Previous Chapter

"Aku dan Gaara, berkerja sama untuk memisahkan kalian."

"Jika dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, aku akan menolak. Karena aku tidak mau jika hubungan persahabatan di antara kita putus ataupun rusak. Aku lebih memilih seorang sahabat dari pada apapun."

"Kalau begitu, aku akan memberikanmu sebuah kejutan yang tak akan pernah kau lupakan, Sakura."

.

.

.

"Tinggalkan Sasuke dan menikahlah denganku, Sakura."

"Cium aku untuk yang terakhir kalinya."

.

.

.

"Jangan berbohong lagi padaku, Sakura. Aku tahu kau dan dia—"

"TIDAAAKK! Sasuke, dengarkan dulu. Dengarkan penjelasanku dulu. JANGAN PERGI!"

"Terima kasih! Terima kasih banyak, Karin."

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Gisei©Tsukiyomi A. Kumiko

Genre : Angst/Romance/Hurt/Comfort

Rated : T+

Warning : OOC, AU, Typo's, GaJe

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Review

.

.

.

.

.

Sakura masih tetap saja terisak menangis di dalam pelukan sahabatnya yang berambut merah itu. Bahkan Sakura sama sekali tak tahu jika sahabatnya yang telah dipeluknya itu tengah menyunggingkan sebuah senyuman kecil, meskipun kedua pipinya ikut basah setelah menangis bersama Sakura beberapa menit lalu.

Karin membantu Sakura berdiri dan memapahnya untuk duduk di kursi tunggu di samping pintu IGD. Keduanya menunggu dengan raut wajah letih dan khawatir. Di dalam hati, Karin tak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Dia kira, Gaara tidak akan dipukuli dengan 'ganasnya' oleh Sasuke. Ternyata luapan amarah karena dibakar rasa cemburu itu lebih buruk daripada apapun di dunia ini.

"Hiks! Hiks!"

Suara isak tangis kembali terdengar yang membuat Karin kembali menatap sahabatnya. Kepala Sakura tertunduk lesu dan wajahnya tak terlihat karena tertutupi sebagian rambut depannya. Karin menjulurkan tangan kanannya untuk merapikan rambut sahabatnya yang terlihat begitu berantakan. Mungkin Karin tak akan bisa tahu jika hati Sakura lebih berantakan dari pada penampilannya sekarang.

Hati sahabatnya itu sudah remuk, hancur sampai ke serpihan yang terkecil. Dan untuk merekatkannya supaya utuh kembali adalah hal yang sangat sulit. Mungkin saja Sakura tak akan mampu untuk menata kembali hatinya.

Karin mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dari dalam saku roknya. Ia gunakan sapu tangan itu untuk mengelap kedua pipi Sakura yang basah dan setelah itu menggenggam tangan kanannya erat seolah memberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya.

Gadis berkacamata itu menyunggingkan senyuman kecil dan berkata pada Sakura, "Jangan menangis lagi! Kau tidak selemah ini, Sakura. Ayo, bersemangatlah. Kuyakin Gaara akan baik-baik saja," ucapnya pelan.

Kepala Sakura langsung terangkat dan menatap wajah Karin dengan pandangan kosong. Raut wajahnya sangat datar dan tak menampakan eskpresi apapun. Seperti sebuah boneka. Namun, air mata mengalir tanpa henti dari kedua sudut matanya dan lagi-lagi membuat kedua pipinya basah.

"Ada apa?" tanya Karin dengan dahi sedikit terlipat. Ia mulai merasa ada keanehan dalam diri Sakura dan jujur itu membuatnya takut.

"Gaara tidak akan baik-baik saja. Dia sakit—sakit parah dan tak tertolong lagi," ucap Sakura dan mengalihkan pandangannya dari Karin. Sakura kembali menundukan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya erat di atas pahanya.

Karin hendak kembali bertanya namun diurungkannya ketika pintu ruangan disampingnya perlahan terbuka. Dan seorang pria baruh baya berambut hitam keluar dari ruangan tersebut dengan guratan wajah lelah dan sedih. Kenapa?

Dokter itu menurunkan masker hijau yang tadi dikenakannya dan menatap wajah Sakura.

Sakura langsung bangkit dan mencengkram baju dokter itu dengan erat. "Dokter!" serunya kencang.

Dokter itu memegang kedua bahu Sakura erat dan tersenyum lemah. "Kau bisa menemuinya, tapi hanya sebentar saja. Dia butuh istirahat," ucapnya.

Sakura perlahan melepaskan cengkraman tangannya dan berniat masuk ke dalam ruang perawatan itu. Tapi, baru saja hendak tangannya memegang knop pintu sang dokter kembali bersuara.

"Maaf. Aku tak bisa berbuat banyak untuk menolongnya," ucap dokter itu dan melenggang pergi.

Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kepala gadis itu mengangguk dan langsung masuk. "Aku harus kuat. Aku tak boleh menangis di hadapan Gaara. Aku bisa melakukannya. Aku bisa," batinnya dan menghapus kasar kedua pipinya yang basah.

Karin yang dibuat bingung dengan perkataan dokter dan sikap Sakura langsung menyusul dokter tersebut untuk menanyakan perihal apa maksud dari ucapannya barusan. "Tunggu sebentar!" serunya dan berlari menghampiri dokter itu.

Dokter itu tak berucap apa-apa. Hanya membalikkan badan dengan sebelah alis terangkat.

"Bisakah Anda memberitahu Saya apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Karin.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura mendudukan dirinya di atas kursi di samping ranjang Gaara dengan pelan sampai tak menimbulkan suara apapun. Kedua tangan gadis itu terulur ke depan untuk menggenggam tangan Gaara yang bebas selang infuse. Ia menggenggamnya dengan erat dan penuh dengan kehangatan, berharap agar pemuda itu mau membuka mata untuk melihatnya. Jika ia ada di sini, di sampingnya, menemaninya dan berharap agar kedua mata jade itu memandang lembut padanya.

Kedua mata emerald gadis itu melirik sekilas layar monitor yang menunjukan rekaman detak jantung Gaara yang terlihat normal-normal saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan untuk saat ini. Pemuda itu pun bernapas dengan teratur dan tenang.

Pipi yang tirus, wajah yang sangat pucat. Entah bagaimana bisa Sakura luput akan keadaan orang yang selalu bersamanya itu. Ia baru sadar jika selama ini hanya ia yang egois. Gaara selalu memerhatikannya, Gaara selau tahu jika ia sedang sakit, Gaara selalu menjaganya. Tapi dibandingkan dengan dirinya ia tak ada apa-apanya.

Sakura sangat menyesal karena belum melakukan sesuatu yang berarti bagi pemuda itu. Setidaknya ia ingin membalas perbuatan baik pemuda itu kepada dirinya.

Jika bukan karena pengorbanan pemuda itu, ia tak akan bisa ada di sini. Ia tak akan bisa melihat indahnya dunia. Ia tak akan bisa melihat bunga-bunga yang mekar dengan cantiknya pada musim semi. Ia tak akan bisa melihat dan merasakan dinginnya salju di musim dingin. Ia tak akan bisa melihat daun yang berguguran dengan indahnya di musim gugur. Ia tak akan bisa merasakan teriknya sinar matahari membakar kulit dan tak bisa mendengar suara jangkrik pada musim panas.

Semua itu bisa ia rasakan karena keberanian dan pengorbanan Gaara yang membawanya kabur keluar dari panti asuhan yang mengurungnya. Dari panti asuhan yang terkutuk itu.

Sungguh Sakura merasa sangat beruntung bisa kenal dan hidup bersama dengan Gaara. Ia memang merasakan ada getaran yang aneh pada hatinya ketika bersama Gaara, dan ia baru sadar jika ia mencintai pemuda itu.

Tapi, apa benar perasaannya itu adalah perasaan cinta seorang gadis pada seorang pemuda seperti halnya dirinya dan Sasuke? Atau perasaan cinta karena menganggumi seseorang? Atau perasaan cinta karena ingin membalas sebuah perbuatan baik?

Sakura sama sekali tak bisa membedakannya. Tapi, jika ditanya ia lebih mencintai Gaara atau Sasuke? Maka jawabannya adalah Sasuke. Namun, jika ia ditanya ia lebih menginginkan bersama siapa? Maka jawabannya adalah Gaara.

.

.

.

.

.

.

.

Jadi, siapa sebenarnya yang benar-benar kau inginkan di dalam hatimu, Sakura?

Putuskan sekarang juga atau kau akan menyesal untuk selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

Karin berjalan lesu meninggalkan ruangan dokter yang baru saja ditemuinya. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri karena tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar mengenai keadaan Gaara. Diwajahnya terlukis sebuah guratan sedih.

Gadis itu berhenti berjalan dan menyenderkan samping tubuhnya pada tembok. Dan cairan bening itu meleleh keluar dari kedua matanya tanpa bisa ia cegah. Kedua tangannya gemetar dan jantungnya berdetak sangat cepat membayangkan apa jadinya ketika Sakura harus kehilangan dua orang sekaligus yang sangat berarti baginya dalam waktu yang bersamaan.

Kedua mata ruby itu membulat sempurna ketika baru teringat jika besok adalah hari ulang tahun Sakura. Dan perkataannya saat berada di Mall itu kembali terngiang di dalam kepalanya. Mungkin ini adalah kado terburuk yang pernah Sakura dapatkan seumur hidupnya.

Rasa benci dan iri pada sahabatnya itu meluap keluar dan hilang entah kemana. Yang ada pada dirinya kini perasaan sedih dan penyesalan. Seharusnya ia tak menerima ajakan Gaara untuk memisahkan Sasuke dan Sakura. Seharusnya ia bisa merelakan Sasuke untuk Sakura. Seharusnya ia bisa membunuh perasaannya sendiri terhadap Sasuke.

Kenapa harus sekarang ia merasa menyesal? Kenapa tidak sebelum ini terjadi?

Tapi, merasa menyesal sekarang pun sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya ia sudah sampai pada tujuannya, memisahkan Sasuke dan Sakura.

"Aku tak bisa berhenti di sini. Maafkan aku, Sakura," batin Karin.

Gadis itu mengambil handphone miliknya di dalam tas dan menghubungi Sasuke. Karin kembali berjalan dan menghapus kasar kedua pipinya yang basah. Selang beberapa detik kemudian suara bariton milik seorang pria terdengar dari sebrang telepon.

"S—Sasuke … " ucap Karin pelan.

'Hn.'

"B-bisa kita … bertemu sekarang? Ada yang ingin kukatakan padamu."

'Hn. Aku tidak bisa.'

"Ke-kenapa?" tanya Karin dan mencengkram erat dadanya sendiri dengan satu tangan. Jantungnya serasa berdetak sangat cepat ketika menunggu jawaban Sasuke.

'Karena aku akan pergi.'

"Pergi? Kemana?"

'Kemana aku pergi bukanlah urusanmu, Karin.'

"Tapi aku—aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau ada di mana sekarang? Biar aku yang menemuimu," ucap Karin bersikeras.

'Tidak perlu. Katakan saja di telepon.'

"…"

"…"

"…"

Karin terdiam selama beberapa detik ketika memutuskan apakah ia akan mengatakan soal perasaannya sekarang juga atau menunggu lagi.

'Akan kututup jika kau tidak mulai bicara. Dengar! Aku tidak punya waktu untuk—'

"Aku mencintaimu," ucap Karin cepat.

'…'

'…'

'…'

Nampak tak ada jawaban dari Sasuke. Pemuda itu terdiam di sebrang telepon sana.

"Sejak dulu. Bahkan sebelum kau mengenal Sakura," ucap Karin lagi.

'…'

'…'

'…'

Tetap tak ada respon dari Sasuke. Tapi, Karin masih tetap ingin melanjutkan perkataannya karena ia tahu jika Sasuke masih mendengarkannya.

"Aku ingin selalu berada di sisimu. Beri aku kesempatan sekali saja. Sasuke, kumohon lihat aku."

'…'

'…'

'Terima kasih dan aku minta maaf untuk itu.'

"Kenapa kau berterima kasih padaku dan meminta maaf? Apa maksudnya?" tanya Karin dan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Gadis itu semakin erat mencengkram dadanya.

'Aku tidak bisa menerimamu.'

"Tidak! Kau tidak boleh memutuskan seenaknya seperti ini. Apa kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin—hiks!" Karin langsung jatuh terduduk dan menangis tersedu tanpa menyelesaikan ucapannya barusan.

'Aku menganggapmu sebagai sahabat. Selamanya tidak akan berubah. Lagi pula, mungkin aku tidak akan kembali ke sini.'

"Apa … maksudmu?" tanya Karin dan membulatkan kedua matanya terkejut.

'Aku akan pergi ke Amerika.'

"Kau … bercanda 'kan? Bagaimana denganku? Sasuke, kau ini—"

'Selamat tinggal.'

Tut! Tut!

"Sasuke?" ucap Karin namun percuma sambungan telepon itu sudah diputus secara sepihak.

Dan saat detik itu juga sebuah jerit tangis yang terdengar memilukan itu menggema di lorong rumah sakit. Karin melemparkan ponsel itu ke dinding sampai hancur terbelah dua, bahkan baterai dan sim card-nya pun keluar dari tempatnya. Tak ada siapapun, tak ada yang memperdulikan wajah gadis itu berurai air mata.

Air mata sakit hati. Air mata penyesalan. Dan air mata kebencian.

"Kau jahat, Sasuke! Kau tak memberiku satu kesempatan saja. AAAARRRGGGHHHH!" teriak Karin keras dan sama sekali tak memperdulikan tempat di mana ia menangis.

Karin menundukan kepalanya sampai dahinya menyentuh lantai. Kedua bahunya gemetar dan samar-sama suara tawa kesedihan terdengar darinya. Semuanya hancur. Semuanya berantakan.

Rencana yang sudah ia jalankan tak menghasilkan apapun. Hatinya hancur remuk, perasaannya berantakan, kacau balau.

Semua yang dilakukannya selama ini sia-sia.

Kedua tangan Karin mengepal erat dan beberapa kali membenturkannya pada lantai. Tak hanya itu, beberapa kali juga Karin sengaja membenturkan dahinya dengan keras.

Duk! Duk! Duk!

"Hey! Apa yang kau lakukan? Cepat bangun!" teriak seorang pemuda berambut coklat yang masih mengenakan seragam sekolah yang sama seperti Karin. Pemuda itu muncul di belokan koridor untuk ke kamar rawat Gaara.

Pemuda yang memiliki tattoo di kedua pipinya itu berusaha menegakkan tubuh Karin, namun tangan gadis itu langsung menepisnya kasar.

"Lepaskan aku, BODOH! JANGAN IKUT CAMPUR. PERGI SANA!" teriak Karin.

Pemuda itu sangat terkejut dengan balasan salah satu sahabat perempuannya itu. Selama ini yang ia tahu, gadis itu tak pernah berkata kasar. Di tambah, ekspresi gadis itu yang menunjukan rasa marah dan sedih baru pertama kali dilihatnya. Dan nyatanya kini gadis itu berurai air mata.

"Apa yang terjadi?" tanya pemuda itu dan tetap tak mau beranjak dari samping gadis itu.

"Kau tanya padaku apa yang terjadi? HUH! Lucu sekali. Harusnya kau tanya pada gadis bodoh berambut pink itu."

"A—apa katamu?"

"Kalian berdua sama-sama bodoh. Aku benci kalian berdua. AKU BENCI SEMUANYA! PERGI! PERGI! AAARRRRRGGHHH!" Lagi-lagi Karin berteriak kencang sambil memegang kedua sisi kepalanya.

"Kau kenapa? Karin, hentikan!" ucap Kiba dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Namun, kejadian selanjutnya adalah tubuh gadis itu jatuh lunglai dan kepalanya membentur lantai cukup keras. Kaca mata Karin terlepas dan lensa kacamata sebelah kirinya retak. Dan akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.

"KARIINNN!" teriak Kiba.

##Sacrifice##

Semalam penuh Sakura berada di rumah sakit menemani Gaara. Gadis berambut merah muda itu masih tetap dalam posisinya. Duduk dengan kedua tangan yang masih menggenggam tangan seorang pemuda tampan berambut merah darah. Kepalanya tertunduk dan menyender pada sisi ranjang pemuda itu.

Sedetik kemudian gerakan kecil terlihat dilakukan oleh Sakura. Ia mengangkat kepalanya dengan mata yang masih setengah terpejam. Sedikit menguap kecil ketika ia memandang wajah tidur Gaara. Dan segaris senyum kecil menghiasi bibirnya.

Hati dan pikirannya sudah memutuskan untuk membahagiakan Gaara di saat-saat terakhir. Meskipun itu menyakitkan untuknya, tapi ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Karena hanya dengan melakukan hal itu Sakura bisa membalas semua perbuatan baik pemuda itu padanya.

Sakura menatap wajah Gaara dengan pandangan sendu dan memanjatkan do'a dalam hati agar pemuda itu cepat sadar. Dan ketika tangan yang berada di dalam genggamannya bergerak, seulas senyum lega menghiasi bibir Sakura. Akhirnya, pemuda itu membuka kedua matanya secara perlahan.

"Gaara … " lirih Sakura dan tersenyum lembut.

Pemuda itu menengokan kepalanya ke kanan. Sepintas tak ada yang aneh dengan kedua matanya, tapi sorot mata pemuda itu begitu tak terarah. Bergerak ke kanan dan ke kiri seperti orang bingung. Seperti mencari sesuatu.

"Apa yang terjadi?"

Sakura tersenyum sebaik mungkin padahal jauh di dalam hatinya ia ingin menangis. Menjerit. Mengeluarkan semua perasaannya lewat air mata. Tapi, ia tak bisa. Tak bisa saat di hadapan pemuda ini. Atau mungkin kini air matanya sudah mengering sehingga sulit untuk ia keluarkan?

"Kau jatuh pingsan setelah kejadian itu," jawab Sakura.

Gaara memejamkan kedua matanya selama beberapa detik untuk mengingat kejadian apa yang dimaksudkan Sakura tadi.

"Kau … baik-baik saja?" tanya Sakura.

Gaara menggelengkan kepalanya pelan. "Seharusnya pertanyaan itu untukmu," ucapnya pelan.

Sakura tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Jangan—"

"Tidak." Gaara memotong cepat ucapan Sakura. "Kau sedang tidak baik-baik saja. Maafkan aku, Sakura."

Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan dan menggenggam lebih erat tangan pemuda itu. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun."

Bohong besar.

Gaara sangat sadar dan tahu jika ia sudah membuat kesalahan yang besar. Kesalahan yang tak termaafkan. Tapi, hanya demi untuk dirinya, gadis itu mau berbohong. Membohongi hati dan perasaannya sendiri.

"Kau benci padaku, benar 'kan, Sakura?"

Sakura membulatkan kedua matanya tak percaya. "Apa yang kau katakan?"

Gaara tersenyum lemah. "Aku sudah merusak segalanya. Aku sudah menghancurkan hati dan perasaanmu. Dan aku juga sudah menghancurkan hidupmu. Kau pantas membenciku. Aku akan menerimanya."

"Kau salah. Sejak awal kau tidak merusak apapun. Jangan pernah berpikiran aku akan membencimu. Karena pada kenyataannya aku tidak. Aku sangat menyayangimu. Kau adalah sebuah perisai untukku. Berkatmu, kini aku bisa melihat apa yang tidak bisa aku lihat saat di tempat itu. Kau sudah berkorban banyak untukku selama ini. Karena itu, izinkan aku untuk membalas semua yang kau lakukan untukku."

Gaara menaikan sebelah alisnya bingung. Ia dengan amat perlahan bangkit dari tidurnya dan mencoba untuk duduk, baru setelah itu ia menatap Sakura. Meskipun penglihatannya sudah mengabur, tapi dia masih bisa melihat jika gadis yang ada di hadapannya itu tengah menatapnya malu-malu.

"Aku … " Sakura nampak ragu-ragu untuk mengatakannya.

"Hn."

"Izinkan aku untuk melakukannya. Perasaanmu padaku, aku akan menerimanya."

Gaara membulatkan kedua matanya karena tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Pemuda itu terdiam membisu dengan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya.

Belum Gaara sempat membuka bibirnya untuk berbicara, Sakura sudah mendekatkan wajahnya pada pemuda itu. Menyentuhkan bibirnya yang mungil pada bibir pemuda itu. Menekannya dengan lembut. Penuh dengan perasaan.

Wajah keduanya langsung bersemu merah. Atmosfir di ruangan itu entah kenapa berubah menjadi panas. Padahal di luar sana tengah mendung dan akan turun hujan.

Sakura menutup kedua matanya dan mengalungkan kedua lengannya ke leher pemuda itu. Gaara yang masih tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi hanya terdiam dan tak membalas ciuman sepihak itu.

Seharusnya hatinya senang, tapi kenapa terasa menyesakkan seperti ini?

Apa karena ciuman ini hanya untuk menutupi luka yang ada di hati gadis itu sendiri?

Ataukah ini hanya untuk pelarian saja?

Gaara langsung mencengkram kedua sisi lengan Sakura dan menyudahi ciuman itu. Pandangan matanya berubah menjadi tajam, rahangnya mengeras. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.

Sakura tersenyum sampai kedua matanya hanya terlihat segaris saja. Kedua pipinya memerah seperti buah apel. "Menciummu," jawabnya pendek.

"Karena itu aku bertanya. Apa yang kau lakukan dengan menciumku?"

"Kau ini lucu sekali. Bukankah sudah kukatakan? Aku. Menerima. Perasaanmu."

"Kenapa?" tanya Gaara tak mengerti.

"Kau tidak senang? Bukankah ini adalah keinginanmu sejak dulu?"

"Aku … benci dengan orang yang berbohong hanya demi orang lain. Hentikan semua yang kau lakukan ini, Sakura!"

Sakura lagi-lagi tersenyum. "Apanya yang berbohong? Apanya yang harus dihentikan? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, Gaara," tanya Sakura balik.

"KUBILANG HENTIKAN SEMUA INI!" teriak Gaara keras dan semakin mencengkram erat kedua lengan Sakura.

"Kumohon hentikan saja sandiwaramu, Sakura," ucap Gaara lirih.

"Aku tidak bersandiwara. Ini adalah aku yang sebenarnya. Kau tidak percaya?"

"Tentu saja aku tidak percaya. Kau sangat rapuh, Sakura. Aku sangat tahu itu."

Sakura menggigit bibir bawahnya keras. Matanya mulai berkaca-kaca dan kedua bahunya gemetar hebat. Bahkan Gaara bisa merasakan kesedihan itu meskipun ia tak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi wajah gadis itu sekarang.

Gaara bermaksud ingin menyentuh sisi wajah Sakura, namun ia hanya menyentuh udara kosong. Tangannya tak sampai untuk menyentuh wajah Sakura karena ia tak bisa melihat persis di mana letak wajah gadis itu.

Sungguh miris.

Clak! Clak!

Air mata Sakura menetes dan membasahi tangan Gaara satunya yang masih digenggam olehnya. "A-apa kau … tak bisa … melihatku sekarang?" tanyanya lirih.

Gaara terdiam dan itu sudah cukup untuk Sakura sebagai jawaban yang artinya : Ya.

Sakura langsung menggapai tangan Gaara yang tadi ingin menyentuh wajahnya. Menggenggamnya dengan erat dan menyentuhkannya pada sisi wajahnya yang sebelah kiri. Dan air mata Sakura kembali keluar dengan derasnya.

"Padahal … aku sudah berjanji pada diriku sendiri … untuk tidak menangis … dihadapanmu. Tapi aku … aku … " batin Sakura.

Gaara merasakan jika pipi Sakura basah lewat sapuan ibu jarinya. Segaris senyuman menghiasi bibirnya yang pucat. "Ini adalah kau yang sebenarnya. Menangislah, Sakura."

"Hiks! Hiks!"

BRAAAKKK!

Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dengan bunyi dentuman keras membuat Sakura langsung berhenti menangis dan menatap ambang pintu itu dengan cukup terkejut. Sedangkan Gaara hanya menatap lurus tanpa ada ekspresi apapun, karena ia tak tahu atau lebih tepatnya tak bisa melihat siapa orang yang sudah masuk seenaknya ke ruang peristirahatannya di rumah sakit ini.

"Hahhhh! Hahhh! Ga-gawat … Sakura," ucap seorang pemuda berambut kuning spike. Peluh nampak menghiasi wajahnya.

"A-ada apa, Kak Naruto?" tanya Sakura khawatir. Dan entah kenapa detak jantungnya bertambah keras dan semakin cepat, dadanya terasa begitu sakit dan sesak.

"Sasuke … " ucap Naruto dan mencoba mengatur deru napasnya agar ia bisa berbicara dengan jelas.

"…"

"…"

"Sasuke akan pergi ke Amerika dan ada kemungkinan dia tidak akan kembali. Pesawatnya akan berangkat lima menit lagi. Kau harus cepat, Sakura! Kejar dia," ucap Naruto yang akhirnya selesai mengucapkan kalimat panjang dalam satu kali tarikan napas saja.

Sakura membatu di tempat. Tenggorokannya tercekat dan tak mampu mengeluarkan suara apapun. Kedua mata emerald-nya menatap Gaara dengan pandangan bingung. Tadinya Sakura sudah menetapkan untuk membuat pemuda itu bahagia, tapi kenapa sekarang pendiriannya jadi goyah. Kenapa hatinya menyuruh untuk mengejar Sasuke dan meninggalkan Gaara?

Gaara merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya, dan keadaan di sekelilingnya berubah menjadi gelap. Pemuda itu langsung melepaskan genggaman tangan Sakura pada tangannya. "Cepat pergi!" ucapnya tegas di tengah menahan rasa sakit.

Dan tanpa mengucapkan kata apapun lagi, Sakura langsung berlari cepat. Meninggalkan Gaara yang tertunduk lesu dan berwajah sedih. Juga melewati Naruto tanpa menatapnya.

"Semoga berhasil," ucap Naruto meskipun Sakura sudah pergi jauh darinya.

Meskipun guratan wajah sedih dan kesakitan diperlihatkan oleh pemuda berambut merah darah itu, namun segaris senyuman kebahagian menghiasi bibirnya. "Aku akan melindungimu dari jauh di dunia yang berbeda, Sakura."

Siiiinnnggggg!

Sebuah bunyi nyaring yang berasal dari layar monitor yang merekam detak jantung Gaara menunjukan garis datar. Dan tubuh pemuda itu kembali terbaring, kedua matanya tertutup. Tertidur dengan senyuman di bibirnya. Hingga terakhir.

"GAAARRRAAAA!" teriak Naruto.

##Sacrifice##

Kepala pemuda berambut hitam kebiruan itu tertunduk. Ia duduk di sebuah kursi panjang dari sekian banyak kursi yang ada di bandara. Kedua tangannya nampak menggenggam sebuah tiket dengan erat, tapi raut wajahnya tak terlihat. Dan sebuah suara keras pemberitahuan untuk jadwal keberangkatan pesawatnya membuat pemuda itu langsung mengangkat kepalanya.

Kini terlihat raut wajahnya yang putus asa. Kini terlihat sorot matanya yang sedih.

Pemuda itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam polos. Dibukanya kotak itu perlahan dan memperlihatkan sebuah benda cantik yang ada di dalamnya. Kalung berwarna putih perak dengan bandul dua buah huruf S kecil—inisial namanya dan Sakura—yang saling menindih dibagian bawahnya juga dihiasi oleh taburan berlian kecil.

Harganya pasti mahal karena ia sengaja memesannya secara khusus, dan pemuda itu membelinya dengan memecahkan celengan kecil yang selama ini ia isi dari sisa uang sakunya selama 1 tahun. Dan pemuda itu tadinya berencana untuk memberikannya pada Sakura hari ini. Di saat gadis itu berulang tahun yang ke-18.

Kado yang cantik untuk gadis yang cantik.

"Tch!" Pemuda itu berdecih keras karena rencananya gagal. Hancur.

Ia tak akan bisa lagi memberikan kado cantik ini untuk kekasihnya. Seharusnya ia memberikan kado itu di saat ia tengah berduan saja dengan Sakura, di sebuah tempat yang romantis yang sudah ia persiapkan sebulan lebih awal. Rencananya sudah sangat-sangat matang. Tapi …

Hanya dalam waktu singkat saja rencananya itu hancur. Sama seperti hatinya saat ini. Hancur remuk, sampai ke kepingan yang terkecil. Kenapa? Kenapa hal seperti ini menimpa dirinya?

Sasuke menutup kembali kotak itu dan menyimpannya kembali di dalam saku. Tangan kanannya menarik sebuah koper besar di samping kanannya dan ia mulai berjalan pelan meninggalkan tempat yang baru saja ia duduki. Pemuda itu menengokan kepalanya ke belakang beberapa kali, jauh di dalam hatinya ia ingin jika kekasihnya itu mau datang untuk mencegahnya pergi.

Perasaan itu tak akan bisa hilang hanya dalam waktu setengah hari. Rasa cinta Sasuke pada Sakura begitu besar, begitu luas seluas jagat raya. Begitu dalam sedalam samudra. Mulutnya memang berkata jika ia benci pada gadis itu, tapi hatinya tidak.

Dan untuk pertama kalinya, Sasuke berbohong akan perasaannya sendiri. Pertama kalinya menangis demi seorang gadis. Dan Sakura adalah yang pertama baginya, dan ia harap juga akan menjadi yang terakhir.

"Aku berharap bisa melihatmu lagi … Sakura."

Dan pemuda itu akhirnya menyerah. Ia pergi dari Sakura. Ia pergi melarikan diri dari perasaan dan hatinya.

Ia melarikan diri dari segalanya.

.

.

.

.

.

.

.

Langit berubah menjadi semakin gelap. Suara gemuruh petir mulai terdengar. Dan angin dingin mulai menusuk kulit. Sebentar lagi langit akan menangis.

Tapi, semua itu tak membuat seorang Sakura berhenti untuk berlari di pinggir jalan menuju lapangan terbesar yang ada di Negara tersebut, bandara. Napasnya sudah mulai terdengar tak teratur. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Poni depannya sudah lepek dan menempel pada dahinya karena keringat.

Sakura melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Tinggal dua menit lagi. Dan ia mulai merasa putus asa. Belum lagi jantungnya dari tadi berdetak sangat cepat, begitu cepat sampai ia sulit untuk mengambil napas.

Kedua kakinya sudah mulai lemas dan juga lelah karena terus berlari. Ingin sekali berhenti, tapi jika ia lakukan maka kesempatannya untuk melihat Sasuke akan lenyap. Sakura menetapkan dalam hati jika saat ia bertemu dengan pemuda itu nanti ia akan mencegahnya pergi dengan segala cara.

Jika perlu ia akan pura-pura bunuh diri. Menggoreskan silet kecil pada nadi di pergelangan tangannya. Ia yakin Sasuke tak akan membiarkan dirinya melakukan hal gila seperti itu. Sakura sangat yakin jika saat Sasuke mengatakan kata 'benci' padanya ia bohong. Sakura sudah sangat terlalu mengenal Sasuke.

Ia bisa merasakan seberapa besar cinta pemuda itu padanya. Ia bisa merasakan seberapa dalam cinta pemuda itu padanya. Ia bisa merasakan seberapa sayangnya pemuda itu padanya. Ia bisa merasakan seberapa pedulinya pemuda itu padanya. Bahkan ia akan tahu jika pemuda itu sedang berkata bohong. Seperti yang dilakukannya di tempat parkir saat itu.

Clak! Clak!

Air mata kembali menetes dan jatuh ke atas permukaan jalan seperti butiran hujan. Kejadian itu kembali teringat. Dan rasa sesak di dadanya kembali muncul, menggerogotinya. Tak bisa dihentikan.

Sakura kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Tinggal satu menit lagi. "Apa aku sempat?" batinnya.

Tuk! Duk!

"Akh!" Sebelah kaki Sakura tersandung batu kecil dan membuat kedua lututnya yang memang sudah terluka kembali mengeluarkan cairan merah kental. Tak memperdulikan rasa sakit yang dirasakannya Sakura bangkit berdiri dan kembali berlari.

Pintu masuk bandara itu sudah di depan mata, ia tak boleh menyerah. Ia harus memperjuangkan cintanya sendiri.

"Haahhhh! Haaahhh!" Sakura mengambil napas sebentar setelah kedua kakinya menginjak lantai di dalam bandara. Kedua matanya mulai bergerilya kesana kemari mencari sosok Sasuke. Ia sudah bersusah payah berlari dan kini ia harus berusaha lagi untuk menemukan Sasuke.

"Kau di mana? Sasuke, kau ada di mana sekarang? Hiks! Hiks!" gumam Sakura pelan sambil terisak.

Ia mulai berjalan cepat dan mengindahkan gerutuan orang di sekitarnya karena Sakura tabrak secara tak sengaja. Bandara hari ini sangat penuh, sesak akan orang-orang yang sudah keluar dari pesawat maupun yang akan berangkat. Tak di temukan olehnya akhirnya Sakura bertanya pada seorang petugas pemeriksaan tiket untuk menanyakan pesawat tujuan New York kapan berangkat.

"Maaf. Aku ingin bertanya, pesawat tujuan New York berangkat jam berapa?" tanya Sakura.

Seorang wanita cantik berambut pendek lurus tersenyum menanggapi pertanyaan Sakura dan bersikap ramah. "Pesawat jurusan New York sudah berangkat lebih awal dari jadwal seharusnya."

Kedua mata Sakura terbelalak. Wajahnya berubah menjadi pucat. Bibirnya gemetar menahan tangis yang sebentar lagi akan ia tumpahkan. Tanpa berniat bertanya apapun lagi Sakura pergi dari tempat itu. Berjalan terseok-seok meninggalkan bandara. Membuat tanda tanya besar bagi wanita itu.

Kepala Sakura tertunduk dan wajahnya tertutupi oleh sebagian rambut bagian depannya. Terlihat cairan bening mengalir membasahi kedua pipinya.

"—terlambat. Sasuke … Sasuke sudah pergi." Racau Sakura sepanjang ia berjalan.

Banyak orang yang memerhatikannya. Menatapnya kasihan, iba dan penasaran. Apa yang terjadi pada gadis kecil itu?

Zraaassshhhh!

Hujan langsung turun dengan deras tanpa rintik-rintik kecil terlebih dahulu. Satu per satu banyak orang yang meneduh di bawah pohon, menunggu di halte atau pun di toko-toko, tempat apa saja yang membuat mereka bisa menghindari basahnya tubuh mereka.

Tapi, Sakura tak berniat untuk melakukan semua itu. Ia terus berjalan meskipun kepala dan kulitnya merasa sakit tertusuk oleh butiran hujan. Hawa dingin mulai merasuk sampai ke tulang. Petir menyambar-nyambar di atas langit sana.

Namun Sakura merasa beruntung karena ada yang menemaninya untuk menangis. Air hujan akan menghapus kesedihannya, ia harap begitu. Air hujan dapat menyamarkan tangisannya. Dan selanjutnya Sakura merasa semuanya berputar. Ada yang menyeretnya ke dalam kegelapan sampai ia tak bisa melihat sekelilingnya lagi. Dan ia membiarkan tubuhnya terjatuh di atas permukaan aspal yang dingin.

Samar-samar kedua telinganya menangkap suara panggilan seseorang yang berlomba-lomba dengan bunyi guyuran hujan. Setelah beberapa detik kemudian, ia merasa mulai tak mendengarnya lagi.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura terbangun di sebuah ruangan dengan warna dinding serba putih, dimulai dari gorden, warna pintu dan seprai juga selimut yang kini ia pakai. Beberapa kali gadis itu mengerjapkan kedua matanya karena bingung. Baju seragamnya sudah diganti dengan pakaian pasien khas rumah sakit yang seperti sebuah piyama berwarna biru.

Gadis itu mencoba bangun dan duduk perlahan. Ia memegang sisi kepalanya yang berdenyut sakit ketika ia gerakan untuk menengok ke sekeliling.

Cklek!

Pintu kamar itu terbuka dari luar, dan sosok seorang pemuda berambut kuning spike tersenyum lemah pada Sakura. Pemuda itu melangkah masuk dan menutup kembali pintunya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya setelah berada di samping kanan Sakura.

"Baik," jawab Sakura pelan dan menundukan kepalanya. Kedua tangannya nampak mengepal. Dan sorot matanya terlihat sendu dan juga putus asa.

"Sasuke … "

"Sudah pergi. Aku terlambat," jawab Sakura.

"Begitu. Mmm … Sakura, ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," ucap Naruto dan mulai bergerak gelisah. Ia membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan, dan kedua tangan itu nampak mengepal kuat.

"Katakan saja."

"Ini mengenai Gaara," ucap Naruto.

Sakura langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah kakak angkatnya itu dengan lekat. Dan ia melihat ada kilatan sedih pada kedua matanya. "Ada … apa?" tanyanya lirih.

"Gaara … sudah meninggal."

Kedua mata Sakura melebar. Mulutnya terbuka dan kemudian tertutup kembali. Air mata mengalir keluar dari sudut-sudut mataya. Bibirnya bergetar. Tubuhnya gemetaran. "Bohong. KAU BOHONG!" teriaknya keras dan mencengkram erat kerah jaket Naruto.

"Gaara meninggal setelah kepergianmu. Kata dokter kanker itu sudah menyebar ke bagian otaknya dan merusak beberapa sistem sarafnya. Dia sudah tidak tertolong lagi."

"TIDAAAAAKKKK! GAAAARRAAAA!" teriak Sakura dan langsung meloncat turun dari tempat tidurnya. Lalu berlari cepat keluar ruangan. Naruto mengejarnya dan berusaha menenangkan adik yang sangat disayanginya itu.

Naruto memeluk erat tubuh Sakura yang meronta untuk dilepaskan.

"AKU INGIN MELIHATNYA. KAKAK SALAH! GAARA MASIH HIDUP. LEPASKAN AKU! LEPASSKAAAAANNNN!"

"Tenanglah Sakura!"

"AAARRGGGGHHH!"

Karin mengintip keadaan Sakura dan Naruto di ambang pintu kamarnya. Wajahnya terlihat sendu namun sorot matanya tajam ketika memandang Sakura. Gadis itu berjalan mendekat lalu menarik tangan Sakura.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Sakura. Tangan Karin yang dipakainya untuk menampar Sakura masih menggantung di udara. "BERHENTILAH MENANGIS, DASAR GADIS CENGENG!" teriak Karin marah.

"Ka—rin … "

"Bukan hanya kau saja yang merasa kehilangan Gaara. BERHENTILAH MERASA MENJADI ORANG YANG PALING TERSAKITI DI SINI. KAU DENGAR ITU, SAKURA?" Karin masih berucap dengan nada keras pada Sakura. Gadis itu sama sekali tak perduli di mana ia berada saat ini.

Karin bersiap menampar Sakura kembali tapi gerakannya dihentikan oleh Naruto.

"Tenanglah, Karin!" Perintah Naruto yang tak tega melihat Sakura akan ditampar kedua kalinya. Tentu, Naruto paham dan tahu jika Karin juga terluka karena kehilangan Gaara dan kepergian Sasuke.

"Cih!" Karin berdecih keras dan langsung menyambar lengan kanan Sakura. Menyeretnya untuk ikut bersamanya ke suatu tempat.

"Diam dan ikut aku!" Ucap Karin tegas tanpa memandang Sakura di belakangnya. Dan Naruto sama sekali tidak berniat untuk mengikuti keduanya.

Gadis itu membawa Sakura ke taman belakang rumah sakit. Kedua mata ruby itu berkilat tajam saat keduanya tiba di sebuah bangku panjang di bawah pohon oak besar. "Dengar baik-baik apa yang akan kukatakan. Kau tidak boleh menyela perkataanku sebelum aku selesai mengatakannya. Kau mengerti?"

Sakura mengangguk.

"Sasuke pergi ke Amerika. Dan aku baru saja bertemu dengannya 30 menit yang lalu sebelum dia berangkat ke Bandara. Aku memintanya datang ke Taman Shizuoka dan dia menyanggupinya," ucap Karin dan tersenyum sinis.

Sakura lagi-lagi membulatkan mata karena tak percaya. Bagaimana bisa Sasuke menerima permintaan Karin padahal dirinya saja harus bersusah payah berlari dari rumah sakit ke bandara untuk menemuinya?

"Aku dan Sasuke adalah sepasang kekasih. Dulu. Sebelum kau datang dan merebutnya dariku."

Sakura merasakan jika kedua lututnya lemas. Membuatnya langsung jatuh terduduk. "Bohong!"

"Tidak. Aku berkata jujur. Kami berdua sangat bahagia, tapi semenjak kedatanganmu hidupku serasa di neraka. Aku tersiksa, hatiku sakit karena kau selalu mendekati kekasihku," ucap Karin dan mendengus sebal. "Huh! Tak kusangka Sasuke akan terbuai dengan rayuanmu dan meninggalkanku."

"…"

"…"

"Aku menganggapmu sebagai sahabatku. Jadi, aku berusaha melepaskannya supaya Sasuke bisa denganmu asalkan dia bahagia. Tapi aku tidak bisa. Aku sangat mencintainya. Dan ternyata Sasuke pun merasakan hal yang sama. Kau tahu, setelah putus denganmu dia memintaku untuk kembali padanya." Karin berjongkok di hadapan Sakura dan menaruh tangan kanannya pada bahu gadis itu. Memegangnya dengan erat. "Dan aku bilang, 'Ya, aku mau kembali padamu.' Aaahhh! Kau harus tahu betapa bahagianya aku saat itu."

Cairan bening meleleh keluar dari kedua mata emerald itu, namun Karin tak mau berhenti untuk menceritakan kenyaatan pahit yang sebenarnya pada Sakura.

"Dan yang paling membuatku bahagia adalah … Sasuke mengajakku tinggal bersama di Amerika—hahahhahahahha! Kami berencana akan bertunangan setelah lulus nanti. —oohhh! Tentu aku akan mengundangmu, Sakura. Kau 'kan sahabat terbaikku. Oh, ya, kado spesial yang kumaksud adalah ini."

Karin tersenyum sampai kedua matanya terlihat segaris saja. "Walaupun kau adalah pihak ketiga dalam hubungan kami, tapi aku memaafkanmu. Tenang saja, Sakura," ucapnya dan bangkit berdiri. Gadis itu berjalan pelan meninggalkan Sakura.

Tapi, baru saja lima langkah Karin menengokan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Sakura. Lagi-lagi senyum licik tersungging di bibirnya. "Aku akan segera menyusul Sasuke ke Amerika. Jaga dirimu baik-baik setelah aku pergi nanti, ya! Sampai jumpa, Sa-ku-ra. Dan—selamat ulang tahun." Dan sebuah tawa kemenangan terdengar dari bibir Karin.

Sakura menatap punggung Karin yang berjalan menjauhinya dirinya. Kedua tangannya nampak mengepal erat. Dan sebuah rasa sakit menyerang kepalanya. Rasa sakit seperti di tusuk-tusuk oleh jarum.

Sakura tidak kuat menahan semua kesedihannya. Pertama Sasuke yang pergi jauh meninggalkannya. Lalu, Gaara yang menghilang selamanya dari kehidupannya. Dan ketiga adalah kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah penghalang dari hubungan kedua sahabatnya.

"AAARRRGGGGHHH!"

Dan Sakura pun kembali jatuh pingsan.

.

.

.

.

.

.

.

One week laters

Konoha Hospital

08.00 a.m

Karin melangkahkan kedua kakinya mendekati Sakura yang tengah duduk di sebuah bangku panjang di belakang rumah sakit. Penampilan gadis itu terlihat sangat rapih dan anggun. Kacamata yang selalu di pakainya kini tak terlihat, menampilkan sepasang retina berwarna merah yang berkilauan seperti batuan ruby. Segaris senyum manis terlihat pada bibirnya yang mungil.

Orang yang akan ditemui gadis itu tengah menunduk menatap sebuket bunga mawar merah di pangkuannya. Helaian rambut merah mudanya nampak tergerak ke sana kemari akibat ulah angin.

"Sakura!" seru Karin bersemangat dan duduk di sampingnya.

Gadis yang dipanggil Sakura oleh Karin itu mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyuman lembut. "Kau datang," ucapnya.

Karin mengangguk dan pandangannya teralihkan oleh sebuket bunga di pangkuan gadis itu. "Bunga yang cantik. Siapa yang memberikannya untukmu?" tanyanya sambil tersenyum.

Sakura tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit. "Gaara yang memberikannya," ucapnya dan membuat senyum Karin lenyap seketika. Ia memandang sedih pada sahabatnya itu karena kasihan. Baru saja seminggu lalu ia melihat pemakaman Gaara tapi Sakura masih berkata seolah-olah pemuda itu masih berada bersamanya.

Karin mendengarnya dari Naruto mengenai keadaan Sakura. Mentalnya sedikit terganggu. Jiwanya dan batinnya tertekan setelah kepergian Gaara dan juga Sasuke. Karin dengar-dengar jika Sakura sama sekali tak ingat mengenai Sasuke. Ada gangguan pada otaknya dan hal itu juga yang membuatnya sering berhalusinasi jika dia sering melihat Gaara di dekatnya. Begitu miris melihatnya. Dan jauh di dalam relung hatinya, kini Karin menyesal dan merasa bersalah pada Sakura.

"Kau tahu, tadi dia datang menemuiku. Sayangnya kini dia sedang membeli eksrim … untukku. Gaara baik, 'kan?" tanya Sakura dengan senyum manis di bibirnya.

Karin mengangguk terpaksa. "Mmm … Sakura , ada hal yang ingin kukatakan padamu."

"Apa?" tanya Sakura dengan wajah ceria.

"Aku … akan meninggalkan Konoha."

"Eh?"

"Aku akan tinggal dalam jangka waktu lama di Oto. Aku sakit, dan hanya rumah sakit di sana aku bisa sembuh. Karena itu, hari ini aku datang untuk berpamitan denganmu," ucap Karin dan bangkit berdiri. Lalu memeluk tubuh Sakura singkat, linangan air mata membasahi kedua pipinya yang tirus. "Jaga dirimu baik-baik."

"Tentu. Setelah kau sembuh datanglah ke rumahku. Aku akan menyambutmu dengan makanan yang enak," ucap Sakura dan tersenyum lebar.

Karin ikut tersenyum. Senyum miris melihat keadaan sahabatnya itu. "Maafkan aku, Sakura. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Suatu hari, aku akan menebus kesalahanku padamu. Dan selama menunggu hari itu tiba, bersabarlah sebentar saja. Tunggu sampai aku sembuh dari penyakitku. Sampai jumpa, sahabatku."

Dan Karin pun pergi meninggalkan Sakura seorang diri. Tapi, tidak bagi Sakura. Karena ada seorang pemuda berambut merah darah yang menemaninya duduk di sana. Keduanya tersenyum bahagia. Dan seseorang itu adalah Gaara dengan wajah yang sangat pucat.

.

.

.

.

.

.

.

"Seperti itulah kejadiannya, Sasuke." Karin menyudahi ceritanya dengan linangan air mata. Kedua matanya sudah sembab karena beberapa hari yang lalu ia juga menangisi hal yang sama.

Sasuke yang duduk di depan gadis itu hanya menundukan kepalanya dan menghela napas pelan. Cangkir berisi teh di hadapannya sudah dingin, tak terlihat ada asap yang mengepul keluar. Selama satu jam lebih pemuda itu hanya mendengarkan cerita Karin tanpa berniat menyela ataupun memberikan komentar apapun. Hanya terdiam membisu dan merasa menyesal jauh di dalam lubuk hatinya.

Apa yang menimpa Sakura, dirinya, Gaara dan Karin adalah korban dari rasa cinta. Tak ada yang perlu di salahkan dalam hal ini. Semuanya tidak ada yang benar-benar suci.

"Naruto yang menemukan Sakura tergeletak di jalan pada hari itu. Sedangkan yang bisa kulakukan hanya terduduk termenung di atas ranjang rumah sakit. Dan pada saat aku ingin keluar kamar, aku mendengar jeritan Sakura di lorong rumah sakit. Ia meneriakan nama Gaara beberapa kali, dan aku baru mengetahui jika Gaara sudah … pergi," ucap Karin sambil menutup wajahnya sendiri.

"…" Sasuke lagi-lagi terdiam. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sosok Karin dengan pandangan miris. Sebegitu cintanyakah gadis itu padanya sampai berbuat hal seperti ini?

"Hiks! Hiks! Ha-harusnya aku sadar waktu itu. Harusnya … aku merelakanmu saja. Tapi … tapi aku tidak bisa. Karena aku berpikir … jika aku tak bisa mendapatkanmu, maka Sakura … juga tidak akan bisa. Aku … aku berbohong padanya," ucap Karin dan menatap Sasuke dengan pandangan bersalah.

"Aku mengarang cerita, jika kau menyanggupi permintaanku untuk bertemu sebelum kau pergi waktu aku menelponmu. Bu-bukan hanya itu saja, aku … memberitahu Sakura jika kau dan aku dulunya adalah sepasang kekasih yang kemudian terpisahkan karena keberadaan dirinya sebagai pihak ketiga. Dengan begitu, pasti Sakura akan berpikiran jika dia yang sudah merebutmu dariku bukanlah aku. Aku … berbohong jika kau dan aku menjalani hubungan jarak jauh selama kau ada di Amerika. Sakura percaya akan hal itu. Harusnya aku senang karena ia percaya, tapi … hatiku rasanya sakit sekali. Dia masih bisa tersenyum dan menganggapku sebagai seorang sahabat."

"…"

"Aku adalah gadis yang sangat jahat. Maafkan aku … Sasuke!" Karin mencengkram erat bagian dadanya.

"Karin—"

Ucapan Sasuke terhenti. Pemuda itu membulatkan kedua matanya karena terkejut atas apa yang sedang dilakukan oleh Karin di hadapannya.

Gadis itu berlutut sampai dahinya menyentuh lantai dan beberapa kali mengucapkan kata maaf.

Segera saja Sasuke menyambar kedua bahunya untuk membuat gadis itu bangun. Kemudian memeluknya erat. Sasuke bisa merasakan dengan jelas jika tubuh gadis itu gemetar hebat. Ia tak menyangka jika tekanan batin gadis itu akan membuatnya seperti ini. Dan ia baru menyadari jika Karin adalah pihak yang paling merasa tersiksa bukanlah dirinya maupun Sakura. Gadis itu tersiksa akan perasaan bersalahnya sendiri.

"Sudah cukup! Aku memaafkanmu, Karin." Sasuke berucap pelan tepat di telinga kanan gadis itu.

"Arigatou, Sasuke." Karin tersenyum lemah dan memeluk tubuh pria itu erat untuk yang terakhir kalinya.

"Dan akhirnya aku bisa pergi dengan tenang bersamamu, benar 'kan, Gaara?" batin Karin dan menatap sosok transparan seorang pemuda yang berdiri tak jauh di mana dirinya dan Sasuke berada. Dan pemuda itu menghilang setelah memberikan anggukan kepala dan tersenyum kecil.

Tsudzuku

Balas review dulu, ya!

Eet gitu : Rapi? Makasih. Alhamdulilah ada kemajuan kalau gitu dalam penulisanku. Review lg ya!

Ramen Panas : Hontou ka? Yaiys! Arigatou gozaimasu. Watashi wa ureshii.^^*kiss balik*Review?

Cherry Fitchi nee-chan : Oke. Nie dia chap selanjutnya yg km tunggu2. Makasih udah mau review, ya. Dan makasih juga udah suka sama fic-fic aku.^^

yang log-in silahkan cek PM kalian.^^

Chapter besok bakal da hal yng mengejutkan lagi terjadi. So, tunggu ya.

Dan bagaimana pendapatnya mengenai chap skrang?

Jujur, q nangis sendiri pas ucapan Sakura di taman rumah sakit. GA TEGAAA!

Sakura jadi kyk gitu gara2 si Ayam.*chidori*

Salahin dy z tuh yg dah ninggalin Sakura.

Hiks! Hiks!

Minta reviewnya yaaaaaa*buagh!*

Jaa ne…

:*