Silent Angel

Credit to Ebby Kim ( m . fanfiction s / 9722918 / 1 / Silent - Angel (hapus semua spasi)).

Cast : Xi ( Kim ) Luhan, Oh Sehun

Pairing : HunHan

Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama ( Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).

.

.

Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back' aja! Karena saling menghargai itu indah^^

.

.

Happy Reading ^^

Melihat wajah damai gadis kecil di sebelahnya sungguh melegakan dada, tertidur akibat lelah. Beruntung ia cepat menenangkan si gadis kecil sehingga kejang-kejang yang dialami Eunsun tak sampai ke tingkat mengkhawatirkan. Karena emosinya, ia lupa kalau Eunsun tidak bisa dibentak keras. Apalagi yang membentak adalah dirinya sendiri, pasti gadis itu sangat terkejut. Diusap-usapnya puncak kepala Eunsun dengan sayang. Apapun yang terjadi, Luhan tak akan mengulangi hal ini lagi.

Dulu, ia juga hampir kehilangan Eunsun karena begini. Memang bukan ia yang membentak, tetapi orang lain. Namanya balita pasti sangat ketakutan, Eunsun sempat step dan terpaksa di rawat di rumah sakit. Luhan sangat beruntung, ia tidak terlambat. Satu-satunya harta yang ia punya hanya gadis kecil itu–napas kehidupan serta jiwanya.

Sementara sinamja tampan berkulit putih pucat tersebut hanya mampu berdiri didekat pintu sembari terus memperhatikan Luhan dan Eunsun. Dia tak tahu apa-apa, namun melihat si gadis kecil kejang-kejang bahkan sesak napas membuatnya ketakutan. Ikut khawatir dan cemas. Rasanya ingin duduk di sebelah sinamja cantik, menemani–sekedar berbagi perasaan. Tapi, Sehun tahu ia tak bisa. Tak akan bisa.

"Kim Eunsun.." ujar Sehun dengan suara pelan. Matanya terarah pada si gadis kecil. "Apa dia bayi yang kau kandung?"

Diam.

Haruskah Luhan menjawab?

Tidak.

Luhan tak ingin lagi berurusan dengan pria bernama Oh Sehun atau anggota keluarga Oh lainnya. Siapapun yang bermarga Oh. Lagi pula untuk apa Sehun bertanya? Ia tak mengerti. Setelah menghina dan mengucapkan kata kasar lain padanya, sekarang namja itu bertanya mengenai Eunsun. Apa ada maksud tersembunyi? Entahlah, memikirkannya membuat kepala Luhan terasa berdenyut.

Hati Sehun mendapati tak ada respon dari Luhan. Bahkan namja cantik itu seakan tak terusik sama sekali. Sehun paham bila Luhan amat-sangat membencinya. Tapi, tak bisakah Luhan menjawab pertanyaan itu? Seperti ada belati tak kasat mata menancap di dadanya.

"Dia.. anakku?" Sehun mencoba bertanya lagi.

Luhan mendecih. "Ani." Telinganya sakit mendengar kata 'anakku' keluar dari mulut Sehun. 'Anakku?' Tsk.

"Eunsun adalah anakku!"

"Geun-" ucapan Sehun terputus. Mau menyangkal apa? Bodoh.

"Geurae. Neo-ya.." (benar. Dia adalah anakmu)

"Ne! Mullonijyo!." Balas Luhan dingin. (Ya! Benar!)

Sehun tersenyum miris dalam hati. Bagai ada ratusan jarum sedang menusuk-nusuk hatinya. Entah kenapa ia merasakan sakit, seharusnya ia baik-baik saja. Mereka tak ada hubungan dengan dirinya. Tapi, Sehun tak dapat berbohong kalau hatinya memang sakit.

"Ge-geundae.. bolehkah..bolehkah aku dekat dengannya? Setidaknya menjadi teman." Ujarnya–mencoba lagi.

"Jangan lakukan apapun jika berhubungan dengan anakku." Luhan sengaja menekankan kata 'anakku' agar Sehun tau, bahwa Eunsun adalah miliknya.

Sakit! Bila memungkinkan Sehun akan memukul dadanya sekuat tenaga. Ia baru tahu kalau ternyata penolakan itu amat menyakitkan. Mulutnya terbungkam tak mampu berkata lagi.

Sangat besar kebencian Luhan padanya. Namja tampan ini mengepalkan kedua tangannya untuk mengurangi segala rasa yang kini teraduk-aduk dalam hatinya. Dia menunduk, tak sanggup berada ditempat yang sama dengan Luhan terlalu lama. Sehun memutar tubuhnya lalu keluar dari ruang kesehatan. Setelah menutup pintu, disandarkan punggungnya di dinding. Tanpa bisa ditahan sebulir cairan bening mengalir di wajahnya.

Menangis? Bolehkah?..

Tak tahu kenapa air matanya ikut mengalir ketika pintu tertutup, tapi Luhan membiarkan saja–membiarkan wajahnya basah. Kenapa? Kenapa orang itu tak bersikap seperti dulu? Harusnya mengeluarkan kata-kata tajam. Menghina atau lainnya.

Tapi.. kenapa tidak?

Luhan harusnya merasa bangga karena berani melawan namja bermarga Oh itu. Membalas perkataannya. Namun, kenapa seperti ada luka lain di hatinya?

.

.

.

Bingung. Sejak tadi Ibunya diam. Termenung, entah memikirkan apa. Tak biasanya begini. Ingin tahu, ia ingin tau, tapi ia takut permasalahannya bukan sesuatu yang bisa ia bantu. Meski Cuma mendengar, walau mungkin ia tak akan mengerti. Bagaimana? Bertanya atau tidak? Gadis kecil ini menghembuskan napas. Dicoba saja.

Eunsun mendekati Luhan yang duduk di ruang tengah dengan pandangan lurus, menatap layar tv dengan pandangan kosong. Duduk di sebelah sang eomma kemudian menarik-narik lengan baju Luhan agar namja cantik itu tersadar.

Yap, bergerak lalu menatap Eunsun. Yeoja cilik ini memiringkan kepalanya menunjukkan gerak-gerik bertanya.

"Oh–mian." Kata Luhan. "A-aniya." Ia tersenyum kecut.

Memperhatikan wajah gadis cilik itu secara mendetail. Meski photocopyan dirinya, tetap ada warisan dari seseorang yang merupakan ayah biologisnya. Bentuk wajah, alis mata dan tulang pipi. Bagaimanapun ia tak memungkiri, darah namja Oh itu mengalir dalam tubuh anak ini. Luhan mengepalkan tangannya. Sungguh ia tak rela mengingat kata-kata Sehun sebelumnya. Dekat, setidaknya menjadi teman. Tidak, Luhan tidak mau Eunsun dekat-dekat dengan orang itu.

"Sun-ie.. eomma minta menjauh dari Oh Sehun. Jangan dekat dengannya. Algesseo?" Ekspresi wajah Eunsun menyiratkan tanda Tanya–kenapa?

"Dia bukan orang baik. Jadi, menjauhlah."

Aneh.

Kenapa Ibunya menyuruhnya menjauhi Oh seonsaengnim? Memang awalnya guru tampan itu bertindak kasar, terus membentak. Tapi sekarang tidak begitu. Malah amat baik. Meski tak mengerti, Eunsun tak mau membantah apa yang dikatakan sang eomma. Gadis cilik ini menganggukkan kepalanya paham.

Luhan tersenyum kecil melihat respon Eunsun. Dia tak mau berurusan dengan namja bermarga Oh itu, begitu juga Eunsun. Walau ia tak tahu mengapa Sehun bisa berada dalam sekolah yang sama dengan anaknya, ia tak ingin berhubungan lagi. Cukup. Penderitaannya dulu sudah cukup ia rasakan sendiri. Eunsun tak boleh mengalaminya. Disentuhnya pipi Eunsun lalu mengusapnya pelan.

.

.

.

Sehun terkejut melihat seorang yeoja kecil berlari terburu-buru keluar dari kelas. Huh? Padahal tadi ia berniat menemuinya. Walaupun tak diberi izin, tapi bukan Oh Sehun namanya bila menurut. Cepat-cepat dibereskan mejanya dan ikut keluar kelas. Mata tajam bak elang itu bergerak cepat menyusuri koridor yang dipenuhi oleh para murid, sebab jam istirahat baru saja berbunyi. Sehun mencari si gadis kecil, tak biasanya gadis itu langsung keluar kelas ketika bel berbunyi. Tak berapa lama, ia pun menemukan si gadis kecil yang dicarinya sedang berjalan sendirian. 'kan.. sendiri. Lalu kenapa terburu-buru?' Sehun mempercepat langkah kakinya.

"Eunsun-ah.." panggil Sehun. Gadis itu berhenti berjalan. Namun kemudian ia melangkah lagi.

Huuh?

Apa maksudnya itu?

Sehun terdiam di tempatnya berdiri. Apa..? Eunsun menghindarinya? Pasti Luhan mengatakan sesuatu. Namja tampan ini membalikkan badan dan berjalan berlawanan dari gadis kecil yang diikutinya tadi. Raut mukanya berubah serius–menyimpan amarah...

~xxx~

Bukannya menerangkan atau mengajarkan pelajaran yang diserahkan padanya,seonsaengnim tertampan di sekolah ini malah duduk diam sambil menatap salah satu muridnya yang menundukkan kepala. Para murid yang lainpun hanya diam melihat sang guru bersikap begitu. Tak berani menginterupsi sebab raut muka Oh seonsaengnim kembali seperti pertama masuk kelas untuk mengajar. Tatapan tajam, ekspresi tegas dan aura yang amat menyeramkan membuat mereka semua takut. Terlebih seorang murid yang menjadi pusat perhatian guru tampan ini.

Seminggu. Terhitung seminggu murid bernama Kim Eunsun yang berusaha ditemui Sehun terus menjauh. Yah, meski sudah tahu dihindari, namja tampan itu tetap mendekati. Ia ingin tahu alasan Eunsun menghindarinya, juga apa yang dikatakan Luhan sampai gadis cilik tersebut tak mau mendengar panggilannya.

Kesal? Tentu saja. Sehun menghembuskan napas kasar lalu beranjak dari duduknya kemudian keluar dari kelas tanpa berkata apa-apa. Pintu pun dibiarkan terbuka begitu saja. Para murid Cuma bisa memandang heran guru mereka tersebut. Ada apa lagi? Bukankah Oh seonsaengnim sudah berubah? Kenapa bersikap acuh tak acuh lagi? Pikir mereka.

Sementara murid yang menjadi objek sang guru tadi mencoba menekan perasaan bersalah yang malah makin membuncah dalam hatinya. 'Mianhae, Oh seonsaengnim.'

Sementara di luar kelas, si guru tampan berdiri di pinggir koridor sambil memandang lapangan basket yang kosong–sebab tak ada pelajaran olahraga. Menarik napas lalu membuangnya. Begitu terus hingga beberapa kali. Berusaha keras untuk tidak mengamuk. Hm, sebenarnya namja tampan ini sudah ingin meledak dan memaksa si gadis kecil untuk memberitahu alasan kenapa menghindarinya.

Tapi.. mengingat yang ia hadapi adalah seorang anak berumur delapan tahun yang bahkan tak mau mengeluarkan suara, jadi Sehun harus bisa mengendalikan emosinya. 'Aku ingin membuktikannya' batin Sehun sembari memandang langit berharap Yang Maha Esa mendengar permintaannya.

Kali ini ia sungguh-sungguh, karena jika benar, maka tak ada kata mundur untuk mengubah hati orang yang telah disakitinya dulu. Bukan Cuma meminta maaf, kalau bisa Sehun akan melakukan apapun agar hidupnya bahagia. Sebab sekarang ia percaya pada hukum karma. Sekali lagi Sehun menghela napas sekalian meneguhkan niatnya. 'Bantu aku Tuhan'.

.

.

.

"Hyung, tolong antarkan ini ke meja 11!" Kata seorang namja bertubuh mungil pada Luhan yang tengah melihat-lihat keadaan restaurant. Meletakkan nampan berisi dua jenis makanan dan segelas minuman segar di atas meja dekat Luhan berdiri lalu membungkukkan badan kemudian pergi.

Sinamja berparas menawan ini menggelengkan kepala melihat gelagat rekan kerjanya itu. 'Dasar' batinnya. Segera diambilnya nampan tadi dan melangkah menuju meja yang dimaksud. Nomor 11. Karena ia sudah hapal letak semua meja, tak sulit bagi Luhan untuk menemukannya meski pengunjung restaurant hari ini lumayan padat.

"Ya!"

Luhan terkejut mendengar lengkingan suara si pemesan makanan yang ia bawa, nyaring sekali. Melirik sambil meletakkan makanan-makanan itu di atas meja. Luhan hampir menjatuhkan gelas sebab terkejut sekali lagi mendapati namja yang rupanya sedang marah pada orang yang dihubunginya. Beruntung dia cepat mengendalikan diri.

"Jadi kau lebih mementingkan bocah-bocah ingusan itu? Cih! Aku tak peduli. Sepuluh menit." Masih menjerit lalu mematikan ponselnya secara kasar.

Luhan hanya tersenyum lirih. Tak berubah. Selesai meletakkan makanan dan minuman tadi, ia membungkukkan badan sebentar kemudian berlalu. Luhan menyempatkan diri untuk melihat lagi pengunjung yang marah itu.

'Memang dia' katanya dalam hati dan melanjutkan langkah menuju belakang. Byun Baekhyun, namja berwajah imut yang memiliki ciri khas suara yang gampang dikenali, Luhan ingat betul.

Byun Baekhyun adalah sahabatnya yang kemudian berubah menjadi orang yang membencinya. Entah apa penyebabnya. Baekhyun yang ia kenal amat baik, polos serta humoris dalam sekejap berubah egois, ingin menang sendiri dan suka menghina. Sifat terakhir yang ia tahu dari Byun Baekhyun tak menghilang, bahkan sepertinya makin menjadi.

Menyandarkan punggungnya pada dinding sambil menghela nafas. Tak ada gunanya dia memikirkan masa lalu, sudah lewat. Luhan menganggukkan kepala. Yah, dia punya kehidupan sendiri dan seseorang yang harus ia rawat. Tak boleh larut lagi dalam kesedihan. Ini masih jam kerja. Semangat!

"Hyung…" Luhan menoleh. Namja kecil ini lagi, Luhan memamerkan senyumnya.

"Mian, bisakah membantuku lagi? Tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 25. Aku ingin ke toilet."

"Huh, kau ini." Dengus Luhan kesal sambil mengambil nampan dari rekan kerjanya tadi. Meski kesal, Luhan tetap mengantarkan pesanan yang dititip oleh temannya. Ia paham kalau si kecil itu sedang bermasalah dengan sistem pencernaannya, tapi daripada terus-terusan minta tolong begini lebih baik ijin saja.

Sewaktu berjalan menuju meja nomor 25, tanpa sengaja manik rusa milik Luhan bertubrukan dengan mata tajam bak elang punya seorang namja tampan yang mengenakan setelan rapi yang baru saja memasuki restaurant. Keduanya mematung, berdiri di tempat masing-masing dengan tetap saling menatap.

Terkejut. Luhan berusaha mengendalikan dirinya, segera mengalihkan tatapannya dan berjalan menuju meja nomor 25 di sudut ruangan dekat pintu, mengabaikan tatapan yang masih ditujukan padanya oleh namja bermata elang itu. Melewati si pemuda tampan sembari memaksimalkan mimik wajahnya agar terlihat biasa saja.

Setelah mengantarkan pesanan tadi, cepat-cepat Luhan kembali kebelakang. Terserah, katakan apapun. Pengecut, menghindar atau yang lain. Pastinya ia tak mau bertemu apalagi bertatap muka dengan pria itu. Kebencian yang tertanam dalam hatinya telah bertunas dan menumbuhkan bibit baru.

Sadar dari kebekuannya karena melihat wajah yang sangat ingin ditemuinya, Sehun berjalan buru-buru mengejar sinamja cantik. Dia tak mau kehilangan kesempatan bertemu Luhan. Sehun memanjangkan tangannya dan hap! Ia berhasil memegang lengan Luhan, membuat namja cantik itu berhenti.

"Lu…"

Bagai film hitam putih yang diputar secara cepat, sekilas kejadian 'malam itu' terbayang dalam ingatan Luhan. Matanya terpejam, nafasnya sedikit memburu dan detak jantungnya mulai kencang.

Sakit.

Sekuat tenaga disingkirkan bayangan mengerikan itu dan mengendalikan diri. Bukan trauma, tapi depresi kecil yang sempat menimpa Luhan. Yakin dirinya sudah baik-baik saja, namja cantik ini membalik tubuhnya, menatap datar namja tampan didepannya. Luhan menarik kedua sudut bibirnya membentuk segaris senyuman yang terlihat dipaksakan. "Annyeonghaseyo, selamat datang di restaurant kami. Anda ingin memesan apa?"

Terhenyak.

Untuk kesekian kalinya, aura kebencian dari Luhan terasa menusuk hatinya. Begitu kuat. Mencoba menenangkan dirinya yang hampir gila karena permusuhan ini, Sehun menelan salivanya sedikit susah. "Bisakah aku memesan waktumu 30 menit saja?"

Diam.

Senyum yang sempat tercipta dibibir cherry-nya lenyap. Apa maksud namja itu? Luhan membungkukkan badannya. "Jweisonghamnida, kami hanya menyediakan makanan dan minuman untuk dipesan." Lalu menggerakkan tangannya yang dipegang Sehun. Lepas, pegangan namja Oh itu tidak terlalu kuat.

"Tapi aku hanya membutuhkan waktumu sebentar!" Katanya seolah menekan 'Pembeli adalah raja'.

Sorot mata Luhan menajam. Jelas dia tidak suka sikap namja didepannya. Dia mendengus pelan. "Hanbeondo jweisongeyo. Jika tuan tidak ingin memesan makanan atau minuman." Luhan membungkukkan badan lagi "Permisi."

Sewaktu berjalan melewati Oh Sehun, lagi-lagi langkahnya mesti terhenti. Kali ini yang membuatnya terdiam adalah seorang namja berparas imut namun memiliki ekspresi amat seram berdiri tak jauh dari Luhan. Memandang rendah namja cantik ini seakan merobek luka baru ditubuhnya.

Tidak bisa, Luhan tidak sanggup kalau begini, dalam waktu beberapa menit bertatap muka dengan mereka yang dulu menorehkan kesakitan dibatinnya. Buru-buru ia menundukkan kepala dan langsung berlari –memutar –kearah belakang. Tak memperdulikan tatapan heran rekan kerja maupun pengunjung lain, ia terus berlari sampai ke bagian belakang restaurant –ke tempat yang jarang dikunjungi pegawai.

Menabrakkan punggungnya pada dinding kemudian merosok duduk dilantai. Meski fisiknya seorang namja, tapi akibat luka batin yang dialaminya dulu dan perannya sebagai seorang ibu membuat kekuatan hatinya terbatas. Tak mampu menampung keperihan lebih banyak lagi.

Tanpa bisa ia tahan, cairan bening itu meluncur bebas diwajahnya. Walau tak terisak, tapi dalam sekejap dua aliran kecil bak sungai telah tercipta dipipinya.

~xxxx~

"Jadi… Sekarang kau menyukainya!" pertanyaan Baekhyun terdengar seperti sebuah pernyataan. Tak merubah frekuensi tatapan mengintimidasi yang sejak tadi ia tunjukkan. Ia tidak mengerti kenapa namja didepannya mengejar seseorang yang berprofesi sebagai pelayan.

Oh Sehun. Seorang pewaris tunggal tahta seluruh asset milik keluarga Oh menyukai pelayan. Tidak lucu.

"Bukan begitu." Jawab Sehun sekedarnya ia tak berniat bicara banyak. Beban pikirannya masih bertumpuk. Bukan menyambutnya, malah ini yang dilakukan Baekhyun. Susah payah ia datang dalam waktu 10 menit.

"Bukan apanya?!" bentak Baekhyun. "Mengejar pelayan itu dan memohon waktunya? Cih! Memalukan!" Baekhyun membuang mukanya dengan angkuh.

Menyesal.

"Lagipula masih banyak gadis diluar sana yang lebih pantas untuk kau kejar."

Makin bertambah penyesalan Sehun.

"Menjijikkan." Cibir namja imut ini tetap memalingkan muka.

"Hyung…" mata Sehun terasa panas. Betapa banyak dosanya. Tak menyangka kalau Baekhyun masih menyimpan rasa benci itu pada Luhan. Ia pikir namja imut itu akan lupa. Ternyata tidak.

Baekhyun menatap nyalang Sehun. "Mwo?! Ingin membela namja menjijikkan itu? Tsk, menggelikan. Apa ini lelucon, Oh Sehun-ssi?" bibir kecil itu tersenyum miring.

"Geumanhae [sudah]." Suara Sehun menegas. "Ada apa sebenarnya kau memanggilku?"

Namja imut itu mendengus lalu merubah posisi duduknya lebih nyaman. "Kau harus kembali ke London! Mereka membutuhkanmu."

"Ne? Andwaae!"

"Mwo? Ya… Sehun-ah, apa maksudmu?"

Sehun bersandar pada sandaran kursi. "Aku tidak ingin kembali ke London. Aku ingin disini."

"Dan menjalin hubungan dengan pelayan itu?" sergah Baekhyun tak terima.

"Byun Baekhyun!"

Decihan marah keluar dari mulut Baekhyun seraya beranjak dari duduknya. "Aku tidak mengerti entah apa yang membuatmu berubah, Sehun-ah. Tapi aku tidak akan mengizinkanmu berdekatan dengan namja menjijikkan itu." Ancamnya, lalu pergi meninggalkan Sehun.

Pemuda ini memejamkan matanya. Begitu besar kesalahan yang ia masih tersisa tempat kecil untuknya? Untuk permintaan maafnya? Adakah? Berharap dan berharap.

.

.

.

Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Atau karena dirinya, wajah Oh seongsaengnim amat muram? Seperti ada awan hitam diatas kepalanya. Walau ingin tahu, tapi dia tak bisa. Makanya Eunsun Cuma melihat dari jauh. Ia jadi merasa kasihan dengan wali kelasnya itu. Kalau saja ibunya tak memberi titah untuk menjauhi Oh seongsaengnim, mungkin sekarang ia dapat menghibur guru tampan tersebut.

Yeoja cilik ini menghela nafas lalu mengerucutkan bibir merahnya. 'Payah' batinnya. Padahal Oh seongsaengnim sangat baik. Mungkin ibunya hanya takut atau khawatir. Sekali lagi menghembuskan nafas kasar kemudian berjalan meninggalkan tiang penyangga tempat ia mengintip.

Sedangkan orang yang diperhatikan Eunsun sebenarnya sadar sejak awal kehadiran gadis cilik itu. Meski sangat ingin menemui Eunsun, ia belum berani, mengingat si yeoja cilik sedang menghindarinya.

Sehun menoleh ketika yeoja cilik tersebut telah jauh. Melihat sigadis kecil membuat pikiran Sehun semakin kalut. Belum selesai masalahnya dengan ibu dari yeoja itu, sudah datang problem baru dari sepupunya, Byun Baekhyun.

Hah… melelahkan. Biarpun sudah menolak permintaan Baekhyun agar ia kembali ke London, tapi namja imut itu terus mendesaknya.

Grr~Ah! Sehun ingat! Cepat-cepat dirogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel lalu mendia nomor seseorang.

Tersambung.

"Yeoboseyo…Ne, ini aku. Haish… tolong aku, cari informasi tentang Kim Luhan"

"Um! Secepatnya hubungi aku. Aninde. Gomawo."

Terputus. Sehun memutuskan hubungan secara sepihak. Ia tak peduli orang yang ia hubungi marah-marah atau menyumpahinya. Karena bertanya, bahkan bertemu Luhan sangat sulit, ia jadi meminta bantuan orang lain. Sehun benar-benar ingin tahu status Kim Eunsun.

~xxxx~

Bel tanda pergantian mata pelajaran berdering. Murid kelas satu dimana Sehun mengajar berbondong-bondong keluar kelas karena pelajaran selanjutnya adalah olahraga, jadi mereka harus berganti seragam. Namja tampan itu memperhatikan satu persatu muridnya hingga seorang gadis cilik yang paling akhir bangkit dari kursinya dan berjalan untuk keluar kelas.

"Eunsun-ah." Eunsun berhenti. Tidak berbalik menatap gurunya. Sehun beranjak dari kursi, mendekati si gadis kecil dan berdiri dibelakangnya.

"Aku memang jahat." Yeoja kecil ini membalikkan badannya, menatap sang guru dengan raut bingung.

"Aku tahu. Pasti ayahmu mengatakan itu, kan?" bukan menebak, tapi Sehun sudah mengira begitu. Dan ekspresi gadis kecil didepannya membuktikan benar. Ia tersenyum miris. "Benar, aku orang jahat."

Kening Eunsun berkerut. Ayah? Oh ya… pasti yang dimaksud adalah ibunya. Tapi, jahat? Ia tidak berpikiran begitu. Walau awal pertama mengajar Oh seongsaengnim memang kasar, namun sekarang sudah berubah. Sebenarnya ada apa? Ibunya mengatakan Oh eongsaengnim adalah orang jahat, padahal belum saling kenal. Kini guru tampan itu juga mengatakan hal yang sama. Eunsun jadi pusing.

Sehun menatap Eunsun lalu berjongkok untuk mensejejarkan tinggi mereka. Memperhatikan wajah cantik didepannya. Mata bulat yang jernih. Ia tidak akan berhenti mengaguminya.

"Apapun yang dikatakan ayahmu tentang diriku, semuanya benar. Aku orang jahat. Pada ayahmu, juga padamu. Tapi sekarang… aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf. Apa kau mau memaafkanku?"

Mata bening milik gadis ini terus memandang Sehun intens. Tanpa berpikir lebih lagi, ia langsung menganggukkan kepala seraya mengukir senyum kecil dibibirnya.

'Seandainya kau tahu' kata Sehun dalam hati.

Ia ikut melengkungkan bibir tipisnya, membalas senyuman Eunsun. Satu langkah ia berhasil maju. Perlahan-lahan, Sehun yakin bisa meluluhkan Luhan dan mendapatkan maaf pria cantik itu.

"Gomawo." Ucap namja tampan ini lembut. "Kka… teman-temanmu yang lain pasti sudah selesai mengganti seragam". Gadis cilik ini mengangguk kemudian berlari meninggalkan kelas.

Tinggallah Oh seonsaengnim sendiri. Guru tampan itu menegakkan tubuhnya lalu menghela nafas. Tekatnya makin bulat.

.

.

.

"Apa yang dilakukannya di sini?" gerutu yeoja cantik ini sambil mengawasi sebuah mobil berwarna hitam berjarak agak jauh dari tempatnya memarkir mobilnya sendiri. Milik saudaranya.

Hah!

Jin Ri menghembuskan napas kasar. Akibat jadwal kuliahnya padat, jadi hampir dua minggu ini ia tidak mengikuti oppanya dan tak mendapat informasi apapun. Mana tingkah namja bermata bak elang itu makin aneh. Grr.. rasanya ingin memukul kepala Sehun sekuat tenaga.

Mata yeoja cantik ini menyipit ketika melihat sang kakak keluar dari mobil dengan terburu-buru lalu berlari menghampiri seseorang yang sepertinya namja. Mereka terlihat mengobrol.

Ah, sial. Jin Ri ingin sekali mendengar apa yang mereka bicarakan. Ugh! Ia menghela napas berat kemudian bersandar pada sandaran kursi.

Sedangkan si objek tengah berusahan menahan orang yang diajaknya bicara. Yah...mencoba dan mencoba, tak ada salahnya, meski namja cantik itu terus mengelak. Sehun memegang pergelangan tangan Luhan erat, membuat si namja cantik menunjukkan deathglare yang cukup mengerikan.

"Lu..." ujar Sehun memohon.

Luhan mendecih. mencoba menghentakkan tangannya, namun gagal. Pegangan Sehun makin kuat. "Lepas!"

"Jebal, sebentar saja. A-aku.. aku ingin minta maaf." Kepala namja tampan ini menunduk, menunjukkan penyesalan dan benar-benar meminta maaf. Merasa pegangan di tangannya mengendur, segera dihempaskan tangan besar itu lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Sehun.

Minta maaf? yang benar saja! Setelah semua yang dilakukannya dulu, kata maaf itu begitu mudah keluar dari mulutnya. Tidak, bahkan untuk memandang Sehun ia tak mau. Kebencian dalam hatinya sudah berakar kuat.

Mata tajam bak elang itu terpejam berusaha menyembunyikan keperihan dalam dadanya. Meski sikap Luhan begitu, mau berapa kalipun ia ditolak, Sehun tak akan menyerah. Sehun mendongakkan kepala dan menatap punggung namja cantik itu yang makin menjauh. "Maafkan aku.. maaf..."

Jin Ri mengernyit memperhatikan ekspresi kakaknya. Ada apa? Kenapa wajahnya begitu? Siapa namja tadi? Apa yang terjadi sebenarnya? Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya. Makin rumit sebab ia tak tahu apa-apa. Melihat Sehun memasuki mobil, Jin Ri menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju mengikuti mobil audi hitam didepannya. Tentu menjaga jarak supaya tidak ketahuan.

~O.O~

Rasanya amat lelah. Leher, punggung serta pinggang terasa sangat pegal. Sehun menggerakkan tubuhnya seolah berolahraga untuk mengurangi pegal yang dideranya. Dirasa cukup, ia berjalan kearah lemari pendingin kemudian mengambil sebuah botol berisi air mineral. Tanpa gelas, langsung meneguknya dari botol.

Drrt~

Getaran terasa disaku celananya, segera Sehun merogoh saku celananya kemudian mengambil benda bergetar itu –ponsel. Dilayarnya tertera sebuah nama, Kris. Langsung Sehun menjawab panggilan tersebut.

"Yeoboseo…"

"Yeoboseo, Sehun-ah? Aku sudah mendapatkan informasi tentang Kim Luhan!" Seru suara di line seberang.

"Um…!"

"Kim Luhan, dia bekerja disebuah restaurant tardisional di daerah Namsan. Memiliki seorang anak perempuan. Tapi ia tercatat belum menikah, tidak mengadopsi anak maupun menjadi orang tua asuh. Hmm… tinggal disebuah apartemen sederhana dekat sekolah milik keluargamu."

Sehun mendengar dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh teman semasa sekolahnya. Tak ingin terlewati sedikitpun karena ia butuh informasi ini juga untuk meyakinkan dirinya tentang Kim Eunsun.

"Yah, begitulah. Sebenarnya ada apa dengan Kim Luhan? Kenapa kau meminta informasinya?" Tanya Kris bingung.

"Aniya. Gomawo sudah mencarikan informasinya. Aku berhutang padamu."

"Ah, tak perlu kau pikirkan. Baiklah… annyeong."

"Annyeong." Balas Sehun dan telpon terputus. Sehun masih mengenggam ponselnya, ia menerawang. Membayangkan wajah cantik yeoja kecil yang sedang tersenyum. Memiliki anak tapi tak menikah, tak pula terdaftar mengadopsi atau menjadi orang tua asuh.

Jadi… tak diragukan lagi kalau Luhan melahirkan bayi yang dikandungnya dulu. Darah dagingnya. Anak kandungnya. Bibirnya mempoles seulas senyum.

Ya, Kim Eunsun adalah anaknya. "Sun-ie…" ucapnya tanpa sadar.

Nama baru. Siapa lagi Sun-ie? Haish, kakaknya itu benar-benar membuat pusing. Jin Ri yakin telah terjadi sesuatu sehingga muncul nama-nama yang tak dikenalinya.

.

.

.

'A-aku… ingin minta maaf.' Satu kalimat itu terus berputar dipikirannya. Benar, Luhan tak peduli. Tapi… hatinya goyah setelah mengulang-ulang kalimat tadi. Apa namja Oh itu menyesali perbuatannya dulu? Dilihat dari tingkah yang selalu berusaha mendekatinya, mungkin iya.

Tapi… -selalu ada kata tapi –Luhan masih belum yakin. Namja yang ia kenal pemberontak, suka seenaknya juga kasar. Tak mungkin berubah dalam sekejap –bila wataknya memang bebal.

Lamunan namja cantik ini buyar ketika seseorang menarik-narik ujung lengan bajunya. Sewaktu menoleh, ia mendapati gadis kecilnya tengah menatap kearahnya sambil menyodorkan sebuah buku. Luhan tersenyum kecil lalu menerima buku itu dan memeriksanya. Yap, sekarang dia sedang mengajari Eunsun. Senyumnya melebar.

"Wah… Sun-ie! Ini benar semua…! Anak eomma memang pintar!" pujinya sembari mengusap puncak epala Eunsun.

Gadis kecil itu Cuma membalas senyuman sang eomma dan menikmati usapan dikepalanya.

"Baiklah… kita coba lagi, nde? Kalau benar semua, eomma akan memberikan hadiah. Eottae?" Eunsun mengangguk semangat. Sekali lagi senyum Luhan terkembang. Ia segera menulis beberapa soal penambahan dan pengurangan kemudian mengembalikan buku yeoja cilik itu.

Eunsun langsung mengerjakan tugasnya tanpa bertanya apa-apa karena sudah mengerti. Memperhatikan anak itu mengerjakan soal dengan serius membuatnya merasa amat bangga. Banyak yang ia tahu anak-anak seusia Eunsun malas belajar, tapi bayi kecilnya yang mulai beranjak dewasa berbeda. Walau tak mau bicara, namun Eunsun tetap berinteraksi dengan caranya sendiri.

Ia sangat menyayangi Eunsun.

.

.

.

Hap!

Seketika Luhan menoleh lalu memutar matanya.

Kebiasaan buruk.

"Karena kau meninggalkanku." Ujar namja berwajah imut itu tanpa dosa sambil melahap snack milik Luhan yang dirampasnya tiba-tiba.

Namja berparas cantik ini tidak marah karena dia sudah mengenal sifat si namja imut ini. Apalagi mereka bersahabat, jadi tak apalah. Anggap saja berbagi makanan. Walau begitu, tentu Luhan ingin mengerjai Baekhyun. Dicubitnya pipi Baekhyun kuat.

"KYAA!" jeritan Baekhyun terdengar nyaring.

"Hyung!" Luhan terkikik geli. Ekspresi serta teriakan Baekhyun tadi sangat lucu –menurutnya dan dia suka menggoda namja yang juga memiliki julukan 'Namja Eyeliner'.

BRAAK!

2 namja yang bisa dibilang sedang bersenda gurau langsung mengalihkan pandangangan saat mendengar suara dentuman keras dari arah pintu kantin. Tampak seorang namja tampan memasuki kantin dengan gaya arogan diikuti oleh 2 orang namja yang merupakan tangan kanannya. Mereka terlihat bagai anggota geng.

"Ish…" cibir Baekhyun melihat 3 orang itu. Sementara Luhan hanya diam.

Namja ber-bedname Oh Sehun menghampiri sebuah meja yang berisi beberapa siswa tengah makan. Dengan tampang datar dan sedikit deheman siswa-siswa itu langsung angkat kaki untuk pindah. Sehun duduk lalu meletakkan dua kakinya dikursi sebelahnya.

"Grr… menyebalkan." Kesal Baekhyun lagi.

Sehun mendelik. "Aku mendengarnya, Byun Baekhyun"

Namja imut itu mendengus seraya memutar bola mata bosan ia beranjak dari duduknya sembari menarik tangan Luhan. "Kita pergi dari sini, Hyung."

"Ya!" teriak dua teman Sehun.

Baekhyun tidak peduli. Ia keluar kantin dengan santai sambil menggandeng Luhan diikuti tatapan intens Sehun.

Biar Oh Sehun terkenal suka membuat onar, kasar dan seenaknya, ia tak akan membalas Baekhyun. Semua orang tahu, sebab namja berjulukan eyeliner itu adalah sepupu Sehun. Termasuk saudara dekat. Meski kesal atau marah juga menyimpan dendam, Sehun tidak akan menyentuh Baekhyun..

~O.O~

Luhan menghela nafas memandang kartu undangan ditangannya dengan bimbang. Acara para murid yang diadakan diluar sekolah dan asrama. Acara bebas untuk menghilangkan kepenatan belajar dan kekangan dari peraturan asrama. Acara yang diadakan ketua senat tanpa sepengatahuan pihak sekolah. Diadakan setiap enam bulan sekali.

Walau Luhan bukan termasuk murid popular, namun berkat prestasi dan wajah menawan miliknya, ia sering dibicarakan. Maka itu ia bisa mendapat surat undangan tersebut. Sebenarnya Luhanpun tak pernah hadir setiap acara itu dilaksanakan, namun kali ini ada sedikit paksaan dari Baekhyun, makanya ia bimbang.

Bugh!

"Ah…" rintih Luhan merasa sakit pada pundak kanannya. Sewaktu mendongak, tatapan dingin didapatinya. Luhan bungkam, sudah mau mengatakan maaf, tapi karena tatapan itu nyalinya langsung ciut.

"Tsk!" decak bibir tipis itu kesal kemudian pergi.

Mata Luhan masih memandangi tubuh tegap itu menjauh. Hhh… Lagi, ia menghela nafas. Sabar, katanya dalam hati. Mengerikan sekali Oh Sehun itu..

~O.O~

"Kau akan datang, kan, hyung?" Tanya Baekhyun dengan nada membujuk, berusaha agar Luhan mau datang keacara bebas yang diadakan senat sekolah.

Luhan menggeleng, "Mian… Aku ingin pergi kemakam kedua orang tuaku." Yah berhubung acara tersebut dilaksanakan pada hari libur, dari pada pergi kesana lebih baik berziarah, pikirnya.

Bibir Baekhyun mengerucut. Kalau alasannya itu dia tidak bisa merecoki lagi. "Arraseo… arraseo." Kata Baekhyun akhirnya. Luhan menunjukkan senyum permintaan maaf..

~O.O~

"Jam 9" Luhan melihat jam yag melingkar dipergelangan tangan kirinya. Memang petugas asarama tidak akan menghukum karena ia pulang malam pada hari libur. Juga jam malam pada hari libur adalah sampai tengah malam. Karena mengunjungi saudara, ia jadi terlambat pulang. Padahal biasanya ia sampai diasrama jam 6 sore. Rencana tidur lebih awal lenyap.

Luhan melangkah pelan memasuki lobby. Tidak ada petugas pengawas dipos, mungkin sedang kekamar mandi. Saat hendak memasang headset ketelinga, Luhan mendengar suara mesin mobil berhenti didepan gerbang. Refleks ia membalikkan badan.

Seorang namja tampan dngan rambut pirangnya –seperti keturunan campuran- keluar dari mobil dengan wajah panic. Dibukanya pintu satu lagi lalu memapah seorang namja. Susah payah ia membopongnya masuk kegedung asrama Soul High School. Ketika mata mereka bertemu, si namja campuran membawa orang yang dibopongnya –yang kelihatan mabuk berat- menghampiri Luhan.

"Jweissonghamnida. Tolong aku. Tolong bawa dia kekamarnya."

Luhan memandang orang yang dimaksud si namja campuran. Ia tampak sedikit terkejut, "Ss-Sehun…?!"

"Ne. dia mabuk saat dipesta. Tolong bawa dia kekamarnya. Aku tak bisa lama-lama." Katanya langsung menyerahkan tubuh lunglai Sehun pada Luhan.

Belum sempat kalimat protes ia keluarkan, si namja campuran sudah pergi. Luhan melirik kearah Sehun. Haish… bagaimana ia membawa namja itu kekamarnya, sementara dia tidak tahu berapa nomor kamar Sehun. Mana petugas asrama sedang tidak ada.

Eotteokhae?

"Huk…" Sehun terbatuk.

"Yah~!" keluh Luhan ketika tubuh namja itu limbung. Ah dari pada makin susah, lebih baik ia membawa Sehun kekamarnya untuk sementara.

Asramapun tampak sepi, semua mungkin sedang diluar. Minta tolong pada siapa? Apa boleh buat?

Setelah meletakkan tubuh besar nan berat Sehun keatas tempat tidur, Luhan bermaksud mandi karena badannya terasa lengket. Apa lagi membopong si namja arogan sampai kamar membuat badannya berkeringat, gerah sekali.

Baru Luhan melepas pakaian atasnya –masih mengenakan kaos dalam, tiba-tiba ada yang menarik tangannya dengan kuat hingga tubuhnya terhempas keatas tempat tidur, dan namja Oh itu sudah berada diatasnya. Mata Luhan membelalak lebar. Terlebih melihat seringaian yang tercipta dibibir tipis itu.

"Apa yang kau lakukan? Minggir!" Luhan berontak, berusaha bangkit, namun kedua tangannya ditahan juga kakinya diduduki Sehun. "Mwo?! Ya!"

Rontaan Luhan seolah angin lalu, sebab tak berpengaruh untuk Sehun. Entah dari mana didapatnya, namja tampan ini melilitkan sebuah dasi pada tangan Luhan dengan kuat lalu mengikatnya dan dikaitkan ke kepala ranjang. Ia tersenyum puas. Mata tajam bak elang yang sayu itu memandang penuh gejolak kearah Luhan.

Seketika bulu kuduk Luhan meremang, ia merinding ngeri. "Lepaskan aku! LEPASS!" Luhan meronta lagi.

Senyum yang menyerupai seringai itu tetap bertahan. Mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan.

"Aku menginginkanmu,chagi…"

.

.

.

.

.

TBC

Maaf untuk keterlambatannya...#bow

Dan...

Terima kasih untuk yang membaca,, mereview,, memfavorit dan memfollow ff Silent Angel versi HunHan ini..#bow