Previous Chapter
"Apa kau merasa bersalah sampai-sampai kau minta maaf padaku, Sakura?"
"Apa kau berkata jujur padaku, Sasuke?"
"Aku merindukanmu … Sakura."
.
.
.
"Pihak ketiga dalam hubungan Sasuke dan Sakura?"
"Foto kedua orang yang ada di dalam kalung itu apa ada arti khusus untukmu?"
"Karin!"
"Sasuke … kebetulan sekali, sebelum aku pergi jauh aku ingin membuat sebuah pengakuan dosa padamu. Dosa yang telah aku perbuat bersamanya dulu. Maukah kau mendengarkannya?"
.
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
Gisei©Tsukiyomi A. Kumiko
Genre : Angst/Romance/Hurt/Comfort
Rated : T+
Warning : OOC, AU, Typo's, GaJe
.
.
Enjoy This Chapter
And
Give Me Review
.
.
.
.
.
Keduanya duduk berhadapan-hadapan dan saling tatap. Bibir keduanya pun terkatup dan raut wajah keduanya nampak sama-sama datar.
Sasuke meneliti baik-baik wajah seorang gadis berambut merah marun di hadapannya. Setitik rasa kasihan entah kenapa hinggap di dalam hatinya. Sebenarnya tadi dia ingin memaki gadis itu karena telah memisahkan dirinya dengan Sakura dulu.
Ya, benar. Sasuke akhirnya tahu kebenarannya jika ternyata Karin adalah penyebab hubungannya putus di tengah jalan dengan Sakura. Pemuda itu sangat berterima kasih pada Naruto yang sudah mau menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir, termasuk masa lalu Sakura dengan Gaara.
Tapi, rasa marah dan benci itu hilang, sirna, tak berbekas sedikit pun ketika melihat wajah tanpa emosi yang diperlihatkan oleh Karin.
"Apa yang terjadi padamu, Karin?" tanya Sasuke.
Karin sama sekali tak menjawab, ia hanya menatap balik kedua mata onyx Sasuke. Berharap perasaan menyesal dapat tersampaikan pada pemuda itu tanpa harus diucapkan lewat kata-kata. Sedetik kemudian Karin bangkit dari duduknya, berjalan ke arah dapur.
Jaket kulit berwarna coklat yang ia pakai masih belum gadis itu lepaskan, beserta dengan sepasang sepatu boot yang masih membungkus kakinya. Padahal ini sudah di dalam apartemennya, di dalam ruangan yang tertutup dan hangat. Berbeda saat ia di luar tadi.
Sasuke memperhatikan gerak-gerik Karin yang menurutnya sangat aneh. Apakah terjadi sesuatu padanya? Entahlah. Sasuke sendiri tak punya pikiran yang tepat mengapa gadis beriris ruby itu berlaku hal demikian. Kedua mata onyx pemuda itu melihat jika Karin kini berjalan mendekat padanya sambil membawa dua cangkir kecil yang Sasuke tebak isinya adalah teh. Tercium dari baunya yang khas dan asap yang mengepul.
Sama sekali tak berucap apa-apa, Karin meletakan satu cangkir teh di atas meja di hadapan Sasuke. Sedangkan dirinya kembali duduk sembari meminum teh buatannya sendiri pelan-pelan.
"Hn." Sasuke mengangkat gagang cangkir teh tersebut dan meminumnya sedikit. Dan pada saat ia akan meminumnya untuk yang kedua kalinya, Karin angkat bicara.
"Maaf."
Pada akhirnya Sasuke tak jadi meminumnya dan menaruhnya kembali di atas meja. "Kau tahu aku datang kemari untuk apa?"
Karin mengangguk lemah. Kedua tangannya memegang erat cangkir teh seolah ia dapat kuat menceritakan semuanya pada Sasuke. "Aku dan Gaara, berkerja sama untuk memisahkan kalian."
Sudah Sasuke kira, jika Gaara juga terlibat. Tapi, tak ada gunanya benci dan dendam pada Gaara karena dia sudah tenang di tempatnya berada. Ia hanya perlu membuang semua perasaan bencinya sekarang pada Karin. Karena nyatanya, gadis itu berbuat hal demikian karena dirinya.
"Ceritakanlah semuanya!" tuntut Sasuke. Pemuda itu memang sudah mendengar sedikit dari Naruto, tapi ia ingin tahu semuanya dari orang yang bersangkutan langsung.
"Semuanya berawal pada hari itu," ucap Karin dan mulai kembali membuka memori-memori di otaknya.
—
7 years ago
Konoha Senior High School
In Library
Karin POV
Kedua mataku menatap iri pada sepasang kekasih yang sedang duduk berduan di sudut perpustakan. Sedangkan aku duduk menyendiri di sudut yang lain. Buku yang dari tadi tergeletak di hadapanku tak lagi aku pedulikan. Kini aku fokus memperhatikan bagaimana pemuda yang sangat aku sukai, aku kagumi, tersenyum dan tertawa lepas dengan suara rendah pada seorang gadis—sahabat baikku.
"Mereka terlihat sangat bahagia," batinku.
Kedua mataku sudah berkaca-kaca, dan aku nyaris akan menangis kalau tidak buru-buru aku ingat jika aku sekarang berada di perpustakaan sekolah. Akan sangat memalukan kalau aku menangis di depan banyak orang, terlebih jika orang-orang tahu alasan mengapa aku menangis karena sebuah rasa cemburu.
Aku melepas kacamata yang kupakai, dan menaruhnya di atas kepala. Sebenarnya tak ada masalah dengan kedua mataku, aku hanya perlu memakai kacamata jika sedang belajar, termasuk membaca dan menulis. Kedua mataku masih bisa melihat jelas dari kejauhan.
Ah, sudah! Lupakan soal kacamatanya.
Akhirnya kututup buku tua yang bersampul kuning yang tadi kubaca beberapa menit yang lalu. Entahlah. Keinginan untuk membaca buku itu sudah lenyap entah kemana ketika kedua mataku menangkap sosok mereka berdua. Aku mendesah pelan karena lagi-lagi rasa iri, cemburu, jengkel dan … benci, merayapi hati dan pikiranku. Seperti rayap yang menggerogoti kayu rotan dengan ganasnya.
Entah harus berapa lama lagi aku berusaha. Entah harus apa lagi yang kulakukan. Entah bagaimana lagi aku meminta dan memohon.
Agar Sasuke mau melihatku, agar Sasuke mau menerimaku, agar Sasuke mau menjadi kekasihku.
Sungguh! Aku ini seperti punguk yang merindukan bulan. Begitu tak tercapainya pemuda itu. Bahkan hanya untuk membuat pemuda itu tersenyum padaku saja seperti manusia biasa yang ingin membelah dua lautan. Mustahil bukan?
Mungkin sahabat baikku pasti bisa. Karena kini pemuda itu tengah tersenyum teramat manis padanya. Aku pernah berpikir satu ka—ah! Salah, aku sudah berpikir dan bertanya ribuan kali pada diriku sendiri. Apa yang sahabatku punya sedangkan diriku tidak? Apa yang dilakukan sahabatku sampai Pangeran Es itu mau tersenyum untuknya? Apa yang pemuda itu lihat dalam diri Sakura?
Apakah menurut kalian aku sudah mendapatkan jawabannya?
Maka dengan tegas dan lantang aku katakan : TIDAK.
Aku sama sekali tak mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaanku. Sampai hari ini.
Tiba-tiba saja aku tersenyum iri.
Sugar Princess
Ya. Julukan itu disandang oleh sahabatku. Sifatnya yang ceria, mudah bergaul dengan orang, pintar, ramah. Sikapnya yang sopan dan sangat disayangi oleh para guru, disayangi oleh semua orang. Kepribadiannya yang anggun dan lembut membuat banyak orang yang kagum dan iri padanya.
Didukung dengan kecantikan yang terpancar dari wajahnya yang elok rupawan. Didukung dengan keindahan yang terpancar dari kedua matanya yang sewarna dengan batu emerald. Juga didukung dengan senyuman manis yang tercipta dari bibirnya, itulah mengapa ia mendapatkan julukan seperti itu oleh para siswi maupun para siswa. Ah, aku sampai lupa menyebutkan jika suaranya pun sangatlah lembut bak seorang putri kerajaan.
Dan Sakura adalah seorang anak yang lahir dari keluarga kaya. Mungkin kekayaan keluarganya itu tak akan habis selama tujuh turunan. Tidak percaya? Ya, sudah.
"Hhhh …" Lagi-lagi aku menghembuskan napas frustasi.
Aku memang tak bisa disejajarkan dengan Sakura. Tapi, aku dan dia adalah sama-sama seorang perempuan. Sama-sama jatuh hati pada satu pemuda. Tak ada yang salah pada diri kami. Yang salah ada pada hati kami yang sudah terpaut oleh pancaran kharisma pemuda itu.
Dan kalian bisa lihat hasilnya sekarang. Siapa yang menang diantara kami.
Sakura memang tak pernah mengibarkan bendera persaingan padaku, ia bersikap biasa saja. Seolah-olah dia sudah tahu siapa yang akan jadi pemenang dan siapa akan yang jadi pecundang.
Ya, ya, aku tak bisa menyalahkan sahabatku itu atas jatuhnya Sasuke pada pesonanya. Tapi, ayolah! Rasa iri dan benci itu memang selalu melekat dihati manusia terlebih ketika manusia itu kalah dari seseorang. Merasa jadi yang kedua atau diduakan.
Seharusnya aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini. Seharusnya aku tak punya keinginan untuk merebutnya. Tapi …
Hatiku rasanya selalu berdenyut sakit memikirkan fakta jika aku hanyalah orang ketiga dalam hubungan mereka. Aku tidak mau dihantui dan dibayang-bayangi oleh fakta itu. Aku ingin mereka putus tanpa adanya campur tanganku, dan Sasuke beralih memilihku dengan keinginan hatinya sendiri.
Aku sempat akan menyerah untuk mendapatkan Sasuke jika laki-laki berambut merah itu tak mengulurkan tangannya untuk membantuku. Kesempatan bukan? Ada orang yang peduli pada kisah cintaku yang menyedihkan ini.
Dan pertolongan itu datang dari orang luar, laki-laki itu bukanlah sahabatku, bukanlah salah satu anggota keluargaku. Aku hanya mengenalnya lewat Sakura dan diperkenalkan sebagai kakak angkatnya.
Aku sama sekali tak terkejut jika dia juga menyimpan perasaan pada Sakura. Ayolah! Mana ada laki-laki yang berdekatan dengan Sakura tidak akan jatuh cinta padanya. Dan kenyataannya kami berdua senasib, cinta kami bertepuk sebelah tangan. Tapi, kini aku harus menarik kembali kata-kata itu, karena apa? Karena ternyata Sakura juga menyimpan setitik perasaan pada laki-laki berambut merah itu.
Kesempatan emas. Jika Sasuke tahu akan hal ini maka hubungan mereka akan berakhir, dan aku hanya tinggal menjadi Sakura yang kedua bagi Sasuke. Dan laki-laki berambut merah itu akan mendapatkan Sakura seperti apa yang dia inginkan.
Kami berkerja sama untuk memisahkan mereka berdua. Berdosakah? Aku tak peduli. Yang aku perdulikan hanyalah bagaimana mendapatkan Sasuke. Tidak kurang dan tidak lebih. Sederhana saja 'kan?
Sebuah getaran dari dalam saku rok rempelku membuatku terkesiap, langsung saja kubuka dan nama Gaara tertera dengan jelas dilayar. Langsung saja aku keluar dari perpustakaan itu. Dikarenakan tidak boleh berisik dan aku tidak mau jika ada orang yang sampai mendengar percakapan rahasiaku.
Dan juga … rencana busuk yang sudah aku susun bersama Gaara. Dan hanya tinggal menunggu waktu hubungan mereka akan putus untuk selamanya. Aku tak kuasa menahan senyum ketika membayangkannya.
Persetan dengan ungkapan pagar makan tanaman; memakan teman sendiri. Mengkhianati sahabat. Di dunia ini, yang kuatlah yang akan menang. Dan dengan bersikap egois, aku bertahan hidup di dunia ini.
End Karin POV
"Kau siap?" tanya Karin dan tersenyum licik.
'Hn.' Jawaban di sebrang teleponnya pun terlihat sangat tegas dan juga terdengar sangat berbahaya.
Karin menyenderkan punggungnya di depan pintu gudang di samping perpustakaan. Ia masih sibuk berbicara dengan Gaara di telepon ketika tiba-tiba saja Sakura menepuk bahunya lumayan keras dari samping kanan dan membuat gadis itu terkejut. Tak sengaja Karin menjatuhkan ponselnya sendiri dan hancur sampai terbelah dua.
Sakura membulatkan kedua matanya karena juga terkejut. Ia langsung berjongkok dan mengambil ponsel Karin yang sudah hancur. "M—maafkan aku, Karin. Aku … "
"Tidak apa-apa. Aku bisa membelinya lagi. Tapi—" Karin tersenyum sangat manis dan langsung merangkul erat Sakura dan mengajaknya pergi menjauh dari gudang itu.
"Apa?" tanya Sakura penasaran. Ia sedikit memiringkan kepalanya memandang wajah sahabatnya yang terlihat sangat bahagia dari biasanya.
"—kau harus menemaniku untuk membelinya nanti. Dan tidak ada penolakan."
Sakura juga ikut tersenyum menanggapi permintaan Karin, tanpa tahu jika orang yang dianggapnya sahabat telah merencanakan sesuatu yang jahat padanya.
"Tapi kau membeli ponsel yang baru dengan uangmu 'kan? Tidak memintaku untuk menggantinya?" tanya Sakura.
"Hehehehhe … tentu saja memakai uangmu. Kan kau yang merusaknya," balas Karin dan langsung berlari meninggalkan Sakura setelah mencubit pipinya keras-keras.
"Ahk! Hey, Karin! Bagaimana kalau patungan saja?"
"Tidak mau," jawab Karin dan berjalan mundur. Ia tersenyum dengan puas ketika Sakura mengerucutkan bibirnya kesal dan berlari kearahnya.
Karin terus menerus berjalan mundur tanpa tahu ada tangga turunan di belakangnya. "Eh? Kyaaaaa~"
Grep!
Hampir saja tubuh Karin terjengkang ke belakang dan berakhir dengan patah tulang, jika tak ada sepasang tangan kekar yang memeluk pinggangnya dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Karin menutup matanya rapat, jantungnya berdetak tak karuan. Dan bau parfum yang tercium oleh indra penciumannya membuat ia langsung membuka matanya. Karena ia tahu, kenal dan sangat menyukai bau parfum ini. Bau parfum milik seorang pemuda yang disukainya selama ini. Dan fakta jika kini pemuda itu memeluknya membuat dirinya seakan terbang melayang ke angkasa. Sunggug bahagia.
"Hn. Berhati-hatilah jika berjalan, Karin!"
Suaranya yang lembut namun tegas seolah pemuda itu benar-benar khawatir padanya membuat wajah Karin bersemu merah tanpa bisa ia cegah.
"Terima kasih, Sasuke," jawab Karin dan melepaskan pelukan Sasuke.
Sakura berlari mendekat dan menunjukan raut wajah cemas di wajahnya yang seputih salju. "Kau tidak apa-apa, Karin?"
Karin mengangguk dan mengulas sebuah senyum menenangkan dan membuat Sakura menghela nafas lega. "Untung saja ada Sasuke yang menolongku, kalau tidak mungkin aku sudah terjatuh dan berakhir di rumah sakit," candanya sambil menepuk pelan bahu Sasuke.
Ya, ia hanya pura-pura, bersandiwara di depan Sakura jika ia tak lagi menyimpan perasaan pada Sasuke. Jika ia sudah menyerah dan merelakannya pada Sakura. Tapi, sebenarnya tidak. Ia malah semakin mencintai Sasuke sampai tak terbendung lagi. Ia menyayangi Sasuke melebih apapun di dunia ini. Dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Sasuke, untuk membuatnya berpaling dari Sakura, untuk membuatnya selalu berada di sisinya.
"Terima kasih, Sasuke." Sakura berucap sangat tulus dan tersenyum sangat manis, dan pemuda itu langsung mengacak-ngacak rambut Sakura pelan sambil tersenyum tipis.
"Berbahagialah selagi kalian bisa, wahai sahabatku," batin Karin sinis.
.
.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju Mall, Karin dan Sakura selalu tertawa sampai menimbulkan sedikit gerutuan dengan orang sekitar. Karena merasa cukup terganggu dengan suara tawa mereka yang lumayan keras. Bahkan Sakura sempat membungkuk meminta maaf, meskipun setelahnya ia tertawa lagi sampai wajahnya memerah.
"Hahahahah … kau masih ingat tidak sewaktu Kiba berulang tahun satu tahun yang lalu?" tanya Karin.
Sakura mengangguk cepat sambil memegang perutnya yang sepertinya kram karena terlalu banyak tertawa. "Ah! Sudah pasti aku ingat. Kau memberinya hadiah seekor katak hijau yang menjijikan—hihihihihi!"
"Benar, benar. Ekspresi wajahnya saat itu sangat memprihatinkan. Kau mengabadikannya lewat kamera digital milikmu 'kan? Aku jadi ingin melihatnya lagi."
"Tapi kau ini tega sekali memberinya hadiah seperti itu," ucap Sakura.
Karin mengibaskan sebelah tangan pelan di depan wajahnya sendiri. "Itu bukan hadiah sebenarnya yang kuberikan untuknya."
"Benarkah? Aku tidak tahu. Lalu, kau menghadiahinya apa?"
"Sebuah gantungan kunci. Karena dia selalu kehilanan kunci motornya, setidaknya dengan diberi gantungan kunci lumayan besar, akan membuatnya mudah untuk menemukannya."
"Benar juga, tapi kau perhatian sekali padanya."
"Tentu saja, Kiba juga 'kan salah satu sahabatku, selain Neji dan Sasuke."
"Lalu bagaimana kalau Kiba memiliki perasaan khusus padamu?"
Karin nampak berpikir dengan serius. "Jika dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, aku akan menolak. Karena aku tidak mau jika hubungan persahabatan di antara kita putus ataupun rusak. Aku lebih memilih seorang sahabat dari pada apapun."
Pembohong yang sangat ulung dan berakting dengan sangat cantik. Benar begitu, Karin?
"Ah!" Karin menepuk dahinya sendiri membuat Sakura langsung menatapnya bingung.
"Ada apa?"
"Besok 'kan tanggal 28 Maret."
"Lalu?" tanya Sakura dengan sebelah alis terangkat.
"Ulang tahunmu."
"Memangnya kenapa?" tanya Sakura lagi.
"Kau ingin kado seperti apa dariku?"
Sakura langsung tersenyum manis dan terlihat sangat tulus. "Raihlah kebahagianmu sendiri, Karin."
"Hah?" tanya Karin.
"Itu adalah permintaanku yang harus kau kabulkan. "
Hati Karin langsung mencelos sakit. Ia jadi tak tega untuk menyakiti Sakura. Namun, sedetik kemudian ia kembali berpikir jika Sakura juga telah menyakitinya tanpa ia sadari. Bukankah ini impas?
"Kalau begitu, aku akan memberikanmu sebuah kejutan yang tak akan pernah kau lupakan, Sakura," ucap Karin.
"Apa itu?"
"Kau akan tahu besok."
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar menunggu besok."
"Hahaha … benar, hari ini kau cukup bersabar dan teruslah tertawa. Sebelum tawa itu kuubah menjadi sebuah tangisan. Kau suka itu, Sakura?" batin Karin dan tersenyum palsu.
.
.
.
.
.
.
.
Karin dan Sakura memilih duduk di bagian dalam café yang lumayan besar di sebuah Mall yang mereka datangi beberapa jam yang lalu. Ponsel keluaran terbaru yang pastinya melebihi harga dari ponselnya yang lama telah berada di dalam genggaman Karin. Tentu, memakai uang Sakura atas desakan Karin, karena bagaimana pun juga Sakuralah yang secara tidak sengaja merusak ponsel gadis itu. Meskipun itu adalah hal yang sangat sulit membujuk Sakura agar mengeluarkan uangnya. Tapi, nyatanya salah satu sahabat yang memiliki warna rambut merah darah itu mampu.
Sakura hanya mendesah pelan karena uang tabungannya berkurang dengan hanya satu hari saja dan hanya membeli satu barang kecil namun super canggih. Sedangkan Karin hanya cengengesan di depannya dan hanya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Gadis berkacamata itu menyedot sampai habis milkshake strawberry di depannya dan memandang Sakura penuh selidik.
"Tidak ikhlas membelikanku ponsel?" tanya Karin dan menyangga dagunya dengan kedua punggung tangan di atas meja.
Sakura menggeleng 'tidak' meskipun kenyataannya 'iya'. Tapi, demi sahabat ia hanya bisa bilang—
"Aku ikhlas membelikannya untukmu. Lagi pula aku yang merusak ponselmu."
—hal demikian.
Karin tersenyum senang. "Hehehhe … terima kasih, ya, Sakura. Mmmm … kalau begitu, makanan ini biar kubayar semua. Kau boleh memesan makanan apapun yang kau mau. Aku yang traktir. Hitung-hitung ini adalah bagian dari hadiah dariku untukmu."
"Terima kasih banyak, Karin. Karena selama ini kau selalu memperlakukanku sebagaimana seorang sahabat dan teman. Bukannya seorang Namikaze Sakura, putri dari keluarga terkaya di Konoha. Haaahhhh~diperlakukan seperti tuan putri oleh orang-orang membuatku muak."
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Kita sudah bersahabat sejak lama, jadi … jangan anggap aku sebagai 'orang lain' lagi bagimu."
"Iya." Sakura mengangguk dan lagi-lagi memperliatkan sebuah senyuman tulus. Seolah-olah apa yang dikatakannya barusan adalah berasal dari hatinya yang paling dalam.
"Aku pergi ke toilet sebentar, ya," ucap Karin dan langsung bangkit berdiri tanpa menunggu jawaban dari Sakura.
Gadis berambut merah itu melenggang pergi memunggungi Sakura yang menatapnya bingung. Namun, Sakura tak ambil pusing mengenai sikap Karin yang tiba-tiba berubah itu. Mungkin sahabatnya itu benar-benar ingin pergi ke toilet. Dan selanjutnya Sakura hanya melihat-lihat daftar menu makanan dan minuman yang akan dipesannya.
Karin langsung memasuki salah satu pintu di dalam toilet itu dan menutupnya. Ia mengeluarkan ponsel yang baru dibelinya tersebut dan langsung menelpon Gaara.
"Kau bisa menemuinya sekarang. Jalankan rencananya dan jangan sampai gagal. Aku akan melakukan peranku dengan baik setelah ini."
Tut! Karin langsung mematikan teleponnya dan mengetikan pesan singkat yang isinya seperti ini :
Datanglah ke tempat parkir Mall Konoha sekarang
Akan ada sebuah pertunjukan menarik dari kekasihmu
Jangan abaikan pesan ini, Uchiha!
Kalau kau tidak melakukannya maka kau akan menyesal seumur hidupmu.
Karin tersenyum puas melihat hasil ketikannya tersebut, dan dengan sekali tekan maka pesan itu sudah terkirim ke seseorang yang memang sudah jadi aktor dalam rencananya. Setelah itu, buru-buru Karin keluar dari toilet dan menemui Sakura.
Baru beberapa meter ia hendak menemui Sakura, dibibirnya tersungging sebuah senyuman puas. Karena sosok Gaara baru saja datang dan langsung pergi ke tempat Sakura berada.
"Sakura." Gaara menepuk pundak gadis berambut merah muda itu pelan dan langsung duduk di sampingnya. "Sedang apa kau di sini?"
"Ah! Kau mengagetkanku," ucap Sakura dan menghela napas terkejut.
"Hn."
"Aku sedang jalan-jalan dengan Karin. Nah! Itu dia," tunjuk Sakura pada Karin dari kejauhan.
Karin sesegera mungkin berjalan mendekat dan langsung duduk di hadapan Sakura juga Gaara. "Wah! Wah! Pacar keduamu ternyata datang menyusulmu," ucapnya dan tersenyum jail.
Sakura langsung menggembungkan kedua pipinya dengan wajah memerah. "Kariiiinnnn~"
"Hihhihiihi!—bercanda. Bagaimana kabarmu, Gaara?" tanya Karin basa-basi.
"Hn. Baik."
"Kau sedang apa disini?" tanya Sakura pada Gaara dengan sedikit menyenggol perutnya dengan sikut kanan.
Gaara langsung mengacak-ngacak rambut Sakura dengan gemas. Ia bangkit berdiri dan bisa dipastikan jika kini sosoknya jadi perhatian orang-orang. Sudah jelas. Sosok pemuda itu tinggi-tegap, berkulit putih, memiliki wajah yang bisa dibilang membuat para gadis gigit jari saking tampannya. Dan sepasang bola mata yang sama dengan batu jade itu mampu memikat semua para gadis tak terkecuali Sakura.
Di tambah dengan pakaian yang pemuda itu kenakan sekarang membuat para gadis menahan napas karena kagum.
Atasan sebuah kemeja putih polos berlengan panjang, namun pemuda itu memilih melipatnya sedikit sampai bawah sikut. Lalu, bawahan celana jeans hitam panjang beserta sepatu kets berwarna putih. Terlihat sangat santai namun mampu membuat wajah para gadis melihatnya memerah bak kepiting rebus.
"Ada yang ingin kukatan padamu. Ikutlah denganku!"
"S—sekarang?" tanya Sakura terkejut. Sedangkan Karin hanya tersenyum tipis karena ini adalah bagian dari rencananya, juga Gaara.
"Hn." Belum sempat Sakura menjawab ajakan Gaara, tangan kanannya sudah diraih oleh pemuda itu.
Dan keduanya pun keluar dari café meninggalkan Karin sendiri. "Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Gaara pada Sakura. Tapi, yang pasti … hal itu akan membuat Sasuke dan Sakura terpisah untuk selamanya. Aaahhh~aku sudah tidak sabar melihatnya."
Karin juga langsung bergerak berdiri dari tempat duduknya. Menyambar ransel dan juga jas sekolahnya. Tak lupa untuk mengambil barang-barang Sakura. Tentu. Dirinya harus melihat adegan yang paling menarik nanti jika waktunya tiba.
Sebelum Sasuke balik menghubunginya, Karin segera mengeluarkan sim card dari ponselnya. Lalu membuangnya begitu saja ke tempat sampah, dan menggantinya dengan sim card yang baru. Setelahnya, ia bersembunyi di salah satu balik tembok di dekat dua orang yang sedang berhadap-hadapan satu sama lain ketika ia sudah sampai di dalam tempat parkir Mall itu.
Sakura dan Gaara.
Keduanya berdiri di tengah-tengah tempat parkir yang tak ada seorang pun di dekat mereka. Terkecuali Karin yang sedang mengamati mereka berdua dari jarak yang cukup jauh dan pastinya tidak akan mendengar percakapan mereka. Tentunya juga dengan kehadiran seorang pemuda berambut raven yang baru saja keluar dari dalam elevator tepat di belakang Karin.
Pemuda itu menepuk pelan bahu gadis berambut merah itu dari belakang, membuat Karin terpekik kaget. Menghela napas lega akhirnya Karin langsung menarik tubuh Sasuke agar ikut bersembunyi dengannya. Sedangkan Sasuke hanya menaikan sebelah alisnya bingung.
"Hey! Apa-apaan ini? Lepas—"
"Ssshhhhh! Lihat itu," ucap Karin dan menunjuk sosok Sakura dengan jari telunjuknya.
Sasuke langsung berekspresi geram ketika melihat Sakura sedang berduan dengan rivalnya. Ia hendak mendekati mereka berdua ketika Karin langsung menarik lengannya, juga membungkam mulutnya. "Diam dan lihat saja!" ucapnya.
"Cih!" desis Sasuke dalam hati dan mengepalkan kedua tangannya.
"Sasuke, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Karin dalam suara rendah.
"Hn. Kebetulan aku memang sedang berada di Mall ini menemani Ibuku. Lalu, ada yang memintaku untuk datang ke tempat ini. Dan aku tidak tahu siapa."
"Aneh sekali," komentar Karin berpura-pura tidak tahu.
"Kalau kau?"
"Aku sedang jalan-jalan bersama Sakura ketika Gaara datang dan membawanya pergi dariku. Aku mengikuti Sakura karena jas sekolah dan ranselnya ada padaku." Karin memperlihatkan barang-barang Sakura di kedua tangannya.
"Hn. Apa yang mereka lakukan?"
"Tidak tahu. Kita awasi mereka dari sini saja, jika terlalu dekat akan ketahuan," ucap Karin berbisik-bisik.
"Hn. Tapi, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." Sasuke menggerutu kesal namun sama sekali tak dihiraukan oleh Karin.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Gaara?" tanya Sakura dengan raut wajah penasaran. Kedua mata emeraldnya memandang lekat-lekat wajah Gaara yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Dan Sakura baru menyadari jika kini kedua pipi pemuda itu terlihat tirus. Ada lingkaran hitam di bawah kantung matanya. Juga ukuran tubuh pemuda itu yang terlihat lebih kurus, jauh beda saat tiga bulan terakhir. "Kau sedang tidak sehat, ya?"
"Hn." Jawab Gaara sekenanya dan langsung menggenggam kedua tangan Sakura erat seolah ia sedang membutuhkan batu tumpuan untuk hidup.
Sakura melepaskan salah satu tangannya dari genggaman tangan Gaara dan menyentuh dahi pemuda itu. "Dingin sekali. Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja. Kau butuh istirahat, Gaara."
"Tidak. Bukan istirahat yang kubutuhkan."
"A-apa? Tapi, Gaara … kau 'kan sedang sa—"
"Bukan istirahat yang kubutuhkan, tapi kau. Aku ingin kau selalu berada di sisiku," potong Gaara cepat.
Sakura tersenyum renyah. "Apa yang kau bicarakan? Aku 'kan memang selalu berada di sisimu. Sejak dulu sampai seka—"
"Tidak!" bentak Gaara lumayan keras.
"Kau ini kena—"
"Aku ingin kau berada di sisiku untuk selamanya, setidaknya sebelum aku pergi nanti," ucap Gaara.
"Pergi? Kemana?"
"Bukankah tadi kau bertanya apa aku sedang sakit atau tidak?"
"Memang benar. Tapi aku—"
"Aku mengidap kanker mata stadium akhir."
Sakura langsung membulatkan kedua matanya tak percaya. Riak air mata sudah menggenang di pelupuk matanya dan sudah tumpah tak terkendali. Lututnya terasa lemas dan membuatnya kesulitan untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Bibirnya nampak gemetar ketika akan berucap. "Kau … bohong."
Gaara menggeleng lemah dan memegang kedua pipi Sakura. Menghapus jejak air mata gadis itu meskipun hal itu percuma dilakukannya. Karena Sakura tak henti-hentinya menangis dalam diam tak bersuara.
"Sekarang pun, kedua mataku sudah tak jelas melihat wajah cantikmu lagi, Sakura. Lambat laun aku akan mengalami kebutaan total, dan hanya menunggu waktu aku akan mati," batin Gaara sedih.
"Gaara, katakan padaku jika saat ini kau sedang bergurau. Ayo, katakan!" desak Sakura dan mencengkram kemeja Gaara erat.
"Apa yang kukatakan adalah kenyataan yang kusimpan sejak lama darimu, Sakura."
"Kau—kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Tega sekali kau melakukannya padaku—hiks! Hiks! Gaara … apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus aku la—"
"Tinggalkan Sasuke dan menikahlah denganku, Sakura."
Hatinya langsung berdenyut sakit dan jantungnya berdebar sangat kencang. Dadanya terasa sangat sesak mendengar fakta jika ternyata pemuda yang sudah bersama dengannya sejak dulu itu menyimpan sebuah perasaan khusus padanya. Ia memang sedikit menyimpan perasaan yang sama pada pemuda itu, tapi ia lebih mencintai Sasuke, lebih menyayanginya, lebih membutuhkannya daripada dia.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak bisa. Gaara—aku … aku sangat mencintai Sasuke. Tanpanya aku tidak akan sanggup untuk bertahan hidup. Dia adalah segalanya bagiku. Maafkan aku. Maaf—"
Gaara langsung tersenyum, membuat Sakura berhenti menangis untuk sementara.
"—Gaara."
"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Kau bebas sekarang, Sakura."
"…" Sakura terdiam membisu dan memandang kedua mata jade dihadapannya dengan nanar.
"Kau tak perlu terbebani dengan kehadiranku selama ini. Lupakan aku dan hiduplah bahagia dengan laki-laki yang kau cintai. Aku … tidak akan bisa menemanimu lebih lama lagi. Maafkan aku, Sakura."
Sakura menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan ucapan Gaara. Air mata kembali mengalir deras dari kedua mata emerald Sakura dan membasahi kedua pipinya. Ia menggelengkan kepala pelan. "Tidak mau. Aku tidak mau seperti ini. Gaara—kau terlalu baik untuk menerima semuanya," ucapnya dan langsung menghambur ke pelukan Gaara.
Menenggelamkan wajahnya di lekukan dada bidang pemuda itu yang entah kenapa sekarang terasa sangat nyaman dari pada yang sudah-sudah. Memeluk tubuh Gaara dengan erat. "Kau sudah berjanji padaku—hiks! —akan menjagaku selamanya. Kau mengingkari janjimu. Kau pembohong—hiks!"
"Ssshhhh! Jangan menangis, Sakura."
Sakura kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Gaara—kau akan … akan …"
Gaara tersenyum tipis. "Bisakah kau mengabulkan satu permohonanku yang terakhir."
"A—apa itu?"
"Cium aku untuk yang terakhir kalinya."
Sakura langsung membatu mendengarnya. Kedua kakinya tiba-tiba saja gemetar dan kembali melemas. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Gaara melepaskan pelukan Sakura dengan pelan dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Sakura sama sekali tak mampu bergerak, bahkan ketika bibirnya sudah dikecup mesra oleh pemuda itu.
Ini adalah ciuman pertama Sakura dengan Gaara.
Sakura memejam kedua matanya dan kedua tangannya bergerak sendiri untuk menyentuh rambut merah milik pemuda itu. Mendorong kepala pemuda itu untuk lebih mendapatkan kepuasan yang baru pertama kali dirasakan oleh bibirnya, oleh hatinya.
Saling bertukar saliva. Saling melumat bibir masing-masing. Saling memberikan kepuasan.
"Jika hal ini bisa membuatmu bahagia, maka aku … aku—Gaara, aku menyayangimu," batin Sakura.
Keduanya hanyut dalam ciuman panas yang mereka lakukan. Tanpa tahu jika kekasih gadis itu berlari ke arah mereka dengan wajah memerah menahan amarah.
Set!
Bugh!
Sasuke menarik kerah kemeja Gaara dan langsung meninju wajah pemuda itu dengan sangat keras. Sedangkan Sakura hanya memekik kaget dan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sasuke, terlebih dengan kehadirannya di tempat ini.
"GAARAAA!" Sakura berteriak kencang dan langsung berniat menghampirinya namun pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh Sasuke.
"Lepas! Sasuke, lepaskan a—"
Plak!
Sakura langsung terdiam membisu. Pipi kanannya terasa perih dan panas. Ia memandang wajah Sasuke yang menatapnya penuh dengan rasa benci.
"K—kenapa? Sasuke … "
"Cih! Dasar gadis murahan! Apa yang baru saja kau lakukan dengan pemuda ini dihadapan kekasihmu sendiri, HAH?" Sasuke berucap dengan penuh penekanan dan dipenuhi dengan nada benci. Ia melepaskan pergelangan tangan Sakura dengan sedikit mendorongnya.
"Kau salah paham. Ini bukanlah seperti apa yang kau bayangkan. Percayalah! Sasuke, percayalah padaku," ucap Sakura pelan dan mengenggam kedua pergelangan tangan Sasuke.
Namun Sasuke menepisnya dengan kasar. Membuat Gaara marah dan langsung membalas meninju wajah pemuda berambut raven itu tak kalah kerasnya. Lagi-lagi Sakura hanya memekik kaget dan berusaha melerai keduanya meskipun hal itu percuma. Karena Sasuke kembali memukul wajah Gaara tepas di pelipis kanannya membuat pemuda itu jatuh tersungkur dengan merintih sakit.
Sakura langsung menghampiri Gaara bermaksud memeriksa keadaannya. Tapi, belum sempat gadis itu mendekat pada Gaara, lagi-lagi Sasuke mencengkram pergelangan tangannya. Dengan gerakan cepat Sasuke meraih pinggang Sakura dan langsung mencium bibir mungil gadis itu dengan kasar. Mengunci seluruh pergerakan Sakura, membuat gadis itu tak bisa berkutik sama sekali.
Yang bisa Sakura lakukan adalah berusaha tak membalas ciuman Sasuke. Karena hatinya berkata jika saat ini yang sedang menciumnya bukanlah Sasuke yang dikenalnya. Ia orang lain.
Selama beberapa detik Sasuke tetap bertahan dengan posisinya. Namun, karena ia merasa Sakura tak membalas ciumannya ia langsung melepaskan gadis itu dengan kasar, mendorongnya keras membuat Sakura jatuh terduduk.
Napas sakura tersengal-sengal, wajahnya merah padam karena sesak. "S—Sasuke … k-kenapa—"
"Ada hubungan apa diantara kalian berdua sebenarnya, HAH?"
"A—apa yang kau maksud, Sasuke?"
"Jangan berbohong lagi padaku, Sakura. Aku tahu kau dan dia—"
"Aku sangat mencintai Sakura. Karena itu, bisakah kau melepasnya untukku, Uchiha?" Gaara angkat bicara meskipun ia belum mampu untuk berdiri sepenuhnya.
"BRENGSEK!" Sasuke bergerak cepat mendekati Gaara dan langsung melayangkan pukulannya tepat ke perut pemuda itu beberapa kali.
Gaara terbatuk dan kembali jatuh tersungkur. Belum puas, Sasuke kembali melayangkan pukulan tangannya pada wajah pemuda itu beberapa kali.
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
"Mati saja KAU!" teriak Sasuke.
"HENTIKAN! SASUKE!" Sakura berteriak kencang dan langsung menarik sebelah tangan Sasuke agar menyingkir dari atas tubuh Gaara.
"Lepaskan aku! Sakura, lepaskan aku."
Plak!
Sakura terkejut dengan tindakannya, ia memandang telapak tangannya sendiri yang sedikit memerah akibat sudah menampar pipi kanan Sasuke. Ia memandang kedua mata onyx pemuda itu yang menatapnya terluka. "M—maaf."
"Cih! Kau berani menamparku untuk membela laki-laki busuk ini," tunjuk Sasuke pada Gaara dengan jari telunjuk kanannya.
"Jangan pernah memanggilnya seperti itu! Gaara adalah orang yang sangat penting dan berharga dalam hidupku. Aku sangat—"
Sakura langsung terdiam tak melanjutkan ucapannya. Ia sadar jika dirinya sudah salah mengatakan hal seperti itu pada Sasuke, setidaknya tidak dalam keadaan seperti ini.
"Kenapa berhenti, Sakura? Apakah kata 'mencintainya' akan keluar dari mulutmu, heh?" sindir Sasuke dengan nada sinis.
"Tidak. Kau salah paham dengan maksudku, Sasuke. Aku—"
"DIAAAAMMMM!" teriak Sasuke dan menatap tajam Sakura.
"…"
Sasuke langsung membelakangi Sakura juga Gaara. Ia memalingkan wajahnya sedikit untuk melirik wajah Sakura mungkin untuk yang terakhir kalinya. "Hubungan kita berakhir sampai di sini. Jangan pernah mencoba untuk menghubungiku lagi. Dan jangan pernah muncul lagi di kehidupanku. Aku … membencimu. Sangat membencimu, Haruno Sakura."
Berjalan pergi tanpa melirik Sakura kembali.
"TIDAAAKK! Sasuke, dengarkan dulu. Dengarkan penjelasanku dulu. JANGAN PERGI!"
Sakura langsung berlari mengerjar Sasuke dan memeluk tubuh pemuda itu dari belakang. Meninggalkan Gaara sendiri yang menatap keduanya dengan ekspresi campur aduk. Marah, sedih dan … menyesal.
"Kumohon! Jangan tinggalkan aku. Sasuke—tanpamu … tanpamu aku tak akan—"
"Apakah kata-kataku belum cukup jelas, Haruno?" tanya Sasuke sarkastik membuat Sakura lagi-lagi membelalakan kedua matanya tak percaya karena panggilan yang diberikan oleh Sasuke padanya.
Sakura sama sekali tak peduli dengan ucapan Sasuke, ia mengeratkan pelukannya pada pemuda itu dari arah belakang. Dan Sasuke, tengah berusaha keras untuk melepaskan kedua tangan Sakura dari pinggangnya. Memang benar adanya anggapan jika tenaga laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.
Terbukti jika kini Sasuke berhasil melepaskan pelukan Sakura, dan kembali berjalan tanpa menengok sedikitpun ke belakang. Sakura kembali mengerjarnya, tapi kakinya tersandung batu kerikil membuat kedua lututnya membentur aspal lumayan keras.
Gadis berambut merah muda itu berusaha bangkit berdiri, tapi ia tak berhasil. Dan yang bisa dilakukan gadis itu hanya menangis sejadi-jadinya sambil meneriakan nama pemuda itu. "SASUKEEEE!"
Gaara sudah tak sadarkan diri akibat beberapa pukulan yang diterimanya dari Sasuke. Dan Karin yang dari tadi menyaksikan kejadian itu hanya tertawa dalam hati. Raut wajah senang yang tadi menghiasi wajahnya kini digantikan dengan raut wajah sedih dan khawatir. Ia berlari mendekati Gaara.
"Hey! Bangunlah, Gaara. Kau mendengarku?" tanya Karin sambil mengguncangkan kedua bahu Gaara pelan.
"…"
"..."
"..."
Tak ada reaksi apapun dari Gaara, dan hal itu membuat Karin panik. Terlebih ketika banyak darah yang mengalir dari pelipis kanan juga sudut bibirnya. Ia langsung berteriak histeris memanggil nama pemuda itu. "GAAARAAAA!" teriaknya yang masih mencoba membangunkan pemuda itu.
Sakura yang mendengarnya langsung tersadar. Ia menghapus jejak-jejak air matanya. Bersusah payah bangkit berdiri meskipun lututnya terasa lemas dan gemetar. Dan rasa linu dan perih pun menyelimuti bagian kedua lututnya. Darah mulai merembes keluar dan mengalir ke bawah kakinya.
Namun, rasa sakit fisik itu tak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang hatinya rasakan. Batinnya terluka. Dan rasanya Sakura ingin mati sekarang juga.
"Karin, bantu aku membawanya ke rumah sakit," ucap Sakura dan langsung meraih lengan Gaara. Berupaya untuk membawanya ke mobil Karin, dan gadis berkacamata merah itu ikut membantu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura kembali terisak sambil memeluk tubuh Gaara di belakang Karin yang tengah menyetir mobil. Karin mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan penuh dan sudah menerobos beberapa kali lampu lalu lintas. Sebuah keberuntungan tak ada polisi waktu itu.
Tak bisa dicegah oleh gadis berambut merah itu air mata mengalir dari kedua matanya. Di dalam hati ia juga tak habis pikir. Mengapa ia menangis?
Menangis karena melihat keadaan Gaara?
Atau menangis karena melihat sahabat yang sudah bersamanya dalam keadaan senang dan sedih itu tengah dilanda kepedihan dan kesakitan yang tak bisa diungakapkan dengan kata-kata?
Karin beberapa kali menggelengkan kepalanya pelan dan segera menghapus jejak air mata di kedua pipinya.
"Tak usah dipikirkan aku menangis karena apa," batin Karin dan mulai tersenyum tipis mencoba menghibur hatinya sendiri.
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa harus seperti ini?" ucap Sakura pelan dan semakin mengeratkan pelukannya pada Gaara.
Karin melirik sosok Sakura dari kaca spion di atas kepalanya dan mendengus pelan. "Hal seperti ini tak bisa dibandingkan dengan penderitaan yang kau berikan untukku, Sakura," batinnya.
"Kau sudah merebut Sasuke, kau sudah merebut semua teman-temanku, kau sudah merebut perhatian ayah dan ibuku, kau sudah merebut semua kebahagianku. Karena itu, jika aku melakukan hal yang sama, bukankah ini sudah impas?" batin Karin lagi dan mencengkram stir kemudi dengan erat sampai kuku-kuku jarinya memutih.
Karin membelokkan stir kemudi ke kiri untuk memasuki halaman depan Rumah Sakit Konoha. Ia berhenti tepat di pintu masuk lobi, tak mengindahkan tatapan tajam dari satpam di rumah sakit itu. Ia segera keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Sakura.
Sakura langsung berteriak kencang memanggil suster maupun dokter di rumah sakit itu membuat perhatian orang-orang di sana tertuju padanya. Ada yang memandangnya kasihan dan prihatin dan ada juga yang memandangnya tak suka karena keributan yang ditimbulkannya.
Akhirnya Gaara di tidurkan di atas tempat tidur dorong dan di bawa oleh dua suster, lalu membawanya ke ruang gawat darurat. Sementara Sakura dan Karin menunggu di luar atas perintah dokter yang akan menangani Gaara.
Kedua kaki Sakura langsung lemas, dan tubuhnya ambruk menyentuh lantai. Ia menutup wajahnya sendiri dan sebuah tangisan pilu kembali terdengar di lorong rumah sakit itu. Karin berjalan mendekat pada Sakura dan menyentuh bahu kanannya pelan.
Sedetik kemudian Sakura langsung memeluk Karin erat dan menumpahkan segala kesedihannya di bahu gadis itu. "Aku tidak bisa menjalani semua ini sendiri. Aku tidak bisa," ucap Sakura pelan nyaris berbisik.
Karin membalas memeluk Sakura erat dan mengusap punggungg gadis itu pelan. Sebuah senyuman yang entah artinya apa sekarang tercipta di bibir Karin. "Kau tidak sendiri. Masih ada aku."
"Terima kasih! Terima kasih banyak, Karin," ucap Sakura.
"Ya, benar. Masih ada aku," batin Karin tersenyum licik.
.
.
.
.
Tsuzuku
Fiuh!*ngelap keringat*
Akrnya selesai jg buat adgan masa lalu antra SasuSaku berpisah, juga adgan perencanaan Gaara dan Karin.
Jujur sbnrnya ga tega jg buat Gaara dan Karin jd antagonis…
Tapi, ya, memang harus alurnya seprti itu. Hehe.
Kyknya msh pnjng nih fic untuk mncapai endingnya.
Ita-kun sama Saso-kun blm terlihat perannya apa di sini.
Slnjtnya, mngkn ga akan di crtakan kmbl mengenai masa lalu SS krn udh keungkap semua. Kalaupun ada hanya sdkit sja.
Jadi, mau kah menunggu lbh lma untuk mlht endingnya nnti bgaimana?
Maaf atas keterlambtan update-annya.
Review?
