Silent Angel
Credit to Ebby Kim ( m . fanfiction s / 9722918 / 1 / Silent –Angel (hapus semua spasi).
Cast : Xi (Kim) Luhan, Oh Sehun
Pairing : HunHan
Warning : FF ini bukan milik irna, ff ini aslinya milik Ebby Kim dengan pair YunJae, irna hanya mengganti castnya, sisanya semua sama (Irna sudah mendapatkan izin dari si empunya ).
.
.
.
Yang merasa terganggu dengan remake ini, yang gak suka HunHan, dan yang gak suka ff ini Irna remake, Irna minta maaf dan silahkan klik 'x' di pojok kanan atas, atau 'back' aja! Karena saling menghargai itu indah ^^
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
Ketika keluar dari kelas, mata indah itu langsung menangkap sosok sang wali kelas berjalan di koridor. Membelakanginya. Tubuh tegap dibalut stelan jas dan celana katun berkesan rapi sekaligus elegant. Dari belakang saja sudah dapat kesan begitu, apalagi memandang seonsaeng bermarga Oh tersebut dari depan. Wajah tampan mempesona mampu membuat siapapun jatuh hati.
Pelan si gadis kecil berjalan mengikuti si wali kelas. Area sekolah hampir kosong sebab bel tanda pelajaran berakhir berbunyi lima belas menit lalu. Eunsun keluar kelas paling akhir karena ia mendapat tugas piket.
Berjalan sembari memandangi tubuh di depannya. Mengenai status si namja tampan, Eunsun tak menyimpan keraguan. Hanya menunggu kepastian dari sang eomma. Entah darimana keyakinan itu datang, ia tak tahu -yang pasti yeoja kecil ini percaya bila Oh seonsaeng adalah ayahnya. Ayah kandung. Seseorang yang semestinya dia panggil Ayah.
Sehun merogoh saku celananya ketika merasakan getaran. Mengambil sebuah ponsel dan memperhatikan layarnya. Tertera sebaris nama yang sangat ia kenal.
"Yeoboseo.." menjawab panggilan tadi. "Ye?"
Tiba-tiba langkahnya berhenti karena penuturan seseorang di seberang telepon. Raut wajahnya berubah sendu. Sedikit terkejut. "Oh~ geurae. Itu bagus."
Sambungan telepon terputus. Sehun memasukkan ponselnya kembali dalam saku. Ia menghela napas sebentar lalu berjalan -sembari memikirkan apa yang baru ia dengar. Senyum miris tercipta di bibir berbentuk hati itu. Meski ada kelegaan, tetapi di sebagian besar ruang hatinya masih tergenang darah dari dinding hati yang terluka. Amat perih.
Walau tak tahu dan tidak melihat bagaimana wajah si guru tampan, tapi gadis cilik ini menangkap nada sedih di ucapannya tadi. Mungkinkah terjadi sesuatu pada gurunya itu? Eunsun memilih tak berpikir lebih jauh dan cuma berjalan pelan di belakang Oh seonsaeng. Ingin pulang.
~xXXx~
Helaan napas keluar dari mulut Luhan setelah melihat sederet angka yang menunjukkan nominal cukup besar. Jumlah pengeluaran selama sebulan. Meningkat 20 persen dari bulan lalu.
Padahal ia sudah berusaha untuk berhemat. Hah.. Memang sekarang bahan pokok melambung tinggi.
Sreet~ si namja cantik menoleh sewaktu bunyi barusan menginterupsi. Seulas senyum terpatri di bibirnya saat melihat seorang gadis cilik naik ke kursi di sebelahnya. Tidak duduk, cuma menumpukan lututnya di kursi. Menarik buku yang ada di atas meja dan menulis sesuatu. Setelah selesai menunjukkan pada Luhan.
'Oh Sehun saenim, uri appa?'
Mendadak Luhan sulit bernapas. Bagai ada palu besar sedang meninju dadanya. Sakit dan sesak. Sebuah pertanyaan yang paling tak ingin ia jawab bila yang bertanya adalah Eunsun. Dia sendiri tak tahu darimana si gadis kecil bisa mengambil kesimpulan begitu. Apa namja Oh itu yang memberitahu?
"A-aninde. A-aku appamu. Si-siapa O-Oh Se-Hun, heh? Aku ap-appamu." kata Luhan terbata-bata sembari berujar 'maaf' dalam hati. Jantungnya berdebar keras. Kegugupan amat terlihat.
Raut Eunsun datar mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang ibu. Kenapa masih berbohong? Ia sudah mendengar fakta itu sewaktu Luhan mabuk. Mengaitkan dengan tingkah laku Oh seonsaeng saat berhadapan dengannya dan interaksi mereka berdua. Cukup untuk memastikan kebenaran tersebut. Namun, selalu saja sang ibu menyangkal.
Menarik lagi buku tadi dan menulis disana. Langsung pergi begitu selesai menulis tak memberi kesempatan Luhan untuk melihat mukanya.
Dan Kim Luhan merasa jiwanya mati ketika membaca sebuah kata yang ditulis Eunsun.
Kata yang menambah perih hatinya. Menyebabkan detakan jantung melemah seiring melemasnya tubuh Luhan. Ia bersandar pada sandaran kursi sembari meremas bagian baju di depan dadanya yang teramat sakit.
'Maafkan aku, Sun-ie..'
.
.
.
"Geojitmal." [bohong]
~xXXx~
Ting Tong.. Ting Tong..
Baekhyun tersenyum senang seraya melirik barang bawaannya. Ia tengah diliputi rasa bahagia dan gembira. Menyebabkan senyuman selalu tercetak di bibirnya. Yah, Kim Baekhyun yang ramah telah kembali. Menempatkan diri lagi sebagai seseorang yang baik hati.
Pintu di hadapannya perlahan terbuka menampakkan seorang gadis kecil yang memandang heran ke arahnya. Si namja imut mengulas senyum lalu berjongkok. Menatap intens si yeoja cilik yang menurutnya amat cantik. Menyerupai rupa sang ibu. Sekali lihat, ia sudah dapat menebak.
"Kau.. Anak Luhan hyung, 'kan?"
Mata bulat itu mengerjap. Orang ini menyebut nama ibunya diikuti embel -hyung. Mungkinkah teman? Eunsun mengangguk.
Lagi, Baekhyun mengukir senyum. "Apa dia ada di dalam? Aku ingin bertemu."
Eunsun membuka pintu lebar-lebar memberi ijin untuk namja di depannya yang segera masuk setelah sebelumnya menyempatkan diri mengusap puncak kepala si yeoja kecil. Setelah menutup pintu, mengikuti Baekhyun melangkah menuju dapur sebab si tuan rumah tak kelihatan di ruang tamu.
"Hyung!" seru Baekhyun sembari menghampiri Luhan yang duduk bersandar di kursi -meja makan.
Si namja cantik menoleh. Tidak terlalu terkejut dengan kehadiran namja imut itu, sebab sebelumnya sudah memberitahu akan berkunjung. Merubah posisi duduknya dan mencoba tersenyum.
"Oh~ Baek-ie.. Kau datang."
Baekhyun mengangguk. "Ne. Ah.. Ini untukmu." meletakkan bungkusan yang ia bawa ke atas meja. "Hyung, iremeun nuguya?" melirik ke arah ruang depan dimana seorang gadis kecil tampak tengah bermain dengan sebuah boneka beruang. [namanya siapa?]
Luhan melihat ke arah yang dimaksud Baekhyun. "Oh. Sun-ie." panggilnya.
Si yeoja cilik menoleh kemudian beranjak menghampiri dua orang dewasa di dapur. Mengamati wajah sang ibu dan temannya.
"Sun-ie. Ini Baekhyun, temanku." ucap Luhan mengenalkan si namja imut. "Namanya Kim Eunsun."
Baekhyun membungkukkan badannya. "Namamu sangat bagus." meneliti wajah cantik di depannya.
Gadis kecil ini adalah keponakannya. Masih ada hubungan kekerabatan yang cukup dekat. Sewaktu bertemu Luhan dulu, ia sama sekali tak memperhatikan Eunsun. Tak melirik sedikitpun pada gadis cilik yang ternyata berhubungan darah dengannya. Ingin memperkenalkan diri sebagai paman, tapi tak mungkin. Anak sekecil ini belum paham masalah kedua orang tuanya.
Sekali lagi memamerkan senyum. "Yeppeuta."
Si gadis kecil tak menanggapi pujian dari teman ibunya itu. Hanya membungkukkan badan sebagai salam hormat atas perkenalan dan permisi pergi. Melanjutkan kegiatan bermainnya bersama sebuah boneka.
Luhan tersenyum kecut. Pasti karena tadi. Eunsun menyimpan kekesalan padanya hingga tak menampilkan ekspresi apapun.
"Aku tak menyangka sudah menjadi seorang paman."
~xXXx~
Setelah berpikir keras -menimbang-nimbang kemungkinan terburuk. Mrs Oh memutuskan untuk memberitahu suaminya perihal putra sulung mereka. Oh Sehun. Sebab lebih baik tahu sekarang daripada nanti -masalahnya akan lebih rumit.
Yeoja cantik -yang meski telah kepala empat- ini menghampiri suaminya yang sedang melepaskan dasi. Baru pulang bekerja dan hendak berganti pakaian. Sebagai istri, Mrs Oh berinisiatif membantung Mr Oh kemudian menggantung dasi serta jas milik suaminya di balik pintu lemari pakaian.
"Aku.."
"Tadi-"
Berujar bersamaan. Tatapan keduanya lalu sama-sama tersenyum. Merasa konyol atas kejadian barusan.
"Mwo? Kau ingin mengatakan apa?" tanya Mr Oh sembari mengenakan sebuah kaos berkerah berwarna biru dongker pilihan istrinya.
"Ah, ani. Kau juga ingin mengatakan sesuatu. Mwonde?" balas Mrs Oh.
Pria yang mewariskan ketampanan pada putra sulungnya mengangguk sembari tersenyum. "Tadi Joonmyeon menghubungiku. Memberitahu kalau Sehun sudah berubah. Hah.. Anak itu." sedikit menerawang bagaimana sifat si anak.
"Berubah?"
"Hm. Kau tahu karakter anak itu, 'kan?" si istri mengangguk. "Joonmyeon mengatakan sekarang Sehun sudah bisa mengendalikan emosi, mau akrab dengan muridnya, tidak berteriak-teriak lagi di dalam kelas. Anak muridnya tak ada yang takut lagi."
Diam mendengar penjelasan sang suami. Oh Sehun telah berubah. Anak nakal itu berubah. Bukan Sehun si pembuat masalah lagi. Benarkah? Sedikit tak percaya sebab beliau mengenal betul tabiat putra satu-satunya itu. Apa latar belakang Sehun berubah?
Mr Oh memamerkan senyum. "Keputusanku menyuruhnya mengajar tak salah."
Yup, mendengar penjelasan mengenai sikap anaknya yang berubah membuat Mr Oh amat senang. Ia tak perlu berurusan dengan polisi lagi karena kelakuan Sehun dan menanggung malu pada korban-korban keonaran si Oh muda. Orang tua mana yang menginginkan anaknya menjadi pembuat masalah?
"Ah ya, tadi kau ingin mengatakan apa, yeobo?" tanya Mr Oh mengingat istrinya pun ingin mengutarakan sesuatu.
"Huh?" Nyonya Oh terkesiap. "Oh, ah.. Tidak." pura-pura merapikan pakaian di dalam lemari. "Aku juga ingin membicarakan tentang Sehun. Kulihat anak itu sedikit berbeda."
Tak mungkin mengatakan masalah Sehun sementara si suami sedang senang karena mendapat kabar mengenai perubahan sikap anak itu. Sekarang jadi bukan waktu yang tepat. Lain kali saja, batin Mrs Oh.
"Benarkah?" Mr Oh tampak antusias. Beliau benar-benar senang mengetahui kenyataan itu. Putra semata wayangnya telah menjadi pribadi yang lebih baik.
Perempuan cantik yang merupakan ibu dari Oh Sehun menganggukkan kepala sembari mengulas senyum -palsu- di bibirnya -yang tak diperhatikan oleh sang suami. Lelaki itu tengah tertawa bangga.
'Sehun-ah..' batin Nyonya Oh nelangsa.
.
.
"Jadi.. bagaimana dengan Sehun hyung?" suara Baekhyun memecah keheningan di dapur. Menyesap teh miliknya kemudian melirik Luhan yang tengah mencuci piring di wastafel.
"Mwo?" si namja cantik tak mengerti maksud pertanyaan itu. Perasaannya mulai tak enak. Lagi-lagi berhubungan dengan si namja Oh.
Baekhyun mengamati cup tehnya. "Ani. Aku cuma ingin tahu. Apa kau benar-benar tak akan memaafkan Sehun hyung?"
Diam. Tangannya yang sedang membasuh piring terhenti. Benar-benar tak akan memaafkan Sehun? Bukan. Bukan begitu. Tapi, hati Luhan tetap menolak bila terbesit untuk memberi maaf. Meski penderitaannya tak mungkin ditebus dan luka di hati terobati, tidak berarti Luhan akan terus mendendam. Ia manusia biasa. Hati nuraninya masih ada. Walau.. Belum bisa ia gunakan untuk memaafkan namja Oh itu.
Tak mendapat respon, Baekhyun menghembuskan napas pelan. Ia mengerti. Pasti sulit. "Bukan aku berada di pihak Sehun hyung atau karena dia sepupuku, tapi.. Melihat bagaimana usahanya, Sehun hyung sangat serius padamu, hyung."
Luhan menyelesaikan pekerjaannya kemudian duduk di sebelah Baekhyun. "Kau tidak mengerti, Baek."
"Ani!" sergah Baekhyun cepat. "Aku mengerti. Sangat. Geundae.. Pikirkan bagaimana Eunsun. Dia masih sangat kecil. Apa kau tak berpikir kalau dia membutuhkan sosok Ayah."
Lagi, namja cantik ini terdiam. Apa yang dikatakan Baekhyun benar. Selama ini memang Luhan tak memperkirakan Eunsun. Hanya terus menolak, tidak mau tahu bagaimana reaksi malaikat kecilnya. Hingga ia sendiri dibuat tertohok atas pertanyaan dan kata keramat yang diajukan si gadis cilik.
Yah, Luhan sadar. Dia amat egois, bahkan pada anaknya sendiri. Tidak benar-benar memperhatikan si gadis kecil. Maafkan aku Sun-ie, maaf.
Satu fakta. Bukti lain. Kembali terbongkar.
Meski tak tahu apa yang pernah terjadi antara Luhan dan Sehun, namun kebenaran mereka merupakan orang tua kandung Eunsun tak terelakkan. Si yeoja cilik tak perlu keyakinan lagi, yang ia butuhkan pengakuan sang ibu. Ingin mengetahuinya hanya dari Luhan, bukan orang lain. Dia cuma mau mendengar kebenaran itu langsung dari mulut ibunya.
Yeoja ini beranjak dari tempatnya berdiri -di balik dinding dekat dapur dan berjalan ke kamarnya. Tidak perlu mendengar pembicaraan Luhan dan Baekhyun lebih banyak lagi. Sudah cukup. Cukup ia mengetahui perihal ayah kandungnya. Seseorang yang ternyata ia panggil Oh seonsaengnim.
~xXXx~
"Yogi?" memperhatikan ke sekitar. Sebuah area parkir dimana terdapat banyak mobil juga kendaraan roda dua. Tak jauh dari mobil ini berhenti tampak restauran bergaya tradisional. Dari sini saja kelihatan kalau pengunjung restauran itu ramai. [disini?]
Jin Ri -si pengemudi- melepas safety belt yang melindungi tubuhnya. "Um. Aku pernah melihat mereka bertemu disini. Mungkin Luhan-ssi bekerja di restauran itu."
Mrs. Oh mengangguk sembari melepas safety belt kemudian keluar dari mobil mengikuti anaknya yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju restaurant. Dalam hati berdoa semoga bisa bertemu Luhan disana. Beliau ingin melihat orang yang telah melahirkan seorang cucu baginya, juga melihat cucunya. Penasaran.
Sampai di restauran keduanya memilih duduk di meja yang belum berpenghuni sekalian mengamati sekeliling. Entah berasal darimana, Jin Ri sangat yakin namja cantik bernam Kim Luhan bekerja disini. Salah satu faktor karena mengikuti Sehun kemari dan melihat mereka berdua bertemu.
Menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya. Ah! Jin Ri menemukannya. Sosok cantik itu berdiri di belakang meja kasir sedang melayani tamu. Mungkin membayar makanan. Lihat, senyum manisnya.. Benar-benar menawan. Bahkan dia yang adalah yeoja tulen amat mengagumi senyum itu -biarpun pertama kali lihat. Sampai sekarang dia tak menyangka jika Kim Luhan seorang namja. Wajahnya jauh lebih mempesona dibanding perempuan.
Oppanya terlalu bodoh mengabaikan Kim Luhan. Amat bodoh baru menatap namja cantik itu. Sangat bodoh karena sekarang menghampiri, merasa bersalah dan meminta maaf pada si namja cantik. Orang bodoh, rutuknya dalam hati. Jujur, Jin Ri tak keberatan semisal Sehun menjadikan Luhan sebagai kakak iparnya. Sungguh! Sebab dia sendiri menyukai si namja cantik meski belum mengenal.
Jin Ri menyentuh lengan sang eomma untuk menarik perhatian beliau kemudian mengarahkan pandangannya dimana orang yang mereka cari berada. Mrs Oh memperhatikan seseorang disana.
Senyum manis dan ramah meladeni pengunjung. Entah.. Beliau terenyuh melihatnya. Cantik -satu kata yang langsung muncul dalam pikirannya. Inikah orang yang disia-siakan Sehun? Yang disakiti putranya? Yang menderita karena kelakuan tak bertanggung jawab Oh Sehun? Sosok cantik yang memiliki senyum menawan itu?
Oh Sehun pabbo! Makinya dalam hati.
Mrs Oh bangkit berdiri lalu berjalan menuju kasir diikuti Jin Ri yang heran melihat sang ibu seakan terhipnotis dan berjalan sendiri. Mereka tiba di depan si kasir. Saling bertatapan kemudian disambut senyum lebar dari si penjaga kasir.
"Annyeonghaseyo. Ada yang bisa kubantu?" dan suara merdu ini mengalun lembut di indra pendengaran Mrs Oh serta Jin Ri.
Rasa bersalah lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Menjadikan sakit di hati. Mrs Oh memandang sendu ke arah Luhan yang mulai keheranan. Prilaku anaknya yang telah membuat hidup seseorang berantakan. Meski ada senyum menghiasi, tapi Mrs Oh dapat melihat suatu kepedihan di sorot mata cantik itu. Andai ia tahu dari dulu, tak akan dibiarkan orang di depannya ini menjalani kehidupan tak seharusnya. Ia akan bertanggung jawab walau si pelaku utama tak mau.
"Boleh aku melihatmu, Luhan-ssi." ujar Mrs Oh pelan. Seperti berbisik.
Kening Luhan sempat berkerut heran. Namun ia beranjak dari tempatnya dan keluar dari meja kasir. Benar-benar berdiri di hadapan Mrs Oh dan Jin Ri. Menatap yeoja yang lebih tua intens. Ingin bertanya 'ada-apa-?', tapi bibirnya seolah terkunci. Diam saja mengamati wajah sendu di depannya.
Mrs Oh memperhatikan sosok di depannya secara menyeluruh. Dari wajah hingga kaki lalu kembali ke wajah. Sampai beliau menyadari sesuatu. "Na-namja?"
Luhan mengangguk memberi jawaban.
Tubuh Mrs Oh sedikit terhuyung ke belakang. Shock! Namja!? Rasa bersalah tadi kini bercampur entah dengan perasaan apa yang membuat kepalanya sakit. Kim Luhan adalah namja. Ibu dari cucunya seorang namja?! Beliau belum bisa mengatur pikirannya yang terasa kacau. Cobaan apa ini? Kenapa harus terjadi pada keluarganya? Kenapa dilakukan Sehun? Kenapa?
Jin Ri memegang kedua pundak ibunya. Merasa aneh dan khawatir melihat gelagat sang ibu. "Eomma.."
Masih menatap Luhan. "Kka-kkaja. Jib-e kkaja." kata Mrs Oh sembari berbalik dan melangkah meninggalkan Luhan yang kebingungan.
Yeoja cantik ini menyempatkan diri membungkukkan badan untuk salam hormat. Tidak enak juga mengganggu pekerjaan orang. Lalu menyusul sang ibu yang sudah keluar dari restaurant.
Luhan?
Diam di tempatnya berdiri sambil memandang kedua yeoja yang tadi menemuinya entah untuk apa. Meninggalkan dirinya tanpa kata dan tidak memberikan alasan jelas. Ada apa? Siapa mereka? Mau apa? Namun.. Menerima tatapan sendu itu, Luhan merasa seperti berada di pihak anak yang sedih melihat ibunya juga sedih. Seolah merasakan apa yang dirasakan Eunsun ketika melihatnya mengeluarkan air mata.
Sakit di dada. Beginikah?
Dengan ini Luhan berjanji tak akan menampakkan kesedihan atau apapun yang dapat membuat malaikat kecilnya bersedih. Ia pun kembali ke meja kasir, melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
~xXXx~
Setelah memastikan keadaan kelas sepi -hanya ada seorang murid di dalam sedang membaca buku- Sehun masuk dan menghampiri si murid. Menarik sebuah kursi lalu duduk di sebelah si murid yang terkejut karena kehadirannya. Namja tampan ini tersenyum. Menyingkirkan buku pelajaran yang dibaca Eunsun dan menggantikan dengan sebuah kotak bekal.
"Eommaku terlalu banyak menyiapkannya. Aku tak sanggup menghabiskan sendiri. Kau mau membantuku?" tanya guru paling tampan dari seluruh guru laki-laki di sekolah. Membuat suaranya terdengar memohon.
Biar bagaimanapun Eunsun hanyalah anak berumur 8 tahun yang dapat termakan kata-kata bujukan. Yeoja ini tak tahu kalau Sehun hanya membuat alasan agar mereka dekat. Si gadis cilik menganggukkan kepala sembari tersenyum membuat Oh seonsaeng bersorak gembira.
Membuka penutup kotak, mengambil sendok, mencuil sedikit makanan di dalam kotak lalu menyodorkannya pada Eunsun yang disambut yeoja cilik itu.
Sehun tersenyum lalu mengusap kepala Eunsun. Ini adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya. Bisa menyalurkan kasih sayang untuk putrinya, meski harus ditutupi kebohongan. Sekali lagi ia menyuapi si gadis kecil dengan senyum merekah di bibirnya.
'Eunsun-ie, aku menyayangimu.' batinnya.
Tiba-tiba si gadis cilik merebut sendok dari tangan Sehun, mengambil makanan dari kotak kemudian mengarahkan sendok tadi pada Sehun. Bermaksud balas menyuapi. Sehun yang mengerti lalu membuka mulutnya, menerima suapan Eunsun dengan hati bahagia. Terharu.
'Maaf. Maafkan aku yang dulu tak menerima kehadiranmu. Aku menyesal. Sungguh!'
Lagi, ia menerima suapan Eunsun disertai perasaan menyesal yang dalam. Anak manis ini.. Seandainya dulu ia tidak egois, berpikiran dewasa dan mau bertanggung jawab maka hubungannya dengan Eunsun tak akan seperti ini. Mungkin mereka menjadi sepasang ayah dan anak yang kompak. Sehati. Dan menyayangi Eunsun sebagai hartanya yang paling besar.
Tapi, kenyataan berbanding terbalik. Tak sama dengan harapannya -yang sekarang. Hanya bisa menyesal tanpa dapat mengubah. Ditambah ibu dari si anak yang tetap berkeras tak mau menerima maafnya.
"Masitta." ujar Sehun yang diamini oleh Eunsun disertai senyum manis. Mengambil alih sendok di tangan si gadis cilik -sekarang gilirannya menyuapi malaikat kecilnya. Dan Oh Sehun merasa bunga-bunga di taman hatinya sedang bermekaran. Amat bahagia dan akan menyimpan waktu ini dalam memori pikirannya.
Sengaja seonsaeng tampan bermarga Oh ini keluar paling akhir dari kantor guru. Selain karena ingin melihat seorang murid yang mempunyai kebiasaan itu, ia mempunyai tujuan lain. Melihat atau.. Kalau bisa bertemu dan mengajak bicara. Entah, dia cuma berharap dapat terwujud.
Alasan utama yaitu rasa rindu yang tiba-tiba bergolak dalam dada. Sehun sendiri merasa aneh. Ketika bayang-bayang wajah menawan seseorang -meski dengan tatapan benci atau raut tak suka- terbesit di otaknya, bibir Sehun spontan tersenyum bersamaan getar aneh jantungnya. Adakah deskripsi lain selain kata cinta?
Cinta ya..
Bodohnya dia baru menyadari ini setelah semua yang terjadi. Baru menyadari keistimewaan dari orang yang dulu berada di daftar nomor satu yang ia benci. Perasaan ini, bolehkah Sehun menyimpannya? Mengingat bagaimana dendam orang itu yang pasti telah berakar dalam. Hah.. Menghela napas sewaktu berpikir jawabannya adalah tidak.
"Aku sudah memberitahu Luhan hyung akan menjemputmu."
Langkah Sehun terhenti. Memandang ke depan dimana seorang namja berparas imut yang adalah sepupunya sedang bicara pada seorang murid di depan gerbang. Sehun.. Sedikit merasa tak suka atas kalimat yang baru Baekhyun lontarkan. Sebegitu mudah si namja imut mendapat maaf Luhan dan sesuka hati mendekati si gadis cilik tanpa perlu was-was akan ibunya.
Iri.
"Kajja." ajak Baekhyun sambil meraih lengan Eunsun. Tersenyum manis pada si gadis kecil. Sementara anak itu cuma diam dan menurut.
Ketika hendak melangkah pergi, tak sengaja Baekhyun menemukan sepasang mata tajam tengah memperhatikannya dengan tatapan yang ia tidak mengerti. Sehun berdiri diam sambil memandangi tangannya yang sekarang menggandeng tangan Eunsun.
"Hyung.." sekarang ia mengerti. Tampak kilat sedih dari mata serupa rubah itu. Baekhyun jadi merasa tak enak hati.
Eunsun menoleh. Melihat Oh seonsaeng yang menatap ke arahnya. Dalam pikiran yeoja cilik ini, si guru tampan tengah cemburu. Ada orang lain lagi masuk di kehidupan ia dan sang ibu. Sedangkan dia masih belum dapat mendekati mereka. Karena ibunya belum berniat memaafkan kesalahan yang entah apa itu -di masa lalu.
Sejujurnya gadis kecil ini ingin sekali bergandengan tangan bersama Oh seonsaeng, berjalan beriringan di sertai senyum di bibir masing-masing. Membayangkan kehidupan bersama sosok seorang ayah di sampingnya. Ingin.. Namun, ibunya tak mungkin mengijinkan.
"Aku sudah meminta ijin pada Luhan hyung ingin mengajak Eunsun jalan-jalan." Baekhyun memberi penjelasan. Belum melihat perubahan di wajah tampan itu, ia menambahkan, "Kau mau ikut?"
Kepala Sehun mendongak. Serentak dengan Eunsun yang langsung menatap Baekhyun. Keduanya memberikan ekspresi sama, terkejut. Si namja imut tersenyum. Melirik pada gadis kecil di sebelahnya kemudian mengusap puncak kepala Eunsun.
"Ba-bagaimana dengan Luhan?" yap. Kekhawatiran Sehun adalah Luhan makin membencinya karena mendekati Eunsun. Meski ia tak perduli, tapi kini hal itu menjadi kekhawatiran tingkat pertama.
"Gwenchana, selama Luhan hyung tak tahu." biar bagaimanapun Sehun merupakan ayah Eunsun. Kandung. Walau hubungannya tak bagus dengan ibu dari si anak, bukan berarti namja tampan itu tak boleh bermain dengan Eunsun. Hubungan ayah dan anak terlalu sulit dipisahkan -sama seperti ibu dan anak-, pikir Baekhyun.
~xXXx~
Pintu berwarna coklat itu perlahan bergerak membuka hingga menampakkan seseorang berparas manis -namun ekspresi sendu di wajahnya- menatap ke arah ranjang dimana seorang gadis kecil sedang tidur. Luhan melangkah mendekati ranjang kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah si yeoja cilik. Mengamati wajah fotocopyan dirinya tampak tenang. Damai. Mungkin tertidur nyenyak.
Telunjuknya menyentuh kulit wajah Eunsun dan menyusuri lekuk muka anaknya ini. Hal pertama yang paling ia syukuri sampai sekarang adalah dapat melahirkan si yeoja kecil dengan selamat dan sehat serta mampu membesarkan Eunsun tanpa bantuan orang lain. Hartanya yang paling bahagia.
Namun, ia tak pernah tahu bila semua yang telah ia beri belum cukup. Apalagi untuk mengisi kekosongan sosok ayah dalam hidup si gadis kecil. Dia terlalu egois melupakan kenyataan bahwa Eunsun tak pernah merasakan bagaimana mempunyai orang tua lengkap. Sekeras apapun ia berusaha menjadi yang terbaik, tetap tak bisa. Ia bukan ayah maupun ibu dalam satu wujud.
Dan hari ini ia kembali merasa sakit sewaktu melihat foto yang ditunjukkan oleh Baekhyun. Foto yang diambil ketika tiga orang itu (Sehun, Baekhyun, Eunsun) pergi ke taman bermain. Senyum malaikatnya tampak amat gembira, menampilkan deretan gigi putihnya. Belum ia melihat senyum itu selama tiga tahun. Tapi.. Senyum tersebut kembali bukan karena dirinya.
"Maafkan aku, hyung. Kupikir Sehun hyung dan Eunsun juga berhak memiliki waktu bersama." kata Baekhyun sewaktu menunjukkan foto yang diambil menggunakan kamera ponselnya.
Luhan hanya diam tak merespon sembari memandangi layar ponsel Baekhyun yang terpampang dua orang dengan senyum merekah. Senyum yang mampu mengcengkram jantungnya.
"Arraseoyo.." lirih Luhan pelan kemudian melingkarkan tangannya di tubuh Eunsun. Mendekap gadis itu dalam pelukannya. Aku akan membuatmu bahagia.
~xXXx~
"Hyung, ada yang mencarimu."
"Huh?" Luhan mengerjap. "Nugunde?"
Tao menggedikkan bahu. "Molla. Mereka duduk di meja nomor 15."
"Oh, ne. Gomawo." beranjak dari kursi kasir seraya melempar senyum untuk Tao lalu menyusuri seluruh ruang restaurant mencari meja nomor 15. Matanya sedikit menyipit mendapati dua orang yeoja duduk disana. Dan.. Ah, Luhan ingat! Mereka adalah orang yang menemuinya beberapa hari lalu kemudian pergi begitu saja.
Sekarang datang lagi. Ada apa sebenarnya? Karena penasaran, Luhan memutuskan untuk menghampiri kedua yeoja itu.
Keduanya mendongak menyadari kehadiran Luhan. "Duduklah." ujar salah satunya -yang lebih tua.
Si namja cantik menurut. Menarik sebuah kursi dan duduk. Memandangi dua yeoja di depannya yang membisu. Rasanya tak mengenal mereka. Siapa?
Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kalau Luhan diam karena menunggu, sebab ia tak tahu menahu urusan dua orang di hadapannya. Sedangkan yeoja yang menyuruh si namja cantik duduk tengah menyusun kata-kata dalam pikirannya untuk diutarakan. Bingung memulai darimana.
"Eum, Luhan-ssi.. Aku adalah ibu dari Oh Sehun."
Mata indah itu melebar. Terkejut. Menatap lekat-lekat yeoja yang mengaku ibu dari namja yang dibencinya. Sebisa mungkin Luhan tak memperlihatkan kekagetannya. Ibu Oh Sehun? Ada apa? Kenapa tiba-tiba menemuinya? Apa namja Oh itu mengatakan sesuatu pada keluarganya? Luhan tak tahu mesti bersikap seperti apa, sebab yang punya urusan dengannya adalah Oh Sehun bukan keluarga si namja.
"Joneun, Jin Ri imnida. Yeodongsaeng Sehun oppa." ucap si yeoja cantik memperkenalkan diri mengikuti sang eomma.
Pria cantik ini cuma mengangguk pelan menanggapi perkenalan Jin Ri. Tak mau banyak bicara.
Mrs Oh mencari tangan Luhan kemudia menggenggam jemarinya erat. Menatap intens sosok di depannya. Walau sempat frustasi mengetahui kalau sosok berparas cantik itu adalah seorang namja, namun kini beliau sudah dapat menerima.
"Aku sudah tahu semuanya." menghela napas sebentar. "Aku tak akan memintamu memaafkan Sehun. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Makanya.. Aku kemari ingin minta maaf. Maaf karena perbuatan anakku hidupmu menderita. Aku.. Aku tak becus mendidiknya." kepalanya tertunduk menunjukkan beliau menyalahkan dirinya mengenai perangai Sehun.
"Eomma.." Jin Ri mengusap punggung Mrs Oh.
Diam.
Isi kepala Luhan berkecamuk sehingga tak dapat berpikir apa-apa.
Mrs Oh menengadah. "Bolehkah.. Bolehkah aku melihat cucuku?"
.
.
.
Senyum mengembang di bibir berbentuk hati ini. Membuat wajahnya tampak cerah dan semakin tampan. Yah, Sehun merasa sangat bersemangat juga senang. Melirik ke sebelah yang berdiri seorang gadis kecil berseragam. Meski tak ada respon dari si gadis cilik, namun tetap saja perasaan senang itu menghinggapi hati Sehun.
Tak memikirkan lagi bagaimana reaksi dari ibu si murid jika tahu ia mendekati Eunsun. Tak perduli. Sehun cuma ingin merasakan perasaan bahagia yang beberapa hari lalu menyelimuti hatinya. Membuat tak berhenti tersenyum bahkan sampai ke alam bawah sadar. Ya, ia mimpi terlalu indah belakangan ini.
"Aku akan mengantarmu." katanya disertai senyum.
Mengamati prilaku namja tampan di depannya. Melihat senyum yang merekah di bibir Oh seonsaeng ikut membuat hati Eunsun senang. Meski tak secara langsung, ia dapat merasa kasih sayang yang Sehun coba tunjukkan.
"Appa."
Tubuh Sehun kaku. Terkejut.
Appa?
Tak percaya akan apa yang ia dengar, perlahan Sehun memutar tubuhnya dengan tampang shock. Melihat si gadis kecil sedang menatapnya tanpa ekspresi. Apa ia salah dengar? Tak mungkin! Suara tadi begitu dekat dan Eunsun berdiri di belakangnya. Tak mungkin berasal dari orang lain.
Sehun berjongkok sembari menatap intens yeoja kecil di hadapannya. Suara tadi.. Sebutan 'appa'.. Suara Eunsun?
"Kau mengucapkan sesuatu?" meraih tangan si gadis cilik kemudian menggenggamnya. "Kau.. Memanggilku 'appa'?" tanyanya.
Eunsun cuma diam tak memberi reaksi.
"Kau-"
"Sun-ie."
Keduanya menengadah. Menatap seorang namja berwajah cantik yang berjalan mendekati. Si namja cantik langsung menjauhkan Eunsun dari Sehun. Memperlihatkan ekspresi sedatar mungkin membuat Oh seonsaeng kikuk.
Tidak kaget atas kedatangan Luhan sebab ia tahu namja cantik itu memang harus menjemput Eunsun tiap pulang sekolah. Hal yang mendiami pikiran Sehun adalah suara yang ia dengar tadi. Penasaran.
Namja tampan ini berjongkok lagi. "Eunsun-ah.. Be-benarkah itu kau? Coba katakan sekali lagi. Appa."
Kening Luhan berkerut. Apa maksud namja ini? Jelas-jelas Eunsun tidak mau bicara. Hingga sekarang si gadis cilik belum mau membuka mulut, bahkan untuk memanggilnya 'eomma'. Tersinggung. "Apa maksudmu?"
Sehun melirik Luhan sebentar lalu beralih pada Eunsun yang juga menatapnya. "Aku tak mungkin salah dengar. Hanya kami berdua disini. Sun-ah.. Jebal, ulangi lagi. Panggil aku 'appa'."
"Micheosseo?!" gertak namja cantik ini tak senang. "Kau tahu bagaimana keadaan anakku. Jangan bercanda, saenim-ssi." tekan Luhan pada kata terakhir.
"Aku tidak bercanda." Sehun mendongak. "Aku mendengarnya dengan jelas. Eunsun memanggilku appa."
Luhan berdecih. "Kau lihat sendiri Eunsun tak mau bicara. Itu hanya halusinasimu saja." katanya dengan nada tak bersahabat. Sungguh tak enak didengar. "Kajja." menarik tangan Eunsun dan berlalu.
Sehun berdiri seraya matanya mengikuti arah Luhan pergi -hingga fokusnya menemukan dua orang yang amat ia kenal berdiri dekat gerbang. Sontak namja tampan ini melotot. Apa tadi ibu dan adiknya melihat? Adiknya sudah tahu, tak masalah, tapi sang ibu? Eotteoke? Apa yang harus ia katakan? Belum siap jujur.
Mrs Oh yang memang sengaja tak ikut campur, cuma melihat dari jauh sekarang mulai paham. Ia mengerti sikap ketus Luhan. Dengan wajah datas berjalan menghampiri Sehun.
"Kau. Harus. Menjelaskan. Semuanya." penuh penekanan dan tegas.
