Previous Chapter

"Bagaimana keadaanmu?"

"Syukurlah! Kau sudah jauh lebih baik."

"Bisa ceritakan apa yang terjadi antara Sasuke dan Sakura sebelum dia memutuskan untuk ikut bersamaku tinggal di Amerika?"

.

.

.

"Hn. Panti Asuhan Bunga Mawar."

"Ternyata kau bawa teman, ya, Sakura."

"Hampir saja."

.

.

.

"Dia laki-laki yang tidak tahu diri."

"Aku menginginkannya lagi."

"Seharusnya aku menjambak rambut pantat ayamnya saat itu. Ugggghhhh!"

.

.

.

"Pinjami aku… kekuatanmu, Gaara! Bantu aku untuk menjalani semua ini!"

"Haruno Sakura, berani sekali kau mengatakan hal itu setelah kau menusuk hatiku dari belakang."

"Permintaan terakhir?"

.

.

.

"Sakura?"

"Aku sudah merelakanmu pergi."

"Selamat tinggal, Sakura. Aku mencintaimu. Selalu."

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Gisei©Tsukiyomi Kumiko

Genre : Angst/Romance/Hurt/Comfort

Rated : T+

Warning : OOC, AU, Typo's, GaJe

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Review

.

.

.

.

.

.

Sasuke melirik sosok Sakura dengan gelisah di sampingnya. Setitik keringat mengalir dari dahi ke lehernya. Ia saat ini merasa takut. Takut jika terjadi sesuatu yang bisa membahayakan Sakura karena luka itu. Sungguh! Lelaki beriris onyx itu takut jika harus kehilangan sosok Sakura di sisinya.

Ia membutuhkan Sakura layaknya saat ia bernapas, Sakura seperti oksigen di dalam paru-parunya. Ia membutuhkan Sakura layaknya saat ia minum, Sakura seperti air di dalam kerongkongannya. Ia membutuhkan Sakura layaknya saat ia kedinginan, Sakura seperti udara panas bagi tubuhnya. Dan ia membutuhkan Sakura untuk dirinya bisa hidup di dunia ini. Tanpa ada Sakura, itu berarti dia mati. Perlukah kita menertawakan kata-kata hiperbola tadi? Jawabannya : TIDAK. Karena kalian semua pasti akan berucap hal sama jika sudah menemukan belahan jiwa kalian sendiri. Dan tidak perlu untuk merasa konyol ataupun tertawa. Karena kata-kata hiperbola tadi benar adanya.

Dan sebuah pergerakan kecil dari Sakura sukses membuat Sasuke langsung memberhentikan laju mobil yang sedang ia kemudikan. Mematikan mesinnya dan langsung menatap sosok Sakura dengan intens. Raut wajah cemas kentara terlihat di wajah datar Sasuke. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh wajah cantik gadis itu. "Sakura…"

"Akh!" sebuah rintihan sakit meluncur dari bibir mungil Sakura ketika ia sedikit saja menggerakkan kepalanya. Kedua mata emerald-nya terbuka perlahan dan memandang bingung dengan keadaan di sekitarnya. Ia melirikan ekor matanya ke arah kiri dan mendapati seraut wajah cemas dari seorang pemuda berambur dark blue. "Sasuke?" tanyanya tak yakin dengan penglihatannya sendiri.

Sakura memejam matanya sebentar lantas membukanya kembali. Ia mengingat dengan jelas jika ia melihat wajah Gaara bukanlah wajah Sasuke sebelum ia sadarkan diri. Apakah itu mimpi?

"Hn. Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke. Meskipun raut wajahnya terlihat dingin namun Sasuke tak mampu menutupi ada nada cemas yang dilontarkannya barusan.

"Sedikit," jawab Sakura pendek dan menegakkan tubuhnya yang tadi sempat duduk tak benar ketika ia tak sadarkan diri. Sakura memandang ke sekeliling mobil dan berpikiran jika ia kini berada di mobil Sasuke. "Di mana mo—"

"Aku tinggal di depan pemakaman," potong Sasuke cepat.

"Kenapa bisa?—aku tak ingat."

"Kalau kau tak ingat, lebih baik kau tak usah mengingatnya."

Sakura mengerutkan keningnya sedikit ketika mendengar sedikit ada nada ketus dan err … cemburu pada saat Sasuke berucap padanya tadi. Namun, ia tak mempermasalahkannya dan kini ia memandang keluar jendela kaca mobil. Gelap. Dan kini langit di atas sana tengah menangis.

Sakura tersenyum sinis. "Bahkan langitpun menggantikan aku untuk menangis," gumamnya.

"Hn?" Sasuke ikut mengerutkan keningnya karena mendengar tak jelas gumaman Sakura. Ia hendak membuka mulutnya kembali untuk bertanya namun terhenti ketika tiba-tiba saja kedua mata emerald Sakura menatapnya dengan ekspresi datar.

"Kau punya kotak P3K?" tanya Sakura pelan.

Sasuke sama sekali tak menjawabnya dan langsung mencari benda yang ditanyakan Sakura di dalam kotak kecil di bawah jok mobilnya. Kepalanya sedikit tertunduk untuk melihat ke bawah. Beberapa detik kemudian ia mengangkat kepalanya kembali dan menyodorkan satu kotak kecil berwarna putih dengan lambing plus merah di atasnya.

"Terima kasih."

"Hn."

Belum sempat tangan Sakura membuka penutupnya, tangan Sasuke sudah kembali merebut kotaknya. Membuat gerutuan kecil terdengar dari bibir mungil gadis itu. Sakura menatap sosok Sasuke heran.

"Biar aku saja," ucap Sasuke ketika melihat pandangan bertanya dari Sakura. "Mendekatlah!"

Sakura sama sekali tak bisa berpikir apa-apa dan seluruh anggota tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa ada perintah dari otaknya. Ia ingin mengambil kembali kotak P3K itu dan mengobati lukanya. Sendiri. Tapi, entah kenapa hati dan pikirannya seolah mengkhianati dirinya sendiri. Ia tak habis pikir.

Sasuke mengambil kapas terlebih dahulu yang sudah diberi sedikit alkohol untuk membersihkan noda darah yang sudah mengiring di dahi Sakura. Sedangkan Sakura, ia hanya bisa terdiam sembari memandang wajah tampan Sasuke dari jarak yang sangat dekat. Bahkan Sakura dapat merasakan deru nafas teratur Sasuke yang menerpa hidung dan seluruh permukaan kulit wajahnya. Ia juga bahkan bisa mencium bau maskulin dari tubuh tegap berbalut jaket hitam di depannya ini. Tanpa di sadari oleh Sakura sendiri jika kini kedua pipinya memanas. Menciptakan sebuah semburat merah tipis di wajahnya.

Jari-jari lentik milik pemuda beriris onyx itu dengan pelan mengusap dan membersihkan noda terakhir di dahi Sakura. Kemudian ia mengambil sebuah plester dan setelahnya menutup luka itu dengannya. Jari-jari pemuda itu belum sepenuhnya lepas dari luka itu, sekarang jari-jari itu tengah mengelus-ngelus pelan dahi Sakura. Membuat sang empunya langsung menjauhkan diri dari Sasuke.

Deg! Deg! Jantung Sakura seakan mau meledak karena terlalu cepat berdetak. Kenapa? Padahal ia sudah lama tidak bertemu atau berdekatan dengan pemuda itu. Kenapa jantungnya selalu berdetak kencang seperti ini? Kenapa hatinya selalu di hinggapi oleh kupu-kupu cinta yang membuatnya tergelitik senang? Kenapa kini perutnya serasa mulas karena sudah berdekatan dengan pemuda itu? Kenapa? Kenapa?

"Kau baik-baik saja? Apa lukanya masih terasa sakit?"

Pertanyaan dari Sasuke sudah sukses membuat Sakura langsung tersadar dari angan-angannya dan menoleh cepat pada pemuda itu. "T-tidak. Tidak apa-apa. Aku … baik-baik saja. —ya, baik-baik saja," ucap Sakura yang mengulang perkataannya. Sakura seperti orang bodoh saja saat ini.

"Kau… yakin?"

Sakura mengangguk cepat dan langsung menundukan kepalanya. Kedua tangannya nampak mengepal di atas kedua pahanya. Kilasan balik mengenai masa lalu antara dirinya dan pemuda itu muncul begitu saja di dalam otaknya. Padahal, ia tak mau mengingat kejadian kelam yang sudah di alaminya. Dan mengingat bagaimana ia menyakiti pemuda itu membuat rasa bersalah membuncah keluar. "Maafkan aku … Sasuke."

Sasuke nampak tersenyum sesaat sebelum membalas ucapan Sakura. "Apa kau merasa bersalah sampai-sampai kau minta maaf padaku, Sakura?"

Kepala Sakura langsung terangkat dan memandang Sasuke dengan kedua bola mata emerald miliknya. Sorot mata terluka, rapuh, terkhianati, kebencian, rindu dan cinta. Semuanya. Semuanya terpancar jelas dari kedua mata emerald itu. Membuat hati Sasuke seketika mencelos sakit dan dadanya terasa sangat sesak.

"Jika aku bilang tidak pun … kau akan berkata yang sebaliknya. Ya 'kan, Sasuke?" tanya Sakura balik.

Sasuke nampak mendengus kecil. "Kau tahu jika aku juga juga bersalah padamu. Karena itu … maaf."

"Ya, kau memang bersalah padaku. Dan kau pun bersalah pada Gaara dan juga Karin."

"Aku akui jika aku bersalah pada Gaara karena sudah membencinya selama ini karena telah merebutmu dariku—"Jeda sejenak. Sasuke mengambil nafas sebentar dan langsung melanjutkan perkataannya. "—dan Karin, aku merasa tak bersalah apapun padanya."

"Kau tak ingin mengakuinya atau kau memang ingin melupakan apa yang telah kau lakukan padanya dulu, Sasuke?"

Sasuke menautkan kedua alisnya bingung. Arah pembicaraan ini, ia sama sekali tak paham akan maksudnya. "Apa maksud kata-katamu tadi?"

"Apa kau sekarang pura-pura mengalami amnesia?"

"Bicaralah yang jelas!" Tegas Sasuke. Dan ia sedikit menyerngit tak suka saat Sakura menyebut kata 'amnesia.'

"Kau sudah menyakiti hatinya teramat dalam, Sasuke," jelas Sakura akhirnya. "Begitupun aku," batinnya.

"Kapan aku—"

"Kau tak mengingatnya?" Sakura menaikan sebelah alisnya bingung akan reaksi yang Sasuke perlihatkan. Seolah-olah memang benar jika Sasuke tak mengerti arah pembicaraan yang dari tadi ia bicarakan.

"Aku tak pernah 'melihatnya'… kau tahu betul akan hal itu. Yang ada di mataku hanya ada kau saja seorang. Dari dulu, sekarang dan sampai kapanpun," ungkap Sasuke.

Sakura menyadari ada sebuah kejanggalan dari semua yang telah terjadi di masa lalu. "Tunggu sebentar! Apa kau waktu itu datang menemui Karin di taman Shizuoka?"

"Waktu itu? Apa yang kau maksud adalah pada saat aku akan pergi ke Amerika?" tanya Sasuke balik.

Sakura mengangguk cepat. "Benar."

Sasuke menggeleng pelan. "Aku tidak datang untuk menyanggupi permintaanya di telepon. Lagi pula sewaktu Karin menelponku, aku sudah berada di bandara dan waktu keberangkatanku hanya tinggal lima menit. Mana mungkin aku punya waktu untuk menemuinya. Sebenarnya apa yang ingin kau jelaskan padaku?" tanya Sasuke setelah menyatakan kebenaran yang sebenarnya. Mungkin ini adalah kata-kata terpanjang yang pernah diucapkannya.

Sakura nampak membulatkan kedua matanya dan menutup mulutnya sendiri. "Ini tidak mungkin."

Satu rahasia sudah terungkap.

Hanya tinggal waktu saja untuk semua rahasia itu terbongkar.

Bersamaan dengan rasa benci yang meluap.

Juga bersamaan dengan rasa bersalah tak berujung.

"Apa kau berkata jujur padaku, Sasuke?"

"Hn. Sejak kapan aku pernah berbohong padamu, Sakura?" tanya Sasuke balik yang juga sedikit bingung dengan reaksi Sakura saat ini.

"Kau tahu—"Jeda sebentar dan hal ini membuat Sasuke dibuat penasaran. "Karin berkata padaku jika kau akhirnya memilih dirinya setelah putus denganku. Kau berhubungan jarak jauh dengannya."

"Kau tak menyutujui jika kita sudah putus, Sakura. —ingat hal itu!"

Sakura merasakan jika kini wajahnya kembali memanas. Ia juga mulai mengingat kembali jika pada saat Sasuke memutuskannya, ia tak mau dan malah memeluk tubuh pria itu erat—mencegahnya untuk pergi. Betapa Sakura merasa malu saat itu jika ia mengingatnya lamat-lamat.

"Karin berbohong. Aku tak memilihnya, dan tak pernah menjalin hubungan dengannya," ucap Sasuke.

"Aku tidak percaya jika Karin bisa berbuat hal itu. Dia adalah … sahabatku," ucap Sakura pelan saat menyebutkan kata 'sahabat'. "Kita semua bersahabat. Aku tahu dia juga menyukaimu, tapi ia sudah menyerah dan akhirnya merelakanmu memilihku."

"…"

"Jadi, tidak mungkin—"

"Kita tidak tahu pasti apa yang ada di dalam pikirannya dan juga hatinya. Setiap manusia pasti memiliki sikap egois dan ingin menang sendiri," ucap Sasuke.

"…"

"Aku … tidak tahu, Sasuke. Semuanya sangat rumit dan aku sama sekali tak memahaminya," ucap Sakura pelan dan kembali menundukan wajahnya. Di dalam hati ia ingin berbicara dan menanyakan akan sesuatu yang pernah dilihatnya dulu pada Sasuke. Sebuah kejadian yang membuatnya sempat berpikiran jika kekasihnya itu memiliki hubungan khusus dengan Karin.

"…"

"Sasu—"

Grep!

Belum sempat Sakura menyelesaikan ucapannya, kedua tangan Sasuke sudah menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Kedua tangan kekar itu melingkar dengan erat di pinggangnya.

Sakura membulatkan kedua matanya karena terkejut. Ia tak menyangka jika Sasuke akan memeluknya. Memeluknya dengan penuh perasaan sayang dan cinta. Hangat dan juga nyaman. Seakan terbuai akan pelukan itu, Sakura balas memeluk Sasuke erat dan langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Menghirup dalam-dalam dan sebanyak-banyaknya aroma tubuh Sasuke yang selama ini tak pernah ia rasakan kembali. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan Sakura memahami hatinya jika ia memang tak bisa melenyapkan atau membunuh rasa cintanya pada pemuda itu. Rasa cinta itu sudah tertanam jauh dan dalam di dasar hatinya.

"Aku merindukanmu … Sakura," ungkap Sasuke pelan dan menenggelamkan wajahnya dilekukkan leher jenjang Sakura. Menciumnya pelan dan membuat Sakura bergerak tak nyaman karenanya.

"S—Sasuke?"

"Hn."

"Aku—"

"…"

"…"

"—juga sangat merindukanmu."

Tanpa diketahui oleh Sakura, pemuda itu menyunggingkan sebuah senyuman bahagia.

##Sacrifice##

"Sasuke—dia melakukan hal itu pada Sakura?" tanya Itachi tak percaya setelah mendengar rincian kejadian dari Mikoto. Raut wajah terkejut tertera dengan sangat jelas di wajah datarnya. Itachi tak pernah berpikir dan menyangka jika masalah yang dihadapi oleh adiknya itu akan sesulit dan serumit ini. Pantas saja kadang-kadang Sasuke selalu terlihat tertekan dan beremosi tinggi jika mengingat masalahnya dengan Sakura. Sekarang Itachi paham bagaimana bisa adiknya se-emosional dulu lagi sebelum bertemu dengan Sakura.

"Ibu mengetahui masalah ini dari kakak angkatnya Sakura. Kau tahu? Sakura itu adalah gadis yatim piatu dan besar di panti asuhan. Ia sangat beruntung di angkat anak oleh keluarga Minato. Kasihan sekali dia. Di tambah masa lalunya dengan Sasuke, membuat Ibu sangat menyayanginya sebagai putri Ibu sendiri," ungkap Mikoto dengan wajah sedih dan berurai air mata saat menceritakannya.

"Akan sangat sulit bagi keduanya kembali seperti dulu," batin Itachi dan memejamkan matanya sebentar. Ia mulai merebahkan kembali badannya yang entah kenapa mulai merasa lemas dan tak bertenaga.

"Kau pasti kelelahan. Sebaiknya kau tidur saja, Nak!"

"Hn." Baru saja satu detik kepalanya menyentuh bantal. Itachi sudah jatuh tertidur dan bernafas dengan teratur. Mikoto hanya tersenyum lega dan maklum melihatnya.

Mikoto menaikan selimut sampai batas dagu dan membelai lembut sisi kepala Itachi dengan sebuah senyuman keibuan. Lantas ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Ia berpikir jika meninggalkan Itachi sendiri dan tak mengganggu tidurnya akan lebih baik dan membantu kesembuhannya.

Dengan pelan Ibu dua orang anak itu menutup pintunya tanpa menimbulkan suara sekecilpun. Ia melirik jam dinding yang tertera di dinding rumah sakit itu setelah ia berjalan lumayan jauh dari ruang rawat Itachi.

"Sudah sore rupanya. Kemana perginya anak itu?" batin Mikoto dan hanya menghela nafas pendek.

Mikoto baru saja tiba di kantin rumah sakit ketika ekor matanya melihat sosok seseorang yang sama sekali tidak familiar di dalam ingatannya. Yang jadi pertanyaannya adalah kenapa orang itu bisa ada di sini padahal orang yang mungkin di cari oleh orang itu tak ada di rumah sakit ini. Dengan wajah ramah Mikoto berjalan mendekat bermaksud untuk menyapanya. Tapi, baru saja Mikoto hendak mendekat, sosok itu sudah menyadari kehadirannya.

Nampak orang itu segera tersenyum lembut dan membungkuk rendah. "Selamat sore, Bibi," sapa seorang wanita berambut indigo panjang sepunggung. Kedua matanya sedikit menyipit karena senyuman yang ia perlihatkan di wajahnya.

Sosok wanita itu nampak cantik di mata Mikoto. Meskipun pakaian yang dikenakan oleh sosok itu terlampau sangat biasa. Hanya atasan kaos berwarna biru dongker berlengan panjang dan bawahan celanan jeans berwarna abu-abu. Cukup simple bukan? Tapi, jika orang cantik yang memakainya akan terlihat memesona.

"Selamat sore, Nak Hinata," balas Mikoto ramah.

"Bibi belum makan? Mau kutemani? Kebetulan aku juga sedang memesan makanan dan menunggu Sakura," ucap Hinata.

"Iya. Terima kasih, Nak."

"Sama-sama. Mari, Bi!" ucap Hinata dan langsung mengapit salah satu lengan Mikoto. Memapahnya untuk duduk di sebuah kursi yang memang tadi ia tempati. Sedangkan makanannya bisa ia pesan dengan cara meminta tolong pada penjaga kantin ini.

"Kenapa Bibi bisa ada di sini?" tanya Hinata setelah keduanya duduk berhadap-hadapan. Hinata mengangsurkan secangkir teh hangat pada Mikoto yang memang sudah ia pesan tadi.

"Itachi, dia mengalami sebuah kecelakaan dan terluka lumayan parah."

Hinata nampak sangat terkejut mendengarnya. "B-benarkah? Lalu, bagaimana sekarang keadaannya?"

Mikoto mengangkat gagang cangkir dan meminum tehnya sedikit demi sedikit. Beberapa detik kemudian ia menaruhnya kembali, mengambil nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Hinata. "Sudah jauh lebih baik. Semua ini karena Sakura, ia yang sudah menyelamatkan nyawa Itachi di ruang operasi."

"Aku turut senang mendengarnya."

"Terima kasih."

"…"

"Nak Hinata, Bibi ingin menanyakan sesuatu."

"Ya?"

"Bisakah kau menjelaskan lebih detail bagaimana hubungan Sakura dan Sasuke dulu?"

Gerakan Hinata langsung terhenti ketika tangannya akan mengangkat gagang cangkir. Ia menatap Mikoto dengan pandangan sedikit terkejut, ia tak menyangka jika ternyata Mikoto akan menanyakan hal ini padanya. "Aku … tidak tahu jika Sasuke yang Sakura maksud adalah anak Bibi," ucapnya pelan dan menghela nafas pendek.

"…" Mikoto hanya terdiam dan menajamkan indera pendengarannya. Karena mungkin saja, yang akan dikatakan oleh Hinata adalah hal yang sangat penting dan mempunyai pengaruh besar bagi hubungan anaknya dan Sakura.

"Dulu sekali, Sakura pernah bercerita padaku. Ia menjalin hubungan dengan Sasuke dan Sakura sangat mencintai pemuda itu. Meskipun begitu, ia menyembunyikan mengenai masa lalunya yang kelam pada Sasuke, berharap jika ia bisa hidup tanpa bayang-bayang masa lalunya. Baginya yang terpenting adalah sebuah masa depan. Masa depan bersama pemuda itu, tapi nyatanya takdir berkata lain.

Suatu hari Sakura datang padaku dengan berurai air mata, jika pemuda itu memutuskannya dan mencampakkannya. Sasuke memilih wanita lain yang memang kebetulan adalah sahabat Sakura sendiri. Sakura sangat merasa terpukul dan hatinya hancur. Terlebih pada hari itu juga Sasuke pergi ke Amerika dan perginya seseorang yang sangat berarti bagi Sakura."

"Wa-wanita lain? S-siapa?"

Hinata menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu nama atau bahkan wajah wanita itu."

"Tadi kau bilang seseorang yang sangat berarti bagi Sakura, siapa dia?"

Hinata sedikit ragu untuk mengatakan atau menyebutkan nama pemuda itu. Pemuda yang Sakura cintai selain Sasuke. Karena Hinata berpikir, jika ia menyangkutpautkan nama Gaara, itu berarti ia tak ada pilihan lain untuk menceritakan masa lalu keduanya pada Mikoto. Dan mungkin akan berujung bocor pada Sasuke. "Dia adalah … Gaara, kakak angkat Sakura saat di panti asuhan," jawabnya setengah berbisik.

"Nama itu, rasanya Bibi pernah dengar jika Sasuke menyebutkannya sesaat sebelum pergi ke Amerika. Apakah dia—"

"Pihak ketiga dalam hubungan Sasuke dan Sakura?" tanya Hinata mendahului ucapan Mikoto. Ia tersenyum tipis dan kembali menyesap teh hangatnya.

"…"

"Aku tidak tahu jika Sasuke pernah ada masalah apa antara dirinya dan Gaara. Yang jelas aku pikir Sasukelah yang menjadi pihak ketiga, bukan Gaara seperti apa yang Bibi pikirkan," ucap Hinata.

Mikoto membulatkan matanya tak percaya. "Sasuke … pihak ketiga?"

"Hmm…"

"Sebenarnya ada hubungan apa antara Gaara dan Sakura."

"Bukankah aku tadi sudah bilang? Gaara adalah orang yang sangat berarti bagi Sakura. Karena dia … dia adalah—"

"…"

"…"

"—orang yang sudah membawakan kebahagian dan kehidupan yang indah bagi Sakura. Keduanya sama-sama besar di panti asuhan. Gaara yang membawanya keluar dari panti asuhan itu sehingga keduanya di angkat anak oleh keluarga suamiku."

"…"

"Tentunya Bibi sudah tahu bukan jika Sakura adalah adik angkat suamiku?"

"Ya. Lalu, hubungan mereka apa?"

"Aku tidak tahu hubungan keduanya seperti apa. Tapi, yang jelas Gaara sangat menyayangi dan mencintai Sakura. Mulanya aku sedikit ragu jika Sakura juga memiliki perasaan yang sama. Tapi, setelah kepergian Sasuke aku tersadar jika Sakura juga menaruh perasaan pada Gaara meskipun perasaannya terlampau besar pada Sasuke.

"…" Mikoto hanya bisa terdiam membisu dengan kedua mata memerah menahan tangis.

"Sakura—dia pernah mengalami sebuah depresi berat dan mengharuskannya di rawat di rumah sakit selama berbulan-bulan."

Selalu seperti ini, Hinata tak kuasa untuk menahan air matanya ketika membahas mengenai kejadian buruk yang di alami oleh Sakura. "Lebih buruknya lagi, Sakura pernah mencoba untuk bunuh diri melompat dari atap rumah sakit. Beruntung suamiku bisa menyelamatkannya tepat waktu. Tak hanya sekali, ia bahkan sempat mengiris kedua pergelangan tangannya sampai urat nadinya hampir putus.

Sakura melakukan tindak bunuh diri sebanyak lima kali namun kesemuanya behasil digagalkan olehku maupun suamiku, dan juga oleh ayah dan ibu angkatnya. Sudah beberapa kali ia hampir kehilangan nyawanya."

"…"

"Bibi Mikoto, Sakura sangat, sangat mencintai Sasuke. Bantulah keduanya untuk kembali bersatu."

Mikoto nampak memijit keningnya pelan. Kepalanya sedikit pusing. "Bibi tak mengerti sama sekali. Jika Sasuke akan pergi ke Amerika kenapa Sakura tak berusaha untuk mencegahnya?"

"Sakura berusaha mencegahnya, tapi ia datang terlambat ke bandara saat itu. Dan setelah ia pulang dari bandara, Gaara juga ikut pergi meninggalkannya."

"Pergi? Kemana?"

"Ke dunia yang sudah berbeda dengan kita. Gaara … sudah meninggal, Bi."

Hati Mikoto seketika terasa nyeri dan dadanya serasa sesak. Kedua matanya berkaca-kaca dan cairan bening keluar begitu saja dari kedua matanya. Ia tak menyangka jika antara Sakura dan Sasuke pernah terjadi hal menyedihkan seperti ini. Begitupun hal yang menimpa Sakura, ia sudah kehilangan satu-satunya keluarga di dalam hiudpnya. "Apa—apa Sasuke tahu mengenai masa lalu Sakura dan pemuda itu?"

Hinata kembali menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya memerah karena tangisan pelan yang dilakukannya. "Kakakku, suamiku, bahkan Sakura, memintaku untuk tak pernah menceritakannya kepada siapapun. Karena itu, tolong Bibi rahasiakan mengenai hal yang tadi kubicarakan. Jangan biarkan Sasuke tahu hal ini, jika dia tahu mungkin masalahnya akan semakin rumit. Keduanya sudah mengalami banyak cobaan, biarkan mereka kembali bersatu dengan mengubur semua masa lalu yang ada."

"Tapi ini semua tidak adil bagi Sasuke. Bagaimana pun juga Sasuke berhak tahu akan hal ini. Terlebih lagi mungkin itu akan membuat semua ingatannya mengenai Sakura akan kembali," ucap Mikoto.

"Ingatannya? Apa maksud Bibi?"

"Sebenarnya, Sasuke pernah mengalami kecelakaan mobil sewaktu di Amerika. Ia terluka sangat parah, membuat sebagian ingatan di masa lalunya menghilang. Saat ini mungkin ia mengingat jika Sakura adalah kekasihnya dulu, begitupun dengan sahabat-sahabatnya. Tapi, ingatannya mengenai Sakura belum sepenuhnya pulih."

"A—apa? S—Sasuke pernah mengalami hilang ingatan?

"Ya. Bahkan sewaktu Sasuke sadar dari komanya, ia tak ingat Bibi, Paman, Itachi, dan juga namanya sendiri. Ia mengalami depresi ringan dan mengharuskannya menjalani semacam teraphy. Sekitar satu tahun lamanya akhirnya teraphy itu membuahkan hasil, ia mulai mengingat kembali siapa dirinya, dan ia juga mulai mengingat kembali Sakura. Dan karena alasan itu juga Sasuke tak bisa kembali ke Jepang dan menemui Sakura. Ia tak mau jika Sakura tahu jika ia pernah melupakannya. Ia belum siap jika harus bertemu Sakura dengan keadaan dirinya yang sedang mengalami amnesia."

"Aku mengerti sekarang. Jadi, Sasuke sama sekali tak bermaksud untuk benar-benar pergi dari kehidupan Sakura. Sakura harus tahu akan hal ini, Bibi. Biar aku yang akan menjelaskannya agar ia tak salah paham."

"…"

"Kalau begitu, aku akan menceritakan mengenai masa lalu Sakura pada Bibi. Juga mengenai hubungan keduanya sampai mereka berpisah," ucap Hinata yakin dengan keputusannya saat ini. Keputusannya untuk menceritakan kejadian beberapa tahun silam saat Sasuke memutuskan Sakura.

"Terima kasih, Nak Hinata."

##Sacrifice##

Kedua mata onyx itu menatap seraut wajah malu-malu seorang gadis berambut merah muda dengan pandangan lembut di sampingnya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman tipis namun lebih terlihat seringaian di mata Sakura.

"B-berhentilah menatapku seperti itu, Sasuke!" pinta Sakura dengan suara pelan dan menundukan kepalanya dalam. Kedua tangan Sakura kembali mengepal namun karena alasan untuk tidak tersenyum senang dan 'menyerang' pemuda itu.

"Kau tak secantik dulu—" ucap Sasuke tiba-tiba dan menggenggam tangan kiri Sakura dengan lembut dan erat.

Dapat dirasakan oleh Sakura jika kini tangannya yang dingin terasa hangat di dalam genggaman tangan Sasuke. Dan rasa hangat itu menjalar ke seluruh bagian wajahnya.

"—tapi kau semakin jauh lebih cantik. —hey! Kenapa kau tak mau menatapku?" tanya Sasuke sedikit tak suka karena Sakura dari tadi menundukkan kepalanya tanpa mau ada niatan untuk menatap wajah tampannya. "Kau tak rindu padaku?"

Sakura langsung memalingkan wajahnya ke kiri. "Aku rindu padamu, Sa—"

Cup!

Bibir keduanya bertemu karena pada saat Sakura memalingkan wajahnya, Sasuke dengan sengaja mendekatkan wajahnya. Sasuke menutup kedua matanya dan memiringkan wajahnya sedikit untuk melahap habis bibir merah muda gadis itu. Wajah Sakura sudah tak karuan lagi. Merah seperti kepiting rebus—jenis makanan laut yang tak ia sukai.

"Nghhh~" Sakura mengerang kecil ketika Sasuke menggigit bibir bawahnya pelan membuatnya refleks membuka mulutnya lebih lebar. Dan hal itu memberikan kesempatan bagi Sasuke untuk menjamah lebih dalam dan mengabsen gigi-gigit putih Sakura-nya.

Sedangkan Sakura mulai menikmati ciumannya. Ia menutup juga kedua matanya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Sasuke. Ia menerima lidah Sasuke yang mengajaknya bertarung di dalam mulutnya. Dan berakhir dengan kekalahan di pihaknya. Karena sejak dulu, Sasukelah yang selalu mendominasi ciuman mereka.

"Mmhhh~" Sasuke sedikit melenguh protes ketika Sakura membalas ciumannya lebih ganas dari pada dirinya. Namun di dalam hati ia sangat suka dengan cara Sakura-nya saat ini.

Dalam posisi keduanya yang sangat dekat, mungkin mereka bisa mendengar suara detak jantung masing-masing. Segaris aliran saliva nampak menetes dari sela bibir keduanya. Atmosfir di dalam mobil itu serasa panas sekali jika di bandingkan dengan cuaca di luar sana yang dingin karena mendung.

Sasuke langsung menyudahi ciuman panasnya dengan gadis itu ketika ia sudah ingin menghirup oksigen. Wajahnya memerah dan nafasnya terengah-engah. Ia tak percaya jika ia yang kali ini menyudahi ciuman panas ini bukanlah Sakura. Dan Sasuke sendiri melihat jika wajah gadis itu sangat memerah tapi bernafas dengan normal. "Sial! Kenapa aku bisa kalah darinya sekarang?" runtuk Sasuke dalam hati dan sebuah seringaian tercipta di bibirnya.

"Kau sangat agresif sekali, Sakura. Apa kau sebegitu rindungnya pa—"

Sasuke tak bisa melanjutkan ucapannya ketika Sakura mulai beringsut bergerak padanya dan menarik kerah jaketnya. Dan kali ini Sakuralah yang memulai ciumannya terlebih dahulu. Membuat seorang Uchiha Sasuke harus berpikir cepat apa yang sedang terjadi pada diri gadis itu. Kenapa Sakura-nya yang lugu berubah menjadi monster pencium yang ganas?

Apa yang terjadi padamu, Haruno Sakura?

.

.

.

.

.

.

.

.

Saat ini Sakura ingin sekali menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam danau yang teramat sangat dalam permukaannya agar bisa menyembunyikan warna merah di wajahnya. Ia teramat sangat malu mengingat apa yang dilakukannya pada Sasuke beberapa jam yang lalu. Ia hilang kendali akan perasaannya pada pemuda itu. Dan yang bisa dilakukan oleh Sakura adalah hanya menundukan wajahnya dengan sedikit melirik sosok Sasuke dengan ekor mataya.

Sasuke sendiri wajahnya kini masih memerah. Beberapa kali ia bergerak tak nyaman dan berdehem kecil—mungkin karena gugup. Di dalam hati Sasuke tak pernah menyangka jika Sakura yang sangat polos bisa melakukan tindakan 'ganas' seperti tadi. Kedua mata onyx-nya menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca spion. Bibirnya berwarna merah merekah dengan kedua pipi disertai semburat merah. Baru kali ini ekspresi seorang Uchiha dibuat seperti ini oleh seorang gadis bermarga Haruno.

"S—Sakura…"

"Ya?" jawab Sakura sangat terlampau cepat dan memandang wajah Sasuke penuh harap.

"L-lukamu? Apa masih terasa sakit?"

"Tidak. Aku baik-baik saja. Tak usah cemas."

"Begitu. Mmmm~bagaimana kalau kita makan malam?"

"Bo—"

Drtt! Drrtt!

Getaran dari saku di celananya membuat Sakura menghentikan ucapannya. Ia sekilas memandang Sasuke sebelum mengangkat teleponnya. "Ya?—sekarang? Baik. Saya akan tiba di sana dua puluh menit. Terima kasih, Tenten."

"Panggilan pekerjaan?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk pelan. "Maaf. Tawaran makan malam itu bisa kah kusetujui nanti?"

"Hn. Aku mengerti." Sasuke melempar senyumnya dan kembali berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Lagi pula Sasuke baru ingat, jika ia punya janji dengan Naruto. Dan lebih baik pertemuannya dengan kakak angkat Sakura itu sementara di rahasiakan.

"Terima kasih."

"Hn."

.

.

.

.

.

.

.

Sakura duduk dengan menyandarkan punggungnya di kursi panjang di ruangan kerjanya sendiri. Jas dokter yang selalu di pakainya saat ia sedang bertugas tersampir begitu saja di tepi bantalan kursi, begitupun dengan stetoskop di dalam saku jasnya. Kedua mata emerald itu menatap kedua foto di dalam liontin yang kini tengah berada di salah satu telapak tangannya dengan raut wajah bahagia.

Akhirnya ada saat-saat di mana ia memandang kedua foto itu dengan senyuman bahagia. Kedatangan Sasuke telah merubah semuanya. Semua rasa gundah, sedih dan rindu lenyap seketika ketika kedua mata emerald-nya bertatapan dengan mata onyx pemuda itu. Sungguh. Saat ini hati gadis berambut merah muda itu tengah dihiasi oleh bunga-bunga indah dan berwarna-warni. Dan kabut tebal di dalam hati gadis itu telah sirna untuk selamanya—mungkin.

Mendadak Sakura langsung bangkit dari duduknya setelah memakai kembali liontinnya. Lantas ia keluar dari ruangan itu karena memang ini sudah waktunya ia pulang. Akan ada dokter lain yang menggantikan tugasnya. Sudah cukup ia banyak lembur sebelum-sebelumnya. Dan benar kata orang-orang terdekatnya, jika ia akan mengambil cuti setelah ini selama satu bulan. Berlibur ke tempat yang menyenangkan ataupun membantu Hinata berkebun di rumahnya yang megah seperti istana abad sekarang, terdengar sangat menyenangkan.

"Sakura?"

Sebuah suara dari arah belakang membuat Sakura langsung membalikkan badannya. Senyuman ramah terlukis di bibirnya yang merekah memerah. "Selamat malam, Sasori," sapanya.

"Hn. Selamat malam. Kau … baik-baik saja?" tanya Sasori dan berjalan mendekat. Ia memperhatikan Sakura dari ujung kaki sampai ujung rambut dan berhenti tepat di dahinya yang sepertinya kembali di perban.

Dan Sakura sepertinya mengentahui arti dari arah pandang Sasori. Sesegera mungkin ia memaksakan diri untuk berwajah ceria dan seperti tak terjadi apa-apa padanya. "Sedikit kecerobohanku yang lain. Kukira kau sudah pulang," ucapnya mengganti topik.

"Sebentar lagi. Kau harus lebih hati-hati, terlebih kondisi tubuhmu masih dalam pengawasanku. Kau adalah pasien yang sangat spesial bagiku."

"Baik. Aku mengerti."

"Sakura…"

"Apa?"

"Foto kedua orang yang ada di dalam kalung itu apa ada arti khusus untukmu?"

Senyuman di wajah Sakura langsung menghilang dalam sekejap. "Ya. Mereka sangat berarti bagiku. Untuk apa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"

"Hanya penasaran saja. Lagi pula salah seorang dari keduanya adalah—"

"Kau dari mana saja, Sakura?" tanya Hinata yang tiba-tiba saja muncul dan memotong ucapan Sasori secara tak sengaja.

"Kak Hinata, kenapa bisa ada di sini?" tanya Sakura balik dengan dahi berkerut.

"Kau lupa jika hari ini adalah jadwalku untuk memeriksakan kandunganku? Sekaligus saja aku menunggumu untuk pulang bersama. Lagi pula Naruto meminta kau untuk menginap selama beberapa hari di rumah kami. Dia akan pergi bisnis dan dia khawatir jika aku di rumah sendiri. Kau akan cuti 'kan? Seharusnya tak jadi masalah jika kau menghabiskan waktu denganku. Ya 'kan?" cerca Hinata panjang lebar dan sedikit menyentil dahi Sakura pelan.

"Maaf. Aku lupa," ucap Sakura dan sedikit terkekeh kecil.

"Ah! Selamat malam," sapa Hinata pada Sasori setelah tersadar jika ada orang lain selain Sakura di tengah koridor rumah sakit.

"Selamat malam!" balas Sasori dan sedikit membungkuk rendah. Ia memilih untuk segera pergi dari sana setelah berpamitan pada Hinata dan Sakura. "Mungkin lain kali saja aku mengatakannya," batinnya.

"Ayo!"ajak Hinata dan langsung mengapit salah satu lengan Sakura. Dan keduanya pun melangkah beriringan menuju lantai bawah dan untuk pergi ke rumah Hinata.

.

.

.

.

.

.

.

Gadis berambut merah dan beriris ruby itu nampak berjalan pelan di sisi jalan—tempat yang diperuntukan bagi pejalan kaki. Sepatu boot dengan panjang sebatas lutut berwarna coklat itu nampak bergesekan dengan gundukan salju. Puncak dari tudung mantel yang kini ia kenakan sedikit basah karena turunan salju yang mengguyur Tokyo sejak satu jam yang lalu. Kedua tangan mungil gadis itu nampak menggantung begitu saja di kedua samping tubuhnya.

Pandangan matanya lurus ke depan namun nampak kosong. Wajahnya tak menyiratkan setitik emosi apapun. Bibirnya mungilnya dan kedua pipinya yang memerah karena akibat cuaca dingin membuktikan jika gadis itu masih hidup meskipun seperti boneka. Ujung-ujung rambut bagian depannya yang bergaya asimetris nampak berayun pelan karena hembusan angin dingin. Beberapa kali poninya menghalangi pandangannya karena tersibak angin, namun gadis itu sama sekali tak mau merapikannya.

Ia tetap berjalan dan berbaur dengan para pejalan kaki lain. Tak di hiraukannya pandangan orang-orang yang menatapnya heran dan mungkin takut. Takut jika mungkin sosoknya adalah seorang vampire yang akan menghisap darah orang yang berani mendekatinya. Huh! Terlalu hiperbolis bukan?

Gadis itu berhenti berjalan, ia menggerakan badannya ke samping kanan—ke sebuh toko berlian. Tiba-tiba saja bibir gadis itu melengkung tersenyum. Dan detik kemudian ia kembali berjalan lurus menuju apartemennya. "Aku ingin mengakhiri semuanya, Gaara. Sudah tak ada lagi ampun bagiku. Sudah tak ada lagi tempat untukku di antara mereka berdua. Sudah tak ada lagi kesempatanku untuk mengambil pemuda itu darinya. Aku, sudah tak termaafkan. Andai saja kau masih hidup untuk menemaniku menjelaskan semua pada keduanya. Ah! Tentu kau tak bisa. Baiklah, biar aku saja yang menemanimu berbaring selamanya di sana. Semoga dengan seperti ini, mereka berdua bisa memaafkanku. Apa kau setuju denganku, Gaara?" batinnya dan tersenyum tulus namun tetap pandangan matanya kosong.

Gadis beriris ruby itu terus berjalan dalam kebisuan bahkan sampai ia tiba di depan pintu apartemennya. Tangan kanannya sudah memegang knop pintu setelah ia membukanya dengan sebuah kunci ketika ada seseorang yang menarik sebelah bahunya dengan keras.

"Karin!"

Suara baritone itu sampai di indra pendengarannya namun sama sekali tak membuat ekspresinya berubah. Pandangan matanya tetap kosong dan memandang seraut wajah pemuda yang ia cintai setengah mati di hadapannya dengan tanpa ekspresi. "Sasuke … kebetulan sekali, sebelum aku pergi jauh aku ingin membuat sebuah pengakuan dosa padamu. Dosa yang telah aku perbuat bersamanya dulu. Mau kah kau mendengarkannya?"

.

.

.

.

Tsuzuku

Gomen update'y lama bngt..heheheh*ojigi*

Yosh, ini adalah chpter di mana satu rahasia terbongkar. Dan di sini aku selipin adegan kiss SasuSaku yang ngebuat aku blushing sndiri saat pengtikannya.

Mengenai kenapa Hinata bisa akrab ma Mikoto chapter bsk akan kubahas.

Dan juga mngenai pengakuan Karin pada Sasuke. Pengakuan apa? Bisakah ada yg menebaknya?

Mungkin chapter2 slnjutnya Sasuke dan Sakura akn mengalami dilema lagi…khu…khu…

Itachi-koi blm dpt peran, sdngkan mslh Karin juga Gaara di masa lalu akan terungkap chapter bsk. Insyaallah^^

Krn itu, tetaplah beri aku dukungan supaya bs cpt update'y..

Sbnrnya, mslhnya ada dlm pngtikan. Ide crt udh nyampe tamat, tp ngrbhnya lwt kata-kata dan ngatur alurnya itu yang sulit. Hehehe..
Author newbie ini sngt mmbutuhkan dukungan. Krn itu review, ya!*bletak*

Spesial Thank to :

Haza ShiRaifu

Me

Maya

Andromeda no Rei*Thanx buat Beta-nya*

Aihane-chan

Thia Nokoru*Thanx buat pujiannya:)*

Akasuna no Hataruno Teng Tong

Kuucapkan maksih bngt bgi yg udah mem-fav fickku :

Akina Takahashi(^^)

Sindi 'Kucing Pink(^^)

.

.

I Love You All:*

.

.

.

.

.

Reviews