Psycho
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Accidia.
Rated : T
Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, mafia-term.
Genre : Crime / Suspense
Hoofstuk : Vyf / Bewys (Proof)
***
ENJOY
***
Naruto berjalan cepat di koridor Markas Besar Kepolisian Konoha menuju laboratorium forensik yang berbeda bangunan dengan bangunan utama. Sepatu tenis putih yang ia pakai menapak lantai keramik putih dengan lembut–dengan kata lain tidak terlalu keras dan tidak menghentak.
Celana jeans biru dan kaos hitam serta jaket berwarna jingga-hitam melekat di tubuhnya. Terlihat sekali kalau hari ini dia tidak dalam keadaan aktif bertugas. Di tangannya terdapat sebuah map coklat yang terlihat resmi walau memang tak ada cap apapun. Matanya menatap lurus ke depan, wajahnya terlihat tegang dan tetap seperti itu sambil memegang map itu erat-erat. Mungkin ada sesuatu di dalamnya? Entahlah. Atau mungkin ada yang menunggunya untuk melakukan sesuatu pada dirinya? Mungkin.
Sebuah jalan yang menghubungkan tempat parkir bagian dalam dengan bagian depan terlihat di depan matanya. Ia buru-buru melewatinya walau tak ada mobil maupun motor atau pun sepeda lewat karena jam tangan Gucci-nya menunjukkan pukul setengah sebelas lewat lima menit, bukan waktu yang memungkinkan keadaan untuk jadi ramai. Di seberang jalan itu terlihat sebuah gedung kecil bercat putih. Di atas pintunya tertulis 'Lab. Forensik'.
Ia menendang pintu putih itu dengan kekuatan penuh. Membuat semua orang di dalamnya menoleh ke sumber suara.
"Gaara!" panggil Naruto sambil berlari menghampiri rekannya itu. Gaara menoleh lalu melempar sesuatu seperti gumpalan kertas ke arah wajah temannya.
"Pelan-pelan saja. Di sini kan banyak orang bekerja. Ada apa?" tanya Gaara sambil menghampiri Naruto yang sedang mengusap-usap mata kirinya yang baru terkena lemparan kertas.
"Kita di suruh rapat makan siang nanti, membahas kasus kali ini. Sepertinya Shikamaru menemukan sesuatu, makanya ia meminta pada Kakashi, maksudku Komisaris Jenderal untuk mengadakan rapat kedua. Tempatnya di ruang rapat satu. Sudah ya, aku ada urusan," ucap Naruto sambil berlalu. Gaara menatap pintu yang baru tertutup dengan heran.
'Kalau ada rapat kan bisa menyuruh orang lain untuk memberi tahuku. Sepertinya ini akan menjadi kasus yang tertutup. Rapatnya saja di ruang rapat satu,' pikirnya sambil melanjutkan pekerjaan yang tertunda dan menyadari ada satu lembar kertas yang sangat penting hilang. Kertas yang merupakan hasil penelitiannya.
***
"Mungkin lebih baik kalau kita ke ruang rapatnya setelah makan siang. Atasan yang satu itu kan sering terlambat lebih dari satu jam. Yang ada nanti kita tidak sempat makan siang, melewatkannya dengan menunggu di ruang rapat satu," kata Neji di balik meja kerjanya yang di sisi kanan kirinya bagai di bentengi kertas-kertas. Naruto mengangguk lalu berlalu tanpa mengucapkan apa pun.
Neji menghela nafas panjang. Ia bertanya-tanya, kenapa akhir-akhir ini banyak aksi pembunuhan? Apa orang-orang terlalu dendam pada orang yang di bunuhnya? Atau hanya mencari kesenangan di balik aksinya? Atau hanya ingin numapang nama di daftar perburuan kepolisian? Aneh sekali.
Telepon berdering. Naji mengangkat gagang telepon itu.
"Ya?"
"Neji," panggil seseorang di seberang telepon.
"Hm? Ada apa, Sasuke?" tanya Neji.
"Aku tidak bisa ikut rapat hari ini. Ada hal yang tidak bisa ku tunda. Biar Suigetsu saja yang mewakilkanku. Terima kasih," Sasuke segera menutup teleponnya.
"Tapi, kenap—putus," Neji berbicara pada nada 'tut' yang banyak, lalu ia menaruh gagang telepon itu dengan pelan. Dan lagi-lagi menghela nafas. Betapa beratnya jadi seorang Hyuuga Neji, batinnya sambil menggunakan kedua mata ungu mudanya menatap arsip, lembaran kertas dan map yang bertebaran di mejanya.
***
"Mana Naruto? Ia belum atau tidak datang?" tanya Lee sambil meminum jus entah-apa-berwarna-hijau-seperti-lumut.
"Tidak datang. Ia harus melakukan sesuatu yang tidak bisa di tunda, katanya," jawab Shikamaru sambil menulis sesuatu di atas kertas HVS kosong.
"Sasuke juga seperti itu. Apa mereka ada hubungan?" tanya Suigetsu sambil menatap Shikamaru. Yang di tatap balik menatap, keempat orang lain ikut menatap Suigetsu.
"Memang ada," jawab Gaara enteng.
"Jadi?"
"Mereka sahabat. Seperti kedua ayah mereka," jawab Neji.
Suigetsu mengerinyit heran, terlihat dari kedua alisnya yang seperti ingin di sambungkan sehingga menjadi satu alis datar, yang kemungkinannya kecil sekali.
"Ayahnya Sasuke itu, Uchiha Fugaku, capofamiglia* dari mafia klan Uchiha. Dan ayahnya Naruto, Namikaze Minato adalah consigliere* Uchiha-famiglia," ucap Shikamaru sambil kembali fokus kepada kertas yang sedang ia tulisi dengan pulpen cair.
Tapi Suigetsu tetap tak mengerti. Oke, ia tahu kalau Sasuke adalah anak dari mafia dan ia baru sadar kalau itu sebuah pelanggaran. Ia ragu kalau Sasuke akan baik-baik saja. Naruto juga. Mungkin mereka menghadapi satu masalah yang sama. Dan ia tahu persis apa itu.
***
Jam menunjukkan pukul setengah dua siang di jam dinding dalam ruangan itu. Para peserta rapat yang sebelumnya datang, kecuali Sasuke dan Naruto.
'Untung tadi kami datangnya sengaja terlambat untuk makan siang dulu. Karena Komisaris juga terlambat. Ide Neji memang selalu awesome' pikir Lee.
"Jadi, langsung saja. Ada yang kau temukan Shikamaru?" tanya Kakashi. Di atas mejanya, ada sebuah map coklat, pemberian Naruto. Isinya? Silahkan tebak.
"Ya. Korban yang sedang di periksa unit forensik kita, di ketahui bernama Ayame. Ia putri dari salah satu pengusaha restoran ramen yang cukup terkenal di kota ini–Ichiraku Ramen yang pemiliknya Teuchi. Menurut desas-desus yang aku dengar, ada sebuah kelompok mafia yang menguasai distrik pertokoan itu. Lalu, Teuchi ini juga menolak membayar pizzo* saat di tagih para anggota mafia itu. Karena ia tergabung dalam sebuah addiopizzo* yang berpusat di Oto. Kita tahu bahwa Oto dan Ame itu kota 'kelahiran' para mafia, di sana juga lahir sebuah komisi anti-mafia yang jelas-jelas menentang apa yang dilakukan dan keberadaan mafia," ucap Shikamaru sambil menatap komisaris itu dengan sungguh-sungguh.
"Jadi, kalau di kira-kira, kesimpulannya adalah; Ayame di bunuh karena ulah Teuchi–ayahnya yang tak mau membayar uang keamanan?" pernyataan yang dikeluarkan Neji membuat semuanya terdiam.
Gaara mulai dengan analisinya dalam mencoba menduga kronologinya, Shikamaru, beberapa detik setelahnya mengangguk setuju, diikuti Suigetsu dan Lee.
"Oh, jadi begitu ternyata. Aku mengerti. Kerja bagus, Shikamaru. Lalu, ada lagi yang mau dilaporkan?" tawar Kakashi.
"Ya. Aku mau menutup kasus ini dari umum. Terutama wartawan, jangan sampai kasus ini bocor ke publik. Jelas sekali kalau masyarakat tahu, para mafia akan memburu kita yang anggota kepolisian ini," kata Neji sambil melipat tangan di depan dada.
Semuanya mengangguk setuju.
"Ngomong-ngomong, mafia dan kepolisian kan berlawanan–bisa dibilang bermusuhan, tapi kenapa kita nekat melakukan hal ini? Mendobrak kegiatan para mafia? Hal ini juga berpengaruh pada Sasuke dan Naruto. Aku yakin saat ini mereka sedang di sidang karena kasus ini, kita melibatkan mereka berdua. Bisa-bisa mereka di tendang dengan tidak terhormat dari keluarga mereka sendiri yang merupakan petinggi mafia. Apalagi Sasuke," ucap Lee membuat semuanya terdiam.
"Yah, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur, kita tidak bisa menghentikan dan menutup kasus ini tiba-tiba dengan alasan tidak awesome seperti itu," kata Kakashi diikuti anggukan dari Neji dan Shikamaru.
"Bubur? Enaknya, siang-siang gini makan bubur ayam enak kali ya?" gumam Suigetsu yang membuat rapat ini tiba-tiba membahas hal yang tidak perlu dan OOT.
***
Sasuke dan Naruto berdiri mematung di sisi mobil Sasuke yang sedang menghadap sebuah bangunan berarsitektur zaman Renaissance.
Mereka meneguk ludah, berkeringat dingin, badan agak menggigil menunjukkan mereka akan segera 'over'.
"Ini saatnya, dobe," gumam Sasuke sambil menutup pintu depan sebelah kiri mobil hitam mengkilat itu dengan keras.
"Ya, kau benar sekali, teme. Kita akan mati," ucap Naruto seraya menutup pintunya dan menggigil.
"Jangan hiperbolis, dobe. Kau membuatku malu saja. Dan, kau yang akan mati karena telah membawa kita ke tempat yang salah. Ini museum! Bukan markas Uchiha! Minggir kau, biar aku saja yang menyetir, dobe," ucap Sasuke sambil berjalan ke sisi lain mobil itu dan menendang perut Naruto dengan dolyu-chagi* salah satu tendangan di olahraga bela diri Taekwondo yang cukup ia kuasai, karena ia sekarang memang sabuk merah strip dua satu, ujian lagi dan warna sabuknya akan bertransformasi menjadi hitam.
"Aouch! Teme! Sakit! Kau kan tahu aku agak buta arah! Kenapa malah menyuruhku menyetir sih!?" geram Naruto memasuki mobil Sasuke dari kiri sambil memegangi perutnya. Sasuke hanya mendengus. Ia menyesal menyuruh sahabatnya itu menyetir, mana tadi ada acara tabrak-menabrak-ditabrak. Menabrak salah satu pagar pembatas terbuat dari bambu yang berada di sisi jalan–yang bahkan ia tidak tahu apa gunanya serta ditabrak gerobak tomat dan dengan senang hati ia memakan tomat-tomat yang terbang dan nyasar ke mobilnya lewat jendela mobil.
"Kali ini, kita benar-benar akan di sidang oleh para petinggi," kata Naruto sesaat setelah mobil itu kembali meluncur di jalan raya penuh pulusi perusak alam.
Tempat tujuan: Markas utama famiglia Uchiha.
***
Einde Van Hoofstuk Vyf
***
Te Bly
***
(Listen to: DuJour Around The World – DuJour)
(Word Count: 1.778 words)
*) Capofamiglia, nama lain bosa dari suatu famiglia/klan/coscas.
*)Consigliere, atau penasehat. Dimana kedudukannya setara dengan *) Pizzo alias uang keamanan menjadi salah satu sumber penghasilan para mafia lho. Tapi ketentuannya, jangan menagih di daerah kekuasaan famiglia lain.
*) Addiopizzo, sebuah 'perkumpulan' yang menentang pizzo. Mungkib, karena saia belum liat bagian informasi tentang ini. ==
bos.
*) Dolyu-chagi, tendangan dari pinggir. Kaki yang menapak tanah di putar 180 derajat. Tendangannya bisa kena kepala atau perut lawan. Salah satu tendangan favorit saia pas latihan sama semi-sparring ya ini. X3
*) Cosa Nostra, nama lain mafia (dulunya).
- Bewys : Proof / Bukti.
- Einde Van Hoofstuk Vyf: End of chapter five / akhir dari bagian lima.
- Te Bly: To be continued / bersambung.
Tiga bahasa tersebut dari Afrika, bukan di hutannya lho. :P
Oh, iya. Di chapter kemarin ada yang cacat. Jadi saia ganti. Mungkin ga ada yang sadar tapi, waktu rapatnya itu kan ada delapan orang, satu duduk di kursi tunggal. Di bagian sisi kan ada enam kursi, berarti salah satunya berdiri kan? Nah saia ganti bagian itu. =='
Oke, mungkin chapter ini terjadi penurunan jumlah halaman. Saia lagi ga mood sama 'kepolisian' dan lebih tertarik ke mafia alias Cosa Nostra yang menurut saia awesome to the extreme.
Anyway, ada yang merasa ini mulai jadi mafia-fic? Karena mulai banyak informasi tentang mafia di sini dan beberapa chapter ke depan juga.
Trus, bahasanya juga agak ga baku karena saia lagi bosen sama bahasa terlalu baku.
Anyway, ada polling di profil saia, menanyakan masa depan fic ini. Mau ada pair ato ngga, vote ya. Demi kelangsungan hidup fic ini. *hiperbolis*
Target saia untuk review fic ini, di atas tujuh review per chapter. Jadi, mohon menyumbangkan review anda kalau mau fic ini lanjut.
Maafkan saia kalau ada typo, kurang memuaskan (dan saia juga agak kurang puas) dan karena saia mau 'mendiamkan' fic ini selama seminggu sampai tiga minggu. Dan lagi, karena nilai UTS saia yang anjlok dan turun drastis, kompie harus di amankan dari saia selama berminggu-minggu ke depan. *sigh*
**) –Cinara Hatake ga login–: Euh, ga jadi ganti. Pembunuhnya si Hidan bukan ya? Iya kali? Hehehe... Nih udah apdet.
**) –hanaruppi–: Ngga jadi, aku ganti lagi. XD Analisa anda, sayang sekali kurang tepat jadi silahkan coba lagi. Udah ku kasih clue (agak ga sadar juga awalnya kalau aku kasih clue). Nih udah apdet.
**) –dilabcd–: Ngga telat kok. Jadi disini ada 2 kasus berbeda tapi hampir berhubungan. Oke, pasti lanjut. ^^
**) –reviewr–: Err... ini udah apdet. Grazie. ^^
Nah, mind to RnR, per favore?
