Psycopath

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Vaparte.

Rated : M (for this chapter)

Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, killing-scene.

Genre : Crime / Suspense

Kira nik : Try / Strel (Shot)

***

ENJOY

***

Kiba menoleh ke belakang, ia bersikap paranoid. Mencemaskan sesuatu hal yang bahkan entah apa dan di ragukan keberadaanya. Ia menoleh lagi ke kiri kanannya, tidak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan, sejauh mata memandang dan sejauh pikirannya menerawang.

Sebuah langkah halus, hampir tak terdengar karena di telan bunyi jalanan; orang berbicara, suara klakson mobil atau motor, suara gemerisik dari semak-semak dan suara lainnya.

Sebuah langkah halus, karena Kiba tak mendengarnya, bagaimana bisa mendengar langkah lain kalau langkah kaki sendiri saja tak terdengar?

Sebuah sinar merah berkilat dari belakang tubuh anak itu. Cahaya lampu terpantulkan oleh benda itu. Bagaimana Kiba melihat sesuatu di belakangnya kalau sesuatu di depannya saja masih buram?

Tiba-tiba rasa khawatir dan cemas yang berlebihan –paranoid– yang sedari tadi melandanya, menghilang. Raut wajahnya kembali tenang dan berjalan santai. Sampai ia melihat sesuatu berkilat datang menuju kepalanya, dengan cepat.

Untuk menjerit saja tak bisa. Tenggorokannya di hujam sesuatu yang berkarat, tajam dan... menyakitkan. Sang pelaku, yang sedari tadi mengikuti Kiba terus menggerak-gerakkan golok berkaratnya ke kanan ke kiri, mengoyak tenggorokan Kiba. Darah segar segera mengucur begitu kulit leher Kiba terkena benda tajam berkarat itu. Bajunya kini bukan lagi berwarna biru tua, melainkan hitam kemerah-merahan.

Suara aneh muncul dari leher Kiba saat gerigi karatan golok itu menyayat kulit, daging dan saat berpapasan dengan tulang leher, suaranya makin keras.

Setengah sentimeter.

Dua sentimeter.

Tiga sentimeter.

Kakuzu –si pelaku, mencabut senjatanya yang menancap di leher Kiba. Hingga membuat leher Kiba memperlihatkan sesuatu berwarna merah pekat dan kenyal. Daging, dan tulang-tulang muda yang mulai terkontaminasi keberadaanya oleh darah. Ia tersenyum puas.

Kakuzu menyeret Kiba, menarik kerah belakang baju Kiba ke balik semak-semak sebelum setetes darah turun menuju jalan setapak taman itu. Bisa-bisa keberadaanya di ketahui karena jejak setetes darah korbannya. Ia tidak seceroboh itu sampai meninggalkan bukti.

Bukti lain bahwa ia benar-benar seorang psikopat* yang sadar atas segala perbuatannya.

Di balik semak-semak yang agak tebal, Kakuzu merobek kaos Kiba dengan paksa. Membuat luka horizontal dari leher yang terkoyak menuju pusar Kiba. Sedangkan Kiba, sedang meregang nyawa, sekarat. Lebih baik ia segera mati daripada di siksa terlebih dulu, benar bukan?

Usus di dalam perut mulai menyembul dari luka yang di buat Kakuzu. Ia menyeringai lebar melihat karya yang di buatnya. Ia menjilat darah yang ada di goloknya. Bau amis yang seperti bau ikan busuk atau bau besi karatan itu mulai menguar di sekeliling mereka.

Kakuzu kembali mengincar leher Kiba yang setengah terpotong. Menghujamnya sekali bagai memotong rumput liar. Tapi ternyata tidak kena sasaran yang tepat, melenceng dua setengah sentimeter dari tengah-tengah leher yang terbuka. Darah pekat membanjiri kedua lengannya dan beberapa mengenai wajahnya. Betapa menyenangkannya bagi seorang psikopat yang hanya menginginkan sebuah kepuasan dari membunuh.

Ia berpaling dari leher yang hancur dan hampir tak tersambung itu menuju lengan kanan Kiba yang tergolek pasrah. Ia menghujamkan golok berkaratnya lagi ke pangkal lengan di sebelah bahu. Membuat tangan kanan Kiba putus dari tubuh Kiba. Ia mengambil lengan kecil yang kurus itu, pangkal lengan yang berdarah itu mulai ia gosokkan ke wajah korbannya, membuat wajah lusuh Kiba kini di olesi cairan pekat, merah dan bau bernama darah. Mata coklat Kiba menatap kosong ke arah langit yang mendung, seperti mau hujan. Matanya tertempa cahaya lampu neon yang beberapa meter jauhnya. Tubuhnya sama sekali tidak menandakan kalau ia masih hidup. Tidak bernafas, dada dan perutnya tidak kembang-kempis untuk menghirup udara. Oh, tentu saja, kulit perutnya sudah terbagi dua.

Kakuzu menarik keluar usus dari perut Kiba, menariknya dengan paksa saat sesuatu agak menghambatnya. Saat ditarik paksa ke atas, tubuh Kiba ikut terangkat. Kakuzu memperhatikan usus yang baru ia keluarkan, ia meletakkannya di sebelah kanan kepala Kiba.

Tatapannya kembali tertuju pada leher Kiba. Masih belum terlepas dari lehernya, masih tetap mengluarkan darah dengan kapasitas yang tak bisa di bilang banyak.

Lagi-lagi ia menyeringai lalu mengangkat goloknya setinggi mungkin lalu menghujam leher Kiba berkali-kali hingga tulang belakang yang menghubungkan dengan kepala terputus. Hasilnya? Kepala Kiba sukses putus dari badannya sendiri. Terlihat di mulut dan hidungnya sisa darah yang tadi mengalir deras. Memang samar, tapi jejaknya terlihat lebih hitam dan gelap dari kulit wajahnya yang kini di tutupi oleh darah.

Darah.

Betapa senangnya Kakuzu melihat benda cair berwarna merah pekat itu. Kini pandangannya beralih ke perut Kiba yang ususnya telah berpindah tempat. Ia mencari di mana letak jantung dengan mengorek dari perut Kiba. Setelah dua kali mencoba, ia berpikir cara ini tidak efektif. Ia mulai membuat luka diagonal dari ujung bahu kiri Kiba dan menyayatnya hingga bertemu garis luka sayatan yang telah di buat sebelumnya. Dengan paksa ia melebarkan dua sisinya, memperlihatkan tonjolan-tonjolan tulang rusuk tubuh tak bernyawa itu yang masih tertempeli daging.

Untuk kesekian kalinya ia menghujamkan goloknya ke tubuh tak tak bernyawa itu untuk memotong tulang rusuk yang masih terpasang dengan sempurna. Usahanya tidak berhasil, gagal. Dua kali ia mencoba hal itu tapi yang ada hanya membuat mayat itu menghentak tanah. Akhirnya ia membuka paksa dua sisi tulang rusuk di kanan dan kiri melalui celah di antaranya. Dengan beberapa kali mencoba akhirnya Kakuzu berhasil membuat rusuk-rusuk itu berbunyi 'krek' menandakan kalau tulang-tulang itu patah.

Ia mencari-cari jantung Kiba lalu ia cabut, membuat nadi-nadi yang tertempel tercabut sehingga mengucurkan darah.

Lebih banyak darah.

Ia menatap jantung yang masih hangat itu di tangan kanannya. Kakuzu menoleh ke kanan-kiri mencari sesuatu untuk membungkus jantung itu. Sebuah kantong plastik hitam dan selembar koran. Pas sekali.

Kakuzu membungkus jantung itu dengan koran, membuat koran itu basah karena darah lalu meraih kantong plastik hitam agak berminyak (mungkin bekas gorengan) lalu memasukkan jantung berbungkus koran ke dalamnya.

Ia menoleh ke arah korban yang baru saja ia buat nyawanya melayang. Ini pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang bisa membuat batinnya puas, ia masih sadar sepenuhnya dan ia tidak gila, sama sekali tidak.

Ia mencari sesuatu lagi, sesuatu yang bisa di buat untuk menggaruk tanah. Ada sebuah batang kayu yang tipis dan di sebelahnya ada sebuah sekop. Sekop untuk menggali, masih bisa dilakukan. Akhirnya ia mengambil kedua barang itu dan mulai menggali tanah di sebelah mayat Kiba.

Menggali dan menggali.

Betapa membosankannya, pikir Kakuzu.

Sampai ia memutuskan untuk membuat lubang kecil yang seukuran untuk tubuh anak anjing. Sepuluh menit waktu yang ia butuhkan untuk membuat lubang itu. Ia mulai menggali lebih dalam.

Kakuzu beralih mengambil senjatanya setelah tangannya sibuk dengan sekop dan tanah. Ia kembali pada tubuh tak bernyawa yang baru saja ia bunuh.

Dengan satu seringaian terpampang di wajahnya, ia kembali menghujamkan goloknya untuk memotong lengan kiri Kiba. Ia memotong kaki kanan Kiba dengan satu sentakan kuat, kelima kalinya ia memotong bagian tubuh Kiba dengan menyentakkan goloknya.

Kalau semua di masukkan masih terlalu kecil lubangnya, pikirnya lalu kembali memotong-motong bagian tubuh itu.

Betis kaki kanan dan kiri ia pisahkan dari paha. Kedua bagian lengan ia bagi dua dan di potong tepat di siku.

Sempurna.

Dengan begini semua bagiannya masuk bukan? Batin Kakuzu lalu memasukkan bagian tubuh tanpa kedua kaki dan lengan juga kepala.

Lalu mengirimkan kepala Kiba ke dalam lubang kurang lebih sedalam tujuh puluh sentimeter. Bagian kaki masuk, lalu lengan.

Semua bagian sudah masuk. Ia mengambil usus yang telah cukup lama terabaikan lalu memasukkannya juga.

'Karyaku yang pertama. Sangat menyenangkan melakukan hal ini. Jantungnya akan ku abadikan...' batin Kakuzu sambil mengambil papan tipis yang tergolek di sebelah lubang lalu memasukkannya ke dalam lubang, menutupi semua yang ia lakukan.

Hanya sebuah papan tipis bisa menutupi segala perbuatan kejinya, tanpa ia sadari itu hanya bersifat sementara.

Mengubur dalam-dalam korban pertamanya. Tindakan pertama dari segala rencana yang akan ia lakukan untuk memuaskan hasratnya.

Tidak ada kata mundur, mundur berarti mati. Mundur berarti kalah. Mundur berarti nafsunya tak bisa dipuaskan. Bukan begitu?

Satu kelemahan, satu kecerobohan, satu bukti bisa membuat ia mundur.

Langit mengabulkannya dengan mengirimkan hujan. Bau amis yang tadinya berpencar menemani atmosfer sekitar tempat itu menghilang dengan lambat laun namun pasti.

Sebuah senyuman lebar yang menunjukkan kepuasan berarti segera terpasang di bibir Kakuzu. Dituntun hawa nafsu dan bagai dituntut untuk membuka gembok bernama kepuasan, ia melakukannya.

Luapan kebanggaan melambung tinggi dan mengalir deras dalam batinnya. Dengan segera, ia meninggalkan tempat itu. Tempat dimana sebuah nyawa hilang oleh kedua tangan yang keji dan pikiran yang abnormal.

***

Kantsy Tretsyaj Kiranika

***

Budzye Pratsyahvatstsa

***

(Listen to: Almost Easy – Avenged Sevenfold)

(Word Count: 1.466 words)

*) paranoid/paranoia: proses pikiran yang terganggu yang cirinya berupa kecemasan atau ketakutan yang ebrlebihan terhadap sesuatu yang terkadang tidak nyata.

*) psikopat: suatu penyakit mental, pengidapnya sadar sepenuhnya atas segala sesuatu yang ia perbuat. Sukar disembuhkan dan pengidapnya mudah berbaur dengan masyarakat.

- Try : Shot / tembakan.

- Kantsy Tretsyaj Kira nika : End of chapter three / akhir dari bagian tiga.

- Budzye Pratsyahvatstsa: To be continued / bersambung.

Tiga kata di atas berasal dari bahas Belarusia, dengan nama lain, Natalya Arlovskaya. *digampar* XD

Apa scene gore-nya kurang? Ah, saia yakin kurang!! *tanya kenapa?*

Maafkan saia kalau : killing scene-nya kurang, ada typo, kalimat tak di mengerti, saia emang awesome dan cool *lha?*.

Ah, tapi saia rasa emang pendek. Kan 100 persen isinya gore. Benar kan? *ketawa nista*

**) –hanaruppi– : Jawaban siapa yang ngintai Kiba udah ketauan kan? Hehehe... Don't cover a book by it's cover, Naruto gitu juga kan Detektif. Ketua Divisi pula. XD

Thanks to: wikipedia, google translator, semua yang me-review dan membaca!

Nah, mind to RnR, per favore?