Silent Angel

Credit to Ebby Kim ( m . fanfiction s / 9722918 / 1 / Silent - Angel (hapus semua spasi)).

Cast : Xi ( Kim ) Luhan, Oh Sehun

Pairing : HunHan

Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama ( Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).

.

.

.

Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back' aja! Karena saling menghargai itu indah^^

.

.

.

Happy Reading ^^

Rasanya dada Sehun lapang. Seperti terdapat banyak bunga bermekaran dengan cantik. Hatinya diperbaharui, tak ada lagi kebencian, dendam, dengki, amarah dan keinginan mendarah daging untuk mementingkan diri sendiri. Semua sifat buruknya seolah hilang tanpa bekas digantikan taman bunga. Ia benar-benar bahagia. Kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya, bahagia membuat hidupnya terasa indah.

Bibir namja tampan ini tak bosan membentuk senyum manis. Melihat seorang gadis kecil tengah makan dengan lahap di hadapannya. Sekarang Sehun sangat bersyukur. Karena bukan orang lain. Terus mengingat fakta bahwa yeoja itu adalah anaknya, putri dan darah dagingnya. Diperkuat juga dengan kasih yang langsung keluar dari dalam dirinya pada si gadis cilik. Kasih seorang ayah.

Perlahan tangan Sehun mendarat dipuncak kepala Eunsun kemudian mengusapnya mencoba menyalurkan rasa sayang. Sementara si gadis kecil lalu mendongak dan menatap Sehun heran dengan mulut masih penuh. Pipinya menggembung, kelihatan imut.

"Haha.." Sehun tertawa.

Mata bulat Eunsun mengerjap. Oh seonsaengnim tertawa? Tertawa karna dirinya.

Guru tampan ini menjauhkan tangannya lalu menatap intens yeoja kecil di depannya. "Eunsun-ah.."

Gadis kecil itu terdiam memperhatikan Sehun.

"Maukah kau membantuku untuk minta maaf pada ayahmu?" tanya Oh seonsaengnim. Mimik mukanya berubah sendu. Berharap gadis itu mau membantunya.

Meminta maaf pada ayahnya? Um, Eunsun memang tak tahu apa permasalahan antara ibunya dengan Oh seonsaengnim, tapi kalau dibiarkan berlarut-larut 'kan tidak baik. Kemudian Eunsun menganggukkan kepala pertanda setuju.

Senyum Sehun mengembang. "Jeongmal? Ah, gomapta ne?" katanya senang. "Jja, habiskan makanannya. Sebentar lagi jam istirahat selesai."

Tak perlu diperintah dua kali, gadis cilik ini kembali fokus pada makanannya. Makanan pemberian Oh seonsaengnim. Katanya sebagai hadiah karena nilai Eunsun bagus semua. Aneh memang, tapi dia cukup senang.

~ O.O ~

Luhan meletakkan sebuah kain ke dalam keranjang lalu mengambil tas selempangnya yang ia letakkan di lemari dan berjalan keluar restaurant. Pekerjaannya sudah selesai. Sambil menebar senyum ia berpamitan pada rekan-rekan kerjanya.

"Josimhae ne, Luhan hyung" ucap salah seorang namja berwajah mungil sembari membersihkan meja. Dibalas dengan senyum oleh si namja cantik. Lengkungan dibibir merahnya masih bertahan ketika keluar dari restaurant. Hari ini ia bisa pulang lebih awal, jadi berencana ke pasar untuk membeli bahan makan spesial untuk seseorang.

Gadis ciliknya.

Namun senyum manis tadi segera hilang begitu manik rusanya menemukan seorang pemuda berdiri disebelah mobil berwarna hitam di area parkir. Matanya seakan iritasi, kenapa dia muncul lagi? Luhan benar-benar muak bila diharuskan menemui pemuda itu. Apa kalimatnya kurang jelas atau pria sinting tersebut yang memang tak mau mendengar?

Berpura-pura tak lihat, Luhan berjalan terus melewati si pemuda tampan. 'Yah, bagus. Jangan mengejarku!' katanya dalam hati.

Hup!

Sayangnya keinginan namja cantik ini tak terwujud. Langkahnya terhenti sebab lengan kirinya kini dipegang oleh sinamja tampan yang tengah memandanginya.

Luhan mendengus tak suka sambil mencoba melepas tangannya. Berhasil. Hah, tumben namja itu tak mencengkram kuat tangannya. Tak perduli. Luhan melanjutkan langkah kakinya.

"Lu.."

Tidak, Luhan tak mau dengar. Suara bass milik pria itu bagai musik menyeramkan ditelinganya. Luhan menahan perih di batinnya.

Meski bukan sekali, tapi ternyata ia belum kebal dengan rasa sakitnya. Cepat ia mengejar Luhan, meraih tangannya lalu membalik tubuh kurus itu dan mendekapnya. Mendekap erat menyalurkan bagaimana isi hatinya."Maafkan aku.. Maaf."

Diam.

Ekspresi benci yang sempat terpasang di wajah Luhan luntur. Maaf..? kata 'Maaf' Berputar-putar dalam kepalanya. Sekali lagi keraguan memerangkap pikiran Luhan. Pelukan ini terasa hangat. Menghangatkan jiwanya yang dingin. Sebulir cairan bening jatuh ke pipinya.

Apa cuma ini?

Cuma segini saja kekuatan Kim Luhan yang telah ditempa selama sembilan tahun oleh kerasnya hidup. Luhan tak mengerti kalau keteguhan hatinya yang ia kira sekeras batu dapat meleleh hanya karena kata 'maaf' yang terlontar dari mulut namja ini.

Lemah.

"Lepaskan aku.." ucap Luhan lirih berusaha membuang jauh keresahan batinnya.

Perlahan Sehun melepaskan pelukannya. Menatap mata rusa didepannya. Terus berusaha memberitahu Luhan apa yang ia katakan adalah benar. Tak direkayasa, ia tulus meminta maaf.

"Kau brengsek!" meski dengan suara kecil, namun nadanya amat tegas dan mengandung permusuhan. Kilat kebencian kembali tampak dimata indah itu. Akhirnya ia bisa memperbaiki kegoyahan hatinya. Ia tak akan memaafkan namja Oh itu, selamanya. Luhan mengambil ancang-ancang untuk pergi.

"Eunsun adalah anakku."

Deg

"Aku tahu! Kau melahirkannya. Eunsun adalah anakku! Aku ayahnya!" Lanjut Sehun membuka kenyataan yang ingin ditutup oleh Luhan.

Bibirnya bergetar. Kumpulan cairan bening di matanya sudah siap tumpah. "Ani, Eunsun adalah anakku. Dia anakku!"

"Lu!" kedua tangan Sehun memegang lengan Luhan. "Aku tahu kau membenciku. Bahkan kau boleh membunuhku sekarang juga. Tapi tolong jangan berbohong.. Jangan menyembunyikan Eunsun. Aku ingin mengakuinya. Dia anakku!" katanya menggebu-gebu. "Maafkan aku. Aku memang bersalah.. Mianhae Lu, jeongmalyo. Maka dari itu aku ingin menebus semuanya. Aku ingin memberikan Eunsun kasih sayang seorang ayah."

Kalau saja kalimat itu diucapkan saat ia memberitahu mengenai kehamilannya, mungkin Luhan menjadi orang paling bahagia sedunia.

Tapi...

Kenyataan memang sungguh menyakitkan. Dua aliran kecil bak anak sungai sudah terbentuk di wajahnya.

"Terlambat."

Satu kata yang mampu menghujam jantung seorang Oh sehun.

.

.

.

Bukan Luhan ingin menangis terus-menerus, tapi cairan tanpa warna itu tetap mengalir deras dari matanya meski ia telah mencoba untuk berhenti. Sampai tercipta lengkungan hitam dibawah matanya.

Kenapa?

Kenapa laki-laki itu mesti meminta maaf dan mengatakan ingin memberikan kasih sayang seorang ayah untuk malaikat kecilnya?

Ingin mengadukan rasa sakitnya, tapi kemana? Luhan tak punya tujuan lagi. Mengamati wajah malaikatnya yang terlelap sedikit mengurangi kegundahannya, tapi tetap tak hilang.

Luhan merebahkan tubuhnya di sebelah Eunsun kemudian memeluk yeoja kecil itu. Hari ini dia menangis karena pria Oh itu, namun tak ada hari esok untuk tangisan ini lagi.

Merasakan pergerakan di tempat tidurnya, gadis kecil ini terbangun dari tidurnya. Apalagi mendengar suara isak tangis yang sangat ia hapal milik ibunya, segera Eunsun menoleh. Benar, dilihatnya Luhan tengah menangis. Mau bertanya 'kenapa?' tapi tak bisa. Lidahnya masih kelu untuk digerakkan. Akhirnya yeoja cilik ini hanya memegang tangan Luhan lalu mengusapnya.

Tangis Luhan makin pecah. Direngkuhnya tubuh kecil Eunsun dalam pelukannya. Mendekap amat erat. "Gwenchana.. Gwenchana.." ujarnya terdengar menyedihkan.

~ O.O ~

Eunsun terus mengarahkan pandangannya pada seseorang yang ia panggil ibu. Seseorang yang kini wajahnya kian muram dengan lingkaran hitam di bawah mata dan kantung mata yang membengkak. Entah apalagi yang menimpa sang ibu hingga menangis seperti semalam. Eunsun tak tahu. Yeoja kecil ini turun dari kursi yang di dudukinya dan menghampiri sang ibu -yang tengah melamun. Menyentuh lengan Luhan kemudian mengusap seolah memberi kekuatan untuk namja cantik itu agar tetap kuat.

Luhan menoleh, ia tahu maksud gadis kecil di sebelahnya. Tak akan berhenti ia mengucap syukur dalam hati karena dikaruniai anak seperti Eunsun. Tidak menyesal telah melahirkannya kedunia sebab anak itu yang sekarang menjadi obat dari segala kesakitannya. Ia tersenyum kecut. "Gwenchana.. Nan gwenchana."

Meski mengatakan baik-baik saja, Eunsun paham kalau keadaan ibunya tak benar-benar baik. Ditariknya tangan Luhan meminta sinamja cantik untuk menunduk. Dan ketika sang ibu membungkukkan sedikit badannya, Eunsun langsung memberikan sebuah kecupan di pipi kanan Luhan kemudian mengusap wajahnya. Menarik kedua sudut bibir merah itu untuk tersenyum lalu memeluk sang eomma.

'Lemah!'

Luhan dalam hati karena lagi-lagi matanya memanas dan siap menumpahkan cairan bening. Padahal ia namja tulen, meski mempunyai kelainan. Dilingkarkan kedua tangannya membalas pelukan Eunsun. "Gomawo.. Saranghae Eunsun-ah.." ucapnya mendekap lebih erat.

~ O.O ~

Apa hari ini khusus untuk bersedih? Kenapa kebanyakan orang yang ia temui hari ini bertampang murung? Tidak ibunya, security digerbang, beberapa teman sekelasnya lalu sekarang si wali kelas yang kelihatan amat sedih. Kalau memang hari ini khusus bersedih, maka ia akan ikut sedih juga.

'Hng, ada apa sebenarnya?'

45 menit jam belajarpun terasa sangat lama, Oh seonsaengnim memberikan pelajaran amat lambat dan hampir seluruh murid mengantuk karena tak ada semangat. Eunsun memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas setelah bel berbunyi. Waktu istirahat. Teman-teman yang lain sudah keluar. Seperti biasa ia yang paling akhir.

"Eunsun-ah.."

Yeoja cilik ini berbalik, menghampiri sang guru, menatap Sehun bingung. Kepala Sehun tertunduk. Lemas, tak bertenaga dan muram. Begitulah keadaannya.

"Aku ditolak."

Eunsun makin bingung. Memiringkan kepalanya pertanda ketidak mengertian gadis kecil ini.

"Katanya aku terlambat dan menyangkal kenyataan. Aku sedih sekali. Dadaku rasanya ditusuk batu runcing. Padahal.. Aku sungguh-sungguh." katanya lalu memandang muridnya itu. Sehun tahu Eunsun tak akan paham apa yang dikatakannya. Tapi tidak apa-apa asal kegundahan hatinya dapat tersampaikan."Apa aku menyerah saja? tapi perjuanganku belum seberapa. Aku ingin membuktikan padanya kalau aku tulus." Tambahnya.

Masalah yang pelik. Yah.. biarpun ia tak mengerti, Eunsun juga prihatin. Diraihnya tangan Oh seonsaengnim kemudian mengepalkan jemarinya lalu mengangkat tinggi. Bermaksud memberi semangat. Hanya ini yang bisa ia lakukan.

Sehun tersenyum. Benar, memang ia belum berjuang keras sampai titik darah penghabisan. Belum boleh menyerah. Lagipula tak ada kata terlambat untuk memperbaiki sebuah kesalahan. Sehun baru tahu. Dipegangnya tangan Eunsun yang masih memegang tangannya."Gamsahamnida.. kau seperti malaikat."

'Ya, malaikat kecilku.'

~ O.O ~

Ingin sekali Luhan mengambil pisau lalu menikam jantung namja Oh disana agar ia tak bertemu selamanya. Tapi sayangnya itu hanya dapat ia pikirkan sebab namja cantik ini masih takut hukum penjara. Luhan cuma bisa mendengus keras ketika penglihatannya berpapasan dengan sorot tajam milik namja itu.

Jangan lemah.

Tak boleh menangis

Ia menguatkan diri sendiri.

Lagi, ia berjalan melewati Sehun seakan tak ada orang disekitarnya. Mau apa? Bukankah sudah jelas ia menolak kehadiran si namja tampan, namun kenapa terus muncul dan mengatakan maaf? Seolah menawarkan kehidupan baru -memulai semuanya dari awal- bahagia. Hah.. Tidak mungkin. Pemikiranmu terlalu naif Kim Luhan.

"Chakkaman.."

Bodoh!

Selalu.. Selalu begini. Tubuhnya menuruti permintaan namja itu. Meski berhenti, Luhan tidak berbalik untuk menatap Sehun.

Sehun belum bicara. Ia memandangi punggung Luhan yang makin hari terlihat makin kecil. Seakan habis termakan waktu. Tubuh rapuh itu, dibahunya terpikul semua beban dari dulu hingga sekarang, amat berat. "Maafkan aku.."

Luhan Menghela napas, kata itu lagi. Walau ia sempat goyah, tapi bila mendengar terus-menerus maka akan bosan. Luhan ingin berpegang pada pendiriannya. Tak mau perduli lagi, cukup. Ia melanjutkan langkah.

Melihat tak ada respon bahkan namja cantik itu telah berjalan membuat Sehun frustasi. Tidak, tak ada kata menyerah. Segera ia menyusul Luhan kemudian menahan tangannya. Memutar tubuh si namja cantik. "Kim Luhan! Katakan.. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku? Mianhaeyo.. Jebal."

"Apa alasanmu?"

Sehun terperangah dengan pertanyaan Luhan.

Alasan?

Alasannya?

Sehun tak tahu.

Dia tak punya alasan, tidak memikirkannya. Ia hanya ingin mendapatkan maaf dari sinamja cantik. Merasa bersalah atas perbuatannya dulu. Apalagi melihat sigadis kecil yang tumbuh menjadi anak pintar dan cantik, hati Sehun serasa dicabik. Mengakui kebodohannya, menyesali semuanya

"Karena merasa bersalah?" Luhan menggeleng. "Aku tidak butuh." Mengamati wajah Sehun yang tampak bodoh. Tersenyum miring -sedikit. "Jangan muncul dihadapanku atau Eunsun lagi! Kami tidak membutuhkanmu, hidup kami bahagia sebelum kehadiranmu! Anggap saja kita tak kenal karena memang kita tak pernah berteman!" Luhan melepas tangan Sehun dari tangannya lalu membungkukkan badan hormat sebagai salam lalu pergi meninggalkan namja itu.

Menggigit bibir bawahnya melampiaskan rasa pedih yang tiba-tiba menyerang hatinya. Ia sendiri tak mengerti kenapa dadanya terasa sesak. Harusnya ia senang bisa menghadapi dan membungkam mulut Sehun. Rasa sakit ini sama ketika sinamja tampan menolaknya 9 tahun lalu, menusuk dan serasa mengoyak hatinya.

Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Luhan bak pisau menancap diseluruh badan bahkan mencincang hatinya. Benar, sebelumnya memang mereka tak berteman. Tapi ia kenal Luhan, ia tahu namja cantik itu.

Bagaimana bisa ia melakukannya? Sementara malaikat kecilnya selalu ia lihat di sekolah. Rindu yang jarang ia rasakan kini terus menjalari tubuhnya untuk melihat sigadis kecil. Jadi, bagaimana caranya ia menuruti permintaan Luhan?

Sesak

Inikah karma yang harus dijalaninya?

Menerima rasa sakit bertubi-tubi?

'Ku mohon.. Maafkan aku.'

~ O.O ~

Jin Ri cuma diam melihat apa yang terjadi barusan. Jadi orang yang bernama Kim Luhan adalah namja yang memiliki wajah menawan tadi? Hampir yeoja cantik ini salah mengira kalau orang itu adalah yeoja karena wajahnya sangat sempurna. Lalu apa masalah mereka? Oppanya sangat bersemangat meminta maaf, sedangkan Kim Luhan tampak tersakiti.

Dan… nama Eunsun diucapkan lagi.

Baiklah.. Ia akan berusaha lebih keras untuk membongkar masalah ini.

.

.

.

Hilang sudah keceriaan dari wajah Luhan. Kini tampang namja cantik itu sangat sendu. Kata yang dilontarkan Baekhyun sungguh menyakitkan.

Menjijikkan?

Apa karna seorang namja dapat mengandung dan melahirkan itu menjijikkan?

Bagaimana bisa pemikiran Baekhyun sepicik itu? Luhan tak habis pikir. Ujung hidungnya memerah menandakan bahwa sinamja cantik mencoba menahan air mata yang mungkin akan tumpah.

Siapa orang tadi? Kenapa berkata begitu pada ibunya? Kejam sekali. Melihat wajah sang ibu sangat buruk ikut membuat Eunsun tersakiti. Kemudian dipeluknya kaki Luhan -sebab tingginya hanya sepinggang Luhan- berharap mengurangi kesedihan s namja cantik. Memeluknya erat.

Sadar kalau mukanya pasti dilihat Eunsun, Luhan kemudian mengusap puncak kepala sigadis kecil sembari tersenyum kecil. "Gwenchana.. Nan gwenchana."

~ O.O ~

Eunsun menggembungkan pipinya lantaran kesal. Tak biasanya sang ibu terlambat menyiapkan sarapan. Setengah jam lagi bel tanda masuk disekolah akan berdering, ia takut terlambat. Bibir merahnya dikerucutkan.

"Taraaa~ saengil cukhahamnida Eunsun-ie.."

Huh?

Mata gadis ini membelalak melihat sebuah cake yang tidak terlalu besar ukurannya berada dihadapannya, namun hiasan pada cake tersebut sangat cantik. Berwarna-warni dan ada lilin berbentuk angka 8 di atasnya. Inihari ulang tahunnya? Eunsun tidak ingat.

"Saengil cukhahamnida.. saengil cukhahamnida.. saranghaneun uri Eunsun. Saengil cukhahamnida~" Luhan bernyanyi riang disertai senyum lebar. "Nah, sekarang ucapkan doamu dalam hati dan tiup lilinnya."

Memperhatikan wajah sang ibu secara menyeluruh. Tak ada gurat-gurat kesedihan tercetak diwajahnya. Mungkin sengaja membuang semua masalah untuk hari ini -hari ulang tahunnya. Berarti gaun yang dibeli ibunya kemarin untuk ini? Eunsun mengulum bibir dengan mata terasa panas. Tersenyum lalu memejamkan mata. Mengucap doa dalam hati. Meski hanya untuk hari ini, Eunsun lega melihat keceriaan diwajah sang eomma. Ia sangat senang. 'Terima kasih eomma.. Saranghae.' Batinnya di akhir doa.

Eunsun membuka kedua matanya kemudian meniup api lilin diatas cake. Dengan ekspresi haru, Eunsun turun dari kursi dan menghampiri Luhan. Memeluk sang eomma erat. Mengeluarkan semua perasaan bahagia dalam hatinya.

Luhan balas memeluk Eunsun. Ia tahu kalau malaikat kecilnya itu tengah mengucapkan terima kasih. "Ne"

~ O.O ~

Mengamati seorang anak perempuan dari jauh menjadi aktivitas tetap Sehun belakangan ini, setiap ada kesempatan. Seperti kali ini, murid dari kelas 1 -murid-muridnya sedang belajar kesenian. Mereka menggambar ditaman sekolah. Makanya ia bisa memuaskan diri melihat sigadis kecil. Senyum tak lepas dari bibirnya.

Kenapa tak dari dulu saja?

Menyesal?

Yah, menyesal telah menolak bayi yang dikandung Luhan. Ternyata sekarang ia malah sangat menginginkan Eunsun menjadi putri sahnya, menyandang marga Oh dan memanggilnya dengan sebutan 'appa'. Pasti rasanya amat bahagia.

Sehun menghela napas lalu duduk kembali dikursinya diruang guru. Masih banyak pekerjaan. Sebelum melanjutkan kegiatannya, namja tampan ini menguatkan diri dan tekadnya untuk mendapatkan Luhan serta Eunsun, karna tujuannya meminta maaf adalah membuat satu keluarga bersama kedua orang itu. "Baiklah.. waktunya bekerja!" ucapnya sembari menyemangati diri sendiri.

"Seonsaengnim.."

Pelan, halus dan lembut. Sehun tak mengenal suara ini. Ia belum pernah mendengarnya. Seonsaengnim? Berarti murid sekolah ini. Perlahan Sehun mendongakkan kepala dan melihat seorang murid yeoja berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah buku gambar. Mata setajam elang itu membesar.

Kim Eunsun?

Benar, gadis kecil yang berdiri disana. Suara tadi.. Apa suara Eunsun? Benarkah? Tidak mungkin. Apa ia hanya berhalusinasi?

Sehun terus berpikir sementara simurid berjalan mendekati dengan lengkungan garis keatas dibibirnya. Eunsun meletakkan buku gambarnya diatas meja bermaksud agar Sehun melihatnya.

Guru tampan ini mengerti dan memandang buku gambar yang satu halamannya terdapat sebuah gambar pemandangan. Garis-garis batas halus, pewarnaan tepat, tak ada cacat. Seperti gambar yang dibuat oleh orang dewasa. Orang dewasapun belum tentu bisa menggambar begitu. Berarti si yeoja kecil berbakat dalam menggambar.

"Yeppeutta." ucap Sehun menunjukkan kedua jempol tangannya. "Sempurna." tambahnya memperlihatkan senyum maut miliknya.

Mendengar jawaban sang seonsaengnim membuat Eunsun merasa amat senang. Bibirnya menampakan senyum lebar. Diambilnya lagi buku gambar tadi lalu membungkukkan badan dan berjalan menuju pintu.

Yeoja kecil itu tidak berbicara 'kan? Cuma menunjukkan gerak-gerik saja. Lalu yang ia dengar itu? Tak mungkin suara hantu. Atau telinganya mulai bermasalah? Sehun tak mengerti. Ia menggelengkan kepala mengusir pikiran negatif dan melanjutkan lagi pekerjaannya.

Sedangkan siyeoja cilik berhenti tepat di frame pintu. Ia berbalik, menatap siguru tampan nan galak –dulu, mengamati lekat. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum manis. "Gomapta.." dan berbisik lirih, hanya dia yang dapat mendengar suaranya.

.

.

.

TBC

Terima kasih untuk yang membaca, mereview, memfollow, dan memfavoritkan ff 'Silent Angel' versi HunHan ini..#Bow

Untuk yang bertanya kenapa marga Luhan menjadi Kim, aku sengaja menggunakan marga Kim untuk Luhan karna aku suka dengan marga itu yang berarti 'Emas'. Anggaplah Luhan anaknya Kim Jaejoong yaa..

Dan…untuk nama anaknya juga tidak aku rubah karna aku juga suka dengan nama itu. Kim Eunsun (Emas dalam kebaikan dan Rahmat). Sebenarnya ini nama punya Ebby Kim-nya..hehehehe

Selamat menunngu chapter berikutnya…#Plllaaaaakkkkkk

.

.

.

Wanna Review?