banyak soal yang dapat ia jawab dengan benar.
oOo oOo
Sejam kemudian, ujian pun selesai. Kini, Sasori berjalan sendirian menuju kantin. Wajahnya masih terlihat kesal karena yakin jika nilai ujiannya akan merosot secara besar-besaran. Namun, sesampainya di kantin, apa yang ia temukan...
"Hah? Dia kan?...".
oOo oOo
TBC...
oOo oOo
Coba tebak dia itu siapa?. Yah, mungkin chapter ketiga bakal telat lagi. Jadi, harap sabar ya readers. Houf, untuk menghargai fanfic gaje yang pendek ini, Shi cuma pengen semuanya meninggalkan review aja, gampangkan?. Please, jangan lupa ya...
