Previous Chapter
"Sasuke.. tenanglah sedikit!"
'Braakkk!'
"Kau bilang tenang, hah? Sakura adalah wanita yang tak tergantikan olehku. Dia adalah hidupku."
"Damn! Semuanya kacau."
.
.
"Sasuke? Siapa dia?"
"Seseorang yang sangat berharga bagi Sakura selain dia."
"Jadi… sosok pemuda yang pernah Kak Neji perlihatkan lewat photo itu adalah.."
"Sasuke… calon tunangan Sakura dulu."
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Angst/Romance/Hurt/Comfort
Rated : T
Pair : SasuSaku
Warning : OOC, GaJe, AU
Enjoy this chapter
And
Give me review
.
.
.
"Calon… tunangan?" ucap Hinata tak percaya. Pegangan tangannya terhadap lengan Neji melorot begitu saja. Entah kenapa tiba-tiba kedua tangannya yang tadinya melingkar pada lengan kanan Neji menjadi lemas, terkulai masing-masing di samping tubuhnya. Kedua mata lavendernya menyorotkan ketidak percayan atas apa yang di ucapkan oleh kakaknya sendiri.
"Hn. Dulu Sasuke adalah calon tunangan Sakura."
"Bi-biisakah Kak Neji menceritakan selengkapnya padaku?" pinta Hinata dengan raut wajah yang sedikit memerah karena menahan tangis atau mungkin amarah.
"Tapi bukankah kau sudah mengetahuinya langsung dari Sakura? Kenapa kau kembali bertanya?" Tanya Neji dengan salah satu alis terangkat.
Kepala berambut indigo panjang itu menggeleng lemah. Bibir mungil miliknya terbuka sedikit hendak mengucapkan sesuatu namun kembali tertutup. Tenggorokannya seperti tercekat sesuatu, tak dapat mengeluarkan sebuah suara sedikit pun. Namun, kedua pandangan mata lavendernya sudah cukup memberikan arti yang lain kepada mata lavender lain di hadapannya.
Penjelasan.
Ya, Hinata membutuhkan penjelasan lebih terperinci mengenai masa lalu Sakura. Masa lalu yang juga berkaitan dengan seseorang yang lain yang tak ingin pernah di ceritakan oleh Sakura sendiri. "Terlalu menyakitkan untuk di ceritakan kembali," ucap Sakura kala waktu Hinata menanyakan perihal seseorang itu.
"Baiklah jika kau ingin mengetahuinya, Hinata."
"Uhm.." Hinata kembali melingkarkan kedua tangannya pada lengan kanan Neji. Mereka kembali berjalan di bawah payung transparan berwarna hitam. Di bawah guyuran air hujan yang sangat deras. Di antara udara dingin yang serasa menusuk kulit-kulit mereka yang merasuk hingga ke tulang.
"Haruskah Hinata tahu akan masa lalu Sakura? Dan apakah Hinata harus tahu juga jika Sakura bukanlah adik kandung suaminya, Namikaze Naruto." Neji berpikir keras di kala kedua langkahnya membawanya menuju sebuah mobil BMW hitam miliknya.
.
.
.
Pemuda berambut dark blue itu menggeram kesal dan tak sabaran. Sebelah tangannya mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Kedua mata onyx-nya menampakan kepedihan, kecemasan, dan ketakutan dalam selang beberapa detik saja.
Sebelah tangannya yang lain berkali-kali menekan klakson di stir kemudinya, berharap mobil yang berada di depannya segera maju barang sedikit saja. Namun, sedikit saja mobil yang di depannya maju, kembali berhenti karena mobil yang di depannya, depannya, dan depannya lagi juga berhenti.
Macet.
Ya. Pemuda pemilik warna rambut dark blue ini terjebak macet sejak lima belas menit yang lalu ketika dia salah mengambil jalan menuju Rumah Sakit Konoha.
Pikirannya yang tak jernih membuat dia salah mengambil belokan yang seharusnya ke kanan jika mau menuju Rumah Sakit Konoha, malah berbelok ke arah kiri yang notabene-nya seperti memutar untuk menuju ke sana.
Kalut.
Sasuke merasa kalut dan tidak bisa mengendalikan pikirannya dan karena kecerobohannya dia jadi berada di tempat ini. Ikut terjebak macet bersama beberapa mobil yang lainnya. Penyebab kemacetan ini di karenakan di depan sana terjadi sebuah kecelakaan beruntun. Entah kecelakaan mobil sesama mobil, motor sesama motor, atau apalah, Sasuke tak memperdulikannya.
Yang dia pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya sekarang dia bisa sampai ke Rumah Sakit Konoha, untuk menemui seseorang yang memang ingin segera di temuinya.
Di dalam pikirannya terbayang kini sosok wanita berambut merah muda tengah terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai macam alat, untuk tetap membuatnya bertahan hidup yang di pasang di tubuhnya.
Rasa bersalah itu semakin membuncah di dalam hatinya. Dia dengan gusar membuka seatbell dan keluar dari mobilnya. Dan dia melihat mobil yang berada di depannya kembali maju, jarak mobilnya dengan mobil di depannya terdapat cukup jarak yang memungkinkan mobilnya untuk berbelok. Dan dia juga melihat mobil Honda Jezz Silver yang berada di belakangnya masih terdapat celah yang cukup lebar.
Dengan segera dia menghampiri pemilik mobil berwarna silver itu dan mengetuk-ngetuk kaca mobilnya yang berwarna hitam dengan sedikit kasar. "Hei!" tegur Sasuke.
Pemilik mobil yang tidak di ketahui di dalamnya apakah laki-laki atau perempuan itu nampak dengan segera menurunkan kaca mobilnya. Dan sepasang mata aquamarine itu memandang intens sosok pemuda berambut dark blue yang berdiri dengan basa kuyup di samping mobilnya. Sejenak pemilik mata aquamarine itu terhenyak akan kedua mata onyx yang tajam. Dengan suara yang sedikit agak serak pemilik mata aquamarine itu akhirnya berbicara. "Ya?"
"Bisakah kau sedikit lagi saja memundurkan mobilmu?" Tanya Sasuke dan sedikit menundukan kepalanya untuk melihat lebih jelas siapa yang berada di depan stir kemudi.
"Aku akan berbelok arah," ucap Sasuke lagi ketika tidak ada jawaban dari seseorang di dalam mobil itu.
"O-oh, ya, baiklah," jawab seseorang itu akhirnya. Dan dia mengatatur gigi mobilnya untuk bisa mundur ke belakang sedikit ketika dia menginjak gas-nya.
"Hn. Terima kasih nona…" Sasuke nampak menggantungkan ucapannya menunggu seseorang pemilik mobil berwarna silver itu menyebutkan sendiri namanya. Tentu saja, karena Sasuke sama sekali tak kenal dan tak tahu menahu mengenai namanya, di tambah dia bukanlah seorang cenayang.
"I-ino. Tak masalah sama sekali. Senang membantu Anda." Ino menjawab setengah gugup dengan debaran jantung yang seperti habis lari marathon itu. Sejenak dia juga lupa akan sosok seseorang yang telah resmi menjadi tunangannya. Ck. Ck. Ketampanan seorang Uchiha memang tak bisa di hindari walau sosok seorang Uchiha saat ini sedang basah kuyup sekali pun.
"Hn." Setelah memberikan jawaban pendek seperti ciri khas-nya itu, Sasuke melangkahkan lagi kedua kakinya menuju mobil dan masuk kembali ke dalamnya. Memasangkan seatbell dan kehangatan yang berasal dari pemasang penghangat di dalam mobilnya itu segera menghangatkan tubuhnya yang hampir nyaris membeku karena dingin.
Setelah memasukan gigi ke dua akhirnya Sasuke menginjak gas pelan-pelan dan membelokan stir-nya ke arah kanan. Dia menaikan kembali kaca mobilnya dan dengan mulusnya terlepas dari kemacetan itu. Sedikitnya Sasuke bisa menghela nafas lega karena bisa secepatnya pergi menuju Rumah Sakit Konoha.
"Akh! Aku lupa menanyakan nama pemuda tampan itu," pekik Ino heboh dan menggigit ibu jarinya. Ino menghela nafas kecewa karena melewatkan kesempatan yang bagus. Namun, dia juga kemudian mengutuki dirinya sendiri karena mempunyai pikiran melirik pria lain selain tunangannya. Dia memandang jari manis kirinya yang tersemat cincin putih dengan permata merah di tengahnya. Sejenak kemudian dia tersenyum tipis dan kembali menutup kaca mobilnya karena tidak mau mati membeku karena udara di luar. Selanjutnya dia memajukan mobilnya dan menunggu dengan bosan antrian kemacetan di jalan utama Tokyo itu di dalam mobil, sendirian.
.
.
.
Dengan menempuh jarak lima belas menit lagi akhirnya mobil yang di kendarai oleh Sasuke tiba di depan halaman Rumah Sakit Konoha yang sangat luas. Walaupun sedang hujan deras seperti ini keadaan di luar Rumah Sakit Konoha ini nampak cukup ramai. Dan kedua kalinya Sasuke di hadapkan dengan antrian untuk memasuki area parkir. Untung saja hanya sedikit, tak terlalu banyak. Jadi, Sasuke bisa lebih cepat masuk ke area parkir dan memarkirkan mobilnya dengan mulus tanpa lecet.
Dan tantangannya kali ini adalah berjalan, atau lebih tepatnya berlari masuk menuju lobi utama di rumah sakit tersebut yang jaraknya cukup jauh dari area parkir.
Dan ketika Sasuke sudah masuk sepenuhnya, mulailah indra penciumannya mencium bau obat-obatan, ciri khas dari sebuah rumah sakit.
Dengan nafas sedikit tersengal Sasuke menghampiri meja resepsionis yang sedang di jaga oleh seorang wanita berambut hitam sebahu. Sebelum dia mengeluarkan suaranya, dia mengatur terlebih dahulu nafasnya. Mencoba untuk menenangkan jantungnya yang tadi memompa sangat cepat.
"Bisa Saya bantu, tuan?" Tanya ramah penjaga resepsionis itu dan tersenyum manis.
Sasuke menarik nafasnya terlebih dahulu dan mengeluarkannya secara perlahan dari mulut. Setelahnya dia baru bersuara untuk menjawab pertanyaan resepsionis tersebut. "Apa benar di sini ada seorang dokter bernama Haruno Sakura?" tanyanya.
"Ya, benar. Ada perlu apa tuan menanyakan hal itu?"
"Dia di rawat di mana?"
"Eh… maksud tuan?" Tanya resepsionis tersebut cukup bingung.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Sasuke mulai tak sabaran. Dan 'braaakk' dia memukul keras meja resepsionis tersebut sehingga mengundang tatapan orang-orang di lobi rumah sakit.
"Ta-tapi… Saya.."
"Cepat katakan di mana Sakura dirawat!" ucap Sasuke setengah berteriak.
"Ba-baik… letak kamar No. 128, lantai 25," jawab wanita penjaga resepsionis tersebut setelah melihat layar komputernya. Dan setelah hal itu langsung saja Sasuke beranjak pergi tanpa sama sekali mengucapkan 'terima kasih'.
"Jika Saya boleh tahu apa hubungan tuan dengan…" Wanita penjaga resepsionis itu berhenti bicara ketika di rasanya orang itu sudah pergi dari hadapannya.
"Hei… tuan, tunggu sebentar!"
Sasuke berhenti melangkah dan tanpa membalikan badannya dia berucap,"Aku adalah tunangannya," jawabnya.
Setelah memberikan jawaban itu akhirnya Sasuke kembali berjalan dan memasuki sebuh elevator untuk menuju lantai atas.
"Tunangan?" batin Shizune dengan dahi berkerut. Sedetik kemudian dia membelalakan kedua mata onyx-nya dan memandang arah kepergian Sasuke dengan wajah sangat terkejut.
"Dia sudah kembali.." gumam Shizune.
##Sacrifice##
Dengan sangat tak sabaran jari telunjuk pemuda berambut raven itu menekan-nekan tombol angka 25 yang memang sudah tadi dia tekan satu kali. Berharap agar elevator yang di naikinya sekarang segera mengantarkannya ke lantai 25 tempat di mana Sakura di rawat.
Dan ketika pintu elevator itu terbuka bersamaan dengan terdengarnya bunyi 'ting' Sasuke segera keluar dari elevator tersebut. Dia berlari di tengah kedua mata onyx-nya memandang ke sekeliling untuk mencari nomor kamar Sakura.
Namun, karena Sasuke sekarang sedang dalam keadaan panic dan tak dapat berpikir jernih dia menjadi lebih sulit menemukan pintu kamar yang tertera nomor 128. Padahal sepintas nomor yang di cari Sasuke terlewati begitu saja olehnya. "Sial!" geram Sasuke.
"Di mana kau Sakura?" racau Sasuke dan terdengar sangat lirih. Dia menyenderkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang ber-cat putih gading, dadanya naik turun tak seirama. Sasuke lelah. Ya, dia lelah baik secara fisik maupun batin. Tangan kirinya memegang kepalanya dan mencengkramnya erat. Sasuke tiba-tiba saja merasakan sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Dia berusaha mengatur nafasnya yang memburu agar menjadi lebih tenang, dan berharap sakit di kepalanya berangsur membaik. Dia menundukan kepalanya dan memejamkan kedua matanya untuk sebentar saja.
Dan pada saat itu juga dia mendengar suara langkah kaki yang begitu nyaring mendekati dirinya berada. Langkah kaki yang hanya bisa Sasuke tebak berasal dari sepasang kaki yang memakai sepatu hak tinggi. Dan suara langkah kaki itu semakin saja mendekat dan dia sedikitnya merasakan kehadiran seseorang di dekat dirinya.
Tak lama kemudian indra pendengaran Sasuke tak lagi menangkap suara langkah kaki itu lagi. Untuk itu dia membuka kedua matanya dan dia melihat ada sepasang kaki berbalut stocking putih dengan sepatu berhak tinggi yang juga berwarna putih.
Kedua mata onyx Sasuke memperhatikan kedua kaki itu dan memperluas jangkauan matanya dengan menyusuri dari kaki itu menuju ke atas, dan terus ke atas. Sampai kedua mata onyx-nya berhenti di wajah orang yang berada di depannya.
"Uchiha… Sasuke?" ucap seorang suster yang berada di depan Sasuke dengan nada bertanya. Kedua tangannya mendekap erat sebuah papan yang merupakan laporan kesehatan pasien di depan dadanya. Kedua mata coklatnya terus menerus memandang wajah Sasuke untuk memastikan bahwa pemuda di hadapannya ini adalah benar-benar Uchiha Sasuke. Seseorang yang sudah membuat hati Sakura 'hancur' hingga terbagi menjadi beberapa potongan puzzle yang sulit untuk di susun kembali.
Sasuke memandang wajah suster itu dengan sebelah alis terangkat, dan dia nampak beberapa kali mengerjap-ngerjapkan kedua matanya karena pandangan matanya entah kenapa saja tiba-tiba mendadak menjadi tak fokus. "Hn.."
Sekarang gantian sebelah alis suster itu terangkat. Jelas saja pasti dia tak mengerti dengan arti dari kata 'hn' yang di ucapkan makhluk di depannya yang kebanyakan mengandung arti 'iya'.
"Apa kau ingin menemui Sakura?" Tanya suster itu yang dengan sukses membuat Sasuke berdiri tegap tak lagi menyenderkan punggungnya di dinding.
"Hn. Kenapa kau bisa tahu?" Sasuke bertanya dengan penuh tanda menyelidik. Dia sedikit heran akan suster itu. Pasalnya suster yang berada di depannya tiba-tiba saja muncul dan langsung menanyakan namanya. Sungguh sedikit aneh menurut pikiran Sasuke.
"Ikuti aku!" ucap suster itu atau lebih terdengar seperti sebuah perintah.
Tak ada pilihan lain akhirnya Sasuke mengikuti sosok suster berambut coklat itu yang terlebih dahulu berjalan di depannya. Sasuke berpikir sepertinya dia pernah melihat wajah suster itu namun ketika dia mau mencoba mengingatnya rasa sakit di kepalanya kembali timbul dan dia lebih baik tidak berusaha mengingatnya.
"Namaku Tenten… sahabat Sakura," ucap suster yang mengaku bernama Tenten itu pada Sasuke. Kedua mata coklatnya mengerling sosok Sasuke yang berjalan di sampingnya namun sedikit di belakangnya.
Entah hanya perasaan Sasuke saja atau memang suster yang bernama Tenten itu memandang tajam padanya dan memberikan penekan kata pada kata 'sahabat'. Sasuke merasa seperti di peringatkan akan sesuatu hal yang memang belum dia lakukan padanya. Atau mungkin, wanita di depannya ini memperingatkan akan Sakura, hal itu Sasuke tak tahu pasti.
Kedua kaki berbalut stocking putih putih itu berhenti melangkah di depan sebuah pintu bertuliskan nomor 128. Akh, akhirnya kamar yang dari tadi di cari oleh Uchiha bungsu ini di temukan. Jika sudah begini rasanya sangat mudah menemukannya, tetapi kenapa tadi ketika Uchiha bungsu ini mencarinya terasa sangat sulit. Mungkinkah karena pikirannya sedang kacau hingga dia tak sadar bahwa sebenarnya dia pernah melewati kamar Sakura.
Sasuke hendak meraih gagang pintu itu ketika ada sebuah suara dingin dari arah belakang punggungnya. "Sakura masih belum sadarkan diri," ucap Tenten dan dia memberikan jeda sebentar untuk mengucapkan kalimatnya yang kedua. " Jangan menimbulkan suara yang dapat menggannggunya!"
Sasuke mengangguk mengerti dan kemudian masuk ke dalam kamar itu tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Tenten menghela napas berat dan kemudian mengeluarkan handphone-nya. Menekan beberapa digit nomor dan kemudian menempelkan handphone tersebut ke telinga sebelah kanannya. Sambil menunggu telepon-nya di angkat oleh orang yang bersangkutan dia berjalan menjauh meninggalkan depan pintu kamar rawat Sakura. "Neji… aku sudah bertemu dengannya. Dan aku juga sudah mengantarkan dia ke kamar rawat Sakura," ucapnya.
"Hn. Tolong awasi Sasuke!" jawab Neji di sebrang telepon genggam Tenten.
Tenten nampak menganggukan kepalanya lemah walau Neji tak akan melihatnya. Setelah itu dia menutup sambungan telepon-nya dan membalikan badannya melihat pintu kamar rawat Sakura yang tertutup rawat.
Menghela nafas lagi akhirnya Tenten kembali melanjutkan langkahnya," Semoga semua masalah dapat di selesaikan dengan baik tanpa ada hati lagi yang tersakiti," batinnya dan tersenyum miris.
.
.
.
Sunyi.
Tak ada yang bersuara sama sekali di dalam mobil itu. Yang terdengar hanya hembusan nafas yang mengepul karena dingin yang keluar dari hidung dan mulut kedua orang itu. Kedua orang yang mempunyai hubungan darah kakak-adik Klan Hyuuga.
Neji Hyuuga, diam membisu dengan mulut tertutup rapat; Hinata Hyuuga, memandang dengan arti 'cepat ceritakan' lewat tatapan kedua mata lavendernya pada wajah tak berekspresi di sampingnya.
"Sejujurnya aku juga bingung mau memulai ceritanya seperti apa," ucap Neji pada akhirnya dan melirik Hinata dengan ekor matanya.
"…"
"…"
"Di mulai saat kami… Sakura, Sasuke, Kiba dan juga Karin termasuk aku di dalamnya, masih duduk di bangku kelas 3 SMA, kami berlima adalah sahabat baik," Neji memulai ceritanya dan memorinya di paksa di tarik kembali jauh ke belakang, ke massa saat dirinya masih menjadi seorang pemuda yang masih mempunyai ego tinggi dan 'bandel' dalam bersikap maupun segala hal. Tak ayal kedua sudut bibir Neji terangkat berlawanan arah membentuk sebuah senyuman tipis. Perasaan rindu yang teramat sangat juga nyaman merasuk ke dalam hatinya.
"Kami semua mempunyai tujuan hidup masing-masing kelak jika sudah lulus nanti. Aku dan Sakura mempunyai tujuan hidup yang sama, yaitu menjadi 'obat' yang di perlukan bagi orang sakit. Karin yang ingin menjadi penyanyi; Kiba yang ingin menjadi dokter hewan; Sasuke yang ingin menjadi seorang pebisnis. Dan pada massa-massa itu timbul benih-benih cinta di antara Sasuke dan Sakura. Mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kau tahu Hinata ekspresi Naruto atau pun kami ketika mendengar kabar itu?"
Hinata menggelengkan kepalanya tanda tak tahu sama sekali.
Dan Neji kembali melanjutkan ceritanya,"Naruto bertingkah seperti kebakaran jenggot mengetahui Sakura menjalin kasih dengan Sasuke. Aku dan Kiba hanya menahan tawa saat itu, dan Karin…" Neji menggantung kalimatnya membuat Hinata penasaran.
"Dia menangis saat mendengarnya… kami waktu itu tak tahu alasan dia mengapa menangis. Dan ketika Sakura menanyakannya Karin hanya menjawab 'Ini adalah air mata kebahagian. Selamat untuk kalian berdua', begitu katanya. Dan kami mempercayai hal yang di katakan oleh Karin begitu saja tanpa memperhatikan raut wajahnya yang nampak kecewa dan sedih. Di situlah mulanya awal keretakan persahabatan kami."
"Ta-tapi bukankah sekarang kalian kembali bersahabat?" Tanya Hinata.
"Hn. Dan kami kembali memilih untuk bersahabat membutuhkan perjuangan yang panjang."
"Lalu?"
Neji memiringkan kepalanya dan memandang Hinata,"Dan di mulai dari sini lah kehidupan kami semua, terutama Sasuke dan Sakura berubah."
"Berubah?" Tanya Hinata kembali.
"Aku dan yang lainnya mengaku sahabat Sakura tapi, tak tahu sama sekali mengenai dirinya."
"Maksud Kak Neji?"
"…"
Neji menghela napas dengan berat dan dia menyenderkan belakang kepalanya pada jok kursi yang di dudukinya,"Kau tahu Hinata?" Tanyanya.
"…"
"Di usia 15 tahun, Sakura mempunyai massa lalu yang buruk dan kelam. Kehidupan yang penuh dengan dera penyiksaan dan air mata. Jika di pikir-pikir Sakura mempunyai bakat terpendam, yaitu pandai berakting di hadapan semua orang termasuk para sahabatnya bahkan kekasihnya sendiri…
Dia adalah gadis yatim piatu dan dia selama ini hidup di dalam lingkungan panti asuhan yang sebenarnya tak pantas di sebut panti asuhan. Karena, bunda mereka, sebutan yang sangat di anjurkan untuk anak-anak panti kepada pemilik panti asuhan itu sering berlaku kejam. Bisa di katakan semua anak yatim piatu di panti asuhan tersebut di pekerjakan seperti budak, dan jika salah dalam melakukan pekerjaan maka akan mendapatkan perlakuan kasar dan siksaan.
Sakura sering terkena cambukan di punggungnya atau pun tamparan keras di pipinya. Tetapi, setiap Sakura akan di hukum pasti akan ada yang melindunginya dengan menggantikan dirinya sendiri di cambuk. Kau tahu siapa pelindung Sakura itu, Hinata?"Tanya Neji setelah penuturan panjangnya.
"Ti-tidak mungkin… dia…" Hinata menjawab dengan suara yang sudah serak. Bahunya sudah gemetar dan kedua mata lavendernya nampak berkilau karena air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.
"Dia adalah Sabaku Gaara, perisai paling kuat bagi Sakura," jawab Neji.
Tes.. tes… tes…
Pada akhirnya Hinata tak mampu menahan jatuhnya air mata yang membasahi kedua pipinya lagi kini. Dan dia membiarkan air mata itu jatuh bebas bak air sungai di pipinya. Suara isakan kecil terdengar keluar dari mulutnya. Dan dia meredamnya dengan menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan mungilnya. "Aku tidak tahu jika Sakura mempunyai masa lalu seperti itu sebelum kehidupannya yang sekarang."
Miris.
Setelah mendengar cerita yang di ceritakan oleh Neji, Hinata merasa semakin menyayangi Sakura melebihi apapun.
"Ji-jika… Sa-Sakura berasal dari panti asuhan. Berarti dia dan Naruto…"
"Tak ada hubungan darah sama sekali. Dan oleh karena itu juga nama marga Sakura tetaplah Haruno bukan Namikaze," jawab Neji dan memijit pelan keningnya.
"Lalu kenapa bisa Sakura sekarang bersama dengan Naruto?" Tanya Hinata.
"Aku belum selesai bercerita. Dengarkan lah bagian ini baik-baik, Hinata!" perintah Neji.
Hinata nampak menganggukan kepalanya dengan lemah dan dia masih belum bisa menghentikan air matanya yang semakin lama semakin banyak saja yang keluar dari mata lavendernya. Suara isakan tangisnya pun masih samar-samar terdengar walau tak sekeras tadi.
##Sacrifice##
Pemuda berambut dark blue dengan potongan gaya seperti pantat ayam bagian belakangnya itu memasuki ruangan yang cukup luas dengan langkah perlahan. Hatinya sudah harus kuat melihat wanita yang dia cintai akan terbaring lemah di atas tempat tidur. Dia samar-samar sekarang mendengar berbagai bunyi alat yang berasal dari dalam ruangan itu jauh ke dalam. Dan indra penciumannya mencium bau obat-obatan dan alcohol.
Dengan kedua kaki seperti di seret itu akhirnya Sasuke masuk lebih ke dalam. Dan kedua mata onyx-nya membulat sempurna melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah pemandangan yang bahkan tak pernah di mimpikannya sekali pun seumur hidupnya.
Dengan segera Sasuke menghampiri sosok wanita berambut merah muda panjang yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Sosok wanita yang bernama sama dengan bunga sakura itu kini nampak tertidur lelap dengan kedua kelopak mata tertutup rapat. Di kepalanya masih terlilit perban dan keadaannya masih belum berubah. Namun, hanya alat bantu pernapasannya saja yang tak bertengger manis dan menutupi bibir dan hidungnya. Alat bantu pernapasan itu sudah di lepas.
Sasuke berdiri kaku di samping tempat tidur Sakura dengan mata onyx yang nampak berkilau. Dia menundukan kepalanya agar melihat wajah Sakura lebih dekat. Dan tak lama kemudian kedua mata onyx itu mengeluarkan sebuah cairan asin yang membasahi pipinya dan mendarat di pipi kanan Sakura.
Tes.. tes..
Uchiha Sasuke, kini menangis di depan wajah orang yang di cintainya. Pertahanannya sudah runtuh tak bisa dia tahan lagi.
Jantungnya berdetak dengan cepat seperti ada yang menggenggamnya kuat dan akan mengancurkannya.
Hatinya terasa sakit bagaikan ada yang menusuk-nusuknya dengan pisau tanpa berprikemanusiaan.
Dadanya terasa sangat sesak.
Tenggorokannya seperti tercekat sesuatu membuatnya kesulitan untuk mengambil pasokan gas oksigen untuk dia bernapas.
Tubuhnya sungguh terasa lemas, mati rasa. Dia tak dapat bergerak sama sekali.
Yang mungkin di paksakannnya untuk bergerak adalah tangan kanannya yang kini membelai lembut pipi kiri Sakura.
"H-hei… Sakura? Bangunlah! Lihat! Aku di sini," ucap Sasuke dengan suara bergetar.
"…"
"…"
Tak ada jawaban dari Sakura.
Yang terdengar hanyalah suara mesin, alat bantu yang di gunakan untuk proses penyembuhan Sakura.
"Sakura?" ucap Sasuke sekali lagi.
Dia memeluk tubuh mungil Sakura dari samping, dan menenggelamkan wajahnya di leher kiri Sakura. Indra penciumannya menghirup sebanyak-banyaknya wangi tubuh Sakura. Sedikitnya hal itu membuat Sasuke merasa rileks dan nyaman. Sasuke betah berlama-lama dalam posisi seperti itu, dan dia memejamkan kedua mata onyx-nya perlahan.
"Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu," ucap Sasuke menyesal. Dia menarik wajahnya dari leher Sakura dan beralih menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Sasuke bisa merasakan hembusan nafas pendek Sakura menerpa wajahnya.
"Sungguh kau semakin cantik, Sakura," puji Sasuke dan kembali menenggelamkan wajahnya di leher Sakura dan kali ini dia ikut berbaring bersama Sakura di sampingnya. Memeluknya dengan sangat erat dan Sasuke berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi 'melepaskan' Sakura untuk yang kedua kalinya.
.
.
.
"Gaara…" ucap Sakura dan tersenyum simpul.
Cup!
Pemuda berambut semerah darah itu mencium sekilas kening lebar Sakura yang tertutupi poni. Tak bisa di cegah timbul semburat merah tipis di kedua pipi Sakura dan seringaian kecil dari bibir pemuda Sabaku itu.
"Bagaimana keadaanmu, Sakura?" Tanya Gaara dan memulai percakapan. Dia berjalan dan mendudukan diri di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran dan ada beberapa helai kelopak bunganya yang jatuh tak jauh dari kakinya. Sakura mengikuti apa yang di lakukan oleh Gaara, dia juga ikut mendudukan diri di sebelah kanan pemuda itu. Di senderkannya kepala berambut merah jambu itu di bahunya.
"Tidak begitu baik.." jawab Sakura.
"Kau mau menceritakannya?"
"..."
"Ada apa?"
"Entahlah… aku merasa jika sebentar lagi akan muncul masalah baru," ucap Sakura.
"Aku akan selalu ada untukmu.. melindungimu dari jauh," ucap Gaara dan menggenggam tangan kiri Sakura erat.
"Aku tahu kau akan selalu melindungiku."
"Oleh sebab itu…" Gaara menggantung ucapannya membuat Sakura menegakan kembali badannya. Kepalanya sudah tak bersandar kembali di bahu Gaara. Kedua mata emeraldnya memandang intens wajah Gaara yang nampak bercahaya di matanya.
"Berhentilah bekerja terlalu keras untukku!"
"Ta-tapi… aku sudah berjanji padamu…"
"… jika kau akan menyembuhkan banyak orang sebagai penebus kesalahanmu padaku?" Gaara melanjutkan ucapan Sakura yang sengaja di potong olehnya.
Gaara nampak mengehela napas berat sebelum dia berkata,"Semua kejadian itu sama sekali bukan kesalahanmu."
"Tapi.. jika saja aku lebih kuat dan tidak lemah. Maka pada saat ini juga pasti kau akan masih ada di sampingku, menemani setiap hari-hariku, melindungiku, menjagaku dan.."
"Ssssttt…" Gaara menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sakura menyuruhnya untuk berhenti bicara.
"Jangan kau sesali apa yang sudah terjadi."
"Ba-bagaimana bisa aku seperti itu?" ucap Sakura. Kedua mata emeraldnya mulai berkaca-kaca dan wajahnya mulai memerah. Kedua bahunya mulai gemetar dan kepalanya menunduk dalam. Tak mau menatap sepasang mata jade yang kini berada di hadapannya. "Aku…"
"Sakura… lihat mataku!" ucap Gaara dan menaruh jari telunjuknya di bawah dagu Sakura sedangkan ibu jarinya berada di atas. Di angkatnya dagu Sakura agar wajahnya yang sudah hampir menangis terlihat oleh kedua matanya.
Emerald bertemu dengan Jade.
"Sudah kukatakan bukan salahmu," ucap Gaara lagi.
Kedua mata emerald itu pada akhirnya menumpahkan cairan bening yang dari tadi tertahan. Jatuh menelusuri kedua pipinya dan berakhir di dagunya sendiri.
"Apa kau tahu sakitnya hatiku saat kau meninggalkanku untuk selamanya?" Sakura memulai pertanyaan yang memang berasal dari hatinya yang paling dalam. Pertanyaan yang mewakili rasa sakit hatinya.
"…"
"Apa kau tahu rapuhnya hatiku saat kau tak ada lagi di sampingku?" Sakura memulai pertanyaan ungkapan hatinya untuk kedua kalinya. Suara yang di keluarkannya sangat lirih dan air mata yang di keluarkan oleh kedua matanya tak ada henti-hentinya.
"…" Gaara terdiam membisu.
"Apa kau tahu hatiku ikut mati terbawa bersamamu?" Sakura memulai pertanyaan ungkapan hatinya untuk ketiga kalinya.
"…" Gaara masih tetap terdiam.
"Apa kau tak pernah berpikir mengenai perasaanku yang telah kau tinggalkan?"
"…"
"Jika kau tak bisa menjawabnya, lalu kenapa kau meninggalkanku?"
"Sakura.." ucap Gaara pelan, lebih tepatnya seperti berbisik.
"Kenapa kau pergi tanpa membawaku bersamamu?"
"…"
Tiba-tiba saja kedua mata emerald itu membulat sempurna ketika di rasakannya sesuatu yang hangat dan lembut menempel di bibir tipisnya.
##Sacrifice##
Kegiatan pemuda berambut raven itu sedikit terganggu dengan sedikit gerakan yang tiba-tiba saja di lakukan oleh wanita yang berada di dalam dekapannya. Dengan terpaksa Sasuke membuka kedua matanya yang sedikit sembab. Kedua mata onyx-nya memandang lekat wajah Sakura yang berada di sampingnya.
Sasuke bangkit dari berbaringnya bersama Sakura menjadi duduk. Sebelah tangannya terulur menuju pipi Sakura yang berkilau basah oleh air. "Kau menangis, Sakura?" ucap Sasuke. Ibu-ibu jari tangannya bergerak menghapus air mata di kedua pipi Sakura dengan sangat pelan dan lembut.
Kedua bibir tipis Sakura nampak bergerak sedikit seperti tengah berbicara. Cairan bening di kedua pelupuk matanya yang tertutup masih mengalirkan sejumlah air mata yang terus membasahi kedua pipinya.
Bibir tipis yang sedikit terbuka itu mengundang Sasuke untuk lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Di sapunya bawah bibir Sakura dengan ibu jarinya. Dan entah sadar atau tidak kini ibu jari Sasuke membuka sedikit bibir Sakura, sedangkan wajahnya sudah sangat, sangat dengan wajah Sakura.
"Sa-ku-ra…" gumam Sasuke mencium pipi kanan Sakura dan mulai turun menuju sudut bibir Sakura. Dan selanjutnya bibir Sasuke menyapu semua bibir tipis Sakura. Menghisap benda lembut dan tak bertulang itu dengan pelan.
Ciuman itu semakin dalam di lakukan oleh Sasuke ketika tangannya yang berada di pipi Sakura bergerak menuju samping kepala Sakura. Menyelipkan jari-jari besar miliknya di sela-sela rambut merah muda yang selembut sutra.
.
.
.
Ciuman lembut dan mendadak yang di lakukan oleh pemuda Sabaku itu terhenti. Dia menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah Sakura. Kedua mata jadenya memandang wajah Sakura yang bercampur ekspresi. Kecewa, sedih, terkejut, senang, dan warna wajahnya memerah setelah menangis di tambah ciuman tadi. Kedua pipinya memerah seperti apel membuat Gaara yang melihatnya tersenyum menyeringai.
"Sudah tenang?" Tanya Gaara dan menepuk-nepuk puncak kepala Sakura pelan dengan tangan kanannya.
"U-uhm.."
"Perlu kau tahu Sakura… aku selalu melihatmu dari sana," ucap Gaara dan memandang luasnya langit.
"Selalu memperhatikanmu.." ucap Gaara pelan, namun lebih terdengar seperti bisikan.
"…" Sakura tak berkomentar apa-apa. Yang di lakukannya adalah memegang bibirnya sendiri yang entah kenapa tetap terasa hangat walaupun bibir Gaara sudah tak lagi menempel di bibirnya. Debaran jatungnya pun masih belum berhenti.
Hei! Haruno Sakura, cepatlah sadar dan terbangun dari alam bawah sadarmu. Apa kau tak tahu jika sekarang pangeran yang dulu meninggalkanmu sudah kembali untukmu? Apa kau juga tak tahu jika sekarang pangeranmu itu sedang membangunkanmu? Membangunkanmu dengan cara mencium bibirmu dengan lembut dan pelan.
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Karena aku hidup di dalam hatimu," ucap Gaara dan kembali mengalihkan pandangannya dari langit pada wajah Sakura yang masih merah padam.
Sedetik kemudian Gaara berdiri dan menarik tangan Sakura untuk juga ikut berdiri. "Aku akan ada untukmu jika kau membutuhkanku."
"Kembalilah, Sakura!" ucap Gaara dan langsung memeluk tubuh mungil Sakura.
Sakura membalas pelukan Gaara dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya. Sebelah tangannya terlulur untuk mengusap pelan rambut merah Gaara. Bisa di rasakannya jemari-jemari tangan kecilnya bersentuhan dengan helai-helai rambut merah miliknya.
.
.
.
Kedua mata emerald itu akhirnya terbuka secara perlahan-lahan. Pandangannya yang masih samar-samar dapat menangkap sesosok wajah yang berada cukup dekat dengan wajahnya. Dan jari-jari tangannya nampak merasakan helaian rambut yang di rasanya berbeda dengan helai rambut yang tadi di sentuhnya kala bersama Gaara. Di tambah dia merasakan wajahnya memanas dan sebuah kelembutan juga hisapan di bibirnya.
Sakura mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Dan Sasuke yang tadinya memejamkan kedua matanya ketika dia menikmati sentuhan bibirnya dengan bibir Sakura kembali terbuka, dan di tambah dia juga merasakan sebuah remasan kecil di bagian belakang rambutnya.
Keadaan kedua mata emeraldnya yang sudah bisa kembali focus menatap sepasang mata onyx yang tengah memandangnya lembut.
Kedua mata emerald itu nampak sangat terkejut dengan sepasang mata onyx yang sudah lama dia tidak lihat sekarang tiba-tiba saja muncul di hadapannya, dan memeluknya serta mencium bibirnya lama.
Mencium? Bibir?
Setelah Sakura sadar akan hal apa yang di lakukan oleh pria yang ada di hadapannya, segera saja dengan tenaga yang masih lemah dia mendorong jauh dada milik pemuda itu.
Sasuke yang sudah juga tersadar akan perbuatannya segera menjauhkan wajahnya. Dan ketika bibir keduanya menjauh, cairan saliva milik Sakura menempel dengan indahnya di bibir dan dagu Sasuke.
Euuhh… sedikit menjijikan memang.
"K-kau?" ucap Sakura dan menunjuk wajah Sasuke dengan jari telunjuknya.
"Hn.."
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Sakura dengan kedua mata membulat.
"Aku.. kembali untukmu, Sakura."
Dan Sakura hanya diam membeku mendengar jawaban pendek Sasuke.
.
.
.
Tsudzuku
Balasan review :
_Cha : Bukan'y ga boleh, hanya blm saat'y z Sasu tahu mngenai Saku. Hm. Masih bnyk. Nie dah di update. Review lagi?
_Nao : Q usahakan berakhir dngan Happy Ending, tp persiapkan untuk ending yang tak terduga, ok! Nie dah d update. Review?
_4ntk4-ch4n : Makasih^^. Di chap nie di singgung dikit masa lalu SakuGaa, tp SasuSaku blm. Nie dah d update. Review?
_Naru-mania : Hahahah.. gomen, gy sibuk2nya. Hm.. bukan'y menutupi tp hanya blm saat'y z Saku harus ketemu ma Sasu. Dan, yup! Mereka punya masalah. Bisa ketebak maslah'y apa?
Hohoho… q mencoba membuat CrackPair lagi, yaitu KibaKarin.
Hiks.. hiks.. iya, Gaara dh mati.
Nie dah update. Review?
_Kurosaki Naruto-nichan : Q usahakan berakhir dngan pair SasuSaku yg Happy Ending.^^ review?
_Vvvv : Iya, Sasu memang jahat ma Saku. Salam kenal juga^^. Review?
_Uchiha Vio-chan : Hohoho… masa? Hm.. mengenai hubungan GaaSaku masih R-A-H-A-S-I-A. alasan Sasu ninggalin Saku juga masih RAHASIA.^^
Review?
_Sky pea-chan : Nie dh d update. Review?
_Me : Nie dah di update. Review?
.
.
Miko-chan note's :
Halloo. Semuanya, apa kabar? Mudah2an z baik-baik semuanya, ya^^.
Q kembali lagi nich buat sekedar update fic2ku yang dah 'lumutan' di laptopku. Sebenarnya q dh lama kembali mmbka situs ffn, tp hanya sekedar jad reader dan reviewer z..hehee.
Dan, q mohon maaf bangt yg sebesar2nya atas keterlambatan yang sangat, sangat terlambat untuk meng-update fic nie. Akan ku update jg ficku yg lainnya^^.
Ok, back to this story.
Q menulis fic nie sambil senyam-senyum gaje pas bagian terakhirnya, yaitu pas Sasu cium Saku…
Kyyaaaaaa! Sumpah, deg-deg-an. Mukaku memanas pas ngetik adegan itu. Abisnya, baru kali nie q buat scene kiss lagi. Tp, gimana? Bagus ga?*plaaakk!*
Ehhmm.. di sini q sedikit crtkan mengenai hubungan GaaSaku di masa lalu. Juga khidupan kelam Sakura. Memang di sini blm di ceritakan 'alasan' Sasu ninggalin Saku. Tp, chap dpn pasti ke ungkap. Juga masa lalu Sakura bagaimana bisa dia bersama Naruto dan menjadi bagian keluarga Namikaze.
Ok. That is it.
Now, give me a review. If among you there are 'silent readers'.
Please leave a trail reviews, because it will make me more anthusiasm to continue this story.
Review from you're all very meaningful and important to me.
So, Review!^^
.
.
Sweet Greetings, Miko-chan^^
