Akhirnya fic ini selesai juga... =w=
Maaf, karena dibuat berdasarkan kesetressan jadi agak-agak ngaco...
Ceritanya : Ak pulang sekolah (bukan sekolah sih tapi anggep aja sekolah...) Hari pertama, pelajarannya 5 jam matematika dan 3 bab langusng diabisin. Babnya susah-susah lagi binomial expansion, trigonometri sama turunan. Terus sampe rumah ngerjain PR lalu sukses stress gara-gara gak bisa. Sore-sore saking stressnya dan gak ada kerjaan akhirnya ngelanjutin bikin fanfic.
Makasih buat yang udah ngereview ya...^_^
Terus... ini chapter terakhir, maaf lagi kalau ending-nya agak gaje... gak ada ide...T.T
Dan jadi-jadinya gantian POV-nya, soalnya ak gak gitu bisa kalau gak pake POV terus dua-duany supaya dua-duanya feeling-nya bisa ketauan walaupun akhir-akhir enggak.
Terus yang di bagia bawah ada errr... atau -ehem- itu cuma karena ak bosen aja, jangan dipeduliin.
++ Ak kapok bikin fic BL...T.T
Setiap kali mau ngetik yang berhint pasti gak tega rasanya jadi makan waktu berjam-jam. Jadi mungkin ini adalah fic terakhir ak yang BL, padahal sebenernya ak punya ide satu lagi...T.T
Disclaimer:
KHR milik Amano Akira, Vocaloid milik Yamaha, lagu milik yang buat masing-masing
-Tori No Uta / Song Of Birds-
-Dino's POV-
We watched the fading vapor trails
They were so dazzling, I ran away- I was always weak
Aku berusaha untuk mencarinya kembali. Hari ini bertepatan dengan 5 tahun yang lalu. Sudah 5 tahun berlalu, tetapi aku tetap saja tidak dapat melupakannya. Karena itu, aku memutuskan untuk mencarinya kembali.
Walaupun aku hanya mempunyai petunjuk tentang rumah tahanan, rumah sakit, dan sebuah batu yang kumiliki ini. Dengan petunjuk-petunjuk kecil tersebut aku akan tetap berusaha untuk mencarinya.
Aku mencoba untuk mengindari fakta bahwa ia mungkin saja sudah pindah, bahkan sudah meninggal. Tetapi aku tetap mencoba untuk percaya, bahwa suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi.
Sekarang ini, aku sekarang sedang berada di dalam mobil dan Romario menyetir mobil yang kutumpangi itu.
"Boss, ke arah mana kita akan pergi?"
Romario bertanya kepadaku, aku berpikir sejenak. Sudah 5 tahun sejak kejadian itu, aku sama sekali tidak ingat tentang letak rumah tahanan tersebut, yang kuingat hanya posisinya yang berada di kota sebelah Utara markas pertahanan keluarga Cavallone. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Romario.
I let go, frustrated by the fact
That I couldn't stay unchanged since that day
Couldn't stay unchanged forever
Aku sudah mencoba sekuat mungkin untuk mengingatnya, tapi ingatanku samar-samar. Aku hanya dapat mengingat bagian lapangan belakang tempat aku selalu bertemu dengannya.
Aku sedikit kesal dengan diriku. Kenapa di saat seperti ini, aku malah melupakan hal yang penting. Fakta bahwa aku telah melupakannya membuatku tidak dapat berpikir dengan tenang.
"Boss, bagaimana kalau kita coba cari rumah sakitnya terlebih dahulu?"
Mendengarku tidak menjawab, Romario kembali bertanya kepadaku. Sepertinya tidak ada pilihan lain, bagaimanapun juga aku tidak bisa mengingatnya.
"Baiklah Romario, tapi bagaimana cara kita mencarinya?"
"Aku akan meminta salah satu temanku untuk mencarinya di pusat informasi. Apa nama rumah sakitnya, boss?"
"Nama rumah sakit itu..."
Perkataanku terhenti. Bodohnya aku, sampai saat ini aku baru saja sadar kalau aku sejak awal tidak mengetahui nama rumah sakit tempat tinggalnya tersebut.
"Maaf, Romario, aku tidak tahu."
Saat itu juga, kami berdua terdiam. Lalu aku teringat akan hal lain.
"Bagaimana dengan rumah tahanan itu? Apakah kita bisa mencarinya melalui namanya?"
"Sayang sekali, rumah tahanan milik Regione Family sudah dihancurkan sejak keluarga itu hancur 3 tahun yang lalu. Semua dokumen yang berhubungan dengan keluarga tersebut pun sudah dihilangkan."
Aku hanya bisa kecewa, saat itu juga mobil yang kami tumpangi melewati sebuah jembatan besar dan sungai yang menghubungkan 2 kota.
"Bagitu ya... Kalau begitu, kita sama sekali tidak mempunyai petunjuk..."
Aku berusaha untuk berpikir, adakah suatu petunjuk lain yang dapat kugunakan. Tetapi sekeras apapun aku berpikir aku tidak dapat mengingat sesuatu yang lain.
"Boss, kita sudah sampai."
Tidak terasa, kita sudah sampai pada kota sebelah Utara dari markas Cavallone, Kota Lecce.
"Bagaimana selanjutnya, boss?"
Aku sudah memutuskan. Kali ini, aku tidak akan berhenti setengah jalan seperti usahaku tahun-tahun lalu. Tahun ini aku telah mendapat kepercayaan dari batu kristal yang kutemukan tidak lama ini. Kali ini, aku pasti akan menemukannya.
"Aku akan mencoba mencari petunjuk, Romario bantulah aku."
"Baik, boss."
"Pertama-tama, mari kita coba tanyakan tentang keberadaan rumah sakit tersebut."
Aku tidak mungkin menanyakan tentang rumah tahanan tersebut, karena bagaimanapun juga rumah tahanan tersebut merupakan bagian dari mafia dan rakyat biasa tidak mungkin mengetahui akan hal tersebut. Aku putuskan untuk mencari rumah sakitnya terlebih dahulu.
"Aku akan, mencari informasi mulai dari daerah sebelah Selatan. Kau pergilah ke daerah Utara dengan mobil ini dan carilah informasi di sana."
"Apa kau yakin baik-baik saja, boss?"
"Tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja."
Setelah itu aku bergegas turun dan membuka pintu mobil. Lalu berjalan menuju trotoar di mana banyak orang berlalu lalang di sana. Romario pun segera pergi ke arah Utara.
Aku berjalan menghampiri seorang ibu yang sedang berjalan bersama anaknya...
"Permisi..."
BRUKK
Sayangnya, sebelum mencapainya aku tersandung di trotoar tersebut. Sepertinya aku telah melupakan suatu hal yang penting, tetapi aku tidak akan menyerah hanya karena hal buruk menimpaku. Aku hanya bisa mengusap-usap kepalaku setelah itu.
"Kau tidak apa-apa, nak?"
Ibu itu bertanya kepadaku, mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan.
"Ah, terima kasih. Aku tidak apa-apa."
Aku berdiri, mengibas-ngibaskan debu yang menempel di bajuku.
"Apakah ibu tahu tentang rumah sakit yang ada di sekitar sini?"
"Hmm... Maksudmu rumah sakit yang mana, nak? Di sekitar sini,banyak rumah sakit kecil. Selain itu banyak juga klinik kecil. Memangnya kau sakit?"
"Ah, tidak aku sedang mencari seseorang. Maafkan aku, terima kasih,bu."
"Ah, sama-sama. Aku senang dapat membantu."
Ibu itu hanya tersenyum kecil, akupun menundukkan badanku berterima kasih kepadanya setelah itu ibu itu pergi menyusuri trotoar.
Aku tidak menyangka bahwa banyak rumah sakit di sekitar sini. Sekarang petunjuk yang kupunya hanyalah lambang rumah sakit tersebut yang sebenarnya hanya samar-samar dapat kuingat. Aku tidak dapat mengingat detailnya, tetapi lambang rumah sakit tersebut berwarna merah cerah dan unik menurutku.
Aku sudah pernah mengatakan kepada Romario tentang hal itu, aku harap ia dapat mecarinya dengan benar juga. Setelah itu, aku hanya dapat terus bertanya dan mampir melihat rumah sakit yang berada di sekitar tempatku berada. Berkali-kali aku mengalami nasib buruk seperti menabrak tiang listrik, tersandung batu, jatuh ke selokan, dan lain-lain. Tetapi aku tetap tidak akan menyerah.
-End Of Dino's POV-
-Hibari's POV-
That bird still can't fly well
But someday she will know the feeling of cutting through the wind
'Perhatian kepada para pengunjung sekalian, sebentar lagi pesawat akan tiba di tujuan. Dimohon para penumpang...'
Aku terbangun, suara pengumuman tersebut telah membangunkanku. Kemarin setelah pergi dari sekolah, aku segera memesan tiket pesawat ke Italia dan berangkat malam itu juga.
Perjalanan memakan waktu sampai pagi dan sebentar lagi aku sampai sana.
Setelah pesawat tersebut mendarat, aku segera mengambil barang-barangku. Keluar dari bandara, aku segera memanggil taksi dan memintanya untuk menuju Kota Lecce.
The place she can't reach is still there in the distance
She gazes at it, keeping her wish to herself
Aku masih ingat jelas tempat tersebut, Rumah Sakit Villagne, Kota Lecce. Tempatnya berdekatan dengan sebuah rumah tahanan dan jembatan besar serta sungai yang menghubungkannya ke kota lain. Berada di bagian paling Selatan Kota tersebut.
Aku ingin cepat-cepat tiba di sana, walaupun aku tahu aku tidak akan melihatnya. Tetapi ini sudah seperti kegiatan rutin bagiku. Tiap tahun pada tanggal hari ini, aku akan pergi ke Italia dan pergi ke tempat itu. Walaupun selama ini aku tidak pernah melihatnya lagi, aku berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu dengannya lagi.
Tidak lama berselang aku pun tiba di tempat tersebut. 3 tahun yang lalu, rumah tahanan di sebelah rumah sakit ini dihancurkan karena sebab yang tidak jelas. Sekarang tempat itu menjadi sebuah lapangan kosong, belum ada pembangunan yang dilaksanakan di sana. Lalu dibangun sebuah taman di sebelah rumah sakit, tempat aku biasa bertemu dengannya dulu.
Aku pun duduk di bawah sebuah pohon di sana dan memandang ke sekitar taman tersebut.
Children walk on the railroad tracks in summer
Exposing their bare feet to the blowing wind
We place in the distance the days of our childhood
We place in our hands hope that springs forth
Aku melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di sana. Umur mereka berkisar 10 tahun. Melihat mereka semua, mengingatkankku akan masa kecilku. Di mana aku masih bisa berada di sisinya. Sekarang, aku hanya bisa berharap agar suatu hari dapat bertemu dengannya lagi.
Aku menutup metaku, mencoba untuk mengeng masa-masa laluku di sini. Walaupun sudah 5 tahun berlalu, aku tidak akan pernah melupakannya.
Aku mengubah posisiku menghadap ke arah sungai yang dilalui jembatan besar tersebut. Dari sini aku dapat merasakan angin yang berhembus sepoi-sepoi ke arahku. Tidak lama, aku tertidur di bawah pohon tersebut.
-End Of Hibari's POV-
-Dino's POV-
Chasing, chasing the fading vapor trails
It hasn't changed since the day we crossed that hill, and never will
So that we will always have it,
We'll guard the strength of a sea god, surely
Aku terus berusaha untuk mencarinya. Sudah berjam-jam berlalu dan matahari hampir terbenam, tetapi aku masih sama sekali belum menemukan petunjuk apapun.
Aku hampir saja putus asa, tetapi suara telepon kembali menyadarkanku.
Aku mengangkat telepon tersebut.
"Halo."
"Boss, aku telah menemukan rumah sakit yang mungkin merupakan rumah sakit tersebut."
Telepon tersebut berasal dari Romario.
"Benarkah, segera bawa aku ke sana, Romario."
"Baik, boss."
Aku menunggu mobil datang di trotoar. Sepertinya aku telat menyadari bahwa aku belum memberitahu Romario di mana aku berada sekarang. Tetapi tidak lama berselang, mobil itu tiba di depanku.
Aku segera memasuki mobil dan dengan antusias aku kembali bertanya kepada Romario.
"Romario, di mana rumah sakit itu berada?"
"Di bagian paling Selatan kota ini, boss."
"Baiklah, Romario. Segera bawa aku ke sana."
Romario segera mengemudikan mobilnya ke sana. Aku hanya dapat melihat pemandangan kota yang dari tadi kulewati. Sebentar lagi, matahari akan terbenam.
Aku melihat ke depan, terdapat sebuah rumah sakit yang cukup besar di sebelah jembatan yang menghubungkan kota tempat di mana markas Cavallone berada dan kota ini.
Setelah tiba di sana, aku segera turun. Tetapi aku segera menyadarinya tepat setelah aku turun.
Berbeda, ini adalah rumah sakit yang berbeda. Dengan melihat lambang rumah sakit tersebut aku dapat segera mengetahuinya. Walaupun memang unik dan berwarna merah cerah, tetapi aku tetap menyadari bahwa itu bukanlah hal yang kumaksud.
Aku hanya bisa kecewa.
The blades of the windmill that turn in the sky
Always have the same dream
The dream of a bird, her wish kept to herself,
Gazing at the place she can't reach
Aku melihat, di belakang rumah sakit tersebut, terdapat sebuah sungai yang cukup besar. Aku melangkah ke sana, melihat matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Maafkan aku, sepertinya tahun ini pun aku tidak dapat menemuinya.
Setelah ini, aku harus pulang. Walaupun begitu, aku telah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah menyerah untuk mencarinya. Besok, lusa, dan hari-hari selanjutnya, aku akan terus kembali dan mencarinya di kota ini.
Aku pun berjalan kembali menuju mobil. Sebelum kembali ke mobil, aku melihat di bantaran sungai tersebut terdapat sebuah kincir air agak jauh di sebelah kiri. Saat itu pun aku teringat...
I look back: the sun-baked railway tracks are hidden
By stormclouds- even if they change their shape,
May we always remember
The yesterdays left behind by the seasons...
Kenapa aku tidak menyadarinya sejak tadi. Aku baru saja mengingat satu hal penting yang kulupakan dari tadi. Satu lagi ciri khas rumah sakit tersebut adalah sebuah kincir air yang terdapat tepat di belakang rumah sakit tersebut.
Dari lapangan belakang rumah tahanan tersebut, aku dapat melihat kincir air tersebut walaupun hanya kincirnya saja. Tetapi, aku tidak dapat melihat sungai dari tempatku.
Aku baru saja sadar, ada kincir air berarti ada sumber air tertentu. Dan sumber air yang memungkinkan di sekitar sini hanyalah sungai yang membatasi 2 kota ini.
Aku segera kembali ke mobil dan menyuruh Romario untuk mengemudikan mobil ke arah sana. Romario pun dengan segera menjalankan mobilnya ke arah tersebut.
-End Of Dino's POV-
-Hibaris's POV-
Aku terbangun, epertinya aku tertidur di sini cukup lama. Aku baru saja sadar, matahari sudah hampir tenggelam. Tahun inipun sepertinya aku tidak dapat melihatnya.
Aku berdiri, bersiap untuk pergi kembali ke Jepang.
-End Of Hibari's POV-
-Dino's POV-
Mobil yang kutumpangi akhirnya tiba di depan rumah sakit depan kincir air tersebut.
Tidak salah lagi, ini adalah rumah sakit tersebut. Sekarang aku ingat, lambangnya merupakan gambar dari seekor kuda dan seekor burung yang hinggap di kepalanya, karena itu aku bilang lambangnya unik. Akhirnya aku meneukannya.
Aku melihat ke sekitar, di sebelah rumah sakit itu terdapat sebuah taman. Tetapi taman itu sangat sepi, sepertinya anak-anak sudah pulang ke rumah karena matahari sudah hampir tenggelam.
Di sebelahnya lagi, terdapat sebuah lapangan kosong. Tempat itu persis dengan posisi dari rumah tahanan ku dulu. Informasi Romario tentang rumah tahanan tersebut sepertinya benar.
Aku tahu, percuma jika aku bertanya ke dalam rumah sakit karena aku tidak tahu namanya. Dan saat ini sudah lewat jam jenguk, tidak mungkin aku menerobos masuk ke dalamnya.
Aku menyerah untuk hari ini, aku sudah cukup puas dapat menemukan rumah sakit ini. Aku memutuskan akan kembali ke tempat ini lagi besok.
Karena masih ada waktu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Mencoba untuk mengingat kenangan-kenangan yang kulalui di sini bersamanya.
Harapanku semakin besar untuk bertemu dengannya lagi.
Aku berjalan menuju ke arah sungai tersebut, dari sana matahari yang sedang tenggelam terlihat sangat jelas.
Aku terkejut, di balik salah satu pohon, aku melihat bayang-bayang seseorang di situ. Bukan hanya bayang-bayang saja, benar-benar ada seseorang disitu. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas dari belakang, tapi sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya.
Karena aku cukup penasaran, aku berjalan menghampirinya.
Orang itu membalikkan badannya mendengar aku menghampirinya, aku kaget ternyata aku melihat tampang yang sangat kukenal.
"K... Kyouya?"
Dia adalah Hibari Kyouya, ketua komite kedisiplinan sekolah Namimori yang juga merupakan Cloud Guardian dari Vongola. Aku pernah menjadi tutornya sewaktu Ring Conflict yang lalu, karena itu aku sangat mengetahui sifat dan sikapnya.
Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.
"Kenapa kau ada di sini, Kyouya?"
"Tidak ada hubungannya denganmu, haneuma." Seperti biasa ia menjawab dengan tatapan yang dingin. Setelah itu ia segera mengambil koper kecil yang berada di dekat kakinya dan melangkah pergi.
Sepertinya ia sangat terburu-buru, saat melangkah bahunya bertubrukan denganku. Sesuatu terlihat terjatuh dari sakunya
"Ma... maaf, Kyouya."
Ia membalikkan badannya, aku pun segera mengambil benda tersebut. Saat mengambilnya, aku melihat benda tersebut adalah sebuah batu kristal.
Aku berpikir sejenak, batu kristal itu persis seperti yang ada dalam ingatanku. Berbentuk sebuah burung merpati. Berarti Kyouya adalah anak yang waktu itu?
Menyadari apa yang kupegang, ia segera berusaha untuk mengambilnya kembali.
"Kembalikan benda itu!"
"Tu...tunggu, Kyouya!"
Aku segera berusaha mengambil potongan batu kristal yang kupunya dan mencocokkannya. Kedua potongan tersebut bersatu sangat tepat. Aku pun menunjukkannya kepada Kyouya.
Sepertinya ia juga kaget dengan apayang ia lihat, ia terhenti. Tidak lama kemudian ia segera merebut salah satu bagiannya, menggenggamnya dengan erat dan membalikkan badannya.
Sekarang, aku sangat yakin. Anak waktu itu, adalah Kyouya. Kalau dipikir-pikir imagenya memang cocok untuk Kyouya dan aku baru menyadarinya sekarang.
-End Of Dino's POV-
-Hibari's POV-
Jadi... Haneuma adalah anak yang waktu itu...
Buktinya sudah sangat jelas, ia mempunyai satu lagi potongan batu kristal yang seharusnya hanya dimiliki olehnya dan kedua potongan itu bersatu sangat tepat.
Lagipula... Jika aku pikirkan baik-baik, haneuma memang mirip dengannya.
Tetapi aku tidak berani menghadapnya sekarang. Aku senang dapat bertemu dengannya tetapi...
"Kyouya, jadi kau..."
Kata-katanya terdengar ragu. Sudah kuduga, 5 tahun yang lalu itu ia mengira bahwa aku adalah seorang anak perempuan.
Aku tahu, walaupun aku bertemu dengannya lagi sekarang, ia tidak akan melihatku sama seperti waktu itu.
Ini kesalahanku sendiri. Kenapa aku tidak memeberitahunya waktu itu juga?
Aku takut. Takut jika ia mengetahui kenyataannya, ia akan menjauh dariku. Tapi ini mungkin adalah balasan bagiku. Karena aku tidak jujur 5 tahun yang lalu, hal ini terjadi sekarang.
Walaupun aku bertemu dengannya, semua tidak akan berjalan seperti yang kami bayangkan 5 tahun lalu.
Sekarang, pikiranku hanya ingin kabur dari sini, aku segera bersiap melangkahkan kakiku.
Tetapi... tepat saat itu juga, aku dapat merasakan kedua tangannya memelukku dari belakang.
Aku tidak ingin berharap. Aku juga takut merasa kecewa di kemudian hari.
"Lepaskan, haneuma..."
-End Of Hibari's POV-
-Dino's POV-
Chasing, chasing the fading vapor trails
The signal is given too early
So that we can always look straight ahead,
Even if it's slippery with sweat, I won't let go of your hand, ever
Sekarang aku tahu, bahwa ia adalah seorang laki-laki. Tetapi aku tetap tidak dapat menahan perasaanku. Karena bagaimanapun juga...
"Kyouya..."
Ia terdiam.
"Maafkan aku, Kyouya. Selama ini aku tidak menyadarinya..."
"Kenyataan bahwa kau adalah laki-laki, juga kau adalah orang yang kucari selama ini..."
"Tetapi, bagaimanapun juga... Kyouya... Kau adalah satu-satunya cinta pertamaku..."
Sepertinya Kyouya sedikit tercengang mendengar kata-kataku. Aku tidak bergerak, ia pun tidak bergerak dari posisinya itu. Tidak lama kemudian, aku dapat merasakan kedua telapak tangannya memegang tanganku.
Butiran air mata dapat kurasakan menetes ke tanganku.
Samar-samar aku mendengarnya berbisik...
'Terima kasih... Dino...'
Setelah, itu matahari benar-benar tenggelam.
-End Of Dino's POV-
1 minggu kemudian, Sekolah Namimori, Jepang
Keadaan di Namimori saat itu sangatlah tenang. Hibari terlihat seperti biasa tidur di atap sekolah Namimori.
Setelah kejadian waktu itu, Hibari segera kembali ke Jepang. Dino tidak bisa pergi ke Jepang karena pekerjaannya yang menumpuk apalagi setelah ditinggalkan selama sehari.
Sudah 1 minggu mereka tidak bertemu.
"Midori Tanabiku~ Namimori No~"
Hibird terdengar sedang menyanyikan lagu namimori anthem kegemarannya dan Hibari itu. Mendengar suara tersebut, Hibari terbangun dan mengambil posisi duduk. Setelah itu Hibird segera bertengger di tangan Hibari.
BRAKK
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Tetapi kenapa suaranya sangat keras?
Hibari segera turun dari tempatnya tersebut dan mendapatkan Dino yang sedang terjatuh tepat di depan pintu menuju atap.
Dino segera bangun dan mengusap-usap kepalanya. Sedangkan Hibari berdiri tepat di depannya.
"Yo, Kyouya!" Dino segera menyapa Hibari dengan caranya yang biasa, dan seperti biasa Hibari dengan sikapnya yang cuek.
"Ada apa, haneuma?"
"Aku sudah menyelesaikan tugasku di Italia dan selama seminggu aku bebas dari tugas. Karena itu, mari kita lalui waktu kita bersama, sama seperti 5 tahun yang lalu."
sambil berkata, Dino tersenyum. Hibari err... -ehem- blushing dan segera memalingkan badannya ke belakang.
"Terserah kau saja, haneuma."
"Benarkah! terima kasih, Kyouya!"
Dino terlihat kegirangan. Hibari segera menengokkan kepalanya ke arah Dino.
Melihat Hibari sudah menengok kembali, Dino berhenti dari kegirangannya sendiri dan mengulurkan tangannya untuk Hibari.
"Mari kita pergi, Kyouya!"
Dino masih saja tersenyum, tetapi Hibari kelihatan ragu ia hanya diam saja.
Melihat Hibari diam saja, Dino berhenti tersenyum tetapi ia tetap mengulurkan tangannya.
Hibari menghadap lurus ke arah Dino dan -ehem- tersenyum. Dan kali ini gantian Dino yang err... blushing.
Hibari segera meraih tangan Dino dan menggenggamnya dengan erat, Dino pun membalas demikian.
Lalu mereka pun berjalan pergi dari tempat tersebut, menuju masa depan yang mereka impikan...
FIN
End Of This Story
Happy Ending :3
R&R^_^
