Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Angst/
Rated : T
Pairing : SasuSaku, ItaSaku, maybe SasoSaku…*maaf, author lupa nyantumin pairnya apa*
Happy reading, Minna-san^^
##Sacrifice##
Sudah hampir sepuluh jam lebih operasi itu berlangsung. Dan tak lama kemudian keluarlah seorang wanita bermata emerald dari ruang operasi. Wanita itu menghela nafas lega. Peluh mengalir deras dari dahinya yang tertutupi poni. Dengan pelan punggung tangan gadis itu menyeka peluhnya. Dan segera membuka masker berwarna hijau yang menutupi hampir separuh wajahnya yang putih mulus itu. Dengan langkah pelan dia menghampiri dua sosok paruh baya yang sedang tertunduk lesu di kursi panjang depan ruang operasi. Menyentuh pelan bahu keduanya sesudah sampai tepat di hadapannya.
Wanita itu tersenyum bahagia dan tentunya membawa kabar baik. "Dia sangat kuat, operasinya berjalan lancar walaupun memakan waktu lama," ucapnya dan memeluk seorang wanita paruh baya berambut hitam kebiruan setelah duduk di sampingnya.
Seketika tangis haru dan bahagia terdengar di lorong rumah sakit dari ketiga orang itu.
"Terima kasih, sayang," ucap wanita yang berada dipelukkan Sakura berkali-kali. Air mata bahagia mengalir dari mata onyx-nya dan sedikit membasahi jas dokter Sakura. Setelahnya keduanya melepaskan diri masing-masing.
"Sudah kewajibanku sebagai dokter, Bu," ucap Sakura dan tersenyum. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada seorang laki-laki paruh baya yang juga pipinya basah akan air mata haru. Sakura tersenyum padanya.
"Kalian bisa menjenguknya jika sudah di pindahkan ke ruang perawatan."
Sekali lagi keduanya mengucapkan terima kasih dan membungkukan kepalanya sedikit. Sakura segera bangkit dari duduknya untuk meninggalkan mereka berdua. "Ibu, Ayah aku pergi. Ada hal lain yang harus kulakukan."
Sakura membungkukan badannya sedikit dan melemparkan sebuah senyuman sebelum beranjak pergi dari hadapan keduanya. Dan tak lama kemudian sosoknya menghilang di koridor menuju ruangannya. Tepat setelah sosok Sakura menghilang, ke tiga suster asisten Sakura keluar dari ruang operasi beserta membawa sesosok tubuh di atas tempat tidur yang di dorong ketiganya. Sosok itu wajahnya sangat pucat, kontras dengan rambutnya yang agak panjang berwarna hitam legam. Selang infuse tertancap rapi di balik plester untuk membebatnya. Menembus kulit halus dan putihnya. Sedangkan sebuah alat bantu pernafasan bertengger di hidungnya yang mancung dan menutupi bibirnya yang tipis. Sedangkan dahinya di lilit oleh perban yang rapi.
Kedua orang yang dari tadi menunggunya keluar dari ruang operasi segera mendekat kesosok tubuh itu. Wanita berambut hitam kebiruan, yang di yakini sebagai ibunya memegang tangan sosok itu yang bebas dengan selang infuse dengan sangat perlahan. Sedangkan suaminya berdiri di samping istrinya dan juga ikut mengenggam tangannya. Air mata tak henti mengalir dari dua pasang mata onyx keduanya.
Ketiga suster itu saling memandang satu sama lain. Dan satu di antaranya angkat bicara. "Err… maaf tuan dan nyonya. Kami akan membawanya keruang perawatan," ucapnya tak enak.
Kedua orang itu seakan tersadar dengan perkataan salah satu suster itu langsung tersenyum minta maaf. Karena telah memperlambat kerja mereka. "Maaf… aku sangat khawatir padanya. Silahkan..!" ucap wanita paruh baya itu dan melepaskan dengan perlahan pengangan tangannya pada sosok yang terbaring lemah itu.
Segera saja ketiga suster itu mendorong kembali tempat tidur untuk menuju ruang perawatan. Sedangkan kedua sosok paruh baya itu mengikutinya dari belakang. Sebuah senyuman bahagia kembali terpeta di wajah keduanya.
"Kita harus berterima kasih pada Sakura… benar 'kan, Fugaku?"
"Hn. Dia sudah banyak berbuat baik pada keluarga kita."
Dan dari wajah keduanya pun memancar aura kebahagian. Bukan aura kesedihan lagi yang menghinggapi hati keduanya.
##Sacrifice##
Wanita berambut merah muda itu sudah sampai di depan pintu ruang kerja miliknya. Papan nama yang bertuliskan namanya terpampang jelas di hadapannya. Dengan lesu dia membuka knop pintu, mendorongnya dan kemudian menutupnya kembali tak kala dia sudah berada di dalam. Sekali lagi dia mengela nafas berat dan menutup sebentar kedua matanya yang sangat lelah itu. Punggungnya bersender di pintu. Dan selang beberapa lama dia membuka kembali kedua matanya dan dengan langkah gontai menuju meja kerjanya.
Langkahnya sedikit terhuyung dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Namun, dengan sigap Sakura berasil kembali menjaga keseimbangannya kembali dan berjalan lebih hati-hati lagi. Setelah sampai dia langsung mendudukkan dirinya di kursi dan menyandarkan kepalanya ke kursi besar itu. Kadua kakinya dia selonjorkan ke depan. Lalu, tangan kanannya bergerak ke atas, ke dahinya. Dengan pelan dia memijit dahinya dan pelipisnya sendiri. Kedua matanya kembali terpejam. Mencoba mengistirahatkan otot-otot tubuhnya dan pikirannya yang lelah.
Lalu, secara perlahan tangan kanannya yang semula di pakai untuk memijit dahinya pindah ke leher. Mengambil sebua benda yang melilit lehernya, liontin berbandul hati. Dengan perlahan Sakura membukanya menjadi dua bagian. Dia segera memusatkan pandangannya pada salah satu photo itu. Photo dirinya yang masih terlihat sangat muda berambut merah muda pendek. Dengan seorang pria berambut merah darah. Tak dapat ditahan lagi, kini cairan bening mengalir deras di kedua pipinya yang putih mulus itu. Cairan bening yang keluar dari kedua mata emeraldnya. Terus, dan terus saja mengalir. Seperti sebuah aliran sungai yang tak akan pernah berhenti. Ketika dia memejamkan sebentar kedua matanya, semakin bertambah saja air mata yang keluar dari mata emeraldnya. Bahkan kini pandangannya terhadap photo itu menjadi buram karena terhalangi air mata yang menggenang di sudut matanya. Jas dokter yang berwarna putih yang di pakainya pun kini sedikit basah karena tertetesi air matanya sendiri. Bibirnya yang mungil sedikit gemetar, menahan agar tangisnya tak terlalu terdengar dari luar. Karena dia tak mau jika di dengar orang lain di rumah sakit ini.
"Hiks… aku hari ini… hiks… berhasil menyelamatkan… hiks… lima nyawa." Suara Sakura sedikit tak jelas dan serak di sela isakkannya. "Aku harap kau senang… hiks… ini semua demi kau."
Sakura tersenyum di saat dia sedang menangis itu. Suaranya sangat parau dan juga tak begitu jelas saat berbicara barusan. Namun, sedetik kemudian senyuman itu kembali menghilang dan di gantikan dengan isakan yang lebih keras. Tangan kirinya mencengkram erat dadanya sendiri. Sakit. Walaupun bukan luka secara fisik. Hati Sakura sangat sakit dan juga perih, tak kala teringat tentang orang yang bersamanya di photo itu. Sakura merasakan seperti ada sebuah lubang yang menganga di hatinya, yang tidak ada seorang pun yang mampu menutupnya kembali seperti sedia kala. Bahkan pada saat Sakura melihat photo yang satunya lagi. Hatinya bagai teriris-iris, membayangkan kembali ingatannya entah itu kenangan manis ataupun pahit bersama pemuda yang merangkul dirinya mesra di photo itu. "Aku merindukan kalian berdua… sangat."
Namun, tiba-tiba dia merasakan sakit luar biasa di sekitar daerah perutnya. Tangan kirinya yang tadi memegang dadanya berpindah pada bagian perutnya. Mencengkramnya dengan erat. Sakura mulai bangkit dari duduknya dan berdiri. Tangan kanannya menopang di atas meja menjaga tubuhnya agar tetap berdiri. Sedangkan tangan kirinya tetap memegang erat bagian perut yang di rasanya sakit.
Dengan perlahan-lahan Sakura mulai melangkahkan kakinya menjauhi meja kerjanya. Bermaksud untuk mengambil semacam obat peghilang rasa nyeri di dalam lemari kaca tepat di samping meja kerjanya dan juga tempat tidur khusus pasien. Namun, baru saja beberapa langkah kepalanya terasa sakit dan segalanya serasa berputar-putar. Sakura memegang kepalanya dengan tangan kanannya yang masih memegang liontin.
Dan beberapa detik kemudian tubuhnya merosot begitu saja ke lantai keras dan dingin. Terdengar bunyi berdegum keras di lantai itu. Dan parahnya, dahi kiri Sakura cukup terbentur dengan keras dan membuatnya mengeluarkan darah. Seketika itu juga kesadaran Sakura mulai hilang. Kedua kelopak matanya perlahan-lahan menutup. Dan setelahnya tak sadarkan diri dengan dahi yang terluka dan cukup banyak mengeluarkan darah. Menggenangi dan mengotori lantai putih dan bersih itu menjadi merah karena darahnya sendiri.
##Sacrifice##
Seorang pemuda berambut hitam kebiruan, yang bagian belakangnya mencuat keluar dengan terburu-buru dari bandara. Wajahnya sangat tampan, dan menyihir banyak gadis yang berada di sana tak kala dia melewati para gadis itu. Penampilannya terbilang cukup rapi dan juga terlihat sangat keren. Pemuda itu memakai atasan T-Shirt berwarna biru tua, dan di rangkap dengan jaket kulit berwarna hitam. Dan terdapat gambar lambang seperti kipas di punggung jaket itu. Bawahannya dia hanya memakai celana jens biasa berwarna hitam polos, juga sepatu berwarna hitam. Dan sebuah kaca mata berwarna biru, menutupi mata onyx-nya yang tajam dan kadang-kadang bisa menjadi lembut dalam waktu bersamaan, dan juga bertengger manis di hidungnya yang mancung itu.
Tangan kanan pemuda itu menarik sebuh koper lumayan besar berwarna merah hati yang berada tepat di sampingnya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mencari sebuah benda di saku celana depannya, yaitu sebuah telepon genggam. Setelah berhasil menemukannya dia segera menekan tombol merah untuk menghidupkannya terlebih dahulu. Karena di dalam pesawat dia terpaksa harus mematikan telepon genggamnya. Setelah berhasil telepon genggam itu dia nyalakan, dengan segera dia menekan beberapa nomor yang sudah hafal di luar kepalanya. Dan setelahnya dia dekatkan pada telinga kirinya. "Sasori, aku sudah pulang, dan sekarang aku berada di bandara. Kakak di rawat di rumah sakit Konoha bukan?" tanyannya lansung pada intinya.
"Oh, kau sudah sampai. Ya, kakakmu di rawat di Rumah Sakit Konoha. Dan tenang saja, dia sudah melewati masa kritisnya," jawab seseorang di sebrang telepon pemuda itu.
Bisa terlihat kini pemuda itu menghela nafas lega dan sedikit menarik sudut bibirnya. "Hn. Syukurlah. Aku akan segera ke sana," jawabnya dan langsung menutup teleponnya. Tak menghiraukan perkataan yang baru saja akan di utarakan orang yang di teleponnya. Dan juga tak mengindahkan tatapan mata jatuh cinta dari para gadis yang sempat melihat pemuda itu sedikit tersenyum.
Pemuda itu terus saja berjalan keluar dari bandara, dan setelah keluar segera menyetop salah satu taksi. "Taksi," ucapnya sedikit teriak karena sangat bising di bandara.
Supir taksi yang di panggil itu segera berhenti dan turun dari mobilnya. Membantu memasukkan barang bawaan penumpangnya. Sedangkan pemuda itu sudah masuk telebih dahulu. Dan selang beberapa menit sipir itu masuk kembali ke mobilnya.
"Ke Rumah Sakit Konoha. Cepat..!"
"Baik, tuan," ucap supir taksi itu dan segera menjalankan mobilnya. Meninggalkan bandara yang luas itu menuju tempat tujuan penumpangnya.
##Sacrifice##
"Anak ini… dasar..!" ucap seorang pria berambut merah tua sambil memasukkan sebuah telepon genggam ke saku celananya. "Selalu saja tak mau mendengar penjelasan orang dulu."
Pria itu sedikit mendengus sebal dan kemudian berjalan pelan menuju tempat yang ingin dia tuju sekarang. Dan seketika wajah yang tadinya kesal tergantikan dengan mimic wajah yang ceria. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam jas dokternya yang berwarna putih. Tak lupa sebuah stetoskop menggantung di lehernya.
Sebuah senyuman terlukis jelas di bibirnya yang tipis itu. Juga sepasang mata merah kecoklatan yang terliat sangat ramah. Beberapa suster yang tak sengaja berpapasan dengannya tiba-tiba menundukan kepalanya dengan wajah memerah, dan setelah benar-benar melewatinya para suster itu cekikikan. Tak bisa di pungkiri bahwa salah satu dokter pria ini memiliki wajah di atas rata-rata. Rambut merah tua dengan sepasang mata merah kecoklatan yang bersahabat. Kulitnya putih bersih, hidungnya yang mancung dan juga dokter ini memiliki wajah yang bisa di katakan terus terlihat muda. Baby Face. Walaupun sebenarnya kini dia berusia 25 tahun. Memang masih sangat muda dan juga hebat, karena sudah mendapat gelar seorang dokter bedah terkemuka di Rumah Sakit Konoha. Rumah sakit terbesar.
"Apa dia sudah makan siang?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil meliat sebuah jam tangan yang bertengger manis di sebelah tangan kirinya. Tepat pukul 12.00 siang terpampang jelas di jam tangannya. Memang sudah waktunya untun makan siang. "Keruangannya sajalah."
Pria itu sedikit mempercepat langkahnya. Karena tidak mau kalah start dengan orang lain di rumah sakit ini yang ingin mengajak seseorang yang juga ingin dia ajak untuk makan siang. Setelah berbelok ditikungan sebelah kanan dan lurus sedikit. Sampailah dia di depan sebuah pintu. Di pintu itu terpampang jelas sebuah nama 'Dr. Sakura Haruno'. Sekarang sudah jelas siapa yang ingin dia ajak untuk makan siang oleh dokter tampan ini. Seseorang yang juga seprofesi dengannya yaitu, dokter bedah. Juga seseorang yang menjadi pemilik tanggung jawab lumayan besar di rumah sakit ini. Karena Sakura merupakan putri dari Namikaze Minato, pemilik sebenarnya rumah sakit yang megah ini.
Tok… Tok… Tok
"Sakura… kau di dalam?"
"…"
Hening.
Tak ada jawaban atau sebuah suara dari dalam ruang kerja Sakura.
Pria yang memilik nama lengkap Akasuna Sasori ini berwajah sedikit murung. Karena dia kira Sakura pasti sudah makan siang dengan orang lain. Dan mungkin sedang menikamti makan siangnya di kantin rumah sakit. Namun, perasaannya mengatakan dia jangan pergi terlebih dahulu sebelum melihat Sakura benar-benar tidak ada di dalam. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk.
Ceklek…
Krieeet…
Pintu itu menimbulkan sebua suara yang aneh tak kala Sasori mendoronganya pelan ke dalam. Kedua mata merah kecoklatan miliknya menjelajahi setiap inchi ruang kerja Sakura. Dan kedua matanya tiba-tiba saja terbelalak lebar pada saat pandangannya matanya jatuh di lantai dekat meja.
Sasori melihat sesosok orang yang tak lain adalah Sakura. Tergeletak begitu saja di lantai yang dingin. Bukan. Bukan itu yang sangat Sasori khawatirkan. Sasori mengkhawatirkan gerangan apa yang terjadi dengan Sakura sampai kepalanya berlumuran darah dan lumayan banyak menggenangi lantai putih dan bersih rumah sakit ini. Segera saja Sasori mendekati sosok Sakura dan dengan hati-hati mengangkat kepalanya yang mengeluarkan darah cukup banyak, menopang belakang kepalanya dengan tangan kanannya dan menyenderkannya di paha kanannya.
Rambut merah mudanya yang tadinya di gelung dan ditusuk dengan tiga tusuk konde terlepas begitu saja. Dan rambutnya yang panjang tergerai dengan lembut. Namun, kini rambut Sakura menjadi agak kehitaman, karena darahnya sendiri. Bibirnya yang tadinya berwarna merah muda menjadi sedikit membiru. Dan wajahnya juga sedikit memucat. Tangan kiri Sasori bergerak ke leher Sakura. Memeriksa denyut nadinya. Begitu lambat dan lemah denyut nadi Sakura sekarang.
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya, Sakura?" tanya Sasori. Dan seketika itu juga dia melihat sebuah benda, sebuah liontin di tangan kanan Sakura. Bandul liontin itu masih terbuka dan menampakkan dua buah photo kecil di dalamnya. Namun, yang membuat dia sangat terkejut adalah kedua orang pria yang berada di dalam photo itu yang sangat ia kenal baik. Sasori mengambil liontin itu dari tangan Sakura dan melihat dengan seksama dan lebih dekat wajah kedua orang pria di dalam photo itu.
"Mereka… ada hubungan apa Sakura dengan kedua pria ini?" batin Sasori. Namun, dia segera teringat bahwa keadaan Sakura harus segera di tolong. Langsung saja Sasori menutup bandul liontin itu dan memasukkannya ke dalam saku calananya. Dan dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh mungil Sakura di depan dadanya. Darah Sakura menempel di jas dokter putih milik Sasori. Dan dalam sekejap saja Sasori sudah meninggalkan ruang kerja Sakura, serta membawa Sakura ke ruang operasi untuk melakukan operasi kecil, menjahit luka Sakura.
##Sacrifice##
Seorang pemuda tampan bermata onyx memandang keluar jendela yang sengaja di buka dari dalam mobil taksi. Kini sebuah kaca mata berwarna biru sudah tak menutupi kedua mata onyx-nya, dia sudah melepaskannya dan menggenggamnya di tangan kanannya. Semilir angin yang masuk dari jendela yang terbuka itu meniup helaian rambutnya dengan lembut. Wajahnya meyiratkan sedikit kelelahan. Pasalnya dia baru saja pulang dari Amerika. Negara yang cukup jauh dari tempat kelahirannya, Jepang. Karena mengurus salah satu perusahan yang di miliki keluargaya di sana.
Sebenarnya dia tidak mengurusnya sendiri. Melainkan bersama kakak laki-lakinya. Namun, karena perusahan di sana sudah di urus oleh orang kepercayaa ayahnya, maka mereka berdua memutuskan akan kembali ke Jepang. Hanya saja, yang pulang terlebih dahulu adalah kakaknya, dan setelah itu baru dirinya sendiri. Karena pemuda bermata onyx itu harus melakukan sesuatu di sana. Lebih tepatnya membeli sesuatu untuk seseorang yang paling berharga di hatinya. Dan dia berencana untuk meminta maaf dan memintanya kembali kepadanya jika sudah bertemu dengannya nanti. Namun, dia harus mencarinya terlebih dahulu. Sebab dia tidak tahu di mana dia sekarang. Karena sudah hampir 3 tahun dia tinggal di Amerika dan tak melakukan kontak dengannya. Dengan kata lain 'lost contact'.
Sebuah getaran di saku celananya berhasil menyadarkan lamunannya tentang seseorang. Dengan segera dia merogoh saku celana bagian depannya. Setelah berhasil mengambilnya dia melihat terlebih dahulu layar HandPhone yang tertera di sana. Pemuda itu menyerngit bingung.
"Aku tak kenal dengan no ini," batinnya.
Namun, diangkatnya juga telepon itu. "Hallo."
Sempat terdengar suara ribut dari sebrang telepon dan cukup lama hal itu terjadi. Pada akhirnya pemuda itu berniat akan menutupnya. Namun, sebuah suara yang sangat pamiliar terdegar, pemuda itu tak jadi akan menutupnya.
"Hallo… Sasuke… apa benar ini kau?" tanya seseorang di sebrang telepon. Suaranya terdengar berat menandakan bahwa itu adalah suara seorang laki-laki.
Pemuda yang di panggil namanya itu semakin menyerngit bingung. "Ya, benar. Lalu?"
Bisa terdengar helaan nafas lega dari sebrang telepon. "Kau… kenapa tak bilang padaku jika sudah kembali ke Jepang?"
"Maaf, aku sibuk… dan ini… Neji?"
Suara tertawa terdengar dari sebrang telepon dan juga suara tawa yang lainnya. "Butuh waktu dua menit kau mengenali suaraku, Sasuke."
"Maaf, suaramu sedikit berbeda. Jadi…"
"Kau di mana sekarang?"
"Aku sedang berada dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Konoha."
"Rumah sakit?" tanya Neji di sebrang telepon.
"Kakakku… Itachi… dia mengalami kecelakaan sewaktu pulang dari bandara."
"Apa? Aku akan segera kesana?"
"Tidak… tidak perlu. Kau pasti sangat sibuk mengurusi pasien-pasienmu kan. Jadi sebaiknya tak usah. Lagi pula Itachi sudah lepas dari masa kritis."
Neji sedikit tersenyum mendengar penuturan Sasuke di telepon walaupun pasti tak akan terlihat oleh Sasuke. "Dia sudah berubah sekarang," batinnya.
"Baiklah, aku mengerti. Setelah dari rumah sakit datanglah ke sebuah café dekat rumah sakit tempat praktekku. Ada banyak orang yang ingin bertemu denganmu, dan juga ada banyak hal yang ingin aku beritahukan padamu."
"Hn. Tunggulah. Sampai bertemu di sana."
Setelah itu Sasuke langsung mengakhiri sambungan teleponnya dan memasukkan kembali telepon genggamnya kedalam saku celana depannya. Kedua mata onyx-nya kembali memandang pemandangan jalan yang di penuhi dengan pohon sakura. Di sebelah kanan maupun di sebelah kiri pemuda itu terdapat banyak pohon sakura. Bunga sakura tersebut sedikit banyak memenuhi jalanan. Terbawa terbang tak kala ada kendaraan lewat. Warna bunga tersebut mengingatkannya pada seorang gadis yang juga bernama sakura. "Sudah musim semi ternyata."
Sebuah wajah yang terlihat sendu terpeta di wajahnya yang tampan. Di bibir tipisnya terlukis juga senyuman miris. "Apa kau akan memaafkan aku tentang semua yang aku lakukan padamu… Sakura," batinnya.
##Sacrifice##
Seorang dokter tampan melangkah dengan sangat cepat menuju ruang operasi beserta tubuh Sakura di gendongannya. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya dan turun ke lehernya. Akhirnya setelah sampai di depan pintu operasi Sasori di sambut dengan beberapa suster yang sudah bersiap dengan pakaian operasi. Satu orang yang paling dekat dengan Sakura, TenTen, terlihat sangat terkejut dan juga cemas. Karena di lihat dari jumlah darah yang keluar dari dahi Sakura dan juga jas dokter Sasori yang sudah ternoda cukup banyak darah. Tanpa di aba-aba segera saja Sasori masuk kedalam ruang operasi, diikuti oleh kedua suster.
Sasori membaringkan Sakura di atas tempat tidur. Namun, terlebih dahulu membuka jas dokter Sakura dan stetoskop yang melingkar di lehernya. Setelahnya para asisten dokter yang mengambil alih dengan membersihkan terlebih dahulu darah di sekitar dahi kiri Sakura. Setelah cukup bersih barulah terlihat luka sobek memanjang sekitar 3 cm. Dan kedua suster itu kembali sibuk menyiapkan alat jahit. Dan setelah selesai, barulah tugas Sasori untuk menjahit luka itu.
"Sakura banyak kehilangan darah," batin Sasori.
"Apa masih ada persedian darah bertipe golongan AB?" tanya Sasori yang suaranya teredam dengan masker berwarna hijau yang dia kenakan.
TenTen menggangguk pasti dan segera keluar ruangan untuk mengambil darah. Darah yang di milik Sakura adalah AB. Darah yang sangat sulit di dapat, karena jarang ada orang yang bergolongan darah AB.
Dengan sangat pelan Sasori menajahit luka sobek di dahi Sakura. Sebelumnya terlebih dahulu Sakura di buat tak sadarkan diri dengan obat bius lewat selang infuse. Sekitar sepuluh menit akhirnya Sasori selesai menjahit luka di dahi Sakura. Dan bertepatan dengan datangnya TenTen yang membawa dua kantung darah bergolongan AB. Langsung saja dengan cekatan TenTen memasang sekantung darah di tempat di mana tadinya kantung cairan infuse di gantung. Dan mencabut dengan pelan jarum infuse yang menancap di tangan kiri Sakura untuk di gantikan dengan jarum yang mengalirkan darah yang TenTen bawa tadi.
Sasori sedikit bernafas lega dan membuka masker hijau yang menutupi separuh wajahnya. Keringat mengucur deras dari dahinya dan sedikit membasahi rambutnya yang kemerahan. Dan dengan segera dia membuka juga baju yang warnanya serupa dengan masker tadi yang dia pakai. "Tempatkan Sakura di ruang VIP dan control terus keadaannya. Jangan mengizinkan seorang pun masuk kedalam kamarnya kecuali anggota keluarganya. "
Kedua suster itu mengangguk mengerti. Dan seorang suster berambut kuning dan memiliki bola mata berwarna ungu mulai membalut luka di dahi Sakura dengan sangat cekatan.
Setelah melihat wajah Sakura yang sudah tidak sepucat waktu itu, Sasori sedikit menarik ujung bibirnya. Dan setelahnya keluar dari ruang operasi. Sasori berjalan dengan langkah gontai untuk kembali ke ruang kerjanya. Namun, sebuah tepukan di bahu kanannya berhasil membuat Sasori berhenti dan membalikkan badannya, menghadap seseorang yang telah menepuk bahunya. Kedua mata Sasori sedikit nampak terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya. Mulutnya sedikit terbuka. Namun, akhirnya dia tersadar kembali dan memaksakan tersenyum pada sosok yang berada di hadapannya. "Sasuke… kau sudah datang."
"Hn."
Sasuke melihat penampilan Sasori dari ujung kaki sampai ujung kepala. Setelahnya dia menyerngit bingung. "Kenapa dengan jas doktermu, Sasori? Darah siapa itu?" tanyanya.
Sasori sedikit kebingungan untuk menjawabnya dan berkeringat dingin tiba-tiba. Sasori tak mungkin mengatakan kepada Sasuke yang sebenarnya bahwa ini adalah darah Sakura. Apalagi setelah melihat photo di liontin Sakura. "Darah pasienku. Sudah lupakan saja."
"Hn. Di ruangan mana kakakku di rawat?"
"Ayo kuantar..!"
##Sacrifice##
Kedua pemuda tampan itu berjalan dalam diam. Tak ada satu orang pun yang ingin membuka sebuah topik pembicaraan. Yang terdengar hanyalah derap langkah dari keduanya. Juga suara detakan jarum jam dinding yang menempel di dinding rumah sakit.
Sasori menunjuk sebuah ruangan di ujung koridor dengan jari telunjuknya. "Itachi, ada di ruangan itu. Tapi, maaf Sasuke. Aku tak bisa mengantarmu masuk kedalam. Aku mau ganti baju dulu."
"Hn. Terima kasih sudah mengantarku, Sasori."
Sasori melemparkan senyum singkat pada Sasuke sebelum benar-benar pergi. Dan sosok Sasori menghilang di belokan kekanan menuju ruang kerjanya. Yang tinggal sekarang di koridor sepi ini hanya Sasuke saja. Akhirnya Sasuke berjalan dengan santai ke ruangan Itachi berada. Namun, sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya dan membuatnya membalikkan badannya ke belakang, ke asal suara itu datang.
Dan dari kejauhan terlihat dua orang suster sedang mendorong sebuah tempat tidur pasien. Kedua suster itu semakin mendekat pada Sasuke. Dan Sasuke merapatkan punggungnya kedinding untuk memberikan ruang bagi kedua suster itu ketika melewati dirinya. Salah satu suster berambut coklat yang di cepol dua melirik sekilas Sasuke dan mengalihakan pandangannya kembali ke depan. Sedangkan Sasuke juga menatap suster itu seakan dia pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, bukan hanya suster itu yang Sasuke tatap. Tapi, wajah pasien yang terbaring lemah di atas tempat tidur yang di dorong suster itu. Sasuke merasa sangat pamiliar dengan wajah pasien itu walaupun wajahnya tertutupi alat bantu pernapasan. Tetapi, yang menarik perhatiannya adalah warna rambut pasien itu, merah muda. Seketika Sasuke teringat akan sosok seorang gadis yang sangat ingin dia temui.
"Sakura…"
Bersambung…^^
Sebaikanya ayo kita balas review dulu… di mulai dari…
_Haruchi Nigiyama :
Hhehe... penasaran?
Dia itu...RAHASIA..
Nie dah q update... review lg yach...
_Uchiha nii-chan :
Nie dah q update... review lg yach...
_Kaori a.k.a Yama :
Yg di operasi? tebak sajalah..!Pairnya dah q cantumin...
review lg yach..!
_Aya-na Byakkun :
Nie dah q update... review lg yach...
_Naru-mania :
Yup, Hinata jd kakak iparnya...
Inisial S.G. masih rahasia...heheh...
Dan yg di photo... itu juga masih rahasia,,,
nie dah q update... review lg yach...
_Intan SasuSaku :
Nie dah q update... review lg yach..!
_Badboy sheva :
Yg di operasi? tebak sajalah..hhehehe...
Deskripsi dan Diksinya bagus? Hwaaa~ makasih.. tas pujiaannya, Senpai..heheh
Nie dah q update... review lg yach..!
_Keiko nomida :
Nie dah q update... review lg yach..!
_Chiwe-SasuSaku :
Nie dah q update... FAI juga dah..
review lg yach..
_D'BlackList-Jijin :
makasih dah suka dgn fic ku... review lg yach...!
_Kirei Yuki Hana :
Ok, review mu sangat membantu,,,
review lg yach...!
_Nne Kishida :
Arigatou, Senpai... dah menyukai fic q...
Review lg yach...!
Yosh~ balas review sudah...
Sebelumnya Saya minta maaf karena updatenya lama...
review lg yach...
Salam manis, Miko-chan^^
