Psycho
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Accidia.
Rated : T
Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, mafia-term.
Genre : Crime / Suspense
Capitulo : Cinco / Sentencia (Judgement)
ENJOY
Suara pukulan keras dari sebuah tangan melayang dan meluncur bebas ke arah sebuah wajah dan membuat si pemilik wajah terpental ke belakang. Suara debuman keras terdengar di ruangan beraksitetur Eropa lama, megah, mewah dan glamour. Tubuh yang jatuh itu menimpa karpet merah yang besar dengan lambang Uchiha terjahit rapi tanpa celah, tanpa kerusakan sedikit pun.
"Beraninya kau membahayakan keluarga kita, dasar anak durhaka!" suara berat itu menggema dalam ruangan khusus sang
Capogfamiglia, bos keluarga Uchiha. Mata hitam itu memancarkan amarah yang amat sangat pada sosok di hadapannya, anak bungsunya sendiri.
"Tapi, ayah..." suara sang anak tercekat saat ia merasakan sebuah tendangan langsung ke perutnya yang tanpa di lindungi apa pun,
"Dengan ikut mengikuti rapat para polisi keparat itu! Kenapa kau tidak bisa seperti kakakmu yang menurut itu, hah!!?! Jawab Sasuke!!" ayahnya terus menyerang Sasuke dengan tendangan maupun suara bergemuruh menyiratkan amarah. Sasuke tersentak ketika mendengar kalimat itu kembali terucap dari mulut ayahnya sendiri.
Cukup.
Sudah cukup!!
Ia bosan terus dibandingkan dengan kakaknya sendiri! Ia bosan terus menjadi bayangan yang berada di belakang sedangkan kakaknya–Itachi menjadi sosok di hadapannya, berdiri dengan angkuhnya dan menatap Sasuke seolah adiknya tak bisa melewati dirinya yang lebih tua.
Tapi, ada kalanya bayangan menjadi di hadapan kita bukan? Di saat tubuh membelakangi cahaya, sesuatu yang memandu.
Akhirnya ia menghindari sebuah tendangan yang entah ke berapa dari ayahnya. Ia menjauh beberapa langkah agar jauh dari jangkauan ayahnya.
"Ayah tidak mengerti! Ayah tidak mengerti apa yang aku mau!! Kalian... Kalian sama sekali tidak mengerti!" Sasuke menatap berang pada ayahnya lalu pada Itachi, yang baru saja berdiri di samping tahta sang capofamiglia. Itachi tak memasang ekspresi apapun. Walau Sasuke yakin, kakaknya itu merasa puas atas apa yang telah diperbuat ayah mereka padanya.
Sungguh, ia tak tahu kalau kakaknya menahan dirinya untuk tidak melindungi Sasuke.
Sementara di ruangan lain, tempat sang consigliere, penasehat Uchiha berada. Keadaan jauh lebih menyesakkan dan tidak mengenakkan, walau tak ada kontak fisik seperti apa yang dilakukan Uchiha Fugaku pada anaknya, hanya atmosfer yang sangat menyesakkan.
Namikaze Minato, menatap anak satu-satunya yang sedang duduk di hadapannya dengan pandangan putus asa.
"Kali ini apa yang harus ku perbuat padamu, Naruto?" tanya sang ayah sambil menyangga kepalanya dengan memegang dahinya yang sudah berdenyut menyakiti kepalanya.
"Maafkan aku, ayah. Aku tidak tahu kalau..."
"Kalau apa? Kalau kau secara tidak sadar melanggar peraturan yang sudah ada sejak ayah dari kakekmu lahir? Kalau kau dipaksa oleh Shikamaru?" Minato memotong perkataan Naruto.
Naruto terdiam menunduk. Dalam hatinya ia menyetujui apa yang bermaksud ayahnya katakan. Semua memang salahnya. Karena ia mengikuti rapat kepolisian. Tapi, itu bukan kesalahan yang harus ditanggung sendirian olehnya.
Karena sesuatu, akhirnya ia nekat mengikuti rapat kepolisian yang tertutup itu.
"Kemarin kau bilang mau jadi detektif di kepolisian, aku menuruti katamu dan memintamu memakai marga ibumu..." Ia menoleh pada istrinya yang baru masuk dengan wajah cemas.
"Dan hampir semua orang yang penting di kepolisian, khusunya yang orang-orang di rapat itu mengetahui bahwa kau anakku, anak kandungku, aku yang penasehat Uchiha. Lalu, apa yang harus ku perbuat lagi, Naruto? Beritahu aku..." Minato mendesah putus asa untuk kesekian kalinya. Kushina berada di sebelah kursinya, menepuk pundak suaminya perlahan, memijatnya, mencoba menenangkannya.
"Tapi, ayah... dengarkan dulu alasanku nekat mengikuti kasus itu dan terlibat di dalamnya..." Naruto mencoba membujuk ayahnya sambil mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lutut.
Minato menoleh lalu mengibaskan tangannya.
"Jelaskan."
Sasuke membanting pintu ruangan capofamiglia itu dengan keras. Meninggalkan Mikoto yang menangis dalam pelukan anak sulungnya yang tak berekspresi apapun. Fugaku menatap pintu yang baru saja tertutup dengan keras itu dengan geram.
Amarah dan kesedihan melebur menjadi satu.
Apakah ia gagal sebagai ayah untuk anak bungsunya?
Salahkah ia kalau menghukum anaknya sendiri karena melanggar peraturan?
Salahkah?
Yang salah dirinya atau peraturan
Sementara pikiran Fugaku melayang entah kemana, Itachi hanya menatap kedua orang tua mereka bergantian. Tatapan bersalah di pancarkan oleh kedua matanya. Ia memeluk ibunya lebih erat.
'Maafkan aku, ayah, ibu... Sasuke...'
"Kali ini, apa ayah setuju dengan keputusanku?" tanya Naruto sambil meminum teh-nya dengan santai.
Setelah penjelasan panjang dari Naruto, mereka berdua lebih tenang, ditambah dengan keberadaan Kushina.
"Ya, asal kau tidak membahayakan nyawamu, ayahmu pasti menyetujuinya," ucap Kushina, memutuskan secara sepihak, di barengi dengan tatapan dari Minato.
"Aku kan sering membahayakan nyawa, ibu. Aku kan seorang mafia..." ucap Naruto dengan nada bangga, ayahnya mendesah maklum.
"Ya, ya. Aku setuju saja asal kau menyelesaikan kasus ini. Karena kasus ini berhubungan dengan masa depan keluarga besar ini. Tapi, lebih baik kau meminta pendapatnya saja, Naruto. Dia ada di ruangannya, mungkin kalau ku beruntung kau akan menemukannya di atas sofa sedang mengetik sesuatu," kata Minato sambil mengayunkan tangan kirinya pertanda agar Naruto pergi. Naruto mendengus lalu pergi juga akhirnya.
Sementara itu di sebuah kantor Shikamaru...
"Ini, daftar anggota Akatsuki Yang baru saya temukan baru tiga orang," Shino memberikan beberapa lembar kertas print pada Shikamaru yang sedang menatap laptop-nya.
"Taruh saja, nanti aku baca. Dan aku ingin tahu jadwalku selama seminggu ke depan, Shino," Shikamaru tetap tidak mengalihkan pandangannya dari layar LCD di hadapannya.
Beberapa foto dari beberapa orang yang mungkin di ambil diam-diam. Semuanya memakai jas hitam dengan kemeja hitam, yang pokoknya semuanya terlihat hitam dari luar. Entah warna apa yang ada di dalamnya. (Mengerti maksudnya?)
"Tunggu, tiga orang?" tanya Shikamaru menoleh pada Shino yang membetulkan letak kacamata hitamnya.
"Ya. Hanya itu yang baru saya dapat. Ini jadwal anda seminggu ke depan. Hari ini ada kasus baru, berbeda dari sebelumnya. Yang ini berasal dari Jiraiya, penulis yang terkenal itu. Katanya, ia ingin mendapat hak kepemilikan rumah di Ame, yang sekarang di miliki oleh Senju Tsunade, mantan istrinya. Lalu, tadi saudara anda menelepon, katanya ia ingin anda menjadi wadah curhatannya," Shino mengatakan sambil memberikan note kecil pada Shikamaru.
"Dasar, dia itu... Terima kasih, Shino."
Final Del Capitulo Seis
A Seguir
(Listen to: Europe Skies – Alexander Rybak)
(Word Count: 1.172 words)
- Sentencia : Judgement / Penghukuman.
- Final Del Capitulo Seis: End of chapter six / akhir dari bagian enam.
- A Seguir : To be continued / bersambung.
Spanyol language for this chapter. =)
Okay, let's see. Tampar saya karena mulai tergila-gila dengan mafia dan Eurovision. -___-
Saya tau kalo ini malah dikira mafia-fic. Tapi, tidak, saya masih konstan ini jadi crime-fic. *?*
Pokoknya bukan sepenuhnya mafia-fic walau emang ada istilahnya.
Saya tau apdet-nya lama, karena tugas semester dan PR meng-invade saya secara besar-besaran. Mana tugas cerita naratif bahasa Inggris saya dapet 63! Bahkan temen saya yang ceritanya 'pasaran' aja 90. Ternyata guru itu meremehkan kemampuan saya membuat cerita. DX
Oke, kenapa jadi curhat gini? -__-
Chapter berikutnya, makin banyak informasi siapa di balik kasus ini. Clue: satu organisasi. Ya, Akatsuki. Ga punya ide siapa lagi. Masalahnya, apa yang mereka perbuat? Mereka itu bukan mafia or kind of that, hanya sebuah organisasi.
Sesuai target saya, chapter ini mendapat minimal 7 review. ^^
Nah, mind to give reviews? Per favore?
