Previous Chapter
"Terima kasih, Karin. Karenamu aku bisa merasakan apa itu cinta, dan juga rasa sakit."
"Dan karena itu pula, aku akan berusaha melupakanmu."
.
.
"Ma-maafkan aku… Sakura… Sasuke. Maafkan ka-karena keegoisanku ka-kalian jadi menderita dan… terpisahkan."
"Maaf…"
.
.
.
"Kenapa kau malah membela lelaki itu, Sakura? Kenapa kau tidak percaya padaku?"
"Rahasiakan mengenai masa lalu Sakura dari yang lainnya…"
"Ta-tapi…"
"Termasuk Sasuke."
.
.
.
"Kau tahu Sakura mengapa aku selalu datang dalam mimpimu?"
"Karena aku tidak akan pernah bisa muncul di dalam mimpimu jika di dalam hatimu sendiri tak menginginkan aku ada."
"Hatimu menginginkan aku untuk selalu ada di setiap mimpimu karena kau…"
"…mencintaiku."
"Sa-sasuke?"
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
Sacrifice©Tsukiyomi Kumiko
Genre : Angst/Romance/Hurt/Comfort
Rated : T+
Main Pair (s) : SasuSaku and GaaSaku
Warning : OOC, AU, Typo's, GaJe
Beta-ed by Andromeda no Rei
.
.
Enjoy This Chapter
And
Give Me Review
.
.
.
.
Pemuda berambut emo itu beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, berusaha membuat pandangannya menjadi jelas. Dan selang beberapa detik setelah penglihatannya membaik, yang pertama diterima oleh kedua retina matanya adalah figur dirinya namun terlihat lebih dewasa dibandingkan dirinya yang sekarang. Sasuke segera menghela nafas lega karena dia berada di ruang rawat kakaknya, bukan di tempat asing yang baru saja dia lihat.
"Aku bermimpi tapi seperti nyata," gumam Sasuke sambil memijat pelan pelipisnya. Jika diingat-ingat kembali, dia melihat Sakura dengan Gaara di dalam mimpinya. Kenapa? Kenapa harus di dalam mimpi dia bertemu dengan laki-laki berambut merah itu? Kenapa tidak dalam dunia nyata saja? Jika dia bertemu dengannya di dunia nyata maka sudah dipastikan laki-laki itu akan babak belur kembali di tangannya karena sudah berani menyentuh Sakura-nya.
"Sasuke…?" lirih seseorang yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kedua mata onyx yang selalu tampak lebih tedunh dari Sasuke terbuka dengan perlahan.
"Kakak sudah sadar?"
"Aku—apa yang terjadi?"
"Jangan pikirkan hal itu sekarang. Lebih baik Kakak istirahat saja. Akan kupanggilkan dokter dulu." Sasuke segera bangkit dengan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya.
Akhirnya, Itachi sudah sadar semenjak di operasi dua hari yang lalu.
Itachi yang masih kebingungan berusaha untuk bangkit berdiri. Namun baru saja dia menggerakan kedua tangannya, rasa sakit dan ngilu segera menyerang bagian seluruh badannya. Terutama di bagian kepala yang serasa ditekan keras dan dipukul-pukul. Tak mau rasa sakit itu bertambah akhirnya Itachi kembali berbaring dan membuka tabung oksigen yang menutupi mulutnya. Dia merasa sudah bisa menghirup udara tanpa harus ada bantuan tabung oksigen itu. Dia mengingat mengapa dia sampai bisa berada di sini. Dan Itachi merutuki dirinya sendiri karena sudah ceroboh mengemudikan mobilnya.
Salahkanlah mobilnya karena rem dari mobil itu rusak sehingga sewaktu jalanan menurun mobilnya melesat turun begitu saja dan Itachi tak bisa berbuat apa-apa ketika ada orang yang melintas di depan mobilnya, membuat dia harus banting stir dan berakhir naas dengan keluar dari jalur—menubruk trotoar dan pembatas jalan dan terakhir mobilnya berhenti setelah menabrak sebuah pohon besar. Bisa dipastikan jika mobilnya sekarang rusak parah, dan dia bersyukur masih bisa selamat walaupun dengan luka seperti ini.
"Kau sudah baikan, Itachi?" tanya Sasori yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Itachi dengan sebuah senyuman lega terlukis di bibirnya. Mengambil tempat tepat di mana Sasuke tadi duduk, namun kali ini Sasori lebih memilih berdiri. Dia mengeluarkan sebuah senter kecil dan langsung menyalakannya dan menyorotkan cahaya dari senter itu kepada kedua mata Itachi. Memeriksa apakah Itachi sudah benar-benar sadar sepenuhnya dari alam bawah sadarnya atau tidak.
"Berapa hari aku tak sadarkan diri, Sasori?" tanya Itachi lemas.
"Tiga hari… dan berterima kasihlah nanti pada dokter yang menyelamatkan hidupmu di ruang operasi," jawab Sasori setelah menjauhkan senter kecilnya pada mata Itachi.
"Bukan kau yang mengoperasiku?" sebelah alis Itachi terangkat.
"Bukan. Tapi, rekanku yang lain. Jangan khawatir, kau berada di tangan yang tepat."
"Lalu kenapa kau yang memeriksaku sekarang?"
"Sementara ini tanggung jawab atas kesehatanmu diserahkan padaku. Karena dokter sebenarnya yang bertanggung jawab atas kesehatanmu sedang dalam keadaan tak baik."
"…"
"Syukurlah kalau kau banyak bertanya. Itu membuktikan kau sudah jauh lebih baik."
"Aa.."
Sasori tak banyak bicara lagi dan hanya memeriksa atau pun mengecek selang infus.
"Mana Sasuke?"
"Dia sedang menelpon keluargamu. Baiklah, istrihat yang banyak dan jangan dulu banyak bergerak."
"Aa.."
"Aku pergi dulu karena harus mengecek sesuatu."
Tanpa menunggu jawaban dari Itachi, Sasori segera keluar ruangan. Ia berpapasan dengan Sasuke yang baru saja selesai menelpon dan sedang berjalan kembali ke kamar rawat Itachi.
"Bagaimana?" tanya Sasuke dan berwajah cemas.
"Kalian semua bisa bernapas lega. Dia sudah jauh lebih membaik. Tapi, pastikanlah dia istirahat penuh dan jangan terlalu banyak bergerak," ucap Sasori sembari tersenyum tipis. Sekilas pria baby face itu menepuk pelan lengan kanan Sasuke sebelum benar-benar pergi dari hadapan Sasuke.
Sasuke sekali lagi bernapas lega dengan mengelus dadanya. Tanpa buang-buang waktu segara saja dia masuk kembali ke dalam ruangan kamar Itachi, menunggu ayah dan ibunya datang.
"Sasuke… bagaimana keadaanmu?" tanya Itachi dengan sebuah senyum lembut ketika melihat sosok Sasuke masuk ke dalam kamar rawatnya.
"Hn. Baik."
"…"
"…"
"Ayah dan ibu sedang dalam perjalan kemari," ucap Sasuke membuka pembicaraan dengan canggung. Jujur ini pertama kalinya dia berbicara terlebih dahulu karena sebelumnya dia tak pernah seperti ini. Dia hanya bicara jika ditanya oleh kakaknya.
Di dalam hati Itachi merasa lega dan juga bersyukur jika Sasuke sedikit ada perubahan. Namun dia sedikit penasaran siapa yang sudah membuat Sasuke kembali berubah selain kekasihnya dulu. Atau orang itu sama dengan yang merubah Sasuke sekarang.
"Kau tahu siapa nama dokter yang sudah menyelamatkanku?" tanya Itachi.
"Hn. Sa-Sakura Haruno." Sasuke menjawabnya dengan agak canggung dan juga menahan malu.
"Sakura? Apa dia itu—"
"Hn. Kau pernah melihat fotonya."
"Aa…" Itachi menganggukan kepala dan mengingat-ingat sosok seorang gadis di dalam sebuah foto yang pernah di tunjukan Sasuke padanya. Sosok seorang gadis manis dengan wajah berbingkai rambut merah muda dan sepasang kedua mata emerald besar yang cantik.
"Dia berhasil menjadi dokter di rumah sakit besar rupanya," komentar Itachi dan tersenyum bangga. Tentu saja, mana ada seorang kakak yang tidak bangga jika calon adik iparnya—ralat, mantan calon adik iparnya—sudah sukses menempuh karirnya.
"Hn."
"Sekarang dia di mana? Kata Sasori jika dia dalam keadaan tidak baik? Benarkah, Sasuke?"
"Hn. Dia sedang di rawat di lantai 7 rumah sakit ini juga. Di ujung koridor dari kamar rawat kakak," jawab Sasuke.
"Kenapa bisa?"
"Ceritanya sangat panjang. Dan sebaiknya kakak istirahat saja."
Berbarengan dengan ucapan Sasuke, Fugaku dan Mikoto menerobos masuk kamar itu. Mikoto langsung menghambur memeluk Itachi dengan sedikit terisak. Sedangkan Fugaku berdiri di samping Sasuke dengan raut wajah lega dan bahagia.
"Hiks.. hiks.. Itachi… Syukurlah kau sudah sadar."
"Aa.. bagaimana keadaan ibu?"
Mikoto menggelengkan kepalanya di bahu Itachi. "Tak perlu mengkhawatirkan Ibu. Keadaanmu jauh lebih penting, Nak," ucapnya di tengah isak tangis.
"Ngomong-ngomong Ayah dan Ibu cepat sekali datangnya," ucap Itachi ketika sudah melepaskan pelukannya pada Mikoto.
"Sebenarnya kami memang sedang dalam perjalan kemari. Pada saat Sasuke menelepon dan memberitahu keadaanmu, kami sudah sampai di lobi rumah sakit ini," jawab Mikoto dan mengelus belakang rambut Itachi dengan pelan dan lembut.
"Maaf sudah menyusahkan Ayah dan Ibu," ucap Itachi.
"Tidak. Ini sudah kewajiban kami sebagai orang tuamu, Nak," jawab Mikoto dan tersenyum lembut.
"Aa.." Fugaku mengiyakan ucapan istrinya.
"Ayah.. Ibu.. terima kasih," Ucap Itachi.
##Sacrifice##
Satu minggu kemudian
Rumah Sakit Konoha
10.00 p.m
"Pagi, Dokter Sakura!" sapa beberapa orang ketika berpapasan dengan seorang gadis berambut merah muda dengan senyuman ramah.
Gadis yang disapa itu membalasnya dengan senyuman cerianya. Sakura, nama gadis itu menghela napas senang karena mulai hari ini dirinya akan kembali bertugas setelah menjadi pasien di rumah sakit ini. Kini dokter muda itu sudah sepenuhnya sembuh dan siap untuk menjalankan tugasnya menjadi seorang dokter.
Dan ini adalah hari pertama ia akan bertemu dengan salah satu pasien yang baru saja dioperasi olehnya. Setidaknya dia harus menyiapkan mental untuk bertemu dengan pasien itu karena hari ini dia akan bertemu dengan keluarga Uchiha. Jujur saja, sebenarnya dia tak ingin berurusan dengan keluarga itu lagi karena hatinya selalu terasa sakit jika mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan keluarga terpandang itu.
Terlebih dia harus bertemu lagi dengan anak bungsu mereka. Orang yang sudah menyakiti hatinya sangat dalam sampai tak berujung. Kedua langkah kaki pendeknya menggema di sepanjang koridor kosong. Beberapa kali Sakura menghela napas berat dan mencoba untuk mengatur degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kencang.
Sakura menarik nafas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut berkali-kali ketika dirinya berhenti di sebuah pintu kamar rawat pasiennya. Dengan mantap Sakura mendorong knop pintu itu ke dalam dan mencoba tersenyum ketika kedua mata emeraldnya melihat Nyonya Uchiha berdiri dari duduknya ketika melihat gadis itu masuk.
Dan Sakura langsung menahan napasnya ketika kedua mata onyx Sasuke menatapnya. "Pagi," sapa Sakura mencoba untuk menutupi rasa gugupnya dan berjalan pelan mendekati Mikoto.
"Pagi, Sakura!" Balas Mikoto dan langsung mencium pipi Sakura dan juga memeluknya sekilas disertai sebuah senyuman keibuan.
Sakura yang melihatnya tersenyum lebar dan kini tubuhnya sedikit miring ke kiri untuk melihat Sasuke setelah mengganti raut wajahnya untuk lebih tak berekspresi dan terkesan dingin. "Pagi…" sapanya tanpa menyebutkan nama Sasuke.
"Hn." Sasuke sedikit menautkan kedua alisnya bingung mendengar nada bicara Sakura yang formal padanya dan terkesan sangat dingin.
"Bagaiaman keadaanmu?" tanya Sakura dan berjalan mendekati sosok Itachi yang tengah duduk tanpa ekspresi.
"Baik."
"Aku akan memeriksa keadaanmu sebentar. Berbaringlah," ucap Sakura dan membantu Itachi untuk berbaring dengan menaruh tangan kanannya di punggung Itachi dan sebelah tangannya yang lain berada di dada Itachi.
Sementara Sakura sibuk memeriksa keadaan Itachi, kedua mata onyx milik Sasuke terus mengamatinya dalam diam. Kedua tangannya sedikit mengepal karena perlakuan Sakura barusan padanya. Dia marah, kesal, dan juga kecewa. Apa Sakura masih belum memaafkan kesalahannya sepenuhnya? Lalu apa arti dari kejadian sewaktu dirinya terbaring lemah di atas ranjang? Apa arti dari ciuman yang mereka lakukan?
"Syukurlah… Kau sudah jauh lebih baik," ucap Sakura membuat pikiran Sasuke terhenti.
"Hn."
"Kira-kira kapan dia bisa pulang?" Tanya Mikoto.
"Satu minggu lagi ketika hasil lab mengenai kesehatannya lebih lanjut sudah keluar," jawab Sakura dengan sebuah senyum lembut.
"Terima kasih banyak atas apa yang kau lakukan untuknya, Sakura," ucap Mikoto dan membelai sisi wajah Sakura.
"Sama-sama, Bu," balas Sakura.
Itachi maupun Sasuke sedikit terkejut dengan panggilan Sakura untuk ibu mereka.
"Baiklah. Masih ada hal yang harus kulakukan. Permisi," ucap Sakura dan sekilas menundukan kepalanya. Sebelum benar-benar keluar Sakura sekilas menepuk-nepuk kaki Itachi dibalik selimut.
"Kau akan segera pulang. Syukurlah," ucap Mikoto dan mengusap-ngusap rambut Itachi.
"Hn."
"Ibu… ada urusan yang harus kuselesaikan. Aku akan kembali sore nanti," ucap Sasuke tiba-tiba dan langsung keluar setelah dapat anggukan kepala dari Mikoto.
"Kira-kira Sasuke pergi kemana, ya?" Tanya Itachi.
"Pergi kemana lagi selain ke Sakura," jawab Mikoto dan sedikit terkekeh kecil.
"Benarkah?"
"Huummm…"
"Ibu?" Tanya Itachi dan memandang wajah Mikoto dengan mimik penasaran.
"Apa?"
"Bisa ceritakan apa yang terjadi antara Sasuke dan Sakura sebelum dia memutuskan untuk ikut bersamaku tinggal di Amerika?"
Mikoto langsung terdiam. Terdengar sebuah helaan napas berat. "Akan kuceritakan semuanya padamu."
.
.
.
.
.
.
Sasuke mengamati kemana langkah Sakura dari jarak yang cukup jauh namun masih bisa dijangkau oleh penglihatannya. Di dalam hatinya mulai bertanya-tanya kemana Sakura akan pergi setelah dirinya izin keluar khusus untuk hari ini. Sasuke berpikir apakah hari ini ada yang special sampai-sampai Sakura meminta untuk mengakhiri tugasnya sebagai dokter di rumah sakit.
Beberapa kali Sasuke pikirkan pun dia tak menemukan jawaban. Maka dengan memantapkan hatinya, Sasuke berniat untuk mengikuti Sakura kemana pun dia pergi. Masa bodoh dengan istilah stalker yang selalu dibilang perbuatan yang agak tidak baik. Perlu di tekankan pada kata 'agak'.
Sasuke mengerling jam tangan yang dipakainya di tangan kanan. Dan ketika Sasuke ingin berniat memperhatikan sosok Sakura lagi dia sedikit kelabakan karena sosok Sakura sudah tak terlihat lagi oleh penglihatannya. Dengan cepat dia berlari sambil menengokan kepalanya kekiri dan kekanan. Dan tepat ketika dia akan berbelok, sosok Sakura tengah berdiri di depan pintu elevator. Sasuke segera menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok sambil memperhatikan pergerakan yang dilakukan Sakura.
Kedua mata onyxnya melihat jika Sakura menekan tombol turun pada tombol elevator itu. Entah ke lantai berapa Sasuke tidak tahu sama sekali, tetapi perkiraannya adalah pasti lantai dasar—tempat parkir mobil.
Setelah Sakura masuk ke dalam elevator yang kosong, Sasuke segera melesat menuju elevator lain yang ada di sampingnya. Menekan tombol turun dengan gusar dan tak sabaran beberapa kali memencet kembali tombolnya.
Ting! Tanpa buang-buang waktu lagi Sasuke segera masuk dan menekan tombol nomor 0 untuk menuju lantai dasar. Di dalam hati dia sedikit berharap jika lift yang dinaiki Sakura agak berjalan lambat meskipun hal itu tidak mungkin terjadi.
##Sacrifice##
Kini Sasuke sudah berada di dalam mobil Volvo coklat miliknya. Kedua matanya tak lepas memperhatikan sebuah mobil BMW hitam yang tak jauh berada di depannya. Sebisa mungkin kecepatan mobilnya di perlambat agar tak sampai mendahului mobil yang telah diikutinya selama kurang lebih tiga puluh menit lalu.
Asal tahu saja jika Sasuke sudah akan menyerah untuk mengikuti Sakura karena saking tak sabarnya ingin melihat kemana tujuan Sakura pergi.
Tempat pertama tujuan Sakura setelah keluar dari rumah sakit adalah rumahnya, dan Sakura mengganti pakaiannya dengan serba hitam. Mulai dari atasan kaos polos berlengan panjang dan bawahan celana panjang yang juga berwarna hitam. Belum lagi kedua mata gioknya dilapisi dengan sebuah kaca mata hitam juga.
Tempat kedua adalah sebuah restaurant sushi yang Sasuke ingat jika Sakura alergi dengan makanan laut. Lalu untuk apa Sakura membeli makanan yang tidak disukainya? Terlebih bukan hanya satu kotak saja, melainkan sepuluh kotak makanan laut lainnya.
Tempat ketiga adalah lagi-lagi sebuah restaurant. Namun, kali ini restaurant yang menyediakan makanan yang berbau dengan panggang-memanggang. Nah, makanan yang seperti ini memang sangat Sakura sukai sejak duduk di bangku SMA. Tapi, melihat dua kantung kresek putih besar di kedua tangannya mana mungkin akan dihabiskan sendiri. Sasuke sangat paham dengan sifat Sakura yang tak mau makan banyak karena takut tubuhnya tertimbun oleh gumpalan lemak. Jadi, sudah jelas makanan itu bukan untuk dimakan sendiri.
Tempat keempat adalah toko bunga. Sasuke tahu jika Sakura sangat menyukai bunga, terlebih bunga mawar putih. Tapi, kedua mata onyxnya melihat jika Sakura keluar dari toko bunga itu dengan sebuket mawar merah di tangannya. Sejak kapan Sakura menyukai mawar merah bukannya mawar putih?
Dan tempat selanjutnya membuat Sasuke semakin tidak mengerti. Dia turun dari mobilnya dan melihat mobil Sakura sudah terparkir di depan sebuah bangunan yang terlihat sudah tua namun masih sangat kokoh. Sasuke melihat papan panjang yang besar yang tergantung diatas pintu gerbang.
"Hn. Panti Asuhan Bunga Mawar," gumamnya dan melepaskan kaca mata berframe biru muda dan menaruhnya di dalam saku jas hitam yang dikenakannya.
Sasuke yang semakin penasaran untuk apa Sakura datang ke tempat ini melanjutkan langkahnya mendekati pintu gerbang yang terbuka sedikit itu. Dia meliat bahwa sosok Sakura tengah dikelilingi oleh belasan anak-anak, baik sudah terlihat dewasa maupun masih kecil.
Raut wajah Sakura saat itu terlihat sangat tenang, tak ada beban dan tersenyum bahagia. Diam-diam Sasuke ikut tersenyum tipis melihatnya. Di dalam ingatannya sudah berapa lama dia tak melihat senyum polos Sakura seperti sekarang ini.
.
.
.
.
.
.
"Kakak bersama siapa datang ke sini?" Tanya seorang anak laki-laki berambut ungu dengan kedua bola mata sehitam mutiara—kira-kira berumur 8 tahun—pada Sakura yang dari tadi tersenyum lembut pada semuanya.
"Kakak bawa apa?" Tanya seorang anak lagi.
"Mana oleh-oleh buatku?"
"Mana makanan yang kakak janjikan akan diberikan pada kami?"
"Kapan kakak akan mengajakku jalan-jalan?"
"Anak-anak! Jika kakak kalian diberi pertanyaan sekaligus seperti itu mana bisa dia menjawabnya. Lagi pula tidak sopan bertanya seperti itu kalau kakak kalian tidak dibiarkan masuk," nasihat seorang wanita paruh baya berambut ikal hitam dan mengelus kepala salah satu anak yang mengerubungi Sakura.
"Tidak apa-apa, Bibi Kurenai," jawab Sakura.
"Nah, ayo bawa kak Sakura masuk!" perintah Kurenai dan menepuk-nepuk kedua tangannya pelan. Isyarat agar perintahnya dipatuhi oleh anak-anak asuhannya.
Sakura sedikit kewalahan melandeni anak-anak panti asuhan yang kini menyeret kedua tangannya untuk segera masuk ke dalam rumah mereka. "Pelan-pelan! Kakak bisa terjatuh," gumamnya namun tak ada niat sedikitpun untuk anak-anak itu berhenti menarik tangan Sakura.
Sedangkan Kurenai yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum maklum. Dia berjalan hendak menutup pintu gerbang itu ketika dia merasakan ada orang yang sedang berdiri bersembunyi di dekat gerbang. Kurenai kembali tersenyum dan memilih untuk masuk ke dalam rumah tanpa niat untuk menutup kembali pintu gerbangnya. "Ternyata kau bawa teman, ya, Sakura," batinnya.
Sasuke mengelus dadanya dan mengela napas lega karena sosoknya tak dilihat oleh wanita berambut hitam itu. Dia memutuskan untuk melihat Sakura lebih dekat ketika ada sebuah getaran di saku celananya. Dengan sebal Sasuke merogoh sakunya dan melihat layar handphone-nya yang berkedip-kedip menandakan ada sebuah panggilan.
"Nomor baru lagi," batin Sasuke namun diangkatnya juga panggilan itu.
'Hallo?' sapa orang disebrang handphone Sasuke.
"Hn." Sasuke menjawabnya dan setelahnya menaikan sebelah alisnya bingung dengan siapa dia bicara.
'Kau Sasuke?'
"Hn. Siapa ini?"
'Naruto. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sudah ada di Jepang, benarkah?'
"Hn. Baik. Iya, aku sudah ada di Jepang. Kau sendiri?"
'Hah?' Tanya Naruto agak bingung dengan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Kabarmu?" Sasuke meluruskan pertanyaannya.
'Oh, kabarku baik-baik saja. Hey! Kenapa kau tidak kabari aku jika sudah pulang kembali?'
"Hn. Aku sibuk."
'Begitu. Nggg~kau ada waktu?'
"Kapan?"
'Malam nanti. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa?'
"Hn. Baiklah."
'Jam 8 di restaurant ramen dekat stasiun phoenix. Kau tahu tempat itu, 'kan?'
"Hn."
'Baiklah. Sampai bertemu nanti, Sasuke-teme,' ucap Naruto dan diakhiri dengan tawa.
Mau tak mau Sasuke yang mendengar panggilan untuknya dari Naruto sewaktu di SMA dulu ikut tersenyum tipis. "Sampai bertemu nanti, Naruto-dobe," balasnya. Dan dapat terdengar suara gelak tawa dari Naruto di sebrang teleponnya sebelum mereka berdua benar-benar memutuskan sambungan telepon.
Sasuke memasukan kembali handphone miliknya ke dalam saku celana panjang hitamnya dan akan segera berbalik untuk masuk ke dalam gerbang. Namun, gerakannya langsung terhenti dan secepat mungkin Sasuke berlari dan bersembunyi di belakang mobilnya.
Kenapa Sasuke bersembunyi seperti maling seperti itu? Karena rupanya sosok Sakura dan beberapa anak yang sudah agak dewasa keluar dari pintu rumah dan berjalan sambil tertawa menuju gerbang.
Sasuke melihat jika Sakura membuka pintu mobil penumpang dan mengambil beberapa kantung plastik yang Sasuke yakin jika itu adalah makanan yang Sakura beli tadi kepada anak-anak itu. Dan dengan riangnya anak-anak itu berlarian memasuki rumah mereka kembali dengan masing-masing anak membawa bungkusan. Sosok Sakura sudah berjalan kembali menuju gerbang dan Sasuke segera keluar dari tempat persembunyiannya. Namun, lagi-lagi Sasuke harus kembali menuju tempat persembunyian ketika tiba-tiba saja Sakura membalikan badannya dan melihat mobilnya.
Sasuke mengintip sedikit dan melihat jika sosok Sakura kembali berjalan masuk. Dia kembali menghela napas lega. "Hampir saja," batinnya.
##Sacrifice##
Sakura POV
Jam sudah menunjukan pukul 2 siang ketika aku memasuki mobilku dan pergi meninggalkan panti asuhan setelah berpamitan dengan anak-anak panti. Panti asuhan yang baru saja kudatangi adalah panti asuhan yang dulu aku tinggalkan bersama Gaara. Tentu saja aku berani kembali karena pendiri panti asuhan—yang sering memukuliku juga Gaara dan anak-anak lain—sudah meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Wanita gila itu memang pantas mendapatkannya. Wanita itu sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ternyata hukum karma itu masih ada.
Aku tersenyum miris ketika memikirkan hal yang terjadi beberapa tahun silam. Kejadian menyedihkan yang membuatku pernah berpikiran untuk mengakhiri hidupku sendiri. Tak dapat aku tahan lagi kini air mata membasahi kedua pipiku dengan deras. Pandanganku menjadi buram dan dengan terpaksa aku menepikan mobilku sebentar di pinggir jalan.
Kedua tanganku mencengkram erat stir kemudi sampai kesemua kuku jariku memutih. Dahiku menyender pada stir kemudi dan tetes demi tetes air mataku mulai berjatuhan. Ingatan kejadian itu kembali berputar di dalam kepalaku. Kejadian yang membuat hidupku sangat menderita dan membuat hatiku hancur berkeping-keping. Dua laki-laki yang kusayangi pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku memegang bagian dadaku yang terasa sakit walaupun tak terluka secara fisik. Yang terluka adalah perasaanku; yang tersiksa adalah batinku. Tidak mudah untuk menyembuhkan keduanya. Dan tidak akan sembuh walaupun satu laki-laki yang kusayangi kembali. Sebesar apapun ku berharap; sekuat apapun ku meminta. Gaara tidak akan kembali lagi ke kehidupanku saat ini.
Adakah yang dapat mengobati luka di hatiku?
Adakah yang dapat membuat Gaara hidup kembali?
Adakah yang dapat memahami apa yang aku rasakan?
Adakah yang dapat mengetahui apa yang kuinginkan sekarang?
Aku mengangkat kepalaku dan menatap buket mawar yang tertidur di sampingku. Ku meraihnya dan mencium wangi alami yang dikeluarkan oleh bunga ini. Mawar merah. Bunga yang sangat disukai oleh Gaara karena warnanya sama dengan warna rambutnya.
Ku tersenyum lirih mengingat kejadian ketika Gaara memberiku sebuah boneka panda besar di saat aku marah karena Gaara sudah menghilangkan boneka teddy bear milikku. Sampai saat ini boneka pemberiaannya masih kusimpan dan kupeluk ketika aku ingin memeluk Gaara.
Sasuke.
Entah kenapa nama itu melintas saja di kelapaku saat ini. Dan sampai saat ini aku belum mengerti alasan kenapa dia kembali lagi ke kehidupanku. Bukannya dia sendiri yang bilang padaku dulu jika dia tidak akan pernah kembali ke kehidupanku dan akan melupakanku. Dia juga meminta jika aku tidak boleh menghubunginya dan mengganggu kehidupannya. Dan kata-kata yang membuat hatiku sakit adalah dia mengataiku pacar yang tidak setia. Huh! Atas bukti apa dia mengataiku seperti itu. Dan yang membuat hatiku lebih sakit adalah dia bilang membenciku dan berpacaran denganku hanya untuk main-main saja.
Dia jahat 'kan?
"Dia laki-laki yang tidak tahu diri."
Harusnya aku bilang seperti itu saat di rumah sakit. Harusnya aku tak membiarkannya menciumku.
Pesssshhhhh
Wajahku langsung berubah warna menjadi merah melebihi warna bunga di sampingku.
"Aku menginginkannya lagi," ucapku spontan sambil memegang bibirku.
Seakan tersadar dengan apa yang kuucapkan barusan aku segera menggelengkan kepalaku keras. Aku menghapus jejak air mata di kedua pipiku dengan punggung tangan. "Seharusnya aku menjambak rambut pantat ayamnya saat itu. Ugggghhhh!" geramku dan mulai kembali menjalankan mobilnya.
End Sakura POV
.
.
.
.
Sasuke menyerngitkan keningnya ketika melihat mobil Sakura tiba-tiba saja berhenti. "Hn. Apa yang sedang dilakukan oleh Sakura?" gumamnya yang juga ikut memberhentikan mobil. Ia menunggu dalam diam sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Dan ketika Sasuke kembali melihat ke depan, mobil Sakura mulai berjalan kembali.
Pemuda berambut pantat ayam itu segera kembali menjalankan mobilnya dan membuntuti mobil Sakura. Kedua mata onyxnya melihat jalanan yang mereka lalui. Sudah jarang terlihat rumah dan kendaraan yang lewat. Dan Sasuke mengenali ke mana jalan ini akan berakhir; perbatasan antara kota Konohagakure dengan Sunagakure.
Untuk apa Sakura pergi ke perbatasan dua Negara besar itu? Itulah yang ada di dalam benak Sasuke saat ini. Sasuke mulai menganalisa kira-kira tempat apa yang akan dituju oleh Sakura. Setahunya yang ada didekat perbatasan dua Negara itu adalah sebuah pemakaman umum. Dan dengan bukti Sakura memakai pakaian serba hitam memperkuat dugaan Sasuke jika Sakura benar-benar pergi untuk mengunjungi makam seseorang.
Siapa? Makam siapa yang akan dikunjungi oleh Sakura?
Sasuke memutuskan untuk ikut masuk ke pemakaman. Dan dia akan memaksa Sakura untuk menjelaskan semuanya.
"Aku ingin semuanya jelas di sini," ucap Sasuke dan mencengkram stir kemudi dengan erat. Setelah itu dia keluar dari dalam mobil dan mengikuti sosok Sakura yang sudah masuk terlebih dahulu ke pemakaman.
.
.
.
.
.
Sakura berdiri mematung di depan sebuah batu nissan yang bertuliskan nama laki-laki yang dia sayangi.
Rest in peace
Sabaku Gaara
Lahir tanggal : 1 Januari 19xx
Wafat tanggal : 23 Maret 20xx
Gadis manis berambut bubble gum itu meletakan buket mawar merah di depan batu nissan. Kedua matanya yang sewarna dengan permata zamrud mulai berkaca-kaca dan selang beberapa detik kemudian cairan bening itu keluar dari sudut-sudut matanya.
Sakura terisak pelan dengan kedua bahu yang gemetar. Dia mendekat pada batu nissan itu dan mengusap-usap bagian atasnya seakan dirinya tengah membelai sosok yang terbaring di bawahnya. "B-bagaimana kabarmu… Gaara?" tanyanya.
"Kabarku sedang tidak baik… hiks… hiks…" Sakura berkata seolah-olah Gaara menanyai kabarnya. "Apa kau tahu… hiks… bagaimana perasaanku sekarang?"
"…"
"Sasuke…" lirih Sakura.
Sasuke yang mendengar namanya disebut langsung memberhentikan kedua langkahnya. Dia melihat tak jauh di depannya Sakura tengah bersimpuh di depan sebuah pusara sambil terisak. "Makam siapa yang kau tangisi, Sakura?" gumamnya.
"Sasuke… dia sudah kembali. Ap-apa yang harus kulakukan untuk menghadapinya? Beritahu aku, Gaara! Beritahu aku! Hiks… hiks…"
"…"
"Kau tahu? Saat ini aku ingin sekali menangis di dalam pelukanmu. Aku membutuhkanmu di dunia ini lebih dari siapa pun… hiks… hiks…"
Deg! Sasuke mencengkram dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri ketika mendengar ucapan Sakura.
"Pinjami aku… kekuatanmu, Gaara… Bantu aku untuk menjalani semua ini…"
"Sakura!" ucap Sasuke sedikit berteriak.
Sakura berhenti terisak dan dengan perlahan memalingkan wajahnya menatap wajah Sasuke yang memerah padam. Karena apa Sakura juga tak tahu pasti. "Sa-su-ke…"
"Jelaskan!" ucap Sasuke dan berjalan mendekat pada Sakura.
Sakura menengadahkan kepalanya menatap wajah Sasuke yang berada di atasnya. "J-jelaskan?"
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Haruno Sakura." Sasuke langsung meraih kedua lengan Sakura dan menariknya bangun. Dia mengguncang-guncangkan kedua bahu Sakura dan mencengkram kedua bahunya erat—sangat erat.
Sakura mengerang sakit. "S-sakit… lepaskan aku, Sasuke!"
Sasuke segera melepaskan kedua lengan Sakura dan sedikit mendorongnya ke belakang. Dia sungguh merasa kesal dan terkhianati. Sasuke merasa jika apa yang dikatakan Karin mengenai Sakura yang juga mencintai Gaara adalah sebuah kenyataan.
Bruk! Duk! Sakura terdorong ke belakang dan karena kurang keseimbangan tubuhnya oleng ke kanan dan dahinya terantuk pada batu nissan Gaara. Sakura menggigit bibir bawahnya sampai berdarah dan juga menahan nyeri pada dahinya. Kini luka jahit Sakura di bagian dahi kembali terbuka dan mulai mengelurkan darah.
"Uchiha Sasuke?"
Sasuke menatap Sakura yang tengah tertunduk duduk di bawahnya.
"Kau—" Sakura menggantung ucapannya.
"…"
"—memang laki-laki yang tidak tahu diri dan gila."
Sasuke membelalakan kedua matanya dan terlihat jika kini kedua matanya berkilat marah—sangat marah. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Napasnya mulai memburu dan emosinya mulai muncul. "Haruno Sakura, berani sekali kau mengatakan hal itu setelah kau menusuk hatiku dari belakang."
"Bukan. Kau yang menusuk hatiku dari belakang." Sakura bangkit berdiri dan—
PLAKK
—langsung menampar keras pipi kiri Sasuke, membuat sudut bibirnya berdarah.
"KAU YANG MENGKHIANATIKU, BUKAN AKU!" teriak Sakura dan menampar sekali lagi pipi Sasuke namun kali ini yang sebelah kanan.
"Cih! Pandai sekali membalikkan fakta," hardik Sasuke dan hendak menampar pipi Sakura namun tangannya terhenti begitu saja ketika melihat mata Sakura yang benar-benar terliat rapuh. Bukan hanya itu Sasuke juga sedikit terkejut dengan ada darah yang mengalir di dahinya dan mengotori wajah putihnya yang bersih.
"Tampar saja! Ayo, tampar aku, UCHIHA SASUKE!"
Greepp! Bukannya melakukan apa yang Sakura ucapkan Sasuke malah langsung menarik tubuh Sakura ke dalam dekapannya. "Maafkan aku, Sakura," ucapnya lirih.
"Hikss… hiks… hatiku sakit saat kau bilang kau membenciku," ucap Sakura lirih tanpa membalas pelukan Sasuke.
"Ssttt!"
"Sebenarnya apa salahku padamu, Sasuke? Aku… sangat mencintaimu. Tetapi, kenapa kau meninggalkanku begitu saja?"
"Aku melihatmu dengannya tengah berciuman mesra. Saat itu aku pikir kau menjadi kekasihku hanya untuk main-main. Aku kecewa. Sangat kecewa padamu, Sakura."
"B-berciuman? Kau… melihatnya?"
Sasuke melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya. "Apa kau juga mencintainya, Sakura?"
"Gaara adalah perisaiku. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku memang mencintainya, tapi cintaku lebih besar dan dalam padamu, Sasuke."
"Lalu untuk apa kau membalas ciumannya waktu itu."
Sakura tersenyum getir. Air mata kembali mengalir dari kedua mata emeraldnya. "Itu karena permintaannya. Permintaan terakhir yang bisa aku lakukan untuknya."
"Permintaan terakhir?"
"Dia sakit, Sasuke. Gaara sakit parah dan aku tak bisa menolongnya. Yang bisa aku lakukan adalah hanya menuruti permintaan terakhirnya."
"Maksudmu Gaara sudah—"
"Gaara sudah meninggalkanku untuk selamanya," potong Sakura dan menuntun Sasuke untuk mendekati batu nissan Gaara.
Sasuke sangat shock melihat nama Gaara tertulis di batu nissan itu. Seketika kakinya terasa lemas dan duduk bersujud. "Sejak kapan?"
"Sejak lama, bahkan sebelum kau dengannya bertemu. Aku baru mengetahui jika Gaara sakit parah setelah lulus SMA. Dan penyakit kanker yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir."
Sasuke memandang batu nissan itu dengan kedua mata onyx yang berkaca-kaca. Dia melihat tanggal wafat Gaara. Ingatannya dipaksa untuk kembali ke masa lalu. Dia mengingat jika hari di mana dia meninggalkan Sakura dan pergi ke Amerika adalah sewaktu Sakura berulang tahun dan juga saat Gaara meninggal. Dirinya dan Gaara tanpa sengaja meninggalkan Sakura seorang diri. Kini, Sasuke merasakan bagaimana perasaan Sakura saat ini.
"Maafkan aku, Gaara," gumam Sasuke pelan.
Bruk!
Suara seperti orang terjatuh membuat Sasuke menoleh ke asal suara. Kedua mata onyxnya langsung saja membulat sempurna ketika melihat Sakuralah yang terjatuh. Tubuhnya terbaring begitu saja. Wajahnya sangat pucat.
"Sakura! Hei, bangunlah!" Sasuke menepuk-nepuk kedua pipi Sakura namun tak ada reaksi. Dengan segera dia membawa Sakura ke dalam gendongannya dan langsung berlari keluar dari pemakan ini.
Sasuke lebih memilih untuk memakai mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Dia sedikit merutuki daerah sepi ini. Pasalnya di dekat perbatasan ini tak ada rumah sakit. Dengan terpaksa Sasuke membawa Sakura kembali ke Konoha dan berharap jika tak terjadi apa-apa dengan Sakura. "Bertahanlah! Kumohon, Sakura!"
.
.
.
.
.
.
.
Sakura mengerjapkan kedua mayanya berkali-kali. Matanya sedikit silau karena tertimpa oleh sinar matahari. Dia bangkit duduk dari berbaringnya di bawah pohon sakura besar. Dia meneliti pakaian yang dikenakannya—sebuah dress hitam panjang semata kaki dengan potongan bagian atas yang terekspos jelas.
Menyerngit bingung dengan di mana dia sekarang, Sakura segera bangkit berdiri. Dia memandang ke sekelilingnya yang hanya hamparan rumput luas dan hijau. Angin sepoi-sepoi menggerakan gaunnya dan membuat mahkota merah mudanya bergerak pelan.
Kedua kaki telanjangnya mulai menapaki alas rumput yang tebal dan nyaman sekaligus membuatnya sedikit geli. Dia berjalan beberapa meter menjauhi pohon sakura itu.
Kedua mata sewarna batu giok itu memandang ke atas—ke bentangan langit yang terlukiskan oleh gumpalan awan biru yang indah dan terlihat lembut. Langit di sini sangatlah cerah dan indah, setidaknya itulah yang ada dipikiran Sakura saat ini.
"Sakura!" panggil seseorang dengan suaranya yang khas—berat, lembut dan hangat—ketika memanggil namanya.
Sakura menengokan kepalanya ke asal suara. Di sana—di bawah pohon sakura berdiri seorang laki-laki berwajah tampan berambut merah—tengah tersenyum lembut padanya. "Gaara!" teriaknya dan langsung menghampiri laki-laki berambut merah itu. Lantas memeluknya erat—sangat erat.
Kedua tangan pemuda itu merengkuh tubuh Sakura untuk lebih merapat padanya. Di wajahnya tersirat raut wajah sedih dan seakan tak rela akan sesuatu. "Sakura?"
"Mmmmm?"
"Ikutlah bersamaku!"
Sakura melepaskan pelukannya dan menatap wajah Gaara dengan pandangan bingung. "Kemana?"
Kedua tangan besar milik pemuda bernama Gaara itu menangkup wajah Sakura dan mengelus kedua pipi Sakura dengan kedua ibu jarinya lembut. "Katakan 'iya' jika kau bersedia hidup bersamaku," ucap Gaara.
"Ta-tapi duniamu dan duniaku sudah berbeda."
"Itu tidak jadi masalah. Tolong katakan 'iya', Sakura. Demi aku."
Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa."
"Apa karena kehadiran Sasuke kembali?"
Sakura mengganggukan kepalanya. "Iya. Aku mencintainya."
"Jadi kau tidak mencintaiku?"
"Bukan seperti itu. Aku mencintaimu. Aku sayang padamu. Tapi, kita tak bisa bersama lagi. Aku memang menginginkanmu untuk berada di sisiku."
"Lalu kenapa kau menolakku?"
"Gaara, mengertilah!"
"…" Gaara terdiam dan hanya memandang wajah Sakura dengan tatapan nanar.
"Aku sudah merelakanmu pergi," ucap Sakura.
"…" Gaara menundukan wajahnya.
"Kau tidak perlu lagi melindungiku," ucap Sakura lagi.
"…" Gaara menurunkan kedua tangannya yang tadi menangkup wajah Sakura.
"Sudah ada yang menggantikan posisimu untuk melindungiku."
"…"
"Berbahagialah juga untukku di sana," ucap Sakura dan tersenyum lembut. Dia mengangkat dagu Gaara agar menatapnya dengan sebelah tangannya.
Kedua mata jade itu menatap wajah Sakura lagi-lagi dengan pandangan nanar. Namun, selanjutnya Gaara tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. "Aku akan pergi sesuai dengan permintaanmu, Sakura. Tapi, perlu kau ketahui, jika aku akan tetap mencintaimu. Selamanya dan selalu. Dan jika Sasuke tak bisa melindungimu, maka aku yang akan menggantikannya dengan cara yang berbeda."
"Aku tahu hal itu, Gaara," ucap Sakura dan mengecup lembut bibir pemuda itu sekilas.
Gaara mengangkat tangannya dan mengacak-ngacak lembut ujung kepala Sakura dan setelah itu membawa Sakura kepelukannya. "Berjanjilah untuk terus hidup."
"Uhmmm.."
Gaara melepaskan pelukannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Kedua bibir keduanya sudah akan bertemu ketika Gaara tiba-tiba saja berhenti dan kemudian bibirnya beralih ke dahi Sakura. Menciumnya dengan lembut dan lama.
"Selamat tinggal, Sakura. Aku mencintaimu. Selalu," batin Gaara.
Tsuzuku
Aissshhhh! Adegan apa'an itu yg di terakhir. Hahahah.
Yeaaahhh! Akhirnya maslah GaaSaku udah selsai. Gaara udh pergi dan Sakura udh ngerelainnya.
Skrang tinggal msalh SasuSaku yang perlu dipangkas habis sampai ke akar-akarnya.
Dan bagi Itachi-kun kyk'y sudh waktunya dia muncul sebagai orang ketiga dlm hubungan SasuSaku.
Kalau Sasori? Mmmm… orang ke empat mungkin..hahahhaha.
Konflik yang sebenarnya akan sgr di mulai. Puncak dr sgl konflik.
Hoohhhhoo..
Tp, udh da yg ngira sbnr'y apa yg dilakuin GaaKarin
buat misahin SasuSaku?
Trus, bersiap z dngan endingnya nnti. Lihatlah judul dr fic nie : Sacrifice.
Sebuah pengorbanan yang akan di lakukan oleh beberapa orang demi orang yg di cintainya.
Daaann…. Angst'nya udh kerasa blm? Adakah yang nangis wkt bc fic nie?
Hahahaha… jujur, fic nie dlm pnulisannya benr2 nguras emosi dan prsaan.
Agar feelnya dpt maka author sendiri harus bisa mmbyngkn jk jd Sakura.
Hiks… hiks…
Dn q mau ngucapin mksh bngt buat Rei-chan, yg udah mau meluangkan wktunya untuk mem-Beta ficku yg gaje ini..hehehhe*nyengir*
Special Thanx to:
Haza ShiRaifu
Aksuna no Hataruno Teng Tong
UchihaKeyRaSHINee20*namamu susah diketik*digile*
Me
Maya
Uchiharuno Phorepeerr
Cherry
Ayhank-chan UchihArlinz
.
.
.
Boleh minta review?
