Bangsa Silvan tak menyukai bangsa Noldor, Tapi saat Galion dihukum untuk belajar di Imladris. Mampukah dua realm ini dapat menerima perbedaan satu sama lain. Sequel dari "Panah, Buku dan Inspirasi". Book Verse, The Hobbit event, Setelah para kurcaci kabur. Semi-AU. Galion POV.
Pelayan, Lord dan Kebijaksanaan
A LOTR fanfic AU
Disclaimer: ©J.R.R Tolkien
Genre: Friendship, Drama.
Character: Thranduil, Legolas, Galion, Erestor, Lindir,
Elrond, Glorfindel, Elladan dan Elrohir.
A/N: Melephin, Siriann, Silinde, dan Megilagor adalah OC gue karena di Mirkwood ga ada canon karakter selain Thranduil, Legolas, Galion dan Oropher. Jadi karena gue butuh karakter pendukung, mereka selalu jadi OC di setiap fanfic Mirkwood centric kalo dibutuhin. mereka juga munculnya cuma disebut doang kok. Selebihnya selamat membaca.
Chapter 2: Lord dan Pisau
Thrid Age, Year 2941.
Glorfindel masih tersenyum sambil menatap keluar jendela ruang kerja Elrond, mereka telah meinggalkan Aula Api ke ruang kerja Elrond meski pesta di sana masih berlangsung. Pandangan Glorfindel terfokus pada pohon Oak tua yang tumbuh tak jauh di depan jendela, lebih tepat lagi matanya menatap dua peri hutan yang sedang duduk di batang pohon itu.
"Peri silvan itu benar-benar menarik!"
Erestor yang mendengar ucapannya hanya mendengus.
"Kau itu seperti habis mendapat mainan baru saja."
Glorfindel mengalihkan pandangannya dari pohon ke Erestor, alisnya terangkat satu.
"Apa kau cemburu? Tenang saja kau tetap mainan favoritku kok!"
Tatapan tajam Erestor beradu dengan senyuman sok-lugu Glorfindel, Erestor makin kesal. Tapi daripada meladeni Glorfindel dan sifatnya yang suka menjailinya, Erestor mengalihkan perhatiannya pada Elrond yang sedari tadi diam.
"Legolas memberimu surat dari Rajanya, aku tahu kau sedikit terganggu."
"Ya. Isi surat itu sama seperti biasa. Dia hanya mengirim surat seperti yang ia janjikan dulu, saat ia menolak bergabung dengan White Council. Memberi kabar mengenai kegelapan yang menggangu hutannya."
"Dia masih bertahan dengan kearoganannya."
"Thranduil memiliki alasan mengenai hal itu, tapi kini sepertinya ia benar-benar khawatir."
"Khawatir? Maksudmu takut? Aku tak tahu dia masih kenal takut."
"Dia hanya peri biasa, bahkan aku pun bisa merasa takut."
"Ya, dan ketakutannya benar-benar mengalahkan sikap arogannya. Dia meminta Legolas kemari sebagai kurir dan menambahkan Silvan yang ingin belajar untuk menahannya lebih lama hanya untuk melindunginya. Tindakan cerdik, dan sangat efisien."
Elrond tersenyum mendengar komentar Glorfindel yang masih menatap keluar jendela.
"Aku senang dia masih percaya dan meminta bantuanku melindungi putranya yang akan aman di sini."
"Hal yang membuatku lupa akan sikap arogannya."
Erestor ikut berkomentar, ia menuangkan wine kemudian memberikannya pada Elrond.
"Lantas apa yang akan kau lakukan?"
Elrond menerima gelas itu dan menyisip liquid di dalamnya, pandangannya teralih pada jendela yang masih mencuri perhatian Glorfindel.
"Kami akan mengadakan rapat, Mithandir sedang berada di Lorien. Beberapa hari lagi ia akan kemari bersama yang lain."
Jeda hening setelah Elrond berbicara, Glorfindel pun berseru. Iris biru di matanya berbinar dan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Ah! Kemarilah Erestor! Sekarang aku tahu kenapa Silvan itu pergi diam-diam dari Aula Api."
Erestor meski mendengus, mengikuti ajakan Glorfindel. Ia pun mendekati Glorfindel ke jendela.
"Kau dengar itu? Nyanyian peri hutan sepertinya berbeda dengan lagu kita. Pantas saja ia tak betah berlama-lama di aula api. Meski aku sering mendengar Legolas bernyanyi, tapi jika didengar ia bernyanyi bersama Silvan lain tetap berbeda. Nyanyian mereka lebih riang!"
"Tapi itu bukan alasan untuk tak bersikap sopan. Dia bisa saja ijin dulu untuk meninggalkan Aula Api kan?"
"Well, saat Legolas pertama kali kemari dia juga bersikap sama."
"Dan itulah peri Silvan dan sikap mereka yang kasar."
"Tapi justru itu yang menarik kan?"
Erestor sekali lagi mendegus.
"Kau selalu tertarik dengan hal yang aneh! Dan apa kau tidak lupa saat mereka bersikap tidak sopan menolak kita datang ke pesta mereka, saat mereka berada di sini dan memilih tinggal berkemah di hutan dan kau ingin mendengar nyanyian mereka?"
"Oh! Ya, aku masih penasaran cara mereka menghilang tiba-tiba saat itu."
"Aku heran, apa kau tidak pernah merasa kesal?"
"Well, semakin mereka menolakku, semakin aku penasaran dan tertarik."
"Kau benar-benar hanya menganggap mereka mainanmu."
Glorfindel hanya tertawa mendengar komentar Erestor, sedang Elrond yang memperhatikan mereka berdua hanya menggelengkan kepala.
Pagi tiba di Imladris, Galion yang terbiasa bangun sangat pagi lupa bahwa ia bukan di Mirkwood. Tapi ia tetap beranjak setelah sadar bahwa ia di Imladris, ia pun bersiap dan menuju kamar Legolas. Legolas sendiri masih tidur, semalam mereka kembali ke kamar memang sudah sangat larut. Karena masih sangat pagi, Galion pun enggan membangunkan Legolas. Dia pun menuju keluar rumah dan menghirup udara pagi, pohon-pohon berbisik menyapanya. Seekor burung hinggap di jarinya saat ia merentangkan satu tangannya ke atas. Burung itu memandangnya heran, seolah ingin bertanya ia bukanlah peri dari rumah ini.
"Aku peri hutan, teman dari Legolas. Kurasa ia pernah menyapamu?"
'Legolas! Daun kecil!'
Galion terkikik mendengar panggilan Legolas dari burung itu, jika Legolas tahu ia pasti akan sangat malu. Tapi sebelum ia sempat mengobrol lebih jauh, Galion merasakan ada orang lain di belakangnya. Burung itu pun terbang dari jarinya, saat ia menoleh. Di belakangnya ada peri bersurai emas, tinggi dan gagah. Glorfindel.
"Ah! Maaf jika aku mengagetkanmu."
"Tidak, Lord Glorfindel. Aku yang meminta maaf karena berkeliaran tanpa ijin."
Glorfindel mengangkat alisnya, seukir senyuman terukir di wajahnya.
"Kau sangat sopan. Tidak seperti saat pertama bertemu ribuan tahun lalu, Galion."
Galion yang semula menunduk, menatap Glorfindel dengan kaget.
"Kau ingat?"
"Tentu saja! Kau selalu bersama Thranduil kemana pun ia pergi. Dan bagaimana aku bisa lupa pada peri yang berani melempar pisau ke arahku, meski pisau itu sempat ku tangkis."
Wajah Galion memerah, ia sendiri lupa atas kejadian itu, ia pun menunduk. Ternyata perkataannya pada Legolas saat mereka dalam perjalanan ke Imladris tentang pertemuannya dengan Glorfindel akan menarik, menjadi kenyataan. Menarik sekaligus memalukan.
"Tapi kurasa itu wajar. Perang memang selalu menekan jiwa seseorang. Sudah lama sekali aku tak melihatmu, bahkan saat Thranduil kemari kau tak berada di sampingnya. Padahal kukira kau tak pernah lepas dari sisinya."
"Aku selalu mengikutinya, dan kesetiaanku padanya tak pernah hilang. Tapi aku punya alasan mengapa aku tak berada di sisinya saat ia kemari."
Glorfindel hanya menatap Galion dalam diam, mereka tak berbicara lagi sejenak.
"Well, sekarang kau di sini dan aku bisa melihatmu lagi. Aku masih penasaran dengan keahlianmu melempar pisau. Aku tahu saat itu kau tak melakukannya sepenuh hati, dan sekarang ku rasa aku bisa melihat kemampuanmu sepenuhnya."
Tangan Galion mengusap bahu kirinya, ia masih menunduk. Glorfindel yang melihatnya sedikit heran.
"Mungkin."
Akhirnya Galion menjawab. Sejujurnya ia sedikit ragu, pensiunnya ia menjadi prajurit adalah karena ia sempat cedera ratusan tahun lalu. Tangannya sempat tak bisa ia gunakan selama setengah abad, karena penyembuhan yang lamban. Padahal peri bisa menyembuhkan luka dengan cepat, tapi racun di tangan kirinya hampir membuat tangannya diamputasi. Jika saja Master Healer di negerinya dan kekuatan Thranduil untuk menyembuhkan luka tidak membantunya sembuh. Tapi kejadian itu sudah ratusan tahun lalu, meski ia tak mau kembali menjadi prajurit ia tetap berlatih karena ia akan melindungi Thranduil seperti janjinya dulu. Toh, mungkin ia tak sehebat dahulu tapi ia masih bisa menggunakan keahliannya dengan baik dan tanpa tandingan.
"Kalau begitu, kau mau berlatih bersamaku?"
Ajak Glorfindel, Galion hanya mengangguk dan mengikutinya pergi ke arena latihan. Di sana masih sepi karena masih sangat pagi. Lapangan itu cukup luas, di pinggir lapangan ada papan-papan target untuk memanah. Ada juga tiang-tiang berbungkus serabut jerami untuk latihan menebas dengan pedang. Glorfindel mengajak Galion ke tengah lapangan, dia menghadap ke arah papan-papan target panah.
"Target itu yang akan menjadi targetmu melempar pisau. Bagaimana?"
Galion hanya mengangguk sambil memperhatikan target berjarak 10 meter dari tempatnya berdiri. Kemudian ia menatap Glorfindel langsung pada matanya yang beriris biru, ada sirat tantangan pada mata Galion.
"Aku akan menunjukanmu keahlianku melempar pisau, tapi kau harus menunjukanku kehebatanmu dalam pedang. Setuju?"
Glorfindel menyeringai, Galion pun membalasnya.
"Setuju!"
Dan Galion pun bersiap, ia mengeluarkan pisau dari ikat pinggangnya. Bersiap melemparkan pisau di depan targetnya, Glorfindel yang berdiri di sampingnya memperhatikan dengan serius. Tapi Galion tak melemparkan pisaunya, meski ia sudah berdiri dengan siap. Justru ia malah berbalik mundur lebih jauh kemudian dengan cepat melemparkan pisaunya ke arah target. Tidak hanya sampai di situ, ia berlari dan melemparkan pisau lain yang entah dari mana asalnya. Glorfindel menatapnya terkejut sekaligus kagum dengan kecepatan Galion dan caranya menyembunyikan lima pisau di balik pakaiannya.
Semua pisau itu menancap sempurna, tepat di tengah target. Glorfindel bertepuk tangan, disusul tepukan tangan lain dari pinggir lapangan. Ternyata Lord Elrond, dua putranya, Erestor, dan Legolas, yang sudah bangun, sudah berdiri menyaksikan Galion melempar pisau. Galion yang sudah kembali berdiri tenang hanya menatap mereka dalam diam. Tak ada yang pernah menontonnya latihan melempar pisau kecuali Thranduil dan Legolas. Bahkan Megilagor dan Silinde juga Siriann yang sahabatnya pun tak ia ijinkan. Dan kini para Noldor malah ia perlihatkan, Noldor yang ia bilang tak ia sukai. Legolas yang melihat Galion diam berdiri di tengah lapangan menghampirinya, ia tahu Galion tak suka ditonton.
"Kau selalu terlihat hebat tiap kali aku melihatmu melempar pisau-pisau itu!"
Galion hanya mengangguk, kemudian berjalan menuju target dan mengumpulkan pisau-pisaunya. Setelah itu menyimpannya kembali di tempat semula dibalik pakaiannya. Glorfindel menghampirinya.
"Kau memang hebat! Rasanya ribuan tahun terbayar rasa penasaranku pada lemparan pisaumu. Kecepatan lemparanmu hampir setara dengan kecepatan lesatan panah, dan dimana kau sembunyikan pisau-pisau itu? Kau tahu, kau sungguh lawan yang berbahaya."
Galion sekali lagi hanya mengangguk, Legolas menatapnya khawatir.
"Sesuai janjiku, aku kan menunjukanmu keahlian pedangku."
"Tidak perlu. Rasa penasaranmu telah terpuaskan, kurasa itu sudah cukup."
Glorfindel mengangkat alisnya satu dengan perubahan sikap Galion, tapi sebelum ia bertanya Galion sudah melangkah pergi, meninggalkan Glorfindel yang menatapnya bingung. Legolas menyusul Galion di belakangnya.
"Selamat pagi Lord Elrond, Lord Elladan, Lord Elrohir, Lord Erestor."
Ia menyapa sebentar dan kemudian melangkah menuju rumah diikuti Legolas yang khawatir. Glorfindel menghampiri teman-temannya yang berdiri bingung atas kejadian tadi. Erestor berwajah tak suka dengan sikap Galion yang tak sopan pada sahabat yang tidak mau diakuinya itu, tapi ia terkejut saat melihat senyuman di wajah Glorfindel.
"Jangan bilang kau masih tertarik pada peri Silvan itu?"
Senyum Glorfindel semakin lebar.
"Well, Dia memang menarik. Peri kedua yang menolakku memperlihatkan kemampuanku bermain pedang selain kau."
"Dan yang pertama kali melemparmu dengan pisau, kini aku tahu kenapa kau sangat tertarik padanya. Tak kusangka ia peri yang sama di perang itu."
"Dia melemparmu dengan pisau seperti tadi?"
Elladan yang ikut mendengarkan dua penasihat ayahnya itu bertanya dengan terkejut pada Glorfindel.
"Dia mempunyai alasan kenapa dia melakukannya, dan hari-hari di perang yang panjang akan membuat emosi seseorang sering tak terkontrol."
"Memangnya apa alasannya?"
Kini Elrohir yang bertanya, Glorfindel hanya tersenyum simpul. Tapi sebelum ia menjawab, Erestor duluan yang menjawab.
"Dia membela anak rajanya yang keras kepala."
"Legolas?"
Elladan mengangkat alisnya, memangnya Legolas pernah ikut perang bersama Glorfindel?
"Nah, Saat itu yang menjadi raja adalah Oropher, kakeknya Legolas, dan Thranduil lah putra Oropher. Akan kuceritakan detail-nya suatu saat, ceritanya cukup panjang dan sudah ribuan tahun lalu."
Dan kedua putra Elrond itu mengangguk paham. Erestor menatap Elrond yang sedari tadi diam.
"Kau sudah tahu sejak awal."
Elrond menatap balik Erestor, kemudian tersenyum.
"Kedatangannya mungkin akan mengubah sesuatu yang selama ini tak mungkin, itu sebabnya aku akan diam dan membiarkannya memainkan peran."
"Kadang kata-katamu sulit dimengerti, tapi itu caramu. Dan aku percaya akan kebijakan dibaliknya."
Setelah itu anggota Rumah Ramah terakhir itu pun berjalan kembali ke dalam rumah, dan bersiap untuk memulai hari.
"Galion!"
Legolas akhirnya tak tahan, saat Galion tak berbicara sepatah kata pun ketika mereka sampai di pohon yang mereka naiki semalam. Galion tak masuk ke dalam rumah, tapi ia menuju pohon yang semalam ia panjat.
"Kenapa aku mau menunjukan keahlianku?"
Galion bergumam lirih.
"Galion… keahlianmu sangat hebat, seharusnya kau bertanya kenapa kau tak mau menunjukannya pada orang lain?"
Galion menatap Legolas, tatapan sendu yang tak pernah dilihat Legolas selama beratus-ratus tahun silam.
"Kau tahu alasanku. Aku membenci keahlianku, tak sepatutnya kubanggakan dengan memamerkannya."
"Tapi keahlianmu memang hebat, dan kau tahu itu bukan salahmu."
"Aku seharusnya bisa melindunginya dengan keahlianku, Legolas. Salahku yang tak bisa melindunginya hingga membuatmu kehilangan ibumu. Sahabatku kehilangan orang yang ia cintai."
Parau suara Galion, memorinya tentang hari dimana ratu Mirkwood diserang kembali berputar. Legolas seharusnya masih mempunya ibu, seharusnya negerinya masih mempunyai ratu, jika saja keahliannya benar-benar berguna dan hebat seperti tiap kali orang-orang memujinya saat melihatnya. Melephin seharunya masih hidup dan seharusnya ia saja yang mati. Airmatanya menetes dipipinya, ia merasa bodoh dan tak berguna. Ah! Ia memang tak berguna, itu sebabnya ia dihukum kemari.
"Kau sudah melindungi nana, Galion. Bukankah Ada juga bilang begitu? Kau sudah melakukan sebisamu."
Legolas memegang tangan Galion, menggengamnya dengan jari-jarinya.
"Kau hampir kehilangan tanganmu demi melindunginya."
Ah, ya. Itu benar, ia hampir kehilangan tangannya. Kenapa saat itu Thranduil tak membiarkannya kehilangan tangannya? Seakan membaca pikiran Galion, Legolas mengalihkan pandangan Galion dari tangannya dan memaksanya melihat ke arahnya.
"Karena jika kau kehilangan tanganmu, siapa yang akan melindungi Ada? Siapa yang akan berdiri di sampingnya untuk melindunginya?"
"Megilagor akan lebih berguna dalam melindunginya."
"Tapi kau adalah sahabatnya yang paling setia dan yang telah berjanji selalu berada di sisinya dan melindunginya. Bukankah itu janjimu pada Ada, Galion?"
Dan Galion pun mulai sadar kembali. Ah ya. Dia mau kembali berlatih adalah karena untuk melindungi Thranduil dan putranya, janjinya yang tak akan pernah diingkarinya.
"Terima kasih, Legolas."
Galion pun kembali tersenyum, Legolas menyandarakan kepalanya di pundak Galion. Ia mulai menyanyikan lagu peri hutan tentang pohon-pohon di musim gugur. Galion mengelus surai emas Legolas sambil ikut bernyanyi. Legolas sudah seperti putranya, dan Legolas sendiri menganggapnya sabagai paman. Ia bersyukur Thranduil meminta Legolas menemaninya di tempat ini.
TBC
Glosarium:
Ada: dad/ayah (Sindarin)
Nana: mom/ibu (Sindarin)
Nah: no/tidak (Sindarin)
Sindar= Elves/Peri abu-abu
Silvan= Elves/Peri Hutan
Noldor= Elves/Peri yang pernah menyebrang ke barat/Negeri Aman/Negeri Valar.
White Council= Dewan Penasihat Putih (para bijak yang terdiri dari Galadriel, Saruman, Celeborn, Elrond, Gandalf/Mithandir, Radagast(not official), Cirdan)
Master Healer= Kepala Perawat.
A/N (2): Perang yang dimaksud di atas itu Last Alliance atau perang Aliansi Terakhir. Dimana Peri dan manusia berada dalam satu bendera untuk melawan Sauron si raja kegelapan kedua di akhir jaman kedua. Trus konflik Silvan/Noldor belum kerasa, niatnya gue Cuma ngasih pandangan dulu alasan kenapa mereka ga akur. Dan terakhir, terima kasih atas review dan fav serta follow juga yang sudah membaca fic MC pertama yang gue sumbang di fandom ini. (indenial, dia ga mau nyebut-nyebut fic MC di fandom lain)
