Warning: AU. OOC. Random. Fluff *?*
"…bert? Gilbert! Hei!"
Gilbert menoleh dan melihat Antonio dan Francis berdiri di samping mejanya. Francis tersenyum sendiri sedangkan Antonio bermuka sedikit kesal. "Apaan?"
"Kau ini. Kupanggil dari tadi diam saja." Antonio berkata sambil memasang tampang cemberut.
"Dia sedang melamunkan gadis itu, Antonio." Francis mengarahkan dagunya ke arah seorang anak gadis di meja paling depan yang sedang mengobrol dengan pemuda berkacamata.
"Apa sih." Gilbert bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas diikuti Francis dan Antonio yang tergelak. Sepasang manik hijau mengikuti gerak gerik mereka hingga ketiganya menghilang dibalik pintu.
xxx
"Hei, kalian! Sepulang sekolah jangan lupa bantu bersih-bersih kelas untuk lomba kebersihan kelas ya.. Kalau tidak—"
"Iya, iya. Gilbert pasti senang membantumu, nona Lizzie." Francis berkata sambil tersenyum, Antonio masih asik dengan jus tomatnya. Gilbert menatap Francis tidak suka.
"Lempar saja mereka dengan buku kalau tidak datang." Gilbert berkata dengan nada santai.
"Kau juga akan kulempar dengan buku kalau tidak datang, bodoh." Gadis yang dipanggil Lizzie oleh Francis itu pun berbalik pergi.
"Iyaaaaaaaa, Elizaveta. Dasar nenek sihir." Gilbert menjawab dengan nada malas, tak diduga sebuah ballpoint mendarat tepat di dahi Gilbert.
xxx
Semua anggota kelas sibuk membersihkan setiap sudut kelas dengan peralatan yang mereka bawa. Setiap kolong meja dibersihkan dari sampah dan sarang laba-laba. Lantai disapu dari debu. Tong sampah di pojok ruangan juga dibuang isinya.
"Ah, sarang laba-laba diatas harus mengenakan sapu yang panjang itu. Kau tahu dimana mengambilnya Liz?" Pemuda dengan kacamata dan rambut cokelat gelap itu turun dari meja yang dinaikinya, kemudian merapikan kembali pakaiannya.
"Akan aku ambil, Rod."Elizaveta kemudian keluar dari kelas menuju ke sudut barat sekolah untuk mencari alat yang dibutuhkan. Sesampainya di tempat yang ditujunya, ia menemukan alat yang dicari serta seorang anggota kelas yang asik tertidur di bangku panjang yang terdapat disana.
"Bangun, Gilbert!" Elizaveta menarik telinga kawannya itu. Sontak Gilbert bangun dan mengaduh.
"Kau ini membangunkan orang yang sopan dong!"
"Kau itu seharusnya membantu di kelas, Gil, bukannya tidur! Bawa alat itu ke kelas."
"Iya, iya." Gilbert bangkit dan menenteng alat yang ditunjuk dengan muka kesal. Elizaveta memasang tampang yang tidak jauh berbeda. Elizaveta berjalan lebih cepat sehingga ia ada beberapa langkah di depan Gilbert. Gilbert memperhatikan Elizaveta dari belakang.
"Sejak kapan kau jadi sependek itu?" Gilbert bertanya asal, tidak menyukai suasana tanpa obrolan. Mendengar pertanyaan Gilbert, Elizaveta berbalik dan memasang tampang terganggu.
"Lupakan." Gilbert spontan berkata dan tidak berbicara lagi setelah itu.
Sesampainya di kelas, Elizaveta mengambil alat yang ada di tangan Gilbert tanpa berkata apapun. Karena Elizaveta tidak melihat Roderich, dengan segera ia mengambil kursi dan berdiri diatasnya, mencoba membersihkan jarring laba-laba di pojok ruangan.
"Aku saja, sini." Gilbert menawari bantuan dengan nada datar. Elizaveta tidak menjawab.
"Ya sudah, kalau jatuh jangan salahkan aku." Mendengar ucapan Gilbert, Elizaveta berbalik ke arah Gilbert dan kakinya bergerak selangkah, namun kakinya tidak menemukan pijakan dan Elizaveta jatuh; sampai Gilbert menangkapnya. Tangan Gilbert memegangi kedua lengan Elizaveta, wajah mereka hanya berjarak dua puluh senti. Tidak ada yang berkata apapun selama beberapa saat.
"Lepas!" Gilbert melepaskan pegangannya setelah yakin salah satu kaki Elizaveta sudah menapak tanah.
"Nih. Bersihkan yang benar!" Elizaveta memberikan alat yang dipegangnya pada Gilbert lalu pergi dan mengambil alih alat pel yang dipegang oleh Francis. Francis yang kini tidak mengerjakan apapun berjalan ke arah Gilbert.
"Bagaimana, mon ami?" Tanya Francis yang bersender pada tembok, Gilbert membelakanginya.
"Apanya yang bagaimana?" Gilbert bertanya, ada nada kesal dalam suaranya.
"Kau ini memang bodoh atau berpura-pura tidak mengerti yang aku bicarakan, sih?"
"Manapun yang kau kira memenuhi jawabanmu. Aku sedang bekerja Francis, jangan ganggu!" Gilbert kesal dan berbalik menghadap Francis.
"Wah, mukamu semerah tomat yang dimakan Antonio tadi. Kau sakit atau itu karena insiden barusan?" Francis berkata sambil tertawa kecil, Gilbert kembali pada pekerjaannya tanpa berkata apa-apa.
"Nona itu juga berwajah sama seperti kau." Francis melirik Gilbert. Tidak ada reaksi. Francis pergi dari tempatnya dan mencari Antonio.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, sebagian besar murid sudah pulang ke rumah.
"Aku dan beberapa orang lain berencana untuk mampir ke toko musik biasa setelah ini. Kau mau ikut, Liz?" Roderich bertanya pada Elizaveta yang sedang duduk di kursinya.
"Ah, aku tidak ikut hari ini. Harus mengerjakan beberapa hal di rumah." Elizaveta menjawab sambil sedikit tersenyum.
"Baiklah. Aku duluan ya." Elizaveta mengangguk sebagai respon. Kelas itu kini sudah kosong, Elizaveta masih duduk di kursinya dan melirik jam. 'Mungkin sedikit istirahat dulu saja.'
Pintu terbuka tepat saat Elizaveta memasuki dunia tidurnya. Gilbert yang baru saja mengembalikan alat menyadari Elizaveta ada di dalam kelas dan tertidur mendekat perlahan sampai ia berdiri disamping Elizaveta.
"Kalau begini kan lebih manis. Kau bisa tidak marah-marah nggak sih, nenek sihir?" Gilbert berbisik di telinga Elizaveta. Tanpa diduga, Elizaveta langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Aku bukan nenek sihir."
"E-eh? Sejak kapan kau bangun?" Tanpa menjawab apapun, Elizaveta mengambil barang-barangnya dan keluar dari kelas. Seketika itu juga Gilbert merasa kepalanya berputar.
Mind to review?
