Previous Chapter
"Tapi.. jika saja aku lebih kuat dan tidak lemah. Maka pada saat ini juga pasti kau akan masih ada di sampingku, menemani setiap hari-hariku, melindungiku, menjagaku dan.."
"Ssssttt…"
"Jangan kau sesali apa yang sudah terjadi."
.
.
.
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Karena aku hidup di dalam hatimu."
"Aku akan ada untukmu jika kau membutuhkanku."
"Kembalilah, Sakura!"
.
.
.
"K-kau?"
"Hn.."
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku.. kembali untukmu, Sakura."
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Angst
Rated : T+
Pair : SasuSaku
Warning : OOC, AU, GaJe,
Enjoy This Chapter
And
Give Me Reviews
.
.
.
Wanita berambut cherry itu membulatkan matanya sempurna. Tubuhnya serasa membeku, mati di tempat ketika mendengar kata-kata yang keluar dari bibir pemuda berambut raven di hadapannya. Jari telunjuknya masih mengarah pada wajah pemuda tersebut dengan bergetar. Bibirnya terbuka dan tertutup kembali. Ingin rasanya Sakura mengucapkan kata-kata sarkastik atau makian kepada pemuda di hadapannya, karena sudah dengan lancangnya kembali ke dalam hidupnya. Menemuinya di sini, memeluknya ketika dia sedang terbaring tak sadarkan diri, mencium bibirnya dengan agresif sampai saliva miliknya berpindah pada bibir pemuda tersebut.
Blush.
Kedua pipi ranum Sakura memerah dan serasa terbakar mengingat ciuman agresif yang di lakukan Sasuke padanya. Jantungnya berpacu berpuluh kali lipat dari biasanya.
"Sakura… kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke dan menampakan ekspresi khawatir sekaligus senang. Dia beringsut kembali mendekat dan duduk di atas ranjang yang sedang di tiduri oleh Sakura. Sebelah tangannya bergerak menurunkan jari telunjuknya yang mengarah pada wajahnya. Setelahnya dia menggenggam erat tangan Sakura tersebut.
"Sa-Sasuke?" ucap Sakura dengan nada bertanya. Dia agak sanksi jika sosok di hadapannya ini bukanlah Uchiha Sasuke yang di kenalnya dulu. Sebab, sudah sangat lama sekali sosok pemuda di hadapanya ini meninggalkan dirinya, mencampakan dirinya bak sampah barang bekas yang tak berguna sama sekali. Dan sosok pemuda di hadapannya ini meninggalkan dirinya tanpa mengatakan alasan apapun. Meninggalkan dirinya tepat di hari ulang tahunnya.
"Ini aku… Sakura, apa kau tak mengenaliku?" Tanya Sasuke kembali dan menangkup wajah Sakura dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Sasuke…hiks… hiks…" Sakura kembali menangis dan terisak. Belum kering kedua pipinya yang tadi basah akan air matanya sendiri, dan kini kedua pipi tersebut kembali di banjiri dengan air matanya. Perasaan yang di rasakan oleh Sakura saat ini sangatlah tak menentu. Sedih, karena mengapa Sasuke baru kembali hari ini setelah sekian lamanya tak ada kabar. Senang, karena pada akhirnya Sasuke kembali ke dalam hidupnya.
Namun, di sisi yang lain hati Sakura merasakan sakit, ngilu. Sakit, karena mengapa Sasuke dengan begitu mudahnya hadir di hadapannya. Apakah dia tak pernah berpikir mengenai perasaannya. Perasaan sakit saat di tinggalkan olehnya dulu.
Grepp.
Sakura dengan segera saja memeluk tubuh tegap Sasuke yang berada di hadapannya. Pelukannya yang tiba-tiba ini membuat sedikitnya Sasuke terkejut dan hampir tubuhnya terdorong ke belakang keras, namun masih bisa di tahan olehnya.
Sasuke balas memeluk tubuh mungil Sakura, kedua lenganya melingkar erat pinggang rampingnya. Kepalanya di sembunyikan di leher Sakura, menghirup sekali lagi wangi tubuh yang menguar keluar. Dengan sebuah bisikan yang halus Sasuke berkata. "Ssstt.. tenanglah, Sakura!"
"Hiks… hiks… kenapa, Sasuke?" Tanya Sakura dan makin memeluk tubuh Sasuke erat. Kedua mata emeraldnya sarat akan kesedihan dan kegundahan. Bulir-bulir air matanya semakin banyak yang tumpah dan membasahi kedua pipinya yang memerah karena menangis. Air mata kesedihan, kesakitan dan kebahagian sekaligus membasahi pundak Sasuke.
"Ke-kenapa kau baru kembali menemuiku setelah sekian lamanya kau tak ada kabar?" Tanya Sakura lagi.
"Maafkan aku, Sakura!" ucap Sasuke. Sama sekali tak mewakili jawaban yang ingin di dengar oleh Sakura. Setidaknya Sakura berharap bahwa Sasuke akan mengatakan alasannya karena sudah meninggalkan dirinya. Memang dia juga ingin mendengar ucapan maaf Sasuke, tetapi itu bukanlah hal yang paling penting. Sakura membutuhkan alasan bukan pemintaan maaf.
Sakura melepaskan pelukan eratnya pada Sasuke dan menatap kedua maya onyx-nya dengan kedua mata emeraldnya. Suara isakan kecil masih terdengar yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terasa sangat kering untuk sekedar mengeluarkan sebuah kata-kata.
"Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?" Tanya Sasuke bertubi-tubi ketika di rasakannya tak ada respon apa-apa dari Sakura. Terlebih Sakura hanya diam membisu sambil memegangi tenggorokannya.
Sasuke akhirnya mengerti dan memutuskan untuk mengambil segelas air putih yang terletak di atas buffet kecil di samping tempat tidur Sakura. "Ini… minumlah!" ucapnya dan membantu Sakura untuk meminumnya.
Glek..
Glek..
Cairan bening dan segar itu masuk melewati kerongkongan kering Sakura, membasahinya dan membuat Sakura merasa lega dan nyaman.
Setelah kegiatan minum itu Sakura lebih memilih menundukan kepalanya dalam, dan menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa mendadak menjadi memanas kembali. Jantungnya pun berdetak sangat cepat dan memompakan darahnya ke seluruh tubuhnya, namun Sakura merasakan darahnya berkumpul di wajahnya sendiri.
"Hei… kau kenapa?" Tanya Sasuke dan memegang kedua bahu Sakura setelah meletakan kembali gelas kosong tersebut.
"Sa-suke… aku.."
"Ya?" ucap Sasuke dengan nada bertanya.
"Wa-wajahmu terlalu dekat," ucap Sakura dan semakin menunduk malu. Sudah jelas wanita mana yang tahan ketika ada sepasang mata onyx yang tajam seperti mengintimidasi, namun lebih tepatnya menyeret siapa saja yang bertatapan dengannya ke dalam kelamnya kedua mata onyx itu. Di tambah rupa pemilik kedua mata onyx itu sangatlah tampan dan menggoda.
"Hn?" ucap Sasuke dan malah mendekatkan lebih wajahnya pada wajah Sakura. Jari telunjuknya dan ibu jarinya dia taruh di dagu Sakura untuk mengangkatnya agar menatap kedua mata onyxnya.
Kedua mata emerald itu serasa di tarik kuat untuk masuk kedalam lubang hitam di kedua mata onyx Sasuke. Pandangan kedua mata emeraldnya tak bisa lepas dari mata onyx di depannya. Terpaan hembusan napas Sasuke di wajahnya tak membantu sama sekali. Bahkan malah membuatnya tak bisa mengendalikan diri dan malah kedua tangannya dia taruh di dada bidang Sasuke.
Sasuke tampak menyeringai yang makin tambah membuat dirinya sangat tampan di dalam pantulan kedua mata emerald di depannya. Dia memiringkan kepalanya hendak menjamah bibir tipis merekah yang ada di hadapannya sekali lagi. Belum puas rasanya merasakan sensasi lembut dan manis yang di dapat dari bibir mungil Sakura.
Tanpa di perintah kedua mata emerald itu menutup secara perlahan, seakan memperbolehkan Sasuke untuk terus melakukan apa yang akan di lakukanya.
Tak butuh waktu yang lama agar kedua bibir insan tersebut menyatu, bukan hanya bibir mereka saja. Melainkan kini perasaan mereka kembali menyatu, hati keduanya kembali menyatu, dan benang merah takdir mereka kembali menyatu.
Benang merah takdir mereka yang akan semakin sulit untuk di jalani.
Roda takdir kehidupan mereka kembali berputar, berjalan menuju ke sebuah tempat antah berantah.
Sebuah tempat dan akhir dari kisah cinta mereka, yang tidak akan mudah untuk di lalui.
Praanngg!
Sebuah suara nyaring seketika menghentikan aktivitas menyenangkan mereka. Kedua bibir insan tersebut terpisah dengan cepat dan kedua mata mereka, emerald dan onyx terpaku menatap seseorang yang berdiri kaku tak jauh dari mereka.
Orang tersebut nampak salah tingkah dengan wajah memerah, tak kalah merah dengan wajah Sasuke dan Sakura.
"Dokter Sakura? Saya tidak tahu Anda sudah sadar. Akan Saya panggilkan Dokter Sasori. Ma-maaf menggangu. Permisi," orang tersebut adalah seorang suster berambut merah yang notabene-nya adalah asisten Sakura sendiri. Dia mengucapkan kalimat tersebut tanpa ada jeda dengan satu tarikan napas. Suara kegugupan dan keterkejutan nampak terdengar dari suaranya.
Blam!
Pintu kamar Sakura tertutup rapat kembali ketika suster itu dengan seribu langkah pergi meninggalkan sosok dua makhluk yang berbeda jenis tersebut.
"Aa.."
"Tidak apa-apa," ucap Sasuke mendahului ucapan Sakura dan mengusap pelan rambut merah mudanya.
Wajah Sasuke yang terlihat tenang membuat Sakura juga ikut merasa tenang. Namun, Sakura sama sekali tak tahu menahu apa yang di pikirkan oleh Sasuke di dalam kepalanya saat ini.
Di dalam kepala Sasuke kini muncul berbagai pertanyaan yang ingin segera di ketahuinya. Namun, ada satu pertanyaan yang sangat, sangat ia ingin tahu. Yaitu kemana sosok seorang pemuda berambut merah dengan tattoo di dahinya itu. Sejak pertama kali masuk ke dalam kamar ini Sasuke sama sekali tak melihat seujung rambut merah pun di dekat Sakura. Sedikit perasaan bersalah juga penasaran hinggap di dalam hatinya. Ingin Sasuke menanyakan langsung hal itu pada Sakura, namun di urungkannya karena keadaan yang tidak mendukung.
Dulu, setiap ia melihat Sakura pasti akan selalu ada satu orang lagi di dekatnya. Seorang pemuda bertubuh jangkung, tampan, bahkan bisa di bilang menandingi ketampanannya. Dingin, irit bicara dan jarang bersosialisasi dengan orang, setidaknya Sasuke merasa lega karena ada seseorang yang memiliki sifat sama dengannya.
Namun, terkadang juga Sasuke merasa kesal karena ada yang menandingi sifat dingin dan cueknya terhadap seorang perempuan kecuali Sakura. Sasuke sering bertanya di dalam hatinya, sebenarnya hubungan apa yang terjalin di antara keduanya. Antara Sakura dengan pemuda berambut merah darah itu. Saat Sasuke menanyakannya pada Sakura, dia hanya menjawab 'Dia adalah kakak sekaligus pelindungku', begitulah katanya. Namun, beberapa kali Sasuke sempat menyangkal hal tersebut karena keadaan dan kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Sakura.
Bimbang dan resah.
Sasuke merasakan hal itu dalam waktu yang bersamaan. Dia mengela napas berat dan memijit pelan kedua pelipisnya. Dia tak menyadari jika sepasang mata emerald tengah menatapnya dengan pandangan sendu dan rindu.
"Sasuke.."
"Hn?"
"Kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik. Tenang saja.. kau tak usah khawatirkan aku," ucap Sasuke dan membantu Sakura untuk kembali berbaring. Sebelah tanganya menggenggam pergelangan tangan Sakura yang bebas selang infuse, sedangkan sebelah lagi membelai lembut kepalanya. Menyingkirkan sejumput anak rambut yang menutupi pipinya.
"Ehhmm.."
Sebuah suara deheman menghentikan gerakan tangan Sasuke di rambut Sakura. Kedua mata onyx dan emerald itu berbarengan menatap seseorang yang berdiri tak jauh di dekat mereka. Seorang pemuda berambut merah bata dan memiliki bola mata merah kecoklatan. Kedua mata itu nampak jelas tak suka akan pemandangan yang tadi di lihatnya secara tak sengaja.
"Sasori?" ucap Sasuke dengan nada bertanya.
Sedangkan Sakura hanya menatap mereka gantian. Di dalam pikirannya 'apakah mereka berdua telah saling kenal sebelumnya?'
##Sacrifice##
"Dengarkanlah bagian ini baik-baik, Hinata." Neji kembali menegaskan apa yang sudah di ucapkannya.
Dia kini memiringkan wajahnya untuk menghadap wajah adiknya yang basah karena air mata yang dari tadi belum berhenti keluar dari kedua mata lavendernya.
Neji kembali menghela nafasnya dengan berat. Sebenarnya dia tak ingin menceritakan kembali kisah memilukan ini. Namun, Hinata harus tahu yang sebenarnya, dia adalah sahabat Sakura. "Keduanya melarikan diri dari panti asuhan itu," ucapnya.
Tentu Hinata paham maksud kata 'keduanya' yang di ucapkan Neji. Keduanya adalah Sakura dan Gaara.
"…suatu malam Gaara membawa keluar Sakura dari tempat itu."
"Apa Naruto yang menceritakan hal ini pada Kak Neji?" potong Hinata.
Neji tak menjawab, hanya mengganggukan kepalanya tanda apa yang di katakan oleh Hinata memang kenyataannya seperti itu. Kedua mata lavendernya nampak sayu dan sendu, beberapa kali Neji mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Naruto menceritakannya tepat saat mereka berdua pergi meninggalkan Sakura."
Dan Hinata tentu juga tahu jika yang di maksud 'kan kata 'keduanya' saat ini yang di ucapkan oleh Neji adalah, Sasuke dan Gaara.
"Gaara… membawa lari Sakura dan mereka berdua hidup di jalanan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Barang-barang yang mereka bawa hanyalah beberapa potongan pakaian yang tak layak pakai. Dan sekali lagi Gaara lah yang berkorban demi Sakura."
Hinata sedikit tak mengerti dengan kata 'berkorban' yang di ucapkan Neji. Maka dengan itu dia menajamkan indra pendengarannya dan sedikit bergeser tempat duduk untuk lebih dekat dengan Neji.
"Dia dengan relanya terjun ke dalam dunia yang 'keras' yang tak pernah di lakukan sebelumnya olehnya, bahkan mungkin terpikirkan olehnya pun tidak," ucap Neji dan tersenyum miris. Dia kembali mengingat-ingat cerita lama itu di dalam otaknya.
"Sakura yang pada waktu itu masihlah kecil hanya merengek minta untuk kembali ke panti asuhan tersebut.."
Flashback
"Hiks… hiks… a-aku tidak mau di sini. Aku takut, kakak," ucap Sakura kecil yang memang sudah tak cadel karena kini umurnya sudah mencapai 7 tahun.
Sosok anak laki-laki yang tak jauh berumur sama dengan Sakura itu hanya tersenyum menenangkan. Di usapnya rambut merah muda pendek Sakura dengan penuh kasih sayang. "Kalau kita kembali ke sana, kita selamanya tidak akan bisa melihat dunia luar. Dunia luar yang indah yang belum pernah kau lihat," ucap anak kecil berambut merah darah itu.
"Ta-tapi… a-aku takut berada di sini," ucap Sakura lagi dan memeluk lengan kanan sosok anak kecil laki-laki tersebut.
Sekali lagi anak kecil berambut merah darah itu hanyalah tersenyum sampai kedua matanya terlihat hanya segaris, meninggalkan lingkaran hitam di kedua matanya yang membuatnya sangat lucu seperti binatang panda. Tak ayal hal itu membuat Sakura kecil ikut tersenyum senang dan di kedua pipinya tercipta rona kemerahan. Namun, tiba-tiba saja terdengar bunyi 'kruyuk' keras yang berasal dari perut Sakura. Membuat suasana di antara mereka berdua di penuhi dengan suara gelak tawa dari keduanya.
"Kau lapar?"
"U-uhm.."
Kemudian sosok anak kecil laki-laki itu yang di panggil 'kakak' oleh Sakura berjalan menjauhi sosok mungil Sakura. Tanpa membalikkan badannya anak kecil itu berucap pada Sakura. "Tunggu aku di sini! Akan kubawakan makanan untukmu."
Setelah mengatakan hal demikian sosok kecil anak laki-laki itu berlari menjauhi Sakura. Selama dia berlari dia dengan segera memakai topi berwarna merah dengan sebuah rajutan tangan yang di depan topi itu tertulis dua inisial huruf 'S dan G'.
Dia meninggalkan sosok mungil Sakura di depan sebuah rumah kosong yang cat-nya sudah mengelupas dan nampak sangat suram. Tanaman liar banyak yang tumbuh di pekarangan depan rumah kosong tersebut yang tingginya bisa menyamai tinggi Sakura. Untung saja letak rumah kosong tersebut berada di pinggir jalan, bukannya di dalam sebuah gang atau kompleks perumahan. Sebab, jika di dalam sebuah gang atau komplek perumahan biasanya sangatlah sepi, berbeda jika letak rumah tersebut berada di pinggir jalan sebab akan ramai karena banyak kendaraan mobil yang berlalu-lalang.
Alasan lainnya, mana mungkin Sakura mau untuk di tinggal di sebuah rumah kosong yang sepi.
Dan di sinilah kini Sakura. Berjongkok sambil mendekap erat sebuah boneka teddy bear kecil berwarna coklat. Kedua mata emeraldnya nampak memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di hadapannya dalam diam. Penampilannya sedikit berantakan, pakaian yang di kenakannya pun nampak kotor. Belum lagi di wajahnya terdapat lumpur atau tanah, dan rambut merah mudanya terlihat suram. Namun, kedua mata emeraldnya masih nampak hidup, tak kehilangan cahayanya sama sekali. Karena dia kini bersama seseorang sebagai 'cahaya' di sampingnya.
"Kemana aku harus mencari makanan untuk Sakura?" batin Gaara kecil sambil kedua mata jade-nya memandang ke sekeliling. Dan kedua matanya bersiborok dengan seseorang yang tengah tergopoh-gopoh membawa kantung belanjaan di kedua tangannya yang baru saja keluar dari sebuah mini market.
Sosok seorang wanita anggun berambut merah darah sama seperti dirinya, dan entah secara kebetulan atau tidak, warna mata keduanya nampak sangatlah sama. Namun, di dalam pikiran Gaara warna kedua mata seseorang tersebut sama dengan warna kedua mata milik seorang gadis berambur cherry, yaitu emerald. Kedua bola mata emerald yang nampak bercahaya dan berkilau. Indah dan menyilaukan seperti milik Sakura.
Dengan berat hati secara perlahan Gaara mendekati sosok wanita tersebut. Dan ketika di rasanya sosok sasarannya itu kini tengah mau masuk ke dalam mobilnya, akhirnya kini Gaara lebih memilih untuk berlari. Dan setelah cukup dekat, kedua mata jade itu hanya berpusat pada salah satu kantung belanjaan yang banyak berisi makanan instan dan buah-buahan segar.
Mencuri.
Ya, hanya itu yang bisa di lakukannya. Gaara tak peduli jika tangannya meski kotor dengan melakukan perbuatan jahat ini. Namun, karena semua ini demi menghidupi dirinya dan Sakura. Gaara rela melakukan apapun agar Sakura tetap mau bersama dirinya dan jauh dari panti asuhan terkutuk itu. Bahkan jika Gaara di minta untuk menyerahkan nyawanya sendiri, dia akan dengan sangat rela memberikannya asalkan sepadan dengan apa yang akan di dapatkannya untuk Sakura.
Semua itu demi Sakura.
Sakura adalah segalanya bagi dirinya.
Tak ada yang berharga di dunia ini menurut Gaara selain keberadaan Sakura di sampingnya.
Ya. Selalu ada di samping dirinya saja itu sudah lebih dari cukup.
Dan juga sampai kapan pun ia ingin Sakura berada di dekatnya.
Sampai mati pun ia akan selalu menjaga Sakura, selalu dan selalu.
.
.
.
"Huuffftt… berat sekali kantung belanjaan ini," gerutu seorang wanita cantik berambut semerah bunga mawar. Di kedua tangannya nampak menjinjing dua buah kantung plastic tansparan. Dengan tergopoh-gopoh kedua kaki jenjangnya yang memakai sepatu berhak tinggi berjalan menuju mobil BMW abu-abu yang berada di samping mini market tersebut.
Namun, kedua mata emeraldnya secara tak sengaja menangkap sosok anak kecil yang wajahnya tak jelas dia lihat karena terhalang oleh topi berlari seperti ke arahnya. Di lihat baik-baik penampilan anak tersebut yang kumal dan tak terawat. Seketika naluri ke ibu-annya muncul dan entah mengapa di dalam pikirannya kini berkata bahwa 'anak kecil itu pasti akan mencuri barang belanjaanku'. Karena secara tak sengaja juga kedua mata emerald itu melihat kedua mata jade anak tersebut memandang intens salah satu barang belanjaannya.
Karena merasa tak tega, wanita berambut merah darah itu sengaja menaruh barang belanjaannya jauh sedikit dari tempatnya berdiri. Dengan sedikit ke pura-puraan kedua tangan wanita tersebut sibuk mengaduk-aduk tasnya untuk mencari kunci mobilnya. Padahal kunci mobil tersebut sudah berada di dalam genggamannya.
Memang bisa saja wanita itu dengan suka rela memberikan cuma-cuma makanan yang dia beli. Tetapi, di dalam hatinya dia ingin mengetahui apakah anak itu akan benar-benar mencuri atau tidak.
Namun, sepertinya hal yang tak ingin di lihatnya terjadi begitu saja. Anak kecil tersebut benar-benar merampas secepat kilat salah satu barang belanjaan miliknya yang berisi banyak makanan instan dan buah-buahan segar. Kedua mata emerald itu memandang sedih dan kecewa juga miris melihatnya.
Tetapi sebuah suara beberapa orang yang sangat lantang menyadarkan wanita itu. "Pencuri! Cepat tangkap anak itu!" teriak beberapa orang yang berada di dalam atau pun di dekat mini market tersebut.
Seakan tersentak kaget wanita itu menutup bibir mungilnya dan memandang ngeri pada beberapa orang laki-laki berbadan besar dan tegap yang mengejar anak laki-laki tesebut.
"Nyonya Kushina… Anda tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang tiba-tiba saja berada di sampingnya tanpa di sadari oleh wanita berambut merah tersebut.
"Kenapa Anda tidak berteriak meminta tolong ketika barang Anda dicuri?" Tanya seseorang itu lagi.
Wanita yang di panggil Kushina itu menggeleng lemah. "Anak itu tidak mencuri. Aku yang sengaja memberikan barang belanjaanku padanya," ucapnya dengan suara agak serak.
"A-apa maksud Nyonya Kushina? Sudah jelas-jelas Saya melihat dengan kedua mata kepala Saya sendiri, jika anak itu sudah merampas barang Anda," kilah seseorang itu lagi.
"TIDAAKK! SUDAH KUBILANG ANAK ITU TIDAK MENCURI APAPUN DARIKU," teriak Kushina dan kedua mata emeraldnya sudah mengeluarkan cairan bening.
"Ta-tapi… Nyonya Ku.."
"CEPAT TOLONG ANAK ITU, IBIKI!" Kushina kembali berteriak histeris. Dia sama sekali tak menghiraukan tatapan heran dan takut dari orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Sosok anak kecil tersebut mengingatkannya pada sosok anak laki-lakinya sendiri, yang sekarang entah berada di mana.
Ya, anak dari wanita bernama Namikaze Kushina itu telah di kabarkan hilang dua hari yang lalu di dalam kamarnya sendiri, melarikan diri. Sebuah perasaan rindu sangatlah membuncah di dalam hatinya ketika umur anak laki-laki berambut merah tersebut sama persis dengan umur anaknya kini.
Dan dia mengingat dengan jelas sebelum anaknya menghilang sebuah permintaan polos keluar dari bibir mungil anak laki-lakinya. Anak tersebut berkata, "Mama… aku ingin punya adik. Adik perempuan yang manis dan adik laki-laki yang tampan sama sepertiku..hihiihi."
Tes.. tes…
Tak di sadari olehnya kini kedua matanya mengeluarkan cairan asin. Sebuah cairan yang keluar jika hati dan perasaan kita terasa sakit. Kushina mencengkram erat dadanya dan dengan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Apa jika Mama memberikanmu adik kau akan kembali ke pelukan Mama, Naruto?" Kushina membatin dan setelahnya tersenyum miris. Dan tak lama kemudian sebuah isakan yang terdengar sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya terdengar dari dalam mobil itu.
.
.
.
Kedua kakinya sudahlah terasa sangat berat dan lelah. Anak laki-laki berambut merah tersebut terus berlari tanpa henti demi menghindari dirinya tertangkap oleh orang-orang berbadan besar yang kini juga tengah berlari di belakangnya. Sebuah peluh mengalir deras di seitar dahi, leher dan punggungnya. Napasnya yang tadinya stabil menjadi tak terkontrol dan terengah-engah. Tak ayal membuat dadanya naik turun tak seirama dan sangatlah sesak. Sakit dan perih kini memenuhi rongga tenggorokan dan dadanya karena terlalu lama berlari.
Belum lagi sebuah beban berat yang berada di kedua tangannya. Beban berat sebuah kantung belanjaan bagi ukuran anak kecil seumurannya. Beberapa kali kepala anak kecil itu menoleh ke belakang memastikan masih adakah orang-orang berbadan besar yang mengejarnya.
Dan syukurlah, ketika kepala anak kecil itu menoleh, dirinya tak menemukan ada orang-orang yang mengejarnya barusan. Kedua kaki itu akirnya berhenti berlari dan berjalan dengan pelan menuju sebuah gang. Di pikirannya masih terpikirkan bahwa dirinya masihlah belum aman. Oleh karena itu anak laki-laki tersebut menyembunyikan kantung belanjaan hasil curiannya di samping toko kecil yang tutup. Tentu orang-orang tak akan menyadari bahwa kantung belanjaan tersebut adalah barang curian, sebab orang-orang pasti akan mengira jika kantung itu adalah kantung berisi sampah-sampah bekas makanan.
Tangan kecil anak itu mengusap pelan peluh yang mengalir deras di dahinya. Topi merah yang di kenakannya dia buka. Dan kakinya beringsut menjauh dari barang curiannya. Namun, baru saja beberapa langkah baju bagian belakang yang di kenakannya seperti di tarik kuat ke belakang dan di angkat ke atas. Sehingga kini kedu kakinya tak lagi menapak pada jalanan aspal. "Lepas!" teriaknya keras dan berusaha meloloskan diri.
"Kau mendapatkan banyak barang curian hari ini rupanya," ucap seseorang dengan suara sangat berat dan tercium bau alkohol dari mulutnya ketika berbicara.
Anak kecil itu langsung diam membeku. Dia sudah hapal benar siapa pemilik suara ini. Sebuah suara yang selalu menganggu dia dan adiknya. Dan orang ini juga lah yang sering merebut paksa hasil curian anak kecil tersebut, seperti halnya sekarang ini.
"Jangan sentuh barang curianku!" geram anak kecil berambut merah tersebut dan 'bugghh' dia menendang sekuat tenaga perut orang yang mencengkramnya dengan tumit kaki bagian belakangnya.
Akhirnya orang itu melepaskan Gaara dan mengaduh kesakitan dengan memegang perutnya dengan kedua tangannya. Sebelah matanya terpejam karena menahan sakit. Dan pada saat itulah sebelah tangannya mengisyaratkan pada beberapa orang di belakangnya agar menghajar Gaara.
Dan kedua mata jade milik Gaara hanya memandang was-was pada tiga orang berbadan besar yang mendekatinya. Sekilas dia melirik barang curiannya yang sudah tidak ada di tempatnya. Dan terlihat tak jauh dari orang yang tadi di pukulnya teronggok berserakan barang curiannya yang sudah hancur.
Gigi-gigi kecil milik Gaara bergemelutuk menahan amarah. Hasil barang curian yang susah payah di dapatkannya di hancurkan begitu saja. Kedua tangannya mengepal erat. Dan dia berlari menerjang ketiga orang tersebut. "Kalian semua brengsek!"
Sudah jelas siapa yang akan kalah di sini. Tubuh yang kecil melawan tiga atau empat orang berbadan besar. Sudah pasti sosok kecil Gaara akan kalah.
Bugghh! Satu pukulan kuat mengenai pipi kanan Gaara.
Bugghh! Satu pukulan kuat lagi mengenai perut Gaara.
Bughh! Praang! Sebuah pukulan yang tidak pernah Gaara kira mengenai bagian samping kanan kepalanya.
Benda panjang yang keras itu menghantam keras kepala Gaara. Darah mengucur deras keluar dari luka tersebut. Rambutnya yang sudah berwarna merah menjadi agak kehitam-hitaman. Dan pandangan kedua matanya mendadak menjadi buram. Kesadarannya mulai hilang, dan tubuhnya mulai limbung. Namun, dia masih sempat membalas orang yang sudah menghantamkan botol minuman tersebut ke kepalanya dengan sebuah tendangan keras di bagian wajahnya.
Brukk! Akhirnya tubuh Gaara terbanting keras ke jalanan aspal. Kesadarannya mulai menipis. Dan samar-samar dia melihat orang-orang berbadan tegap dan besar tersebut berlarian menjauhi dirinya. "Sa-ku-ra.."
.
.
.
Kepala berambut merah muda kusam yang tadinya tertunduk lesu itu tiba-tiba saja terangkat. Kedua mata emeraldnya memandang ke segala arah seperti mencari sesuatu. Dan bibir mungilnya bergerak-gerak melapalkan beberapa kali sebuah nama, Gaara.
Tubuh kecil anak perempuan berambut cherry tersebut berdiri. Dia semakin memeluk erat boneka teddy bear-nya. Kedua mata emeraldnya sudah nampak berkaca-kaca dan berkilauan. Di alihkannya pandangannya menuju langit di atas kepalanya.
Mendung.
Dan tak lama kemudian turun titik-titik air dari langit menerpa wajah anak perempuan tersebut, hujan.
Hujan merupakan salah satu hal yang di benci di dalam hidupnya.
"Heeee… manis sekali. Siapa namamu?" Tanya seseorang tiba-tiba.
Membuat gadis kecil berambut merah muda tersebut mengerjap kaget. Kedua mata emeraldnya memandang gelisah pada sosok orang berjaket dengan tinggi tak lebih seperti kakaknya. Di dalam hatinya dia berlonjak kegirangan karena kakak tersayangnya sudah kembali. Namun, dia harus menelan kekecewaan ketika tudung jaket yang di pakai orang tersebut di tarik terbuka oleh dirinya sendiri. Dan dari balik tudung jaket tersebut menampakan sejumput anak rambut berwarna kuning. Dan sudah jelas dapat di lihat oleh kedua mata emeraldnya sepasang mata biru laut yang sangat indah yang pernah dia lihat kini menatap intens dirinya.
"Ka-kau si-siapa?" Tanya Sakura takut-takut dan bergerak mundur. Dia masih ingat pesan kakaknya bahwa jangan dekat-dekat dengan orang asing.
Laki-laki yang seumuran dengan kakaknya tersebut berjalan mendekat pada sosok mungil Sakura tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaannya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman menenangkan. Senyuman yang sering di perlihatkan oleh kakaknya sendiri untuk menangkan dirinya ketika di liputi rasa takut.
"Jangan takut padaku. Aku tak bermaksud jahat padamu."
"Kakakku melarang aku untuk berdekatan dengan orang asing," ucap Sakura apa adanya.
Sosok anak laki-laki di hadapan Sakura tersenyum geli dan langsung mengusap pelan ubun-ubun Sakura. Hal yang sering di lakukan oleh kakaknya juga ketika menenangkan dirinya. Akh, sungguh betapa dirinya merindukan sosok kakaknya saat ini.
"Namaku Namikaze Naruto. Siapa namamu?"
"Ha-Haruno… Sa-Sakura.."
"Heee… nama yang cantik secantik pemiliknya."
"Te-terima kasih."
"Lalu?"
"Apa?" Tanya Sakura dan memiringkan kepalanya nampak menuntut pertanyaannya orang di hadapannya barusan.
"Apa yang kau lakukan di sini sendirian, gadis manis?"
"Kakak.. aku menunggu kakakku pulang."
"Kakak? Ini rumah kalian?" ucap Naruto dan memandang pintu rumah yang sudah sedikit hancur di belakang tubuh mungil Sakura.
Sakura menggeleng, "Bukan. Aku dan kakakku tidak punya rumah."
Naruto nampak sangat terkejut tetapi selanjutnya senyum gembira terlukis di bibir tipisnya. "Kau mau ikut bersamaku? Kau boleh juga membawa kakakmu. Kita tinggal bersama."
"Be-benarkah?"
"Hm. Aku sudah lama sekali ingin punya adik perempuan dan seorang adik laki-laki."
Tak terasa air mata begitu saja keluar dan mengalir dari pelupuk mata Sakura. "Aku mau.."
"Nah, ayo kita cari kakakmu!" ajak Naruto dan menggenggam erat tangan mungil Sakura.
Dan terlihatlah dua sosok anak kecil berjalan di bawah guyuran hujan. Dua sosok anak kecil yang satu berambut merah muda pendek dan yang satu lagi berambut kuning jabrik. Kedua tangan mereka saling bertautan seperti tak ingin lepas selama-lamanya.
"Sakura… kau tahu di mana kira-kira kakakmu?" Tanya Naruto sambil kedua mata biru lautnya memandang sekeliling.
"Aku tidak ta…" Sakura tak dapat melanjutkan ucapannya ketika kedua mata emeraldnya terpaku ke jalanan aspal. Ke jalanan aspal yang terdapat sesosok anak kecil meringkuk. Tak perlu berpikir dua kali untuk menebak siapa orang itu untuk Sakura.
"Kakaaaaaakk!" teriak Sakura dan berlari melepaskan pegangan tangannya pada tangan Naruto.
.
.
.
Gadis manis berambut merah muda itu nampak tertunduk menatap tubuh Gaara yang membeku. Bulir-bulir air mata yang keluar dari mata emerald gadis itu bercampur dengan air hujan. Rambutnya nampak lepek karena basah, baju dan boneka teddy bear miliknya pun sangat basah. Sebelah tanganya terulur mengusap pipi kanan Gaara yang lebam, dan air matanya semakin deras keluar ketika melihat ada darah yang masih mengalir dari kepalanya.
"Hiks… hiks… kakak, kenapa tidur di jalan seperti ini. Nanti kakak masuk angin," ucap Sakura sambil terisak.
"Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri. A-aku tak akan bisa hidup tanpa ada kakak di sampingku," ucap Sakura lagi ketika tak ada gerakan berarti yang di buat oleh sosok beku di hadapannya.
Zrasshh!
Kilat menyambar di atas langit sana. Membuat Sakura ketakutan dan memeluk tubuh beku nan dingin di hadapannya. Dan seketika itu juga ada gerakan yang membuat isakan tangis Sakura berhenti sementara.
Sakura merasakan ada yang membelai rambutnya dengan sangat pelan. Dan tangan yang membelai rambutnya itu adalah tangan mungil milik Gaara. Di lihatnya oleh mata emerald itu sepasang mata jade yang redup tengah menatapnya.
Dengan senyum lemah tetapi menenangkan Gaara berucap,"Ja-jangan menangis. Aku… tak akan pergi meninggalkan… mu… Sa.. ku.. ra.." ucapnya lemah dan kembali menutup mata jadenya yang mulai semakin meredup. Bibirnya sudah mulai membiru dan suaranya mulai bergetar karena hawa dingin.
"Kakak… hiks… hiks.."
Dan dari kejauhan nampak sepasang mata sewarna dengan birunya lautan melihat kejadian itu dengan nanar. Bila di lihat dari dekat ada dua garis aliran air yang berasal dari kedua matanya, masing-masing di kedua pipinya. Walaupun tengah hujan namun, tampak jelas jika Naruto juga kini sedang menangis pilu. Di dekatinya sosok Sakura dan kakaknya.
"H-hei… a-aku bi-lang… jangan… me-menangis. Ha-hapus air… matamu, Sa-sakura!" ucap Gaara terbata-bata. Dengan lemah dia mengambil sesuatu dari kantung jaket merah marun yang di kenakannya. Dia menyerahkan benda itu pada Sakura, namun tak di terimanya benda itu oleh Sakura.
Maka, dengan pelan tangan mungil milik Gaara itu menghapus aliran air mata di pipi Sakura dengan sapu tangan merah miliknya. Sapu tangan yang juga sama ada rajutan benang hitam dengan inisial huruf 'S dan G' kecil di bawah sapu tangan tersebut.
"Ka-kakak… bertahan… lah… untuk… ku.." Ucap Sakura terputus-putus.
Gaara tersenyum lemah menanggapinya selagi tangannya masih menghapus air mata di pipi Sakura.
"Awas! Sakuraaaaa!" teriak Naruto tiba-tiba dan berlari menghampiri Sakura yang terduduk di samping tubuh Gaara.
Seakan tersadar karena suara seseorang Sakura menoleh ke asal suara. Dan dia melihat sosok Naruto yang tergopoh-gopoh lari ke arahnya dan kakaknya berada sambil berteriak tak jelas. Selanjutnya ada sebuah cahaya yang menyilaukan mata dari arah depan. Sakura sama sekali tak sadar jika kini dia dan kakaknya berada di tengah jalanan. Ingin rasanya Sakura berlari namun, kedua kakinya sudah lemas. Dan dia pasrah saja menutup matanya dan memeluk tubuh Gaara erat, tak lupa boneka teddy bear ke sayangan miliknya dia dekap erat juga.
.
.
.
"Ya, Tuhan, harus kemana lagi aku mencarimu, Naruto?" batin Kushina sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Kecepatan mobilnya saat ini adalah di atas 70 km perjam. Cukup kencang di tengah derasnya hujan dan licinnya jalanan. Dia juga tak menyadari dan melihat beberapa meter dari mobilnya ada dua orang yang meringkuk di tengah jalan, tepat dilintasan mobilnya.
Dan dia mendengar suara teriakan seseorang yang di kenalnya tepat di samping kiri mobilnya.
"Awas! Sakuraaaa!"
Dengan segera Kushina menolehkan kepalanya dan kedua mata emeraldnya membulat sempurna ketika dia, melihat anak laki-lakinya berlari ke depan mobilnya. Seperti menghadang mobilnya agar berhenti. Dengan mendadak Kushina menginjak rem mobilnya dengan kencang. Dia menutup kedua matanya dan dia alihkan stir kemudianya ke arah kanan. Jantungnya berdetak dengan cepat dan napasnya tersengal-sengal. Dia terkejut bukan main dengan kejadian barusan. Dan ketika dirasanya tak ada bunyi bahwa dirinya menabrak sesuatu, Kushina membuka kedua matanya perlahan.
Sesegera mungkin dia melepaskan seatbell kursinya dan melangkah keluar dari mobilnya dengan sangat terburu-buru. Kedua mata emeraldnya melihat punggung anaknya yang berdiri tegap, kedua tangannya terentang lurus di samping masing-masing tubuhnya. Berdiri seperti tembok kokoh yang melindungi sesuatu di baliknya.
Dengan berlari sekuat tenaga Kushina langsung memeluk tubuh kecil Naruto dari belakang. Dia tak memperdulikan baju dan tubuhnya yang basah kuyup.
"Naruto… " panggilnya lirih.
Seketika kedua mata sebiru lautan itu terbelalak kaget. Dia sama sekali tak menyangka jika mobil yang akan menabrak Sakura, dan juga mobil yang dia hentikan adalah mobil milik Ibu kandungnya sendiri. "Ma-ma.." ucap Naruto dan memalingkan wajahnya. Memastikan jika orang yang memeluknya ini adalah benar-benar Ibu kandungnya.
"Ya, sayang. Ini Mama…" jawab Kushina. Sudah tumpahlah air matanya dengan deras kini. Dia berjalan ke depan dan melihat wajah anaknya dari depan. Begitu hatinya serasa sakit ketika melihat keadaan tak terawat Naruto.
"Ke-kenapa kau kabur dari rumah begitu saja, Nak?"
"Mama harus tolong kedua adikku sekarang," ucap Naruto sama sekali tak menjawab pertanyaan Kushina.
Kushina diam membisu. Di dalam kepalanya muncul pertanyaan 'apakah Naruto masih marah padanya karena belum memberinya adik?'
Namun, telunjuk Naruto yang mengarah ke belakang dirinya sudah jelas jawaban dari pertanyaannya. Bahwa Naruto sama sekali tidak marah.
"Mereka berdua?"
"Adik-adik baruku. Cepat tolong mereka, Ma!"
"I-iya. Ayo bantu Mama memasukan mereka ke dalam mobil!" ucap Kushina dan dengan segera menarik tangan Naruto untuk mendekati sosok dua orang yang sedang berpelukan.
Betapa terkejutnya Kushina ketika sudah berada dekat dengan dua sosok orang itu. Dia menutup mulutnya sendiri saking tak tahan dan sekali lagi air matanya turun begitu saja.
"Anak laki-laki berjaket merah ini," batin Kushina,"anak yang tadi mengambil barang belanjaanku."
Takdir.
Ya, Kushina menganggap bahwa pertemuannya dengan anak laki-laki berambut merah itu adalah takdir. Juga pertemuan tak terduga antara Naruto dengan adik dari anak laki-laki yang mengingatkannya pada Naruto. Semuanya berhubungan satu sama lain. Ada benang merah tak kasat mata yang menghubungkan Naruto, anak laki-laki berambut merah itu dengan adiknya.
Kushina tersenyum di dalam hatinya. "Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengirimkan kedua anak ini pada keluarga kami," ucapnya ketika sudah berada di dalam mobil, beserta Naruto, Gaara dan Sakura.
Flashback end
"Kurang lebih seperti itulah ceritanya." Neji mengakhiri cerita panjangnya mengenai masa lalu Sakura.
"Hiks… Hiks.. mereka berdua, Sakura dan Gaara pernah mengalami kehidupan keras seperti itu?" Tanya Hinata entah pada siapa. Mungkin pertanyaan untuk dirinya sendiri. Sungguh rasanya sangat menyakitkan hati ketika mendengar cerita memilukan seperti itu.
"Apa yang terjadi pada Gaara selanjutnya? Apa dia.."
"Masih terselamatkan. Kau tahu bukan kapan tepatnya dia pergi meninggalkan Sakura?"
"Uhm… lalu… alasan Sasuke meninggalkan Sakura?"
"…"
"Kak Neji?"
"…"
"Apa alasan Sasuke juga ikut meninggalkan Sakura?"
"…"
"Cepat jawab! Kenapa diam saja?" Tanya Hinata dan mengguncang-guncangkan kedua bahu Neji. Air matanya sudah membanjiri kedua pipinya dan juga baju bagian depan miliknya. Hidungnya sudah memerah karena terlalu lama menangis. Suaranya pun sudah serak akibat efek menangis.
"Aku tidak tahu, Hinata," ucap Neji agak membentak Hinata.
"Aku tidak tahu apa penyebab Sasuke juga meninggalkan Sakura," lirih Neji dan menggenggam erat stir kemudinya.
Belum sempat Hinata akan menjawab ucapan Neji, sebuah ringtone telephone milik kakaknya berdering. Membuatnya tak jadi melontarkan ucapanya.
Dengan segera Neji merogoh jaket miliknya dan mengeluarkan handphone-nya yang berdering nyaring, sebuah nama 'Tenten' terpampang jelas di layar handphone tersebut.
"Neji… cepat kemari! Sakura… dia sudah sadar dari koma-nya." Ucap Tenten to the point di sebrang telephone pada Neji.
"Hn. Aku dan Hinata akan segera ke sana. Terima kasih."
Klik.
Neji mengakhiri sambungan telephone-nya lantas melihat Hinata. "Kita ke rumah sakit sekarang. Sakura sudah sadar."
Brum.. brum..
Neji menghidupkan mesin mobilnya lalu tancap gas dari tempat itu. Dia tak mendengarkan omongan Hinata bagaimana dirinya tadi memaksa dia untuk mengatakan alasan Sasuke meninggalkan Sakura.
"Sungguh Hinata.. aku tak tahu alasan Sasuke meninggalkan Sakura. Hal itu yang tahu hanya antara mereka bertiga saja. Antara Sakura, Gaara dan Sasuke." Batin Neji.
Tsuduku
Balas review dulu:
_Vvvv : Konflik yg sbnrnya blm muncul. Masih lama. Karena itu tetap up to date dngan fic nie, ya! Review?
_CherryBlossom Sasuke : Hhoohohooho… kurang lebih benar tebakan km^^. Q usahakan SasuSaku endingnya. Ok. Nie dah di update. Review?
_Uchiha Vio-chan : Makasih. Nie dh di update. Review?
_Maya : Iya. Sasuke memang agresif banget*Chidori*
Hehehe… makasih dh bilng keren. Ouh? Boleh, koq, km panggil q Miko-chan. Karena itu memang nick name q. Dan salam kenal juga^^. Review?
_Miikodesu : Hehehe.. Gaara mati dh tuntutan jalan ceritanya..^/^. Tenang, Sasuke ninggalin Sakura ga da hubungannya sama sekali ma Karin^^. Review?
_Haza Haruno : Hhohoho, masa'? makasih atas kesempatan waktu yg di berikan untuk mereview fic ini..^^
_Nao : Heheheh… sampai speechless? Berarti kissing scene SasuSaku ga mengecewakan dong, ya^^Ok. Nie da di update. Review?
_Agnes BigBang : Di sini baru di bahas masa lalu GaaSaku. SasuSaku'y belum. Tunggu, ya! Hehheheh. Entah kenapa q kurang lancar untuk ngetik fic lain selain fic ini. O/O. review?
_UchihaKeyRa20 : Makasih^^. Suka? Syukurlah kalau ga mengecewakan. Nie dah di update. Review?
_Me : Hontou ni Gomennasai… kemarin kurang lebih satu minggu q Ujian Sekolah. Jadi, gad a waktu buat ngetik^^. Makasih dah nyempetin review. Maukah review fic ku lagi?
_Kazuma B'tomat : Heheehe.. aku juga pas bikinnya sempet nangis juga, koq, Senpai^^.*sweetdrop*
_Akasuna no Hataruno Teng Tong : Moshi-moshi^^. Salam kenal juga, dah di Fav. Review?
Miko-chan note's
Halloo^/^a.
Gimana kabarnya semua?
Mudah-mudahan baik z, ya!
Dan ku ucapkan makasih banyak nich kepada para readers yang dah meluangkan waktu untuk baca fic ku yang satu ini dan mereview'y. Juga kepada silent reader^^. Ku hargai kehadiran kalian semua karena mereview ficku. Daaaannn… kaget juga pas banyak e-mail yg masuk, yg memberitahukan ada yg nge-fav atau meng-alert fic nie..hiks..hiks..*nangis haru*
Dan mengenai chap nie masih belum ada masa lalu SasuSaku nich, soal'y aku mau focus mengenai masa lalu GaaSaku dulu, tapi di singgung dikit-dikit koq mengenai masa lalu SasuSaku juga.^^
Sumpah! Aku hampir nangis GaJe sendiri pas buat adegan Sakura nangis buat Gaara wkt di tengah jalan. Uhuhuuhu…
Yaiyyyy~ SasuSaku di sini Kiss lagi loch..hohohoh..*Blushing ria*
Ok. Chap depan q usahakan membahas abis mengenai SasuSaku. Tp, ga janji ya..hahahah*ditimpuk readers*
Now, give me a review. If among you there are 'silent readers'.
Please leave a trail reviews, because it will make me more anthusiasm to continue this story.
Review from you're all very meaningful and important to me.
So, Review!^^
.
.
Sweet Greetings, Miko-chan^^
