Bangsa Silvan tak menyukai bangsa Noldor, Tapi saat Galion dihukum untuk belajar di Imladris. Mampukah dua realm ini dapat menerima perbedaan satu sama lain. Sequel dari "Panah, Buku dan Inspirasi". Book Verse, The Hobbit event, Setelah para kurcaci kabur. Semi-AU. Galion POV.


Pelayan, Lord dan Kebijaksanaan

A LOTR fanfic AU

Disclaimer: ©J.R.R Tolkien

Genre: Friendship, Drama.

Character: Thranduil, Legolas, Galion, Erestor, Lindir,

Elrond, Glorfindel, Elladan dan Elrohir, Estel/Little!Aragorn.

Chapter 3: Putra Raja dan Putra Angkat Lord


Thrid Age, Year 2941.

Erestor terkejut saat ia memasuki perpustakaan dan mendapati Galion sedang merapikan rak buku, tapi hanya sebentar. Ia langsung ingat bahwa Galion memang dihukum untuk membereskan perpustakaan kemarin.

"Kau selalu bangun sangat pagi."

"Aku seorang pelayan raja, sudah menjadi kebiasaanku bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan dan hal lain untuk rajaku."

Erestor hanya mengangguk dan mulai membantu merapikan buku-buku. Ruangan itu sangat tenang, hanya ada bunyi buku-buku yang ditata oleh kedua peri berbeda bangsa.

"Perpustakaanmu begitu rapi, hukumanku jadi sangat ringan."

"Aku selalu merapikannya setiap ada waktu lenggang."

"Legolas sepertinya memang benar bahwa kau sangat menyukai buku."

Erestor mengangkat alisnya satu, tapi kemudian kembali pada aktivitasnya. Hening kembali, tak ada percakapan sejenak.

"Kau orang yang melempar pisau pada Glorfindel dulu bukan? Saat perang Aliansi Terakhir."

Wajah galion memerah, ah sepertinya ia terkenal karena sikap kasarnya pada Lord Vanyar itu.

"Ya. Kurasa semua orang mengingatku karena hal itu."

"Well, kau satu-satunya peri yang berani bersikap begitu padanya. Aku saja hanya berani melempar buku padanya."

Galion sedikit terkejut mendengarnya, dan kemudian terkikik. Erestor kini yang berwajah merah karena tak sengaja malah mengatakan hal tadi.

"Kenapa kau melakukan hal itu?"

"Karena dia cukup sering membuat emosiku naik."

Erestor menjawab singkat, Gallion berhenti tertawa.

"Dan kurasa kau tahu tentang alasanku."

"Ya. Kau benar-benar setia pada rajamu, dan aku masih bertanya-tanya kenapa."

Galion tersenyum, ia sudah sering mendengar pertanyaan itu. Kenapa ia setia pada Thranduil? Ia sendiri tak begitu yakin dengan jawabannya.

"Tak bisa kukatakan bahwa Thranduil adalah raja sempurna yang dimiliki negeri kami, tapi kami tahu dia raja yang hebat. Aku bukan peri bijak, bahkan aku tak bisa membaca. Tapi aku belajar dari hidup dan alam, bukan dari buku sepertimu. Itulah kenapa kesetiaan kami pada Raja Thranduil adalah keputusan paling kami utamakan. Kami melihatnya sebagai raja terbaik yang pernah kami miliki dan dia tak seperti yang orang lain katakan."

"Apa maksudmu tak seperti yang orang lain katakan?"

"Kau tentu tahu apa, bahkan mungkin kau menilai Raja Thranduil seperti apa yang mereka katakan, Lord Erestor. Tapi itu tak semuanya benar, Raja kami bukan raja arogan seperti yang kalian kira."

Galion mengepalkan tangannya saat mengatakan kata "Arogan" ia sepertinya membenci kata itu, terutama setelah kejadian kemarin. Erestor hanya diam, membiarkan Galion berbicara. Galion menghela nafas dan memandang ke arah jendela Utara.

"Kami menilai dari apa yang kami lihat dan rasakan. Kau tentu tahu bahwa negeri kami diselimuti bayang-bayang kegelapan, setiap hari kami berjuang melawannya. Kurasa Legolas sudah pernah bercerita mengenai laba-laba dan daerah selatan yang sudah direbut. Itu memang kenyataan dan terus bertambah gelap semakin hari, daerah tempat tinggal kami semakin sedikit tiap tahunnya. Tapi kami tak ingin menyerah, begitu juga raja kami. Greenwood adalah rumah kami dan kami mempertahankannya. Itulah tekad kami. Tapi berbicara itu mudah, kenyataannya setiap hari prajurit kami harus pulang dengan keadaan luka. Jika raja kami tak menguatkan hati kami, mungkin kami sudah lama menyerah."

"Jika keadaannya begitu buruk, kenapa kalian tak pernah meminta bantuan?"

Mata Galion berkilat saat ia menoleh cepat ke arah Erestor, namun kemudian kilatan itu hilang berganti kesedihan.

"Aku tahu kenapa ia menolak ikut menjadi anggota Dewan Penasihat Putih. Mungkin kalian pikir itu tindakan arogan, karena jika ia ikut mungkin negeri kami tak akan seburuk ini jadinya. Tapi raja kami bukan arogan, ia hanya melindungi kami, peri silvan yang liar dan tak terpelajar."

Erestor terlihat bingung dengan jawaban Galion.

"Apa maksudmu?"

"Beberapa Eldar merendahkan kami, peri silvan, rakyatnya, didepannya saat rapat besar pertemuan para Eldar dan Istari ribuan tahun lalu. Ia membela kami itu sebabnya ia pergi dan menolak ikut saat pembentukan dewan penasihat putih dan mengatakan bahwa ia bukanlah peri bijak. Tindakannya mungkin arogan meninggalkan rapat akbar tanpa pamit, ia pergi begitu saja dari sini bukan? Dan penolakannya untuk ikut Dewan dan hanya setuju mengirim kabar mengenai pergerakan di Dol Guldur."

"Kenapa tak ada yang tahu mengenai hal itu? Lord Elrond pasti akan memaksa mereka meminta maaf jika ia tahu."

"Mithandir tahu kejadian itu, ia memaksa Thranduil untuk menghiraukan perkataan mereka. Tapi Thranduil tetap tak mau ikut bergabung, ia juga meminta untuk tak memberitahu siapapun. Ia tak peduli orang lain berkata apa mengenai keputusannya, ia akan membiarkan mereka berpikir apapun tentangnya. Dengan begitu ia tak akan diganggu dan rakyatnya tak perlu lagi bertemu dan dihina. Walau begitu semua akhirnya berubah saat Legolas lahir, ia yang pertama kali membuka hatinya sedikit, dia yang mengusulkan untuk menyetujui setidaknya memberi kabar pada Lord Elrond mengenai kegelapan di negeri kami."

Dan Erestor terdiam dengan jawaban Galion, sebuah cerita nyata, kejadian yang sangat penting luput bahkan dari Lord Elrond. Erestor hanya tersenyum. Galion sempat terkejut dengan hal itu, ia kira Erestor tak pernah tersenyum mengingat Erestor selalu berwajah penuh ketegasan.

"Kau bilang ia tak ingin orang tahu tentang kejadian itu, tapi kau malah meberitahuku."

"Biarkan saja."

"Memangnya kau tak takut ia akan marah dan menghukummu lebih?"

"Mungkin iya, ia akan menghukumku lebih bahkan mengusirku dari negerinya."

"Benarkah?"

"Tidak. Sudah kubilang ia bukan raja arogan yang tirani, aku yakin ia sudah memprediksi ini. Dia tahu aku akan membuka suara saat ada yang menghinanya atau Legolas. Dan sekarang aku jadi mengerti kenapa ia mengirimku ke Imladris."

"Kenapa?"

"Negeri kami benar-bbenar dalam bahaya. Itu sebabnya ia mengirimku ke sini dengan Legolas. Ia ingin meyakinkan Lord Elrond bahwa kegelapan di Dol Guldur semakin parah."

"Jika begitu kurasa itu tindakan tepat. White Council akan mengadakan rapat, aku akan menceritakan segala yang kau beritahukan pada Lord Elrond. Walau begitu rapat itu sangat rahasia dan tertutup jadi berharaplah Lord Elrond bisa meyakinkan seluruh Eldar."

"Mithandir akan membantu juga. Sekarang mungkin White Council akan mendengar dan menyerang Dol Guldur."

Erestor tersenyum sekali lagi, ia melihat Galion bukan sekedar peri silvan lagi. Lord Elrond benar jika ia akan memainkan peran dalam hal ini, pikir Erestor. Mata Galion kini berbinar, pelayan itu terlihat senang karena merasa negerinya mungkin akan terlepas sedikit dari bayang-bayang kegelapan.

"Kau tahu, Aku akan sangat senang mengajarkanmu membaca. Dan kuharap aku bisa belajar darimu juga tentang alam dan negerimu."

Galion berkedip, ia lupa kalau ia di sini juga dihukum untuk belajar membaca. Erestor tertawa melihat ekspresi Galion lesu sambil menghela nafas. Galion yang melihat Erestor tertawa ikut tertawa. Mungkin kini mereka bisa menjadi sahabat, meski memang mereka punya perbedaan yang besar. Dan mulai hari itu Galion menghabiskan waktu satu jam sebelum makan siang untuk belajar bersama Erestor. Erestor mungkin galak, tapi menurut Galion dia adalah guru yang baik. Galion sudah mulai mengerti meski baru diajarkan hari itu, setidaknya ada kemajuan pelajarannya.


Saat Sore menjelang ia berlatih bersama Glorfindel, Legolas dan kedua putra Elrond juga Estel. Estel adalah anak manusia yang enerjik dan ingin tahu. Ia meminta Legolas mengajarkan memanah, dan Legolas dengan senang hati mengajarkannya. Sepertinya putra Thranduil itu sangat senang dengan anak manusia itu, padahal baru dua hari mereka bertemu. Elladan dan Elrohir beradu pedang dibawah pengawasan Glorfindel. Galion sendiri sedang mengasah pisau-pisaunya, Glorfindel dengan seijin Elrond mengembalikan pisau-pisau itu padanya dengan catatan hanya untuk latihan.

"Aku menyimpannya dua di ikat pinggangku, dua di lenganku, dan satu di sepatuku. Semua sarungnya disamakan dengan warna pakaianku. Coklat dan hijau untuk menyamarkannya, ini sebenarnya senjata dasar bagi kami. Seluruh peri hutan memiliki pisau belati sebagai senjata, meski tak sebanyak miliku. Biasanya mereka memiliki dua buah di ikat pinggang mereka, Legolas punya satu. Kami juga memiliki pedang dan panah."

Galion menjelaskan saat Glorfindel bertanya, seusai ia mengajarkan dua putra Elrond dan prajuritnya.

"Tapi pisaumu bukan terbuat dari besi, terbuat dari apa ini?"

Glorfindel mengamati pisau milik Galion, Galion tersenyum.

"Ya, itu terbuat dari batu. Aku termasuk Silvan yang pertama kali tinggal di Greenwood, dulu belum memiliki nama. Kami tak punya keahlian membuat alat dari besi seperti bangsamu atau Sindar. Kami belajar menempa besi baru saat para Sindar datang ke negeri kami. Makanya pisau milik Legolas dari besi bukan batu."

"Wah, ini benar-benar sangat langka."

Glorfindel kagum dengan pisau-pisau milik Galion yang terbuat dari batu halus dan tajam, Galion kembali memasukan pisau-pisaunya ke balik pakaiannya. Namun ia meninggalkan satu, yang di tangan Glorfindel.

"Jika kau mau, kau bisa memilikinya."

"Benarkah?"

"Ya, Aku masih memiliki empat lagipula. Nama pisau itu Eithor, dia akan melindungmu karena dibuat untuk melindungi pemiliknya."

"Aku sangat berterima kasih atas hadiahmu. Sebagai balasannya kau boleh meminta apapun asal jangan pedangku, jadi apa yang kau minta?"

"Aku tak akan meminta apapun, Lord Glorfindel. Aku sudah sangat berterima kasih kau sudah menjaga Legolas selama ia di sini."

Glorfindel mengangkat alisnya, heran dengan perkataan Galion.

"Kurasa kau sudah tahu alasan kenapa raja kami mengirimnya sebagai kurir kerajaan, tiap kali ia dikirim kemari adalah untuk perlindungan. Negeri kami tak aman seperti negeri kalian, Legolas adalah satu-satunya pewaris dari raja kami. Dan raja kami tak akan membiarkan ia terluka atau dalam bahaya."

"Ah, ya. Lord Elrond pernah mengatakannya. Jika begitu sekali lagi aku berterima kasih atas hadiahmu, dan kami akan melindungi Legolas selama ia berada di sini."

"Terima kasih kembali."


Hari-hari pun berjalan lebih tenang, Galion mulai dekat dengan Erestor dan Glorfindel. Bahkan ia mengajarkan Lindir lagu-lagu peri silvan dari negerinya, tentu saja Lindir sangat senang. Meski begitu Legolas masih sering menemukan Galion keluar diam-diam dari Aula Api di tengah acara, dan duduk di pohon yang daunnya semakin hari-semakin sedikit karena gugur. Legolas sendiri lebih sering bermain bersama Estel dan dua putra Elrond, mengajarkan Estel memanah atau hanya sekedar berjalan-jalan di sekitar Imladris dan berenang di sungai bersama mereka.

Hingga tepat lima hari mereka di Rumah Elrond, kejadian tak terduga terjadi. Saat itu Galion seperti biasa belajar dengan Erestor membaca buku-buku Sindarin, Galion sudah amat muak dengan buku tapi tetap berjuang membacanya. Rasanya huruf-huruf Tengwar berterbangan dan mengelilingi kepalanya yang pusing, ia benar-benar kewalahan untuk menghafal huruf-huruf itu. Namun pendengarannya menangkap bunyi ketukan di jendela, ia pun berdiri tiba-tiba hingga membuat Erestor terkejut.

"Galion?"

Galion hanya diam dan menuju jendela kemudian membukanya, seekor burung terbang masuk dan hinggap di tangan Galion. Erestor mengangkat alisnya satu melihat kejadian itu, burung itu seperti ingin memberitahu Galion sesuatu dan Galion sepertinya mengerti. Si pelayan itu pun meloncat tanpa pamit ke jendela dan menuju pohon dekat jendela. Erestor bisa melihat kepanikan di wajah Galion meski sekilas. Pohon-pohon di luar pun terlihat ribut, menggesekan daun-daunnya.

"Galion! Kau mau kemana?!"

Tapi Galion tak menjawab, ia sudah melompat di antara pohon-pohon dan menghilang. Erestor pun berlari keluar dan mencoba mengikuti arah pergi Galion.

'Dimana?'

Galion menyentuh sebuah batang pohon, mencoba berbicara pada sang pohon Maple.

'Ia tak terluka, tapi kau harus cepat!'

'Bukakan jalan untukku!'

Dan batang-batang pohon itu bergerak membuka jalan, Galion pun melompat mengikuti jalan yang dibukakan para pohon.


Sementara itu, jauh di tengah hutan Legolas berjuang melawan seekor Rusa betina yang marah. Panah digenggamannya sudah terpasang siap untuk menembak, namun tangannya gemetar, jari-jarinya berkeringat. Ia tak bisa menembak induk rusa itu.

"Aku tak akan melukaimu! Kami tak bermaksud mengganggumu! Biarkan kami pergi!"

Legolas mencoba berbicara dengan sang induk, tapi Rusa itu justru semakin marah, kepalanya sudah siap untuk menyerang Legolas.

"Estel!"

Ia berusaha memanggil teman barunya, ia ingin menghampiri anak manusia yang kini bersembunyi di bawah akar-akar pohon besar. Tapi ia tak bisa kemana-mana karena induk rusa itu tak melepaskannya.

"Estel! Kumohon jawab aku!"

Masih tak ada jawaban, Legolas semakin khawatir. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian induk rusa itu dan kemudian melompat ke atas pohon setelah rusa itu menyerang, rusa itupun membentur pohon oak dan terluka.

"Maaf!"

Kemudian ia pun pergi untuk menghampiri sahabat barunya, saat sampai ia menemukan Estel telah tergeletak di bawah pohon. Kepalanya terluka begitu juga lengannya, di sampingnya ada pisau batu.

"Estel!"

Legolas menghampiri Estel, saat itu juga Erestor, Elrond dan Glorfindel juga dua putra Elrond datang bersama dua prajurit peri. Sepertinya Eretor yang mengikuti Galion bertemu Glorfindel dan mengajak mereka mengikuti Galion yang pergi, namun justru mereka mendengar teriakan Legolas dan Estel. Itulah sebabnya Elrond, dua putra Elrond dan dua prajurit datang.

"Estel!"

Mereka pun menghampiri anak manusia yang masih pingsan itu.

"Apa yang terjadi?"

Elrond bertanya pada Legolas, Legolas menunduk.

"Ini semua salahku. Rusa-rusa itu marah dan menyerang kami dan aku malah meninggalkannya. Maafkan aku, Lord Elrond! "

Elrond hanya diam, ia sibuk memeriksa luka Estel. Luka di lengannya tak terlalu parah, tapi Lord Elrond khawatir dengan luka di kepalanya.

"Kita akan bicara nanti."

Elrond pun mengangkat Estel, wajahnya penuh dengan kekhawatiran.

"Hei! Lihat ini."

Elrohir mengangkat sebuah pisau yang tadi tergeletak di samping Estel, pisau batu berlumuran darah.

"Bukankah pisau ini-"

"Itu milik Galion! Tapi bagaimana bisa?"

Glorfindel bertanya terkejut, karena seingatnya pisau-pisau Galion tersimpan bersama senjata-senjata di gudang senjata yang hanya bisa dibuka olehnya.

"Dia pasti menyembunyikan satu dibalik bajunya! Kudengar peri silvan tak menyukai pisau mereka diambil. Aku yakin dia masih dendam atas kejadian lima hari lalu!"

Prajurit yang bersama mereka berbicara, Legolas menatap tajam prajurit itu.

"Galion tak mungkin melukai Estel!"

"Benarkah? Lantas kenapa pisaunya ada di sini? Dan kau bilang kalau kau meninggalkan Estel di sini sendirian. Apa jangan-jangan kalian berkerja sama untuk melukai anak kecil itu?"

Legolas hampir ingin menyerang prajurit bermulut besar itu, tapi suara Glorfindel menghentikannya

"Cukup! Ada berapa pisau ia miliki, Legolas?"

"Tentu saja enam!"

"Enam? Tapi ia hanya menyerahkan lima."

Legolas terdiam, dia kembali menunduk.

"Ia memang punya lima, satunya ia berikan padaku sudah lama sebagai hadiah. Aku mengembalikan padanya karena aku tahu ia membutuhkannya, ia menolak tapi aku memaksanya. Tapi percayalah! Ia tak mungkin melukai Estel!"

"Lantas dimana ia sekarang? Dia pasti telah kabur setelah melukai Estel. Dan kau menyerahkan pisau padanya, padahal kau tahu ia dilarang memiliki pisau. Jika kau tak ingin melukai Estel, kenapa kau malah memberinya pisau?"

Si prajurit kembali berbicara, prajurit yang sama yang menghina Galion lima hari lalu. Legolas menatap tajam prajurit itu. Glorfindel dan yang lain terdiam sepertinya mulai ragu dengan Galion atau Legolas.

"Berhenti berbicara hal buruk tentang Galion! Kau tak mengenalnya! Dan aku tak akan pernah melukai Estel!"

"Kalau begitu, dia mungkin yang berniat buruk. Bukankah ia ke sini juga karena dihukum? Kenapa ia dihukum? Jika memang ia peri baik-baik."

"Itu… Aku tak bisa mengatakannya. Tapi percayalah Lord Glorfindel, Lord Erestor kalian telah bersamanya bukan? Akhir-akhir ini. Aku yakin kalian bisa menilai Galion bukan peri seperti yang ia katakan."

"Kami tetap harus menunggu Galion kembali atau Estel sadar agar kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Legolas. Untuk sekarang sebaiknya kita kembali ke rumah."

Lord Elrond berbicara sebelum ada yang menanggapi perkataan Legolas. Namun hingga pagi tiba Galion tidak juga kembali, sedang Estel masih belum siuman akibat luka di kepalanya. Legolas semakin khawatir, jika Galion tak juga muncul masalah besar akan terjadi. Tidak hanya untuk Galion, tapi untuk masa depan dua realm ini. Lord Elrond begitu menyayangi Estel karena telah dianggap sebagai putranya sendiri, jika Galion benar-benar terbukti melukai Estel maka dua realm ini tak akan pernah akur kembali. Padahal baru lima hari lalu Galion mengatakan bahwa Erestor sudah melaporkan pada Lord Elrond mengenai situasi di negerinya dan mungkin akan membantu pada rapat White Council untuk menyerang Dol Guldur.

"Ada, Apa yang harus aku lakukan?"

Legolas memandang ke arah Utara, memikirkan apa yang ayahnya akan lakukan jika diposisinya saat ini. Serta dimana Galion? Apa benar ia kabur setelah melukai Estel?


TBC


Glosarium:

Ada: dad/ayah (Sindarin)

Sindar= Elves/Peri abu-abu

Silvan= Elves/Peri Hutan

Noldor= Elves/Peri yang pernah menyebrang ke barat/Negeri Aman/Negeri Valar.

White Council= Dewan Penasihat Putih (para bijak yang terdiri dari Galadriel, Saruman, Celeborn, Elrond, Gandalf/Mithandir, Radagast (not official), Cirdan)

Tengwar= Tulisan dari bangsa noldor yang biasa dipakai untuk menulis oleh bangsa peri.


A/N (Pojok Reviwe): Evilkyung (thanks udah review, sekarang udah mulai masuk klimaks nih, perjalanan Galion dan Legolas masih panjang. :D) Luinwidth1 (hahaha… ya abis emang Erestor kandidat paling pas sih. Lol. Di chapter ini dibuka lagi alasan kenapa Galion begitu loyal ama si papih dan anaknya. Well, papih juga ngebelain rakyat silvannya pas direndahkan, sampe dia ga mau ikut White Council (Cuma fanon ya ini, buat dukung cerita). Scene Thranduil bakal ada lagi di chapter depan. 4 chapter ini terjadi waktu para kurcaci masih berada di Esgaroth. Tapi di chapter depan para kurcaci udah mulai jalan menuju gunung sunyi. Maaf mungkin agak lambat alurnya. Soalnya tiap chapter ada bagian-bagian buat ngedukung cerita selanjutnya dan kejadian-kejadian di masa lalu. Source gue dari 6 buku, (The Hobbit, Trilogy LOTR, Silmarillion, ama Unfinished Tales) jadi ga sama ama filmnya. :. Thanks udah review ya…)