Title: Decision of Love

.

.

Cast : Huang Zi Tao (namja)

Wu Yi Fan/Kris (namja)

Byun Baekhyun (Yeoja)

Kim Jongin (Namja)

Park Chanyeol (Namja)

.

.

Genre : Romance/Drama, YAOI (KRISTAO), GS untuk Baekhyun

Warning : Aneh, gaje typo(s) berhamburan laksana pasir pantai. Tao disini dibikin lebih tua dari Baekhyun. Baekhyun disini sebagai yeoja...so...if u don't like it...just don't read it...okay...!

no bash, for everything!

.

.

SUMMARY

Kehidupan Tao yang penuh perjuangan, membuatnya menjadi sosok yang tegar dan mandiri. Disaat dia memperjuangkan cintanya, cinta yang lain datang menghampiri. Akankah cinta Tao bertahan selamanya? Percayalah bahwa 'cinta' tak pernah salah mengambil keputusan.

.

.

DISCLAIMER

Semua tokoh dalam fict ini punya Tuhan YME dan orang tuanya masing-masing. Ide cerita murni milik author.

Baekhyun punyaku ^^.

.

NO COPAS

.

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

.

.

^^HAPPY READING ^^

.

.

.

Previous chapter

Ketika Tao keluar dari rumahnya, dia mendapati mobil berwarna hitam terparkir manis tak jauh dari rumahnya.

"Aneh, sudah beberapa hari ini mobil itu ada di sini. Setahuku tidak ada yang punya mobil di daerah ini." Tao membatin.

"Oppa, wae? Oppa lihat apa?" Baekkie menarik-narik lengan baju seragam Tao. Dia heran mengapa oppanya tiba-tiba berhenti.

"Aniyo jagiya. Kajja, kita berangkat."

Tao kembali mengajak Baekki berjalan, namun sesekali matanya menatap awas mobil yang di anggapnya mencurigakan itu. Tao terus memperhatikan mobil sampai dia berbelok di persimpangan jalan.

.

.

.

"Baekki..."

.

.


Decision of Love

Chapter 4


.

.

Langit terlihat semakin gelap. Jalanan mulai tampak lengang dan sepi. Dalam salah satu cafe di pinggiran jalan itu tampak seorang namja brunnete yang sedang menyesap secangkir latte hangatnya. Pandangan matanya menerawang. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari bibir tipis namja tampan itu. Cafe tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain di dalamnya selain si namja . Bahkan tulisan "close" telah bertengger dengan manis di depan pintu kaca cafe minimalis itu.

Tek

Bunyi gelas latte yang bersinggungan dengan meja terdengar . Namja tinggi itu rupanya telah menghabiskan cairan di dalam gelas tersebut yang entah sudah yang keberapakalinya untuk malam ini. Ditaruhya gelas latte yang kini telah kosong itu di atas meja.

.

.

"hhh~

.

.

Lagi-lagi helaan nafas berat terdengar dari bibir kissablenya.

"Apa yang harus kulakukan?"

.

"Haruskah aku mengatakannya pada Tao sekarang? Haruskah?"

.

Namja yang diketahui adalah Kris itu kini tampak termenung memandang langit-langit cafenya. Raut cemas dan ketakutan terpampang jelas di wajah tampannya.

.

"Tao...apa yang harus gege lakukan? Gege sangat ingin, tapi..."

.

1 bulan lagi

.

"Bisakah?"

.

.

.


TAO POV

Hari ini sedari pagi aku sudah berada di cafe Kris gege. Setelah mengantar Baekhyun, aku langsung melesat ke tempat ini. Kalian kira aku membolos? No..no..no..Hari ini sekolahku libur karena rapat Dewan Guru. Aku sangat senang, itu artinya hari ini aku bisa melihat gege lebih lama. Hehe...

Aku segera melepas mantelku dan segera memakai celemek khusus pelayan di cafe ini. ketika melewati dapur, aku sudah melihat Lay gege yang sedang sibuk menyiapkan segala alat dan bahan yang akan digunakannya untuk membuat pesanan pelanggan. Chen gege juga tampak sibuk sekali menyusun beberapa gelas di meja pantry. Aku tersenyum melihatnya.

"Tao jagi, kau tidak sekolah?" tanya Lay gege yang heran melihatku datang sepagi ini. Bola hitam pekatnya bergerak menelisikku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku terkikik geli melihatnya. Dia seperti sedang menginterogasi pencuri.

"Gege, jangan menatapku seperti itu. Sekolahku libur hari ini,Ge." Jawabku sambil membantunya membawakan setumpuk piring yang sedari tadi ada di tangannya ke dapur.

"Huuffh, kukira kau membolos. Kau sudah sarapan? Aku membuat beberapa pancake tadi, kau bisa memakannya. Aku juga membuat jus strawberry."

Semakin lama namja di depanku ini semakin mirip eomma-eomma saja. Beruntung sekali kekasihnya yang berambut merah itu.

.

"Omoo...Suho hyung beruntung sekali bisa mendapatkan perhatian penuhmu, Ge. Aku iri~..." ucapku sambil mencolek dagu Lay gege dan segera berlari ke luar dapur.

"Yya! Bocah nakal! Berani sekali kau! Awas kau ya! Aku akan membalasmuuuuuu! Seru Lay gege murka. Aku hanya membalasnya dengan ber-mehrong-ria.

.

Lay gege memang baru beberapa hari ini resmi menjadi kekasih dari Kim Joonmyeon atau yang biasa di panggil Suho oleh Kris gege. Suho adalah salah satu teman Kris gege yang beberapa hari lalu sempat mampir ke cafe dan terlibat pembicaraan yang sangat lama dengan Kris gege. Sesekali aku melihat raut wajah Kris gege tampak kebingungan.

.

.

"Ah, benar juga. Kris gege di mana ya?" Aku segera memasuki ruangan yang terletak bersebelahan dengan ruang ganti pegawai.

.

'ckleek'

.

Aku buka pintu kayu coklat itu dengan pelan. Ruangan itu sangat gelap. Aku menautkan kedua alisku.

.

"Gege..."

".."

"Gege..."

".."

Lagi-lagi tak ada jawaban. Aku segera meraba dinding di sebelah kiriku berniat menghidupkan lampu.

.

Tek

.

Belum sempat tanganku menemukannya, kini lampu ruangan itu sudah menyala dengan sesosok tubuh tinggi berada tepat di depanku membuatku sontak mundur kebelakang. Terkejut.

"Tao-er? Mengapa kau kesini? Kau tidak sekolah?" suara bass yang sangat familiar itu membuatku kembali mendekati sosok tinggi itu.

"Tao libur hari ini, Ge." Jawabku.

Kris gege berbalik dan melangkah ke sofa mungil di ruangan itu. Ruangan ini memang ruang pribadi Kris gege yang telah di sulap seperti sebuah kamar apartemen yang cukup sederhana namun lengkap.

Kris gege mendudukkan dirinya di sofa hitam itu kemudian memijit pelan pelipisnya.

"Ge, semalam gege tidak pulang?"

".."

Kris gege sama sekali tak merespon pertanyaanku hanya tubuhnya yang terduduk lemah dan tangan yang menekan kuat kepalanya...ada apa?

"Gege?"

.

Jujur aku khawatir sekarang. Tak biasanya Kris ge bersikap seperti ini. Dia adalah ribadi yang ceria dan terkesan dingin. Selama aku mengenalnya dia sama sekali tak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini pada siapapun termasuk aku. Hatiku sangat yakin, pasti ada suatu hal yang sangat mengganjal pikirannya.

Aku mendekati sofa tempat Kris ge terduduk.

.

Deg

.

Bahkan tubuh tegap itu kini tak melihatku sama sekali.

Ada apa ge? Ada apa? Biarkan Tao tau masalah gege...Tao mohon,...jangan gege pendam sendiri apapun itu...masih ada Tao disini.

Sayang, pernyataan itu hanya bisa kuucapkan dalam hatiku. Melihat wajahnya yang kalut membuat lidahku seolah bisu.

.

'Sreet'

.

Tanpa kusadari, kedua lenganku kini bergerak menarik tubuh tinggi itu kedalam pelukanku.

.

"Gege...waeyo, ge?"

Kuusap-usap punggung lebar yang biasa ku jadikan sandaran hampir setiap hari itu. Sedikit guncangan kini kurasakan.

Aku makin membenamkan kepalanya di dada sempitku. Mengusapnya perlahan dan mengecup pucuk surainya dengan sayang. Kueeratkan lenganku melingkari punggungnya.

"Tao..hiks...wo ai ni, Tao...jeongmal saranghae..."

.

Deg

.

'Mengapa gege tiba-tiba seperti ini?'

.

Tubuh itu kini mulai bergetar pelan. Tak ada isakan. Namun aku merasakan kaos yang kupakai sedikit basah di depannya.

Gege-ku menangis. Ya...menangis...

.

"Wo ye ai ni nae sarang...wo ye ai ni..."

".."

.

Lama tak ada jawaban darinya membuatku kini sangat yakin bahwa ada suatu masalah terjadi.

"Ge, ada apa ge? Tak biasanya gege seperti ini. ceritakan pada Tao. Tao mohon." Ucapku sambil menangkup kedua pipinya dan menatap intens matanya yang masih tampak berkaca-kaca.

".."

...

Kris gege tersenyum. Sebelah lengannya kini terangkat membelai pipiku dengan lembut.

"Berjanjilah, kau harus dalam keadaan baik-baik saja...harus selalu sehat. Jangan berhenti mencintai Gege, walau gege tak bisa lagi berada di dekatmu"

'Apa? Apa maksudnya? Mengapa berkata seperti itu padaku?'

.

.

"Bulan depan...gege akan melanjutkan kuliah gege di London"

.

.

'APAAAA?'

.

.

"A-apa ma-maksud Gege? Wae? Mengapa gege baru bilang sekarang?" aku merasakan kepalaku ringan, pelupukku kian menghangat, dan kupastikan bulir bening itu akan jatuh jika aku berkedip.

.

Cup

.

Kris yang tahu sebentar lagi aku akan menangis segera mengecup kedua kelopak mataku dan sedikit menjilatnya perlahan

.

"Maafkan gege, sayangku. Gege juga baru mendapatkan kabar ini kemarin. Gege juga kaget. Sedikitpun gege tak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Gege...bingung." Kris tertunduk di depanku. Keraguan memang terpancar jelas dari wajahnya.

.

"Apa yang gege pikirkan? Bukankah dari dulu gege sangat menginginkannya. Harusnya sekarang gege gembira." Kutangkup wajahnya yang sedang menunduk itu agar kembali menatapku. Wajah tampan itu kini terlihat sangat kusut. Mata yang selalu menatapku dengan binarnya kini tengah berkaca-kaca.

.

"Gege...tak ingin berpisah denganmu...hiks..." itu ucapan terakhir yang dikeluarkan bibir kissable itu sebelum mengeluarkan isakan pelannya. Aku panik. 'kenapa gege jadi seperti ini?'

.

"Tao akan baik-baik saja, ge. Gege tenang saja. Tao juga pasti akan tersiksa karena merindukan gege, tapi jangan mengorbankan cita-cita gege demi Tao. Tao justru akan sangat bahagia jika gege bisa meraih apa yang gege cita-citakan dan Tao tau. Inilah yang sangat gege harapkan dari dulu. Jadi, gege harus bisa menguatkan hati gege. Yakinlah, Tao akan baik-baik saja disini. Tao akan menunggu gege sampai gege kembali pada Tao." Aku berucap panjang lebar sambil terus mendekap dan mengelus punggung namja tampan itu.

.

"Aku selalu mencintaimu...Hiks...Zi Tao."

.

"Aku juga sanagt mencintai gege. Jadilah orang yang sukses dan bawa uang yang banyak untuk Tao." Ucapku bercanda. Kris langsung melepaskan pelukanku dan mencubit gemas hidungku.

.

"Kau ini...sempat-sempatnya bercanda saat gege-mu bersedih." Ucap Kris di sela-sela derai air matanya. Aku sangat beruntung. Karena hanya di depankulah namja ini bisa menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Jika selama ini orang beranggapan jika Kris gege adalah namja dingin, ketus, usil,dan egois maka di hadapanku dia adalah namja yang lembut, sedikit cengeng dan melankolis. Seperti sekarang, bahkan dia tak malu menangis terisak di dadaku dan memeluk erat pinggangku. Seeprti anak kecil, kadang dia menggerak-gerakkan kepalanya menyamankan posisi di dadaku dan aku hanya bisa mengelus pelan surai coklatnya itu.

.

.

.

Lama aku memeluk Kris sampai aku merasakan pelukannya dipinggangku melonggar dan bobot tubuhnya di tubuhku terasa sedikit bertambah. Kulirik wajahnya sedikit. Ternyata gege tertidur. Aku yakin, sedikitpun semalam dia tak memejamkan matanya.

Kuberitahu sesuatu, Kris dan aku sebelum ini tak pernah berpisah dalam jangka waktu lebih dari 2 hari. Itupun karena aku flu dan terpaksa harus beristirahat di rumah. Sebenarnya aku sudah memberitahunya namun ternyata ponsel Kris gege hilang jadi dia tidak tahu harus mencariku dimana dan aku juga tak memberi tahu Lay gege dan Chen hyung. Dan sukses membuat Kris mendobrak pintu apartemenku dengan brutal.

.

Ku lepaskan pelukan Kris gege kemudian kurebahkan tubuhnya di sofa itu. Aku tak kuat jika harus mengangkat tubuh tingginya agar berbaring di ranjang yang ada di pojok ruangan. Kuselimuti dan kukecup dahinya dengan sayang.

.

.

"Tidur yang nyenyak, jagiya. Wo ai ni."

Cup

.

.

Aku segera melangkah keluar dari ruangan itu dan menghampiri Lay dan Chen gege yang ternyata menatapku penuh arti.

.

.

.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Lay gege yang saat itu tengah menata meja. Siap membuka cafe.

"Gege sepertinya tidak tidur semalaman. Gege bilang dia mendapatkan beasiswa dan akan melanjutkan kuliahnya di London bulan depan." Jawabku sambil membantu Lay gege.

.

"Hhh~ sepertinya apa yang kudengar dari Suho kemarin benar." Ucap Lay gege serius.

.

"A-apa? Ge-gege sudah tau? Tentang Kris gege?" Tanyaku kaget.

"Ne. Kemarin Suho kesini karena diminta pihak Universitas Kyunghee menyampaikan kabar beasiswa Kris itu." Lay gege menatapku sejenak kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.

"Tapi itu aneh Lay, bahkan Suho sama sekali tak pernah mendengar kabar itu beredar di kampusnya. Tapi mengapa tiba-tiba saja Kris harus ke London?" Chen hyung bertanya bingung pada Lay gege.

"Entahlah Chen. Sampai sekarang Suho tak tahu. Tapi, aku merasa sedikit curiga dengan hal ini. Jika ada beasiswa besar seperti itu, Suho pasti tahu karena dia asisten Mrs Jung yang notabene Kepala Dekan di fakultas mereka. Tapi, kemarin Suho bilang Mrs Jung bahkan tidak tahu masalah ini dan hanya dapat Surat Pemberitahuan resmi di meja kerjanya sewaktu dia baru saja tiba di kantornya. Setelah diperiksa, ternyata cap dan nomor surat itu resmi, Mrs Jung akhirnya menyuruh Suho menyampaikan pada Kris perihal itu.

"Siapa yang mengirimkan surat itu?" tanya Chen antusias. Sedangkan aku hanya mengerutkan alisku.

.

"JONGSANG GROUP" jawab Lay gege dengan yakin.

.

"Apaaa?" aku menoleh kearah Chen Hyung. Dia sepertinya sangat kaget. Apa dia mengetahui sesuatu?

.

"Bu-bukankah itu sebuah perusahaan dengan berpuluh ribu mafia di dalamnya?" mata sipit Chen hyung kini melebar dengan sempurna.

"Ap-apa maksudmu Hyung?" aku sungguh tidak mengerti namun aku merasa ada sedikit firasat buruk yang akan terjadi.

.

"Molla, Chen. Yang aku tahu dari Suho hanya perusahaan itu adalah perusahaan terbesar nomor 1 di London dalam bidang otomotif dan memiliki satu cabang di Korea. AVTIC COMPANY." Lay hyung kini bergerak menuju pintu cafe dan segera membalik papan 'Close' menjadi 'Open'.

.

"Sudahlah, jangan berpikiran buruk terus. Kita harus bekerja sekarang. Kita harus yakin, Kris bisa segera meraih impiannya menjadi seorang bussiness man yang sukses. Kita harus mendukungnya, jika kalin bersikap sperti ini terus, dia akan semakin berta meninggalkan kita di sini. Terutama kau, Tao jagiya. Dukunglah Kris semampumu. Kuatkan hatinya. Yakinkan kau akan baik-baik saja di sini bersama kami yang bisa menjagamu." Lay gege berujar panjang lebar sambil memelukku dan Chen hyung. Sungguh aku sangat senang mendapatkan seorang figur 'kakak' seperti Lay. Sifatnya yang dewasa dan tegas membuatku sangat menghormati dan menyayanginya.

.

"Ne..ge/ Ne.." ucapku dan Chen Hyung bersamaan.

.

"Cha...HWAITING!" teriak Lay gege tiba-tiba sambil mengacungkan tangan kanannya yang terkepal ke atas.

.

"Ne! FIGHTING!" Aku dan Chen hyung segera mengikuti pose Lay gege dengan berteriak semangat.

.

.

TAO POV END

.

.


AUTHOR POV

.

Disalah satu bangku yanga da di taman Myeongsang High School itu, duduklah seorang yeoja cantik sambil menggerak-gerakkan kakinya yang terjuntai ke arah rerumputan dan bersenandung riang. Sekeliling yeoja mungil itu sudah tampak sepi hanya ada beberapa siswa 'sepertinya' yang kini sedang menangis karena terlambat di jemput oleh keluarga sementara sang guru tengah sibuk menghentikan tangis anak-anak itu. Beda dengan yeoja mungil ini-Baekhyun. Dia lebih memilih menunggu jemputannya-Tao dengan duduk santai di bangku taman depan sekolahnya. Suasana yang tenang di taman ini sangat di sukai Baekhyun atau yang akrab di sapa Baekki itu.

.

.

"Kau menunggu siapa?" ucap sebuah suara bass yang tiba-tiba terdengar di sebelah Baekhyun. Yeoja itu sedikit melotot dan segera bergerak menjauhi orang asing-menurutnya-itu.

"Jangan takut. Aku bukan orang jahat yang akan mencelakakanmu. Percayalah. Aku hanya...tertarik padamu." Jawab namja itu sambil menatap teduh Baekhyun.

.

"Ka-kau si-si-siapa?" ucap Baekhyun terbata. Kedua kakinya seakan lemas untuk turun dan kabur dari bangku yang cukup tinggi baginya itu.

.

"Ah...maaf, aku belum memperkenalkan diri. Aku Chanyeol, Park Chanyeol." Namja bernama Chanyeol itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Baekhyun namun yeoja itu malah semakin ketakutan.

.

"Tenanglah Baekki, aku tidak akan macam-macam padamu." Chanyeol memberanikan diri mengelus sayang pucuk kepala Baekhyun membuat yeoja itu berjengit kaget namun hatinya seakan menolak untuk menjauhi namja yang –menurutnya lagi - cukup tampan itu.

Chanyeol terkekeh melihat ekspresi terkejut Baekhyun yang sangat lucu itu. Segera di tariknya tubuh mungil itu untuk kembali duduk merapat kearahnyad an yeoja itu menurut.

.

"Kau menunggu Tao? Biasanya jam berapa di menjemputmu?" Tanya Chanyeol sambil menggenggam tangan mungil Baekhyun.

.

"Kau...kenal oppa Baekki?" tanya gadis itu sambil menatap lekat Chanyeol. Namja itu tercekat. Wajah manis di depannya membuatnya merasa sangat bersalah dan ingin menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Menumpahkan segala rasa sesak yang selama ini menghantuinya.

.

"Ani...aku tak mengenalnya. Aku hanya tau. Ini sudah hampir setengah jam kau menunggu disini. Memang jam berapa oppamu berjanji datang."

.

Chanyeol kini memberanikan diri bicara menghadap tubuh mungil Baekhyun dan mengelus pipi putih itu dengan lembut. Entah mengapa Baekhyun yang biasanya akan ketakutan jika di sentuh orang asing, kini malah tampak memejamkan matanya menikmati belaian jemari Chanyeol di pipinya.

.

"Oppa bilang jam 11 akan menjemput Baekki. Jadi dari tadi Baekki bernyanyi sambil menunggu oppa karena oppa bilang Baekki harus menyanyikan 8 lagu dan oppa akan datang di lagu terakhir." Ucap Baekki polos sambil menunjukkan delapan jarinya pada Chanyeol membuat namja tinggi itu terkekeh

"Sekarang jam berapa oppa?" tanya Baekki

.

Sejenak Chanyeol terdiam lalu segera melihat jam tangannya. "Sekarang jam 10 lewat 45 menit" jawab Chanyeol.

"Hmm...jam 10 lewat 45 artinya tangannya yang panjang di 10, tangan pendek di 45...eh? ani...tangan pendek di angka 10, tangan panjang di 45. Loh? 45 nya tidak ada." Manik hitam Baekhyun menatap lekat jam tangan pinknya dan sibuk mengangkat lengan kirinya mencari angka 45 di jam itu. "Ah, apa di tengah 4 dan 5? Uhhhh...sulit sekali...Huweeee...hiks...Channieee~"

Baekhyun tiba-tiba menangis dan membuat Chanyeol menganga panik. "Waeyo, jagiya. Mengapa menangis?" tanya Chanyeol sambil mendekap Baekhyun-refleks.

"Hiks...Baekki menghilangkan angka 45 di jam tangan Baekki...hiks...Channiee...huweee~" pernyataan polos Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh. Perlahan di melepas pelukannya dan menatap Baekhyun lembut. 'Baekki tidak mengerti rupanya' batin Chanyeol. Namja itu paham dengan penyakit yang di derita Baekhyun dan sadar akan kekurangan yeoja mungil di pelukannya.

"Baekki jangan sedih. Angka 45 nya tidak hilang kok sayang. Hanya saja Baekki belum mengerti cara memahaminya. Angka 45 itu ada di sini." Ucap Chanyeol sambil menunjuk angka 9 di jam tangan kepala tupai pink Baekki.

"Eh? Jinjayo? itukan angka 9, Channie. Mengapa 45 sembunyi di sana? Apa 45 tak punya teman? Mengapa bersembunyi di angka 9? Kenapa bukan angka 10,11 atau 12 saja, jadikan mereka sama-sama dua" tanya Baekki sambil membolak-balik jam tangannya.

"Aniyo jagiya. Tapi beitulah kenyataannya. Terkadang satu orang sanggup melindungi 2 orang yang mereka sayangi." Jawaban Chanyeol yang terkesan absurb itu membuat Baekhyun menatapnya bingung.

"Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Lagipula masih ada Tao oppa dan aku yang akan selalu ada untukmu. Jadi jangan pernah bersedih, ne. Tersenyumlah. Karena dengan senyummu itu, disini- Chanyeol menggenggam tangan kanan Baekhyun dan menekankan telapak tangan itu di dada kirinya-terasa sangat nyaman dan hangat." Chanyeol menatap hangat bola hitam Baekhyun sedangkan yeoja itu masih tampak bingung.

.

"Aku pergi dulu. Besok aku bolehkan menemuimu lagi disini?"

Baekhyun tak menjawab apapun dia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Chanyeol tersenyum dan kembali memeluk yeoja itu erat.

"Aku mencintaimu Baekki. Sangat mencintaimu."

.

Cup

.

"Saranghae."

.

Setelah mengecup sekilas bibir merah di depannya, namja tinggi itu berjalan meninggalkan Baekhyun yang kini masih melongo. Namun, semburat merah samar tercetak jelas di pipi putih yang halus itu.

.

"Channie..." lirih Baekhyun.

.

"Disini hangat..." Baekhyun tersenyum sambil memegang bibirnya yang tadi di sentuh Chanyeol. Dengan pola pikirnya yang terbatas, yeoja manis itu tak mengerti jika tadi namja yang bernama Chanyeol itu telah mencium bibirnya. Saat itu terjadi, Baekki hanya merasa bibirnya hangat dan jantungnya berdebar menyenangkan.

.

.

.

"Baekki jagiiiiiii!" tiba-tiba lamunan Baekhyun buyar saat suara yang sangat dinantinya kini terdengar di telinganya.

Baekhyun segera turun dari bangku itu dan berlari kecil kearah sosok yang kini tengah melambaikan tangannya kearah Baekhyun.

"Oppaaaa...Tao oppaaaa" teriak Baekhyun dan langsung memeluk erat Tao yang telah menjemputnya.

"Kajja kita pulang. Kris gege telah membelikan eskrim untukmu." Tao segera menggandeng tangan Baekhyun dan berjalan bersama yeoja itu perlahan meninggalkan MyeongSang High School dan seseorang yang sedari tadi mengukir senyum manis di bibirnya.

.

.

"Aku akan selalu menjagamu, Baekki. Akan kupastikan tawa itu tak akan hilang. Karena aku menyayangi kalian, dan aku...mencintaimu, Byun Baekhyun".

.

.

.

.

.

TBC


.

Mianhae untuk update yang 'sangat cepat' ini.

Tadinya sempat kepikiran untuk meng-hiatuskan FF ini cz respon yang didapat sangat jauh dari harapan.

Tapi pas aq lihat jumlah viewers n visitors entah mengapa jadinya 'agak' semangat update chappie 4 ini. jumlah mendekati 1000 namun yang 'nanggepin' hanya sedikit sekali. #mewekjejeritan

.

Mianhae jika mengecewakan. T-T

Gomawo buat seluruh reader, reviewer, follower n yg dah fav DOL. Aku sayang kalian. Thanks jg buat Silent Reader semua.

Tanpa kalian aku tak berarti #plaak

.

.

Sekian curcolan gak beud nya...

akhir kata

Saranghae...^^

.

.

Chap 5(maybe yes, maybe not)-coming soon/ slowly

.