Silent Angel
Cast : Xi ( Kim ) Luhan, Oh Sehun
Pairing : HunHan
Warning : Ini FF remake lagi, FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama ( Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ). Bagi yang ga suka silahkan klik 'back'!
.
.
Buat yang review sebelumnya (gothiclolita89, Chiello, dan laurenna liu), maaf banget, Irna tadi salah publish dokumennya, harusnya yang sudah diedit, lah kok ternyata yang ter-publish- itu dokumen yang aseli #BOW
Irna udah ijin kok sama author aselinya, jadi Irna gak plagiat karena Author Ebby Kim sendiri udah kasi izinnya
Sekali lagi Irna minta maaf untuk ketidaknyamanan dan kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.
.
.
So, It's HunHan for everyone^^
.
.
Happy Reading ^^
O
Dongkol?
Tentu saja!
Terpampang jelas di wajahnya yang tertekuk, tidak ada senyum sedikitpun–bahkan untuk membalas sapaan yang ditujukan untuknya oleh orang-orang sekitar yang ia lewati. Yah, memang beginilah sikap Oh Sehun bila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Demi seluruh harta keluarga Oh, ini adalah hal paling konyol dalam hidupnya. Huh? Agar mengubah sifatnya? Yang benar saja! Selama ini tidak pernah ada komplain dari pihak manapun. Hah! Pasti ayahnya sengaja! Supaya waktu bebasnya tidak bisa ia nikmati lagi. Menyebalkan sekali! Namja tampan bersorot mata tajam ini melebarkan langkahnya agar bisa cepat sampai ke tempat , Cuma sepuluh menit dan ia telah tiba didepan sebuah pintu kayu berwarna cokelat. Baiklah, tak perlu ragu. Hanya 3 jam saja dan kau bebas, Oh.
Grrr~ Sehun menggeram kesal kemudian memutar handle untuk membuka pintu tersebut. Seketika wajah-wajah lucu nan menggemaskan dengan pipi gembul terlihat. Namun tidak begitu dalam pandangan Sehun. Pemuda itu masuk kedalam ruangan yang merupakan kelas dan duduk dikursi pengajar. Menatapi satu persatu wajah dengan tatapan tajam seolah ingin menguliti bocah-bocah berumur kisaran 8 tahun itu. Manusia menyeramkan–terbukti dari beberapa anak yang kemudian menundukkan kepala juga bersembunyi dibawah meja.
"Aku Oh Sehun. Wali kelas kalian yang baru. Beri salam!" serunya lantang, membuat seisi kelas terkejut.
Serentak mereka berdiri lalu membungkukkan badan. "Annyeonghaseyo, Oh Sehun seonsaengnim."
"Bagus." Balas Sehun seram. Tanpa basa-basi iapun memulai pelajaran yang memang harus diajarkannya pada murid sekolah dasar tingkat dua. Matematika.
Yah, ini hal terkonyol itu. Mengajar murid tingkat dua sekolah dasar disekolah milik keluarganya. Sangat-sangat-sangat memalukan, sebab diapun dulu bersekolah disini. Hah.. entah apa rencana ayahnya dibalik semua ini.
"Kim Eunsun!"
Seorang haksaeng mengangkat tangannya. Sehun menaikkan sebelah alisnya karena si murid tidak menyahut panggilannya. Huh? Kenapa? Aneh sekali. Tangan itu terus memanjang keatas–sepertinya menunggu sang seonsaengnim bersuara.
Apa-apaan ini? Apa maksud anak itu? Seketika wajah Sehun mengeras disertai tatapannya benar-benar tajam dan menusuk. Jangan berani membuat masalah dengan Oh Sehun!
"Seon-seonsaengnim." Panggil haksaeng yang duduk paling depan. Ia sudah ngeri melihat raut wajah wali kelas barunya itu. Sehun melirik kemurid tadi. "Kim Eunsun tidak mau bicara."
"Huh?" muncul kerutan dikeningnya, bingung. "Wae?" tanyanya tetap dengan suara tegas menekan.
"Mo-molla. Sejak masuk sekolah dia tidak pernah bicara."
Sehun mengalihkan pandangannya pada murid yang masih mengangkat tangannya, yang duduk dibangku paling belakang. Tidak pernah atau tidak mau bicara? Diperhatikan wajah si murid –datar tanpa ekspresi. Kerutan yang sempat hilang tercipta kembali. Ada apa dengan murid itu? Ish! Kenapa sekolah ini mau menerima murid seperti itu? Menggelikan. Sekolah bertaraf internasional bukan sekolah luar biasa untuk anak-anak berkemampuan khusus atau memiliki suatu penyakit. Akan kubuat kau bicara, batin Sehun.
"Jelaskan bagaimana mengerjakan soal nomor 1."
Kim Eunsun menurunkan tangannya kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan kedepan kelas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata serta diperhatikan seluruh penghuni kelas,murid ini menulis jawaban soal yang dikatakan sang seonsaengnim dipapan tulis. Tak lama, diapun selesai. Meletakkan spidol ditempatnya lalu kembali duduk. Masih dengan muka datar, seolah tidak terpengaruh terhadap kerasnya Oh seonsaengnim.
Tatapannya kian tajam. Sungguh, ia sangat kesal. Maksud dari perintahnya agar haksaeng bernama Kim Eunsun itu berbicara bukan menulis dipapan tulis. Berani sekali! Awas saja. Tak boleh ada yang melawan Oh Sehun. Namja tampan ini terus mengumpat dalam hati.
Kepala sekolah sangat keterlaluan menerima murid begini. Mungkin murid itu bisu, pikirnya, karena tidak mungkin anak-anak yang diumurnya sedang asik berceria malah diam tanpa ekspresi. Tidak masuk akal!
"Aku menyuruhmu menjelaskan, Nona Kim, bukan menyuruhmu menulis dipapan tulis." Kata Sehun, tegas dan dingin, membuat murid lainnya menunduk takut.
Eunsun hanya diam lalu berdiri dan membungkukkan badannya seakan meminta ? Sikap macam apa itu? Sungguh diluar perkiraan Sehun kalau bocah tersebut tetap diam meski sudah dia bentak. Ternyata mentalnya kuat juga, tidak seperti anak berumur 8 tahun pada umumnya. Baiklah, ini bagai ajakan perang menurut pemuda tampan yang duduk dikursi pengajar. Dan tentu saja, Sehun akan memenangkannya. (Who knows?)
.
.
.
.
.
Sehun membanting buku pelajaran serta lainnya –absen dan buku tulis- diatas sebuah meja sehingga membuat seseorang yang sedang bekerja dibalik meja tersebut terkejut. Seorang pria berpakaian rapi. Diangkat kepalanya dan memandang Sehun heran. Meski namja bermarga Oh itu adalah anak pemilik sekolah, tapi tetap saja ia adalah kepala sekolah –jabatan tertinggi. Sedangkan Sehun hanya pengajar biasa sudah sewajarnya untuk menghormatinya 'kan?
"Wae geurae?" tanya Mr. Kim (Kim Junmyeon) berusaha bersikap tenang sebab sudah paham bagaimana prilaku pangeran Oh didepannya.
Sehun menyipitkan matanya, "Apa kau bodoh. Huh? Menerima murid bisu disekolah yang bertaraf internasional ini?"
"Bisu?" Mr. Kim mengerutkan keningnya. "Tidak ada murid bisu disini." jawab sekenanya.
"Eobseo? Lalu bagaimana dengan Kim Eunsun? Dia sama sekali tidak bicara. Kalian benar-benar tidak becus memilih murid." Oceh namja ini tak memperdulikan etika atau tata krama ditempat orang lain. Dia melipat tangannya didepan dada kemudian memalingkan muka. "Bodoh."
Mr. Kim menghela nafas sabar. "Dia tidak bisu. Hanya tidak mau bicara."
"Sama saja!" balas Sehun. "Tidak mau bicara dan bisu. Sama-sama tidak megeluarkan suara."
Sekali lagi Mr. Kim menghembuskan nafas pelan. "Oh Sehun-ssi, jweisonghamnida. Tapi Kim Eunsun adalah murid yang pintar. Meski tidak pernah bicara, tapi nilainya tidak pernah dibawah angka 8. Cobalah kau periksa bukunya. Maaf, aku masih banyak pekerjaan."
Yunho mendengus. Tentu ia mengerti maksud dari kalimat terakhir Mr. Kim. Diambilnya lagi buku-buku yang ia banting dan keluar dari ruang kepala sekolah dengan hati yang dongkol. Ia juga menutup pintu kasar sampai menimbulkan bunyi dentuman yang sanggup membuat jantung hampir lepas dari tempatnya.
Benar-benar!
O
"Sun-ie."
Yeoja kecil berpakaian seragam sekolah menolehkan kepalanya begitu mendengar panggilan barusan. Panggilan sayang dari orang yang sangat dikenalny. Tanpa menjawab atau sekedar untuk membalas panggilan tadi, Eunsun berjalan menghampiri seorang namja yang berdiri tak jauh darinya.
"Lama menunggu?" tanya namja ini sembari mensejejarkan tingginya dengan gadis cilik didepannya. Ia tersenyum lembut saat Eunsun menjawab dengan gelengan kepala."Geurae. Kajja." Katanya lalu menggenggam tangan kecil itu.
.
.
.
.
.
Meski jawaban yang diberikan lawan bicaranya itu hanya berupa anggukan ataupun gelengan, tidak masalah bagi Luhan. Ia cukup merasa senang karena gadis ciliknya tetap mendengar dan mengerti apa yang ia katakan. Yah, Luhan tidak berharap lebih. Begini saja sudah cukup. Namja cantik itu mengulum senyum sambil menyerahkan piring yang sudah disabuni pada yeoja kecil disebelahnya untuk dibilas.
"Apa tadi Sun-ie bisa menjawab pertanyaan seonsaengnim?" tanyanya kemudian melirik kesebelah kanan.
Kim Eunsun mengangguk sembari membasuh piring lalu meletakkannya pada rak piring kecil dekat wastafel.
Luhan tersenyum lagi. Walau sudah terbiasa, tapi tetap saja ada rasa sakit menggeluti relung hatinya. Ia sangat ingin mendengar suara Eunsun dan bersenda gurau. Tapi... Ah, seperti mimpi yang terlalu tinggi. Ia sendiri pun sudah tidak ingat kapan Eunsun mulai tidak mau bicara.
"Kalau nilai Sun-ie bagus semua, apa Sun-ie ingin hadiah?" Luhan menoleh lagi. Gadis cilik itu mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan Luhan. Ia menggeleng sebentar lalu membasuh piring lagi.
"Wae?"Jawabannya selalu sama, gelengan kepala jika Luhan bertanya tentang keinginan yeoja kecil itu.
Memang keuangan mereka tidak begitu memadai, tapi Luhan akan berusaha untuk mewujudkan keinginan putri kecilnya. Namun,Eunsun tak pernah meminta apa-apa. Gadis kecil itu Cuma memberikan senyum kecil pada namja disebelahnya. Yang bisa Luhan lakukan hanya menghela nafas, gadis ciliknya sedikit banyak menuruni sifatnya yang selalu tidak mau merepotkan orang lain.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam. Eunsun terjaga tiba-tiba dari tidurnya, bukan karena apa-apa, hanya terbangun begitu saja. Walau masih sangat mengantuk, ia mendengar suara-suara aneh dari luar kamarnya. Pelan-pelan dia turun dari ranjang lalu berjalan keluar kamar. Ketika membuka pintu, matanya langsung menangkap seseorang sedang duduk dilantai tengah mengerjakan sesuatu. Eomma-nya.
Seseorang yang ia panggil Eomma (dulu). Meski ia tahu bahwa orang yang ia sebut eomma adalah seorang namja. Iapun sebenarnya tidak mengerti kenapa ibunya seorang namja? Bukankah bila namja seharusnya dia panggil "Appa". Tapi karena sejak bayi ia terus bersama Luhan dan Luhan juga memanggil dirinya sendiri "Eomma" jika mereka tengah berdua saja, ia terbiasa dengan panggilan itu dan tidak pernah mempersalahkannya.
Walau ibunya seorang namja, yang Eunsun tahu, Luhan adalah ibu terhebat didunia. Ia sangat menyayanginya. Orang yang selalu berada disampingnya, menghibur dan menemaninya sepanjang waktu. Bibir merah miliknya, yang diwariskan dari Luhan, melengkung manis. Tersenyum karena bangga memiliki ibu yaitu Luhan dan bukan orang lain. Melihat Luhan masih bekerja tengah malam begini membuatnya sedih. Jam berapa namja yang memiliki wajah rupawan serta cantik itu akan tidur? Jika jam 4 pagi bangun untuk mengerjakan pekerjaan rumah, maka jam berapa dia istirahat?
Memikirkannya membuat Eunsun tambah sedih. Gadis kecil itu menghela nafas dan memandang intens punggung Luhan. "Jaljayo, eomma..." ucapnya lirih.
O
"Harus berapa kali kukatakan, baca soal nomor 5, Kim Eunsun!" suara teriakan Sehun menggema didalam kelas hingga keluar.
Semua murid menundukkan kepalanya karena takut, termasuk Eunsun yang menjadi sasaran sang seonsaengnim. Ya, beginilah keadaan kelas yng diawasi Sehun, setiap hari penuh dengan teriakan dan kata-kata yang terbilang kejam untuk anak-anak. Para seonsaengnim atau murid yang melewati kelas ini mesti spot jantung karena suara keras dari dalam. Tidak ada yang berani menegur atau sekedar memberi tahu si pemuda Oh tentang kekerasannya, sebab statusnya sebagai anak pemilik sekolah.
Eunsun hanya diam. Dia takut. Kenapa Oh seonsaengnim terus memarahinya? Hanya dirinya? Apa karena dia tidak mau bicara? Oh seonsaeng, jebal...Gadis kecil ini terus mengucap doa dan harapan dalam hati, semoga amarah Oh seonsaeng cepat reda.
"Tch!" Sehun mendengus keras. Kesabaranya hampir habis. Sudah seminggu, tapi murid bernama Kim Eunsun itu tetap tak mau mengeluarkan suaranya. Bukan hal penting memang, tapi bagi Sehun ini merupakan sebuah pelecehan untuk citra sekolah juga keluarganya –Oh- yang tergolong dalam keluarga berpengaruh di Seoul.
Kenapa Mr. Kim menerima murid itu? Hanya karena pintar? Huh, lebih baik tak usah sekolah kalau memang pintar!
"Ku hitung sampai lima, kalau kau masih tidak mau membacanya, dengan senang hati aku akan mengeluarkanmu dari sekolah ini!"
BRAK!
"Sehun-ssi!" Semua penghuni kelas terkejut dan langsung memandang orang yang membuka pintu secara kasar sekaligus berseru kuat. Para murid tampak ketakutan sementara Oh seongsaeng membuang muka, malas. Penganggu, batinnya. Mr. Kim masuk kedalam kelas, berdiri disebelah Sehun yang seakan tak gentar. Sungguh, kesabarannya sudah habis. Bila cara mengajar Sehun seperti ini, sama saja dengan menghancurkan mental anak-anak. Beliau benar-benar tidak habis pikir.
Selama ini cerita dari mulut kemulut para seonsaeng dan murid hanya ia anggap kabar kabur. Tapi setelah tak sengaja mendengarnya sendiri, Mr. Kim amat geram.
"Ikut aku!" katanya tegas sambil menarik tangan Sehun keluar dari kelas. Semua menghembuskan nafas lega setelah kepergian Mr. Kim dan Oh seonsaeng. Yang tadi benar-benar menegangkan! Apa lagi ancaman dikeluarkan dari sekolah. Oh, jangan sampai! Murid-murid yang lain menoleh untuk melihat keadaan Eunsun. Yeoja kecil itu menundukkan kepalanya. Shock! Tentu saja. Siapa yang tidak kaget mendengar kalimat amat mengerikan begitu, apalagi anak berumur 8 tahun yang belum banyak mengerti hal-hal seperti itu.
Seketika Eunsun langsung membayangkan namja cantik yang adalah ibunya. Bagaimana nanti jika ibunya tahu? Ia tidak ingin mengecewakan orang yang paling disayanginya. Semoga saja tidak terjadi.
"Eunsun-ah... Gwenchanayo?" tanya teman sebangku Eunsun. Gadis kecil ini mengangkat kepalanya, memperlihatkan muka tanpa ekspresi yang selalu terpasang diwajahnya. Dia mengangguk.
"Jeongmalyo? Ah... semoga saja Oh seonsaeng cuma min-main, tidak sungguhan!" kata salah seorang murid yang jarak bangkunya berdekatan dengan Eunsun.
"Ne! Oh seonsaeng sangat kejam! Huh... aku tidak suka." Timpal yang lain.
"Nado. Oh seonaeng jahat!"
"Sangat jahat!"
"Mengerikan!"
Merekapun saling menimpali mengucapkan kekesalan untuk si wali kelas. Mereka juga tidak nyaman diajari dengan cara seperti itu dan merasa kasihan pada Eunsun yang selalu menjadi bulan-bulanan Oh seonsaeng. Entah apa salah gadis manis itu sampai wali kelas mereka tak pernah absen untuk membentak ataupun memarahinya. Keterlaluan. Tak berapa lama, bel tanda jam belajar-mengajar telah usai berdering. Akhirnya mereka bersiap-siap untuk pulang.
.
.
.
.
.
"Kau juga tidak tahu apa-apa tentang Eunsun, jadi jangan sembarangan menghakimi orang lain. Aku minta kau ubah cara mengajarmu. Semua anak didikmu ketakutan." Mr. Kim berlalu meninggalkan Sehun dikoridor. Beliau lelah, sungguh. Sebenarnya tidak enak karena status pemuda itu, tapi mau bagaimana lagi supaya sikap Sehun berubah.
Sakit hati. Ya, Sehun sangat sakit hati karena Mr. Kim. Seenaknya saja. Hey, dia ini pewaris utama seluruh aset keluarga Sehum. Bahkan sekolah ini sebentar lagi akan berubah menjadi tanggung jawabnya. Dia bisa langsung memecat Mr. Kim dan membuat pria itu tak punya pekerjaan untuk selamanya. Ish, menyebalkan. Baru menjabat sebagai kepalas sekolah saja sudah berani menegurnya.
"Lihat nanti, akan kubuat kau menyesalinya, Pak Tua. Cih!" decisnya kesal. Karena tidak ada hal yang harus dikerjakannya lagi, bel pulangpun sudah berbunyi, Sehun melangkahkan kakinya kembali kekelas untuk mengambil tasnya.
Dia akan menemui temannya saja untuk membuang suntuk. Saat sedang berjalan dikoridor, tak sengaja matanya melihat kearah gerbang sekolah dimana seorang haksaeng yang tidak disukainya berdiri. Seperti sedang menunggu jemputan. Oh, baiklah.
Mari kita lihat bagaimana orang tua dari anak menyebalkan itu. Sehun berhenti dan fokus memperhatikan Eunsun. Tak lama, muncul seorang namja mengenakan kaos lengan panjang dipadukan jeans longgar dan tas selempang menghampiri si gadis kecil lalu berjongkok untuk mensejejarkan tinggi mereka.
Rasanya... familiar. Wajah itu tak asing bagi Sehun. Tapi, dia tidak ingat. Siapa namja itu?
O
"Jja... ini untuk Sun-ie." Katanya sambil memberikan sebuah lollipop pada gadis kecil didepannya. "Tak lama kan? Hm, hari ini aku sengaja pulang cepat karena ingin membuat samgyetang kesukaan Sun-ie. Eottae? Joha?" celotehnya ceria, memamerkan senyum manis diwajah cantiknya.
Lengkungan kecil tercipta dibibir mungil Kim Eunsun sambil menerima lollipopnya. Dia mengangguk semangat. Memang jarang sekali dia punya waktu untuk dihabiskan bersama Luhan karena pekerjaan ibunya sebagai bendahara sekaligus koki disebuah restaurant tradisional. Bukan pekerjaan mudah.
"Geuraesseo. Kajja dorawa!" mereka bergandengan tangan pergi meninggalkan area sekolah.
Deg
Seperti ada sebuah bom yang baru saja meledak dalam dadanya, Sehun terkejut begitu bayangan masa lalu terlintas dipikirannya. Be-benarkah? Lalu... anak itu? Tiba-tiba otak Sehun kosong. Ia tidak bisa memikirkan apapun. Berdiri bak patung dengan muka shock.
Rasa pusing langsung menyerang ketika ia baru membuka matanya. Sakit sekali. Pelan-pelan digerakkan tubuhnya untuk duduk kemudian melihat ruangan dimana ia berada. Asing. Dekorasinya berbeda dari kamar miliknya. Ini dimana? Pikir Sehun. Sakit dikepalanya tak juga reda. Ah, mungkin akibat pesta semalam. Ia terlalu banyak minum.
Saat bangkit dari ranjang, samar-samar ia mendengar suara air dari kamar mandi dalam ruangan ini. Tentu, tiap kamar memiliki fasilitas toilet wajib. Siapa? Tidak tahu. Sewaktu turun dari ranjang, pemuda tampan ini baru menyadari bahwa ia tidak mengenakan pakaian. Sontak matany membelalak panik. Mana pakaiannya? Tanpa pikir panjang iapun mengobrak-abrik seluruh kamar dan menemukan semua pakaiannya tergeletak disebelah ranjang. Cepat-cepat Sehun memakainya kemudian langsung keluar. Ia tidak mau dapat masalah atau apapun kalau terlalu lama disini.
.
.
.
Wajah yang menjadi bahan bisik-bisik para namja di Seoul University tampak amat muram. Meski selalu ditutupi kacamata, biasanya terlihat ceria. Namun belakangan ini tak pernah terbentuk senyum dibibir merah merekah itu. Makin banyak yang membicarakannya, tak hanya para mahasiswa, kyusungnim pun ikut bergosip. Tak ada yang tahu kenapa si pemilik wajah cantik bernama Kim Luhan kian tertutup dan jarang bergaul.
Pemuda tampan bermata bak elang yang tengah menikmati makan siangnya dikantin tanpa sengaja melihat kearah dimana Luhan duduk. Namja yang memiliki wajah rupawan serta kulit putih tak bernoda hanya sendirian dimeja kantin yang panjang. Mungkin yang lain tidak enak bila menganggu Luhan dalam keadaan begini. Mata Sehun masih setia memandangi namja cantik itu.
'0226. Nomor kamar Kim Luhan.'
Perkataan salah seorang temannya terngiang. Kamar Kim Luhan, kamar dimana ia terbangun tanpa busana. Apa mungkin...
ah~ Kim Luhan seorang namja! Haha! Dia pasti sudah gila melakukannya dengan namja itu, meski Luhan memang cantik. Sehun menghembuskan nafas. Tidak!
.
.
.
Ish! Sehun benci sekali. Penting apanya? Pasti hanya ingin mengatakan sesuatu tentang waktu itu. Hah, sudah lebih dari tiga bulan, kenapa masih dipermasalahkan? Dilupakan saja tidak susah. Ya, memang dua minggu setelah kejadian itu Luhan menemuinya dan mengatakan apa yang terjadi. Karena mereka sesama namja, Sehun menyuruh Luhan untuk tak terjadi apa-apa.
Namja tampan ini terus menunjukkan ketidaksukaannya pada namja disebelahnya yang Cuma diam –belum mengatakan apapun. Ya, Luhan mengajak Sehun bicara dilorong sepi dibelakang asrama Seoul University.
Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, sampai beberapa kali. "A-ku... ingin... menga-takan... se-sesuatu..."
"Tidak usah bertele-tele! Apa maumu?!" balas Sehun cuek tak mau melihat kearah Luhan. Malas.
"Ka-karna ma-ma-malam itu..." ujar Luhan terbata. Sungguh, rasanya jantungnya akan meledak akibat berdetak terlalu kencang. Tapi Luhan sudah bertekad akan bicara.
Oke! Benar pikirannya, kan? Pasti mengenai malam itu. Apa lagi yang mau dibahas? Sudah terjadi, ya terjadi. Tak perlu dibicarakan. Hah! Menyebalkan.
"A-aku... aku... a-ak-aku... hamil."
Mata Sehun membulat, "MWO?!"
Kepala Luhan tertunduk takut.
Dia tidak salah dengar, kan? Apa katanya? Hamil? Oh~ Sehun mendecih. "Ya! Kau pikir aku bodoh? Mwoya?! Hey! Kau ini namja! NAMJA! Namja tidak bisa hamil!"
Nyut~
Sakit!
Luhan pun tahu itu. Perlahan tangannya terulur menyerahkan sebuah amplop yang sejak tadi dipegangnya kepada Sehun. Namja tampan itu melirik sebentar, dengan wajah yag ditekuk, direbutnya amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah surat berlabel sebuah rumah sakit. Dibacanya tulisan yang tertera disurat dan kembali matanya melotot membaca kesimpulan dibagian akhir.
Positive. Male pregnant.
"Ya!" antara tidak percaya dan shock. "Lelucon macam apa ini?! Maksudmu kau hamil karena aku? Begitu?" cecar Sehun mulai emosi. Dilemparnya kertas dan amplop tadi kearah Luhan. "Jangan becanda! Meskipun kau benar-benar mengandung, aku yakin bukan karena aku! Kau pasti sudah tidur dengan banyak namja! Ya, 'kan?! Hah... menyebalkan! Karena tidak ada yang mau bertanggung jawab, jadi kau mendatangiku. Memanfaatkan kejadian malam itu."
Sehun memandang remeh pada Luhan. "Kalau tak ada yang menginginkannya, gugurkan saja." Katanya lalu melangkah pergi. Tak peduli bagaimana keadaan namja cantik itu yang kemudian wajahnya dibanjiri airmata.
"Male pregnant? Apa-apaan itu? Mana ada yang begitu! Cih, menjijikkan!" cibir namja Oh ini sambil berjalan –menambah tusukan pisau dihati Luhan.
.
.
.
.
.
"Kim Luhan... Kim Eunsun..." ucap Sehun sembari memainkan gelas berisi minuman mengandung alkohol ditangannya. Marga sama. Benarkah berhubungan? Apa ia hanya salah lihat atau bagaimana? Tapi tidak mungkin. Jelas-jelas dia sempat memperhatikan kedua orang itu.
Kim Eunsun. Apa dia benar-benar... entahlah, Sehun tidak tahu. Lagipula sudah sangat lama. Pasti tidak. Mungkin itu anak Luhan dengan orang lain. Yah... begitu. Tapi kenapa dirinya bereaksi begitu? Kenapa pula hatiya seolah-olah berseru Kim Eunsun adalah darah dagingnya? Ah~ pasti karena bayang-bayang masa lalu. Tak mau memikirkannya lagi, Sehun segera meneguk minumannya sampai habis.
TBC
RnR jusaeyo
