Halo ini adalah cuap-cuap sekedarnya dari Mai Narazaki.

Aku cuma mau sedikit tertawa saja melihat para reader yang mengflame atau mengata-ngatai saya kalau ini bukan pair NaruHina. Sejak awal ini memang bukan pair NaruHina kok. Coba baca ulang chap 1, apa aku menyebutkan kalau ini FF NaruHina?

Nggak kan.

Aku mengatakan kalau ini FF SasuNaruHina dan chara yang ada di bagian bawah summary itu kan Chara yang dipakai, bukan pair. Sejak kapan kalian salah paham kalau chara yang ada di bagian cover itu pair? Itu adalah main chara yang dipakai oleh authornya.

Aku buat FF ini juga untuk meluruskan kesalahpahaman itu dan sedikit iseng ingin lihat reaksi kalian. Ternyata dugaanku benar, hampir 70 % pembaca salah paham kalau main chara adalah pair.

Lain kali kalau mau baca FF, baca dulu summary dan warningnya ya. Biar nggak asal flame ^_^

Aku bukan sombong ya. Aku cuma agak penasaran aja sama yang dikatakan temanku soal ini. Dan ternyata memang benar apa yang dikatakannya.

.

.

.

Disclaimer: Dari ribuan Author yang ada di fandom Naruto tampaknya belum ada yang berani mengambil alih Naruto dari Masashi Kishimoto

Rated: T atau M?

Pair: SasuNaruHina (ini pair?)

Wanted: segala jenis yang buruk-buruk dan jelek-jelek ada di sini.

.

.

.

Naruto POV

Sulit sekali untuk membohongi diriku sendiri. Aku mengikat gadis yang tak kucintai sementara hatiku terus terpaku pada sosok orang lain yang telah mengikat hatiku.

Aku mengutuk diriku sendiri yang hanya mampu menurut dan tak mampu melawan saat mata yang berwarna senada dengan warna mataku sendiri itu menatapku dengan tatapan berbinar sambil berkata. "Kita akan bangkit kembali, Naruto."

"Tapi Tousan, aku…"

"Naruto, ini benar-benar sempurna! Keluarga Hyuuga telah setuju menikahkan putri sulung mereka denganmu! Ini akan benar-benar mendorong kemajuan perusahaan kita dan kita akan mengalahkan keluarga Uchiha yang sombong itu!"

Aku menunduk dalam diam, 'Kenapa selalu seperti ini… memangnya kenapa jika Uchiha?' tanyaku dalam hati menyesali nasibku. "Kenapa Tousan sangat ingin mengalahkan Uchiha Corp? bukahkah dahulu Fugaku Uchiha adalah sahabat baik Tousan?"

"Itu masa lalu, Naruto. Yang perlu kau lihat adalah masa kini."

Masa lalu?

Melihat masa kini…?

Aku tersentak kaget, seketika pandanganku kembali menangkap pemandangan sebuah ruang gereja dengan seorang pastor tengah menatapkuu dengan pandangan bingung.

Aku menoleh menatap gadis bersurai indigo dengan gauh pengantin berekor panjang berwarna putih bersih dan wajah yang masih tertutup cadar tipis. Kurasakan sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya saat menungguku menjawab pertanyaan sang pastor.

"Ng… yah, tentu saja aku bersedia." Jawabku sedikit ragu.

Kudengar Pastor menanyakan hal yang sama pada Hinata dan kudengar jawaban malu-malu gadis yang sudah kuanggap seperti adik sendiri itu.

"Ak-aku ber-bersedia…"

"Sebagai bukti atas peniadaan batas di antara kalian sekarang mempelai pria diizinkan membuka kerudung mempelai wanita."

Kurasakan tanganku bergetar saat aku menyibakkan kain tipis itu, namun aku tetap berusaha menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan yang penuh kepalsuan.

'Maafkan aku Hinata, aku tahu tak sepantasnya aku melakukan hal ini padamu.' Kataku dalam hati saat kudekatkan wajahku ke wajah Hyuuga Hinata, ah, maksudku Uzumaki Hinata. 'Hinata, maafkan aku karena ini kulakukan bukan sambil membayangkan wajahmu, namun dengan wajah… Sasuke Uchiha.'

"Naruto-kun, tiga hari lagi adalah hari pernikahan Nii-san. Boleh kan jika aku kembali ke Kyoto selama tiga hari?" tanya Hinata yang sedang mencuci piring seusai acara makan malam kami.

Aku mengalihkan pandanganku pada kurva saham yang sedang kuteliti di koran hari ini. "Tentu saja, Hinata-chan. Tapi aku tidak bisa menemanimu ke sana kali ini, pekerjaanku benar-benar telah menggunung."

Hinata tersenyum lembut mendengar jawabanku. "Tak apa-apa, Naruto-kun. Aku tahu sekarang Naruto-kun sedang mencoba membangun hubungan baik dengan Uchiha Corp kan? Pasti banyak sekali masalah yang harus dihadapi oleh Naruto-kun dan Sasuke-kun saat ini." Katanya sambil mengeringkan piring yang baru selesai dicucinya dan meletakkannya di rak peralatan makan kami. "Jangan jadikan aku penghalang untuk mencapai cita-cita dan impian Naruto-kun. Aku sudah cukup bahagia menjadi istri Naruto-kun."

Hinata, kau benar-benar gadis yang baik. Tak seharusnya aku membohongimu seperti ini. "Tentu saja kau bukan penghalangku, Hinata-chan. Jadi jangan pernah lagi berfikir seperti itu, OK?" kataku sambil memeluk pinggangnya dari belakang. Mencoba memerankan sosok suami idaman yang selama ini terus kujaga di hadapan Hinata.

"I…iya, Naruto-kun…"

Walau tak kulihat ekspresi wajahnya, aku dapat melihat telinganya memerah. Dia benar-benar wanita yang sangat menggemaskan, namun bukan sebagai seorang istri. Hinata bagiku adalah seorang adik yang sangat kusayangi. "Aku titip salam untuk Tou-sama dan Hanabi-chan. Lalu katakan juga penyesalanku pada Neji dan Tenten karena tak bisa menghadiri resepsi mereka." Bisikku pelan di telinganya.

"Tentu saja, Naruto-kun. Pasti akan kusampaikan."

Hinata, maafkan aku.

Maafkan aku yang selama empat tahun terakhir ini selalu membohongimu, Hinata. Maafkan aku yang telah mengikatmu dalam ikatan sakral pernikahan sementara aku terus melanjutkan hubungan dengan Sasuke.

Benci aku Hinata, bencilah aku yang telah menduakanmu selama ini. Bencilah aku yang selalu membohongimu dengan menggunakan alasan pekerjaan sebagai dalih atas perselingkuhan yang telah kulakukan.

Bencilah aku, Hinata.

Kumohon…

Normal POV

Naruto merebahkan badanku di atas kasur sambil melempar setumpuk dokumen ke atas meja dengan gusar. "Brengsek!" gerutunya marah. "Kenapa orang-orang tua itu selalu saja membuatku semakin gila dengan dalih untuk menjatuhkan Uchiha Corp, sih?!"

"Naruto, kau terlalu banyak minum Martini di bar tadi. Seharusnya aku tahu, aku harus menghentikanmu saat kau mulai meminum gelas ke duamu." Tukas seorang pria dengan rambut darkblue dan mata berwarna sehitam batu onyx yang sedang bersandar di meja rias di kamar pasangan Uzumaki. "Aku penasaran, apa Hinata tahu tentang kebiasaanmu yang kerap mabuk ini ya." Gumamnya lirih sinambi memainkan sebotol parfum milik Hinata.

Naruto terkekeh pelan. "Aku belum mabuk, Sasuke. Lima gelas adalah hal yang telah menjadi keseharianku."

"Kemana perginya Naruto Uzumaki yang tak kuat minum itu ya?"

"Hahaha, Sasuke…Sasuke. Itu kan sudah empat tahun lalu. Lagipula sekarang aku telah berbeda." Lalu ekspresi Naruto berubah menjadi gelap. "Bagaimanapun juga aku adalah suami Hinata-chan. Dan aku punya kewajiban. Di saat aku harus melakukannya maka aku akan meminum bannyak sekali gin atau rum untuk memburamkan mataku dan membuatku melihat bayanganmu pada sosok Hinata-chan."

Sasuke meletakkan kembali parfum di tangannya dan berdiri di hadapan Naruto. "Kukatakan saja. Aku tak punya buah dada. Dan tentu saja aku tak akan pernah kau sodomi, karena dalam hubungan kita, akulah semenya."

"Aku tahu, Sasuke. Aku tahu. Namun aku juga butuh pelarian yang membuatku tak merasa bersalah saat melakukannya pada Hinata-chan."

"Kau sadis, Naruto."

Naruto bangkit dan duduk di hadapan pemuda berkulit putih itu. Dijulurkan tangan tannya untuk melingkari leher pucat Sasuke dan menariknya mendekat. "Jangan bilang kau masih menyukai Hinata-chan, Sasuke. Meskipun dia adalah istriku dan cinta pertamaku, tak akan kubiarkan dia merebutmu dariku."

"Lucu sekali Naruto, karena pada kenyataannya dialah yang sudah mengambilmu dariku." Bisiknya sebelum menangkap bibir Naruto dengan bibirnya sendiri. Setelah dua menit ciuman itu berlangsung, Sasuke segera melepaskan ciumannya. "Kurasa ada baiknya kalau aku segera mengikuti jejakmu, Naruto."

"Maksudmu?"

Sasuke berjalan menjauh dan mengangkat sebuah foto berbingkai perak yang dipajang di rak milik Naruto. "Pernikahan. Kurasa ada baiknya jika aku melepasmu dan memilih seorang wanita juga sebagai pendamping hidupku." Katanya sambil memperlihatkan foto itu pada Naruto, foto pernikahan Naruto dan Hinata. "Tampaknnya Karin bisa dipertimbangkan. Dia cukup cantik dan cerdas juga berasal dari keluarga yang…"

"TIDAK BISA!" potong Naruto marah sambil memeluk Sasuke dari belakang dan menempelkan wajahnya di punggung sang darkblue. "Sasuke itu milikku dan tak akan kubiarkan siapapun merebutnya. Entah itu Karin, Sakura atau siapapun tak akan kubiarkan mereka mendekatimu lebih dari ini." Katanya tajam.

"Kau benar-benar protektif, Naruto."

Naruto semakin mengeratkan pelukannya pada punggung Sasuke sambil bergumam pelan. "Malam ini tidurlah di sini. Hinata-chan sedang pergi ke Kyoto." Pintanya manja.

Sasuke melepaskan belitan tangan Naruto dari pinggangnya. "Tidak malam ini, Naruto. Baru sebulan yang lalu Lee memergoki aku menciummu. Akan sangat berbahaya bagi kita jika kita terus melanjutkan hubungan ini."

Pemuda bersurai pirang itu mundur dan menjatuhkan dirinya di ranjang sambil menggembungkan pipinya kesal. "Si alis tebal pasti akan menceritakannya pada Yamanaka dan Yamanaka yang memang seorang penggosip ulung dan seorang fujoshi akut pasti akan menyebarkannya kepada siapapun. Mungkin sekarang Hinata-chan sudah mendengarnya." Kata Naruto datar tanpa emosi. "Dan aku setengah berharap jika Hinata-chan akan memercayai kabar itu dan menceraikanku." Tambahnya.

"Dia tak akan melakukan itu. Dia sangat mencintaimu."

"Aku telah membohonginya selama empat tahun ini! Aku bercinta dengannya dengan membayangkan jika itu adalah kau, Sasuke!" teriak Naruto marah sambil mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Sasuke. "Aku tak mau membohonginya lebih lama lagi. Aku tak mau dia semakin menderita karena tahu jika aku telah membohonginya lebih lama."

Sasuke mendekati Naruto. "Kau sudah terlalu mabuk, Naruto. Tidurlah." Bisiknya sambil memeluk tubuh Naruto dan membaringkannya di ranjang berukuran king size milik Naruto dan Hinata. "Aku akan menemanimu hingga pagi datang."

"Sasuke… jangan tinggalkan aku…"

Naruto POV

Aku tengah duduk di ruang tamu rumahku menunggu telephone berdering tanda jika istriku sudah sampai di Tokyo dan memintaku untuk menjemputnya di bandara. Tapi aneh sekali, seharusnya Hinata sudah menelfon, apalagi sekarang sudah jam sembilan malam.

Kudengar pintu ruang tamu diketuk beberapa kali. Aku langsung bangkit berdiri dan membuka pintu itu.

"Aku pulang, Naruto-kun." Kata wanita bersurai indigo yang saat ini sudah berdiri di muka rumah sambil tersenyum kaku.

"Selamat datang, Hinata-chan." Jawabku sambil mengambil alih koper yang dibawa Hinata dan menggandengnya masuk ke dalam rumah. "Hinata-chan? Kenapa kau tak menelfon dan memintaku menjemputmu di bandara?"

Hinata terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku dengan suara serak. "Tadi aku tak langsung pulang, aku pergi dulu ke kantor catatan sipil dan…" dia membuka tas tangannya dan mengeluarkan beberapa dokumen dari dalamnya lalu menyerahkannya padaku. "…aku mengambil ini." Tambahnya.

Ragu-ragu aku menerima dokumen itu. Mataku membulat membaca tulisan di bagian depan dokumen itu.

Surat permintaan perceraian.

Aku menatap Hinata dengan tatapan tak percaya. "Kenapa kau lakukan ini, Hinata-chan? Apa salahku sebenarnya?" tanyaku dengan suara serak mencoba menyembunyikan kegirangan yang sebenarnya memenuhi hati.

"Aku melakukan ini juga demi dirimu, Naruto-kun…" bisiknya lirih sambil membingkai wajah tanku dengan tangan putih susunya. Ditatapnya manik sapphireku dalam-dalam, "Aku tak mau menjadi penghalang hubunganmu dengan Sasuke-kun. Karena… aku ingin melihat orang yang aku cintai dan sahabatku sendiri bahagia."

Aku tercekat mendengar kata-katanya.

Sejak kapan dia tahu?

Mengapa dia bisa tahu?

Apa aku harus berbohong padanya? Menyangkalnya? Dan mengatakan kalau dia salah? Tapi bukankah ini adalah kesempatan yang baik bagiku dan baginya? Ini adalah kesempatan untuku untuk tak menipunya lagi bukan?

"…Hinata-chan… kau tahu soal itu…?" tanyaku terbata.

"Iya, aku juga tahu kalau Naruto-kun menikahiku hanya karena Nii-san dan Tousanyang meminta kan?" katanya kembali membongkar salah satu rahasiaku lagi. "Terimakasih karena sudah mau bersamaku dan memberikanku kehidupan sempurna seperti yang kuimpikan." Bisiknya lirih sambil melepaskan sentuhannya pada wajahku. Ditunjuknya berkas-berkas perceraian yang masih kupegang di tanganku. "Namun sekarang… raihlah kebahagiaanmu sendiri, Naruto-kun…." Katanya dengan setetes air mata jatuh dari sudut matanya.

"Hinata-chan…"

"Aku mencintaimu, Naruto-kun." Katanya lembut. "Karena itulah aku melepaskanmu agar kau bisa bersama Sasuke-kun."

.

.

.

END

.

.

.

Awalnya FF ini akan dibuat trilogi dengan tiga sudut pandang berbeda yaitu Hinata, Naruto dan Sasuke. Jadi niatnya di cerita Love Life dengan Hinata sebagai main charanya, second charanya adalah Naruto. Sedang di Hidden Love main charanya adalah Naruto dengan second charanya Sasuke dan di cerita terakhir. Second Love main charanya adalah si Sasuke dengan second charanya Hinata.

Jadi kalau disimpulkan sebenarnya pair di sini adalah SasuNaruHina. (Seperti yang kukatakan di awal, bukan NaruHina)

Tapi karena setelah kupikir lagi, aku terlalu banyak bikin one shoot, ini akan kubuat 3 chapter saja deh ^_^

Yah, karena sebenarnya aku malas bales review #PLAK

Jadi aku akan balas review dan flamenya ya. ^_^

Guest1: terimakasih atas sarannya. Tapi setahuku aku tak memasukkan FF ini ke kategori NaruHina tapi main charanya Naruto dan Hinata ^_^

Algojo: Iya, karena ini bukan pair NaruHina

Guest2: aku nggak ngerti maksudmu. Aku memang Hina Lovers tapi aku bukan seorang NaruHina Lovers ya. Aku seorang Fujoshi dan pair favku SasuNaru. Well, kalau memang sifat Naru agak ekstrem di sini, itu mungkin karena aku ingin mencoba membuat darkNaru.

Hm: Ini bukan pair NaruHina ^_^ tapi aku ingin mencoba membuat pair NH yang bener-bener NH sih.

Guest3 atau J: Kalau jijik ngapain baca? Salah siapa kamu salah paham kalau ini FF NaruHina. Kalau pihak FFn mengizinkan pakai 3 chara pasti sudah kutulis charanya Sasuke Naruto dan Hinata. Tapi berhubung Cuma 2 dan ini kisah yang berawal dari rumah tangga Naruto dan Hinata. Lain kali kalau mau baca, baca dulu warningnya ya? Jangan asal flame ^_^

Shizu-chan: terimakasih atas opininya Shizu-san. Tapi ini bukan FF NaruHina ini FF dengan main chara Naruto dan Hinata ^_^ jadi aku tak bisa mengubah main chara di bagian depannya. Maaf.

Amanojaku Miyanoshita: aku tak bisa mengkategorikan ini sebagai flame atau apa. Jadi kukatakan sekali lagi ini bukan FF NaruHina tapi SasuNaruHina, karena aku memang tak berniat membuat pair apapun di sini.

Paris Violette: memang sengaja dibuat begitu di bagian Hinatanya karena menurutku Hinata adalah gadis yang simple dan sederhana. Namun jika membaca sampai akhir, kau akan tahu cerita yang tak bisa kau tebak ^_^

96: makasih ya.

Ayumu Hasegawa: maaf tapi aku tak akan mengubah main chara karena cerita ini akan dibuat tetap dengan Naruto dan Hinata sebagai pusat cerita. Tapi terimakasih banyak ya ^_^

OK sekian aja dariku. Ada yang mau review atau flame?

Aku terima dengan senang hati. ^_^