Bangsa Silvan tak menyukai bangsa Noldor, Tapi saat Galion dihukum untuk belajar di Imladris. Mampukah dua realm ini dapat menerima perbedaan satu sama lain. Sequel dari "Panah, Buku dan Inspirasi". Book Verse, The Hobbit event, Setelah para kurcaci kabur. Semi-AU. Galion POV.
Pelayan, Lord dan Kebijaksanaan
A LOTR fanfic AU
Disclaimer: ©J.R.R Tolkien
Genre: Friendship, Drama.
Character: Thranduil, Legolas, Galion, Erestor, Lindir,
Elrond, Glorfindel, Elladan dan Elrohir, Estel/Little!Aragorn.
A/N: Melephin, Siriann, Silinde, dan Megilagor adalah OC gue karena di Mirkwood ga ada canon karakter selain Thranduil, Legolas, Galion dan Oropher. Jadi karena gue butuh karakter pendukung, mereka selalu jadi OC di setiap fanfic Mirkwood centric kalo dibutuhin. trus ini dimasukin ke fandom LOTR karena isinya banyakan orang-orang dari LOTR. cerita the hobbit juga cuma selingan aja. Namanya juga semi-AU. Selebihnya selamat membaca.
Chapter 3: Pelayan dan Prajurit
Thrid Age, Year 2941.
Saat sarapan Galion yang sudah tenang, berbicara pada Glorfindel dan meminta maaf atas sikapnya. Ia tak menjelaskan alasan sikapnya, tapi ia meminta Glorfindel masih mau menunjukan keahlian pedangnya dan ia berjanji mengajarkannya melempar pisau jika Glorfindel mau. Glorfindel hanya tertawa dan menyetujuinya, Galion juga menghadap Lord Elrond untuk membolehkannya ke perpustakaan bersama Legolas. Legolas terlihat tidak senang karena harus menemani Galion, padahal ia ingin bermain bersama Elladan dan Elrohir juga anak manusia yang ternyata bernama Estel.
"Well, ayahmu menghukumku untuk belajar membaca, makanya kita di sini."
"Tapi dia memintaku hanya untuk mengirim surat dan mengawasimu, bukan mengajarimu!"
"Mengawasi, kau berarti harus menemaniku dan daripada kau hanya menemaniku, sekalian saja kau mengajarkanku."
"Tapi kau tak mungkin kabur, jadi buat apa mengawasimu. Lagi pula kau seharusnya belajar dengan Lord Erestor, dia paling ahli dalam hal seperti mengajarimu membaca."
"Lord Erestor sedang sibuk, kau tak boleh mengganggunya hanya untuk mengajari peri hutan tua membaca."
Legolas terdiam, Galion ada benarnya. Tapi ia tetap kesal, ia masih ingin bermain bersama sahabatnya. Namun akhirnya ia menyerah dan mengikuti Galion ke perpustakaan Imladris, kemudian mengajarkan Galion membaca.
Satu jam berlalu, Legolas mulai bosan mengajarkan Galion membaca. Galion mungkin bukan murid yang sulit diajari, tapi tetap saja Legolas hanya peri muda yang benci berada di ruangan berlama-lama. Ia mulai mencari cara untuk kabur, ia benar-benar sudah bosan dan ia butuh udara segar. Ah, itu benar!
"Galion, aku butuh udara segar, boleh aku keluar sebentar?"
"Sejak kecil kau sudah menggunakan alasan itu, Legolas. Dan kau tahu itu tak pernah berhasil. Tapi karena kau sudah menemaniku dan mengajarkanku, kurasa tugasmu selesai. Aku akan belajar sendiri, kau boleh pergi menemui temanmu."
Legolas tersenyum senang dan langsung berlari keluar perpustakaan sebelum Galion berubah pikiran, Galion hanya menggelengkan kepalanya. Itu sebabnya ia membenci buku, perasaannya sebenarnya sama seperti Legolas, sudah sangat bosan berada di ruangan ini. Tapi ia tidak bisa pergi, ini hukumannya lagi pula.
Satu jam ia bertahan kembali di perpustakaan, mencoba membaca buku yang diajarkan Legolas. Buku berbahasa Sindarin yang lebih mudah katanya, tapi buku dan Galion bukan pasangan yang tepat. Sampai saat ini pun Galion masih belum bisa membaca, huruf-huruf yang diajarkan Legolas tadi mulai ia lupakan. Rasanya ia frustasi, ia pun mengalihkan pandangannya dari buku ke jendela. Melihat daun-daun musim gugur yang berjatuhan dan terbang tertiup angin. Namun kebosanannya tak urung hilang, ia pun bangkit berdiri dan keluar ruangan.
Di luar ia mulai menghirup udara segar dan berjalan-jalan di taman Imladris, menikmati keindahan negeri noldor. Negeri indah nan damai tak seperti negerinya. Dulu memang negerinya juga pernah seperti negeri ini, indah dan damai hingga di sebut The Great. Tapi semua itu sudah beribu-ribu tahun lalu dan hanya tinggal kenangan. Bahkan generasi muda seperti Legolas sudah tak pernah merasakan keindahan negerinya, yang ada hanya kegelapan dan terror yang setiap hari harus diredam dan dikesampingkan agar tak menggelapkan hati rakyat di negerinya. Jika saja Thranduil, sang raja, tak terus berjuang mengalahkan kegelapan dan terus menguatkan hati rakyatnya, mungkin negerinya tak akan bertahan hingga hari ini.
"Hei! Bukankah itu peri silvan yang dibicarakan orang-orang sejak pagi?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Galion, ia pun menoleh dan mendapati beberapa peri berpakaian rapi dengan senjata sedang berkumpul di bawah pohon. Mungkin prajurit bawahan Lord Glorfindel, pikir Galion.
"Oh ya. Peri Silvan yang tak sopan pada komandan kita, tapi peri Silvan memang seperti itu 'kan? Liar dan tak punya sopan. Membaca saja tak bisa, bagaimana mereka mengerti sopan santun."
Dan mereka pun tertawa, Galion hanya diam sambil mengangkat alisnya. Rasanya aneh, biasanya di negerinya ia dan teman-teman Silvannya yang sering membicarakan Noldor dan kesopanan mereka yang membosankan. Tapi ternyata jika kasusnya kau yang diposisi dibicarakan, tak semenyenangkan saat kau membicarakan dan menghina mereka yang kau bicarakan.
"Oh ya kudengar mereka juga sering berbicara dengan pohon! Yang diajak bicara saja pohon, bagaimana mereka bisa lebih pintar?"
Galion masih diam meski ia mulai kesal. Ia pun berjalan lebih cepat untuk meninggalkan kumpulan peri Noldor itu. Sayangnya peri Noldor itu belum puas, ia sengaja mengencangkan suaranya untuk mengolok lebih lanjut.
"Satu hal lagi, kau kenal Legolas?"
Saat mendengar nama putra rajanya, Galion berhenti berjalan.
"Ya, dia putra raja, tapi sama-sama liar! Lagipula raja mereka juga arogan dan tak punya sopan, 'kan?"
Sebelum ada yang menanggapi, sebuah pisau melesat dengan cepat dan menancap di pohon tepat di sebelah peri yang berbicara sebelumnya tadi. Hening sejenak karena mereka terkejut, setelah sadar dari keterkejutan, mereka melihat ke arah Galion yang menatap tajam mereka.
"Kau! Apa kau mau membunuh kami?!"
Salah satu peri berteriak dan menatap tajam Galion, ia pun berdiri diikuti temannya dan langsung mengelilingi Galion. Galion hanya diam, tapi tangannya sudah siap untuk mengambil pisaunya. Peri yang lain pun bersiap untuk mengunuskan pedang mereka, Galion tentu kalah banyak. Ia hanya sendiri melawan lima prajurit peri. Tapi Galion tidak memikirkan hal itu, emosinya sudah terlalu menguasainya.
"Berhenti menghina rajaku."
Suara Galion hanya berbentuk bisikan, tapi bagi pendengaran peri yang tajam masih bisa didengar. Sesungguhnya itu isyarat bahaya untuk peri yang mengelilinginya, tapi para prajurit peri itu tak mengerti justru mereka malah semakin menjadi.
"Memangnya kenapa? Itu adalah fakta kau tahu, Rajamu memang arogan!"
Dan dengan kecepatan yang hampir luput dari mata mereka, Galion menyerang peri yang berbicara itu. Tapi prajurit peri itu telah dilatih untuk sigap, jadi serangan Galion mampu dipatahkan meski ia harus terjatuh. Melihat hal itu temannya mulai menyerang, Galion tentu saja tak diam. Ia mulai melemparkan pisau-pisau miliknya ke jubah mereka, sehingga mereka tak bisa mendekat karena pisau itu menancap di tanah dengan kuat. Galion mulai menyerang kembali prajurit peri yang jatuh tadi, satu pisau yang ia pegang erat beradu dengan pedang milik prajurit peri.
"Akan kupotong lidahmu!"
Galion berteriak sambil menyerang. Prajurit itu hampir kewalahan dengan serangan Galion yang bertubi-tubi, Galion terlihat sangat mengerikan seperti hewan buas yang menyerang mangsanya. Hingga akhirnya prajurit peri itu pun lengah dan terjatuh. Tapi sebelum ia sempat bergerak, Galion sudah mengarahkan pisaunya di leher peri itu. Siap mengiris lehernya dengan pisau yang sangat tajam, peri itu pucat pasi. Namun semua itu harus berakhir, saat seseorang berteriak memanggil nama Galion.
"Galion!"
Dan dua sosok peri berlari ke arah mereka, Glorfindel dan Legolas. Sepertinya seseorang melihat perkelahian itu dan melaporkannya pada Glorfindel dan Legolas. Galion pun berdiri dan membiarkan peri yang masih terbaring dengan wajah ketakutan. Tatapan Galion masih tajam dan buas. Legolas mendekati Galion sedang Glorfindel membantu peri tadi berdiri. Prajurit peri yang sudah terbebas dari pisau Galion dengan jubah yang sobek pun mendekati mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Glorfindel dengan suara baritonenya bertanya, ia terlihat sangat marah. Kelima prajurit itu tertunduk, tapi kemudian satu prajurit yang diserang Galion pun berbicara.
"Dia ingin membunuhku!"
Legolas mendengar hal itu menatap tajam peri yang berbicara tadi, dia mendekati peri itu dan berbicara tepat di wajahnya.
"Galion tak akan melakukan hal itu! Dia menyerangmu pasti karena kau telah membuatnya marah!"
"Legolas!"
Galion yang sudah mulai tenang memanggilnya, Legolas pun menoleh.
"Aku percaya padamu Galion, jadi biarkan aku beri tambahan pelajaran untuknya."
"Itu tidak perlu. Aku baik-baik saja, dan Lord Glorfindel aku tak akan mengatakan alasanku. Dengarkan saja ceritanya, apapun versinya, Aku yakin kau akan mengerti."
Setelah itu Galion mengajak Legolas pergi, meninggalkan Glorfindel dan prajuritnya setelah mengambil pisau-pisaunya.
"Lord Glorfindel! Kau tak bisa membiarkan dia pergi begitu saja! Dia hampir membunuhku! Dia kinslaying!"
Legolas yang masih belum jauh ingin kembali, tapi Galion menariknya untuk terus berjalan.
"Dia tak akan kemanapun dan kau tak terbunuh atau terluka, tapi aku tak akan pernah memafkanmu dengan kata-lata yang kau tahu itu terlarang diucapkan di negeri ini!"
Prajurit itu pun terdiam dan menunduk, takut dengan Glorfindel yang menatapnya tajam.
"Maafkan aku."
"Jangan kau ulaingi. Sekarang aku ingin mendengar apa yang terjadi, dan jangan kira kau bisa berbohong padaku."
Dan prajurit itu pun menceritakan apa yang terjadi beberapa menit lalu, Glorfindel yang mendengar memejamkan matanya. Galion benar jika ia akan mengerti.
"Kau bersalah karena menghinanya juga raja dan putranya, aku tak pernah mengajarkan kalian seperti itu. Kalian mungkin lebih pintar dan bijak darinya, tapi sikap kalian lebih mencerminkan orang yang tak punya sopan. Untuk itu kalian kuhukum, bersihkan arena latihan setelah berlatih dan latihan kalian juga ku gandakan."
"Bagaimana dengan Silvan itu?"
"Aku akan berbicara pada Lord Elrond. Bagaimanapun ia adalah tamu kita, Aku akan menyerahkan hukuman pada Lord Elrond yang lebih bijak. Sekarang sebaiknya kalian pergi kembali ke barak."
Mereka pun berjalan pergi setelah paham dengan hukuman dan penjelasan Glorfindel, namun dalam hati mereka kekesalan masih memenuhi hati mereka. Mereka belum selesai dengan Galion.
Lord Elrond masih terdiam saat ia mendengar cerita Glorfindel, Legolas dan Galion sudah dipanggil untuk menghadapnya. kini mereka di ruang kerja Lord Imladris itu, Erestor pun sudah berdiri di samping Glorfindel.
"Kau tak salah membela raja dan putra rajamu, Galion. Untuk hal itu aku meminta maaf atas prilaku rakyat dari negeriku. Tapi aku tak menyukai jika seorang peri menghunuskan senjatanya pada peri lain apalagi di negeriku, dan untuk kesalahan itu aku harus menghukummu. Kuharap kau mengerti ini adalah tindakan bijak yang harus kuambil."
Galion hanya menunduk, Legolas yang ingin protes ditarik tangannya oleh Galion agar diam. Sang putra raja pun hanya mendengus kesal. Menurut Legolas, Galion tak salah dan ia pun akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Galion. Para prajurit itu sudah keterlaluan, berani sekali menghina ayahnya padahal mereka tak pernah bertemu dengan Sang Raja Peri.
"Aku akan menerima hukuman apapun karena telah mengganggu ketenangan di negerimu, Lord Elrond. Tapi aku tak menyesal melakukan hal itu, berapa kali pun jika ada siapapun yang menghina raja maupun putra raja-ku tak akan kumaafkan. Aku tak peduli mereka menghinaku, kenyataannya aku memang hanya Silvan rendahan tapi tidak dengan rajaku dan putranya. Lagipula aku dikirim kemari karena hukuman, sang raja ingin aku belajar membaca sebagai hukumannya."
Elrond mengangkat alisnya satu, ia baru mendengar belajar membaca adalah sebuah hukuman.
"Kenapa kau berpikir belajar membaca adalah hukuman?"
Erestor tiba-tiba bertanya, karena ia sama dengan Elrond tidak mengerti dengan hukuman yang menurutnya aneh itu.
"Aku tak menyukai buku, apalagi membacanya. Kami peri Silvan belajar dari alam bukan dari buku, meski kini hampir setiap silvan di negeri kami bisa membaca."
"Baiklah jika memang begitu, aku akan menambah hukumanmu dengan membantu Erestor membereskan perpustakaan. Erestor mungkin bisa membantumu belajar membaca juga."
Erestor terbatuk mendengar perkataan Elrond, ia hampir ingin protes tapi ia tahan saat semua mata melihat padanya.
"Aku akan melakukan sebisaku."
Akhirnya ia hanya mengatakan itu, dan Galion hanya mengangguk.
"Tapi ada satu hal lagi, Galion. Aku tak ingin kejadian ini terulang kembali, dan untuk hal itu aku terpaksa mengambil pisau-pisaumu."
Galion menatap Elrond begitu juga dengan Legolas, mereka hampir tak percaya apa yang mereka dengar. Peri silvan dan pisau mereka sudah menjadi satu, negeri mereka yang tak aman membuat mereka terbiasa membawa senjata kemanapun mereka pergi. Pisau adalah senjata dasar untuk melindungi diri, untuk itu setiap peri di Silvan yang sudah mencapai kedewasaan mempunyai sedikitnya satu pisau di balik pakaian mereka.
"Tapi Lord Elrond-"
"Maaf Legolas, aku tak bisa membiarkan hal ini luput. Aku tak akan mengambil pisau Galion selamanya, jika ia membutuhkan maka akan ku kembalikan. Tapi aku tak bisa membiarakn seorang peri membawa senjata di rumah ini dengan bebas, akan kujamin ia akan aman tanpa senjata. Dan akan kupastikan tak akan ada lagi yang merendahkan rajamu atau Legolas."
"Legolas, aku akan baik-baik saja. Lord Elrond benar, negeri ini negeri aman tak seperti negeri kita. Aku akan menyerahkan pisau-pisauku."
Galion pun mulai melepaskan pisau-pisau dari balik pakaiannya, pisau-pisau itu terbungkus oleh kulit kayu yang berukir seperti daun dengan warna yang menyatu dengan pakaian Galion. Wajar saja tak ada yang bisa menyangka pisau-pisau itu tersembunyi dibalik pakaiannya. Galion menyerahkan pisau-pisau itu pada Glorfindel.
"Kalau begitu akan kuserahkan pisauku juga."
Legolas pun memberikan belati dari ayahnya, belati perak indah yang terbungkus sarung kayu berlapis perak, dan gagangnya behias permata. Galion ingin protes, ia tahu belati itu sangat berarti untuk Legolas. Tapi Legolas tak membiarkan ia protes dan langsung memberikannya pada Glorfindel. Lord Elrond hanya diam dengan keputusan Legolas.
"Aku melakukan ini karena aku yakin ini yang paling bijak yang bisa aku putuskan. Aku harap kalian mengerti, sekarang kembalilah ke kamar kalian."
Itulah akhir dari pembicaraan mereka, Legolas dan Galion kembali ke kamar mereka sambil menunggu makan malam.
Jauh di Utara Thranduil memandangi arah selatan negerinya, hatinya diliputi kegelapan. Hal yang selalu ia rasakan tiap kali dirinya memandang ke arah selatan.
"Aran-nin!"
Sebuah panggilan menyadarkannya, ia pun menoleh ke arah panggilan itu. Megilagor, komandan di kerajaannya berdiri tak jauh darinya.
"Maaf, Megilagor. Apa yang kau katakan tadi?"
Megilagor terlihat khawatir, tapi ia tetap mengulangi perkataannya. Ia sebenarnya tahu rajanya sedang gusar.
"Silinde melaporkan anak buahnya melihat Mithandir beberapa hari lalu, sepertinya ia menuju arah Lorìen."
"Lorìen, kurasa Gandalf sudah tahu mengenai kegelapan ini. Mungkin aku bisa sedikit lega, kuharap ia tak gagal lagi meyakinkan White Council."
"Kau sudah mengirimkan Legolas dan Galion. Kurasa isyarat itu sudah cukup untuk mereka mengerti bahwa kegelapan di negeri ini bukanlah hal biasa."
"Ya. Kuharap juga begitu. Bagaimana dengan Siriann?"
"Dia masih belum mendapat kabar lebih lanjut. Para kurcaci sepertinya masih betah berada di Esgaroth, mungkin lupa tujuan awal mereka karena dipuji."
"Kurasa mereka tak lupa, hanya terlena. Meski begitu aku masih berharap mereka lupa."
Megilagor mengangkat alisnya.
"Kenapa kau berharap begitu, Yang Mulia?"
Thranduil mengalihkan pandangannya ke Utara.
"Tak ada hal baik yang datang jika kau mengganggu naga yang sedang tertidur."
Dan Megilagor hanya diam, ia paham apa yang dimaksud rajanya. Bencana mungkin adalah akhir dari misi para kurcaci, dan itulah yang selama ini dikhawatirkan rajanya. Karena bencana tak hanya berlaku pada orang yang bersalah saja, tetapi orang yang tak mengerti apapun akan terkena dampaknya juga.
TBC
Glosarium:
Ada: dad/ayah (Sindarin)
Nana: mom/ibu (Sindarin)
Nah: no/tidak (Sindarin)
Sindar= Elves/Peri abu-abu
Silvan= Elves/Peri Hutan
Noldor= Elves/Peri yang pernah menyebrang ke barat/Negeri Aman/Negeri Valar.
White Council= Dewan Penasihat Putih (para bijak yang terdiri dari Galadriel, Saruman, Celeborn, Elrond, Gandalf/Mithandir, Radagast (not official), Cirdan)
Aran-nìn= My King/Rajaku (Sindarin, Aran: King, nìn: my )
A/N (2): Balasan Review aja sih. Thanks buat Luin Width1 untuk reviewnya (yaa… meski gue bias Mirkwood. Tapi gue juga masih suka ama mereka, Glorestor shipper juga kok. Hahaha… /ngaku dia/ cerita tentang ibunya Leggy ga ceritain disini. Mungkin, Mungkin ya, gue bakal bikin oneshot sendiri buat itu kalo ini udah kelar. Well, gue harap ini udah greget meski dikit karena kedepannya Galion bakal gue siksa. /woi spoiler!/ sekali lagi thanks udah baca dan Review). Thanks juga buat evilkyung untuk reviewnya (sekali lagi gue akui gue Glorestor shipper juga, dan tenang aja ini mah Cuma hints doang. Galion mah milik Thranduil /gak. Erestor bukan mainan doang kok, Glorfindel kan memang gitu kalo ama Erestor seneng bikin Erestor kesel. Iyaa… emang ga ada, bahkan Bahasa mereka di bukunya juga ga dijelasin gimana, Bahasa silvan soalnya juga udah jarang dipake lagi. Diganti Bahasa universal Sindarin meski dengan logat Silvan. Iya adanya nyanyian Galadhrim, yang Nimrodel juga Legolas nyanyinya pake Bahasa Westreen. Ya, Galion ga suka rajanya dihina atau direndahkan, dia ga peduli kalo dia direndahkan tapi ga berlaku buat rajanya dan anak rajanya. Erestor gue bingung sikapnya gimana ya, antara galak tapi baik jadi agak susah deskripsiinnya malah jadi tsun dah /lol. Thanks udah baca, review dan fav fanfic ini. : /cium balik).Thanks juga untuk Thrandolas (thanks udah baca dan review juga suka fanfic ini.)
