Silent Angel

Credit to Ebby Kim ( m. fanfiction s/9722918/1/Silent-Angel ) hilangkan spasi

Cast : Xi ( Kim ) Luhan, Oh Sehun

Pairing : HunHan

Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama ( Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).

.

.

Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back'aja! Karena saling menghargai itu indah^^

.

.

Happy Reading ^^

Chapter 2

Ada yang berbeda dari Oh Sehun pagi ini. Biasanya dia akan terlihat sangar, cara berjalan tegap dan terlihat sombong. Tapi sekarang... wajahnya tampak muram, dengan kepala yang sedikit tertunduk dan cara berjalannya seperti orang tak bersemangat.

Murid-murid yang harus diajarnya pun ikut keheranan. Aneh sekali. Ada apa dengan Oh seonsaeng? Sehun duduk dikursi pengajar.

"Buka halaman 35! Kalian baca sebentar, nanti kujelaskan." Mereka berpandangan bingung. Bahkan Oh seonsaeng tak menatap kearah mereka.

Eunsun yang melihat keadaan aneh wali kelasnya sedikit merasa bersalah. Apa karena kemarin? Kepala sekolah memarahi Oh seonsaeng, makanya wali kelasnya itu tampak tidak bersemangat.

Sehun menghembuskan nafas berat. Walau telah berusaha tidak memikirkan apapun yang membuat pusing, tetap saja dia terus terbayang-bayang wajah seorang namja cantik yang ingin dilupakannya. Sampai dia tidak bisa menutup mata semenitpun, membuatnya amat kelelahan. Terlebih sekarang dia harus berhadapan dengan Kim Eunsun.

Kenapa? kenapa hatinya... seakan meminta untuk berdekatan dengan gadis kecil itu?

Tidak!

Sehun menggeleng kuat. Itu tidak benar. Hah, tak ingin memikirkan malah otak dan perasaannya kian bekerja keras. Sehun tidak mengerti dirinya sekarang, semakin menyangkal, ia semakin kehilangan jati dirinya sebagai seorang Oh Sehun yang selama ini ia pertahankan.

Hah... Benar-benar!

Lihat, semangatnya menurun drastis. Padahal biasanya hanya berkumpul dengan temannya di club bisa membuatnya kembali sebagai Oh Sehun.

Namun, sudah 3 hari –juga telah melakukan aktivitas pembangkit(?) semangat- tetap saja tidak ada perubahan. Malah Sehun semakin lemas. Dia tidak mengerti. Bayangan wajah namja cantik dan gadis kecil itu terus bergentayangan dalam otaknya walau dia sedang tidak tidur. Terlebih setiap hari dia harus terus mengajar dikelas si yeoja kecil.

.

.

.

"Ya!"

Sehun terkejut. Suara siapa itu? Digerakkan tubuhnya untuk melihat sekeliling, -koridor- tak ada siapapun selain dirinya. Lalu...

"Pinjam!"

"Jangan pelit! Berikan pada kami!"

"Ish! Neo!"

Cepat-cepat Sehun melangkah mencari sumber suara teriakan barusan. Dari suaranya seperti sedang terjadi sesuatu dan anehnya dia khawatir. Tidak memusingkan perasaan yang mulai menyebar ketubuhnya, Sehun terus berjalan hingga dengan mata bak elang miliknya melebar melihat sebuah pemandangan yang bisa dikatakan mengerikan.

Disana... gadis yang kerap kali muncul dalam pikirannya belakangan ini... didorong, ditarik, bahkan dipukuli oleh murid namja yang sepertinya bukan teman sekelasnya.

Kim Eunsun mencoba mempertahankan tasnya yang ditarik tiga orang murid namja. Raut kesakitan terlihat jelas diwajahnya. Amarah Sehun seakan tersulut. Dengan nafas memburu, didekatinya keempat murid itu.

"Hey!" teriaknya lantang, membuat tiga murid namja itu terkejut lalu melepaskan tas Eunsun sehingga si yeoja kecil terjatuh ketanah. Bukan tak mau menolong, tapi Sehun ingin menghukum ketiga murid brandal didepannya terlebih dahulu.

"Apa yang kalian lakukan, heh! Mencoba menjadi preman?!" Ketiga murid namja tersebut menunduk. Takut.

"Masih kecil tapi sudah menjadi brandal. Apa orang tua kalian tidak mendidik kalian dengan benar?! Bukan begitu caranya meminjam!"Sehun sadar kalau kalimat yang dia keluarkan dapat ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Cepat minta maaf!" Dengan wajah yang tertunduk ketiga murid ini mengulurkan tangan pada Eunsun yang telah berdiri sambil memeluk erat tasnya. Raut takut bercampur kesal terampang jelas diwajah yeoja kecil itu.

"Mianhae..." ujar mereka bertiga bersamaan. Eunsun menyambut uluran ketiga tangan itu dengan perlahan.

"Pergilah!" suruh Sehun. Setelah bocah-bocah nakal tadi pergi, dihampirinyaEunsun yang tetap berdiri sembari mendekap tasnya. Aneh... melihat wajah ketakutan yeoja kecil itu seperti ada duri yang menancap dikulitnya.

Perih.

"Gwechanayo?" Eunsun menatapSehun. Ia megangguk. Tapi namja tampan ini tidak percaya sebab tadi Eunsun terjatuh. Diperhatikannya seluruh tubuh yeoja kecil tersebut secar teliti. Rok seragam kotor karena debu dan... lutut kanannya berdarah. Luka.

"Ah, kajja. Kakimu terluka." Kata Sehun kemudian menarik tangan gadis kecil itu..

.

.

.

"Nah, sudah selesai." Ucap Sehun senang. Memamerkan seulas senyum yang jarang –bahkan tidak pernah- ia perlihatkan. Ditatapnya Eunsun yang juga sedang memandangnya. Mata besar dengan intan hitam didalam benar-benar persis seperti mata milik namja cantik bernama Kim Luhan.

Seakan dia terjebak kedalam fokus intan hitam tersebut. Ini pertama kalinya ia melihat mata seindah itu dan Sehun tak segan mengakuinya. Warna kelamnya sungguh menawan. Dapat dilihatnya pantulan dirinya dimata itu. Wajahnya yang menunjukkan keterpesonaan.

Eunsun... Kim Eunsun –Kim Luhan.

Nama itu terbesit. Sekali lagi mengingatkan serentetan kalimat menyakitan yang pernah dia lontarkan pada si pemilik nama. Sekarang hatinya ikut berdenyut. Ditambah menatap langsung fotocopy dari Kim Luhan. Meski keraguan tetap ada, tidak bisa dipungkiri hal seperti rasa rindu siap menyebar keseluruh tubuhnya. Sehun ingin memeluk gadis kecil didepannya, mendekap erat lalu mencium keningnya. Hhh...Tidak. Belum.

Sedikit merasa risih karena tatapan Oh seonsaeng yang begitu intens, Eunsun beranjak dari duduknya. Luka kecil dikakinya sudah diberi obat merah dan plester oleh Oh seonsaeng. Ia membungkukkan badan pertanda terima kasih lalu berjalan pelan menuju pintu. Ternyata Oh seonsaeng baik, mau mengobatinya. Senyum kecil tercipta dibibirnya.

Sehun tersadar ketika murid yang kemarin amat dibencinya berjalan keluar ruang UKS. Melihat punggung kecil itu, ia teringat semua kata kasar dan bentakan untuk Eunsun. Menyesal? Mungkin. Tak tahu. Hanya seperti tak enak hati.

"Eunsun-ah..." Kim Eunsun berhenti dan membalikkan badan. Menatap Sehun dengan pandangan bertanya. Menunduk.

"Mianhae... Maafkan aku." Kemudian memandang Eunsun. "Tidak seharusnya aku menghakimimu. Karena tak suka, lantas membencimu begitu saja. Maaf."

Kaget?

Hm! Tak menyangka seonsaeng yang sejak awal terus memaki, membentak bahkan mengancamnya akan meminta maaf. Eunsun sangat lega mendengarnya. Terima kasih, Tuhan... Oh seonsaeng tak kasar lagi, batinnya. Bukan senyum tipis, melainkan senyum lebar terpatri dibibir merahnya. Ia mengangguk, mau memaafkan gurunya itu.

Melihat senyum amat manis tercipta diwajah cantik itu membuat Sehun terpana. Benar-benar mewarisi kecantikan alami milik sang ibunda. Lagi, namja Oh ini memamerkan senyumnya. Sekarang dadanya terasa sedikit lapang. Ada beban yang perlahan menghilang.

O

Hap!

"Omo~!" hampir saja Luhan terjatuh karena terkejut. Tapi kemudian ia terseyum kembali meletakkan bingkai foto yang baru ia bersihkan dan memegang sepasang lengan kecil yang melingkari pinggangnya. Senyumnya makin lebar ketika mendapati seorang yeoja kecil berdiri dibelakangnya. Luhan berjongkok.

"Wae?" tanyanya. Bukan gerak-gerik untuk menjawab pertanyaannya seperti biasa yang Luhan dapat, tapi sebuah pelukan yang membuatnya merasa hangat. Eunsun memeluknya dengan erat. Walau tak tau kenapa gadis kecilnya melakukan ini, tapi Luhan balas mendekap tubuh mungil itu. Mencoba meresapi bagaimana perasaan Eunsun.

"Wae? Hm?" tanyanya lagi. Terasa gerakan menggleng dibahu kanannya. Aneh, kening namja cantik ini mengkerut. Tidak biasanya Eunsun bersikap seperti ini. Apa ada sesuatu? Luhan melepaskan pelukan mereka dan menatap wajah fotocopy-annya sendiri.

"Ada apa?" sekali lagi sambil menyelipkan sedikit rambut Eunsun kebelakang telinga.

Eunsun menggeleng sebentar lalu membuat beberapa gerakan tangan dan kembali melingkarkan lengannya dileher Luhan. Lebih erat seakan tak mau terlepas. Sementara namja cantik itu terenyuh atas apa yang baru ia lihat. Bagai hujan berlian dalam dadanya, ia bahagia sekaligus haru. Cepat-cepat ia balas pelukan itu.

'Aku... akan memberi kesepatan untukmu melihat dunia.'

Luhan mengucap syukur dalam hati. Kalimat itu bagai mantra dan sekarang dia tidak menyesali tindakan mempertahankan kandungannya dulu, hingga bayi perempuan lahir kemudian dia beri nama Kim Eunsun. Emas didalam kebaikan dan rahmat, artinya. Senyum merekah dibibir merahnya , mendekap lebih erat lagi sambil terus membatin betapa senangnya ia.

"Nado... Nado saranghae..."

"Nan neo saranghae." (Aku menyayangimu.)

O

Mr-Mrs. Oh dan Jinri terus melempar pandangan bingung seakan bertanya 'Ada apa?', 'Kenapa?' satu sama lain. Sejak tadi kerutan dikening yang muncul belum menghilang, malah makin bertambah karena tak mendapat jawaban dari kebingungan mereka. menyenggol lengan Jinri yang duduk disebelah kirinya lalu melirik kearah seorang namja yang tampak termenung.

Jinri mengangkat bahu –tak tahu. Dia melanjutkan makannya yang tertunda, tapi sekali lagi dia menoleh kesampingnya. Ish! Namja itu benar-benar! Belakangan ini sering melamun saat makan. Entah itu sarapan atau makan malam. Terus saja hanya membiarkan makanannya dingin tak tersentuh dan berakhir ditempat sampah. Ia tak tahu apa yang terjadi pada kakaknya itu. Sikapnya berubah tidak seperti biasanya.

Risih melihat Sehun tak kunjung bergerak, akhirnya dia menepuk pipi namja tampan tersebut hingga terkejut kemudian menatapi ketiga orang yang mengelilinginya tengah memandang kearahnya penuh selidik. Sehun memperbaiki posisi duduknya lalu menunduk dan mengaduk-aduk makanan dalam piring miliknya. Mr-Mrs. Oh dan Jinri menghela nafas lelah.

"Ya! Oppa! Wae geruraesseo kenapa kau tidak memakan makananmu, huh?!" sentak Jinri kesal.

Sehun mendongak, "Uh –oh?" menatap makanannya lagi. "Aku... tidak selera." Katanya lalu meletakkan sendok kemudian bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan.

"Hey! Ya! Oh Sehun!" Jerit Mrs. Oh yang diabaikan pemuda tampan itu."Hash! Anak itu! Keterlaluan."

"Ada apa dengannya?" Mr. Oh membuka suara, Mrs. Oh meletakkan sendok miliknya.

"Hah...! entahlah... prilakunya seperti brandal membuat pening. Sekarang dia bertingkah layaknya anak baik tapi suka melamun pun salah. Aku pusing. Huh!" keluhnya sambil memijit keningnya.

"Oh Jinri, mulai sekarang ikuti Oppa-mu kemanapun dia pergi. Cari tahu apa yang membuatnya berubah begini. Arra?!" Jinri merengut.

"Andwae! Aku punya kehidupanku sendiri. Tidak mau!"

"Ya!" jerit Mrs. Oh kesal. "Apa kau mau nama keluarga kita tercoreng karena Oppa-mu itu tiba-tiba gila?" Pipi yeoja cantik ini mengembung. Dia pun tak mau. Huh, Oppa-nya itu keterlaluan. Jinri menunduk, menyerah. "Arra~"

O

Bel tanda jam pelajaran selesai –berganti waktu istirahat- baru saja berdering, membuat murid-murid yang sedang belajar berorak senang. Mereka pun merapikan buku serta alat tulis, lalu segera keluar kelas untuk bermain atau pergi kekantin.

Dikelas 1 –tepatnya dimana seonsaengnim paling tampan mengajar- Oh seonsaengnim- ada satu murid yang masih berkutat denganbuku pelajarannya. Tak menghiraukan kelas yang hampir kosong, ia tetap mengerjakan tugas dari seonsaengnim.

Sehun yang belum beranjak dari kursinya cuma memperhatikan dalam diam. Anak itu... kenapa berbeda dengan anak lainnya? Sendirian. Biarpun anak-anak lain tak memusuhi atau mengucilkan karena sikap pendiamnya, ia tetap tak ikut bergabung, aneh. Dan entah dari mana datangnya sesuatu yang membuat Sehun merasa tak nyaman melihat keadaan gadis kecil begini.

Apa mungkin...?

Namja tampan ini beranjak dari bangkunya kemudian berjalan menuju meja si murid yang tengah sibuk –tak sadar kalau sang seonsaengnim terlah berdiri didekatnya. Sehun menarik sebuah kursi lalu duduk disebelah Eunsun. Melihat kearah buku yeoja itu.

"Ada yang tidak kau mengerti?" tanyanya setelah memperhatikan agak lama. Gadis ini mendongak –tekejut- karena Oh seonsaengnim duduk samping kanannya. Apalagi jaraknya dekat begini, membuat jantungnya bagai diserang ribuan vot listrik- amat kaget. Namun, yeoja kecil ini bisa dengan cepat mengendalikan dirinya. Ditatapnya buku tulis didepannya lalu mengangukkan kepalanya.

"Tunjukkan." Telunjuk kecil itu memanjang, menunjuk sebuah soal mengenai perkalian. Sehun mengambil alih buku tulis Eunsun lalu mulai menuliskan angka-angka diatasnya.

"Kau harus mengurutkan sesuai angka didepannya dan jumlahkan. Seperti ini. Jadi... hasilnya 20." Eunsun mengangguk paham sembari memperhatikan coretan tangan Oh seonsaengnim. Yah, dia mengerti sekarang.

"Ada lagi?" tanya Sehun. Tak tahu mengapa, dia jadi bersemangat mengajari Eunsun. Senang dan lega sekali.

Yeoja tersebut menggeleng dengan senyum cerah menghiasi wajahnya. Hm, belakangan ini dia makin sering tersenyum dengan Oh seonsaengnim. Apa Oh seonsaengnim sudah berubah? Pasti. Dan Eunsun sangat mensyukurinya.

Terima kasih, Tuhan, batinnya.

Bayangan wajah namja cantik bernama Kim Luhan kembali muncul dalam kepalanya kala melihat senyum milik Eunsun. Sama persis. Sempat terpikir olehnya, kenapa mereka sangat mirip? Kenapa Eunsun harus memiliki wajah bahkan senyuman dari Luhan? Ah, tapi itu bukan urusannya. Sehun meletakkan tangan kirinya dipuncak kepala Eunsun lalu mengusap sambil tersenyum kecil. Meski begitu, Eunsun adalah anak Luhan, seseorang yang ada dalam hidupnya –walau entah sebagai apa.

Walau sudah sering bermanja-manjaan, dipeluk atau apapun dengan ibunya, Eunsun belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Amat tenang dan seolah ketagihan, ingin disentuh begitu lagi. Merasakan kasih sayang seorang ayah dalam usapan pelan ini. Ia pun terpesona melihat wajah Oh seonsaeng dari dekat ternyata sangat tampan. Dengan mata bak elang, hidung yang mancung, serta senyum manis. Seandainya Oh seonsaengnim sebaik ini sejak awal. Terenyuh, terpesona –dan entah apalagi kata yang cocok untuk menggambarkan bagaimana keadaan batinnya saat ini.

Melihat dua wajah yang sangat mirip tengah berbagi senyum hangat. Senyuman yang menyiratkan rasa sayang yang mampu membuat siapapun iri, yah, termasuk Sehun. Tak hanya iri, hatinya terus bergolak dihantui masa lalu dan kenyataan akhir-akhir ini. Dia sungguh ingin mendekatkan diri dengan mereka...

Tapi...

Kesalahan atau perbuatannya dulu tak mungkin terhapus meski telah berlalu. Namanya luka hati, pasti meninggalkan bekas.

Kim Luhan.

Kim Eunsun.

Kenapa kalian muncul mengganggu hidupku? Kehadiran kalian bagai racun mematikan yang siap menghilangkan nyawaku. Masa lalu yang telah terkubur didasar kembali kepermukaan –ditempat paling atas. Sampai tidurku tak tenang. Apa ini karma? Sontak mata Sehun membulat ketika pertanyaan tadi terbersit diotaknya.

Karma...

Makanya hatinya tak pernah tenang setelah melihat namja berparas cantik digerbang sekolah saat tengah menjemput seorang murid.

Karma... Mungkin benar, karma..

.

.

.

"Grrr!" erang Sehun sembari bangkit dari posisi berbaring dan mengucek rambutnya. Dia tampak sangat frustasi.

"Gah! Kenapa tidak bisa hilang? Kenapa harus terus muncul dalam kepalaku! Tak seharusnya aku memikirkan mereka. Bukan urusanku!" kesalnya pada diri sendiri. Menghembuskan nafas kasar lalu membanting tubuhnya ke ranjang.

Semakin lama, bayangan itu semakin jelas. Terus mengembalikannya kejaman 9 tahun yang lalu. Melihat bagaimana dulu perangainya yang ternyata sangat 'mengerikan'. Pantas ayahnya mengambil sikap begitu. Memang perilakunya dibawah standar manusia baik. Tak hanya tindakan, dari perkataan pun ia amat keterlaluan.

Hah... Sehun baru merasakan rasa bersalah yang sangat besar. Menganggu pikiran dari hati nurani. Lagi –entah yang keberapa kalinya- namja ini menggeram sembari menjambak rambutnya. Ia berteriak layaknya orang kesetanan. Ngeri. Nafas Sehun memburu.

Kenapa harus Luhan?

Kenapa pria berwajah cantik itu yang ia 'sentuh'? Kenapa pula ada istilah 'Male Pregnant' didunia ini?

Lalu... Apa bayi itu telah dilahirkan atau...?

Sehun tak berani berpikir jauh lagi. Tapi yeoja kecil bernama Kim Eunsun...? Hah... dihembuskan nafas kasar. Tiap malam Sehun tak akan bisa tidur. Pikirannya terus melayang-layang, memikirkan hal yang sama –yang tak kunjung terselesaikan. Menjadi beban. Mungkin sebentar lagi ia akan jadi gila karen hal ini. Hhh... kenapa jadi begini?

"Kim..." gumamnya dengan pandangan lurus kelangit-langit kamar sambil membayangkan wajah namja cantik tadi..

Kening Jinri berkerut. Tingkah kakaknya benar-benar seperti orang gila. Berbicara dan menyakiti tubuhnya sendiri. Ah, aneh. Dia pun ikut stress melihatnya. Huh~! Jinri menutup pintu kamar Sehun yang dia buka sedikit guna mengintip –ingin tahu apa yang tengah dilakukan kakaknya itu. Dia menghela nafas sebentar. Um... tadi dia sempat mendengar kakaknya menyebut Kim. Kim... adalah marga. Kim... siapa? Siapa orang yang dimaksud Sehun? Gahh! Tidak tahu. Karena namja itu, dia jadi pusing. Jinri menggerutu kemudian pergi dari depan kamar Oh Sehun.

O

"Hm... hm... hm..." selesai menyenandungkan sebuah lagu, Luhan meletakkan selimut yeoja kecil yang telah terlelap. Dia tersenyum melihat wajah damai anaknya. Sebelum beranjak dari ranjang kecil itu, disempatkannya untuk mengecup kening Eunsun. Dia pun lelah. Tubuhnya terasa remuk akibat pekerjaan yang padat. Beginilah menjadi ibu rumah tangga merangkup tulang punggung keluarga.

Luhan masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya. Melihat pantulan dirinya dari cermin. Kantung matanya membesar, kulit wajahnya mulai mengendur, tampak lelah dan kusam.

Inilah Kim Luhan sekarang.

Bila diingat sejak Eunsun lahir, dia tak pernah lagi mengurus dirinya. Yang ada dalam pikirannya hanya membesarkan bayi mungil itu dan melanjutkan hidup. Yah... diumurnya yang baru mencapai 28 tahun, namun dia terlihat seperti orang berumur 40 tahun. Bahkan orang berumur 40 tahun masih lebih segar. Hahh... mungkin dia jarang refreshing.

Luhan membersihkan wajahnya dari sisa air kemudian melangkah kekamarnya. Tak ada pekerjaan yang ia bawa pulang, jadi bisa tidur lebih awal. Setelah membaringkan tubuhnya diatas ranjang, pikirannya kembali pada buah hatinya –Eunsun. Bayi yang lahir dari perutnya. Perlahan tangan Luhan menyentuh permukaan perut rata miliknya. Sungguh tak disangka, yeoja kecil berumur 8 tahun itu dulu didalam sini. Sebuah keajaiban. Bibirnya melengkungkan senyum. Walau amat susah, tetap ia berhasil membesarkan bayinya hingga kini. Luhan sangat bersyukur.

Memikirkan mengenai Eunsun... pasti tak lepas dari orang yang membuat anak itu. Seketika senyum manis tadi lenyap. Berganti raut datar, menyiratkan kesakitan dalam. Cepat-cepat Luhan memutar tubuhnya agar tak terbayang orang yang sudah sangat tega itu. Diliriknya sebuah kertas diatas meja disudut kamarnya. Baiklah, besok akan menjadi hari yang panjang.

Selamat tidur..

O

Sehun memandang bingung kesekelilingnya. Kenapa ramai sekali? Para orang tua murid tampak berkeliaran di area sekolah. Tak mungkin cuma mengantarkan anaknya. Aneh, pikirnya. Atau ada sesuatu? Semacam acara –entah apa namanya?- Bisa saja. Entahlah. Dia tak tahu. Tidak ada yang memberi tahunya.

Sehun mengedikkan bahu, masa bodoh. Namja tampan ini terus berjalan dikoridor menuju kelas yang harus dia ajar muridnya. Meski keadaan sekolah ramai begini, tapi tak ada pengumuman apapun, berati proses belajar-mengajar tetap berlangsung.

Huh... ada apa pula orang tua murid sampai masuk kearea sekolah? Menganggu pemandangan saja, gerutunya dalam hati. Tapi setelah menggerutu, langkah ogah-ogahannya terhenti. Seperti ada palu yang memukul-mukul dadanya. Nafasnya seolah akan habis dan waktu seolah berhenti bergerak.

Didepannya berdiri sosok cantik yang selama ini mengganggu pikirannya. Berdiri persis dihadapannya –mungkin berjarak lima kaki.

Sehun... entah. Otaknya tiba-tiba beku. Dia tak bisa berpikir apa-apa, hanya berdiri dengan wajah terkejut. Terlalu kaget.

Sementara sosok cantik –Kim Luhan juga menunjukkan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu dan melihat lagi wajah yang susah payah dilupakan itu secara langsung. Padahal baru smalam ia tak sengaja teringat namja itu, tapi sekarang namja yang ia tahu bermarga Oh ada didepannya. Memandang kearahnya. Rasa sakit yang ia kira telah sembuh, kini makin terasa pedih. Bagai tercampur alkohol dan garam, seperti luka baru. Bukan tak sanggup, tapi ia memang tak ingin lagi bertemu dengan Sehun. Luhan sudah bertekad sejak memutuskan untuk menjaga kandungannya.

Kenapa?

Kenapa harus bertemu?

Raut mukanya yang tampak menyimpan dendam ia palingkan. Luhan tak berniat melakukan apapun. Namja cantik ini membalikkan badan, bersiap pergi.

"Luhan-ah..."

Deg!

Biarpun sulit, tapi ternyata bisa keluar juga. Sehun besyukur karena mulutnya masih bergerak meski otaknya terasa tak bekerja.

Luhan hanya diam. Mendengar namanya disebut lembut membuat hatinya bergetar. Tidak, Mungkin efek sakit hatinya yang makin bertambah. Ia tak mau melihat Oh Sehun.

"Lu..." ucap Sehun lagi. Entah bagaimana keadaan ruang hatinya. Semuanya bercampur. Entah apa yang lebih mendominasi. Ia Cuma tak ingin Luhan langsung pergi. Walau tak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana, Sehun ingin namja cantik itu tetap disini.

Sehun memanjangkan tangannya, mencoba meraih tangan Luhn agar si namja cantik mau memutar ketika ia baru berhasil mengenai ujung kemeja krem Luhan, tangannya langsung ditepis.

"Jangan sentuh aku!" ujar Luhan dingin dan menusuk. Dia berbalik dan menatap tajam Sehun.

Tatapan benci.

Sehun Terhenyak. Begini... Rupanya begini perasaan tak enak bila menghadapi orang yang tak mu berurusan dengan kita. Sehun tersenyum miris dalam hati. Yeah, tentu saja Luhan akan membencinya. Perbuatan serta kata-kata yang ia lontarkan dulu sangat tak termaafkan. Tapi apa daya, bila kebencian yang ia rasakan dari si namja cantik melebihi besarnya tembok berlin.

-Set-

Luhan sedikit terkesiap melihat tiba-tiba muncul seorang gadis kecil dihadapan Sehun sambil merentangkan kedua tangannya dengan wajah cemberut.

"Sun-ie..."

"Eunsun?"

Mereka berucap serempak. Dari pandangan itu Luhan mengerti kalau gadis cilik tersebut tak senang dengannya. Mungkin tadi Eunsun melihat apa yang terjadi. Tapi... kenapa Eunsun seolah membela Sehun?

"Sun-ie... Kajja." Ajak namja cantik ini sembari mengulurkan tangannya. Hatinya berontak melihat anaknya berdekatan dengan Sehun. Tapi gelengan kepala yang dilihat Luhan.

Eunsun menolak?

Membantah?

Ia mengerutkan kening melihat reaksi gadis kecil itu. Ada apa ini? Kenapa Eunsun malah lebih membela Sehun? Apa...? Tidak! Melihat yeoja kecilnya mulai memberontak, Luhan menjadi geram.

"Eunsun-ie!" katanya agak keras. Eunsun menggeleng lagi, tetap menolak. Masih menunjukkan ketidak sukaan pada Luhan.

Bukan membela, tapi maksud gadis ini, Ia tak suka melihat Luhan langsung bersikap ketus pada wali kelasnya. Padahal ibunya selalu mengajari hal baik. Eunsun mengembungkan pipi, teguh dengan pemahamannya. Amarah Luhan terpancing.

"KIM EUNSUN!" Begitu lantang dan kuat. Tubuh kecil itu seketika menegang, wajah memucat dan nafasnya hampir hilang. Doe eyes Luhan membelalak. Sehun yang sedari tadi diam memandang Eunsun yang berdiri didepannya. Ia pun ikut membulatkan mata bak elangnya kala melihat kondisi gadis itu.

"E-Eunsun..." ucap namja cantik ini terbata sambil mendekap tubuh anaknya yang mulai kejang. Dibelainya rambut Eunsun.

"Sun-ie... Mianhae. Mianhatta. Eunsun-ie." Mendapati kejang-kejang Eunsun kian kuat, membuat Luhan panik. Iapun segera menggendong tubuh itu dan menatap Sehun.

"Dimana ruang kesehatan?"Sehun diam menatap Luhan –kaget, heran, bingung bercampur.

"EODIE?!"

"O-oh... disana." Jawab Sehun akhirnya.

.

.

.

TBC~...

.

.

.

Waaah,, ga nyangka review'y bnyak..

Terima Kasih bwat yg udah Review, Fav &Follow..

Author ( Ebby Kim )asli'y juga ti2p slam bwat kalian, dia senang banyak yang menyukai FF ini. Ebby Kim juga mengucapkan terima kasih bagi kalian yang sudah Review, Fav &Follow.

BIG THANKS TO:

Chiello || Lieya EL || NoonaLu || vidyafa11 || junia angel 58 || Shanshaini Hikari || Odult Maniac || LSSnowie || Exindira || lulurara || SMKA || lisnana || hunhan's || nisaramaida28 || myhunhanbaby || Oh Sehan || tchandra07 tc || ifi srhunah 3 || Sweety Chanbaek || Lyana Steph || ani n || hanifafsi || Novey || huniehaniee || Ghea Hafizah || Cheonsa88 || niasw3ty || RZHH 261220 II || hwa 497 || ariee evilcuteelf 9 || Jong Ahn || Leona 838 || Yemia Kim 5 || Karina || Sasa || hanhyewon 357 || Chagi Lu || 0312luLuEXOtics || STANNYuriska || Syifa Nurqolbiah ||EXO88 || ohxibye || viiyoung || raka || Zy || monic maniz || Callysta Park || All Guest

Boleh minta reviewnya lagi?