Silent Angel
Credit to Ebby Kim ( m . fanfiction s / 9722918 / 1 / Silent –Angel (hapus semua spasi).
Cast : Xi (Kim) Luhan, Oh Sehun
Pairing : HunHan
Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama (Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).
.
.
.
Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back' aja! Karena saling menghargai itu indah ^^
.
.
.
Happy Reading ^^
"Annyeonghaseyo.. Kim Eunsun imnida." Ucap gadis cilik disertai senyum lebar sembari membungkukkan badan hormat.
"Eoh, manis sekali! Siapa ibumu? Kenapa membiarkanmu sendirian disini?" salah seorang ahjumma yang tengah duduk di bangku taman mencubit pipi si gadis cilik karena gemas.
Eunsun membungkukkan badannya lagi. "Kim Luhan-ieyo. Eomma sedang bekerja." Ekspresi wajah ketiga ahjumma yang duduk di hadapan Eunsun berubah. Mereka saling pandang lalu bergidik risih ke arah si yeoja kecil seolah melihat benda menjijikkan. Membuat senyum yang tersemat di bibir merah itu memudar dengan tampang heran.
"Kim Luhan? Kau bilang ibumu Kim Luhan?" tutur ahjumma berambut pendek disertai smirk mengejek. "Apa dia sudah gila? Mengaku sebagai ibu padamu? Mengerikan." ahjumma ini memalingkan muka. Ber-cih ria di hadapan gadis cilik yang matanya mulai memerah. "Katakan pada ibumu untuk segera melakukan operasi plastik dan mengubah identitasnya menjadi perempuan. Arra?" Ahjumma itu menekan telunjuknya di kening Eunsun. "Menjijikkan sekali. Gaahh.. Pergi sana! Jangan bermain disini dan mendekati anak kami."
Diam. Kepalanya tertunduk. Gadis cilik ini berusaha menahan air yang mendesak keluar dari sudut matanya. Sungguh, hatinya sakit sekali mendengar kalimat yang diucapkan ahjumma-ahjumma tadi. A-apa benar begitu? Ia dan ibunya menjijikkan?
Usai mencemooh gadis kecil itu, ketiga ahjumma tersebut pergi sambil menarik anak-anak mereka. Terus melontarkan kalimat hinaan kepada yeoja cilik yang diam di tempatnya berdiri. Memiliki ibu seorang namja? Hah, yang benar saja! Gila! Memang sudah tersebar berita mengenai Kim Luhan, namja berwajah cantik yang melahirkan seorang bayi. Para tetangga yang mengetahui ini awalnya tak percaya, namun setelah melihat bayi cantik yang dibawa Luhan keluar ke sebuah klinik-mereka semua mulai mengasingkan Luhan. Mengucilkan si namja cantik, bahkan terang-terangan menyumpah serapahi dan menganggap pembawa sial. Hanya karena si bayi, Luhan bertahan dari segala gunjingan tetangga. Memikirkan keadaannya yang tak memiliki apapun dan kondisi bayinya yang tak mungkin ia bawa berpergian, hingga sekarang -si kecil Eunsun berumur lima tahun.
Cairan bening itu mengalir juga. Deras bagai hujan. Namun tak terdengar isakan. Eunsun menangis dalam diam. Tanpa suara. Menumpahkan sakit hatinya hanya lewat air mata. 'Eomma..'
.
.
.
Terputar kembali di ingatan Eunsun. Pengalaman pahit pertama yang ia alami. Siapa yang tak sakit hati diperlakukan begitu? Meski umurnya masih termasuk balita, yeoja ini sudah paham kejamnya dunia serta penghuninya. Walau tidak lagi menemukan orang seperti mereka, kenangan menyakitkan itu tetap membekas dalam otaknya. Tak bisa ia lupakan. Tidak. Eunsun tidak menyimpan dendam, tapi.. Ia tak mau lagi mengalami hal tersebut. Makanya memilih bungkam.
Ditekuk kakinya lalu menjatuhkan dagunya di atas lutut. Memandang halaman berpasir taman tanpa makna. Entah kenapa Eunsun merasa lelah. Belum lagi masalah mengenai ibunya dan Oh seonsaengnim. Ia tak mengerti.. Kenapa harus dirahasiakan? Dia tidak boleh tahu? Jemari kecilnya menyentuh pasir kemudian bergerak. Membuat tulisan disana.
Kenapa penderitaan ibunya seolah tak habis? Setiap hari terus bertambah. Terkadang membuatnya ingin sang ibu tak usah kemana-kemana, hanya di rumah, berdua -agar tidak ada yang menyakiti. Meski bagaimanapun tanggapan orang dan kata-kata hina mereka, Eunsun tetap menyayangi Luhan. "Eomma.." ucapnya pelan. "Appa.."
~O,O~
Hening menyelimuti. Belum ada yang buka suara. Masih pada posisi sebelumnya. Bahkan ketika si gadis cilik pergi, mereka tidak bergerak. Seakan terpaku disana, tak diijinkan untuk pindah. Entahlah.. Semuanya campur aduk. Tak tahu lagi apa yang dirasakan. Luhan maupun Sehun sama-sama merasa sesak dan tertekan. Apalagi sewaktu menerima tatapan datar si yeoja cilik. Seakan ada pedang yang langsung tepat menghunus di jantung. Lebih baik mati daripada melihat raut wajah itu.
Sehun terus mengamati punggung kecil Luhan. Ia ingin bicara, menghancurkan dinding beku ini. Namun berat. Apa yang harus dikatakannya? Maaf? Terlalu sering. Ia tahu Luhan bosan mendengar itu. "Maaf.." lagi, tetap kata ini yang terucap meski telah berpikir keras. Tapi memang kata 'maaf' yang pantas ia ucapkan.
Luhan memejamkan mata sembari menghirup udara dan membuangnya. Luhan benci mendengarnya. "Pergi dari sini."
Selalu. Tapi tetap sakit. Senyum getir tercipta di bibir tipisnya. Sudah bisa menebak kalau ia bakal diusir. Walau berkeras pun, mungkin ia akan terdampar di luar dengan luka memar diwajah. Meski seorang ibu, Luhan adalah namja. Menarik napas dalam-dalam. Sekali lagi menatap sendu punggung di hadapannya. "Aku tahu.. Sangat terlambat mengatakan ini." ia menghembuskan nafas pelan "Aku.. Aku mencintamu, Lu."
Deg!
Waktu seolah berhenti. Tak merasakan jantungnya berdetak untuk beberapa saat. Shock! Luhan kaget bukan main mendengar kalimat itu di belakangnya. Mata indah miliknya bergerak liar disertai napas mulai memburu. Ke-kenapa..? Pedih itu mulai menyebar ke seluruh tubuh memberi efek tak menyenangkan dalam hati Luhan. 'Aku mencintaimu,Lu' -kenapa diucapkan? Kenapa dilontarkan hari ini? Kenapa tak mengatakan 'Aku membencimu' saja? Kenapa harus itu? Luhan tidak terima! Kedua tangannya mengepal kuat.
Tak mendapat respon apa-apa, Sehun kembali sakit. Baik. Dia paham. Luhan tak perlu membalas sebab ia tahu jawaban pasti namja cantik itu. Penolakan. Bersamaan dengan luka di batin namja tampan ini menghela napas pelan. "Aku pergi." katanya hampir berbisik. Langkahnya terasa berat. Beban dalam hati dan di pundak kian bertambah. Tak ada hal yang dapat membangkitkan semangatnya. Semua bagai es meleleh yang kemudian mengalir entah kemana. Pergi.
Bibir cherrynya bergetar setelah bunyi pintu tertutup terdengar. Cairan yang tak disangka telah menumpuk di kantung mata tumpah mengaliri wajah. Luhan tidak tahu.. Alasan hatinya sakit, alasan dadanya sesak, alasan air matanya tumpah, alasan ia terkejut mendengar pengakuan Sehun tadi. Kenapa..? Tidak mungkin ia sama. Tidak mungkin masih tersimpan. Sembilan tahun. Cukup untuk menghapus segala rasa itu.
~O,O~
Menatap lekat-lekat kertas yang dipegangnya. Dibaca berkali-kali isinya tetap sama. Hah.. Menghembuskan napas lalu meletakkan kertas itu di atas meja nakas di samping ranjang. Luhan menaikkan kakinya ke atas kasur. Sorot matanya kosong. Bukan isi kertas tadi yang ia permasalahkan, tapi bagaimana cara menyampaikannya pada seseorang. Kemungkinan percaya amat kecil. Sedangkan dirinya sendiri tak mengakui isi kertas tersebut sampai melakukan tes beberapa kali dengan hasil sama.
Teringat kembali kejadian malam itu. Kejadian yang merubah Kim Luhan. Menjadi amat introvert. Lebih banyak diam dan menyendiri. Ya, dia jadi suka mengasingkan diri. Membuat sebuah dunia baru hanya untuk dirinya sendiri.
Namun Luhan tak bisa memungkiri ada perasaan lain menyusup di ruang hatinya. Perlahan-lahan menyebar. Meski benci, ia tidak dapat membuang rasa kecil itu. Menggelengkan kepala. Tak ada gunanya. Toh, dia sudah dapat menebak jawabannya. Merebahkan tubuhnya kemudian menarik selimut. Ia butuh istirahat.
.
.
.
Jam istirahat. Para siswa berbondong-bondong ke lapangan basket di tengah gedung sekolah kemudian berpencar membentuk kelompok dan memulai permainan. Selebihnya menjadi penonton. Seorang namja berwajah lembut berdiri di pinggir koridor dekat tiang penyangga. Memandang ke arah lapangan basket. Menatap fokus satu orang yang tampak bersemangat dan lincah menggiring bola. Baru beberapa menit sudah mencetak angka untuk timnya.
Hebat!
Senyum tipis terlukis di bibir merah miliknya. Ia ikut senang melihat tawa gembira mereka -tawa si kapten tim.
"Hyungie~!"
Luhan terkejut. "A-eh?" mendapati Baekhyun berdiri di sampingnya.
"Kau sedang apa?" tanya namja imut ini memperhatikan wajah Luhan. Tadi ia sempat melihat senyum tipis di bibir merah itu.
"Uh?" menggaruk kepala yang tak gatal. "Ani, tidak ada." jawabnya kemudian pergi meninggalkan Baekhyun yang keheranan. Tentu ia tak mau mengatakan tengah memperhatikan si kapten basket yang notabene adalah sepupu Baekhyun. Sahabatnya itu pasti akan berpikir aneh-aneh nanti.
Setelah Luhan menghilang di tikungan koridor, Baekhyun mengarahkan pandangannya ke lapangan di depan. Disana di lihatnya para siswa bermain basket dan salah satunya adalah sepupunya. "Apa Luhan hyung melihat Sehun?" Baekhyun berbicara sendiri. "Ah, tidak mungkin. Mereka 'kan tak saling kenal." lanjutnya.
.
.
.
"Hahaha.." tawa keras terdengar dari pintu masuk toilet disusul munculnya tiga orang siswa ke dalam toilet. Masih tertawa-tawa.
"Apa kau melihat wajah Jongdae? Haha.. Lucu sekali." gelak salah satu dari ketiga siswa tadi. Mereka tertawa lagi. Satunya lagi menepuk dadanya kemudian berkata, "Kelihatan bodoh. Ha ha.."
"Dia pantas mendapatkannya karena berani melawan Oh Sehun." suara bass itu terdengar datar namun tegas membuat dua siswa yang tadi tertawa menjadi diam dengan seringai dan menganggukkan kepala. Setelahnya kedua siswa itu masuk ke dalam bilik untuk menuntaskan panggilan alam meninggalkan Sehun sendirian yang tengah mencuci tangan dan mukanya.
Krieett~
Perlahan sebuah pintu bilik paling ujung terbuka. Sehun melirik sekilas. Rupanya ada orang lain selain dia dan teman-temannya di dalam toilet. Ah, meski mendengar pembicaraan mereka tadi, ia menjamin orang itu tak akan berani membuka mulut. Sebab seluruh murid -kecuali satu, sepupunya- takut pada Sehun.
Namja tampan itu sedikit terhenyak begitu melihat jelas siapa yang baru keluar dari bilik ujung. Tatapan lembut dari orang itu membuatnya teringat sesuatu yang amat dibencinya. Sehun mendecih lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Menunjukkan ketidaksukaan pada namja cantik di dekatnya.
Luhan berusaha menahan degupan jantungnya yang menggila. Bertemu langsung seperti ini.. Membuat sesuatu dalam dadanya sakit. Seandainya.. Ah~ tak perlu kata seandainya, begini saja sudah tak terkendali. Ia mengalihkan pandangannya dari namja tampan itu dan berjalan keluar dari toilet.
Tahu si namja cantik telah keluar, Sehun menghembuskan napas kasar. Entah kenapa tiap bertemu dengan namja tadi, ia merasa udara di sekitarnya hilang. Membuat susah bernapas. '0490. Nomor kamar Kim Luhan.'
"Haish!"
.
.
.
Gelap. Seperti hidupnya. Tak ada cahaya penerang. Bahkan ketika ia berharap, titik putih itu tidak muncul. Kini semuanya kian runyam. Begitu banyak masalah bertumpu di bahunya tak terselesaikan. Rintik-rintik air hujan seolah menemani air matanya, turun membasahi wajah yang terlihat memucat. Kedinginan. Lupa memakai pakaian ekstra di musim dingin ini. Tubuhnya sudah menggigil sejak tadi, namun belum ingin beranjak dari tempat duduknya.
Alampun seakan paham kondisi hatinya. Ia hanya sendiri disini. Sepi, lengang. Tapi tak apalah.. Dia jadi puas menikmati keadaan. Dengan tatapan lurus -tampak kosong- tapi pikirannya tengah berkelana. Memikirkan hal yang tak seharusnya terjadi, namun telah terjadi. Entahlah.. Semuanya terasa begitu tak adil.
Perlahan, tangan berkulit putih itu bergerak untuk meraba permukaan perutnya yang rata. Masih dalam keadaan hening -menggerakkan tangannya untuk mengelus. Tak terasa apa-apa. Mungkinkah diagnosis tersebut salah? Bisa jadi. Tapi.. Di satu sudut ruang hati kecilnya mempercayai itu. Benarkah? Percaya dan tidak bergelung dalam pikirannya memperebutkan tempat dominasi. Menghasilkan keraguan.
Masih terekam jelas apa yang dikatakan orang itu, serta ekspresinya. Sungguh menyakitkan. Membuat sebuah lubang hitam nan dalam di dada. Saking sakitnya, air mata tak mampu turun. Hanya sekarang bulir-bulir cair ini tumpah bagai hujan. Detakan jantungnya terasa amat perih seolah merenggut setiap hembusan napas. Sesak. Dia sangat kejam. Meski tak menginginkan, tak perlu melontarkan kalimat penikam.
Kim Luhan masih menikmati kesunyian malam dingin ini sembari mengusap perutnya yang terlapisi kaos. Sebulir cairan bening itu jatuh lagi dari sudut matanya. Senyum getir tercipta di bibir berwarna merah hampir pucat tersebut. Tidak.. Bukan kau yang bersalah. Kau tak memiliki kesalahan apapun. "Aku.. Akan memberi kesempatan untukmu melihat dunia.
~O,O~
Diam. Tak ada yang berbicara. Keduanya mengunci mulut masing-masing. Membiarkan kesunyian menyelimuti. Eunsun tak tahu harus memikirkan apa ketika melihat sang ibu duduk di sudut ruang dapur. Memandang kosong dinding. Ingin ia membuka mulut lalu menghiburLuhan, namun hati dan otaknya belum mengijinkan. Meski ikut merasa sakit, tapi ia bisa berbuat apa? Bila mengungkit mengenai Oh seonsaengnim yang sekarang tak terlihat wujudnya, kemungkinan besar ibunya akan menghindar.
Setelah sekian lama membisu, akhirnya Luhan menoleh. Menatap malaikatnya yang telah ia sadari kehadirannya beberapa menit lalu. Ia cuma ingin menata hatinya sebelum beradu pandang dengan Eunsun. Bibirnya mencoba tersenyum, biarpun kesan terpaksa tetap kelihatan. Tak apa.. Asalkan itu adalah senyum Kim Luhan.
Yeoja kecil ini berjalan mendekati sang ibu kemudian memposisikan tubuhnya berada di depan Luhan sehingga si namja cantik dapat memeluknya. Bagaimanapun, pelukan ibunya yang terbaik.
~O,O~
"Darimana?"
Sehun terdiam di ambang pintu. Ia terkejut mendapati sang eomma dengan tatapan penuh selidik berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangan di dada. Sambutan tak terduga.
"Semalaman tidak pulang dan tak memberi kabar. Kemana?" tanya Mrs. Oh lagi menilik wajah anaknya yang menampakkan keterkejutan. Sebagai ibu tentu khawatir, meski putranya itu sudah dewasa. Yah, dewasa umur. Tidak dengan prilaku. Sifat suka seenaknya milik Sehun membuatnya takut bila pemuda itu akan membuat masalah di luar, makanya harus selalu tahu dimana Sehun berada.
Namja tampan ini menghela napas sebentar. "Aku di rumah teman."
Mata Mrs. Oh menyipit. Sedikit tak percaya. "Kau tidak membuat masalah 'kan?"
"Eomma!" tukas Sehun. "Aku menginap di rumah temanku. Semalam dia mabuk dan aku mengantarkan pulang." kesal juga bila dituduh begitu. Tidak melakukan apa yang di perbuat.
"Jeongmal? Bukan kau yang mengajak minum?" Mrs. Oh masih belum percaya.
Sehun menatap datar ke arah sang ibu. "Eomma tidak percaya?" kemudian berlalu. Malas meladeni pertanyaan-pertanyaan lain yang pasti menyusul diucap ibunya.
Mrs. Oh memandang putra sulungnya yang berjalan meninggalkannya. Bukan bermaksud menuduh, tapi siapa tahu. Hah.. Anak itu~
Jemari besar yang ingin memutar knop pintu terhenti ketika mendengar sebuah pertanyaan di belakangnya. Pertanyaan menyudutkan dan menusuk hati. Pertanyaan dengan kalimat kasar serta hina.
"Biar ku tebak.. Kau pasti dari rumah pelacur itu 'kan?"
Diam.
Sehun tak menjawab. Sungguh, hatinya sakit mendengar itu. Terlebih yang mengatakannya adalah orang yang amat ia kenal. Terlampau banyak dosa yang telah ia perbuat dulu. Dan hinaan tadi menambah daftar dosa miliknya. Kau baru sadar tuan Oh?! Menyesal sekarang, apa ada untungnya? Kebencian Baekhyun terhadap Luhan adalah tanggunganmu. Dosamu. Batin Sehun menghakimi.
Merasakan si sepupu berjalan menjauhi, mata Sehun mengikuti sosok itu. Tak seharusnya begini. Baekhyunharus tahu sebenarnya. Patut karena kesalah pahaman yang ia perbuat merusak hubungan persahabatan dua namja itu -Baekhyun dan Luhan-.
"Bukan.."
Langkah namja berwajah imut ini terhenti namun tak membalik tubuhnya untuk melihat si sepupu. Apa lagi?
"Bukan Luhan yang menggodaku. Bukan Luhan yang menjebakku." kebenaran harus terungkap. "Aku.. Aku yang meniduri Luhan."
Deg!
Mata Baekhyun melebar. Apa yang ia dengar? Tidak! Senyum sinis terpatri di bibirnya. Ia tak terima dengan pengakuan Sehun. Membalikkan badan dan menatap tajam namja tampan di depannya. "Kau tidak bisa membodohiku, Hun-ah."
"Mianhae.." ujar Sehun menunjukkan penyesalannya. Pemuda bermarga Byun ini menggelengkan kepala. "Aku yang bersalah. Bukan Luhan. Dan.. Anak perempuan yang bersama Luhan adalah anakku. Keponakanmu, Hyung.."Sehun tak berani menatap mata Baekhyun. Ia menunduk, menahan sesak di dada. Anaknya.. Yang belum mendapat pengakuan dari Kim Luhan.
"Oppa.." lirih adik dari Sehun yang berdiri di balik dinding -yang tak sengaja mendengar pembicaraan sang kakak dan sepupu mereka. Sedih juga melihat namja tampan itu tampak amat terbebani dengan masalahnya. Tapi apa yang bisa ia perbuat untuk membantu? Semua ini terjadi karena ulah kakaknya itu. Berani berbuat berani bertanggung jawab, begitu prinsipnya. Jinri menghela napas.
Sewaktu berbalik bermaksud pergi dari tempatnya berdiri, yeoja ini dikejutkan oleh sang eomma yang rupanya berdiri di belakangnya dengan tampang terkejut bercampur tak percaya dan frustasi. Kemungkinan besar ikut mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Sehun tadi. "E-eo-eomma.."
~O,O~
Luhan mengusap kepala Eunsun sembari tersenyum kecil. Hari baru telah tiba. Begitu pula dengan hatinya, tak mau memikirkan apapun mengenai kemarin. Hari ini ia berjanji tidak ada lagi keraguan dan gundah. Menganggap semua masalah yang terjadi angin lalu. Dia tak ingin malaikatnya ikut berpikir berat.
"Jja..! Buat aku bangga!" kata si namja cantik seraya mengepalkan tangannya membuat senyum Eunsun melebar. Mengecup kening si yeoja cilik dan mengusap sebentar puncak kepalanya. "Masuklah." suruh Luhan.
Eunsun mengangguk kemudian berjalan masuk ke area sekolah meninggalkan sang eomma. Menghela napas sekaligus membuang segala resah yang sempat mendera. Ia dan ibunya sudah berjanji untuk bahagia hari ini. Namun tak berapa lama senyum si gadis kecil menghilang begitu pandangannya menangkap sosok si wali kelas berdiri dekat pintu kelasnya. Bukan tak suka, tapi.. Kalau melihat Oh seonsaengnim tentu ia teringat ibunya dan perihal pelik diantara keduanya. Gadis cilik ini berusaha terlihat biasa saja, tak mau menimbulkan kecurigaan guru tampan itu.
~O,O~
"Yak! Awas kau!" jerit seorang namja bertubuh kecil kemudian berlari sambil membawa sebuah kain lap mengejar namja lain yang sudah berlari duluan sembari tertawa mengejek.
"Ha ha ha.. Kejar aku, Kyungsoo hyuungg~" ejek namja yang memiliki tubuh lebih tinggi dari namja di belakangnya. Makin kesal, Kyungsookemudian melempar kain di tangannya dan.. Tepat! Kena sasaran! Di kepala si namja yang ia ejek panda. Kini giliran Kyungsoo tertawa gembira.
"Kkk~ rasakan! Ha ha.."
Sedangkan Luhan cuma menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat kelakuan rekan kerjanya. Dasar, pikirnya. Kedua orang itu memang sering bertengkar layaknya kucing dan tikus, tapi mereka juga tim yang baik bila saling bekerja sama. Bentuk persahabatan.
Sebenarnya mereka sedang membersihkan restoran, mumpung pengunjung belum berdatangan. Walau sudah dibersihkan, tak apa melalukan pembersihan lagi.
"Hyung.." Namja berparas menawan itu menengadah dan terkejut mendapati sosok yang berdiri tak jauh darinya. Orang yang sebetulnya memiliki tempat khusus dalam hatinya dan begitu dirindui. Luhan termangu di tempatnya berdiri. Sungguh tak menyangka bila orang itu akan menjumpainya setelah pertemuan terakhir mereka dan kata menyakitkan tersebut.
Kyungsoo dan Tao berhenti berkejaran saat namja tadi masuk ke dalam restoran. Paham situasi karena melihat ekspresi Luhan dan si namja tersebut, keduanya memilih ke dapur. Tak mau terlibat apapun.
Dia belum bicara. Memandang ke mata indah yang binarnya tak tampak lagi. Sungguh, ia merasa sangat bodoh. Tak mampu memilah mana yang benar dan tidak. Penyeselan selalu datang terlambat. Kini rasa itu tengah menusuk dadanya. Membuat kesedihan tak terbendung di hati.
Cairan bening mulai menggenangi kantung matanya. Tak sanggup menahan sesak lagi, segera namja ini menghambur memeluk Luhan dengan erat dan menumpahkan segalanya di bahu namja cantik itu. Air mata yang mengalir deras.
"Baek-ie.." ucap Luhan masih dalam keadaan terkejut karena Baekhyun langsung memeluknya.
"Mianhae! Jeongmal mianhae, hyung.. Mianhatta." kata Baekhyun sembari mengeratkan pelukannya. Ia betul-betul merasa bersalah. Apalagi mengingat yang telah dia lalukan terhadap Luhan.
Persahabatan mereka hancur karena ia terlalu percaya pada kalimat yang dikatakan sepupunya, meski ia pun tahu bagaimana tabiat namja itu. Membenci Luhan karena alasan bodoh. Bahkan sampai menghujat si namja cantik yang sudah dianggap kakaknya sendiri.
Begitu banyak kesalahan telah ia perbuat. Entah Luhan mau atau tidak memaafkan, Baekhyun tak perduli. Ia cuma ingin menyampaikan kata maafnya. Meminta maaf sebesar-besarnya atas semua yang ia lakukan.
Sementara si namja cantik tetap bungkam. Dia tidak tahu harus apa. Kaget. Mendadak sekali. Juga tak terbesit di pikirannya Baekhyun akan meminta maaf. Namun perlahan kedua tangannya mulai membalas pelukan Baekhyun. "Bb.. Baek-ie.."
"Sehun sudah mengatakan semuanya. Dia berbohong padaku. Dia mengakui semuanya.. Hiks.. Maafkan aku hyung~"
Luhan termangu. Ja-jadi.. Pertemanannya dengan Baekhyun rusak karena Sehun? Sehun yang membuat Baekhyun membencinya. Lagi-lagi ia merasa nyeri. Pedih. Namja itu juga pelakunya. Rasanya seluruh masalah Luhan bermuara pada satu orang.
Tega.
Sudah menghancurkan hidupnya, namja Oh itu juga merusak hubungan persahabatannya dan Baekhyun. Keterlaluan! Dan Luhan makin menyimpan benci untuk Sehun. "Baek.. Aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf." katanya sambil mengusap punggung Baekhyun. Yah, namja cantik ini tidak dendam atau marah pada Baekhyun. Ia mengerti. Dia tahu Baekhyun tak bersalah.
Perlahan si namja imut melepas pelukannya lalu menghapus cairan yang mengaliri wajahnya. Sambil terisak, "Gomawo hyung.. Jeongmal gomapgo. Kau baik sekali mau memaafkanku."
Seulas senyum terpoles di bibir merah si namja cantik. "Mullonijyo, uri Baek-ie." [tentu saja, Baek-ie ku]
Baekhyun tertawa pelan. "Aku yang bodoh termakan kata-kata Sehun. Maafkan aku hyung.."
"Ne. Sudah, jangan menangis! Nanti eyelinermu luntur."
"Yah!" Lalu mereka tertawa bersama.
Lega.
Permusuhan tanpa alasan jelas itu pun dihapus dengan tawa riang. Kembali seperti dulu, berbagi tawa dan perasaan senang. Luhan dan Baekhyun sama-sama bersyukur karena pada akhirnya semua terbongkar. Tahu siapa yang sebenarnya bersalah.
Senyum tulus terukir di bibir keduanya. Senyum manis. Senyum yang jarang tampak. Senyum kebahagiaan. Mengulang masa dulu dan melanjutkan lagi persahabatan yang sempat renggang.
~O,O~
Wajah cantik itu terlihat tegang. Terdiam cukup lama setelah mendengar sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Shock dan tak percaya. Bahkan menelan saliva rasanya sulit.
Mrs. Oh menghembuskan nafas kasar beberapa kali. "M-mwo? A-apakah itu benar?" menoleh menatap putrinya yang duduk di sebelah dengan raut mengangguk pelan. "Kau sudah tahu, kenapa tak memberitahuku?" tanya Mrs. Oh tajam membuat si yeoja lebih muda terkejut.
"Karena Sehun oppa masih berusaha mendekati Luhan. Tapi Luhan tetap tak mau memaafkan Sehun oppa." wajah Jinri berkerut sewaktu menjelaskan.
"Tentu saja!" sergah Mrs. Oh membenarkan kalimat terakhir si anak. "Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk memaafkan perbuatan anak itu. Jika aku adalah Luhan, aku akan dendam pada Sehun selamanya!"
Si yeoja cantik bergidik ngeri mendengar sang eomma berkata begitu dengan emosi memuncak. Hah.. Untung saja si objek pembicaraan tak ada disini, kalau tidak.. Sehun dipastikan berakhir di rumah sakit akibat ulah ibunya.
Mrs. Oh menatap Jinri intens. "Pertemukan aku dengan Luhan."
"Hah!?" kaget Jinri. "Ung~ itu.. Itu.." bagaimana caranya? Sementara ia cuma tahu wajah, tak mengenal dan tidak tahu-menahu tentang Kim Luhan. Ibunya terlalu berlebihan. Apa tak bisa menunggu sampai permasalahan si biang kerok dan si korban selesai? Huh, merepotkan.
Yeoja cantik ini kemudian memilih diam. Tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Mrs Oh. Juga sang eomma sudah beranjak dari duduknya. Mungkin ada urusan lain. Haah~ jadi makin rumit.
~O,O~
Bel tanda jam istirahat baru saja berdering. Gerombolan anak kecil berseragam keluar dari kelas masing-masing menyebar ke seluruh penjuru gedung. Ada yang ke kantin, bermain di lapangan dan bertemu teman di kelas lain. Semuanya tampak ceria.
Sang Kepala Sekolah ikut tersenyum memandang wajah para murid. Masa kanak-kanak memang menyenangkan. Beliau berjalan ke ruang untuk pengajar yang berada tepat di sebelah ruangannya ingin mencari seseorang.
Seorang namja tampan tampak sedang merapikan mejanya yang di atas terdapat bertumpuk buku dan kertas. Sedangkan para pengajar lain kemungkinan sedang makan siang di kantin. Pria bermarga Lau itu berjalan menghampiri guru tampan tersebut. "Sehun-ssi.."
Sehun mendongak. "Eh.. Suho-"
"Tak perlu formal." potong Mr. Suho cepat sebelum pemuda di depannya menyelesaikan kalimatnya. Ia sudah paham. "Aku cuma ingin bicara sedikit padamu." Menarik kursi di dekatnya lalu duduk. Diikuti Sehun juga duduk di kursi miliknya. "Hm, kulihat kau mulai dekat dengan anak-anak, khususnya Eunsun. Aku senang. "Mr. Suho memamerkan senyum tulus. "Tak ada lagi keluhan mengenai cara mengajarmu dan anak-anak kelihatan senang. Kau banyak berubah, Sehun." Sehun diam mendengarkan, tanpa ada niat menginterupsi.
"Jujur, aku senang. Kau tidak lagi membuat anak-anak ketakutan karena suara tinggi. Lebih tenang, bisa mengendalikan emosi dan tak berucap kasar." Mr. Suho tersenyum seraya berdiri. "Ayahmu pasti senang mendengarnya." Pria itu berbalik dan pergi meninggalkansi namja tampan yang jiwanya melayang-layang karena perkataan .
Bukan terkejut atau shock. Dia.. Dia cuma tak percaya dan tidak menyangka. Berubah. Bukan Oh Sehun yang dulu. Benarkah?
Namja tampan ini berdiri lalu berjalan kearah jendela. Berdiri sembari memperhatikan murid-murid yang berkeliaran. Mata tajam itu menemukan sosok yang ia cari -si gadis cilik yang duduk di koridor dekat tiang penyangga sendirian tengah melihat para siswa bermain bola di lapangan. Memperhatikan lama. Perlahan kedua sudut bibir tipisnya tertarik membentuk lengkungan senyum.
Ya.. Dia mengerti. Perubahannya bukan semata disengaja, melainkan karena beradaptasi menghadapi gadis cilik disana. Faktor lainnya disebabkan oleh perasaan bersalah yang membuatnya lebih manusiawi. Ia bersyukur masih dapat sadar kemudian memperbaiki sifatnya.
Kim Eunsun. Malaikat kecilnya.
Untuk saat ini Sehun belum punya keberanian menemui langsung si malaikat cilik karena kejadian pagi hari itu. Entah apa yang membuatnya takut, tapi Sehun memang tak berani. Ia tidak mau melihat wajah datar seperti kemarin. Senyum di bibir Sehun menghilang diganti pergerakan mulutnya tanpa suara. Mengucapkan satu kalimat pendek.
"Terima kasih.."
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Terima kasih untuk yang sudah mereview, memfollow dan memfavoritkan ff ini.. #Bow breng Ebby ;)
Wanna Rivew? ;)
