Psycho

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Accidia.

Rated : T

Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, Gun-terms.

Genre : Crime / Suspense / Humor

Vaihe : Seitsemän / Kohtaaminen (Meeting)

-x-x-x-

ENJOY

-x-x-x-

Shikamaru berjalan cepat-cepat menuju tempat parkiran tempat mobilnya berada. Di tangan kirinya terdapat map yang kertas-kertasnya menyembul beberapa, ia terlalu malas merapikannya. Di tangan kanannya terdapat sebuah kertas berisi informasi yang sepertinya penting. Ia tahu kalau ini sudah malam. Ia menarik tangan kirinya ke depan dada dan menundukkan kepala untuk melihat jam. Jam tangan berwarna hitam metalik dengan ujung jarum detik, menit dan jam berwarna emas terang, menunjukkan waktu sebelas lebih tiga puluh tujuh menit. Ia berdecak.

Kenapa ia tidak menginap saja di kantornya? Lembur? Dan kenapa pekerjaannya jadi melenceng dari pengacara ke detektif yang tergabung dalam tim yang di buat Neji? Kenapa tadi Naruto memintanya segera pulang dan ia sangat tahu alasannya, ia ingin curhat, tapi kenapa ia tidak ke kantornya saja? Merepotkan.

Shikamaru menyempilkan selembar kertas yang ia baca tadi di antara kedua bibirnya dan mengambil kunci mobil dari saku kanannya. Menekan tombol pembuka kunci otomatis. Suara 'pip' dua kali dengan cepat segera berbunyi dari mobil sedan hitam Ferrarri-nya. Ia membuka pintu kanan bagian depan lalu nyaris melempar map merah yang ia pegang tadi ke kursi penumpang di sebelahnya. Ia duduk di jok lalu memasukkan kunci sebelum ia men-starter mobilnya ia segera terkejut karena bayangan menghalangi pengelihatannya dari sebelah kanannya.

"Keluar atau kami paksa," ucap salah seorang diantara mereka yang berambut abu-abu yang poninya menutupi sebelah matanya. Shikamaru memicingkan matanya, waspada.

"Cepat keluar kau, brengsek!" hardik seseorang dengan suara seorang wanita. Shikamaru memutuskan keluar karena dua orang dari empat orang yang menghadangnya menggenggam Desert Eagle* dan HK USP 40SW*.

"Angkat tanganmu dan berbalik menghadap mobilmu," perintah wanita berambut merah panjang tadi.

"Kau terlalu berisik, Tayuya," sindir lelaki paling besar diantara mereka yang bernama Jirobo.

"Diam kau, gendut," balas Tayuya. Sebelum perang mulut yang biasanya terjadi, seseorang yang matanya tertutup tadi, Sakon. Ia memegang Desert Eagle di tangan kirinya sementara tangan kanannya teracung ke atas.

Beberapa detik kemudian, sebuah mobil van hitam meluncur mulus di parkiran menuju tempat mereka berlima berada. Jirobo langsung mengunci kedua tangan Shikamaru, dan Ukon –kembaran Sakon– memukul daerah tengkuk Shikamaru dengan keras memakai HK USP 40SW-nya. Dan penglihatan Shikamaru akan sekitarnya segera menggelap diiringi lenguhan kecil keluar dari mulutnya. Seseorang yang membawa mobil van hitam itu–Kidomaru– langsung membawa ban mobil itu mencium aspal.

-x-x-x-

"Aaaargh!" sebuah teriakan teredam dalam bantal putih yang ia pakai menutupi wajahnya.

Naruto terengah-engah setelah menjauhkan bantal yang ia ambil dari kamarnya. Buliran keringat turun dari pelipisnya membuat poni depannya menempel lengket. Ia melempar bantal empuk itu ke ujung sofa lain yang ia tempati sekarang. Celana pendek army dan kaos hitam menempel di tubuhnya yang berkeringat. Empat jam yang lalu ia baru pulang dari Uchiha headquarter lalu menuju dojang* terdekat untuk melampiaskan tenaga yang tertahan setelah sesi 'wawancara' dan 'diskusi' dengan ayahnya. Dua setengah jam berlalu, waktu menunjukkan tujuh malam saat ia sampai di apartemennya (baca: apartemen Shikamaru, dia cuma numpang). Dan kini jam sebelas malam lebih lima puluh lima menit. Dan lagi, kemana sepupu tercintanya?

"Ah, daripada menunggu begini, kenapa aku tidak menanyakan keberadaan Sasuke? Mungkin saja ponselnya sudah aktif. Dasar si teme itu," kata Naruto lalu menggapai ponselnya dan mencari nomor kontak bernama 'Teme'. Nama yang singkat, padat, jelas. Lalu meneleponnya. Berharap saja kalau nada tunggu yang biasanya 'tut' berubah menjadi lagu aneh baru yang menandai munculnya genre baru dalam belantika musik dunia. Karena Naruto punya sense of music yang tinggi, setidaknya menurut dirinya sendiri. Lihat saja di urutan playlist musik I-pod atau ponselnya takkan jauh dari genre alternative, screammo atau poprock. Oke, OOT.

Naruto bersujud syukur di sofa karena ia tak mendengar lagu aneh saat menelepon Sasuke, hanya suara 'tut' atau karena ia buang angin? Mungkin ia hanya terlalu lebay saja.

-x-x-x-

Dua kali suara dentuman drum oleh John Keefe lalu suara Martin Johnson berkata 'Heartbreak' dan dibarengi permainan gitar Paul DiGiovanni dan Bryan Donahue di bass terdengar dari ponsel Sasuke yang di taruh di atas dashboard, bergetar-getar setiap satu setengah detik sekali. Pemiliknya mengabaikan telepon itu. Nyatanya, Sasuke sedang tidak ada di dalam mobil. Sasuke berdiri bersandar pada kap mobilnya yang menghadap pantai. Langit biru kelam berwarna indigo dan belasan bintang terang berkelip di langit tiada ambang batas itu. Suara ombak berbentur dengan karang, tebing dan saat menyapu karpet terbuat dari pasir yang tak terhitung jumlahnya menciptakan sebuah harmoni yang berduet dengan angin malam yang berhembus kencang. Jaket tipis berbahan parasit yang Sasuke pakai tak lantas mengusir rasa dingin. Tentu saja, karena di dalamnya ia hanya memakai kaos biasa dan celana jeans serta sandal jepit pembantunya. Tadi ia terlalu panas–tidak, ia tidak terbakar atau di bakar–, oke, bisa dikatakan Sasuke terlalu kalap saat pergi dari markas Uchiha. Karena terlalu malas memilih sepatu akhirnya ia memakai sandal jepit milik salah satu pembantunya yang biasa di pakai saat lari pagi. Sederhana saja, pembantu itu terlalu sayang pada sepatunya maka ia memakai sandal jepit untuk jogging.

Tiga menit berlalu dan lagu Heartbreak milik Boys Like Girls tetap mengumandang. Tinggal dua puluh empat detik lagi satu lagu habis. Heran, kenapa si penelepon keukeuh menelepon Sasuke. Nama penelpon terlihat saat layar ponsel Sasuke kedap-kedip, menunjukkan nama 'Stupid Dobe'. Si penelepon adalah Naruto.

Sasuke mendengus kesal karena waktunya menikmati alam diinterupsi oleh orang yang akan ia bunuh pertama kali lalu menghidupkannya. Kalau ia bisa, karena ia bukan Tuhan maka ia tidak bisa melakukannya dan ia menahan hasrat itu. Sedikit rasa menyesal karena ia tidak mengganti profil 'Uchiha Awesome' ke 'Shut Up'. Sungguh menyesal. Dan ia pun terbesit pikiran mengganti nada dering tadi yang tergolong cukup berisik ke yang lebih tenang, seperti Waltz In A Minor atau Symphony No.40 In G Minor. Nanti sajalah, setelah ia menekan tombol ber-ikon hijau.

"Hn."

"Teme! Kemana saja kau! Tadi berkali-kali aku meneleponmu dan mengirimkan SMS tapi tak ada balasan! Tadinya aku mau mengajakmu ke dojang terdekat untuk melampiaskan nafsu tapi nyatanya kau tak memberiku pilihan–maksudku, balasan! Kemana saja kau!"

Sasuke menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu meraba telinganya dan memasukkan jari kelingkinya ke dalam lubang teling, memastikan tak ada cairan yang keluar dari sana. Sungguh berlebihan.

"Apa kau tak bisa memberiku ketenangan, sahabatku tersayang?"

Di ujung sana, Naruto merinding saat mendengar panggilan yang dibuat Sasuke, terlebih dengan suara berat, paling rendah di tingkat tenor.

"Hmm, tidak."

"Aku bersumpah kalau aku bertemu denganmu aku akan memukulmu dengan momtong jireugi*."

"Terserahlah. Tapi, ada satu hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kau dimana? Sekarang ke apartemenku."

"Maksudmu ke apartemen Shikamaru? Tergantung hal apa yang ingin kau beritahukan padaku."

"Hm. Penting, menyangkut kasus yang kita tangani. Sepertinya—sudah kubilang datang saja kesini. Siapa tahu ada yang menyadap sambungan telepon dua arah kita."

"Ya."

Klik.

Sasuke menekan tombol ber-ikon merah untuk memutus sambungan. Sedangkan di seberang sana, Naruto mengumpat dengan nama binatang liar.

-x-x-x-

Shikamaru merasakan bagian belakang lehernya sakit sekali seperti ia baru saja di suntik di bagian itu. Walau ia belum pernah di suntik di bagian leher, ia hanya mengira-ngira saja bagaimana rasanya. Matanya hanya melihat satu warna, hitam. Sebuah kain hitam menutup matanya. Kedua tangannya di borgol di belakang kursi kayu yang kalau bergerak akan menimbulkan suara berderit. Kedua kakinya juga diikat dengan tali tambang yang jenisnya susah di gunting, hanya dengan pisau tajam dengan gesekan berkali-kali, bukan tambang untuk lomba tarik tambang, yang lebih kecil. Kedua kakinya tertempel erat dengan kaki depan kursi reyot itu, diikat dengan tali. Ia mengumpat dalam hati. 'Sialan...'

"Sepertinya kau sudah sadar..." kata sebuah suara yang menurut pengidentifikasian Shikamaru, seorang lelaki yang berada di sebelah kirinya, tiga sampai lima meter jauhnya.

"Mau apa kau?" tanya Shikamaru, menoleh ke arah kanan lalu kiri, hanya mencoba melenturkan otot kepalanya, bukan berarti dia buta arah ga bisa bedain mana kiri atau kanan.

"Hoo... Salah satu dari tiga pertanyaan yang umum ditanyakan saat mereka di sekap di tempat yang gelap," kata suara tadi.

"Jawab," sebuah tuntutan keluar dari mulut Shikamaru.

"Bawah markas Akatsuki. Kau sudah berani menyelidiki kami. Sekretarismu itu, Aburame Shino. Kau tahu dia dimana? Dia menghilang satu jam sebelum kau pulang bukan? Dan kau pasti mengira ia pulang duluan," kata suara lelaki itu mulai mendekat selangkah. Shikamaru bisa mendengar langkah yang di buat sepatu yang lelaki itu pakai. Shikamaru bungkam.

"Kami menembaknya di atas tebing yang jauh dari sini, sebelumnya, ia telah menghirup chloroform telebih dahulu, membuat kesadarnnya hilang. Sebelum ia sadar, kami menembaknya tepat di dada kiri atas dengan FN Five-Seven*, bagian jantungnya," kata lelaki itu, Shikamaru masih bungkam mencoba mencerna informasi yang akan ia dapat sembari meraba kantong belakangnya. Nihil, tak ada apa pun di saku depan atau belakangnya.

"FN Five-Seven, nomor satu di daftar sepuluh pistol terbaik di dunia. Semi-otomatis pistol. Dengan berat tujuh ratus empat puluh empat gram dan panjang dua puluh koma delapan sentimeter. Di buat oleh FN Herstal di Belgium. Ia di lenyapkan karena ia mengetahui informasi tentang kami lebih dari yang informasi yang ia berikan padamu. Ia mengkhianatimu untuk dendam pribadi..." kata lelaki itu, nada di suaranya terdengar datar bagai jalan tol di malam hari senin. Tak menunjukkan emosi, hanya menunjukkan ketenangan mutlak. Seolah ia mendapatkan kemenangan absolut.

"Dan, kau pun akan berakhir seperti dia."

Hening.

Shikamaru mendengar hembusan nafasnya sendiri yang hampir tak beraturan karena kenyataan yang baru saja ia dengar. Suatu tanda tanya besar terbuat dalam pikirannya.

Dendam pribadi apa yang dimiliki Shino?

Apa hubungannya dengan Akatsuki?

-x-x-x-

Lopussa Seitsemännessä Luvussa

-x-x-x-

Voidaan Jaatka

-x-x-x-

(Listen to: Oh My Friend – Big Bang)

(Word Count: 1.843 words)

*) Desert Eagle, buatan Magnum Research. Kaliber ,44 mm – Parabellum. Isinya delapan butir/2. Harganya, kurang lebih enam belas juta. Saya langsung suka sama pistol ini, warnanya emas sama hitam sih, dan hanya bisa menggenggam tak bisa memiliki. (berlebihan)

*) HK USP 40SW, buatan Heckler&Koch. Kaliber,40–Smith&Wesson. Isi magazin, tiga belas peluru/2. Harganya, kurang lebih sebelas juta. Niatnya ga akan pake ini, tapi mau pake M&P 9-JG, tapi ga jadi ah. Warna modelnya, pink. -_-

*) Dojang, tempat latihan bela diri Taekwondo.

*) Momtong jireugi, pukulan ke perut.

*) FN Five-Seven, detail secara garis besar kan udah. Pistol jenis ini memang numero uno di daftar sepuluh pistol terbaik di Dunia. Desainnya cukup bagus, cuma bagian atas pegangannya, tempat antara telunjuk dan jempol bagian atas, agak menonjol ke belakang. Yang menurut saya, agak ga nyaman. -3-

- Kohtaaminen: Meeting / Pertemuan.

- Lopussa Seitsemännessä Luvussa: End of chapter seven / Akhir dari bagian tujuh.

- Voidaan Jaatka: To be continue / Bersambung.

Finnish language for this chapter! ^^

Saat ini saya menjadi suka action setelah nonton semua movie Terminator dan semua movie Transformers! Hoooh~ T-800~ XD

Saya masukkin band Boys Like Girls juga, they aren't mine. Heart Heart Heartbreak too. Oh iya, genre lagu fave Naruto, jangan percaya, itu mah saya. XP

Maafkan kalau ada typo. Maafkan kalau tidak memuaskan. Maafkan kalau humornya kurang terasa. Maafkan kalau update selanjutnya akan lebih lama lagi. Saya mau fokus ke UAS Kenaikan Kelas dulu. Do'akan saya biar naik kelas dan masuk jurusan Bahasa atau IPS. X)

Nah, mind to Review? Per favore?