Previous Chapter
"Sasuke…hiks… hiks…"
"Ke-kenapa kau baru kembali menemuiku setelah sekian lamanya kau tak ada kabar?"
"Maafkan aku, Sakura!"
"Hei… kau kenapa?"
"Wa-wajahmu terlalu dekat."
.
.
"Pencuri! Cepat tangkap anak itu!"
"CEPAT TOLONG ANAK ITU, IBIKI!"
"Jangan sentuh barang curianku!"
Bughh! Praang!
"Sa-ku-ra.."
.
.
"Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri. A-aku tak akan bisa hidup tanpa ada kakak di sampingku."
"H-hei… a-aku bi-lang… jangan… me-menangis! Ha-hapus air… matamu, Sa-sakura!"
"Ka-kakak… bertahan… lah… untuk… ku.."
"Awas! Sakuraaaa!"
.
.
"Apa alasan Sasuke juga ikut meninggalkan Sakura?"
"Cepat jawab! Kenapa diam saja?"
"Sungguh Hinata.. aku tak tahu alasan Sasuke meninggalkan Sakura. Hal itu yang tahu hanya antara mereka bertiga saja. Antara Sakura, Gaara dan Sasuke."
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Angst
Rated : T+
Pair : SasuSakuGaa
Warning : OOC, OC, AU
Enjoy This Chapter
And
Give Me Reviews
.
.
Kedua mata emerald itu memandang wajah dua orang pria dengan alis berkedut satu sama lain dihadapannya. Di dalam pikirannya sudah muncul berbagai pertanyaan yang tak bisa dia utarakan dengan kata-kata. Yang ada dia hanya membuka dan menutup mulutnya ragu.
"Sasuke… sedang apa kau di sini?" Tanya seorang pemuda berambut merah bata sambil berjalan mendekati ranjang Sakura. Sebelah alisnya terangkat dan di bibirnya tercipta sebuah senyuman sinis. Sebelah tangannya menurunkan stetoskop yang melingkar di lehernya dan kemudian memasukannya ke dalam saku jubah putih dokternya.
"Hn. Menemui Sakura." Sasuke menjawab tak kalah sinis dan ada nada dingin dalam setiap suku kata yang dia ucapkan. Sasuke sudah merasa jika pemuda berambut merah bata di depannya ini adalah salah satu rival terberatnya selain dia. Melihat warna rambutnya yang sama-sama berwarna merah mengingatkannya pada rival dirinya yang satu lagi. Akh, kenapa juga aku harus mempuyai dua rival yang berambut sama, pikir Sasuke dan merasa jengkel setengah mati.
Kedua mata kecoklatan Sasori yang tadinya terpancang pada kedua mata onyx Sasuke kini beralih pada sepasang mata emerald yang bercahaya. Sasori mengulum senyum melihat kedua mata emerald yang teduh itu. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dan meraih pergelangan tangan kanan Sakura yang tertancap selang infuse.
Sasori menaruh jari telunjuk dan jari tengah tepat di urat nadi pergelangan tangan Sakura, setelahnya mencocokannya dengan jam yang melingkar di tanganya. Raut wajah Sasori kembali serius ketika merasakan denyut nadi Sakura yang terputus-putus dan pendek. Rasa takut tiba-tiba saja hinggap di dalam hatinya. Namun, karena tak ingin menambah beban bagi Sakura akhirnya Sasori lebih memilih untuk memberitahu kemungkinan buruk yang terjadi pada Sakura nanti saja setelah keadaanya lebih baik dari ini.
"Sasori?" Sakura berucap dengan nada pelan dan bertanya. Pasalnya dia juga takut karena melihat raut wajah Sasori yang tiba-tiba berubah menjadi serius ketika memeriksa denyut nadinya.
Seakan tersadar segera saja Sasori memberikan senyum menenangkan dan lembut pada Sakura. "Sudah lebih baik. Kau tenang saja," ucapnya. Kemudian dia melirik Sasuke sebentar dan kembali lagi pada Sakura. Senyum jahil terpeta di wajah baby face-nya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura dan 'cuup' langsung mencium kening Sakura lembut. Sudah jelas tercipta rona kemerahan di kedua pipi Sakura.
Setelahnya Sasori mengangkat kembali kepalanya dan kedua matanya melirik Sasuke yang berekspresi geram dan jengkel setengah mati. Terbukti dari kedua rahangnya yang tiba-tiba mengeras dan kedua bahunya yang menegang, di tambah wajahnya sedikit memerah dan mata onyx-nya memandang Sasori tajam.
Sasori berdehem kecil dan tersenyum menang. Sebelah tangannya terulur membelai rambut Sakura pelan. "Beristirahatlah, Sakura! Kau membutuhkan itu."
Sakura mengangguk dan tersenyum lemah.
"Baiklah. Sebaiknya kita tinggalkan Sakura untuk beristirahat," ucap Sasori kembali setelah mengecek selang infuse Sakura takut jika macet atau tak berfungsi dengan semestinya. Kedua mata coklatnya memandang Sasuke memberi isyarat untuk keluar. Lagi pula memang Sakura masih terlihat sangat lemah, terbukti karena sekarang kedua mata emerald itu kembali tertutup rapat untuk kembali tidur.
Tak banyak bicara akhirnya Sasuke berjalan meninggalkan Sakura dan mengikuti punggung Sasori yang sudah menghilang dibalik pintu kamar rawat Sakura. Sebelum benar-benar keluar dari kamar itu kedua mata onyx Sasuke menatap lembut wajah tidur Sakura dan kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman bahagia.
Senyuman yang kembali dia ciptakan setelah sekian lamanya lenyap. Lenyap ketika dia meninggalkan Sakura sendiri di tengah kegalauan hatinya.
.
.
.
Gadis berambut merah itu sekali lagi menghela napas gelisah setelah sekian lamanya dirinya duduk di atas sofa empuk di ruang tamu apartemennya sendiri. Mesin penghangat di ruangan itu menyala membuat tubuh gadis itu yang tadinya basah kuyup, kedinginan dan menggigil, menjadi hangat kembali. Namun, beda dengan keadaan rambutnya yang masih basah, terlihat karena masih ada air yang menetes dari ujung rambutnya yang kini di gerai bebas.
Pluk! Tiba-tiba saja sebuah benda panjang, tebal dan terasa lembut menutup kepalanya sekaligus kedua mata ruby-nya. Kaget, sebelah tangan gadis itu segera menggapai benda di atas kepalanya.
"Keringkan kepalamu!" tutur kata seorang pemuda berambut coklat yang baru saja datang dari dapur setelah melemparkan handuk kecil ke kepala Karin, dengan di kedua tangannya membawa nampan. Di atas nampan itu nampak terlihat dua mug ukuran sedang yang mengeluarkan uap-uap mengepul dan juga aroma yang menguar keluar dari dalam mug itu.
Gadis itu tak banyak bicara, segera saja kedua tangannya menggosok-gosokan handuk kecil itu ke kepalanya.
Pemuda itu duduk di samping sang gadis setelah sebelumnya menaruh nampan tersebut di atas meja kecil di depannya. Punggungnya dia senderkan ke belakang dan kedua matanya terpejam sejenak dan kemudia terbuka kembali. Pemuda itu mendesah lelah dan bernafas dengan teratur. Kedua matanya terpejam kembali untuk mengingat apa yang dilihatnya di rumah sakit itu. Salah satu sahabatnya terbaring lemah tak berdaya dan tak sadarkan diri. Kini, Kiba mengerti bagaimana perasaan gadis yang duduk diam di sampingnya ini.
"Seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarku pulang," komentar sang gadis berambut merah itu akhirnya. Dia turunkan handuk di kepalanya dan kedua matanya memandang cemas pemuda di sampingnya. "Membuatkanku minuman hangat pula."
Kedua mata pemuda berambut coklat itu membuka kedua matanya dan melirik gadis di sampingnya dengan ekor matanya. Sedetik kemudian dia tersenyum simpul. "Aku tak bisa membiarkanmu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini."
Jawaban yang dikeluarkan oleh pemuda di sampingnya ini tak bisa membuat Karin untuk tak tersenyum. Hatinya tiba-tiba saja dijalari rasa hangat dan nyaman. "Sebaiknya kau ganti baju!" suruh Karin dan beranjak berdiri memasuki sebuah kamar. Kiba mengikuti sosoknya dalam diam di belakang. Kepalanya celingukan ketika sudah berada di dalam kamar yang dimasuki oleh Karin juga dirinya.
Kedua mata pemuda berambut coklat itu meliat setiap inchi sudut ruangan kamar yang lumayan luas. Cat dari ruangan kamar itu didominasi oleh warna biru tua. Dipojok kanan dekat pintu masuk ada lemari dan sebuah pintu yang menuju ke kamar mandi. Disebrangnya ada sebuah ranjang ukuran sedang dengan kedua buffet kecil di kedua sampingnya. Selain itu ada sebuah meja yang di atasnya ada beberapa buah buku dan juga rak. Simple dan rapi. Dan pemuda itu beranggapan jika orang yang punya kamar ini adalah seorang laki-laki. Terbukti ketika Karin mengeluarkan beberapa potongan pakaian dua bagian yang langsung dia lempar begitu saja di atas ranjang.
"Aku pikir jika tubuhmu sama ukurannya dengan kakakku," ucap Karin dan menutup pintu lemari. "Pakai saja yang mana kau mau."
Kedua alis pemuda itu berkedut satu sama lain. Kepalanya miring ke kanan dan menatap bingung sosok Karin yang tengah berkacak pinggang di depannya. "Kakak? Kau punya?" tanyanya.
Karin memutar kedua bola matanya bosan dan mendengus sebal. "Ya, aku punya… dulu."
"Dulu?" Tanya Kiba dan berjalan mendekat ke sisi ranjang untuk mengambil pakaian yang berada di atasnya.
"Dia sudah pergi dari sini," jawab Karin kembali.
"Aku tak mengerti maksudmu, Karin."
"Ya, sudah kalau tak mengerti. Cepat ganti bajunya!" Karin berujar dengan sedikit nada jengkel dan tak suka. Dia berjalan keluar kamar itu dengan serta menutup pintu kamarnya. Namun, selang beberapa detik kemudian pintu kamar itu kembali terbuka dan kepala berambut merah milik Karin melongo melihat ke arah Kiba.
"Apa lagi?" Tanya Kiba.
"Mmm… kau ingin makan apa?" Tanya Karin dengan wajah memerah dan nampak malu-malu.
Kiba terkekeh kecil melihatnya dan di kedua pipinya juga tercipta semburat merah tipis. Dia berdehem kecil untuk menutupi rasa gugupnya yang datang tiba-tiba. "Ehm… makanan yang kau bisa masakan untukku," jawabnya.
"Eh? Baiklah."
Blam! Pintu itu kembali tertutup dan pemuda itu masih memandang pintu itu namun, karena tubuhnya yang sudah sangat kedinginan dan kesemua ujung jari kulitnya sudah mengkerut akhirnya dia lebih memilih untuk segera mengganti bajunya dengan yang kering. Dia nampak berpikir ketika melihat beberapa potongan baju di depannya.
"Yang mana sajalah," komentar Kiba. Dan akhirnya dia memilih bawahan celana pendek warna biru dan atasan kaos polos warna putih dengan tangan panjang.
.
.
.
Di dapur yang ukurannya terbilang kecil itu hanya ada Karin seorang diri saja yang tengah melakukan sesuatu. Kedua tangannya sibuk memotong-motong sebuah tomat berbentuk seperti dadu, dan tak jauh darinya ada satu bungkus bumbu instan untuk membuat nasi goreng. Apa boleh buat, bahan makanan yang biasanya tersimpan di dalam kulkas sudah habis dan hanya tersisa tiga buah tomat saja juga dengan satu bumbu instan untuk membuat nasi goreng. Tadinya dia akan memasak makanan yang berat untuk makan malam dirinya bersama Kiba. Steak atau udang saus tiram misalnya, setidaknya bukan makanan biasa seperti nasi goreng seperti ini.
Karin menghela nafas karenanya. Kedua mata ruby-nya mengerling sebuah wajan sedang dan tak berpikir lagi dia langsung mengambilnya bersama dengan spatula. Dia sudah siap menggoreng bumbu tambahan untuk nasi gorengnya. Sebelah tangannya menyalakan api tungku untuk memanaskan wajan yang sudah diberi minyak goreng sebelumnya. Tinggal menunggu wajan itu memanas akhirnya Karin lebih memilih diam saja sambil kedua mata ruby-nya tak lepas dari wajan itu.
Sepertinya dia lupa jika kini di tungku yang lain, sebelumnya dia tengah membuat air panas lagi untuk membuat kopi atau pun teh. Bunyi 'ngiiing' nyaring terdengar dari dapur itu yang berasal dari teko kecil di atas tungku yang menandakan jika air itu sudah masak. Karin serasa berada di dunia lain sampai-sampai tak mendengar bunyi nyaring itu. Roh Karin sedang berkelana entah kemana meninggalkan tubuhnya kini.
Kiba yang sudah berganti baju langsung melesat pergi ke dapur untuk melihat bunyi nyaring apa itu. Dan setibanya dia di sana kedua matanya disuguhi pemandangan seorang gadis yang tengah melamun ria di depan wajan yang sudah memanas di samping dengan bunyi nyaring dari teko air yang sudah mendidih. Kiba menghela nafas lelah dan geleng –geleng kepala. Secepatnya kedua kakinya melangkah mendekati Karin dan melewatinya untuk mengangkat teko air itu, lalu menaruhnya di atas meja kecil di sana.
"Kau ini kenapa? Wajannya sudah panas." Kiba berucap setengah berteriak karena kesal.
Karin mengerjapkan kedua matanya dan langsung memandang Kiba bingung. "Apa?"
"Wajannya, Karin.."
"Eh? O-oh, ya, sudah panas rupanya," ucap Karin bingung dan langsung mengalihkan kedua matanya pada wajan. Segera saja dia memasukan bumbu dapur seperti tomat yang tadi dia potong, lalu bawang putih dan juga bawang merah dan tak lupa sebuah gula pasir satu sendok teh. Meskipun sudah ada bumbu dari nasi goreng tersebut, tetap saja akan terasa kurang pas bumbunya, karena itu dia sedikit menambahkannya.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Kiba dan mulai mengambil dua cangkir ukuran besar. Dia mengambil toples berisi kopi hitam dan menyendoknya untuk dia masukan ke dalam cangkir itu. Setelah dirasanya cukup dia langsung menuangkan air mendidih itu ke dalamnya.
"Tak ada."
Kiba mengaduk-aduk kedua isi cangkir itu bergantian sehingga menimbulkan bunyi 'teng' beberapa kali ketika sendoknya menyentuh ujung cangkir. Kedua matanya mengerling Karin dan setelahnya mendengus. "Bohong sekali," gumamnya rendah dan untung saja tak terdengar oleh Karin. Jika terdengar mungkin Karin akan langsung melayangkan spatula yang sedang di berada di tangannya pada kepala Kiba saking jengkelnya.
##Sacrifice##
Kedua mata ruby itu memandang layar televisi di depannya dengan tatapan kosong. Sebelah tangannya mengambil beberapa gumpalan popcorn dipangkuannya dengan tak berminat. Kedua mata pemuda yang duduk di sampingnya kembali memperhatikan wajah Karin yang memang berubah drastis menjadi lebih sedih ketika sudah melihat keadaan Sakura di rumah sakit.
Kiba ingat benar pada saat di rumah sakit, Karin berteriak histeris dan menangis meraung-raung melihat Sakura yang terbaring tak bergerak sedikit pun di atas ranjang kamar pada salah satu ruangan VVIP rumah sakit itu. Hal itu juga membuat keadaan rumah sakit tersebut jadi ribut. Dan pada akhirnya Kiba terpaksa menyeret Karin pergi dari rumah sakit tersebut sebelum tangisan Karin mengganggu pasien-pasien di sana.
"Aku yakin Sakura akan baik-baik saja," ucap Kiba dan kedua matanya masih memandang kedua mata ruby milik Karin yang nampak memerah. Dapat terlihat kini di lingkaran matanya juga berwarna kemerahan dan bengkak.
"…" Karin tak menjawab hanya menganggukan kepalanya dengan lemah.
Kiba kembali menghela napas dan kedua matanya beralih pada jam dinding di atas televisi. Mengerjap kaget dengan angka jarum jam yang keduanya mengarah pada angka 12 yang dia lihat. Langsung saja dia segera memasukan handphone dan kunci motornya ke dalam saku celananya.
"Sudah malam… sebaiknya aku pulang," ucap Kiba dan memandang Karin yang kedua matanya masih terpancang pada layar televisi.
Karin nampak menganggukan kepalanya sekali lagi dengan pelan. Dia nampak seperti boneka yang tak bernyawa saja.
Kiba bangkit dari duduknya dan sebelum pergi dari sana dia kembali memandang wajah Karin dengan sayu. Sebelah tangannya terulur mengusap-usap puncak kepala Karin, setelahnya dia berani mendekatkan diri.
Cup! Dia mencium pipi kanan Karin singkat, setelahnya dia langsung pergi meninggalkan Karin sendirian di ruang tv apartemennya sendiri. Sebenarnya Kiba tak tega meninggalkannya kali ini, namun apa boleh buat dia masih tahu diri dan batasan dirinya sendiri. Dia dan Karin tak memiliki hubungan apa-apa selain sahabat. Teringat kata sahabat tiba-tiba saja hatinya terasa sakit dan ngilu. Kedua langkah kakinya melemah menjadi sebuah gusuran. Sebelah tangannya mencengkram erat dadanya sendiri.
Batin dari pemuda berambut coklat itu terluka sangat dalam. Dulu, hatinya tak sesakit ini ketika melihat keadaan orang yang dia sayangi. Ah, bukan, tetapi orang yang sangat dicintai olehnya. Ya, pemuda berambut coklat itu memendam perasaannya sedari dulu pada gadis bermata ruby itu. Dia pikir gadis itu pasti menyadari perasaannya, namun dia sengaja menutup mata. Yang dilihat oleh matanya dulu selalu dia. Dia yang notabene-nya adalah kekasih sahabatnya sendiri. Namun, pemuda itu tak berhenti berharap. Dia masih setia menunggu di samping gadis itu untuk sekedar melihat kehadirannya. Menerima kehadirannya di dalam hidupnya dan di dalam hatinya.
Kiba bersyukur dengan keadaannya yang terjalin antara gadis itu dengan dirinya sekarang. Kiba merasakan jika gadis yang dicintainya sudah bisa melihat kesungguhan perasaanya. Namun, dia harus menelan kenyataan pahit jika masih ada sebagian kecil di dalam hati gadis yang dicintainya masih mengharapkan sosok pria bermarga Uchiha itu.
Sasuke Uchiha.
Lafal nama yang terus hidup di dalam hati Karin. Jauh di dalamnya sehingga Kiba merasa tak akan bisa menggantikannya. Dia tak mempunyai hak sama sekali untuk benci dan menghakimi Sasuke. Karena pada kenyataannya memang pemuda itu sama sekali tak melirik kehadiran Karin, dia hanya menganggap sebagai sahabat sepermainan, tak lebih dan tak akan pernah lebih.
Kiba berpikir seharusnya Karin sudah bisa melupakan sosoknya. Tiga tahun lebih dirinya, Karin, Neji, Naruto bahkan Sakura sekali pun tak pernah berkomunikasi dengan Sasuke. Kami semua kecuali Sakura bisa kembali berkomunikasi itu semua karena Sasuke terlebih dahulu yang menghubungi kami. Dan seharusnya kehadirannya terus di samping gadis itu ada sedikit saja tempat untuk dirinya menempati ruang hatinya.
Namun, setelah hari ini tiba Kiba tersadar. Bahwa perjuangannya sia-sia saja. Tak ada lagi tempat untuknya dan tak ada lagi kesempatan untuknya. Dia tersenyum miris di sepanjang langkahnya keluar dari gedung apartemen Karin. Kedua matanya nampak berair jika dilihat dari dekat dan wajahnya memerah menahan luapan perasaannya yang tersakiti.
Dengan langkah gontai kedua kakinya melangkah menuju tempat parkir di mana motornya berada. Dia menaiki motornya dan langsung memakai helm. Tak lama kemudian sosoknya mulai meninggalkan jauh gedung apartemen bertingkat itu. "Terima kasih, Karin. Karenamu aku bisa merasakan apa itu namanya rasa cinta dan juga rasa sakit," batin Kiba. Dan dia menambah kecepatan motor yang dia kendarai, membelah angin yang menerpa dirinya dari depan. "Dan karena itu juga aku akan berusaha melupakanmu."
.
.
.
Karin meraba pipi kanannya yang meninggalkan rasa hangat dengan tangannya. Kedua mata ruby-nya memandang pintu apartemennya dan setelahnya kembali terpancang pada layar televisi. Dia menaruh mangkuk berisi popcorn itu dari pangkuannya ke meja di depan dirinya di mana dia duduk.
Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan mematikan televisi, setelahnya sosoknya berjalan menuju kamarnya sendiri. Sebelah tangannya memutar knop pintu, dan kedua mata rubynya hanya memandang kegelapan di dalam kamarnya. Tangannya akan terangkat untuk menghidupkan lampu kamarnya namun langsung terhenti begitu saja. Karin langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan pelan menuju tempat tidurnya. Beruntung cahaya bulan di atas langit sana tengah berbagai cahaya sehingga kamarnya sedikit ada penerangan.
Bruk! Tubuh mungil milik Karin terbanting dengan pelan ke atas tempat tidur oleh pemiliknya sendiri. Kedua mata ruby miliknya memandang kosong langit-langit gelap kamarnya. Tak beberapa lama pandangannya pada langit-langit kamar itu mengabur dan tak jelas. Karin menggigit bibir bawahnya keras sampai memerah, kedua tangannya mencengkram seprai berwarna merah marun sampai kusut tak berbentuk di kedua samping tubuhnya berbaring. Sebuah isakan kecil mulai terdengar dari bibirnya. Dan pada akhirnya cairang bening itu mengalir dari kedua sudut matanya, turun ke pelipis dan membasahi anak rambutnya.
Ingatannya dipaksa untuk terus berputar di dalam kepalanya bagaikan sebuah film teater. Ingatan buruk yang dia ciptakan sendiri dengan seseorang. Dan juga sebuah ingatan yang membuat hatinya terus di penuhi dengan perasaan bersalah dan penyesalan tak berujung. Memang benar apa kata pepatah : penyesalan itu selalu datang di akhir. Dan kini dia memang mengalaminya. Dia menyesal telah berbuat buruk dan tak berperasaan pada kedua sahabatnya sendiri.
Perbuatannya dengan seseorang yang membuat kedua sahabatnya sangat menderita karenanya.
Perbuatan yang juga menyebabkan terpisahnya kedua sahabatnya yang saling mencintai satu sama lain.
Sebuah perbuatan kotor yang dilakukannya dengan seseorang hanya demi sebuah perasaan abstrak yang dinamakan cinta.
Sungguh kini dia sangat menyesal, rasanya dia ingin mati saja karena tak tahan dengan perasaan bersalah yang dirasakan dirinya ini.
Kedua mata ruby milik Karin semakin deras mengeluarkan air mata kesedihan dan penyesalan.
Dia berpikir, jika saja dia tak memiliki perasaan terhadap pemuda bermarga Uchiha itu dulu.
Jika saja dia tak memiliki perasaan untuk merebut sesuatu yang bukan miliknya seutuhnya.
Jika saja dia tak memiliki perasaan yang dinamakan iri pada sahabatnya.
Jika saja dia tak pernah bertemu dengan pemuda berambut merah itu.
Dan jika saja dia tak pernah menyetujui rencana busuk yang ditawarkan oleh pemuda bertattoo kanji di dahinya itu.
Dan jika, jika yang lainnya, pasti kejadiannya tidak akan pernah seperti ini.
Mungkin kini Sakura dan Sasuke akan hidup bahagia bersama. Tak seperti sekarang ini yang membuat hati keduanya tersakiti.
Dan bayangan ingatannya ketika melihat keadaan Sakura malah semakin membuat rasa penyesalan di dalam hatinya membuncah keluar. Kedua tangan gadis itu memegang erat dadanya sendiri. Dadanya terasa sakit dan sesak. "Ma-maafkan aku… Sakura… Sasuke. Maafkan ka-karena keegoisanku ka-kalian jadi menderita dan… terpisahkan," ucapnya dengan nada bergetar dan serak.
"Maaf…" lirihnya.
##Sacrifice##
Pemuda berambut raven itu memandang tajam sosok pemuda berambut merah di depannya. Wajah dengan penuh pertanyaan terpeta jelas di wajah tampannya. "Kau yang bertanggung jawab atas kesehatan Sakura?" tanyanya.
"Kurasa tak perlu aku jawab pun kau sudah tahu hal itu, Sasuke," jawab Sasori dan tersenyum meremehkan. Dia membalikan badannya hendak pergi dari sana namun pertanyaan Sasuke membuat gerakannya terhenti sepenuhnya.
"Kenapa kau tak mengatakannya lebih awal jika kau juga mengenal Sakura?"
Sasori menjawab pertanyaan Sasuke tanpa membalikan badannya. "Kurasa itu bukanlah urusanmu," ucapnya dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Sial!" Batin Sasuke. Gigi-giginya saling bergemelutuk dan kedua tangannya mengepal erat. Pemuda ini sekarang merasa jika Sasori tengah mengibarkan bendera persaingan padanya. Persaingan untuk mendapatkan Sakura. Namun, Sasuke jauh lebih percaya diri jika dia yang akan menang dan Sasori yang akan kalah. Sebab, bagaimana pun juga Sasuke merasa sudah berada jauh di depan Sasori untuk mendapatkan Sakura. Dia tunangannya, ralat calon tunangannya. Setidaknya itulah yang Sasuke pikirkan.
Namun, Sasuke kini menyesal telah meninggalkan Sakura begitu saja seminggu sebelum acara pertunangan mereka diadakan. Seharusnya dia lebih bisa menekan emosi yang dia miliki waktu itu. Waktu dia mendengar jika Sakura menjalin kasih dengan lelaki lain dibelakang hubungan mereka berdua dari sahabatnya. Laki-laki itulah adalah orang yang selalu berada di dekat Sakura di mana pun Sakura berada.
Sasuke menghela nafas berat dan berjalan kembali hendak kembali ke dalam kamar rawat Sakura. Selama kedua langkahnya membawanya ke kamat rawat Sakura pikirannya kembali melayang ke beberap tahun silam. Memori di dalam otaknya masih ingat benar ketika dia melihat dengan kepala mata sendiri, bahwa Sakura tengah berciuman dengan lelaki lain selain dirinya. Rasanya kini dadanya kembali sesak dan hatinya berdenyut sakit.
Sebelah tangan pemuda berambut emo itu memegang dadanya sendiri. Sedangkan sebelah tangannya yang lain mengepal erat. Ingatannya masih belum berhenti berputar. Kini dia mengingat benar kata-kata menusuk yang dilontarkan oleh pemuda berambut merah itu. Kata-kata yang tujuannya memang untuk menyuruhnya menjauhi atau bahkan meninggalkan Sakura.
Sasuke merutuki dirinya yang bodoh waktu itu. Seharusnya dia tak langsung emosi dengan memukul habis wajah pemuda berambut merah itu, bertepatan dengan kejadian itu dilihat oleh Sakura. Sasuke sudah mengira jika Sakura pasti akan menyalahkannya, tapi memang benar, jika Sakura waktu itu membela habis-habisan pemuda berambut merah itu.
Sasuke sudah tidak mau mengingat lagi kejadian menyedihkan tiga tahun lalu. Maka dengan itu, sebelah tangannya segera memutar knop pintu kamar rawat Sakura ketika dia sudah sampai di depan pintunya. Melangkah masuk dan langsung mengambil tempat duduk di sisi ranjang Sakura sebelah kiri dari arah berbaring Sakura.
Sasuke mengangkat kursi yang dia duduki untuk lebih dekat dengan ranjang Sakura. Setelahnya dia genggam lembut tangan Sakura yang bebas selang infuse dengan kedua tangannya. Kedua mata onyxnya tak pernah lepas dari wajah pucat gadis di depannya.
"Kenapa kau malah membela lelaki itu, Sakura? Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya Sasuke lirih dan mencium punggung tangan Sakura.
Sasuke kembali teringat. Dia sama sekali belum melihat kehadiran laki-laki berambut merah itu di dekat Sakura. Seharusnya, yang Sasuke tahu, jika sesuatu terjadi pada Sakura. Maka laki-laki itu akan langsung menemui Sakura dan selalu dekat-dekat dengan sosoknya. Tapi apa kali ini? Sasuke tak menemukan sosok laki-laki itu di mana pun. Tidak di lobi, koridor, kantin maupun di sini, kamar rawat Sakura. Sebenarnya kemana laki-laki bermata panda itu, pikir Sasuke.
Tak mau ambil pusing Sasuke menenggelamkan kepalanya ke samping tangan Sakura di atas ranjang. Kedua matanya entah kenapa terasa sangat berat dan lelah. Tak kuat lagi untuk sekedar terbuka. Pada akhirnya kedua mata onyx milik Sasuke tertutup rapat dan tak lama kemudian dengkuran halus terdengar darinya.
Uchiha Sasuke jatuh tertidur di samping tubuh Haruno Sakura sambil menggenggam tangannya.
.
.
.
Hyuuga Neji dan Hyuuga Hinata baru saja tiba di rumah sakit setelah menerima telephone dari Tenten sekitar dua puluh menit yang lalu. Dan hujan pun turun dari langit belum menampakan akan berhenti. Sebaliknya, cuaca tengah malam kali ini sangatlah terbilang buruk. Udara mulai menurun drastis di bawah nol derajat. Sangat dingin. Belum lagi petir dan kilat yang menyambar di langit sana, membuat beberapa cahaya segaris melukis gelapnya langit beberapa kali.
Maka dengan terburu-buru karena tak mau mati kedingingan kedua orang beraliran darah klan Hyuuga itu segera memasuki lobi rumah sakit. Sedikit menepuk-nepuk jaket tebal bagian depan mereka yang kenakan dari kejatuhan butiran air hujan ketika sudah mencapai di dalam lobi rumah sakit megah itu.
Hinata yang niatnya mau kembali ke rumah setelah berbelanja memutuskan untuk ikut Neji ke rumah sakit. Lagi pula Hinata ingin menanyakan sesuatu mengenai hubungan Gaara dan Sakura di masa lalu lebih lanjut dan terperinci lagi. Sepertinya dia lupa untuk mengabarkan keberadaannya di mana kini pada suaminya.
"Apa ada yang datang untuk menjenguk Sakura?" tanya Neji ketika dia sudah sampai di depan meja resepsionis.
Seorang wanita penjaga resepsionis tersebut menarik kedua sudut bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Neji. "Iya. Ada seorang pria sekitar dua jam yang lalu datang menjenguk Dokter Sakura," jawabnya.
"Begitu. Terima kasih."
"Apakah yang menjenguk Sakura itu Sasuke, Kak?" tanya Hinata sedikit berbisik.
"Hn. Ayo!"
Hinata mengikuti sosok Neji di belakangnya untuk naik elevator, mengantarkan mereka berdua ke lantai atas tempat di mana kamar rawat Sakura berada.
"Sebaiknya kau beritahu suamimu jika kau ada di rumah sakit, Hinata!"
Hinata sedikit memekik kaget karena lupa akan memberitahu kabar jika Sakura sudah sadar. Dengan segera dia merogoh saku celana yang tertutupi dengan jaket tebal miliknya untuk mengambil telephone genggam miliknya. Dia berpikir sejenak apakah akan memilih untuk menelephone suaminya atau hanya mengirimnya dengan pesan singkat saja. Dan pada akhirnya wanita berparas cantik itu lebih memilih menggunakan via messege, jari-jari lentiknya menari-nari di atas keyword handphone miliknya. Setelah dia rasa pas kata-kata di dalam pesan itu segera saja dia kirimkan dan di masukan kembali handphone miliknya ke dalam saku celana.
"Mmm… apakah Kak Neji sudah menanyakan pada Sasuke alasan dia meninggalkan Sakura?" tanya Hinata tiba-tiba setelah dirinya dan Neji keluar sepenuhnya dari elevator.
Neji sejenak memberhentikan langkahnya namun sedetik kemudian dia kembali berjalan. Menjawab pertanyaan yang dilontarkan Hinata tanpa menolehkan kepalanya untuk memandang Hinata di belakang dirinya. "Belum. Dan mungkin aku tidak akan pernah menanyakan hal itu," jawabnya.
Hinata nampak menautkan kedua alisnya bingung. Dia berhenti melangkah dan memandang punggung Neji di depannya. "Kenapa?" tanyanya.
Nampak Neji menghela nafas lelah dan kemudian membalikkan badannya untuk menghadap wajah penuh tanya Hinata. "Karena aku tidak mau ikut campur lebih dari ini. Lagi pula.." Neji menggantungkan kalimatnya dan kembali membalikkan badannya.
"Lagi pula apa?" tanya Hinata dan kembali berjalan ketika melihat Neji juga kembali berjalan.
"Lagi pula… menurutku baik Sasuke maupun Sakura sama-sama tak ingin ada orang lain yang ikut campur untuk menyelesaikan masalah mereka. Kau paham maksudku, Hinata?"
"Iya. Aku paham." Hinata menjawabnya dengan pelan dan menundukan wajahnya.
Tak ada yang percakapan lain yang terjadi setelah kejadian tadi. Keduanya sama –sama memilih diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sampai pada keduanya tiba di depan pintu kamar rawat Sakura. Hinata memilih untuk duluan masuk dan memutar knop pintu tersebut.
Dan kedua pasang mata lavender milih klan Hyuuga itu disuguhi pemandangan yang menarik. Pemandangan seorang laki-laki yang tengah tertidur di samping seorang gadis yang terbaring sambil menggenggam lembut tangan sang gadis.
Hinata melemparkan tatapan yang mengartikan minta penjelasan siapa sosok gerangan yang tengah tertidur itu pada Neji.
"Dia Sasuke," jawabnya.
Dan Hinata hanya membulatkan mulutnya menyerupai huruf 'O' kecil.
Neji berjalan mendekati sosok Sasuke dan mengguncangkan pelan bahunya. Sedangkan Hinata nampak berdiri di samping sosok terbaring Sakura di sebrang Sasuke dan Neji berada.
"Syukurlah kau sudah lebih baik Sakura," ucap Hinata dan merapikan selimut yang menutupi tubuh Sakura yang sedikit merosot. Lalu kedua mata lavender miliknya beralih menatap wajah Sasuke yang baru saja terangkat dari acara menunduk tidurnya di samping ranjang Sakura. Satu kata di benak Hinata ketika dia melihat wajah Sasuke, yaitu tampan.
"Ngg~.." Sasuke mengerang jengkel dan tak suka acara tidur nyenyaknya di ganggu. Dia mengucek-ngucek kedua matanya bergantian dan kedua mata onyxnya di kagetkan dengan kehadiran sosok sahabatnya dengan seorang wanita yang dia ketahui sebagai istri dari sahabatnya yang bermarga Namikaze.
"Sejak kapan kau tertidur di sini, Sasuke?" tanya Neji dan menaikan sebelah alisnya bingung. Setengah bingung setengah geli dia melihat tingkah Sasuke. Pasalnya dia baru kembali kali ini menyaksikan tingkah laku sahabatnya yang dingin dan kaku, tengah menggenggam tangan seorang wanita sambil tidur.
"Aku tak ingat."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Neji sambil memandang sosok Sakura yang tengah seperti tertidur pulas.
"Sudah jauh lebih baik. Tadi dia sudah bangun, namun karena memang dia masih lemah. Dia kembali tertidur."
Neji nampak mengulum senyum mendengar jawaban panjang yang keluar dari Sasuke. Dia mengerling Hinata sebentar dan kembali lagi pada Sasuke. Menepuk pelan bahunya. "Kau pulanglah! Ada para suster dan juga Hinata yang akan menjaga Sakura," ucapnya.
Sasuke menggelengkan kepalanya setelahnya dia bangkit dari duduknya. "Aku harus masih di sini. Sekaligus melihat perkembangan kesehatan kakak."
Neji hampir lupa jika Itachi Uchiha kini sedang di rawat juga di rumah sakit ini. "Aa… begitu."
"Aku akan segera kembali," ucap Sasuke dan kemudian membungkukan badannya sehingga wajahnya berada tepat di atas wajah Sakura. Dan dia sekilas mencium kening Sakura lembut sebelum benar-benar keluar dari kamar rawat itu. Perbuatannya membuat Hinata maupun Neji sedikit terkejut karena tak menyangka bahwa Sasuke akan melakukan hal itu.
Blam! Pintu itu tertutup sempurna sekaligus menandakan jika sosok Sasuke sudah pergi dari ruangan ini. Hinata memandang wajah Neji seperti ingin menanyakan sesuatu. Namun, ketika dia hendak membuka mulutnya untuk bertanya suara berat kakaknya sudah menyelanya secara tak sengaja.
"Rahasiakan mengenai masa lalu Sakura dari yang lainnya…"
"Ta-tapi…"
"Termasuk Sasuke," ucap Neji melanjutkan ucapannya.
Hinata tak bisa melawan perkataan Neji. Sebab, dia juga berpikir bahwa masa lalu Sakura sebaiknya hanya sedikit orang saja yang tahu. Cukup dirinya, kakaknya dan juga suaminya. "Aku mengerti."
.
.
.
Tempat ini nampak tak asing lagi bagi kedua mata emerald milik wanita berambut cherry ini. Sebuah danau luas dengan gradasi warna hijau dan biru yang sekelilingnya di tutupi dengan pepohonan menjulang tinggi yang daunnya sangat lebat. Sehingga membuat udara di tempat ini menjadi lembab dan basah. Bau tanah ketika di basahi oleh air hujan sangat kental terasa di indra penciuman wanita bernama sama dengan bunga sakura ini.
Kedua kaki mungilnya yang ditutupi dengan flat shoes warna hitam menginjak pelan rerumputan yang tebal dan juga basah. Kedua kakinya sedikit terasa dingin sebab kini tubuh Sakura di balut dengan dress putih pendek di atas lutut dengan pola baju yang simple. Hanya sebuah drees tak berlengan dengan kerutan saja di sekitar pinggang dan pita besar di bagian pingganggnya.
Bibir tipis yang dilapisi dengan lipgloss strawberry itu menyunggingkan sebuah senyuman. Kedua mata emeraldnya nampak berkilau tertimpa sinar matahari yang terpantul terlebih dahulu ke atas permukaan air danau yang jernih. Kedua mata itu nampak bahagia dan hidup.
Sakura, nama gadis itu berhenti berjalan ketika sudah dekat di tepi danau. Dia merentangkan kedua tangannya ke samping dan kedua manya tertutup sempurna. Senyuman di bibir tipisnya belum lenyap sama sekali.
Dari balik pohon sepasang mata jade melihat sosok Sakura dengan penuh perasaan. Dia berjalan mendekat dengan hati-hati berharap tak menimbulkan suara apapun yang akan pasti terdengar oleh sang gadis. Di dekapnya tubuh mungil sang gadis dengan erat ketika sudah berada tepat di belakangnya. Dagu pemuda yang memiliki sepasang mata jade itu bertumpu pada bahu kanan sang gadis. "Kau senang berada di sini?" tanyanya dan ikut menutup mata.
Kedua mata gadis itu terbuka dan melirik wajah pemuda yang berada tepat di samping wajahnya. Pipi gadis itu merona merah melihat wajah tampan pemuda itu. Dan dia menurunkan kedua tangannya untuk menggenggam tangan yang melingkar di pinggangnya. "Gaara?"
"Hmmm?"
"…"
"Tidak jadi," ucap Sakura dan mengalihkan wajahnya ke arah kiri. Pokoknya ke arah mana saja agar jangan sampai melihat wajah pemuda itu. Dan juga agar memberhentikan degup jantungnya kini dan rona merah yang menjalar di sekitar wajahnya sendiri.
"Kau tahu Sakura mengapa aku selalu datang di mimpimu?"
Sakura menggelengkan kepalanya pelan.
Kedua mata pemuda berambut merah itu terbuka perlahan dan memandang bentangan danau luas di depannya. "Karena kau membutuhkan aku. Dan aku pun membutuhkanmu."
"Mengapa begitu?"
"Karena aku tidak akan pernah bisa muncul di dalam mimpimu jika di dalam hatimu sendiri tak menginginkan aku ada."
Sakura tertegun mendengar alasan yang keluar dari bibir pemuda bermata panda yang tengah memeluknya erat dari belakang sekarang ini. Di dalam hatinya gadis itu bertanya. Benarkah jika hatinya selama ini belum bisa melepas kepergian pemuda ini? Dan benarkah jika hatinya yang menginginkan jika pemuda itu harus ada di setiap mimpinya? Gadis itu tak mengenal hati dan pikirannya sendiri.
"Apa kau sedang berpikir mengapa hatimu menginginkan aku selalu ada untukmu, Sakura?"
"A-aku…"
"Kuberi semua jawaban pertanyaan di dalam pikiranmu."
"Ta-tapi…"
"Hatimu masih belum bisa melepas kepergianku karena kau membutuhkan aku selalu ada di sisimu, untuk melindungi hatimu sendiri." Gaara menyela ucapan Sakura.
"Gaara.. kau…"
"Hatimu menginginkan aku untuk selalu ada di setiap mimpimu karena kau…"
Sakura menggigit bibir bawahnya sampai memerah.
"Mencintaiku.." ucap Gaara.
"Gaara…"
"Semua jawabanku benar 'kan, Sakura?"
"…"
"Kau diam berarti…"
"Aku…" ucap Sakura. Hanya satu kata yang keluar dari bibir mungilnya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan lebih dari satu kata. Atau mungkin lidahnya kelu karena dia tak bisa menyangkal semua jawaban pemuda itu. Bahwa memang benar jika hatinya sudah terikat dengan hati pemuda itu. Sejak dulu. Sejak mereka berdua di besarkan di panti asuhan yang sama.
Kedua mata jade pemuda itu memandang sepasang mata emerald indah di sampingnya. Sedetik kemudian dia tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Sakura. Bibir pemuda itu menyapu pelan dari pipi kanan Sakura sampai pada ujung bibirnya dia tiba-tiba berhenti. Sebelah tangan pemuda itu terangkat pada sisi wajah Sakura sebelah kiri. Menggerakannya ke kanan dengan pelan, agar bibir pemuda itu mengecup sepenuhnya bibir tipis Sakura.
Menekan dengan pelan dan lembut yang di lakukan oleh pemuda itu ketika bibirnya bersentuhan sepenuhnya dengan bibir Sakura.
Sakura memejamkan kedua matanya perlahan dan menikmati sentuhan hangat dan lembut yang diterima bibirnya. Dan dia membalas ciuman dari pemuda berambut merah itu dengan tak kalah lembut.
Krek! Bunyi ranting patah karena seperti ada yang menginjaknya telah membuat Sakura maupun Gaara menghentikan ciuman manis mereka. Kedua mata jade itu memandang tajam dan dingin sosok yang berada tak jauh di depannya. Sedangkan kedua mata emerald itu memandang sayu dan bingung pada sosok yang berada tak jauh di depannya.
"Sa-sasuke?"
"Hn." Sosok itu adalah seorang pemuda berambut emo dengan pancaran tatapan dingin, mengintimidasi, dan cemburu sekaligus.
Tsudzuku
.
.
Balasan Review :
_Uchia : Benarkah?
Letak kesamaan'y berada di mana? Apakah 'persis' sama dr mulai alur, pembagian chara, sifat chara, deskripsi mngenai setiap tkh dan hal lainnya? Jika memang iya, sangat, sangat sama. Dari chap awal q publish sampai chap skrg? Maka, pst akan lngsng q rubah secr keseluruan atau kmngknan yg lain akan q delete lngsng. Karena q ga mau di sangka jd seorang plagiat.^^
Dan q ucapin mksh bngt krn dh ngash tau dan negur letak kesalahannya mngenai ficku ini. ^^.
Bersediakah me-review lagi ficku ini jk memang akan q terskan?(^_^)
_Maya : Makasih ats pujiaanya.*_*. Nie dh di update. Wanna review again?
_Me : Ok. Nie dh di update scpt mngkn stlh q UN. Chap kali ini krng lbh 5 rb word(hanya crt'y). apakah msh blm pnjng? Review?
_Sky pea-chan : Nie dh di update, yo^^. Review?
_UchihaKeyRaSHINee : *namamu susah di ketik*giles*hahahah. Gomen, yo^^.
Ok, nie dah di update. Iya, q jg sambil nangis ngetik masa lalu GaaSaku~.~.
Review?
_Miikodesu : Hehehhehe. Iya, q jg sdh bngt krn Gaara pd akhrnya hrs mati.
Yupz, bsa di bilang Sasuke ningglin Sakura krn Gaara. Di sini dh sdkt terkuak kan knp Sasuke ninggalin Sakura gitu z^^. Hmmm.. sbnrnya Sasuke ga terllau mengenal baik Gaara. Dia hanya skdr tau jika dy sahabat dn kakak bg Sakura. Jd, dy msh ga ykn jk Gaara da prsaan ma Sakura. Gitu. Bingung, ya? Hahahah. Review?
_Sheila Masumi : Salam kenal jg^^.
Syukurlah klu angst'y kerasa. Yupz, lmyn pnjng sebab blm ke inti utama critanya..bru awal dr maslh itu sendiri.
Hohoho… lbh bgs dr sinetron? Mksh atas pujiannya^^. Ok, dn nie chapter ke 7 nya. Moga suka dan ga mengecewkn km, ya!^^.
Jika tak kebertan bersediakah untuk mereview lg?
Miko-chan note's :
Halloo.. semuanya. Gimana kbr'y? mudh2an baik2 z, ya!
Ok. Ini dy chap ke-7 di fic Sacrifice. Smoga tak mengecewakan readers semua. Masih adakah typo? Klu msh, maklumin z, ya. Soal'y ga prnh q edit lg, di tmbh q update fic ini lewat hp-ku tersayang bkn dngan computer.^^
Mmmm… scr pribadi kpd author yg katanya fic-nya sma dngn fic Sacrifice ini, kesamaan dr tema mngambil 'cinta lama dan baru'. Q jg blm tau pasti, krn q blm liat fic author trsbut. Hahahha.
Ah, tp ttp z q jd ga enak. Krn itu q mohon maaf, ya!^^
Tp, q brni jamin koq, jk q sama skli tak meniru ficmu. Alasanya krn Q GaaSaku lover's loch. Jd,ya, tau kan mksdku*maaf jk da yg tersnggung*Hohohoho.
Kesamaan yg tdk di sengaja sama sekali.
.
.
Ok. Slnjtnya q mau mngatakn jk mngkn ending dr fic nie akan sdkit lama. Bsa lbh dr 10 chapter. Tp mudah2an z nggak, ya! Klu kebanyakan tkt'y readers jd pd bosen..hehehhe.
Krn itu ttp mngikuti fic nie, ya!
Nb : Baca jg fic ku yg Obsession.
.
.
Minna, domo arigato^^
.
.
Sweetgreetings
Miko-chan
.
.
Review
