Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Friendship, Romance
Warning : OOC, typo(s), AU, multichapter, dan yang lainnya..
Sumary : Chap. 3/ Sakura hanya meminta satu lelaki saja untuk mengisi hidupnya, tapi banyak yang datang membuka hatinya untuk Sakura. Siapakah yang akan dipilihnya? SasuSaku/SasoSaku/NejiSaku/GaaSaku/DeiSaku/Special for Shirayuki.
Which One Will I Choose?
Masa muda memang jangan dilewatkan seperti angin lewat begitu saja. Setidaknya harus ada pengalaman atau kenangan-kenangan bersama teman, sahabat, keluarga, maupun pacar. Tetapi, masa muda juga jangan digunakan sepenuhnya untuk berfoya-foya dan melakukan sesuai dengan kehendak diri sendiri. Paling tidak kita juga harus menambah wawasan dan ilmu kita untuk kelak dikemudian hari. Seimbang, begitulah kesimpulannya.
Membaca. Satu kata itu memang tidak kontras dengan mereka yang malas, tetapi sangat cocok jika dipasangkan dengan mereka yang gemar membaca. Dengan membaca, berarti kita telah menambah ilmu atau wawasan dan juga melatih otak dan mengasah logika untuk menangkap atau mencerna makna maupun inti dari sebuah bacaan.
Tak jauh-jauh dari kata membaca, seorang pemuda bersurai merah gelap memasuki sebuah toko buku. Wajah babynan imut miliknya berpadu dengan jaket berwarna hitam kusam yang lengannya digulung sampai siku dengan kaos coklat polos untuk dalamannya. Dia mengenakan bawahan berupa celana jeans biasa berwarna biru, dipunggungnya ia menggendong sebuah tas hitam dan sepatu ketsputih-hitam sebagai alas kakinya.
Pemuda tadi bernama lengkap Akasuna no Sasori. Mata hazel'nya menyapu pandang toko buku yang tidak terlalu besar yang baru dimasukinya. Saat sedang melihat-lihat, mata dari mahasiswa jurusan seni tadi menangkap objek yang menurutnya menarik. Langsung saja seringai terpasang di wajah babyface'nya.
Tetapi seringai menawannya langsung sirna begitu melihat objek yang diperhatikannya yang ternyata adalah seorang gadis itu tidak sendirian, gadis yang sedang melihat-lihat buku sejarah itu datang tak sendiri, ia bersama seorang pemuda yang Sasori tidak kenal. Mereka berdua tampak akrab di mata hazel Sasori, rahang Sasori pun mengeras tanda tak suka dengan pemandangan yang disuguhkan didepannya.
'Sabar Sasori, bisa saja 'kan kalau dia adalah saudaranya? Ya, benar! Berpikir positiflah Sasori!' batin Sasori mencoba menenangkan dirinya sekaligus berharap harapan semunya menjadi kenyataan.
Sasori pun berjalan menuju gadis yang memiliki mahkota berwarna bunga kebanggaan Jepang. Saat sudah dekat, gadis dengan nama Haruno Sakura tadi terbalak kaget melihat mantan kakak kelas yang pagi tadi ditemuinya.
"H-hai Sasori, kita bertemu la-gi. Kebetulan sekali." Sakura seakan tertular penyakit gagap kawannya Hinata saat menyapa Sasori kemudian tersenyum kaku.
"Hai juga, kau benar! Kebetulan yang menyenangkan. Kau bilang mau menjemput dan menemani kakakmu?" Sasori mengucapkannya membalas sapaan Sakura sekaligus menyindir gadis bermata sewarna batu emerald itu.
"Ya, kau benar. Aku kemari menemani kakakku. Sasori ini kakakku Naruto-nii, nii-san ini alumni SMA'ku Sasori." Sakura tidak terlalu suka dengan kata-kata Sasori tadi yang secara tidak langsung menyindirnya, tapi langsung ia kendalikan emosinya yang hampir meledak itu dikarenakan tidak ingin berdepat dengan Sasori di depan Naruto.
"Sasori, salam kenal." Kata Sasori kepada Naruto menjulurkan tangannya kepada Naruto.
"Naruto, ya, salam kenal juga." Balas Naruto seraya ikut menjulurkan tangannya dan mengaitkannya ke tangan Sasori dan mengakhiri kalimatnya dengan senyuman atau bisa dibilang cengiran ala Naruto.
"Sakura-chan, aku ke kasir mau membayar buku ini dulu, ya." Naruto langsung melesat pergi ke kasir untuk membayar buku yang akan dirinya dan Sakura beli sekaligus memberi dua sejoli perempuan dan laki-laki tadi privasi.
"Ehm, jadi apa yang kau lakukan disini?" pertanyaan Sakura memecah keheningan beberapa detik setelah perginya Naruto, karena sejak tadi keduanya hanya memerhatikan Naruto yang sedang mengantri di kasir.
"Kebetulan tadi aku lewat depan toko ini, lalu teringat dengan buku yang ingin kubeli, jadi aku masuk dan melihatmu kemudian menghampirimu, dan disinilah aku." Kalimat Sasori yang baru terucap tadi sepenuhnya adalah 100% bohong. Yang sebenarnya terjadi adalah Sasori sedang melewati jalan raya depan toko buku menaiki taxi, kemudian Sasori melihat secara sepintas Sakura karena warna rambutnya yang mencolok memasuki toko buku ini, Sasori pun langsung memberhentikan taxi yang dinaikinya dan membayar ongkos perjalanannya kemudian memasuki toko buku yang Sakura masuki. Untuk kelanjutanya reader sudah tau 'kan?
"Ohh, begitu." Sakura manggut-manggut tanda mengerti, ternyata Sakura percaya sepenuhnya begitu saja dengan pernyataan rekayasa Sasori tadi. Poor Saku.
"Kau mau pe-" perkataan Sasori tadi terpotong dengan perkataan Naruto yang sudah membayar belanjaannya di kasir tadi kemudian menghampiri Sakura dan Sasori.
"Sakura-chan, gomen ne. Aku ada pertemuan mendadak dengan band'ku lima belas menit lagi, katanya ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan. Kau pulang sendiri, ya? Ah! Bagaimana jika kau jalan-jalan bersama Sasori saja untuk menggantikan rencana kita? Kau mau 'kan, Sasori?" Naruto yang awalnya mengatakan kalimat tadi dengan lesu takut imouto'nya kecewa langsung semangat kembali setelah ide terlintas begitu saja di otaknya. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sasori, seakan mendapat lampu hijau dari Naruto selaku kakak Sakura.
Sasori pun mengangguk semangat tanda mengiyakan tawaran Naruto. Sedangkan Sakura yang pertama kaget langsung ber-positif thinking, 'Well, lagipula tidak ada buruknya, aku juga sudah lama tidak hang out bersama Sasori.'
"Hmm, baiklah jika memang begitu. Aku tak keberatan." Sakura reflek mengangkat kedua bahunya karena memang dia tidak keberatan dengan rencana baru ini. Toh dirinya juga tidak kesepian walau Naruto punya urusan mendadak.
"Hehe, baiklah! Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Sasori aku titip imouto'ku yang imut ini, ya. Jaa na.." Naruto lekas pamit dan menitipkan adiknya pada Sasori lalu langsung berlari keluar dengan satu tangan melambai ke arah Sakura dan Sasori, sedangkan tangan yang satunya lagi untuk menenteng buku yang baru saja ia dan Sakura beli.
Sasori dan Sakura berjalan bersama keluar dari toko buku. Kemudian mereka berjalan tak tentu arah.
"Jadi kau mau kemana?" tanya Sasori karena dia sendiri tak tau mau kemana. Dasar Sasori, katanya mau melepas rindu, ehh, tapi pas udah berhasil ngajak malah ngga tau mau pergi kemana. Sakura pun langsung sweatdrop mendengar pertanyaan Sasori.
"Haahh, kau ini! Mengajakku pergi tapi tak tau mau kemana." Sakura geleng-geleng kepala menatap ke arah Sasori yang di balas senyuman innocent Sasori beserta jari Sasori yang dibuat sedemikian rupa membentuk huruf 'V' tanda peace atau damai. "Bagaimana kalau kita pergi ke festival yang diadakan hari di Nyiyanda Junior High School?" tawar Sakura setelah mengingat jika ada festival di salah satu SMP ternama di Konoha.
Sasori yang awalnya tidak pernah berpikir sampai kemana-aku-akan-mengajak-Sakura langsung saja menyetujuinya daripada mereka berjalan-jalan tak jelas tak tentu arah seperti anak hilang.
.
.
Bel pulang bagaikan pahlawan di siang bolong bagi murid-murid yang mulai stres dengan pelajaran sekolah maupun mereka yang mendapatkan soal kuis dan tidak bisa menjawab. Sungguh bagaikan malaikat yang datang membawa mereka dari 'penjara' menuju kebebasan. Berlebihan memang, tapi inilah apa adanya yang ada di kepala murid-murid KHS.
Tetapi, sepertinya kesenangan dan kelegaan dari bel pulang langsung sirna hilang entah kemana dikarenakan hujan deras mengguyur Konoha. Awalnya, sih, hanya hujan rintik-rintik biasa, tapi secara serentak gerimis tadi langsung bertranformasi menjadi hujan deras disertai badai.
Murid-murid KHS pun menjadi bingung memikirkan bagaimana cara pulang. Beberapa anak orang kaya yang membawa mobil, sih, tenang-tenang saja, begitu juga beberapa murid yang nebeng temannya itu.
Sakura yang kebetulan tidak membawa kendaraan hanya duduk termangu di undakan yang berada di depan pintu masuk utama KHS, sesekali Sakura merapatkan jaket merah marun yang ia kenakan untuk menghambat udara dingin yang menyeruak. Tinggal beberapa murid saja yang masih bertahan di sekolah, kebanyak nekat berlari menerobos hujan menuju halte bis dekat sekolah. Sedangkan Ino masih akan pulang nanti sore dikarenakan harus mengurusi klub musiknya, Ino adalah wakil dari ketua klub musik, yaitu Fuuma Sasame. Jadi mau atau tidak harus datang kalau tidak mau dicap sebagai wakil tidak becus.
Seorang pemuda blonde dengan poni yang menutupi satu matanya datang ke arah Sakura. Dia mengenakan jaket putih gading yang resletingnya ditutup sampai bagian dadanya yang menampakkan kaos biru muda, bawahannya dia memakai celana jeans berwarna hitam. Untuk alas kaki ia mengenakan sepatu kets dengan warna biru tua dan tangan kirinya memegang sebuah payung putih transparan.
"Hey, nona, kau bisa sakit jika berada dicuaca buruk seperti ini." Pemuda tadi berkata dengan nada biasa tapi tersirat kekhawatiran dikalimat tadi.
Sakura mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengajaknya berbicara dan alangkah terkejutnya dia, "Deidara-senpai! Apa yang senpai lakukan disini?" sontak mata Sakura membulat melihat siapa yang berdiri di depannya yang diketahui bernama Deidara.
"Aku? Kebetulan saja aku lewat depan sekolah, kemudian aku melihatmu duduk sendirian disini makanya aku menghampirimu." Deidara menunjuk dirinya sendiri dan menjelaskan kepada Sakura kenapa dia bisa disini kemudian mengakhiri kalimat dengan melukis senyum di wajahnya. Sakura hanya membalas Deidara dengan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kau tahu? Hujan seperti ini akan lama redanya, bagaimana jika kuantar?"
"Err.. tidak perlu senpai, nanti malah merepotkan senpai."tolak Sakura, karena mau bagaimanapun Sakura tidak ingin merepotkan orang lain.
"Ayolah cherry, daripada besok kau tidak masuk karena masuk angin lebih baik kau terima tawaranku saja, ya?" Deidara pun memasang wajah memelasnya berharap bisa meluluhkan pertahanan Sakura.
"Geez, baiklah. Tapi ini tidak merepotkan senpai, 'kan?" Sakura memilih mengiyakan saja, dia tahu kebiasaan senpai ini, mau di tolak berapa kalipun Deidara tidak akan menyerah, pasti ada saja alasan yang dibuatnya dan Sakura sendiri juga tidak keberatan diantar.
"Nah, gitu dong. Ayo!"
.
.
Sakura seharusnya tahu, menerima ajakan Deidara tadi memang bukan hal yang bagus. Lihat saja dia sekarang, Sakura dan Deidara saat ini sedang makan malam di salah satu cafe yang dekat dengan alun-alun Konoha.
Aneh bukan? Sakura yang menerima ajakan Deidara untuk mengantarnya pulang tadi siang masih bisa bersama Deidara sampai malam hari. Sejak tadi, bukannya mengantar Sakura ke home sweet home'nya Deidara malahan mengajak Sakura berkeliling Konoha sambilan jalan-jalan. Alasan Deidara sampai saat ini masih sama, yaitu 'Suasana Iwa dengan Konoha jauh berbeda, aku jadi kangen dengan Konoha, lagipula aku sudah agak lupa jalanan di sini makanya aku butuh kau untuk menemaniku, kalau aku tersesat bagaimana?'.
Perempatan pun mulai bermunculan ketika tadi Sakura mendengar alasan bodoh Deidara saat Deidara mengajaknya jalan-jalan. 'Tsk, bilang saja mau cari kesempatan untuk berdua denganku. Tidak mungkin kau melupakan jalanan kota yang sudah kau tinggali selama kurang lebih tiga tahun, kecuali jika kau amnesia.' Batin Sakura mencoba menahan amarah yang meluap-luap.
Deidara pun mengantar Sakura pulang sehabisnya mereka makan malam bersama. Tepatnya pukul tujuh lebih sedikit Sakura sampai di rumahnya. Mobil Deidara pun langsung melesat menjauhi komplek perumahan yang Sakura tinggali.
.
.
Suara riuh kelas XIIB benar-benar mengganggu kelas-kelas lain disekitarnya, tapi apa boleh buat? Mau ditegur sampai mulutmu berbusa pun kelas ini tak akan kapok-kapok. Jam kosong benar-benar membuat murid kelas ini senang, mereka jadi lepas dari jeratan soal-soal ulangan IPS sejarah yang mematikan. Berterima kasihlah pada rapat yang membuat guru pelajaran tersebut harus menunda ulangan.
"Ne, Jidat, kemarin kau kemana sampai bisa pulang malam?" siapa lagi kalau bukan gadis blonde bermata aquarime yang bertanya seperti itu pada Sakura.
"Kemarin habis jalan-jalan dengan Deidara-senpai. Huh, menyebalkan sekali." Balas Sakura mengerutkan dahi dan memanyunkan bibirnya.
"KAU HABIS APA?!" teriakan menggelegar Ino membuat murid-murid XIIB mengalihkan perhatian mereka ke arah mereka, jujur saja mereka semua terganggu dengan teriakan Ino tadi.
Sakura mengibas-ngibaskan tangannya sambil meminta maaf pada teman-temannya karena sudah mengganggu aktivitas mereka tadi, "Hehe, gomen ne, teriakan tadi abaikan saja, OK?"
"Baka! Jangan teriak-teriak Pig! Akan kuceritakan padamu."
Sakura pun mulai menceritakan kejadian kemarin pada Ino, sekarang jadilah Ino yang memanyunkan bibirnya. "Huh, coba aku jadi kamu. Pasti menyenangkan bisa kencan dengan cowok-cowok keren. Kau sudah tiga hari berturut-turut kencan dengan mereka, Jidat! Kau pakai pelet apa, sih?"
Bletak.
Alhasil kepala Ino mendapatkan bogem mentah dari Sakura karena tadi Ino ngomong sembarangan, benar-benar ceplas-ceplos mulut Ino.
Hari itu pun berlanjut dengan perdebatan antara Forehead-girl dengan Ino-pig, ehm, ralat maksudnya Sakura dengan Ino yang tentu saja hanya memperdebatkan masalah 'kencan' Sakura kemarin, kemarin, dan yang kemarinnya lagi.
Beruntung mereka, tidak ada satu pun murid yang tampak mempedulikan ocehan keduanya, jika ada, gosip tentang Sakura ini pasti akan menyebar luas dengan cepatnya di KHS mau dikalangan murid kelas satu, dua, maupun seangkatan.
TBC
Haahh.. hehe, gomen gomen. Author tidak menepati janji utuk update kilat. Memang benar author tidak sibuk minggu ini, tapi author sama sekali tidak memiliki ide. Nihil. Biasanya author dapat banyak ide jika author sedang sibuk dan kebalikannya jika lenggang.
Maklumi keanehan author, yaa...
Minna, minta doa'nya untuk UTS, ya. Semoga saja nilai-nilai author di atas KKM, karena kalau dapat nilai jelek author pasti dilarang bermain komputer dan dengan begitu author tidak bisa update next chap. *reader: ceritanya ngancem gitu?* #plakk
Author juga ngucapin special thanks untuk reader yang udah nge'review..
Special thanks juga untuk para silent reader..
Tolong kesediaan para reader untuk review'nya, ne... n_n
