Silent Angel
Credit toEbby Kim ( m . fanfiction s / 9722918 / 1 / Silent -Angel(hapus semua spasi)).
Cast : Xi ( Kim )Luhan, Oh Sehun
Pairing : HunHan
Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama ( Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).
.
.
.
Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back' aja! Karena saling menghargai itu indah ^^
.
.
.
Happy Reading ^^
Eh? Sehun tak salah lihat 'kan? Orang itu.. Yang berdiri di gerbang sekolah -memicingkan mata mencoba melihat lebih jelas. Dari postur tubuh, cara berpakaian yang amat ia hapal dan potongan rambut..
Benar.
Kim Luhan.
Mau apa jam segini datang ke sekolah? Menjemput Eunsun? Terlalu cepat. Tak mungkin ada hal lain yang membuat namja cantik itu datang kemari bila bukan mengenai Eunsun.
Jadi, apa? Karena penasaran, guru tampan ini berniat menghampiri si namja cantik. Melangkahkan kakinya keluar dari koridor dan berjalan menuju gerbang. Ia juga sedang tak ada jam mengajar. Sekalian.. Mencoba meminta maaf lagi. "Luhan-ah.."
Luhan terkejut dan segera menoleh. Ia makin kaget menemukan Sehun berada di sampingnya. Kenapa harus bertemu? Kenapa dia ada disini? Mata mereka beradu pandang. Namja cantik ini menghela napas pelan. Ia tak mau terlarut dalam sorot tajam namun sarat luka itu.
Ketika Luhan berbalik, tangannya langsung dipegang Sehun. "Wae? Tak adakah kesempatan untukku membuktikan kesungguhanku meminta maaf?"
"Tak perlu kuulangi."Luhan membalas dingin. Membiarkan tangannya tetap di pegang. Jujur, ia ingin tahu apa lagi yang akan dilakukan namja Oh itu meski sudah pasti tak akan berpengaruh. Semoga.
Sehun kehilangan kata-kata. Tiba-tiba otaknya tak mampu bekerja dengan baik. Ia diam bagai patung. Matanya tetap terfokus pada si namja cantik yang tidak mau menoleh ke arahnya. Perlahan pegangannya pada tangan Luhan mengendur dan melepaskannya. Sehun benar-benar tak tahu harus mengatakan atau berbuat apa. Ia paham makna kalimat Luhan. Penolakan -lagi.
Luhan melirik ke arah si namja tampan sejenak. 'Bagus. Sekarang kau mengerti. Betap bencinya aku padamu.' Luhan membatin dendam. Dengan senyum mengejek ia melangkah ingin pergi.
"Geundae.. A-ku.. Aku.. Alasanku.. Ingin membayar semua penderitaanmu dan membuat satu keluarga bersamamu. Kau, aku dan Eunsun."
Diam.
Gerakan kaki Luhan berhenti. Satu keluarga. Muncul dalam pikirannya gambaran dia, Sehun dan Eunsun tengah tertawa bersama.
Satu keluarga -bahagia.
Membayangkannya memang menyenangkan, tapi untuk mewujudkan itu... Luhan tidak yakin. Lagi-lagi hatinya goyah. Kenapa baru sekarang Sehun menawarkan kebahagiaan yang mungkin dulu bisa saja dilaksanakan? Setelah rasa sakit yang menikam, ia tak dapat menerima itu.
Tidak mau membebani pikirannya, Luhan memilih menutup telinga dan melangkah pergi. Dia tak butuh tawaran itu.. Dia hanya butuh si gadis kecil di sisinya.
Jika bisa dilihat, maka bentuk hati Sehun saat ini adalah serpihan-serpihan kecil. Hancur lebur. Benar-benar menyakitkan. Apakah usahanya belum cukup untuk meyakinkan Luhan? Apalagi yang harus ia lakukan?
~ O.O ~
"Kim Luhan nugunde?"
Sehun mendongak, mendapati Jinri sedang menatapnya penuh selidik. Tadi adiknya menyebut nama Kim Luhan? "Darimana kau tahu-"
"Kim Luhan nugunde?!" ulangnya agak keras memotong pertanyaan Sehun.
Wajah terkejut Sehun berubah. Ia menundukkan kepala. Entah bagaimanaJinri bisa tahu mengenai Luhan, mungkin memang sudah waktunya si adik mengetahui permasalahan dan kebejatan kakaknya ini. Ia tutupi pun pasti nantinya akan terbongkar. "Kim Luhan. Orang yang telah melahirkan anakku. Aku seorang ayah." ucapnya sambil menerawang. Mengingat wajah si kecil Eunsun.
"Mwo?!" mata Jinri membelalak. Tapi.. Bukankah Kim Luhan itu namja? Bagaimana bisa?
"Kau boleh memukul atau memakiku karena memang aku yang bersalah. Aku menidurinya. Tapi sewaktu ia mengatakan hamil, aku tak percaya dan menyuruhnya aborsi. Kau tahu istilah 'male pregnant' kan?"Sehun melirik Jinri sebentar. "Rupanya dia mempertahankan kandungannya dan melahirkan seorang anak yang cantik. Kim Eunsun."Sehun menatap si adik. "Nama yang indah, bukan?"
Spechless. Yeoja cantik ini tak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu kalau kakaknya...begitu. Memang Sehun punya sifat kasar, suka membuat onar dan seenaknya. Tapi tak menyangka kalau yang dilakukan sang kakak malah sangat keterlaluan. Bahkan sampai ada yang lahir. Pantas saja Kim Luhan tampak begitu tersakiti. Bila dia yang berada di posisi namja cantik itu, ia pun tak akan memaafkan Sehun. Tidak akan pernah. Untuk selamanya.
Perbuatan serta kalimat menyuruh aborsi yang dilontarkan kakaknya sungguh membuat siapapun membencinya. Termasuk Jinri, adik kandung Sehun. Tapi.. Ia adalah adik si tersangka. Meski rasa benci dan kecewa mulai menyeruak, ia tak bisa membantah status kekeluargaan mereka. Entahlah, Jinri tak tahu harus melakukan apa. Kebenaran ini terlalu mendadak dan ia belum bisa mencerna dengan baik.
"Silahkan pukul atau maki aku."
Jinri merasa kepalanya pusing. Yeoja cantik ini mendecih lalu keluar dari kamar sang kakak. Ingin marah? Untuk apa? Telah terjadi.
Lihat, bahkan adiknya mendecih setelah mendengar perbuatan buruknya dulu. Sehun makin sadar kalau kelakuannya memang tak bisa diterima.
~ O.O ~
BRAK!
Eunsun terkejut -sampai terjaga dari tidurnya. Bunyi apa itu? Sangat keras. Gadis kecil ini bangkit dari ranjang dan berjalan keluar secara perlahan. Bunyi tadi seperti berasal dari depan. Apa mungkin ada perampok? Takut-takut Eunsun melangkah menuju ruang tamu.
"Ugh!"
Suaranya..Si gadis kecil mencoba mencari sesuatu. Apa saja yang bisa digunakan sebagai alat mempertahankan diri. Sekarang jam 1 dini hari, siapa yang mendatangi rumahnya?
Gerakan Eunsun terhenti ketika matanya melihat sang eomma tergeletak di lantai dekat pintu.
'Eomma! '
Eunsun egera berlari mendekati Luhan lalu menutup pintu serta menguncinya. Kenapa dengan ibunya? Apa suara tadi karena Luhan?
Melihat wajah ibunya amat merah dan bau napas yang menyengat, Eunsun tahu kalau Luhan mabuk. Dengan susah payah, ia mengangkat tubuh Luhan. Tidak bisa, tenaganya tak cukup dan badannya terlalu kecil. Jadi Eunsun terpaksa menyeret Luhan ke dalam kamar. Menarik tubuh kurus itu pelan agar tak menyakiti sang ibu.
Sesampai di kamar, sekuat tenaga Eunsun memindahkan Luhan ke atas tempat tidur. Sulit memang, tapi ia berhasil sepuluh menit kemudian.
Eunsun memandang wajah kemerahan sang ibu. Gurat-gurat kesedihan itu tampak jelas meski ditutupi rona merah. Ada apa? Kenapa ibunya sering sekali bersedih akhir-akhir ini? Ingin Eunsun membantu di setiap permasalahan Luhan, namun ia tak bisa. Apa yang dapat dilakukan anak berumur 8 tahun? Jarang ada yang berpikir positif.
Sewaktu si yeoja kecil menarik selimut untuk menutupi badan Luhan, mata namja cantik itu perlahan terbuka. Mata indah yang cahayanya redup. Memandang Eunsun intens. Namun wajah si gadis cilik mengabur berganti dengan wajah seorang namja tampan. Seketika bibir cherry Luhan mengeluarkan isakan. "Kau!" tudingnya ke wajah si namja tampan -Eunsun. "Aku sangat membencimu! Kenapa kau muncul lagi!? Apa kau tak puas telah menghancurkan hidupku?" ujar Luhan menahan isakan yang terancam lolos. Air mata mulai berjatuhan ke pipinya. Wajahnya kian memerah.
Eunsun diam. Dia tak mengerti.
"Maaf? Kau pikir berguna? Tidak. Aku membencimu, jadi jangan muncul di hadapanku. Dan Eunsun adalah anakku.. Anakku, milikku." kepala Luhan tertunduk. Meremas bagian baju di depan dadanya. "Aku membencimu, tapi kenapa rasanya sakit sekali saat menolakmu?... Tidak. Aku tidak mencintaimu. Aku sangat membencimu!"Luhan mengamuk, membanting barang-barang yang terjangkau tangannya. Kemudian menjambak rambutnya sendiri menunjukkan ia frustasi dengan perasaan dan orang yang menjadi objek kesedihannya. Isakan lirih pun keluar, tak bisa ditahan lagi. Menangis untuk meluapkan semua.
Yah, Kim Luhan memang lemah. Cuma menangis yang dapat ia lakukan. Seandainya ia bisa melawan, membuang jauh segala perasaan tidak menyenangkan ini. Namun.. Ia hanya manusia biasa.
Maju beberapa langkah mendekati sang ibu. Ingin menenangkan tangisan Luhan yang ikut membuatnya sedih. Menghapus cairan-cairan bening itu, Eunsun tak mau melihat ibunya begini.
"Eunsun adalah anakku, Sehun-ah.."
Gerakan si gadis kecil terhenti. Sehun? Oh seonsaengnim?
"Jangan ambil dia dariku.. Hiks. Hanya Eunsun yang kupunya. Meski kau adalah ayah kandungnya, tapi kau telah menolak kehadirannya. Kau tak berhak atas Eunsun.. Tidak~"Luhan menggeleng sembari memejamkan mata.
Kemudian suara Luhan menghilang, digantikan dengkuran halus menandakan namja cantik ini tertidur meninggalkan si yeoja cilik yang masih diam sambil memandangi wajah ibunya.
Ayah kandung?
Ayahnya?
Seseorang yang ia panggil ayah?
Sehun? Oh seonsaengnim?
~ O.O ~
Aura pagi ini terasa amat dingin. Tak ada keceriaan seperti biasa. Terkesan beku. Luhan tak tahu apa yang membuat rumahnya bagai tidak berpenghuni, padahal ada dia dan Eunsun. Meski perasaannya tak enak, apalagi kepalanya masih berat akibat semalam -mabuk- ia mencoba bersikap tak terjadi apapun. Menyiapkan sarapan dan duduk berhadapan di meja makan bersama Eunsun.
Apa Eunsun tahu ia mabuk? Apakah terjadi sesuatu tadi malam? Kenapa wajah yeoja kecil itu amat datar? Luhan makin tak enak. Pasti ia melakukan sesuatu tanpa disadarinya ketika mabuk sehingga membuat Eunsun mendiamkannya. "Sun-ie.."
Si yeoja cilik mengalihkan tatapan dari makanannya pada sang eomma.
"Wae? Kau terlihat tak sehat."tanya Luhan hati-hati.
Diam. Ekspresi wajahnya tak berubah. Kemudian Eunsun menggeleng, melepas kontak mata dengan ibunya. Bukan ia yang terlihat tak sehat, tapi ibunya. Tampak pucat dan cara berjalan yang oleng. Yah, Eunsun menyadarinya.
Rasanya seperti ada yang menghantam hati dengan sesuatu yang amat berat. Sesak juga sakit. Baru kali ini ia mendapati sikap Eunsun begitu. Luhan merasa diabaikan. Mungkin gadis kecil itu belum mau memberitahukannya. Luhan memilih diam dan melanjutkan sarapannya.
~ O.O ~
"Jadi jarak pohon A dan C lebih dekat dibanding jarak pohon A dan B." Jelas Sehun sembari menarik garis dari 3 gambar pohon di papan tulis. Kini Oh seonsaengnim tengah menjelaskan pelajaran mengenai ukuran jarak. Pelajaran matematika untuk kelas satu sekolah dasar. Mukanya tampak serius ketika menerangkan.
Kalau biasanya Eunsun menyimak dengan baik pelajaran yang ia terima, tapi kali ini tidak. Pikirannya terpecah. Antara memperhatikan sang guru dan memutar kalimat yang ia dengar semalam dari mulut ibunya.
Ayah...Ayah kandungnya. Benarkah? Apa benar namja yang berdiri di depan kelas sana adalah ayahnya? Bagaimana bisa? Kalau memang Oh seonsaengnim adalah ayahnya, kenapa tak mengenali dirinya? Kenapa tak pernah menjenguknya atau sang ibu? Kenapa ia tidak tahu?
Banyak lagi pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Eunsun. Membuatnya tak fokus menerima pelajaran. 'Eunsun adalah anakku, Sehun-ah..' kata-kata Luhan kembali teringiang. 'Eomma, benarkah? Apa yang eomma katakan benar?'
"Eunsun-ah.." Gadis kecil ini mendongak. Oh seonsaengnim sedang menatapnya heran, begitu pula dengan teman-teman sekelas. "Apa ada yang tak kau mengerti?" tanya Sehun. Ia merasa aneh akan sikap Eunsun hari ini. Lebih diam dan tak ada semangat.
Memandangi Oh seonsaengnim cukup lama kemudian menggeleng. Eunsun mengalihkan tatapannya pada buku miliknya yang masih kosong, belum tertulis apapun.
Ada apa? Kenapa gadis kecilnya tampak lesu begitu? Apa terjadi sesuatu pada Luhan sampai membuat Eunsun tak bersemangat? Sehun menghela napas pelan. Ia kembali melanjutkan pelajaran.
Karena kegundahan hatinya, Eunsun tanpa sengaja menulis dibukunya.
Uri appa..
Tentang ayah, memang Eunsun tak pernah bertanya pada Luhan. Dengan sang ibu ada di sebelahnya, rasanya sudah cukup. Meski ia sering melihat anak-anak lain bersama ayah .. Sekarang, ia ingin tahu mengenai ayahnya. Apalagi mendengar ucapan sang ibu saat mabuk semalam. Bahkan menyebutkan nama Oh seonsaengnim. Apa benar Oh seonsaengnim adalah ayahnya? Eunsun tidak yakin. Walau wali kelasnya itu sangat baik, tapi tetap saja.
"Sun-ah.." Terasa tepukan pelan di pundak kiri Eunsun. Membuyarkan lamunannya. Yeoja kecil ini memutar tubuhnya dan mendapati orang yang tengah ia pikirkan berdiri di hadapannya.
Oh seonsaengnim berjongkok, mensejajarkan tinggi mereka. Memperhatikan lebih lekat raut wajah yang layaknya di penuhi awan hitam -mendung. "Gwenchana?"Sehun bertanya sembari mengusap puncak kepala Eunsun. Mencoba memberi kenyamanan.
Mata bulat itu meneliti wajah yang berada di depannya. Menilik setiap senti. Alis, mata, hidung, bibir, kedua belah pipi dan rahang tegasnya. Terbentuk sempurna. Ditambah sorot tajam namun menyiratkan kelembutan dan kekhawatiran membuat Eunsun tak paham bagaimana batinnya. Mengenai keraguan status Oh seonsaengnim diantara dirinya dan sang ibu.
Inikah ayahnya? Yang membuatnya ada di dunia ini? Orang yang seharusnya berjalan bersama ibunya.
Tapi kenapa..?
Jemari kecil milik Eunsun bergerak menyentuh wajah Sehun. Menelusuri pipi hingga dagu. Kemudian Eunsun menggeleng sembari tersenyum kecut dan menjauhkan tangannya.
"Jeongmalyo? Geundae-"Sehun menggantung kalimatnya. Yah, tak semua orang mau membagi masalahnya. Menarik kedua sudut bibirnya. "Baiklah.. Tapi kalau kau butuh teman, aku siap."
Hanya senyuman lirih yang bisa Eunsun tunjukkan.
~ O.O ~
Walau sedang belajar, namun pikiran Eunsun tidak bisa fokus. Gadis cilik ini terus memikirkan ucapan sang eomma dan mengingat-ingat wajah Oh seonsaengnim. Sungguh, Eunsun sangat ingin tahu kebenaran masalah ini. Dan juga.. Ia mulai menginginkan sosok ayah.
Ketika mendengar suara langkah kaki, segera Eunsun menoleh. Melihat ibunya meletakkan pakaian-pakaian kering di lantai yang baru diambil dari luar untuk dilipat.
Yeoja cilik itu menghampiri sang eomma, menarik ujung bajunya. Sewaktu Luhan menoleh, Eunsun meraih tangan ibunya, membuka telapak tangan yang terasa kasar karena bekerja berat lalu menggerakkan jari telunjuknya di atas telapak tangan Luhan.
Si namja cantik tercekat begitu Eunsun selesai menulis di telapak tangannya. A-apa yang harus ia katakan? Kenapa tiba-tiba malaikat kecilnya menanyakan itu? Luhan belum menyiapkan jawaban apapun. "A-eh, a-aku appamu.." jawabnya sembarangan. Agak tergagap.
Bohong!
Raut muka Eunsun berubah. Kenapa harus berbohong? Kenapa tidak jujur? Lalu apakah yang ia dengar malam itu halusinasi atau ucapan orang yang tidak sadar? Bukankah orang mabuk selalu berkata jujur? Eunsun tidak mengerti bagaimana orang dewasa. Selalu berusaha menutupi kenyataan.
"Lanjutkan belajarmu. Aku masih ada pekerjaan lain."Luhan melangkah meninggalkan Eunsun dengan senyum paksa. Jantungnya berdebar cepat. Terkejut, takut dan belum siap mengungkap kebenaran menjadi latar belakang kegugupannya sehingga berbohong. 'Mianhae, Eunsun-ie..'
Appa..
~ O.O ~
Eunsun menggembungkan pipi sambil menendangi kerikil-kerikil kecil yang berserakan di sekitar sepatunya. Membosankan. Kenapa ibunya lama sekali? Kalaupun terlambat tidak sampai selama ini. Satu jam. Bukannya Eunsun tak bisa pulang sendiri, tapi Luhan yang selalu datang menjemputnya. Pernah sekali ia pulang sendirian, ketika bertemu sang ibu di rumah, namja cantik itu kelihatan layaknya orang kesetanan. Menghambur memeluk Eunsun amat erat dengan napas tak teratur. Tentu saja gadis cilik ini tak mau mengulangi hal itu lagi. Tapi.. Kalau sampai begini lamanya, Eunsun ingin langsung pulang saja. Bibir merah milik Eunsun mengerucut. 'Lama..'
"Kau belum pulang?"
Eh? Eunsun menoleh. Seorang namja tampan berdiri di sebelahnya. "Wae? Ayahmu belum menjemputmu?" ia bertanya lagi. Gadis itu hanya mengangguk pelan. "Boleh aku menemanimu sampai kau dijemput?"Sehun mengembangkan senyumnya. Tidak ada jawaban dari Eunsun. Tak juga ada gerak-gerik menjawab. Gadis ini hanya diam sembari memandang jalanan di depan.
Hah.. Sulit. Memang sudah selangkah, namun untuk melanjutkan langkah ternyata makin susah. Apalagi dengan keadaan Eunsun yang sekarang seolah tak mau didekati. Sehun ingin sekali tahu apa isi hati si yeoja kecilini.
Gelap. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam dan dua orang itu masih berdiri di gerbang sekolah. Eunsun sudah terlihat kelelahan karena berdiri berjam-jam. Begitupun dengan Sehun, namun namja tampan ini masih dapat mengatasinya.
Sejak tadi ia menawarkan tumpangan untuk Eunsun pulang, tapi ditolak. Ia benar-benar tak tega melihat malaikatnya seperti ini. Kemana sebenarnya Luhan, kenapa menelantarkan Eunsun begini? Sehun tidak terima.
Dengan amarah tertahan, Sehun menarik tangan Eunsun membawa yeoja kecil itu ke area parkir. Membuka mobilnya dan memasukkan Eunsun ke kursi penumpang. Ia pun segera masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin lalu melajukannya.
Sementara si gadis cilik cuma memandangi sang guru kaget. Oh seonsaengnim mau membawanya kemana? Apa namja itu tahu dimana rumahnya? Kenapa tiba-tiba menariknya?
Sambil menyetir Sehun merogoh saku celananya. Mengambil ponsel dan mendial sederet angka yang telah di hapalnya di luar kepala. "Kau masih disana?" tanpa mengucap salam terlebih dahulu. "Kau melihatnya disana? Mwo?! Ck!" sekali lagi, tanpa tata krama Sehun memutuskan sambungan telepon dan mencampakkan ponselnya ke sembarang arah.
Eunsun tahu. Oh seonsaengnim marah. Pada siapa? Karena apa? Siapa yang ditelepon oleh gurunya itu? Orang dewasa memang sulit dipahami.
Setelah mematikan mesin mobil, Sehun langsung keluar diikuti Eunsun yang kebingungan. Bukankah ini tempat ibunya bekerja? Ia pernah kemari beberapa kali. Oh seonsaengnim tahu ibunya bekerja disini?
Eunsun mengikuti Sehun masuk ke dalam restaurant. Hal pertama yang menyambut indra penglihatan mereka adalah seorang namja cantik yang tengah dikerubungi pelayan-pelayan restaurant.
Sehun berlari mendekati meja di sudut ruangan. Matanya melebar melihat Luhan yang tak berhenti menenggak minuman keras langsung dari botolnya. Meski sudah dilarang oleh mereka yang mengelilinginya, Luhan tetap memaksa untuk minum.
"Lu.." gumam Sehun tak percaya. Cepat ia mengambil alih botol yang dipegang Luhan dan membantingnya di atas meja hingga pecah.
"YAA!" hardik Luhan marah seraya berdiri dan menatap tajam mata bak elang di depannya.
"Sadarlah! Apa kau tak malu dilihat semua pengunjung? Bahkan Eunsun ada disini!" kecam Sehun tegas. Ia tak menyangka Luhan mabuk-mabukan dan melupakan Eunsun.
Pikirannya kosong. Untuk kedua kalinya Eunsun melihat sang ibu mabuk. Kenapa? Apa masalah Luhan terlalu berat, makanya lari pada minuman? Padahal selama ini ibunya tak pernah begini. Kemana sang eomma yang selalu tegar menghadapi masalah? Senyum cerianya dan semangat yang terus di bagi kepada Eunsun? Ia seakan tak mengenali Luhan. "Eomma.." lirih Eunsun amat pelan.
"Kami sudah berusaha menahannya, tapi Luhan hyung berontak." ujar salah satu dari pelayan itu.
"Belakangan ini Luhan hyung terlihat aneh. Apa masalahnya terlalu berat? Bahkan semalampun ia mabuk-mabukan begini." timpal yang lain.
"MWO?!" Sehun melirik sekilas pelayan yang berbisik di belakangnya. Tatapannya beralih pada Luhan yang kini mencoba membuka botol minuman keras yang kesekian.
"Ya! Hey! Kim Luhan!"Sehun menarik tangan Luhan hingga botol berisi minuman keras itu terlepas dan jatuh ke lantai, pecah. Mencengkram pergelangan tangan si namja cantik kuat kemudian menariknya. "Kajja, dorawa." ucapnya penuh penekanan.
Meski Luhan melakukan pemberontakan dan minta di lepas, Sehun malah menguatkan cengkramannya membuat namja cantik itu merintih sakit. Terus menyeret Luhan menuju pintu keluar restaurant diikuti tatapan para pengunjung.
Mudah melacak tatapan melecehkan yang ditujukan untuknya oleh salah satu pengunjung yang duduk di kursi di meja bernomor lima belas. Sepupunya. Sehun diam saja. Ia tak punya urusan dengan Baekhyun. Walau kesal karena namja itu bertingkah seakan 'siapa-dia-siapa-kau-siapa-aku'.
Eunsun sedikit terkejut melihat seorang pemuda yang ia ingat berkata 'menjijikkan' pada ibunya sewaktu berpapasan di mall. Lagi, tatapan meremehkan dilancarkan ke arah sang eomma. Si gadis kecil tidak mengerti. Kenapa banyak sekali beban yang ditanggung oleh ibunya?
~ O.O ~
Sehun langsung merebahkan tubuh Luhan ke atas tempat tidur. Namja cantik itu tertidur saat diperjalanan. Mungkin sudah mabuk berat ditambah lelah meneriakinya sepanjang perjalanan.
Menarik selimut menutupi badan si namja cantik. Matanya mengamati keadaan Luhan Terlihat damai dalam tidurnya walau rona merah akibat mabuk menghiasi wajahnya. Sehun menghela napas. Ia berbalik kala mengingat Eunsun. Mendapati gadis cilik itu sedang memandangi Luhan dengan wajah datar. Pasti shock melihat secara langsung ibunya mabuk. Terlebih makian yang dilontarkan Luhan tadi. Kata-kata kasar meluapkan kekesalan.
Sehun menghampiri Eunsun. "Sebaiknya kau istirahat. Ini sudah malam. Besok kau harus ke sekolah." Tanpa membalas yeoja cilik ini memutar tubuhnya dan berjalan keluar ini menghembuskan napas kasar lalu beralih menatap Luhan. Ia berjongkok di sebelah ranjang dan meneliti wajah terlelap itu. Menyusuri seluruhnya dengan matanya. Dan Sehun merasa dia adalah orang terbodoh di dunia karena baru menyadari betapa menawan rupa namja di hadapannya. Mata indah yang kelopaknya sedang menutup. Hidung mungil mancung. Bibir cherry merah. Lekuk wajah yang pas dan kulit halus tanpa noda. Benar-benar sempurna.
Jari-jari panjang Sehun mendarat di wajah Luhan. Menyingkirkan rambut yang menutupi kening si namja cantik. Kini ia dapat melihat seluruh wajah yang tak pernah bisa dijangkau dari dekat.
Damainya tidur Luhan seperti menyayat hati Sehun. Pasti selama ini namja cantik itu sulit tidur nyenyak. "Mianhae.." ujarnya pelan. "Semua bebanmu berasal dariku. Semua kepedihan hatimu juga karena diriku. Seluruh masalah hidupmu bersumber dariku.. Mian."Sehun memegang tangan Luhan. Menyelipkan jarinya dijemari kurus itu.
Sehun menatap sendu Luhan. "Luhan-ah.. Aku menyesal. Aku ingin memperbaiki semuanya. Menghapus beban dan mengobati luka-lukamu. Melihatmu begini juga memberikan sakit untukku. Aku.. Aku tak tahu, tapi.." menarik napas dalam lalu membuangnya. "Maaf."Sehun mengangkat sedikit tubuhnya dan memberi sebuah kecupan di keningLuhan. Ia mengukir senyum kecil di bibir tipis miliknya kemudian duduk di lantai tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Luhan. Entah benar.. Atau tidak, tapi Sehun merasa ada bunga mawar sedang mekar dalam dadanya.
Tidak bermaksud menguping. Hanya saja Eunsun sangat penasaran hubungan Oh seonsaengnim dengan ibunya. Mendengar jelas setiap kalimat yang terucap membuat level keyakinan Eunsun meningkat. Menyandarkan punggungnya pada dinding. Apapun itu, ia tak mau eommanya salah jalan -lagi.
~ O.O~
Kelopak yang menutupi sepasang doe perlahan terbuka. Sayu dan tak ada binar disana. Luhan merasa kepalanya pusing dan sangat berat, begitu pula tubuhnya. Terasa remuk dan perutnya yang bagai diaduk-aduk. Seperti kemarin. Ia memang tak biasa minum, apalagi sampai berlebihan. Berusaha mendudukkan dirinya lalu menyapu pandangannya ke sekitar ruangan. Ini kamarnya. Kenapa? Oh, apa ia diantar oleh rekan kerjanya? Mungkin. Ia segera menurunkan kakinya. Ingin ke kamar mandi karena tiba-tiba perutnya terasa mual. Namun saat ia berdiri, rasanya ia tidak memijak lantai.
"Akh!"
Luhan terduduk di pinggir ranjang dengan tampang terkejut. Apalagi ketika melihat seseorang berbaring di lantai di sebelah ranjang miliknya. Terlebih begitu tahu siapa orang itu, matanya membelalak lebar. "Ka-kau.."
Sehun bangkit sembari memegangi perutnya yang diinjak Luhan. Meringis sedikit kemudian menatap namja cantik itu. Melihat si namja cantik telah bangun, Sehun segera duduk dengan benar. "Gwenchanayo?"Kening Luhan berkerut. Apa maksud namja itu? "Kepalamu tidak pusing? Perutmu tidak apa-apa?" tanya Sehun lagi lebih jelas.
Mengerti maksud pertanyaan Sehun, keadaan Luhan yang sempat sudah baik-baik saja kembali merasa pusing dan sakit perut. Gah~ kenapa namja itu mesti mengingatkan tubuhnya yang dalam keadaan tak baik-baik saja? Beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Sebelumnya Luhan berhenti sebentar. "Pergi dari sini." katanya dingin.
"Lu.."
Belum Luhan mengatakan kalimat usiran lainnya, mereka berdua terkejut melihat seorang gadis kecil berdiri di ambang pintu kamar tengah memperhatikan keduanya. Wajah anak itu datar -tanpa ekspresi- menatap seakan mengintimidasi. Sehun dan Luhan dibuat bungkam.
.
.
.
~ TBC ~
Maafkan aku atas keterlambatan update nya..
Belakangan ini untuk Login ke FFn rada anu -,- aku juga rada sibuk..
Agak susah juga,, dan lagi..leptop lagi dipake sama ponakan..
Terima kasih untuk yang review,, memfollow dan memfavoritkan ff ini..#bow
