A Naruto Fanfiction
All Character Naruto belong to Masashi Kishimoto
Genre : Mystery, Romance, Horror
Rated : M [for Violence]
Warning : AU, OOCNESS, DEATH CHARA, TYPO'S, Diksi yang gak ada bagus-bagusnya
.
.
.
Nyan Himeko collab with Vanille Yacchan and Eun bling-bling
Proudly presents
BLOODY 19th
.
.
.
[Story 2 : Appearance ofThe Mark 19...]
...
...
Previous Story...
Sosok itu menempelkan sabitnya keleher mulus Sakura.
Glek!
Sakura tampak menelan ludahnya saat sosok itu mulai menekan sabitnya. Sosok itu terlihat menyeringai dan sedetik kemudian ia dengan cepat menggerakkan sabitnya.
"KYAAAAAAAAAA..."
Sakura terbangun dari mimpi buruknya, yang semakin lama tampak semakin nyata baginya. Sakura mendekap mulutnya, napasnya tersengal-senggal. Keringat dingin membanjiri piyama tidurnya. Matanya sembab, air mata meluncur dengan deras membasahi pipi-pipinya yang mulus. Sakura teringat sesuatu, disibakannya lengan kanan piyama tidurnya.
"Kenapa benda ini semakin bertambah saja." Umpatnya, begitu melihat tanda berbentuk bulan sabit disebelah angka satu yang sebelumnya muncul secara tiba-tiba dilengan kanannya itu.
Sakura teringat mimpi buruknya itu, diraihnya ponsel biru yang ia letakan disamping jam bekernya, lalu segera menekan speed dial 1.
"Kaa-san?" Pekik Sakura, begitu tersambung dengan orang yang ditelponnya itu.
"Ada apa Saku-chan?"
"Kaa-san, apa kaa-san dan otoo-san baik-baik saja? Maksudku kalian tidak kenapa-kenapa kan?"
"Tenanglah, sayang. Kaa-san baik-baik saja, err... kalau otoo-san dia agak sedikit lelah karena dari tadi terus mengemudi mobil."
Sakura menarik napas lega
"Sakura?"
"Ha'i... Ha'i kaa-san..."
"Jaga baik-baik dirimu selama kami pergi, wakatta?"
"Ha'i, Kaa-san. Kalian juga... Sampaikan salamku untuk nenek."
"Ya sudah, lanjutkan tidurmu lagi. Ayo sana... Have a nice dream, Honey"
"Ha'i, Kaa-san..."
Piip
...
...
"Sakura, kau kenapa?" Sasori mengibas-ibaskan tangannya dihadapan Sakura, tapi Sakura sama sekali tak bereaksi.
"Sakura!" Pekik Ino yang tiba-tiba muncul dari belakang Sakura, berusaha mengagetkan gadis itu, tapi tetap saja tidak berhasil. Ino duduk dengan lunglai disamping Sakura sambil memanyunkan bibirnya.
"Engg... Sasori..." Sasori menoleh, mendapati Ino memasang wajah meringis. "Aku ke toilet sebentar ya? O.K? Kau tetap disini jaga Sakura."
"Hn!" Jawab Sasori dengan malas.
Ino bangkit dari duduknya dan berlari kecil kearah toilet wanita. Tinggal Sasori dan Sakura yang duduk disana. Sasori menghela napas sebentar, lalu menyedot soft drinknya
"Sasori..."
Akhirnya Sakura membuka mulutnya, Sasori segera menoleh dan menatap Sakura lekat.
"Hm?" Balasnya, seraya menaruh soft drinknya diatas rerumputan. Ia menyandarkan punggungnya di sebuah pohon tua yang dikelilingi tanaman clover.
"Sasori, apa kau pernah bermimpi buruk?" Tanya Sakura yang menatap rerumputan hijau dihadapannya.
"Eh? Mimpi buruk? Apa ya?" Ucap Sasori seraya menyentuh dagunya, berpikir. "Sepertinya pernah, seperti diterkam laba-laba atau digigit serangga raksasa. Ya seperti itulah, memang kenapa?"
Sakura menarik napasnya dalam kemudian berpaling menatap Sasori dan berbicara lagi. "Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi buruk Sasori. Dan mimpi itu terasa begitu nyata. Pembunuhan-pembunuhan itu, sosok bertudung hitam... Aku takut Sasori, aku takut... Tolong aku." Isak Sakura.
"Tenanglah Sakura, semuanya akan baik-baik saja" Sasori meluruskan punggungnya. Ia memegang pundak Sakura berusaha menenangkan gadis itu.
"Tapi Sasori, aku—"
"Sssttt... Tenanglah. Aku punya sesuatu untukmu." Potongnya seraya menyingkirkan tangannya dari pundak Sakura.
Sakura menatap Sasori heran, Sasori tersenyum lalu menyuruh Sakura mengangkat telapak tangan kanannya.
"Lihat telapak tangan itu, kemudian pusatkan pikiranmu disana." Sakura mengangguk afirmatif. "Bayangkan buah yang kau suka, kau suka apa Sakura?" Tanya Sasori.
Sakura berpikir sebentar. Kemudian ia mengangguk singkat. "Jeruk!" Ucapnya.
Sasori mengangguk singkat. "Bagus, bayangkan jeruk di area ini." Ia menunjuk telapak tangan Sakura. Sedetik kemudian Sasori membuka suaranya lagi. "Apa kau sudah berhasil membayangkannya?" Sakura menganguk, matanya masih menatap telapak tangannya.
Tiba-tiba Sasori mendorong telapak tangan Sakura hingga membentur wajahnya dengan keras. Sakura mengaduh kesakitan, sementara Sasori tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahahahaha, Kalau saja kau bisa lihat ekspresimu tadi. Kau pasti akan tertawa terbahak-bahak Sakura. Ahahahahahahaha..." Sasori mengusap sedikit air matanya yang keluar dari ujung kelopak matanya, karena tertawa terbahak.
Sakura memicingkan tatapan mematikan kearah Sasori. "DASAR SASORI! Kau menipuku!" Geram Sakura.
Tangan Sakura bergerak memukul-mukul bahu Sasori, mereka berdua tampak senang, meskipun Sasori tetap mengaduh akibat pukulan Sakura.
"Apa yang terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Ino yang baru datang sambil menatap Sasori dan Sakura bergantian dengan ekspresi heran. Sasori dan Sakura saling bertatapan kemudian serentak tertawa bersama-sama, membuat Ino semakin heran.
Sakura dan Sasori menghentikan tawanya. Ino menaikkan satu alisnya. "Sudah acara tertawanya? Kalian ini seperti bukan bersahabat saja!" Ino menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sakura membulatkan matanya. "Ha? Apa maksudmu Ino? Tentu saja Sasori sudah kuanggap seperti sahabat seperti dirimu." Sakura menyambar lengan Sasori dan merangkulnya. Sedangkan Sasori dengan cueknya menyandarkan kembali punggungnya dipohon tua dan memejamkan kedua kelopak matanya.
"Arrgh... Sakura, kau ini bodoh!" Ino menghenyakkan pantatnya diatas rerumputan. Ia menyingkirkan rangkulan tangan Sakura. Sakura menatap Ino dengan tatapan kenapa-kau-melepasnya-? "Bagaimana nanti kau dilihat oleh Sasuke senpai? Habislah kau, jidad!" Ino menyentil jidad Sakura perlahan.
Sakura mengaduh, dan menggerakkan tangan kanannya menyentuh jidadnya yang bisa dikatan err... lebar itu. "Benar juga, ya Ino-pig. Aku hampir lupa kalau aku mempunyai hubungan dengan Sasuke senpai." Ucap Sakura dengan diakhiri tawa kecil.
Ino mendecakkan lidahnya. "Dasar, jidad ba~ka!" Ucap Ino seraya tertawa.
Sakura membuang wajahnya kesamping, berpura-pura kesal. "Kau menyebalkan!"
Ino menghentikan tawanya. Ia merogoh tas ungunya, dan mengambil ponsel gray metalic-flipnya. "Sakura, apa aku boleh menginap dirumahmu? Tadi kaa-san mu mengirimiku pesan, katanya kau sendirian dirumah, Jadi bagaimana?" Ino membuka flip ponselnya dan mengarahkannya kehadapan Sakura yang kini menatap Ino.
Sakura membaca pesan dari ibunya. Ia mengangguk singkat. "Boleh, aku senang kau mau menginap Ino." Sakura tersenyum lebar kearah Ino.
Ino bangkit dari duduknya. Ia merapikan dress one piece ungu pucatnya yang terlihat kumal. "Kalau begitu... ayo, tapi kerumahku sebentar. Aku mau mengambil bajuku." Sahut Ino
Sakura mengangguk singkat. "Oke!" Sakura bangkit dari duduknya. Ia berdiri disamping Ino.
Ino menoleh kearah Sasori yang masih berkutat dengan rutinitas awalnya. "Sasori mau ikut?" Tawar Ino.
Sasori membuka sebelah matanya. "Tidak Ah... Memangnya aku gadis-gadis seperti kalian? Seperti pesta piyama saja." Ia kembali menutup matanya, meresapi angin yang berhembus dengan malu-malu.
Ino mengembungkan pipinya. "Ya sudah! Kalau begitu, sampai besok..." Ino melangkahkan kakinya, menjauh pergi.
Sakura yang sudah beberapa senti meninggalkan tempat itu, menoleh. Ia menatap Sasori yang menyandarkan punggungnya seraya memejamkan matanya. "Sasori, arigatou leluconmu tadi!" Sakura tersenyum kecil.
Sasori menghela nafasnya perlahan. Ia membuka kedua kelopak matanya. "Hn... Sudah sana pergi..." Usir Sasori.
Sakura memasang wajah mencibir. "Kau ini tidak ada lembut-lembutnya." Ucapnya, ia melangkahkan kakinya, berlari kecil menyusul Ino yang hampir menghilang oleh jangkauan matanya.
...
...
"Tunggu sebentar disini ya, Saku."
Ino segera menaiki undakan tangga meninggalkan Sakura yang masih duduk disofa besar berwarna plum itu. Sakura menopang dagunya dengan tangannya karena bosan menunggu Ino, tiba-tiba ada seorang pemuda berambut pirang lainnya keluar dari sebuah kamar dan duduk menghampiri Sakura.
"Eh? Teman Ino?" Tanyanya.
Sakura menoleh, menatap pemuda berambut pirang, satu alisnya tertarik keatas. "Iya, kau?"
"Aku Sepupunya, Uzumaki Naruto!" Ucap pemuda itu sembari tersenyum memamerkan gigi-gigi putihnya.
Sebelum ia memperkenalkan dirinya, Sakura sempat berpikir 'Apa seluruh keluarga Ino mempunyai gen berambut pirang?' Sakura pernah bertemu sekali dengan kakaknya Ino, ketika ia membeli beberapa buket bunga di Yamanaka Florist. Kalau tak salah namanya Deidara. 'Dan tentu saja ia berambut pirang.' Ia sempat merinding bagaimana kalau ia dihadapkan oleh seluruh keluarga Ino yang berambut pirang itu. 'Aku pasti orang yang paling kontras diseluruh keluarganya.' Batinnya.
"Kau tidak apa-apa?" Naruto mengibas-ngibaskan tangannya dihadapan Sakura. Sakura tersentak. Lamunannya seketika buyar. Ia tersenyum kecil.
"Gomen! Namaku Haruno Sakura." Sahut Sakura.
Hening sejenak, mereka berdua sama-sama terdiam.
"Eh... Haruno-san?" Naruto memecahkan keheningan.
Sakura menoleh kearah Naruto. "Naruto, panggil saja aku Sakura." Sakura tersenyum tipis. Ia merasa tak enak saja dipanggil dengan nama depannya terlebih itu adalah sepupu teman dekatnya.
Naruto mengangguk singkat. "Ha'i Sakura-san," Sebelum Naruto membuka mulutnya Sakura sudah terlebih dulu memotong pembicaraannya.
"Lebih baik tinggalkan saja suffix –san, aku merasa aneh saja dipanggil begitu." Sakura nyengir, Naruto membalasnya dengan senyuman tiga jarinya.
"O.k! Sakura!" Teriaknya seraya mengacungkan kedua jempolnya. Sakura sempat sweatdrop melihat ulah Naruto yang baru beberapa menit yang lalu ia mengenalnya. Ternyata bukan hanya Ino yang suka bertingkah aneh dan cerewet.
Naruto berdeham. Mata birunya menatap lurus kearah mata hijau Sakura. "Bukan maksudku lancang, tapi sebaiknya kau harus jaga jarak dengan orang disekitarmu."
Hal itu sukses membuat Sakura mengerutkan keningnya dalam. "Hah? Kenapa?"
Naruto memejamkan matanya sesaat, ia menghela nafas perlahan. "Aku rasa auramu berwarna pekat Sakura, kau harus berhati-hati. Akan ada sesuatu yang berbahaya menimpamu." Wajahnya yang tadinya terkesan ceria kini menampakkan keseriusan.
"Apa maksudmu?" Tanya Sakura masih menampakkan raut kebingungan luar biasa.
Sebelum Naruto membuka mulutnya, suara hentakan kaki Ino yang menuruni undakan tangga terdengar. "Hei! Sakura ayo kita berangkat."
Sakura dan Naruto menoleh kearah Ino yang menggerek dua koper ungu besar miliknya. Sakura bangkit dari sofa berwarna plum. Ino melangkahkan kakinya menuju Sakura.
"Kau itu mau minggat, ya? Banyak sekali membawa koper." Sakura menatap Ino dengan tatapan tak percaya, sedangkan Ino memasang wajah mencibir.
"Dasar jidad. Kau tak tahu saja keperluan seorang gadis itu sangat banyak. Bahkan awalnya aku ingin membawa lima koper." Sahut Ino dengan entengnya.
Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Dasar gadis maniak.' Batinnya.
"Mau kemana?" Tanya Naruto yang sedari tadi heran melihat Ino mengarak koper besar disampingnya.
Ino menoleh, menatap sepupunya yang bangkit dari sofa berwarna plum. "Aku mau menginap Naru-chan, ditempat Sakura ehehehe... bolehkan?"
Naruto nampak berpikir sebentar. Tak lama ia menganggukkan kepalanya, pertanda mengiyakan. "Ya!" Serunya. Sontak Ino membanting kedua kopernya kelantai dan langsung memeluk sepupu pirangnya, Naruto. "Arigatou! Arigatou!"
Sakura merasa Ino terlalu erat memeluk Naruto. Sebelum ada korban muncul karena ulah Ino, Sakura menepuk bahu Ino. "Hei! Pig! Kalau kau terlalu erat memeluk sepupumu itu, ia akan mati."
Ino melepaskan pelukannya. Naruto menghirup nafas dalam-dalam. "Gomen... Gomenasai Naru-chan! Kau tidak apa-apa 'kan?" Ino memeriksa seluruh tubuh Naruto. Setelah Naruto bisa bernafas dengan normal, ia menghentikan ulah Ino dengan menepuk bahunya.
"Sudah! Aku tak apa-apa!" Naruto nyengir.
Ino mengusap dadanya pelan. "Yokatta! Aku bisa dimarahi Kushina obaa-chan kalau kau kenapa-napa."
Naruto menyingkirkan tangannya dari bahu Ino. "Ya sudah, hati-hati ya Ino. Jaga dirimu baik-baik." Cengiran Naruto bertambah lebar.
Sakura sempat berpikir Naruto itu sangat lihai memasang dua tampang berbeda. Kadang sangat serius dan itu agak sangat menakutkan dan kadang ia bisa sangat terlihat ceria dan bodoh.
"Ha'i! Kami berangkat dulu." Teriak Ino mengambil dua kopernya yang tergeletak diatas lantai. Ia melangkahkan kakinya, menuju pintu keluar.
Sakura yang masih menatap Ino, kini ia menoleh menatap Naruto. "Sampai jumpa! Mungkin lain kali kita bisa melanjutkan pembicaraan tadi."
Naruto mengangguk singkat. "Ya!"
"SAKURA!" Teriakan Ino menembus gendang telinga Sakura. Reflek ia berlari kecil, menghampiri Ino yang sudah tak sabaran.
'Semoga saja gadis itu tak kenapa-napa.' Batin Naruto. Ia menghela nafas dalam.
...
...
Gadis berambut perak, tengah berlari di sebuah jalan yang gelap. Ia menghindari seseorang yang tengah mengejarnya. Bertudung hitam, membawa sabit, dan haus akan darah. Ia melihat sebuah rumah tua diseberang Alenea Street, ia berniat untuk bersembunyi di dalamnya. Mungkin persembunyian yang ia dapat, bisa dikatakan aman, disebelah lemari yang cukup tinggi dan menghubungkan keruang tengah. Kini ia dapat mendengar deru nafasnya sendiri. Detak jantungnya yang tidak beraturan, aliran darahnya mengalir deras dalam tubuhnya, yang tak dapat menahannya untuk mengeluarkan sebercak air dari matanya.
Tap...Tap…
Terdengar seseorang sedang berjalan di pelataran, matanya melirik waspada diantara perabot tua yang berlapis kain putih. Tak sengaja, ia melihat sebuah tombak besi terbengkalai di dekat meja bundar yang tepat berada di ruang tengah. Ia berjalan merunduk dan berhati-hati untuk mengambil tombak besi, untuk berjaga-jaga apabila orang-yang-haus-darah itu akan membunuhnya.
Ckriet…
Gadis itu tanpa sengaja menginjak sebuah beling vas bunga, ia mendekap mulutnya untuk tidak reflek berteriak. Perlahan ia masih berjalan merunduk, ia tetap menjaga atensinya untuk mengawasi sesosok misterius bertudung hitam itu. Perlahan ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil tombak besi yang kini berusaha ia dapatkan.
JRASS…
Darah segar mencuar, tangan kanannya ditebas oleh sosok bertudung hitam itu. Reflek tangan kirinya mengambil tombak besi itu, ia mengibas-ngibaskan tombak besi tersebut kearah sosok bertudung hitam, dengan tenaganya yang tersisa.
"Ehehehehe… you wanna kill me, baby?" Seseorang bertudung hitam itu menyeringai.
"Yeah, I must kill you."
Tombak besi yang kini berada ditangan kirinya langsung ia lontarkan kearah tangan kanan orang itu.
JLEBB…
Bravo! Tombak itu menembus pergelangan tangannya. Darah mengalir dengan riangnya. Orang itu mencabut tombak itu dengan perlahan, terdengar sebuah rintihan dari mulutnya.
"You almost hurt me, you know!"
Sosok bertudung hitam itu mendekat kearahnya, ia memainkan sabitnya kesebuah dinding setiap ia mendekati gadis itu. Gadis itu agak menjaga jarak, ia mulai agak lemah karena kehabisan darah, tangan kanannya tak henti-hentinya mengeluarkan cairan pekat yang begitu menggiurkan.
"Ouw! This is annoying me!"
Gadis itu bisa melihat sosok bertudung hitam itu sedang menjilati lukanya, yang diakibatkan oleh lontaran tombaknya tadi.
Tak sengaja sedikit tudung hitam seseorang itu tersingkap, menampilkan sebuah mata berwarna hitam pekat. Gadis itu membelakkan matanya. "Hey! I Know You!"
"Is that really?" Seseorang bertudung hitam itu tertawa mengejek.
"Yeah! But I'm not certain that you the-people-who-I-Know!" Gagap gadis itu.
"You will know soon me, IN THE HELL!" Teriaknya.
JLEEEB!
Sabit itu berhasil ia lontarkan kearah mata gadis itu. Gadis itu roboh, tak berdaya. Selaput bening yang kini menjaga kornea matanya pecah akibat tertembus oleh sabit yang tiga kali lipat tajamnya pisau daging. Orang bertudung itu mencabut dengan paksa sabitnya, sehingga urat-urat mata gadis itu tidak bisa menahannya dan berhasil terlepas dari tempatnya. Darah mencuar dari matanya yang kini terlepas.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!" Sakura terlonjak dari tempat tidurnya, ia berteriak histeris.
Ino yang tertidur disamping Sakura, reflek bangkit dari tidurnya. Ia panik.
"ra... Sakura... Sakura... Kau kenapa? Tenang... Ssst... Tenanglah Sakura." Ino berusaha menenangkan temannya itu dengan memeluk tubuh gadis itu.
Sakura menangis dipelukan Ino, kali ini dia benar-benar ketakutan, mimpi-mimpi itu selalu mengganggu tidurnya.
"Ino, tolong aku... hiks." Isaknya.
"Kau kenapa Sakura?" Ino melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat Sakura.
"Hiks... Pembunuh itu... Pembunuh bertudung hitam... hiks... aku takut Ino, aku takut." Air mata tak henti-hentinya bercucuran dikelopak mata Sakura.
"Tenanglah, itu cuma mimpi." Ia mengusap punggung Sakura perlahan.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak Ino, kau tidak mengerti. Orang itu mencoba menerorku. Aku yakin sebentar lagi dia akan membunuhku." Sakura mendekap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau harus menenangkan pikiranmu."
Sakura membuka kancing piyamanya dan menyibakkan lengan kanan piyamanya itu.
"Kau lihat Ino, tattoo ini, tiba-tiba saja muncul setiap kali aku habis bermimpi mengerikan itu, dan sekarang bertambah, garis melengkung ini sebelumnya tidak ada, tapi sekarang kau lihat." Sakura menunjuk sebuah tatto yang berada dipergelangan tangan kanannya dengan telunjuknya.
Ino mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya, memandang kearah lengan kanan Sakura yang menorehkan angka 1 dan angka 9 yang berwarna tidak sehitam angka 1 disampingnya.
"Tolong aku Ino... Tolong aku."
'Apa maksudnya ini?' Batin Ino menatap nanar kearah Sakura.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Silahkan gebuk saya sepuas-puasnya... Lama sekali gak update fic abal ini *siapa juga yang pengen baca?* ah~ bukan karena males nulis. Sebenarnya fic ini udah kami buat sampai ENDING. Hanya saja, saya sibuk kuliah, sibuk ini, itu... aargh pokoknya gak ada waktu buat ngedit *sok sibuk lu!*
Huawaaaaaah... maafkan... maafkan... chapter ini pendek, sebenernya emang sengaja sih HAHAHA! *geplaked*. Sebenarnya chapter 1 itu, gabungan ama chapter 2, makanya panjaaaaaaaaang banget *geleng-geleng* karena saya yang kelewat baka, makanya kepublish semuanya *ojigi*. Ja~ Minna... karena saya udah kehabisan kata-kata lebih baik GIVE US REVIEW, onegai? *kitty eyes*
Poff *menghilang entah kemana*
