Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Angst/Hurt/Comfort
Rated : T
Warning : OOC, AU, GaJe
Pairing : SasuSaku, ItaSaku, SasoSaku, maybe GaaSaku
Chapter 4
##Sacrifice##
Di dalam kamar berukuran sangat luas dengan dinding bercat hitam-biru, di atas tempat tidur ukuran king size terbaring seorang pemuda berambut emo. Kedua matanya terpejam, dan sebuah dengkuran halus terdengar di dalam kamar itu. Wajahnya yang tertidur itu terlihat sangat tenang, dadanya naik turun seirama. Jendela yang terbuka mengantarkan udara dingin malam hari.
Namun, tiba-tiba saja tercipta suatu gerakan di atas tempat tidur itu. Pemuda berambut emo itu menggeliat tak nyaman. Tak lama kemudian terpaksa dia membuka kedua matanya. Dia memegang kepalanya dan sedikit memijit keningnya. Pusing.
Dan sebelah tangannya merogoh saku celananya, dia mengeluarkan sebuah handphone yang dari tadi bergetar di dalam sakunya. Ternyata penyebab bangunnya pemuda berambut emo itu adalah karena getaran dari handphonenya.
Ditatapnya layar handphone yang menyala, dan tertera nama Neji. Seketika ingatannya mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang terjadi sebelum dia jatuh tertidur, dan penyebab salah satu sahabatnya itu menghubunginya jika ada sesuatu.
Dan seketika pemuda berambut emo itu teringat percakapannya dengan Neji.
"Baiklah, aku mengerti. Setelah dari rumah sakit datanglah ke sebuah café dekat rumah sakit tempat praktekku. Ada banyak orang yang ingin bertemu denganmu, dan juga ada banyak hal yang ingin aku beritahukan padamu."
"Hn. Tunggulah di sana."
Seketika pemuda berambut emo itu menepuk pelan keningnya yang lumayan lebar itu. "Neji pasti sudah menungguku dari tadi," ucap pemuda itu dan segera mengangkat panggilan telefon dari Neji.
"Hallo.."
"Sasuke… "
"Hn. Maaf. Aku tertidur."
"Owh… begitu…"
"Apa? Dia tertidur?" sebuah suara feminim terdengar dari sebrang telefon Sasuke.
"Neji… cepat suruh dia kemari!" suara lain ikut bergabung.
Sasuke sedikit menyerngitkan keningnya, berpikir, menerka-nerka suara siapa saja tadi yang ikut berbicara. Namun, tak dapat Sasuke ingat sama sekali.
"Kau dengar itu, Sasuke? Cepatlah kemari!" ucap Neji.
"Hn. Dua puluh menit lagi. Tunggulah!" ucap Sasuke dan langsung menutup sambungan telefonnya.
Dia melirik sekilas langit lewat jendela yang terbuka. Sudah gelap. Sudah berapa lama dia tertidur dia pun tak ingat. Segera saja dia bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi di dalam kamarnya sendiri.
Sasuke masuk ke dalamnya namun dia tak langsung menghidupkan keran di kamar mandinya, melainkan berdiri mematung di depan sebuah cermin di atas wastefel. Di tatapnya wajahnya sendiri yang sudah dewasa, jauh lebih tampan dari sebelumnya. Dan seketika wajah Sakura kembali terbayang.
Kedua mata onyx itu di tutupnya selang beberapa detik, dan kemudian di bukanya kembali. Sebersit perasaan menyesal dan rindu tergambar jelas di kedua mata onyx-nya. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kran air dan memutarnya. Beberapa detik kemudian butiran air segar dan dingin keluar dari lubang-lubang kecil shower itu. Sasuke tak membuka terlebih dahulu pakaiannya, langsung saja dia berdiri di bawah guyuran air. Membiarkan dirinya basah beserta pakaiannya. Sebelah tangan kananya terkepal erat, dan selajutnya yang terjadi adalah Sasuke memukulkan sendiri kepalan tangannya ke dinding kamar mandi.
Dinding itu sedikit mengalamai keretakan, dan sebagai gantinya darah merembes ke dinding itu dan mengalir ke bawah lantai kamar mandi. Ikut hanyut terbawa air. Tangan itu merasakan perih dan sakit. Namun, tak sebanding di dalam pikiran Sasuke rasa sakit dan perih yang gadis itu rasakan.
Rasa sakit hati ketika yang Sakura rasakan ketika Sasuke meninggalkan dia secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Masih teringat di dalam memorinya wajah gadis itu yang basah berlinangan air mata. Suaranya yang bergetar ketika mengucapkan kata-kata 'Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, Sasuke' secara berulang-ulang.
Sasuke merasa dirinya sungguh kejam pada waktu itu kepada Sakura. Dia menggigit bibir bawahnya denagan kencang sampai berdarah. Sekarang yang di rasakan pemuda berambut emo itu adalah rasa asin dan amis di dalam mulutnya karena darahnya sendiri.
Kedua lututnya sudah lemas, tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Dan akhirnya Sasuke jatuh terduduk dengan bertumpu di kedua lututunya. Sebelah tangannya yang tadi di pakai meninju dinding memegang erat kepalanya. Sedangkan tangan kirinya mencengkram erat dadanya sendiri. Selanjutnya Sasuke berteriak kencang dan suaranya menggema di dalam kamar mandi itu. "Aaaarrgghhh!"
##Sacrifice##
Ruangan di dalam café itu tidaklah terlalu luas namun juga tak terlalu kecil, berukuran sedang. Cukup dan nyaman untuk di jadikan tempat istirahat, meluangkan waktu dan membuat janji untuk bertemu dengan sejumlah teman, bahkan untuk tempat berpacaran seperti beberapa pasangan di dalam café itu.
Kursi yang lumayan empuk, dekorasi ruangan yang di tata sedemikian rapi juga unik, pelayanan yang memuaskan dan tak lupa 'rasa' dari semua makanan maupun minuman yang di jual di café itu membuatnya selalu penuh dikunjungi pengunjung, selalu ramai terlebih akhir dari pada minggu ini.
Dan mari kita sorot salah satu tempat duduk di dalam café itu dekat pojok belakang jendela yang tengah di huni oleh 3 anak manusia. 3 gelas minuman yang berada di meja itu sudah tinggal setengahnya saja. Tak ada makanan sama sekali di atas meja itu. Sepertinya mereka belum memesannya karena menunggu kedatangan seorang pemuda berambut emo yang menjadi tujuan mengapa mereka bertiga ada di sini.
"Bagaimana?" tanya seorang wanita berambut merah yang di kuncir ekor kuda. Dia melakukan gerakan dengan menaikan kaca mata berbingkai warna merah miliknya ke atas karena sedikit melorot, bergeser dari posisinya semula. Sepertinya kaca mata itu harus segera di gantinya karena terus menerus mengganggu gerakannya dengan yang lebih nyaman.
Seorang pria berambut coklat panjang yang duduk di depan wanita itu tak langsung menjawabnya. Dia memasukan dulu handphonenya ke dalam saku jas hitamnya. Tangan kanannya melakukan gerakan memutar-mutar sendok di dalam cangkir kopinya. Kedua mata lavendernya mengerling sosok wanita di hadapannya. "Dua puluh menit lagi," akhirnya pemuda itu menjawabnya.
Terdengar helaan nafas berat dari wanita berambut merah itu. Dia menghempaskan punggungnya sedikit kasar ke belakang kursinya. "Masih lama ternyata."
"Sabarlah, Karin! Kau harus mengerti! Sasuke itu baru saja tiba di Jepang dari kepulangannya dari Amerika." Komentar seorang pemuda berambut coklat jabrik, di kedua pipinya terdapat tatto merah segitiga terbalik. Pemuda itu memakai jaket bertudung berwarna abu-abu kehitaman. Cukup aneh karena udara di dalam café itu sudah bisa di katakan 'hangat'.
Wanita bernama Karin itu memandang pemuda yang duduk di sampingnya dengan pandangan tak biasa. Entah apa yang dipikirkannya ketika melihat pemuda itu. Sepasang iris mata berwarna rubby itu terus menerus memandang pemuda berambut coklat itu. Yang pasti hal itu menyebabkan di kedua pipi pemuda itu muncul rona kemerahan samar.
"Kau… "
"Apa?"tanya pemuda yang di tatap oleh Karin.
"Tak jadi," jawab Karin dan memilih memandangi langit di luar sana yang gelap gulita dari jendela. Tak ada bintang satu pun, sepertinya tertutupi awan.
"Kau ini aneh," komentar pemuda berambut coklat itu pada Karin yang tak di gubris oleh yang bersangkutan. Dia mengambil cangkir kopi susunya dan meminumnya.
"Sepertinya sebentar lagi langit akan menangis," ucap Karin dan setelahnya kembali termenung seperti memikirkan sesuatu.
Seorang pemuda yang duduk di samping Karin meletakan cangkir kopinya dan ikut memandangi langit yang sudah semakin gelap dari sebelumnya. Tetapi setelahnya pandangannya terpancang pada wajah sang gadis berkacamata itu. Entah apa yang sedang di pikirkannya ketika memandang Karin.
Berbeda dari seorang pemuda berambut coklat panjang satunya. Dirinya sedang menyibukan diri dengan handphonenya sendiri. Sepertinya Neji sedang berkomunikasi via messege terlihat dari jari-jarinya yang lincah menekan-nekan huruf-huruf yang tercetak rapi di handphonenya sendiri.
"Sakura… dia sedang koma," ucap Neji tiba-tiba membuat kedua orang yang berada di depannya sukses menolehkan wajahnya dengan cepat. Raut wajah terkejut terpeta di wajah keduanya.
"Bercanda di saat seperti ini..huh!" balas Karin sarkastik dan mendengus sebal.
"Tidak lucu sama sekali," tambah pemuda di samping Karin.
"Aku sedang tidak bercanda," ucap Neji dan beraut wajah sangat serius.
Tak ayal membuat kedua orang tadi yang mengira Neji sedang bercanda menampakan wajah tegang. "Kau… tahu dari mana?" tanya Karin mulai merasa tidak enak dan takut.
"Tenten," jawab Neji pendek.
Keduanya baru kali ini percaya. Karena Tenten adalah tunangan Neji yang juga bekerja di rumah sakit, tempat di mana Sakura praktek. Tak mungkin jika Tenten sengaja berbohong mengenai keadaan sahabatnya sendiri. Terlebih memang raut wajah Neji menunjukan keseriusan saat mengucapkannya.
"Tenten memberitahu ku via messege," ungkap Neji pada kedua temannya.
"Kenapa bisa? Sakura… dia.." ucap Karin terputus-putus dan suaranya sedikit bergetar. Kedua mata iris rubby-nya mulai berkaca-kaca dan bahunya gemetaran. Kiba yang berada di sampingnya memeluk tubuh Karin dari samping dan mengusap-usap punggungnya.
"Karin… tenanglah!"
"Bagaimana aku bisa tenang, Kiba," ucap Karin agak membentak dengan suaranya yang mulai berubah menjadi agak serak. Dan akhirnya cairan bening menetes juga dari sudut-sudut matanya. Dia membuka kacamatanya dengan gusar dan menutup wajahnya sendiri dengan sebelah tangannya saja, karena tangan yang satunya lagi berada di dalam genggaman tangan Kiba.
"Aku yakin Sakura pasti akan sadar.." terang Neji mencoba membuat Karin agak tenang sedikit.
Tapi nyatanya hal itu tidak berhasil karena selanjutnya yang terjadi adalah Karin tiba-tiba saja berdiri dengan serta mengambil tas kecilnya dan menaruhnya di bahu kirinya. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Kiba dan berjalan memutar ke kiri untuk berencana keluar dari café itu.
"Kau mau kemana, Karin?" sergah Neji cepat.
Kiba menahan kepergian Karin dengan mencengkram pergelangan tangan kirinya. "Di luar sudah akan turun hujan."
"Aku tidak perduli. Aku ingin melihat keadaannya," jawab Karin dan dengan sedikit sentakan melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Kiba.
Karin berjalan setengah berlari keluar dari café itu dan menabrak beberapa pengunjung di sana yang hendak masuk. Di sepanjang perjalanan dia terus-menerus mengusap-usap kedua pipinya dari bekas air mata yang dari tadi tak mau behenti dari kedua matanya.
"Tunggu, Karin!" teriak Kiba yang juga berdiri dari duduknya.
"Damn!" Kiba menggebrak meja itu sehingga beberapa pengunjung menatapnya dengan pandangan 'ada apa?'
"Neji... maaf aku harus pergi menyusulnya. Katakan pada Sasuke, aku dan Karin ada keperluan penting yang tak bisa di tunda." Kiba mengucapkannya dengan satu tarikan nafas.
"Hn. Aku mengerti." Jawab Neji.
Detik berikutnya Kiba berlari mengejar Karin. Dan ketika sudah sepenuhnya keluar dari café itu butiran air turun dari langit. Hujan. Di sertai dengan angin yang cukup kencang. Kedua mata coklat itu fokus mencari sosok Karin dan dengan mudahnya menemukannya tengah berlari di bawah guyuran hujan.
"Dasar gadis keras kepala!" Geram Kiba dan akirnya berlari mengejar Karin. Ketika berlari mengejar sosok wanita berambut merah itu dia membuka jaket tebalnya, dan kini yang hanya melekat di tubuh bagian atasnya hanyalah t-shirt tipis berwarna hitam selain bawahannya yang memakai celana jeans hitam.
Kiba berlari secepat mungkin untuk mengejar sosok Karin, dan ketika sudah bisa menggapai sosok itu. Kiba langsung melekatkan jaket tebalnya pada bagian tubuh belakang Karin dan menutup kepala merahnya dengan tudung jaketnya.
Karin yang merasakan ada yang memakaikan sesuatu di belakang punggungnya segera menolehkan kepalanya ke belakang. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Kiba yang berlari di belakangnya dengan nafas tersengal-sengal di tambah di tubuhnya bagian atas hanya memakai t-shirt tipis. "Kiba.." panggilnya dan memelankan kecepatan larinya.
"Memang sulit menyamai kecepatan lari seorang atlit sepertimu, Karin.." puji Kiba dan tersenyum. Akhirnya dia berhasil menyamai langkah lari kakinya dengan Karin. Tanpa aba-aba dahulu Kiba langsung merapatkan tubuhnya pada Karin dan mendekapnya erat. Sebelah tangannya berada di bahu kanan Karin dan sebelah tangan yang satunya berada di puncak kepala Karin, membuat agar tudung jaket itu tak melorot di kepalanya karena terbawa angin. "Kita berlari menuju halte bus di sana."
Karin menganggukan kepalanya mengerti dan menyunggingkan sebuah senyuman di bibir ranumnya. "Terima kasih, Kiba," batin Karin.
"Ngomong-ngomong aku tidak tahu kau bisa berjalan tanpa memakai kaca mata.. berlari malah," ungkap Kiba dan melirik Karin di sampingnya.
Wajah Karin yang tak memakai kaca mata sungguh sangat manis di hadapannya. Pasalnya terlihat jelas kedua iris matanya yang secantik berlian ruby. Merah gelap seperti berwarna darah. Di tambah kedua matanya yang berkaca-kaca. Benar-benar sangat cantik kedua matanya. Tak ayal membuat wajah Kiba sedikit memanas karenanya.
"Eh..?" Karin terperanjat terkejut dan meraba wajahnya sendiri yang tak ada hiasan kacamata yang melindungi kedua mata ruby-nya.
"Pantas saja aku merasa ada yang tertinggal," batin Karin.
"Tapi lebih baik seperti itu. Biarkan keindahan matamu terpancar. Jangan kau halangi dengan sebuah kacamata," ucap Kiba dan tersenyum.
Karin tersentak mendengar ucapan yang Kiba ucapkan. Dan tak dapat di cegah kini kedua pipinya sukses merona. "Uhm.."
##Sacrifice##
Waktu sudah terlampaui sekitar lima belas menit yang lalu ketika pemuda berambut emo itu selesai memakaikan dua pasang pakaian ke tubuhnya. Atasan kaos berlengan panjang berwarna hitam dengan bawahan celana jeans biru. Dia menyemprotkan sebuah parfum ke tubuhnya dan setelahnya menyisir rambutnya yang bermodel seperti pantat ayam itu.
Sudah merasa cukup rapi akhirnya Sasuke berjalan menuju sisi tempat tidurnya, duduk di atasnya. Sasuke membungkukan badannya dan membuka salah satu laci bawah dari buffet kecil. Mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dengan lambang plus berwarna merah di tengahnya. Di bukanya kotak itu dan mengambil sebuah botol kecil berwarna putih berisi obat berbentuk kapsul untuk mengobati rasa sakit di kepalanya di antara belasan obat di dalamnya.
Sasuke mengeluarkan dua buah kapsul yang kini berada di tangannya dan langsung menelannya. Setelahnya dia mengambil gelas panjang yang berada di buffet itu, meneguknya sampai tandas. Dan mengembalikan gelas itu ke tempatnya semula.
Sebelah tangannya terangkat memijit keningnya. Sakit. Sasuke merasakan sakit yang luar biasa menyerang kepalanya saat ini. Dan sebelah tangannya yang lain mengambil plester untuk menutupi luka pukul di tangannya sendiri di dalam kotak P3K itu. Setelah selesai mengurus tangannya sendiri dia menaruh kembali kotak P3K itu ke asalnya yaitu laci dari buffet bagian bawah.
Setelahnya dia bangkit dari duduknya di atas tempat tidur itu dan segera keluar kamarnya. Tak lupa ikut serta mengambil handphonenya yang dia taruh di atas buffet sebelum benar-benar melenggang pergi dari kamarnya.
.
.
"Aku akan ke sana setelah jam makan malam nanti." Ucap Mikoto Uchiha lewat sambungan telefon di ruang tengah.
"Hn. Tak perlu mengajak Sasuke. Biarkan dia istirahat di rumah saja, Mikoto," balas Fugaku Uchiha tegas.
Mikoto mengerti dengan menganggukan kepala yang jelas tak dapat dilihat oleh Fugaku dari sana.
"Fugaku… aku ingin kau mengecek sesuatu untuk ku di sana." Permintaan Mikoto kepada Fugaku.
"Hn."
"Tolong lihat keadaan Sakura!"
"Hn. Akan aku lihat keadaannya nanti. Baiklah… sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Tuut.. tuut..
Sambungan telefon itu akhirnya terputus dan Mikoto memutuskan untuk membangunkan Sasuke dari tidurnya di kamarnya. Karena terakhir kali dia mengecek sepuluh menit yang lalu tak ada jawaban dari Sasuke, dan hal itu di anggap oleh Mikoto bahwa putra bungsunya masih dengan tenangnya menjelajahi alam mimpi. Dia membalikan tubuhnya dan langsung menegang melihat kehadiran Sasuke tepat di belakangnya.
"Apa Sasuke mendengar semua obrolanku dengan Fugaku?" batin Mikoto kalut dan kedua matanya bergerak-gerak gelisah. Kedua tangannya meremas-remas tangan yang lain dan keringat dingin mulai muncul di pori-pori keningnya.
"Ibu.." Sasuke membuka suara untuk yang pertama kalinya. Dia berjalan mendekat kepada Mikoto. Dan kedua mata onyx-nya menatap wajah Mikoto seperti mau mengintrograsi.
"S-sudah bangun, sayang?" tanya Mikoto sedikit gugup dan mengusap-usap lengan kanan Sasuke.
"Hn. Tadi itu Ayah?"
"I-iya… Ayahmu mengabarkan kalau keadaan kakakmu semakin membaik."
"Syukurlah. Tapi tadi sepertinya aku mendengar Ibu menyebutkan nama Sa…"
"Kau lapar, sayang? Mau makan apa? Biar Ibu buatkan sekarang juga." Kilah Mikoto berharap Sasuke tak menanyakan perihal nama yang diucapkan oleh Mikoto di dalam percakapan lewat telefon tadi.
Sasuke menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak merasa lapar sama sekali padahal dia belum makan sesuap nasi saja dari kepulangannya dari Amerika. "Aku ada urusan. Jika lapar aku bisa makan di café-café." Ucapnya dan melenggang pergi.
Namun kepergiannya tertahan karena lengan Sasuke di tahan oleh Mikoto. "Tunggu sebentar, sayang!"
Mikoto berjongkok di depan buffet kecil yang di mana di atasnya telfon itu berada. Membuka laci bagian tengah-tengahnya dan mencari-cari sebuah benda kecil. Serasa sudah mendapatkan apa yang di carinya langsung saja Mikoto menyerahkan benda itu di atas telapak tangan kanan Sasuke.
Sasuke menautkan kedua alisnya tanda bingung, bukan bingung benda apa yang berada di tangannya. Tetapi melainkan alasan ibunya memberikan sebuah kunci mobil padahal sudah ada motor, alternatif dirinya untuk mengantarkan kemana pun dia ingin pergi. "Ini..?"
"Mobil yang sudah Ayah dan Ibu siapkan untukmu. Lagi pula di luar sana tengah hujan deras Sasuke," jawaban Mikoto mewakili pertanyaan di dalam kepala Sasuke.
"Hn. Setelah pulang dari urusanku, aku akan kembali menjenguk kakak," ucap Sasuke dan berjalan melenggang pergi. Namun baru saja lima langkah dia menjauh dari Mikoto, Sasuke membalikan badannya dan tersenyum tipis di sertai semburat merah di kedua pipinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Mikoto penasaran.
Sasuke kembali berjalan mendekati Mikoto dan tanpa di duga langsung mengecup sekilas kening Mikoto. Hal yang dulu sering di lakukannya jikalau dia mau pergi keluar rumah, dan waktu itu juga masih ada seorang gadis berambut merah muda yang mengisi hari-hari Uchiha bungsu itu. "Aku pergi, Bu."
Setelah mengucapkan hal itu Sasuke benar-benar pergi meninggalkan Mikoto dan keluar kediaman rumah utama menuju garasi tempat di mana mobil barunya di parkirkan.
Mikoto memandang tak percaya punggung Sasuke yang menghilang dari pandangannya. Sedetik kemudian dia tersenyum lega dan terisak kecil. "Sasuke yang dulu sudah kembali.."
##Sacrifice##
Hujan yang mengguyur tempat tinggal para makhluk bumi itu semakin mengganas saja. Jumlah volume air yang jatuh dari langit begitu banyak dan derasnya. Belum lagi angin yang berhembus dingin serasa menusuk tulang. Sepertinya langit sedang mengamuk dan juga… bersedih.
Seperti perasaan pemuda berambut emo ini sekarang. Dia mengetuk-ngetukan jari telunjuk kanannya yang berada di atas stir kemudi. Perasaannya benar-benar tak enak. Resah. Kacau. Menyesakan. Jantungnya pun terasa sakit seperti ada yang menggenggamnya erat dan akan menghancurkannya dalam satu kepalan keras.
Sasuke menepikan sebentar mobilnya di sisi jalan menuju café yang di janjikan oleh Neji. Dia mematikan mesin mobilnya dan sebua erangan sakit keluar dari mulut Sasuke. "Ugh! Perasaan menyesakan apa ini?" batin Sasuke dan mencengkram erat dadanya sendiri dengan kedua tangannya.
Kedua mata onyx-nya memandang ke depan kaca mobilnya dan waktunya tepat pada saat ada sepasang laki-laki dan wanita berjalan menyebrang mobil depannya. Walaupun dalam kegelapan seperti ini Sasuke masih bisa tau mereka berdua itu siapa. Seroang wanita berambut merah marun dengan seorang laki-laki berambut coklat jabrik. Sasuke menurunkan kaca jendela sampingnya dan hendak memanggil keduanya namun terlambat. Kedua orang itu sudah naik bus yang Sasuke tahu tujuan dari bus itu adalah Rumah Sakit Konoha.
"Untuk apa mereka berdua pergi ke rumah sakit?" tanya Sasuke terlebih pada dirinya sendiri karena tak ada orang lagi selain dirinya di dalam mobil itu. Karena angin dingin yang mulai masuk melalui kaca jendela yang dia turunkan tadi dengan terpaksa Sasuke menutupnya kembali.
Sekarang rasa sakit yang Sasuke rasakan tepat di bagian jantungnya sudah menghilang. Dan Sasuke yang tadinya berniat akan mengikuti bus yang di naiki oleh kedua sahabatnya dia urungkan. Karena masih ada janji dengan Neji di café ujung halte bus ini. Tanpa buang-buang waktu lagi akhirnya Sasuke menghidupkan kembali mesin mobilnya dan tancap gas dari tempat itu.
.
.
Rasa hangat dan nyaman menyerang tubuh pemuda berambut emo itu ketika dia sudah berada di dalam pintu masuk café berukuran sedang itu. Kedua mata onyx-nya menjelajahi isi café. Mencari kepala berambut coklat panjang di antara banyaknya pengunjung. Dan kedua mata onyx-nya menemukan sosoknya jauh di dalam dekat jendela di sebelah kanan.
Sasuke berjalan santai menuju sosok Neji yang sedang duduk membelakanginya itu. Di tepuknya pelan bahu kiri Neji. "Maaf membuatmu lama menunggu, Neji," ungkap Sasuke sedikit menyesal.
Neji mendongakan kepalanya ke atas menatap wajah pemuda berambut emo yang rambutnya sedikit basah kuyup itu. "Hn. Tak masalah," ucap Neji tersenyum tipis dan menepuk pelan lengan kanan Sasuke. Setelah itu baru Sasuke duduk di hadapan Neji. Tempat duduk yang di tempatinya sebelum Kiba dan Karin pergi dari sana.
"Bagaimana kabarmu?" sapa Neji pada sahabat lamanya yang sudah lama meninggalkan tempat kelahirannya sendiri.
"Hn. Baik. Kau?" jawab Sasuke seperti biasa, irit kata dan balik bertanya.
"Baik. Lalu… bagaimana keadaan kakakmu?"
"Sudah melewati masa kritis."
"Syukurlah. Kau ingin pesan apa?"
"Hn. Teh saja."
Neji mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil seorang pelanggan. Dan tak lama kemudian datanglah seorang pelayan berambut coklat pendek dengan sebuah senyuman ramah terlukis di wajahnya. Di tangan kanannya menggenggam sebuah pena dan yang satunya sebuah note's kecil.
"Mau pesan apa?" tanya ramah pelayan itu. Pipinya sedikit merona ketika melirik Sasuke yang tengah memandang keluar jendela.
"Dua teh saja," jawab Neji.
"Baik. Akan di antarkan lima menit lagi."
"Selalu dikagumi oleh kaum wanita, eh? Tidak berubah sama sekali," komentar kecil Neji dan tersenyum hambar pada Sasuke setelah pelayan wanita di café itu pergi.
Sasuke melirik sekilas Neji yang berada di hadapannya, dan menatap kembali keluar jendela. Lebih tepatnya menatap keadaan langit di luar sana. "Hn. Cukup merasa terganggu."
Terdengar helaan nafas ringan dari sosok di hadapan Sasuke. Dan Sasuke kurang lebih tengah melamun dan nampak tak memperdulikan Neji. Tangannya kirinya menopang dagunya sendiri sedangkan tangannya terlipat di atas meja. Ingatannya terus menerus memutar kenangannya bersama Sakura dulu. Dan entah kenapa perasaannya terhadap Sakura sekarang sangatlah kuat, terus menerus terbayang oleh sosoknya. Sasuke sendiri merasa sedikit aneh, pasalnya setelah kepulangannya ke Jepang dia selalu terpikirkan oleh sosok Sakura.
"Sasuke…"
"Hn."
"Kau banyak berubah."
"Benarkah? Aku menyukai diriku yang sekarang," ucap Sasuke dan kembali ke alam sadarnya. Dan memandang Neji yang tengah menatapnya seperti seolah-olah ada yang ingin di katakannya namun ragu.
Dan Sasuke melihat di atas meja itu ada sebuah kacamata berwarna merah, tepat di hadapannya. "Ini..?" tanya Sasuke dan menunjuk benda itu dengan jari telunjuk kanannya.
"Milik Karin.. sepertinya dia buru-buru pergi dan benda itu tertinggal," jawab Neji,"Kiba juga tadi dia ada di sini. Kami bertiga menunggumu, Sasuke."
"Hn. Mereka berdua pergi kemana? Aku tadi melihat keduanya tengah terburu-buru menyebrang dan menaiki bus," ungkap Sasuke. Sekarang dirinya baru ingat jika suara feminim yang di dengarnya di telefon adalah suara milik wanita berambut merah itu.
"Benarkah?" tanya Neji balik dan mulai sedikit gelisah.
"Mereka menaiki bus menuju jurusan Rumah Sakit Konoha. Siapa yang sakit?" tanya Sasuke penasaran, sangat penasaran malah. Karena dirinya mulai merasakan firasat buruk mengenai sesuatu.
"O-oh, itu… mereka pergi menemui Tenten."
"Tenten?" tanya Sasuke balik. Jelas saja dia bertanya siapa itu Tenten karena Sasuke sama sekali belum mengenal orang yang namanya di sebutkan Neji barusan. Dan mencoba mengingat jika saja Tenten salah satu temannya se-masa SMA dulu jelas tidak akan teringat.
"Tunanganku. Dia berkerja sebagai perawat di Rumah Sakit Konoha. Bukankah aku sudah memperlihatkan photo dia padamu via e-mail, Sasuke?" jawab Neji dan kembali bertanya.
Sasuke mengerutkan keningnya dan nampak mengingat-ingat sesuatu yang berhubungan dengan photo. Dan ingatannya kembali terbuka pada saat dua bulan lalu, Neji mengirimkan e-mail yang berisi photo tunangannya. Tidak hanya Neji saja, tetapi teman dekatnya yang lain juga sering mengirimkan e-mail seperti itu.
Jelas Sasuke mengingat bagaimana rupa sosok yang di sebutkan Neji. Seorang wanita bernama Tenten dengan perawakan mungil seperti orang China. Itu karena rambutnya yang berwarna coklat di cepol dua dan berponi depan.
"Akh.. jadi dia. Aku ingat." Jawab Sasuke dan tersenyum tipis.
Untuk sementara waktu Neji merasa lega karena Sasuke tak menanyakan lebih jauh perihal masalah kepergian Kiba dan Karin.
"Hn."
"Kiba dan Karin… sepertinya mereka bosan karena menunggu kedatanganmu yang terlalu lama. Dan jadinya mereka memutuskan pergi karena ada urusan mendadak," ucap Neji kemudian.
"Akh.. terima kasih," ucap Neji kepada pelayan yang baru saja mengantarkan dua cangkir teh hangat di atas meja mereka. Neji menyerahkan satu cangkir teh pada Sasuke.
Sasuke mengangkat gagang cangkir teh dan mencium aroma khas yang di keluarkan oleh teh itu. Membuat tubuhnya hangat dan nyaman. Di dekatkannya bibir cangkir itu dan tak lama kemudian mencicipinya. Meresapinya secara perlahan.
"Lain kali kau harus datang tepat waktu jika di adakan acara kumpul seperti ini, Sasuke!"
"Hn. Aku mengerti." Jawab Sasuke dan menaruh cangkir teh itu di meja.
"Bicara soal tuananganmu itu, Neji.." Sasuke menggantung ucapannya sebentar, membuat Neji meliriknya penuh selidik.
"Aku sudah berpapasan dengannya di Rumah Sakit Konoha," Sasuke menyelesaikan ucapannya yang tadi sengaja dia gantung.
"Uhuk! Uhuk!" Neji tersedak di saat dia akan menelan air teh itu ke dalam kerongkongannya. Matanya sedikit berkaca-kaca karena tenggorokannya sedikit sakit dan terasa panas.
"Pelan-pelan!" nasihat Sasuke dan menahan senyum karena sikap 'tak biasa' yang di perlihatkan oleh sahabatnya. Karena dulu hampir tidak pernah Sasuke melihat seorang Neji tersedak minumannya sendiri walaupun dalam keadaan apapun.
"Be-benarkan kau melihat Tenten?"
"Hn. Waktu itu dia sedang mendorong sebuah tempat tidur pasien bersama perawat yang lain."
Neji mulai merasakan bahwa perkataan Sasuke akan menjorok pada keadaan Sakura. Dan benar saja buktinya. Kata-kata yang di keluarkan oleh Sasuke kali ini membuatnya tak nyaman.
"Aku merasa jika yang terbaring di atas tempat tidur itu adalah Sakura."
Neji tersenyum hambar pada Sasuke. "Kau ada-ada saja, Sasuke. Banyak wanita di sana yang berambut merah muda," ucap Neji dan sedetik kemudian dia mengutuk dirinya sendiri karena menjawab hal itu.
"Aku memang mengatakan jika mungkin itu adalah Sakura. Tapi… Neji, aku tidak mengatakan jika orang itu mempunyai rambut merah muda."
Neji terperanjat dan mulai panik. Di paksakannya dia sedikit tertawa tetapi malah seperti orang yang sedang sakit gigi. "Ahahah.. Kau bilang seperti Sakura… ya, aku kira pasti mempunyai rambut merah muda."
"Hanya segelintir orang yang di beri nama Sakura harus selalu memiliki rambut warna merah muda." Terang Sasuke yang mulai mencium sebuah kebohongan dari mulut sahabatnya sendiri.
Neji benar-benar terpojok sekarang. Harusnya dia lebih bisa menjaga mulutnya sendiri. Dan dengan terpaksa jika Sasuke bertanya soal Sakura dia harus mengatakan yang sebenarnya sekarang.
"Aku tahu kau berbohong. Memangnya sudah berapa lama kita jadi sahabat, eh?" ucap Sasuke dan menyeringai.
"Baiklah aku menyerah. Aku memang berbohong. Apa yang ingin kau tahu?"
"Kau tahu apa yang ingin aku tahu saat ini." Balas Sasuke mulai tak sabaran. Kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Nafasnya mulai memburu tak beraturan. Sepertinya sifat emosionalnya mulai bangkit.
"Mengenai keberadaan Sakura, eh?"
"…"
"Dia sudah berhasil menjadi seorang Dokter.." Mulai Neji mengatakan keadaan Sakura.
"Di Rumah Sakit Konoha." Sasuke meneruskan ucapan Neji. Dia sudah mengira hal ini sebenarnya.
Tak dapat di cegah kini sudut-sudut bibir Sasuke terangkat dan membentuk sebuah senyuman bangga dan bahagia. Namun, senyuman itu luntur ketika mendengar penuturan Neji selanjutnya.
"Dan sekarang dia mengalami koma, Sasuke."
Kedua mata onyx itu terbelalak lebar karena ketidak percayaannya mengenai kata-kata yang di ucapkan oleh Neji. Di dalam hati Sasuke berharap ini hanyalah sebua gurauan dari sahabatnya. Namun, sorot mata itu… sorot mata kedua lavender itu nampak sayu dan menyakitkan.
Dan selanjutnya yang terjadi adalah.. Sasuke segera bangkit dari duduknya dengan kasar. Membuat kursi yang didudukinya terjungkal terbalik ke belakang. Dan suara bising yang di keluarkan oleh kursi itu sepenuhnya membuat semua pengunjung di café itu menengok kearah meja Sasuke dan Neji.
"Sasuke.. tenanglah sedikit!"
Brakk!
Sasuke menggebrak meja itu dengan kasar seperti sebelumnya yang di lakukan oleh Kiba. Kedua tangannya mengepal dan wajahnya memerah menahan luapan amarah karena sahabatnya itu tak mengatakannya sejak dari awal.
"Kau bilang tenang, hah? Sakura adalah wanita yang tak tergantikan olehku. Dia adalah hidupku," ucap Sasuke dan langsung melenggang pergi meninggalkan Neji juga café itu.
"Damn! Semuanya kacau!" teriak Neji dan juga ikut menggebrak meja saking kesalnya juga. Neji mengambil kacamata milik Karin dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar semua minuman yang telah dia pesan juga Sasuke. Tak menghiraukan sedikit pun pandangan aneh yang di lemparkan padanya oleh para pengunjung café.
##Sacrifice##
Sosok Sasuke sudah masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam ketika Neji sudah keluar sepenuhnya dari dalam café itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan sangat tinggi, bahkan menyerempet tong sampah di pinggar jalan itu hingga jatuh terguling dan semua sampahnya berhamburan keluar. Penjaga kebersihan yang kebetulan sedang berada di dekat tong sampah itu mengumpat-ngumpat sang pemilik mobil dengan bahasa kasar. Geram dan kesal dengan tingkah laku urakan pengendara mobil itu yang keterlaluan memacukan mobilnya.
Dan Sasuke sama sekali tak menghiraukan kata-kata yang di keluarkan oleh penjaga kebersihan tadi. Dirinya bersama mobil yang di kendarainya tetap melaju kencang di tengah jalanan yang licin dan becek. Sama sekali tak takut akan keselamatannya melajukan mobilnya dengan kecepatan seperti seorang pembalap dadakan itu. Alasan Sasuke melakukakn itu adalah karena dia ingin segera melihat Sakura. Masa' bodoh dengan peraturan lalu lintas yang menuyuruh pengendara apapun memberhentikan kendaraannya ketika trafficlight itu berwarna merah. Karena Sasuke baru saja menerobos lampu merah. Untung saja sedang tak ada polisi lalu lintas yang melihatnya jadi Sasuke bisa terus melajukan mobilnya.
"Sasuke sudah tahu keadaan Sakura. Dia sedang menuju ke sana," ucap Neji lewat telefon pada seseorang.
"Baiklah." Jawab seseorang di sebrang telefon itu.
Tuut.. tuutt..
Sambungan telefon itu terputus dan Neji kembali memasukan handphonenya ke dalam saku jaketnya. Dan dirinya terlonjak kaget karena ada sebuah tangan yang menepuk dengan sedikit keras bahunya dari belakang.
"Kakak.." ucap lembut yang di keluarkan oleh seorang wanita cantik berambut indigo. Sebelah tangannya menjinjing plastik besar yang di jamin isinya adalah bahan makanan untuk satu minggu kemudian dan sebelah tangannya yang lain menggenggam sebuah payung transfran berwarna biru.
"Hi-Hinata… sedang apa kau disini?"
Wanita yang di panggil Hinata itu tersenyum lembut ke arah Neji dan kedua mata lavendernya sedikit menyipit karena senyumannya. "Berbelanja untuk keperluan bahan makanan di rumah. Kakak sedang apa di sini? Tidak pakai payung pula di saat hujan deras seperti ini." ucapnya dan membagi payungnya dengan Neji. Dia merapatkan tubunya ke sisi kanan Neji dan memayunginya dengan payung miliknya.
"Kakak sehabis bertemu dengan teman lama di café ujung sana." Jawab Neji seadanya.
"Hm.. begitu. Lalu kenapa hujan-hujanan seperti ini? Jika Kak Neji sakit aku yang akan jadi amukan Kak Tenten." Gurau Hinata sedikit dan tersenyum.
Tak ayal membuat Neji juga menyunggingkan senyuman hangat. Di ambil olehnya plastik belanjaan Hinata dengan tangan kirinya dan payung dari tangan Hinata. Sekarang gantian Neji yang memayungi keduanya di tambah belanjaan Hinata di tangannya. "Ayo, ku antar! Kau akan langsung pulang bukan?" tanya Neji dan mulai melangkahkan kakinya di ikuti oleh Hinata.
Hinata melingkarkan kedua tangannya dan menggelayut senang pada tangan Neji . "Iya.."
"Ngomong-ngomong kemana suamimu, Hinata? Seharusnya dia menemanimu belanja 'kan?"
"Uhm.. Naruto sedang ada rapat di kantornya yang tak bisa dia batalkan. Padahal dia ingin selalu ada di dekat Sakura," ucap Hinata dan beraut wajah sedih mengingat keadaan Sakura saat ini bagaimana.
"Sakura… bagaimana keadaannya?" tanya Neji.
"Semakin memburuk.."
"Lalu yang menemaninya sekarang selain kau dan Naruto siapa?"
"Sahabatku dan juga Sakura.. Ino yang menjaganya," ucap Hinata,"Setelah aku pulang dan memasak pun aku akan kembali ke rumah sakit."
"Begitu. Semoga keadaanya jauh membaik setelah Sasuke datang."
"Sasuke? Siapa dia?" tanya Hinata.
"Seseorang yang sangat berharga bagi Sakura selain dia."Jawab Neji.
"Jadi.. sosok pemuda yang pernah Kak Neji perlihatkan lewat photo itu adalah.."ucap Hinata menggantung ucapannya.
"Sasuke… calon tunangan Sakura dulu."
.
.
.
Bersambung
Ok, mari balas review dlu.. di mulai dr..
_Naru-mania : Gaara itu dah mati sbnr'y…*poor Gaara*… iya, Sasori suka bngt ma Sakura.. Yupz, NaruHina tau mslh Sakura dan Sasuke juga Gaara. Tetap review yach!
_Kaori a.k.a Yama : Iya… Sasu mang mesum..haahaa. Yg mencampakan Saku itu si pantat ayam..*chidoro*. Nie dh d update. Review lg!
_4ntk4-ch4n : Makasih ats pujiannya.. salam kenal jg. Ok, nie dh d update. Review lg!
_Haruchi Nigiyama : Iya, kasihan. Review!
_Me : Aku ushakan endingnya SasuSaku. Review !
_CheZaHana-chan : Makasih. Review!
_Chiho Nanoyuki : Makasih. Endingnya masih lama nich. Maksih jg dh d fav. Review!
_Kurosaki Naruto-nichan : Nanti jg semuanya akn jd jelas. Review!
.
.
Ok, bls review sdh. Dan slnjtnya Saya ingin mengucapkan permohonan maaf yg sbsar2y krn ktrlmbtn update fic'y. smoga chap nie tak mngcwkn readers. Dn mngenai kmnclan Sakura d chap nie memang tak ada, tp d chap dpn bru ada. Scene GaaSaku dan SasuSaku jg Saya ushakn ada.
Salam manis, Miko-chan^^
REVIEWS
