Psycopath
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Vaparte.
Rated : T
Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, ununderstandable humor *?*.
Genre : Crime / Suspense / Humor -for this chapter-
Capitolo : Due / Segno (Sign)
***
ENJOY
***
Suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang dan suara manusia berbaur jadi satu di hari jumat pagi. Sebuah pagi yang cerah –jika tak mau dikatakan panas– di hari terakhir kegiatan rutin aktifitas para warga Konoha. Esoknya, hari sabtu, mereka mulai menyegarkan pikiran dan batin dengan cara yang mereka sukai. Tapi itu besok, tidak untuk hari ini. Tapi, jam sembilan masih terbilang pagi kan?
"Naruto..." panggil Shikamaru sambil berdiri di samping tempat tidur Naruto dengan tangan memegang gayung berisi air dingin, air es.
Ia sudah siap pergi menuju pengadilan, dengan setelan jas hitam kebiruannya. Tapi, ternyata matanya tidak siap. Bola mata hitamnya di hiasi guratan-guratan urat merah yang banyak sehingga terlihat bola mata putihnya, kemerahan. Seperti orang kurang tidur. Walaupun memang begitu adanya, mau bagaimana lagi.
"Naruto..." panggil Shikamaru lagi seraya mendekatkan mulut gayung ke kepala Naruto yang tergantung di sisi tempat tidur. Dengan kata lain, kepalanya tidak ada di atas tempat tidur, hanya bagian pundak ke bawah. Oh, dan juga kedua tangan tergolek di samping kepalanya.
"Banzai... Ramen... Ayo, lawan tomat tak punya harga diri itu... Lempar dia dengan kuah sup milikmu..." gumam Naruto dalam tidurnya. Mengigau. Shikamaru menaikkan satu alisnya dan tanpa ragu menurunkan air es dari gayung menuju wajah Naruto, turun dari singgasananya menuju wajah Naruto, dengan mulut terbuka dan iler.
SPLAAASH!!
Satu detik berlalu...
Lima detik berlalu...
Sepuluh detik berlalu...
"PHUUUAAAH!!! Apa yang... SHIKAMARUUU!!! Apa-apaan ini!!?" bentak Naruto sambil terjungkal lalu berdiri menghadap Shikamaru. Dengan satu gerakan, ia mengusap wajahnya dengan lengan baju tidurnya.
"Aku mau ke pengadilan sekarang, jaga tempat ini. Kalau mau sarapan, buat ramen saja sana. Aku baru membeli satu kardus ramen limited edition. Sudah ya, sampai jumpa," kata Shikamaru sambil berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Naruto dengan wajah bodoh, yang ditambah dengan jejak ilernya yang terlihat. Sangat tidak elit.
=*=*=*=
"Dengan ini saya, sebagai hakim pengadilan Konoha dengan ini memutuskan hak asuh anak dimenangkan oleh pihak suami. Sidang gugatan cerai dinyatakan selesai."
Dan sang hakim ketua –yang duduk di tengah, membunyikan palu khas seorang hakim dengan keras sebanyak tiga kali.
Shikamaru menghela nafas panjang. Baru kali ini dia kalah dalam hal perebutan hak asuh anak sang klien. Wajarlah, dia baru kali ini menangani kasus perebutan hak asuh anak. Setidaknya ada sisi positifnya, ia dapat pengalaman dan terlepas dari teror sang klien. Kalau sang klien memaksa Shikamaru, maka namanya klien nekat.
Ia menghela nafas lagi setelah membereskan berkas-berkas yang –tadinya– penting lalu berjalan menuju tempat sang hakim yang masih membereskan dokumen-dokumen tentang pasal perceraian dan hak asuh. Sang hakim menoleh, ia tersenyum.
Shikamaru menawarkan jabatan tangan, dan sang hakim menerima jabatan tangan pengacara yang mulai terkenal itu. Shikamaru hanya tersenyum tipis lalu pergi menuju tempat parkiran setelah sebelumnya ia mengucapkan 'terima kasih'.
=*=*=*=
Suara ponsel Shikamaru berdering dan bergetar di saku kiri celana katunnya. Ia menggapainya dengan tangan kiri lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
'Naruto?' batin Shikamaru bertanya-tanya, tapi ia putuskan untuk mengangkatnya.
"Halo?"
"Shikamaru. Ada kasus penting," kata Naruto.
"Kasus apa?"
"Segeralah pulang, sidangmu sudah selesai kan? Neji juga ada di sini," kata Naruto.
"Suaramu terdengar aneh..." gumam Shikamaru sambil membuka pintu mobilnya.
"Benarkah? Mungkin karena aku sedang tegang," jawab Naruto seadanya.
"Bukan. Suaramu bergema. Apa kau sedang di WC?" tanya Shikamaru sambil memasang headset ke kedua telinganya dan mencolokkannya ke ponselnya, setelah itu ia mulai menyalakan mobilnya.
"Bagaimana kau tahu!? Wow, Shikamaru! Aku terkejut sekali!" kata Naruto dengan nada mengejek.
"Tapi kedengarannya kau tidak terkejut," balas Shikamaru sambil mencoba mengeluarkan mobilnya dari parkiran menuju salah satu jalan padat di Konoha.
"Yeah. Dugaanmu salah. Aku sedang tiduran di bathub," jawab Naruto. Sebelum ia berbicara lebih banyak, terdengar suara 'tut' yang banyak.
Shikamaru memutus sambungan dengan wajah kesal.
Sementara itu di lain tempat, Naruto memandang ponselnya dengan tampak tidak meyakinkan lalu bertanya, "Apa pulsaku habis ya?" entah pada siapa.
=*=*=*=
"Kali ini kasus apa?" tanya Shikamaru langsung kepada Hyuuga Neji –sang Kepala Kepolisian Markas Besar Kepolisian Konoha, begitu ia sampai di apartemen mewahnya.
"Kasus pembunuhan," jawab Neji dengan nada serius. Shikamaru menoleh ke arah Naruto yang memasang wajah serius.
"Kalau memang kasus pembunuhan, kenapa aku –yang pengacara ini, dimintai tolong? Bukannya ada Naruto yang menjadi ketua divisi detektif di Mabes Konoha?" tanya Shikamaru sambil meminum es jeruk buatan Naruto yang asam.
'Apa Naruto buta rasa ya? Aku masih penasaran bagaimana dia menjadi anggota kepolisian dengan sifat seperti tadi pagi. Heran...' batin Shikamaru memasang wajah biasanya.
"Ya, aku juga meminta tolong padanya untuk membantuku. Dan aku juga membutuhkan seseorang dengan tingkat intelektual tinggi dan seorang psikolog yang benar-benar menguasai bidang itu. Orangnya itu kau dan... Uchiha Sasuke," kata Neji sambil meminum air putih pemberian Naruto. Rupanya dia tahu kalau jus jeruk buatan Naruto tidak pernah ada yang beres.
Naruto merengut mendengar nama rivalnya disebut-sebut, Rival sejak masih di SMA. Dengan bidang yang mereka geluti sekarang –yang berbeda, tentu saja membuat Naruto agak tenang karena tidak perlu mendengar hinaan dan ejekan keturunan Uchiha –keluarga mafia terbesar di negara itu*.
Tapi sekarang, mereka harus bekerja sama. Harus. Untuk mengungkap kebenaran. Demi kebenaran.
=*=*=*=
Malam hari di sisi jalan penuh debu, polusi dan asap itu, tetap menjadi tempat dimana para anak jalanan mendapat uang. Tempat dimana mereka menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain, juga tempat dimana suatu waktu nyawa mereka diambil karena kecerobohan.
Seorang anak berambut coklat –Kiba, sedang termenung di depan sebuah warung sisi jalan trotoar. Menyangga dagu dengan tangan kiri dan tangan lainnya menggenggam kecrekannya. Ia menatap sesuatu di seberang jalan. Sebuah restoran mewah, restoran bernama Barcode* yang terpampang di sisi jalan dengan batang besi. Sebuah restoran mewah dari rentetan panjang tempat mewah dan mahal yang berada di seberang jalan dimana ia berpijak.
La Codefin*, sebuah tempat dimana tempat untuk kalangan atas. Yang berarti hanya bisa dimasuki untuk kalangan atas dan tidak bisa sembarang masuk. Makanan dan minuman mewah dan lezat disajikan di Barcode, dengan harga tak pantas di bilang murah. Tempat yang dibuat oleh salah satu keluarga mafia terbesar kedua setelah Uchiha, Senju. Tempat itu dibuat hanya untuk status sosial para manusia yang makan di tempat itu. Penaikan derajat. Hanya agar dipandang lebih tinggi oleh orang-orang di bawah kalangan atas, kalangan menengah dan kalangan bawah.
Kiba bergumam tak jelas dan mengeluh kenapa ia hidup seperti ini padahal dulunya ia lebih beruntung dan hidup serba berkecukupan, tidak seperti saat ini. Dengan keadaan tak bisa di katakan beruntuk dan berkecukupan.
Kiba masih termangu menatap ke restoran itu. Sampai akhirnya dia memutuskan kembali ke markas bos-nya, Hidan.
=*=*=*=
Taman yang terawat, untuk ke sekian kalinya ia melewati tempat itu. Jalan tercepat menuju 0rumahnya. Waktu menunjukkan waktu jam sepuluh lebih sepuluh menit. Malam weekend seperti ini biasanya batas waktu setor-menyetor menjadi sejam lebih cepat. Entah apa maksudnya Hidan memberlakukan aturan semacam ini. Yang pasti, ini suatu keuntungan, walau tak seberapa memang.
Pohon Oak. Entah bagaimana caranya pohon itu bertahan di tengah kota metropolitan seperti Konoha. Mungkinkah ada yang merawatnya, tapi memerlukan waktu dan tak ada yang sudi untuk mengurus sebuah pohon di suatu taman tak terurus. Terlalu membuang-buang waktu. Karena di kota ini, waktu adalah uang. Kehilangan waktu sama saja menghilangkan uang.
Lagi-lagi, sepasang mata hijau mengintai Kiba dari balik pohon Oak itu. Di tangan kanannya ada sebuah golok berkarat dan bergerigi tak rata. Ia menyeringai bagai serigala mendapat mangsa.
***
Fine del capitolo Due
***
Stare Continuare
***
(Listen to: Thanks For The Memories – Fall Out Boys)
(Word Count: 1.543 words)
*) ya, saia ngejadiin keluarga Uchiha dan Senju sebagai keluarga mafia. Saia mulai terobsesi dengan mafia, salahkan Amano Akira-sensei karena telah membuat Katekyo Hitman Reborn. Alasannya karena kedua nama itu benar-benar terkenal di saat Senju Hashirama menjabat sebagai hokage pertama dan Senju Tobirama sebagai hokage kedua. =P
*) restoran Barcode. Sebenernya itu bukan nama restoran, tapi nama sebuah klub malam tempat DJ Riri dan istrinya melangsungkan pesta pernikahan. :p
*) La Codefin. Tempat Barcode berada. Sebuah pusat kuliner kalangan masyarakat menengah ke atas, ada di Kemang-Jakarta Selatan. Saia belum pernah ke sana. Jadi deskripsi tempatnya beda, mungkin? Yang pernah kesana, kasih tau ya. Yang mau kesana, ajak-ajak ya.
- Segno : Sign / tanda.
- Finisca of capitolo Due : End of chapter two / akhir dari bagian dua.
- Stare Continuare : To be continued / bersambung.
Kata-kata di atas berasal dari bahasa Italia, acak-acakan karena saia cuma mengandalkan kamus dari hape. ==a
Yah, di sini belum ada bunuh-bunuhan tapi malah muncul scene humor yang entah kenapa malah saia munculin. Maafkan saia, jangan santet saia ya. Nanti banyak cerita saia yang endingnya nge-gantung. XO
Maafkan saia kalau ada typo, saia memang tidak sempurna. Nilai ulangan bahasa Inggris aja cuma 98. *apa hubungannya?*
Rated-nya belum saia ganti kan? Jadi tenang sajalah.
Neji disini sebagai kepala polisi. Nama 'Markas Besar Kepolisian Konoha' saia ambil dari Mabes Polri. Kagak ada ide buat nama tempatnya. Terus, Sasuke juga jadi Psikolog! Banyak ga ya pasiennya, entahlah, hanya Komnas HAM yang tau. *?*
**) –resaya– : Engga lho. Cuma terinspirasi dari kasus itu. Cuma ga ada bagian s***minya. Ah, adegan bunuh-bunuhannya chapter depan. Jangan jadi psikopat beneran lho... Mutilasi? Lihat saja nanti...
Nah, mind to RnR, per favore?
