Aduh, besok udah masuk sekolah... Jadi, pasti fic ini bakal diupdatenya lama...

Maaf, setengah jalan ak udah agak keabisan ide, jadinya pendek-pendek penggalannya...

Yang aku buat ini, versi happy endingnya dari lagu-lagu yang ak pake...

Ada lirik lagu yang ak potong dikit" supaya masuk sama ceritanya, termasuk di chapter 1 juga...

Oh, terus nama rumah sakitnya juga nama asal-asalan supaya ada nama aja. Dari bahasa Italia, artinya village atau desa...

Disclaimer:

KHR milik Amano Akira, Lagu milik yang buat masing-masing


-Kami Hikouki / Paper Plane-

-Hibari's POV-

One time, at one place

In this world

We communicated using paper airplanes

Rumah Sakit Villagne

Kamar nomor 018

Hibari Kyouya

"Permisi, tuan Kyouya. Ayahmu sudah datang."

Suara terdengar dari interphone bagian dalam kamarku.

"Persilahkan ia masuk."

"Baik."

Pintu itu terbuka, ayah segera masuk ke dalam kamarku.

"Kyouya, ayah akan segera berangkat bekerja. Kau jangan pergi keluar ya, sepertinya kondisimu tidak begitu baik hari ini."

"Baik, ayah. Aku tidak akan keluar hari ini."

Ayah tersenyum mendengar jawabanku, setelah itu ia pergi meninggalkan kamarku.

Orang yang baru saja keluar masuk kamarku adalah ayahku. Ia merupakan seorang perwira. Ayahku orang Italia, ibuku orang Jepang. Tetapi, wajahku mengikuti ibuku karena itu aku tidak terlihat seperti orang Italia. Sewaktu aku berumur 5 tahun, orangtuaku bercerai, aku dibawa oleh ayahku dan sekarang di sinilah aku berada.

Aku tinggal di rumah sakit ini, rumah sakit Villagne, Italia. Sejak 3 tahun yang lalu, aku divonis menderita leukimia kronis karena itu aku selalu berada di rumah sakit.

Namaku Hibari Kyouya. Walaupun aku berpakaian seperti anak perempuan, tetapi aku adalah laki-laki. Ada alasan kenapa aku berpenampilan seperti perempuan.

Di sekitar sini, banyak terjadi perang saudara yang tidak diketahui asal-usulnya. Karena itu pemerintah daerah sini mengumumkan agar anak-anak laki-laki yang berumur sekitar 10 sampai 20 tahun yang belum mempunyai pekerjaan untuk dilatih dalam pelatihan militer.

Ayah tidak ingin aku terlibat dalam hal-hal seperti itu karena itu aku disamarkan sebagai anak perempuan. Lagipula kata ayah aku juga mirip perempuan. Namun karena ini juga, tidak ada yang ingin menjadi temanku. Anak-anak laki-laki menganggapku lemah, sedangkan anak-anak perempuan menganggapku tidak sama dengan mereka. Karena itulah aku jarang berbicara, tersenyum pun aku tidak mau lagi.

Tetapi, saat itu aku bertemu dengannya. Seorang anak laki-laki yang lebih tua dariku di rumah tahanan sebelah.

Setiap kali aku pergi ke lapangan dekat rumah sakit, aku selalu melihatnya. Ia tengah bekerja walaupun aku tidak tahu apa yang ia kerjakan. Tapi, aku iri terhadapnya. Sebagai seorang anak laki-laki, ia diperbolehkan untuk bekerja. Sedangkan aku, walaupun mungkin ia merasa aku lebih beruntung daripadanya sebenarnya aku tidak begitu senang hidup dengan cara seperti ini.

Suatu hari, aku tidak sengaja mendekat ke arah pagar yang membatasinya dengan tempatku. Dia melihatku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena itu aku hanya diam saja. Tidak lama berselang, ia melemparkan sebuah pesawat kertas ke arahku.

Aku mengambil pesawat kertas tersebut, membukanya dan membaca isinya.

'Bolehkah aku berkenalan denganmu? Aku sering melihatmu di sekitar sini dan aku sangat ingin menjadi temanmu.'

Aku cukup tercengang meilhat surat tersebut, tetapi dalam hatiku aku sangat senang ada yang mau menjadi temanku. Aku menghadap ke arahnya, ia tersenyum kepadaku.

Karena ia menggunakan sebuah pesawat kertas, aku pikir aku harus membalsanya dengan cara yang sama. Karena itu, aku segera kembali ke rumah sakit. Mengambil kertas dan pensil untuk membalas suratnya tersebut.

Aku kembali lagi ke sana membalas suratnya.

'Terserah kau saja.'

Mungkin orang-orang menganggapku sebagai orang yang dingin, tetapi sebetulnya itu hanya karena aku tidak terbiasa berbicara dengan orang lain saja. Sejak kecil, aku tidak mempunyai teman. Karena itu aku sulit bergaul dengan orang lain.

Tetapi, sepertinya dia tidak menganggapku seperti itu.

Setelah mendapatkan suratnya, ia segera membalas lagi.

'Terima kasih, aku sangat senang.'

Aku membaca suratnya dan menghadap ke arahnya. Dia tersenyum. Entah kenapa, senyumnya meluluhkan hatiku. Mukaku menjadi merah dalam sekejap, akupun berusaha menyembunyikannya dengan topi yang kupakai. Bukan hanya dia yang senang, akupun senang karenanya.

Everyday, when dad goes to work

I escape from the hospital

I'll always stay with you

Sejak saat itu, setiap kali ayah berangkat bekerja aku selalu pergi dari rumah sakit untuk menemuinya. Setiap hari, kami bertukar pesawat kertas dengan surat yang tertulis di dalamnya. Dan aku selalu menghabiskan waktuku di dekat pagar tersebut.

Sepertinya, ia belum menyadari bahwa aku adalah seorang laki-laki. Tetapi, aku tidak berani mengatakannya. Aku takut jika aku mengatakan hal yang sebenarnya, ia akan pergi menjauhiku. Karena itu, aku biarkan keadaannya seperti ini.

Every time I read your letter

my heart feel warm

How can we disguise our love?

Surat-suratnya menjadi hal yang penting dalam hidupku. Setiap kali aku membaca suratnya, hatiku terasa nyaman.

Sepertinya, aku telah jatuh hati kepadanya.

Semua ini berjalan lancar, sampai suatu hari...

Even so

dad says

he's afraid

of that boy

"Kyouya, sejak kapan kau main sembunyi-sembunyi dari ayah?"

"Ada apa, ayah?"

"Apa ini?"

Ayah menunjuk kepada pesawat kertas yang kubawa pulang dari tempatnya.

"Itu..."

"Teman ayah ada yang melihatnya. Katanya kau sering bermain dengan anak tahanan yang ada di lapangan belakang itu bukan?"

"Itu benar..."

"Janganlah kau bertemu dengannya lagi. Dia adalah seorang tahanan, dia berbahaya bagimu dan bagi orang lain."

"Tapi, ayah!"

"Tidak ada tapi-tapian! Mulai besok, jangan kau keluar dari sini. Mengerti?"

I didn't understand anything

All I need is to stay by your side

What's so wrong about that?

Aku tidak mengerti, padahal ayah tidak mengetahui sifatnya yang sebenarnya. Ia baik terhadapku, kenapa ayah harus takut kepadanya?

Yang kubutuhkan saat ini hanyalah berada di sampingnya, apa yang salah dengan hal itu?

Kenapa aku tidak diperbolehkan untuk bertemu dengannya?

The light from outside enters this building

and shows a shining future, although it's painful and false

Dari ruangan tempatku berada saat ini, aku dapat melihat sinar yang datang dari luar.

Sinar itu bagaikan memancarkan masa depan yang cerah, walaupun itu hanyalah kebohongan belaka.

I'm desperate to go to you

but I'm too far away

Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku sadar, kita berada di dua dunia yang sangat berbeda.

Aku adalah anak seorang perwira, dan dia adalah seorang tahanan.

Tetapi, aku tidak peduli dengan hal itu. Sejak hari itu, sejak ia memeberikanku bendai ini.

-Flashback-

'Lihatlah, aku menemukan benda ini kemarin di sel tahananku.'

'Apa itu?'

'Taukah kau tentang legenda di sekitar sini? Katanya jika 2 orang masing-masing memegang satu bagian dari sebuah batu kristal, mereka tidak akan berpisah untuk selamanya.'

Aku membalas segera membalas suratnya, sejujurny aku memang tidak pernah mendengar tentang hal itu. Dan aku juga tidak percaya dengan apa yang namanya legenda.

'Aku tidak pernah mendengarnya.'

Setelah itu ia menunjukkan 2 buah batu kepadaku dan melemparkan salah satunya. Batu itu bersinar terang saat terkena sinar matahari, bentuknya yang seperti burung merpati sangatlah cantik dan aku menyukainya.

'Percayalah :) Dengan begitu, kita tidak akan berpisah untuk selamanya bukan?'

Dia tersenyum, lagi-lagi mukaku dengan cepat memerah. Seperti biasa, aku berusaha menutupinya dengan topi yang kukenakan.

-End Of Flashback-

Setelah itu walaupun kita berdua berada di dunia yang berbeda, aku percaya pasti ada cara agar kita dapat selalu bersama. Aku terus berharap agar suatu hari, kita dapat bersama di satu dunia yang sama. Tetapi sepertinya, aku tidak bisa melanjutkan harapan itu...

Keegoisanku telah membuatku jatuh di lubang yang dalam. Dalam keadaan apapun, walaupun dilarang oleh ayah aku selalu pergi ke tempatnya.

Sampai suatu hari, saat aku ingin pergi ke tempatnya. Entah kenapa pandanganku terasa kabur, jalanku sempoyongan. Tetapi, aku tetap ingin bertemu dengannya. Karena itu aku terus berjalan.

Setibanya di ruang resepsionis, kakiku terasa begitu berat. Aku bahkan tidak mempunyai kekuatan untuk berjalan kembali ke kamarku. Pandanganku terasa semakin kabur.

Aku tidak dapat berjalan lagi, keseimbanganku pun goyah seketika.

BRUKK

Tidak lama, aku terjatuh.

"Hei, nak! Kau tidak apa-apa? Nak?"

When I realise that, I can no longer walk, I'm lost

Once again, I can't see anything from here

Setelah aku sadar, aku telah berada di kamarku sendiri. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, membuka matapun berat rasanya. Di sebelahku, aku dapat mendengar ayah dan dokter tengah bercakap-cakap.

"Jadi, dokter. Apakah tidak ada cara lain?"

"Sayang sekali, saya sudah mengusahakan sebaik mungkin. Tetapi hanya ini yang dapat saya sarankan."

"Baiklah kalau begitu, dokter."

Setelah itu, aku tidak mendengar suara pak dokter lagi. Sepertinya ia telah meninggalkan ruangan ini. Dan akhirnya akupun kembali mendapat kekuatan untuk membuka mataku.

Aku membuka mataku. Di sebelahku aku melihat ayah yang sedang duduk.

"Ah, Kyouya. Kau sudah sadar?"

Aku hanya mengangguk kecil.

"Kyouya, ada hal penting yang ingin kubicarakan kepadamu."

Dari awal, aku sudah mempunyai firasat buruk. Sepertinya ini bukkanlah hal yang baik.

"Kyouya, secepat mungkin kita akan pindah ke Jepang."

"Eh, kenapa, ayah?"

"Kau tahu kan, penyakitmu bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Dibutuhkan donor sumsum tulang yang tepat untuk menyembuhkannya dan juga perawatan intensif. Tadi dokter berkata kepada ayah, telah ditemukan seorang donor yang tepat untukmu di Jepang. Karena itu, kita akan pindah ke Jepang, setelah itu kau juga akan mendapatkan perawatan intensif di sana."

Aku tidak dapat berkata apapun. Perkataan ayah benar, jika tidak segera diobati aku dapat meninggal kapan saja. Mungkin aku termasuk beruntung karena aku dapat bertahan sampai tiga tahun, tetapi sepertinya kali ini sudah benar-benar tidak ada waktu lagi.

"Besok kita sudah akan berangkat, persiapkan dirimu baik-baik, Kyouya."

Setelah itu, ayah pergi meninggalkan kamarku.

Death is approaching, and you

worry me. What will you do once this happens?

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin dapat selalu bersama dengannya, tetapi sepertinya, aku tidak dapat mengabulkannya.

Aku memutuskan, setidaknya aku harus memberi salam selamat tinggal kepadanya.

I run

But to say goodbye, what heavier feeling is there?

Aku berlari keluar, memaksakan diriku untuk pergi keluar. Tapi, hatiku terasa sangat sedih karena aku tahu bahwa ini adalah perpisahan. Karena itu, aku memutuskan. Untuk terakhir kalinya, hanya untuk dirinya, aku akan tersenyum kepadanya.

I send to the other side an unfortunatepaper airplane

I'm not going to show anymore tears

Setibanya di sana aku segera melemparkan pesawat kertas yang kubawa dan mencoba untuk tersenyum. Aku senang, sepertinya ia senang melihatku tersenyum di hadapannya.

Setelah mendapat suratku, dia membacanya dengan tatapan tidak percaya. Tetapi, ini keputusanku. Walaupun hatiku sakit, aku tidak akan menangis.

Aku segera membalikkan badan dan bergegas kembali.

Wait a moment! You're my partner!

You're not going to come back?

I've carefully kept all your letters

I'll wait till you return again, okay?

"Tunggu!"

Tiba-tiba ia berseru memanggilku, aku terhenti sesaat.

"Kau partnerku bukan? Apakah kau tidak akan kembali lagi?"

"Aku sudah menyimpan baik-baik semua suratmu. Aku akan menunggumu sampai kau kembali lagi..."

Saat itu juga, perasaanku menjadi ragu, apakah aku benar-benar harus pergi? Apakah tidak ada cara agar aku dapat terus bersamanya?

Tetapi... demi kebaikanku... demi kebaikannya... aku rasa inilah jalan yang terbaik... Maafkan aku...

Tak terasa, air mata telah membasahi pipiku. Aku berlari sekencang mungkin kembali menuju rumah sakit. Aku takut jika aku menoleh sedikit saja, aku akan kembali terbawa olehnya.

Ever since then,

My body no longer moves

Setelah kejadian itu, aku jatuh dalam keadaan koma. Setibanya kembali di rumah sakit aku terjatuh pingsan dan belum sadarkan diri hingga sekarang.

Sebentar lagi, kita akan benar-benar berpisah. Besok aku sudah akan dibawa menuju Jepang.

I need you to continue on

Always, at the other side

Dari tempatku sekarang, aku hanya bisa berharap agar ia terus melangkah maju. Selalu dari balik pagar tersebut.

How are you going to show your smile now?

I want to see you...

Tetapi bagaimanapun juga, aku terus berharap agar aku dapat bertemu dengannya lagi.

There is no longer any light to illuminate that flower

We can't change destiny

My light is dimming

Apapun yang aku lakukan, aku tidak bisa mengubah nasib. Sepertinya waktuku di dunia ini tidak lama lagi. Ini salahku sendiri, aku sudah tau resiko yang akan kutanggung jika aku memaksakan diri, tetapi aku tetap pergi untuk bertemu dengannya.

Even though I'm weak, I've kept every single one

I have to quickly go to that place

Walaupun aku lemah, aku tetap menyimpan semua surat miliknya. Aku tetap berusaha untuk berada di sampingnya.

Please, if I die

I want you to survive

Aku mohon, jika aku mati. Aku ingin ia tetap hidup. Aku ingin agar ia tetap bisa menjalankan kehidupannya sebaik mungkin.

Since that day, we've always been together

I'll never forget your smiling face

Sejak hari itu, sejak pertama kali kita bertukar pesawat kertas. Sejak saat itu pula, kita selalu bersama.

Aku tidak akan pernah melupakan senyumannya, karena itu aku berharap agar ia juga tidak pernah melupakan senyumanku.

The deep darkness engulf us both

The deep darkness takes away our happiness

Tetapi, kegelapan telah memisahkan kami berdua. Kegelapan telah menyita kebahagiaan kita berdua.

Seharusnya dari awal aku menyadari betapa jauhnya kita berdua. Tetapi, aku tidak menyesal telah menjadi bagian dari dirinya. Ia pun akan selalu berada dalam hatiku.

Walaupun kita tidak bersama sekarang, walaupun kita berada di dunia yang berbeda. Aku ingin mempercayai kata-katamu dan mengatakan...

Till tomorrow...

Sampai jumpa lagi...

Setelah itu, aku sudah tidak tahu tentang detail dari apa yang terjadi...

Yang kutahu hanya aku dibawa ke Jepang dan menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang. Karena aku masih hidup, berarti operasinya berhasil.

1 bulan setelah operasi itu berhasil, ayahku terkena kecelakaan dan meninggal di tempat. Aku harus menjalani perawatan intensif selama 3 bulan di rumah sakit, karena itu aku tidak dapat mengunjungi pemakamannya.

1 bulan setelah kecelakaan tersebut, nenek dari ibuku datang dan mengatakan bahwa aku akan tinggal bersamanya. Setelah perawatanku selesai dan aku dinyatakan sembuh total, aku segera keluar dari rumah sakit lalu dibawa ke sebuah kota di mana nenekku tinggal, Kota Namimori.

3 tahun kemudian, nenek meninggal dunia karena sakit. Setelah nenek meninggal, aku tinggal sendirian di rumah nenek. Tetapi aku tidak mengalami kesulitan karena ayah, nenek, dan ibuku mempunyai banyak kenalan di daerah Namimori yang selalu siap membantuku setiap saat.

Setelah semua ini, aku tidak pernah kembali ke Italia sekali pun.

-End Of Hibari's POV-


1 tahun 9 bulan kemudian, 5 tahun setelah mereka berdua berpisah...

Keadaan terlihat seperti biasa di Sekolah Namimori, murid-murid terlihat sedang belajar di kelas dan seperti biasanya Hibari sedang tidur siang di atap sekolah.

~Hibari... Hibari...~

Terdengar suara seekor burung kecil yang tak lain adalah mengangkat tangannya, Hibird dengan tepat mendarat di tangannya tersebut.

Setelah itu, Hibari melihat ke atas langit lalu mengambil sebuah benda dari kantungnya. Ia menerawang benda itu ke atas langit dan benda itu kelihatan bersinar setelah terkena pantulan cahaya matahari. Benda itu adalah sebuah batu kristal berbentuk burung merpati.

"Sudah 5 tahun, sejak hari itu ya..."

Hibari tetap tidak bergerak dari posisinya.

"Kyo-san. Sepertinya ada sekumpulan berandalan sedang berkumpul di belakang sekolah."

Suara Kusakabe terdengar dari bawah. Hibari segera bangun dan turun dari tempatnya itu dan segera melangkah menuju pintu.

"Kusakabe, bereskan mereka sekarang juga."

"Eh, kalau begitu ke mana kau akan pergi, Kyo-san?" Kusakabe kembali bertanya. Sepertinya ia bingung karena biasanya Hibari yang akan membereskan sendiri para berandalan sekolah.

"Aku akan pergi ke Italia, bereskan semua pekerjaan selama aku tidak ada."

"Tu... Tunggu, Kyo-san!"

BRAKK

Pintu ditutup dan Hibari segera meninggalkan Kusakabe di atap. Kusakabe hanya bisa jawdrop mendengar jawaban Hibari tadi.


End Of Chapter

Sebenernya sih, ini ceritain hal yang sama kayak chapter 1, cuma beda POV-ny aja...

Chapter 3 gak pake POV siapa-siapa...

R&R^_^