A Naruto Fanfiction
All Character Naruto belong to Masashi Kishimoto
Genre : Horror, a little bit Romance, Mystery
Rated : M [for Violence]
Warning : AU, OOCNESS, DEATH CHARA, TYPO'S, Diksi beserta gaya bahasa yang gak ada bagus-bagusnya dan abnormal
.
.
.
nyan-himeko collab with Vanille Yacchan and Eun bling-bling
Proudly presents
BLOODY 19th
.
.
.
[Story 3 : First Blood...]
...
...
Previous Story...
Ino mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya, memandang ke arah lengan kanan Sakura yang menorehkan angka 1 dan angka 9 yang berwarna tidak sehitam angka 1 disampingnya.
"Tolong aku Ino... Tolong aku."
...
...
"Aku antar kau ke apertemen Sasuke? Bagaimana?" tawar Ino saat Sakura sudah masuk kedalam mobil Mazda-nya dan duduk sempurna di samping sahabat pirangnya.
"Tap—"
"Sudah, kau lebih aman bersamanya Sakura," potong Ino sembari menghela nafas pelan, gadis pirang itu melanjutkan, "aku pasti akan membantumu. Aku sahabatmu bukan? Percayalah padaku." Ino mencoba menenangkan sahabat pinknya yang terlihat panik.
"Mungkin aku akan meminta bantuan Naruto," tambahnya sembari mengangguk setuju dengan ide yang baru saja tersirat di otaknya.
Sebuah kerutan halus menghiasi kening Sakura, "Naruto?"
"Err—sepupuku itu memiliki kemampuan lain—ya bisa di katakan sejenis indera keenam. Mungkin dia bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu, bagaimana?" tawar Ino, sebuah senyuman terpatri di paras cantik gadis bermarga Yamanaka itu.
Sakura berpikir, menimbang sebuah keputusan. Tak lama gadis pink itu mengangguk singkat pertanda menyetujui tawaran sahabat pirangnya. Sebuah cengiran jahil terpatri di paras Ino.
"Yoshaaaaa! Sekarang kita ke apartemen Sasuke-senpai." Gadis pirang itu menarik perseneling mobilnya, dan mobil Mazdanya melesat kejalanan.
...
...
Sebuah bel menggema di seluruh ruangan apartemen, menembus indera pendengaran pemuda bermarga Uchiha itu. Sasuke yang sibuk dengan bahan bacaannya agak kesal dengan tamu yang sukses memecah konsentrasinya.
Sasuke perlahan bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen. Tangannya bergerak ragu membuka knop pintu, 'semoga bukan aniki'. Harap innernya cemas. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah kekasihnya yang terlihat lelah dan lengan seorang gadis berambut pirang yang melingkar di bahu kekasihnya.
Satu alis Sasuke terangkat, "Ada apa dengan Sakura?"
Ino dengan cepat menyingkirkan tubuh Sasuke yang menutupi pintu apartemennya. Gadis pirang itu menuntun sahabatnya menuju sebuah sofa panjang berwarna merah marun dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman. Sasuke yang sedikit kesal gara-gara pertanyaannya tak dijawab oleh gadis berambut pirang yang seenaknya langsung masuk tanpa izin itu, menghampiri Ino yang kini melangkah keluar dari ruang tengah, ekor matanya dapat melihat figur kekasihnya itu terbaring di sofa.
"Ada apa dengan Sakura?" Sekali lagi Sasuke melayangkan sebuah pertanyaan itu.
Gadis pirang itu menangkupkan kedua tangannya, memohon, "Tolong jaga Sakura, ya, Sasuke-senpai?" pintanya.
Sasuke menghela nafas perlahan, "Hn! Tentu saja! Itu sudah merupakan tugasku! Tapi, ada apa dengan Sakura?"
Onyx Sasuke dapat dengan jelas melihat gadis pirang di hadapannya menelan saliva, agak gugup, "Anoooo..." ucap Ino menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Gadis pirang itu menggigit bibir bawahnya. Ia belum siap menceritakan kejadian yang di alami Sakura, apalagi dengan kekasih sahabat pinknya itu. 'Pasti Sasuke-senpai akan menganggapku mengada-ngada atau bahkan gadis sinting!'
Pemuda raven itu menghela nafas lagi, "Jika kau tak mau repot memberitahukannya tak apa-apa, lebih baik aku saja yang bertanya pada Sakura."
Seketika iris aquamarine itu melotot, "J-J-J-JANGAN!" Sahut Ino dengan nada keras.
Salah satu alis Sasuke terangkat. Ino yang tahu raut kebingungan di wajah senpainya itu, dengan spontan menyahut, "M-m-maksudku... ya~ kau tahu 'kan kondisi Sakura tadi? Wajahnya pucat sekali. Aku khawatir jika kau menanyakan apa yang terjadi padanya, akan mengakibatkan rasa panik itu muncul kembali," jelas gadis pirang itu meluap-luap. Tatapan iris aquamarine itu berharap jika pemuda di hadapannya mau mengerti akan kondisi Sakura.
"Hn! Aku mengerti!"
Ino menghela nafas pelan, sembari tangan kanannya memusut dadanya, "Yokatta! Arigatou, Sasuke-senpai!" ucap gadis pirang itu sembari berojigi, ia pamit dan bergegas melenggos keluar dari apartemen Sasuke.
Iris onyxnya itu masih setia menatap punggung gadis berambut pirang itu hingga jauh dari jangkauan matanya. Tak lama, pemuda Uchiha itu menutup pintu apartemennya dan berjalan menghampiri Sakura yang kini duduk bersandar pada punggung sofa. Ia mendekati gadis itu dan duduk di sampingnya.
Gadis pink itu menoleh, mendapati raut wajah kekasihnya yang terlihat khawatir. Gadis bermarga Haruno itu tersenyum kecil, mencoba meyakinkan pemuda Uchiha itu bahwa dirinya baik-baik saja.
Sasuke menghela nafas pelan, "Mau coklat hangat?" Tawar Sasuke, Sakura mengangguk pelan. Pemuda itu bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju dapur. Tak lama, Sasuke kembali dari dapurnya sembari membawa dua gelas coklat hangat, dan menyodorkan salah satunya ke arah Sakura. Sakura menerimanya dan segera menyesapnya perlahan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Pemuda Uchiha itu setelah beberapa menit keheningan melanda keduanya.
Setelah gadis itu menyesap tandas coklat hangatnya, dan perlahan meletakkan gelas itu di atas meja kaca yang tepat berada di seberangnya. Sakura menoleh perlahan. Sebuah senyuman kecil terpatri di wajah manisnya, ia mengangguk perlahan, "Perasaanku sudah mulai tenang, senpai!" ungkapnya secara jujur.
Pemuda itu kembali menghela nafas lega, "Baguslah!" sahutnya sembari sudut bibirnya terangkat. Pemuda Uchiha itu kembali meyesap coklat hangatnya yang sudah tersisa setengah.
"Tapi... aku takut." ungkap Sakura kemudian, gadis itu menundukkan wajahnya, mengigit bibir bawahnya sendiri.
Sasuke dapat mendengar sebuah isak tangis terlontar dari bibirnya, pemuda itu meletakkan gelasnya di atas meja kaca yang berada di seberangnya.
"Tenanglah Sakura, bukankah aku ada untuk selalu menjagamu?" Sasuke memeluk tubuh gadis itu, sembari membelai rambut pinknya, berusaha menenangkannya.
"Senpai..." isaknya, "ak-aku takut... dia mengincarku... tolong aku!" racau Sakura yang membuat Sasuke mengerutkan keningnya, tak mengerti. Tubuh gadis itu gemetaran di dalam pelukan Sasuke, tak ayal membuat pemuda Uchiha itu mengeratkan pelukannya. Tak lama, tubuhnya terlihat tenang. Sasuke melonggarkan pelukannya, dilihatnya gadis itu terlelap. Ia menidurkan Sakura perlahan di sofa empuknya. Ia bangkit berdiri, mengambil sebuah selimut dan menyelimuti Sakura yang sedikit bergerak mencari posisi nyaman.
Sudut bibir Sasuke terangkat, dengan gerakan singkat pemuda itu mengecup jidad gadis itu sembari mengusap kepala Sakura, "Semoga mimpi indah," gumamnya.
...
...
From 079xxxxx
Temui aku di kampus sekarang, penting!
Temari
Received 10:05 PM
Ino menatap layar ponsel purple metalic-flip yang cahanya mulai meredup. Ia mendengus, kenapa di saat malam yang hampir larut begini, Temari yang notabene asdos super cerewet itu ingin menemuinya? Tak tahukah Temari jika ia sudah terlalu lelah untuk beradu argumen? Tapi mau bagaimana lagi? Gadis bermarga Yamanaka itu tak mau jika nilai-nilainya yang cukup sempurna, tercoreng hanya karena malas menemui si gadis sinting itu. Sungguh, itu alasan konyol.
Ino segera berbelok arah dan melaju ke arah kampusnya. Sesampainya di sana, ia langsung memarkirkan Mazdanya. Atensinya bergulir di area parkir kampus, begitu sepi. Ia tak melihat satu kendaraan pun. Apa jangan-jangan Temari belum datang? Pikirnya.
"Apa sih maunya Temari? Malam malam begini di suruh ke kampus," gerutu Ino seraya berjalan menyusuri koridor. Begitu Ino sampai di depan pintu ruangan khusus asdos, tangannya bergerak membuka kenop pintu itu. Alisnya bertautan, ternyata pintu itu terkunci.
"Eh? Aneh, kenapa terkunci?"
Dengan kesal Ino merogoh ponsel yang ia masukan ke dalam Satchel Greynya. Ditariknya flip ponselnya, lalu dengan perasaan luar biasa kesal ia memencet nomor ponsel Temari.
"Moshi-moshi?"
"Moshi-moshi... Senpai... Senpai dimana? Aku sudah ada di kampus."
"Hah? Untuk apa kau kekampus malam-malam begini Ino?"
"Ha? Senpai itu pikun atau pura pura pikun. Bukannya tadi Senpai yang menyuruhku kesini?"
"Tidak ada, aku tidak ada menyuruhmu."
"Oh, kalau begitu aku yang salah, arigatou Senpai."
Pip
Ino menghela napas, "Siapa yang berani mengerjaiku? Dasar kurang kerjaan," umpatnya, Ino kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, menyusuri kembali koridor kampus yang sepi dan gelap, bulu kuduknya berdiri. Ia mempercepat langkahnya.
"Ino."
Panggil sebuah suara, Ino menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya secara samar-samar orang bertudung hitam, membawa sabit di tangan kanannya. Ino terbelalak, tangannya refleks menutup mulutnya. Gadis bermarga Yamanaka itu segera berlari menghindari sosok asing bertudung hitam, tapi sosok itu terus mengejar Ino di belakang.
"Angkelboot sialan, aku tidak akan pernah mau memakaimu lagi," maki Ino lalu melepaskan Angkelboot itu dari kakinya dan membuangnya asal, kemudian segera berlari lagi.
Ino melihat sebuah ruangan yang belum tertutup pintunya, dengan cepat ia memasuki ke ruangan itu dan mengunci pintunya dari dalam. Pintu itu berusaha didobrak dengan kasar dari luar, Ino berusaha menahan pintu itu sekuat tenaga. Beberapa menit kemudian pintu itu berhenti didobrak dari luar, Ino menarik napas lega, tubuhnya merosot dan bersandar di balik daun pintu, ia memeluk kakinya, tubuhnya gemetaran, air mata mengucur deras membasahi pipinya.
KRAAAAAKKKKKKK
"KYAAAAAA!"
Ino berteriak saat daun pintu itu ditembus oleh sabit dari luar, ia segera berdiri dan berlari, menyembunyikan dirinya di balik meja-meja berukuran besar. Ia bersyukur ruangan ini cukup gelap sehingga ia tak mudah di temukan oleh orang asing yang sinting itu. Ia masih mendengar pintu itu dihancurkan oleh sabit dari luar, tinggalah serpihan-serpihan kayu.
Gadis pirang itu melihat sepasang kaki dengan boots hitam berjalan mendekat ke arahnya, sembari menyeret sabit di sampingnya. Jangan... jangan... ke arah sini, pikir Ino gemetar. Ino bergidik ngeri membayangkan nasibnya sesudahnya, aku tak mungkin mati konyol gara-gara dibunuh orang aneh sinting itu kan? Ino nampak berpikir kemudian, ia ingat kalau menyimpan pisau lipat di dalam pencilcasenya. Tapi jika aku mempertahankan diriku dengan sebilah pisau lipat, apa mungkin bisa? Ia menggelengkan kepalanya, tak ada cara lain. Sosok itu semakin mendekat ke arah Ino, ia mengangkat dan mengayunkan sabitnya ke arah Ino. Gadis itu menjerit dan dengan cepat menghindar, kenapa ia bisa tahu tempat persembunyianku?
Kini gadis pirang itu berdiri di samping lemari besi sambil memegang pisau lipat di tangannya. Ino menatap tajam sosok itu, sosok bertudung hitam itu kemudian terkekeh.
"Mau mencoba membunuhku huh?"
Ia mengayunkan lagi sabitnya ke arah Ino, Ino merunduk dan sabit itu sukses menghantam lemari besi itu sampai penyok. Melihat ada kesempatan, Ino menusukan pisaunya ke arah sosok hitam bertudung itu, sialnya hanya menggores lengan kirinya. Dengan sisa kekuatannya yang ada, Ino menendang tubuh sosok itu, lalu segera berlari keluar dari tempat mimpi buruk yang mengerikan.
Ino berlari cepat ke arah mobilnya yang terparkir, ia berusaha membuka pintu mobilnya, tapi sial, ia meninggalkan kunci mobilnya di dalam Satchel Grey yang sekarang ia tak tahu ada di mana. Kakinya yang tidak terbungkus sepatu menendang ban mobilnya.
"Mencari ini..."
Ucap seseorang, Ino berbalik dan mendapati sosok bertudung hitam lengkap dengan sabit di tangan kanannya berdiri beberapa meter darinya. Tangan kirinya memainkan kunci mobil Ino.
Mata aquamarinenya terbelalak ngeri. Sebenarnya apa mau si sinting itu sih? Pikir Ino tak keruan. Apa ia pembunuh serial yang lepas dari rumah sakit jiwa? Gadis itu dengan cepat berbalik dan berlari lagi, tapi sayang kakinya tersandung dan jatuh, ia menoleh ke belakang dan mendapati makhluk bertudung hitam itu mendekat ke arahnya, terkekeh seakan mengejek Ino betapa lemah dirinya.
Ino mencoba berdiri tetapi terlambat, tangan dingin itu menyentuh kaki Ino yang telanjang. Ino memejamkan matanya, ia menendang tangan orang sinting itu sekuat tenaga. Tapi genggaman tangan itu terlalu erat. Ino menatap nanar ke arah sosok itu, meminta belas kasihan darinya, tapi apa yang di dapatnya? Sosok itu malah tersenyum mengerikan. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan menyingkap tudung sosok itu. Ino membelalakan matanya dan menggeleng kuat sambil mendekap mulutnya sendiri saat melihat sosok asli orang bertudung hitam itu.
"Kau! T-tidak mungkin! Kenapa?" ucap Ino tak percaya.
"Huh... Kau sudah tahu? Kau tidak akan kubiarkan hidup Ino. Maaf atas segalanya," ucapnya sinis sembari melayangkan sabit yang berada di genggamannya ke arah Ino.
"KYAAAAAAAAA!"
Sabit itu memenggal kepala Ino, darah mengalir deras, membasahi orang itu. Kepala Ino menggelinding, diambil dan diangkatnya. Ia tersenyum senang dengan mahakarya yang ia buat. Orang itu kemudian mengeluarkan pisau lipat yang dipakai Ino tadi untuk melukai tangannya. Ditusuk-tusukannya pisau itu ke kepala Ino, cairan encer berwarna putih kekuning-kuningan merembes dari bekas tusukan itu. Mata pisau yang tajam itu ia arahkan ke mata Ino, menyongkel paksa kedua mata bewarna biru itu dari tempatnya, urat dan otot-otot mata Ino berserakan. Kemudian tanpa belas kasihan ia menginjak-injak kedua bola mata itu hingga pecah. Ia mengeluarkan kantung plastik besar memasukkan potongan tubuh Ino yang sudah terpotong-potong sepuluh bagian. Atensinya berpindah pada potongan kepala Ino, ia berpikir sebentar, dan kemudian mengeluarkan sebuah peti berukuran cukup untuk ukuran kepala seorang gadis. Peti itu terbuat dari kayu boxwood. Ia meletakkan kepala Ino ke dalam peti itu, ia menyeringai. Sembari menenteng plastik besar dan mendekap peti kayu, sosok bertudung hitam itu terkekeh pelan lalu melenggang pergi, sosoknya hilang di kegelapan malam.
...
...
"INOOOOO!" jerit Sakura kencang, ia terbangun dari tidurnya. Wajahnya benar-benar pucat, badannya gemetar hebat.
KREEIIT
Sasuke membuka pintu apartemen dan masuk sambil menenteng sebuah plastik putih. Melihat Sakura yang terbangun dari tidurnya dengan kondisi yang berantakan ia segera mendekati tubuh gadis itu dan mendekapnya erat.
"Se-senpai... Ino... Ino... tadi aku bermimpi. Dia... dia... dibunuh... aku... aku takut sen-senpai... hikss..." isak Sakura
"Tenanglah Sakura, tenangkan dirimu. Aku yakin Ino baik-baik saja." Sasuke mengelus puncak kepala gadis itu, menenangkannya. Membiarkan t-shirt birunya basah oleh airmata Sakura. Beberapa saat kemudian, tangisan Sakura mereda.
"Kau lapar? Mau makan?" tawar Sasuke, Sakura mengangguk. Sasuke menyodorkan makanan yang baru ia beli ke arah Sakura, tanpa sengaja lengan t-shirt panjang Sasuke terungkap. Kening Sakura mengerut, ia melihat di tangan kiri Sasuke terlilit perban.
"Eh? Tanganmu kenapa Senpai? Kenapa di perban?" tanya Sakura khawatir.
"Oh ini," ia menunjuk perban di lengan kirinya, "tadi ada orang mabuk, dia mau memalakku dan berusaha melukai tanganku dengan pisau yang ia bawa. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Aku baik-baik saja. Ayo makan makananmu, Sakura." ucap Sasuke mencoba meyakinkan kekasihnya jika ia tak apa-apa.
...
...
"Nanti setelah pulang kuliah telepon aku saja!" teriak Sasuke di dalam mobilnya.
"Ha'i! Arigatou Sasuke-senpai!" ucap Sakura tersenyum dan melambaikan tangannya sembari melihat kekasihnya pergi.
Sakura melengos menuju kelasnya. Beberapa menit lagi Yamato sensei akan memulai mata kuliah. Ia menoleh ke arah parkiran, sebuah mobil Mazda biru sudah terparkir di area parkiran. Mungkin Ino sudah di kelas, pikirnya. Sakura mencoba merogoh ponsel white metalic-flip di kantong Hoodienya. Sebelum ia menekan tombol ponselnya, seseorang menepuk bahunya.
Tubuh Sakura sedikit berjengit. Ia memalingkan wajahnya dan menatap si penepuk. "Sasori!" Mata Sakura sedikit melebar. Ia mengusap-usap dadanya perlahan, "Kau selalu saja mengagetkanku."
Sasori hanya menampakkan cengirannya yang menambah imut tampangnya, "Ehehehe~ Gomen!" Atensinya menyapu kesekeliling area kampus. Lalu kembali menatap Sakura. Satu alis Sasori terangkat, "Hei! Mana Ino?"
Kening Sakura mengerut dalam, "Aku kira ia bersamamu! Akhir-akhir ini ia dekat denganmu, 'kan?"
"Baka!" ucap Sasori sembari memukul kepala Sakura perlahan. Sakura hanya mengaduh, mengelus rasa sakit di kepalanya. "Aku sudah mencarinya kemana-mana, mobilnya ada. Tetapi batang hidungnya tak terlihat dimana-mana." Sasori menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, kebingungan. Tanpa sengaja Sakura melihat di lengan kiri Sasori terbelit perban. Sakura heran. Kenapa Sasori dan kekasihnya, Sasuke sama-sama memiliki luka di lengan sebelah kiri?
"Hei! Ada apa dengan lenganmu? Kau habis berkelahi yah? Wah, rupanya kau jagoan sekarang?" sindir Sakura sembari menyentuh pelan tangan kiri Sasori. Sasori meringis pelan karena sentuhan lembut jemari Sakura itu membuat lukanya sedikit terasa sakit
"Oh~ ini! Hanya luka ringan saja. Kemarin aku tidak sengaja di cakar kucing yang takut padaku."
"Apa kau bercanda? Ini bukan luka ringan, baka! Aku baru tahu kau punya peliharaan, apakah itu benar?" Sakura menatap mata Sasori dalam, hanya untuk mengetahui apa dia menyembunyikan sesuatu.
"Kau kemana saja sih? Sekarang aku bekerja part time di Pet Shopnya bibi Kurenai. Berhenti menatapku seperti itu. Lebih baik, kita kekelas. Sebentar lagi Yamato sensei masuk kelas. Ayo!"
"Hm!" gumam Sakura sedikit menyesal. Atensinya menyapu sekeliling area kampus, tak nampak seorang gadis berambut pirang. Dimana kau Ino? Tiba-tiba Sakura teringat dengan mimpi buruknya semalam, ia menggigil. Tak mungkin kan mimpi itu menjadi nyata?
.
.
.
.
.
To Be Continue
I'M NOT DEADDDDD...
Saya kembali lagi dengan lanjutan FF GAJENEESSS yang saya terlantarkan cukup lama, bukan cukup lama tapi lamaaaaaa banget. Okeh, lagi-lagi pendek, soalnya emang di situ *nunjuk-nunjuk* yang pas di potong, hohoho... Jadi terima saja *maksa* Hahaha...
Hmmph, karena lagi males ngetik sesuatu yang ada di benak saya, mending saya akhiri sampai di sini saja. Jangan lupa bagi readers-san yang baik hati akan selalu meninggalkan review. ~(ˇΔˇ~)(~ˇΔˇ)~
Bagi readers yang sebelumnya udah ngereview FF ini, ARIGATOU GOZAIMASU! (^.^)εˇ ˇ)
Terima kasih juga buat readers-san yang udah meluangkan waktunya ngebaca FF saya...
Love,
VanilleYacchan
