WHAT BROTHERS ARE FOR


-Naruto belongs to Masashi Kishimoto-


Summary: "Sasuke! Aku nggak akan bunuh diri, OK?" seru Itachi, membuat Sasuke terdiam. Itachi lagi-lagi menghela napas. 'Sekarang dia sampai bicara soal bunuh diri?' OK. Ini sudah keterlaluan. Guru-guru Sasuke harus berhenti memberinya ceramah-ceramah soal bullying. /AU/


Rating: T

Genre: Family/Drama

-Itachi-Sasuke brotherhood, No pairing

-AU, OOC


.

TWO

The Little Waiter

.

Itachi sampai di café tempatnya bekerja dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Di ruang belakang café, ia menjatuhkan tasnya ke lantai dan mengganti bajunya dengan seragam waiter café itu, –kemeja hitam lengan pendek dengan celana jeans panjang dan celemek hijau tua. Di saku kemejanya tersemat logo café dan name tag bertuliskan 'Uchiha Itachi'.

"Hei, Itachi-kun!" Hana berjalan masuk ke dalam dengan membawa segenggam garpu dan setumpuk serbet. Itachi melempar sebuah senyum kecil kepadanya, yang dibalas Hana dengan cengiran lebar.

"Siang, Hana." sapanya sambil kemudian menguap dan mengucek matanya dengan letih.

Hana sudah menjadi teman Itachi sejak setahun lalu, —sejak Itachi mulai bekerja sebagai waiter di café itu. Dia juga sudah tahu tentang keadaan Itachi yang harus susah payah bekerja demi menanggung biaya hidupnya dan adiknya. (Itachi akhirnya menceritakannya kepada Hana setelah gadis itu berkali-kali menanyakan soal hal itu.)

"Kurang tidur lagi?" tanya Hana sambil membuka lemari peralatan makan dan memasukkan serbet-serbet yang dibawanya ke dalam.

"Hm..." gumam Itachi tak jelas, memungut tasnya dan menarik keluar sebuah notes kecil.

Hana menoleh kepadanya dan tersenyum tipis, matanya menyiratkan sedikit kekhawatiran. "Jangan memaksakan diri, Itachi. Hari ini kau istirahat saja dulu. Aku bisa menggantikanmu bekerja malam nanti," tawarnya. Itachi cepat-cepat menggeleng.

"Terima kasih, Hana," Itachi tersenyum tulus, "...Tapi aku sudah terlalu banyak merepotkanmu."

Hana mengernyitkan dahi. "Apanya yang 'terlalu banyak'? Kau hampir selalu menolak jika ingin kubantu, kok!"

Itachi tidak menanggapinya, hanya tersenyum sekilas dan berjalan menuju pintu.

"Aku pergi duluan, Hana." katanya sambil membuka pintu dan melangkah memasuki café yang sudah mulai ramai. Selama beberapa detik, suara ribut dari luar menyeruak masuk ke dalam ruangan sebelum kembali teredam saat pintu ditutup.

Hana menghela napas panjang.

'Itachi...'


Pelanggan pertama yang dilayaninya hari itu adalah sepasang suami istri dengan anak laki-laki mereka yang tampaknya masih berusia 6 tahun. Itachi menghela napas dalam-dalam sebelum memaksakan sebuah senyuman dan berjalan ke arah meja mereka.

"Selamat siang, nama saya Itachi. Saya yang akan melayani Anda hari ini. Mau pesan apa...?" tanyanya dengan nada ramah, —mengucapkan kata sambutan yang sudah berkali-kali diucapkannya untuk menyapa para pelanggan.

"Kami ingin pesan...— " tanpa benar-benar menyimak apa saja pesanan orang itu, tangan Itachi secara otomatis langsung menuliskan apa yang didengarnya ke notes kecilnya. Selesai menulis, ia membacakan kembali pesanan orang itu untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah, lalu mengatakan bahwa pesanan mereka akan segera tiba, membungkuk sopan, dan pergi ke dapur untuk menyampaikan pesanan.

Hal itu kembali diulanginya bagi pelanggan-pelanggannya yang berikutnya; empat orang adik kelasnya di sekolah (semuanya masih mengenakan seragam sekolah dan masih membawa tas), sepasang suami-istri paruh baya, dan seorang wanita muda.

Tentu saja, Itachi merasa bosan. Sudah hampir satu tahun ia menjadi waiter di café itu. 'Ritual' ini sudah diulanginya selama ratusan, –bahkan ribuan kali.

Tapi, bagaimanapun juga, ia sudah merasa sangat bersyukur bisa mendapat pekerjaan yang layak. Apalagi dua bulan lalu ia sudah mendapat kenaikan gaji.

"Hana-nee-san! Apa Itachi-nii ada?"

Itachi langsung mendongak dari meja yang tengah dibersihkannya. Wajahnya seketika berubah cerah mendengar suara riang yang sangat dikenalnya itu.

Ia menoleh ke arah meja kasir, dimana seorang anak kecil berambut hitam sedang berbicara dengan antusias kepada Hana. Sepertinya ia sedang menceritakan sesuatu. Hana mengacak rambut anak itu dan tertawa kecil mendengarkan ocehannya yang super cepat.

"Sepertinya kakakmu masih melayani pelanggan, Sasuke-kun... Apa mau kupanggilkan?" tawar Hana, menyela kata-kata Sasuke. Sasuke mengangguk dengan bersemangat dan tersenyum lebar.

"Kamu tunggu saja di belakang. Aku akan panggilkan kakakmu," Hana mengelus bahu Sasuke dan tersenyum. Sasuke kembali mengangguk riang dan berlari kecil menuju ke belakang café, ke ruangan khusus staff.

Hana berjalan menghampiri Itachi yang sejak tadi memperhatikan mereka. "Sepertinya dia bersemangat sekali hari ini," kata Hana, tersenyum simpul.

Itachi balas tersenyum. "Ya. Aku berjanji akan membelikan makanan favoritnya kalau dia dapat nilai 100 dalam tes matematika,"

"Oh, jadi tadi dia berusaha menceritakan soal itu, ya..." Hana tertawa kecil, "Aku nggak terlalu mengerti apa yang dikatakannya tadi. Bicaranya cepat sekali, sih."

"Yah... Kalau melihat sikapnya yang semangat begitu, sudah pasti dia berhasil dapat nilai 100..." kata Itachi seraya meletakkan kain lap yang sejak tadi dipakainya membersihkan meja. "Aku pergi sebentar, ya, Hana..."

Hana hanya mengangguk. Ia mengawasi dengan senyum tipis sementara Itachi berjalan cepat ke belakang café dan menghilang ke balik pintu ruang staff untuk menemui adiknya.

"Halo, Sasuke..." Itachi menutup pintu dibelakangnya dan berjalan menghampiri adiknya yang sedang duduk di sebuah kursi berlengan. Sasuke tersenyum lebar dan langsung menghambur memeluk Itachi—, membuat kakaknya itu hampir jatuh terjungkal ke belakang.

"Itachi-niiiii~!" Sasuke mendongak memandang kakaknya, sepasang mata onyx-nya yang besar bersinar cerah, "Coba tebak aku dapat nilai berapa untuk tes Matematika!" Sasuke melompat-lompat kecil saking bersemangatnya.

"Hmm... Biar kutebak...," Itachi memasang pose berpikir, "Mungkin... 10?" candanya. Sasuke langsung cemberut dan melepaskan pelukannya.

"Aku kan nggak sebodoh itu, Nii-san! Coba tebak lagi!" katanya dengan nada agak tak sabar, menarik-narik ujung kemeja kakaknya.

Itachi tertawa melihat antusiasme adiknya.

"Hmm... Aku tidak tahu, Sasuke. Memangnya berapa nilaimu?" Itachi berjongkok di depan Sasuke sehingga tinggi mereka sejajar.

"Baiklah! Akan kuberitahu... –Aku dapat 100! Berarti nanti kakak harus membelikanku omusubi...!" Sasuke kembali memeluk Itachi dengan gembira. Itachi mengelus kepala adiknya dengan bangga.

"Kerja bagus, Sasuke," pujinya tulus. Sebuah senyum lembut terlukis di bibirnya.

Itachi tahu bahwa Sasuke sebenarnya sangat cerdas, dan selalu bisa memperoleh juara kelas dengan mudah. Inilah salah satu alasan utama yang mendorong Itachi untuk bekerja keras tanpa mengeluh. –Itachi tidak ingin Sasuke sampai putus sekolah karena kondisi ekonomi mereka. Jangan sampai kecerdasan adiknya menjadi tersia-siakan hanya karena masalah uang...

"Beli omusubi-nya nanti malam saja, ya, Sasuke... Siang ini aku masih sangat sibuk," kata Itachi sambil kemudian menarik diri dari pelukan Sasuke dan bangkit berdiri.

Sasuke hanya mengangguk mengerti. Itachi melirik ke arah jendela persegi kecil pada pintu yang menunjukkan suasana café yang semakin ramai.

"Ah... Maaf, ya... Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Aku harus kembali bekerja," kata Itachi dengan nada agak kecewa, melempar senyuman kecil kepada adiknya. Namun, Sasuke tampaknya tidak sedang mendengarkan. Matanya tengah tertuju ke jendela kecil pada pintu, memperhatikan suasana café di baliknya.

"Sasuke?" panggil Itachi, membuat Sasuke langsung tersadar dari lamunannya.

"Umm... Kak? Bolehkah aku ikut membantu?" pintanya, memandang Itachi dengan penuh harap.

Kadang-kadang Sasuke sedikit membantu pekerjaan Itachi sebagai waiter. Sasuke merasa kasihan melihat kakaknya yang kelelahan bekerja sendirian. Karena itu, dia senang berpura-pura bekerja bersama-sama kakaknya demi menanggung biaya hidup mereka bersama.

Itachi menghela napas. "...Sasuke—,"

"Please...!" Sasuke memegangi pergelangan tangan Itachi , "Hari ini kan aku dapat nilai 100! Jadi kakak harus bersikap ekstra baik padaku hari ini..." Sasuke tersenyum memohon.

Itachi lagi-lagi menghela napas. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa adiknya itu senang sekali menemaninya bekerja sebagai waiter.

"Baiklah. Kau masih ingat apa saja yang harus kau katakan untuk menyambut pelanggan?"

"Tentu saja!" Sasuke mengangguk antusias.

"Oke. Pastikan kau mencatat pesanan dengan rapi, supaya bisa dibaca para koki di dapur." kata Itachi mengingatkan. Sasuke mengangguk lagi. Itachi tersenyum kecil dan menyerahkan sebuah buku catatan serta pulpen kepada Sasuke.

"Nah, sekarang ayo kita pergi..."

Itachi berjalan mengikuti Sasuke yang berlari kecil menuju ke luar. Saat tiba di tengah-tengah café, Sasuke berhenti sejenak. Sasuke melempar pandang ke sekitarnya –seolah sedang mencari sesuatu—, sebelum akhirnya menarik Itachi bersamanya menuju ke sebuah meja di pojok café.

Itachi tertegun sejenak ketika menyadari bahwa penghuni meja yang mereka tuju ternyata adalah teman-teman sekelasnya: Kisame, Sasori, Deidara, Konan, dan Pein. Itachi segera membuka mulutnya untuk memprotes, namun ia mengurungkan niatnya karena mereka berdua sudah terlanjur sampai di depan meja itu.

"Selamat siang!" sapa Sasuke ceria, "Namaku Uchiha Sasuke dan aku yang akan melayani kalian siang ini! Mau pesan apa?" tanyanya, tangannya memegangi pulpen dan buku notes Itachi, –siap mencatat pesanan.

"Waaah~ Kamu manis sekali...!" puji Konan sambil mencondongkan tubuhnya untuk memandang Sasuke lebih dekat.

"Terima kasih, kak!" jawab Sasuke, tersenyum manis.

Sementara itu, Sasori, Kisame, dan Deidara tampak agak terkejut melihat kehadiran Itachi dan adiknya. Mereka belum tahu bahwa Itachi bekerja sebagai waiter di situ. Ini memang agak aneh, mengingat Itachi sudah bekerja di situ selama hampir setahun. Namun mereka bertiga memang jarang berkunjung ke café itu, meskipun letaknya dekat dengan sekolah mereka.

"Uchiha... Kenapa kau—, ..." Sasori ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Itachi hanya mengangguk kaku kepada mereka semua, matanya menatap ke arah jendela alih-alih ke teman-teman sekelasnya itu.

Sementara itu, Kisame hanya mengangkat bahu sekilas dan mulai membuka-buka buku menu. "Aku ingin pesan minuman, tapi aku belum memutuskan yang mana. Kira-kira yang mana yang paling enak, Sasuke-chan?" tanya Kisame, tersenyum lebar.

Itachi menghela napas, dalam hati bersyukur karena Kisame memutuskan untuk tidak bertanya macam-macam dan malah mengalihkan pembicaraan.

Sasuke mulai menyarankan berbagai menu spesial hari itu kepada Kisame. Itachi tersenyum tipis. Sasuke pintar juga menjalankan tugas sebagai waiter...

"Hoi! Itachi! Tolong antarkan pesanan ke meja 19!" panggil Izumo (salah satu teman kerja Itachi) dari meja kasir, membuyarkan pikiran Itachi.

"Ya!" Itachi balas berseru. Ia menoleh ke arah Sasuke dan sejenak meletakkan tangan di bahunya. "Sasuke, aku mau mengantar pesanan dulu, ya. Aku akan segera kembali," katanya pelan sebelum berpaling meninggalkan Sasuke bersama kelima temannya.

Dua menit kemudian, Sasuke telah selesai mencatat semua pesanan.

"...Masih ada tambahan?" tanya Sasuke. Kisame, Deidara, Sasori, Konan, dan Pein hanya menggeleng. Sasuke menyimpan pulpennya dan menutup buku notes-nya. "Baiklah! Pesanan kalian akan tiba dalam 15 menit!" kata Sasuke dengan nada ceria, yang dibalas dengan senyuman dari mereka berlima.

"Terimakasih, Sasuke-chan!" kata Konan sambil mengelus kepala Sasuke. Sasuke tersenyum lebar.

"Sama-sama! Aku permisi dulu, kak!" katanya sambil membungkuk kepada mereka berlima dan berlari kecil ke arah dapur untuk menyampaikan pesanan.


Sasori menghela napas.

"Aku tidak tahu dia bekerja di sini..." gumamnya, memandang ke arah meja kasir. Pein mengangkat alis.

"Siapa maksudmu? Uchiha... ?" tanyanya sambil bersandar ke kursinya. Sasori dan Deidara menggangguk pelan.

"Apa maksudmu kau tidak pernah melihatnya?" Konan meletakkan sikunya di meja, bertopang dagu. "Dia sudah cukup lama bekerja di sini, kok. Hampir tiap hari aku melihatnya di sini... Kecuali hari Minggu,"

"Kami jarang ke sini." kata Kisame, kemudian melirik ke arah Konan dan Pein, "Kalian selalu ke sini setiap pulang sekolah, ya?"

Pein mengangguk. "Kami biasa makan siang di sini. Aku nggak terlalu suka makan di sekolah."

"Iya, un! Makanannya nggak enak!" celetuk Deidara. Konan dan Kisame mengangguk setuju.

"Itachi-nii~ Bisa tolong aku membawa pesanan? Aku nggak bisa mengangkat semuanya sendirian!" tiba-tiba terdengar suara Sasuke dari arah counter.

Mereka berlima menoleh untuk melihat Itachi dan Sasuke —masing-masing membawa pesanan diatas tray— berjalan bersama-sama ke arah meja mereka.

"Ini pesanannya!" kata Sasuke ceria sambil meletakkan tray-nya di atas meja, disusul oleh Itachi.

"Terima kasih, un." Deidara tersenyum kepada mereka berdua.

"Sama-sama!" balas Sasuke.

Itachi memandang teman-teman sekelasnya selama beberapa saat. "Maaf, ya, soal yang tadi siang," katanya tiba-tiba. "Kalau aku tidak tertidur, kalian tidak perlu ikut dihukum berlari keliling lapangan..."

"Nggak apa-apa, kok..." kata Konan, tersenyum tipis. Tadi siang ia juga sempat agak kesal kepada Itachi karena membuat mereka semua kena hukuman.

"Deidara, maaf, ya..." kata Itachi, mengalihkan pandangannya ke Deidara, "Tadi aku menabrakmu sampai jatuh..."

Deidara hanya tersenyum. "Nggak apa-apa, kok, Itachi! Itu kan gara-gara Sakon mendorongmu!"

Sasuke tampak terkejut. "Eh? Seseorang mendorong kakak lagi...?" ia mengernyitkan dahi, tampak agak marah. "Kita harus bicara, Nii-san!" katanya tegas sambil berpaling menghadap Itachi.

"Uuh... OK.." kata Itachi, tampak agak enggan. "Ayo kita ke belakang dulu, Sasuke. Ini sudah waktunya istirahat. Aku akan sekalian membantumu mengerjakan PR," gumam Itachi sambil menggandeng Sasuke.

"Sekali lagi, maaf, ya..." katanya lagi kepada teman-temannya sebelum berjalan dengan Sasuke ke ruang staff.


Sasuke mendongak dari buku PR-nya ketika mendengar pintu terbuka dan menutup. Wajahnya langsung berubah cerah ketika melihat Itachi berjalan ke arah kursi berlengan tempatnya duduk dengan membawa dua piring penuh makan siang.

"Akhirnya!" Sasuke berseru senang sambil mengambil piringnya dari tangan Itachi. Itachi tersenyum dan memindahkan buku PR adiknya ke meja, menyediakan tempat baginya untuk duduk di sebelah Sasuke.

"Bagaimana harimu? Baik-baik saja di sekolah?" tanya Itachi. Sasuke menelan makanannya sebelum menjawab,

"Ya. Tapi sepertinya harimu tidak berjalan terlalu baik," katanya, menatap kakaknya dengan serius.

"Sasuke... Jangan mulai lagi—"

"Tidak! Kakak tidak boleh membiarkan mereka mempermainkan kakak terus!" potong Sasuke tak sabar, "Sudah cukup buruk nilai-nilai kakak menurun drastis! Aku nggak mau kakak sampai dilukai!" serunya, memulai ceramahnya yang biasa.

Sejak Sasuke merima ceramah dari gurunya di sekolah soal efek bullying, ia jadi sering mencereweti kakaknya soal hal itu.

Itachi menghela napas mendengar rentetan ocehan Sasuke.

"Sasuke... Aku—"

"... mereka merasa lebih kuat darimu karena kau tidak pernah melawan! Kalau dibiarkan saja, tindakan mereka malah akan semakin menjadi-jadi. Banyak remaja korban bullying menjadi depresi dan kemudian bunuh diri! Kakak harus segera konsultasi ke guru kakak atau kakak bisa-bisa menjadi depresi dan bunuh diri! Kakak tidak boleh bunuh diri! Nanti aku akan jadi kesepian dan—"

"Sasuke! Aku tidak akan bunuh diri, OK?" seru Itachi, membuat Sasuke terdiam. Itachi lagi-lagi menghela napas.

Sekarang dia sampai bicara soal bunuh diri? OK. Ini sudah keterlaluan. Guru-guru Sasuke harus berhenti memberinya ceramah-ceramah soal bullying.

"Dan lain kali tolong pelankan suaramu, Sasuke... Bisa-bisa seisi café mendengar ceramahmu..." gumam Itachi.

"Kalau begitu kakak tidak boleh membiarkan mereka mempermainkan kakak lagi!" kata Sasuke.

"Hhh... Baiklah..." kata Itachi menyerah. Ekspresi Sasuke kembali cerah.

"Oh, ya, kak! Boleh aku ikut ekskul sepak bola tahun ini?" tanyanya.

"..."

"Kak?"

"...Kapan waktu ekskulnya?" tanya Itachi pelan. Sasuke tersenyum lebar.

"Latihannya setiap hari Senin sampai Jumat, waktu pulang sekolah —dari jam 3 sampai jam 4 sore." katanya antusias. "Kita hanya perlu membayar seragam dan sepatu sepak bolanya saja, jadi seharusnya biayanya tidak terlalu mahal..."

Itachi tersenyum kecut. Apa Sasuke tidak tahu berapa harga sepatu olahraga?
Tentu saja Itachi ingin menyenangkan adiknya, tapi hutang apartemen mereka masih sangat jauh dari lunas...

"...Aku tidak tahu, Sasuke." katanya lambat.

"Please?" pinta Sasuke sekali lagi dengan wajah memohon, tangannya ditangkupkan seperti berdoa.

Itachi tak bisa menolak jika Sasuke telah memasang wajah begitu. Namun apa bagusnya Sasuke masuk ke tim sepak bola kalau mereka jadi kehilangan tempat tinggal...?

"Aku janji aku akan belajar lebih keras dan berlatih sepak bola dengan sungguh-sungguh! Pleease~!"

...Tapi, Sasuke memang sudah sangat menyukai sepak bola sejak dulu. Lagi pula, lebih baik Sasuke berolahraga di luar setiap siang dari pada cuma duduk menunggu sampai malam di café...

"Baiklah," kata Itachi akhirnya, sepenuhnya sadar kalau ia telah menggali lubang hutangnya lebih dalam lagi.

"Terima kasih banyak, kak!" Sasuke meletakkan piringnya dan memeluk kakaknya dengan gembira.

"Sama-sama..." kata Itachi lirih, tiba-tiba kembali merasa letih.


Lima orang remaja berjalan keluar dari café ketika hari menjelang sore.

"Cukup lama juga kita di sana..." gumam Sasori, mengecek waktu di jam tangannya.

"Nggak apa-apa, kan? Sudah lama kita nggak pergi bareng," ujar Konan santai.

"Tapi aku kaget, un." kata Deidara pelan, "Aku nggak nyangka Itachi bekerja jadi waiter di situ..."

"Aku juga bingung." gumam Kisame, mengernyitkan dahi.

"Hn. Bukannya dia masih terlalu muda buat bekerja sendirian begitu? Memangnya orangtuanya nggak punya pekerjaan?" tanya Pein. Kisame menggeleng.

"Orangtua Itachi meninggal waktu umurnya sekitar 3 atau 4 tahun," kata Kisame. Sasori mengangkat alis.

"Tapi bukannya sejak itu dia tinggal bersama bibi tirinya? Apa bibinya nggak punya pekerjaan sampai-sampai Itachi yang harus bekerja?"

"Itu yang membuatku bingung... Seingatku Yui-san punya pekerjaan, kok. Tapi aku nggak tahu, sih, apa pekerjaannya..." kata Kisame.

"Oh, ya... Apa benar Uchiha-san tinggal di daerah pinggiran kota yang kumuh itu...?" celetuk Konan.

"...Ya." jawab Kisame pelan. Ekspresi wajah Konan langsung menyiratkan sedikit rasa jijik.

"Pinggiran kota? Maksudmu di sarang para kriminal itu?" tanya Pein tak percaya. Kisame lagi-lagi mengangguk.

"Kira-kira apa benar dia jadi pemakai narkoba, un?" gumam Deidara. Kisame mendelik kearahnya.

"Sudah kubilang, kan? Itachi BUKAN orang seperti itu." tegasnya. "Kalaupun dia tinggal di lingkungan seperti itu, belum tentu ia ikut terpengaruh tabiat buruk orang-orang di sana,"

"Kalau menurutku sih mungkin saja," kata Konan kalem, "Soalnya dia akhir-akhir ini menunjukkan sikap seperti pemakai narkoba. Nggak peduli soal kebersihan, prestasi jeblok, mata memerah, tidur di kelas, tidak bersemangat, dan—,"

"Konan." desis Kisame, tampak marah. "Jangan buat aku mengulanginya lagi."

Konan langsung terdiam. Sementara itu, Pein memutar mata.

"Kenapa kau sepertinya sangat membela Uchiha, sih? Bukannya dia sekarang sudah bukan temanmu?"

"Aku tidak pernah bilang dia bukan temanku," gumam Kisame.

"Aku setuju dengan Kisame," kata Sasori, matanya menatap lurus ke depan, "Itachi sebenarnya teman yang baik, kok. Dia sopan, ramah, dan perhatian pada adiknya. Hanya saja, dia sering menutup diri kalau sedang punya masalah."

Kisame mengangguk setuju.

"Mungkin besok aku akan berkunjung ke sini lagi..." gumamnya.


Berjam-jam kemudian, sekitar pukul 11 malam, Itachi berjalan hilir mudik di dalam café yang sudah tutup, membersihkan meja-meja yang masih kotor. Sementara itu, di dekat counter, Hana masih sibuk mengepel lantai.

"Dapat banyak tips hari ini?" tanya Hana, mendongak dari pekerjaannya.

"Sekitar 100 dollar," kata Itachi, terbatuk sedikit. "Lumayan juga, sih..."

"Oh. Baguslah," Hana tersenyum dan kembali mengalihkan perhatian ke pekerjaannya.

Itachi segera membersihkan meja yang terakhir dan pergi ke ruang staff untuk meletakkan alat bersih-bersih dan mengganti baju. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang gelap itu dan melihat Sasuke yang sedang tertidur di sofa, tas sekolahnya dipakai sebagai bantal.

Itachi berjalan mendekati sofa dan berlutut di sampingnya. "Sasuke..." panggil Itachi, mengguncang bahu adiknya dengan pelan. Beberapa saat kemudian, Sasuke membuka matanya sedikit.

"Ah, Nii-san..." ia perlahan duduk dan mengucek matanya, "Sudah mau pulang?" tanyanya letih. Itachi mengangguk dan bangkit berdiri.

"Ya. Pakai sweater-mu dan simpan buku-buku pelajaranmu. Aku harus menolong Hana membuang sampah dulu," katanya. Sasuke mengangguk dan beringsut turun dari sofa untuk membereskan buku-buku pelajarannya.

Ketika Itachi keluar dari ruangan, ia berpapasan dengan Hana yang baru saja meletakkan kain pel di gudang.

"Sasuke sudah bangun?" tanya Hana sementara mereka berdua berjalan menuju tempat-tempat sampah di dapur. Itachi hanya menggangguk.

"Sepertinya kau benar-benar perlu orang untuk mengawasinya," kata Hana lagi.

"Aku tidak bisa, Hana." kata Itachi datar, "Toh aku tidak punya waktu untuk mencari pengasuh ataupun punya uang untuk membayarnya..."

Mereka berdua mengambil masing-masing satu plastik sampah dan cepat-cepat berjalan keluar café untuk membuangnya ke tempat sampai besar di seberang lapangan parkir.

Itachi dan Hana otomatis mengernyitkan wajah dengan jijik sementara mereka membuang plastik-plastik itu ke dalam box sampah besi yang sangat bau.

Mereka buru-buru kembali ke café untuk mencuci tangan. Ketika Itachi kembali ke tengah café, ia mendapati Sasuke sedang berdiri di dekat pintu dengan wajah mengantuk.

"Ayo, Sasuke, kita pulang." kata Itachi pelan sambil kemudian berjongkok membelakangi Sasuke, mengizinkan Sasuke untuk memanjat ke punggungnya sebelum ia bangkit berdiri dengan menggendong adiknya itu.

"Kak... Kita jadi beli omusubi, tidak?" tanya Sasuke.

"Tadi sudah kubelikan, kok. Sekarang ada di dalam tasku," kata Itachi. Sasuke mengangguk kecil dan memejamkan matanya.

Itachi sudah membelikan makanan favorit Sasuke itu saat istirahat makan malam. Ia menghabiskan waktu hampir 45 menit untuk mencari restoran Jepang yang menjual omusubi . Agak sulit untuk mencari makanan Jepang di tempat itu, dan harganya juga agak mahal.

Kedua orangtua Itachi dan Sasuke adalah orang Jepang. Mereka pindah ke California karena pekerjaan ayahnya. Sekarang, setelah orangtua mereka meninggal karena kecelakaan, Itachi dan Sasuke terjebak di negeri asing ini, tanpa keluarga dan relasi sama sekali.

Sebenarnya Itachi masih ingat tentang orangtua dan keluarganya. Ia ingat bahwa Klan Uchiha —klannya—, adalah salah satu keluarga terkaya di Jepang.

Begitu kontras dengan kehidupannya sekarang.

"Sampai jumpa besok, Itachi!" kata Hana sambil melambaikan tangannya dan berjalan ke arah lapangan parkir yang gelap.

"Sampai jumpa, Hana." kata Itachi, balas melambai kepada Hana. Sambil terbatuk-batuk pelan, ia ikut berjalan melintasi lapangan parkir, menggigil sedikit karena angin malam yang membekukan tulang.

Ia berjalan menyusuri jalan raya yang kosong, menuju ke daerah pinggiran kota yang lebih kumuh dan tak terawat.

Di bawah lampu-lampu jalan yang temaram, terlihat beberapa pria berjaket hitam dengan rokok terselip di mulutnya—, para penjual narkoba. Di beberapa tempat berkumpul wanita-wanita dengan pakaian terbuka yang akan menawarkan diri kepada setiap pria asing yang lewat.

Rahang Itachi menegang. Ia merasa jijik dengan orang-orang tak bermoral itu.

Tak lama kemudian, ia sampai di depan gedung apartemennya. Ia berjalan mendaki tangga yang curam ke lantai 4, tangannya mencengkram pegangan tangganya kuat-kuat agar tak jatuh.

Sesampainya di atas, ia menarik keluar sebuah kunci berkarat dari saku celananya dan cepat-cepat membuka pintu menuju apartemennya yang pengap.

Menutup pintu di belakangnya, Itachi melintasi ruang tamu yang kosong dan masuk ke dalam kamar Sasuke. Ia menurunkan Sasuke ke tempat tidur dan menolong adiknya itu melepas sepatu, tas dan sweater-nya. Sasuke langsung membaringkan diri di atas tempat tidur dengan lelah.

Sementara itu, Itachi melepaskan sepatunya sendiri dan melemparkannya asal saja ke ujung ruangan. Sasuke bergeser memberinya tempat ketika Itachi naik ke tempat tidur untuk berbaring di sampingnya.

"'Malam, kak..." gumam Sasuke tak jelas sementara Itachi menarik selimut melapisi mereka berdua. Itachi tersenyum letih.

"Selamat tidur, Sasuke." bisiknya lirih, mengecup dahi Sasuke sebelum akhirnya menjatuhkan kepalanya ke bantal dan tertidur.

.

TBC..

.


A/N: Yaay~ Jadi juga! Maaf update lama... Saya kena writer's block parah! *bungkuk-bungkuk* Mudah-mudahan ini cukup panjang...

Makasiih... makasiiih... buat semua yang review dua chapter sebelumnya!

~Black'MirR0r