Previous chapter
"Aku tak bisa berhenti di sini. Maafkan aku, Sakura."
"Kau benci padaku, benar 'kan, Sakura?"
"Aku akan melindungimu dari jauh di dunia yang berbeda, Sakura."
.
.
.
"Gaara … sudah meninggal."
"Sudah cukup! Aku memaafkanmu, Karin."
"Dan akhirnya aku bisa pergi dengan tenang bersamamu, benar 'kan, Gaara?"
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
Gisei©Mizuira Kumiko
Genre : Angst/Romance
Rated : T+
AU
.
.
Enjoy This Chapter
And
Give Me Review
.
.
.
.
.
.
Duduk termenung di atas kursi, sendiri di tengah kesunyian malam. Langit tak berbintang, berwarna biru gelap. Udara dingin serasa menusuk sampai ke tulang. Suara guntur sudah saling bersahut-sahutan. Kilatan petir mulai menyambar-nyambar. Hanya tinggal menunggu waktu hingga rintikan hujan mengguyur bumi.
Tak ada yang dilakukan oleh gadis itu selain duduk di atas sebuah kursi di dalam kamarnya yang gelap. Jendela kamarnya terbuka dengan sangat lebar, dan gadis itu sepertinya tak memperdulikan jika saat hujan nanti akan ada banyak cipratan air masuk ke dalam kamarnya.
Wussshh!
Angin menggerakan gorden berwarna putih gading di dalam kamar gadis itu. Menciptakan sensasi dingin menerpa kulit.
Tapi, sekali lagi gadis itu tak membuat gerakan yang berarti. Kedua matanya hanya memandang lurus ke depan. Ke sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna merah hati, yang terletak di atas meja belajarnya. Iris ruby gadis itu hanya memandang kosong benda yang ada dihadapannya.
Suara desahan napasnya nampak terdengar putus-putus. Gadis itu meraba bagian dadanya lalu mencengkramnya kuat-kuat. Seolah-olah jika ia tidak melakukannya maka jantungnya akan hancur.
Deg! Deg! Deg!
"Ugghh!" Gadis itu mengerang sakit ketika ia merasa jika detak jantungnya mulai berangsur cepat. Napasnya mulai memburu dan keringat mulai membanjiri pelipis dan keningnya.
Kepala gadis itu menunduk, dan kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di salah satu laci meja belajarnya. Dan ia menemukannya, sebuah botol kecil berwarna putih. Ia membuka penutupnya lalu menyerngit bingung. Isinya kosong. Tak ada satu pun.
"Ugh!" Gadis itu kembali mengerang sakit dan menenggelamkan wajahnya di atas meja belajar. Lagi-lagi ia memandangi kotak kecil itu.
Sedetik kemudian gadis yang memiliki mata seperti batu ruby itu memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Dengan tangan gemetar ia meraih kotak kecil itu, lalu berjalan keluar dengan langkah pelan sambil meraba dinding kamarnya.
"S—Sa … kura … aku harus … menemuinya," ucap Karin dengan napas terputus-putus.
Gadis itu sama sekali tak sadar seberapa buruk keadaan tubuhnya saat ini. Gadis itu tak sadar jika wajah dan bibirnya sudah sepucat salju. Ia benar-benar mencari mati jika keluar di tengah cuaca sedingin ini tanpa jaket tebal yang menutupi tubuhnya. Yang ia pedulikan kini hanyalah, ia harus segera menemui Sakura. Sahabat terbaik yang pernah ia miliki namun ia hianati.
Ia harus segera menemui Sakura sebelum ajalnya tiba nanti. Ia harus memberikan benda titipan yang berharga ini pada pemilik yang seharusnya. Tak ada waktu lagi, ia harus bergegas. Itu lah yang kini hanya terpikirkan di dalam kepalanya.
Karin sama sekali sudah tak memperdulikan dirinya sendiri. Ia berjalan dengan pelan, menyeret kedua kakinya untuk menyelusuri jalanan aspal yang dingin. Kedua tangannya mendekap benda kecil itu di depan dadanya dengan begitu erat.
Zraasssshh!
Hujan mulai mengguyur bumi. Membasahi tubuh Karin dengan begitu kejamnya. Tusukan demi tusukan rintik hujan sudah seperti ribuan jarum yang terasa di permukaan kulit. Meski begitu keadaannya, Karin tetap berjalan lurus dengan menahan rasa dingin yang kini menyelimuti seluruh permukaan kulit tubuhnya.
Ia membatin, "Rasa sakit ini tak seberapa besar dengan penderitaan yang kuberikan untukmu. Benar 'kan, Sakura?"
Sebuah senyuman miris terlukis di bibir pucat gadis itu. Tapi, ia kembali berpikir pasti sahabatnya itu akan memaafkannya. Sama seperti seorang pemuda yang menjadi cinta pertamanya yang sudah memaafkan kesalahannya. Rasanya beban yang ada dihatinya mulai sedikit terangkat. Kini, ia tinggal hanya menyampaikan satu lagi kata maaf pada Sakura.
Dan setelah itu semuanya selesai. Ia bisa bebas, pergi kemana saja yang ia mau. Ia sudah terbebas dari perasaan bersalah yang selama ini membelenggu hatinya. Bebas. Seperti seekor burung yang terbang keluar dari sangkar emas yang mengurungnya.
Karin terus melangkah dengan pelan. Ia masih sepenuhnya sadar ketika ia sejenak berhenti di tepi jalan ketika ia hendak menyebrang ke sisi jalan yang satunya. Ia menunggu dengan sabar tanda pejalan kaki di tiang lampu lalu lintas itu menyala. Ia menundukan kepala, lalu memandang benda yang ada di dalam genggaman tangannya. Lantas ia tersenyum tipis.
Namun, ketika ia mengangkat kepalanya kedua iris ruby-nya sukses terbelalak sempurna. Air mata keluar dari dua sudut matanya dan bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar namun sedetik kemudian ia mulai melangkahkan kakinya kembali.
Maju perlahan ke tengah jalan dengan serta mengulurkan tangan kanannya ke depan. Seperti sedang ingin meraih sesuatu. Namun, memang itu kenyataannya. Di depan matanya kini berdiri seorang pemuda berambut merah. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya, mengajak agar gadis itu mau menerima uluran tangannya.
Wajah pemuda itu terlihat begitu pucat, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis. Matanya yang berwarna jade menatap wajah Karin dengan pandangan sayu. "Ikutlah denganku!"
Karin menganggukan kepalanya dan menerima uluran tangan pemuda itu. "Terima kasih karena kau sudah mau menjemputku—"
Siiingggg!
Sebuah sinar yang begitu menyilaukan menusuk mata membuat Karin menutup kedua matanya.
"—Gaara."
BRAAAKKK!
.
.
.
.
.
.
.
Sakura baru saja selesai berendam dalam air hangat sekitar satu jam yang lalu. Dan ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi di luar kamarnya tersebut. Ia juga kini masih mengenakan baju handuk dan rambutnya pun masih terlihat basah. Tetes-tetes air berjatuhan dari ujung rambutnya ke atas karpet yang ia injak. Ia sengaja lama-lama berdiam dalam genangan air hangat untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Jika di pikir-pikir hari-hari sebelum ini ia mengalami hal-hal yang sulit. Terlebih saat kembalinya Sasuke ke dalam kehidupannya. Rasanya seperti mimpi. Pemuda itu datang ke hadapannya dengan uluran tangan agar ia mau kembali padanya. Meskipun pada awalnya Sasuke bertingkah menjengkelkan bagi dirinya sendiri.
Tapi, yang lebih penting semuanya sudah berakhir. Akhirnya ia bisa hidup dengan tenang tanpa ada masalah lain yang datang menerpa kehidupannya. Dan ia berharap tidak akan kehilangan orang yang disayanginya lagi. Cukup dengan kepergian Gaara saja.
Sakura tersenyum kecil di sela kedua kakinya melangkah menuju dapur untuk membuat satu cangkir kopi untuk menemani dinginnya malam ini. Mungkin ia juga akan menyiapkan beberapa makanan ringan, atau juga memesan makanan via telepon dari restaurant langganannya. Yang mana saja pasti akan menyenangkan.
Brukk!
Langkah Sakura terhenti. Ia berjalan menuju ruang tengah karena ingin tahu suara apa itu tadi. Dan setelahnya ia sampai, Sakura cukup terkejut dengan jatuhnya sebuah bingkai foto. Padahal tak ada embusan angin yang masuk untuk membuat figura foto itu terjatuh dari tempatnya. Jendelanya tertutup rapat, dan sebuah perasaan tak enak langsung menyelimuti hatinya.
Dengan amat perlahan Sakura memungut figura foto kecil itu. Dengan gemetar ia membalikkannya. "Apa yang terjadi?" Bisiknya pelan.
Figura foto itu adalah foto sewaktu ia masih berada di tingkat sekolah menengah atas. Sakura, Naruto, Karin, Kiba, Neji dan Sasuke. Ia dan semuanya berfoto bersama-sama saat kenaikan kelas. Tapi, yang membuat perasaannya tidak enak adalah retakan pada wajah Karin akibat figura itu terjatuh tadi.
Tok! Tok! Tok!
"Kya~!" Sakura refleks mejerit kecil karena terkejut dengan suara ketukan di pintu apatermennya. Ia menghela napas dan menaruh kembali figura foto itu dengan pelan. Ia berjalan kikuk menuju pintu dan mengira-ngira siapa yang datang malam-malam begini.
Dan ketika ia membuka pintunya sebuah pelukan erat langsung diterima olehnya. Wajahnya sukses memerah bak kepiting rebus. Karena apa? Karena ia masih mengenakan handuk dan tentu dada bidang seseorang yang sedang memeluknya serasa melekat erat pada dadanya. Membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Sakura." Sasuke berbisik pelan tepat di telinga gadis berambut merah muda itu. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya.
"S—Sa-Sasuke … "
"Hn."
"A-ada … apa?" Tanya Sakura penasaran dan melepaskan pelukan Sasuke dari tubuhnya.
Pemuda itu tak menjawab, hanya tersenyum dengan manis sambil mengelus-ngelus pelan pipi Sakura yang merona merah. Dengan cepat Sasuke memagut bibir gadis itu dan melingkarkan kedua lengan kekarnya pada pinggang Sakura.
Blush!
Seluruh wajah Sakura langsung berubah semerah tomat. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat, seluruh permukaan kulitnya terasa panas. Di dalam hati Sakura bertanya-tanya, apa yang terjadi dan apa yang sedang di pikirkan oleh Sasuke saat ini?
Dia datang malam-malam, dengan basah kuyup. Langsung memeluknya dan juga menciumnnya. Sedikitnya Sakura bisa merasakan jika bibir pemuda itu terasa begitu dingin saat menempel pada bibirnya. Namun demikian tetaplah terasa hangat bagi dirinya. Tekstur yang lembut, basah dan—
Duk!
—Sakura langsung menginjak kaki kanan Sasuke sekuat tenaga ketika di rasanya ada tangan yang meraba bagian dadanya.
Sakura langsung mundur beberapa langkah dan menunjuk-nunjuk wajah Sasuke yang tersenyum—ehm!—seperti orang mesum. "A-a-a-apa … y-yang kau lakukan, HAH?"
"Hn." Sasuke hanya menjawabnya dengan super singkat. Ia berjalan mendekati Sakura dengan masih mempertahankan senyumannya yang menurut Sakura begitu menggoda.
Entah sudah berapa kali Sakura melihat senyuman pemuda itu, tapi entah kenapa saat malam ini Sasuke begitu terlihat sangat tampan, seksi dan menggoda. Membuatnya terus menerus berpikiran liar. Ia ingin mengikat kaki dan tangan pemuda itu di ranjang. Lalu, membuka satu per satu kancing bajunya. Mencicipi bibirnya yang terasa begitu lembut sampai ia puas. Lalu—
Pluk!
—sebuah tepukan pelan di atas kepalanya membuat Sakura kembali terasadar. Ia menatap wajah Sasuke yang begitu dekat jaraknya dengan wajahnya.
"Aku rindu padamu."
Wow!
Perlukah kita berkata jika itu adalah kata-kata termanis yang pernah diucapkan oleh Sasuke pada Sakura?
"O-oh! Hahahahaha!" Sakura langsung tertawa kikuk dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke dan menaikan sebelah alisnya bingung. Ia menatap wajah kekasihnya itu dengan raut wajah penasaran. Apa yang sedang dipikirkannya sampai-sampai ia beberapa kali meneguk ludah?
"T-tidak … apa-apa." Sakura langsung bersikap biasa saja dan mencoba menghilangkan pikiran liar itu di dalam otaknya. Ia langsung menarik tangan Sasuke dan menuntunnnya agar duduk di ruang tengah.
"Hn."
"Kuambilkan handuk dan baju ganti untukmu. Tunggulah!" Ucap Sakura dan mulai beranjak pergi. Namun, kepergiannya di tahan oleh Sasuke. Pemuda itu menggeman tangannya dan lagi-lagi menyeringai kecil.
"Aku lebih menyukai aroma tubuhmu yang sekarang."
"Eh?" Sakura dibuat terkejut dan lagi-lagi kedua pipinya merona merah. Setelah Sasuke melepaskan genggaman tangannya, Sakura langsung berlari dengan cepat meninggalkannya sambil memegang kedua pipinya yang terasa hangat. Belum lagi jantungnya yang berdebar sangat cepat, membuatnya sulit untuk bernapas saja.
Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis dan terkekeh kecil melihat tingkah kekasihnya. Dari dulu sampai sekarang Sakura tak pernah berubah. Hanya saja pasti ada beberapa bagian yang berubah seperti bagian da—
Prok!
—Sasuke langsung memukul pelan kedua sisi wajahnya dengan rona merah pada pipinya. Di dalam hati pemuda itu berkata, bagaimana bisa ia memiliki pikiran mesum seperti itu? Tapi, ia sendiri bingung dan tak tahu bagaimana caranya membatasi diri ketika di dekat Sakura. Ia selalu hilang kendali. Seperti hal tadi, saat ia tak sengaja mencium aroma wangi dari tubuhnya ia langsung mencium bibirnya dan terparah sudah nyaris akan meraba da—
Sasuke langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Meskipun begitu detak jantungnya yang tadi begitu cepat masih belum bisa kembali normal.
Untuk mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak-tidak Sasuke sengaja melihat-lihat setiap sudut ruangan yang kini ia tempati. Meskipun ruangannya kecil tapi sangat nyaman. Kursi yang didudukinya begitu empuk dan begitu juga dengan bantalan kursinya. Setidaknya membuat ia rileks dan penghangat ruangan di dalam ruangan tersebut sedikit demi sedikit menghangatkan tubuhnya yang membeku kedinginan.
Kedua mata Sasuke menyipit ketika memandang ke arah figura foto yang retak entak karena apa. Mungkin Sakura tidak menyadarinya ketika figura itu terjatuh, itu yang Sasuke pikirkan.
"Sasuke …"
Sasuke langsung bangkit berdiri dan menghadap orang yang sudah memanggilnya tersebut. Dan lagi-lagi aroma tubuh gadis itu begitu mengganggunya. Ia nyaris akan menarik Sakura ke dalam pelukannya lagi ketika tiba-tiba saja ia bersin.
"Kau kedinginan. Gantilah bajumu dengan ini," ucap Sakura dan menyerahkan dua potong baju ke tangan Sasuke dan juga selembar handuk putih yang tebal.
Sakura sendiri sudah ganti baju dengan piyama berwarna merah polos. Sangat pas dan mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping. Membuat Sasuke meneguk ludah berkali-kali.
"Hn." Sasuke berjalan melewati Sakura setelah sekilas mencium singkat pipinya.
"Aaaaa~apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?" Batin Sakura cemas.
Berdua saja di ruangan yang sama. Malam-malam begini. Di luar hujan deras, dingin. Dan pikiran-pikiran liar pun kembali memenuhi otaknya. Bagaimana jika terjadi sesuatu antara dirinya dan Sasuke? Bagaimana jika—
Duk!
—Sakura memukul pelan sisi kepalanya sendiri dan setelah itu menghela napas pelan. Ia bergegas beranjak ke dapur dan membuatkan kopi untuk dirinya dan juga Sasuke. Dan Sakura harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak hilang kendali saat kejadian di mobil beberapa waktu lalu.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke keluar dari dalam kamar mandi ketika ia melihat jika Sakura sudah duduk di depan televisi yang menyala dan ditangannya tergenggam sebuah mug kecil yang masih ada asap yang mengepul.
"Ah! Kau sudah selesai ganti ba—" Sakura menghentikan ucapannya ketika melihat sosok Sasuke.
Baju itu sungguh pas berada di tubuhnya. Atasan kaos berlengan panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam. Dan sekilas Sakura merasa jika yang berdiri dihadapannya bukanlah Sasuke melainkan Gaara.
Karena baju yang dipakai dan diberikannya untuk Sasuke adalah baju milik Gaara yang masih sengaja ia simpan. Tapi, Sakura tak pernah berpikir jika ternyata Sasuke memiliki ukuran tubuh yang sama seperti Gaara.
"Hn." Sasuke duduk dengan tenang di samping kanan Sakura dan meraih satu mug lagi dihadapannya. Ia meminumnya sedikit demi sedikit. Dan rasa hangat langsung menjalari seluruh bagian tubuhnya membuatnya sangat nyaman.
Sakura belum berhenti menatap sosok Sasuke. Ia terdiam dengan sebuah senyuman dibibirnya.
"Ada apa? Jangan bilang kau ingin memakanku lagi." Sasuke tertawa dalam hati ketika ia berhasil membuat Sakura salah tingkah. Tentu ia masih mengingat apa yang dilakukan oleh Sakura pada dirinya saat di mobil. Ia di serang dan tatapan mata emerald gadis itu seolah-olah ingin memakannya.
Sakura langsung membuang muka dan memfokuskan matanya pada layar televisi. Tapi, ketika mendengar Sasuke angkat bicara membuat ia tertegun.
"Baju ini miliknya 'kan?" Tanya Sasuke. "Kau seperti melihatnya ketika melihatku."
"Sasuke, aku—"
"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan sama sekali." Sasuke mengelus pelan sisi wajah Sakura dengan sebuah senyuman yang membuat hati Sakura tenang dan nyaman.
Tadinya Sakura pikir Sasuke akan kembali marah dan kembali menambah kebenciannya pada Gaara. Tapi, nyatanya tidak. Cukup aneh.
"Sasuke, apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Sakura.
"Jika diizinkan aku ingin memakan dirimu," gurau Sasuke tapi sukses membuat wajah Sakura kembali bersemu merah.
Sakura memberikan tinju pelan pada lengan Sasuke lalu menyenderkan sisi kepalanya dengan nyaman. "Kau ini!"
"Hn. Aku hanya bercanda."
Sakura menganggukan kepalanya pelan dan kembali meminum kopi di dalam mug yang tengah dipegangnya. Meskipun kedua matanya terfokus pada layar televisi, tapi Sakura sama sekali tak bisa menangkap dengan jelas acara apa yang tengah ditontonnya. Yang ia pikirkan adalah betapa hatinya sangat bahagia bisa bersama Sasuke kembali. Ia rasa ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
Betapa lamanya Sakura menginginkan hal ini terjadi. Dulu, ia hanya bisa membayangkannya saja. Tapi, malam ini ia bisa merasakannya secara langsung. Sentuhan dan pelukan hangat dari pemuda itu membuatnya merasa sangat nyaman. Dan kali ini hatinya tak akan goyah lagi. Ia sudah yakin dengan apa yang dirasakannya. Bahwa ia sangat mencintai pemuda itu. Jiwa dan raganya akan selalu mencintainya.
Tak akan ada tempat untuk orang lain lagi. Hanya Sasuke. Ya, hanya Sasuke saja yang boleh menempati tempat kosong yang ada di hatinya setelah kepergian Gaara. Dan sekarang, bisakah Sakura berharap akan ada akhir yang bahagia untuk kisah hidupnya? Bisakah Sakura berharap tak akan ada lagi air mata yang mengalir dari kedua matanya? Bisakah Sakura berharap bahwa kali ini hanya akan ada senyuman yang menghiasi wajahnya?
"Aku menemui Karin sebelum ke mari."
"Eh?" Sakura cukup terkejut jika Sasuke memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Aku menemuinya … untuk meminta penjelasan. Kau ingin mendengarnya?"
Kepala Sakura menggeleng dengan pelan.
"Kenapa?"
"Karena … aku sudah mengetahuinya."
"…"
"…"
"Karin—dia tidak pandai untuk berbohong. Ucapannya saat di rumah sakit waktu itu aku memang mempercayainya. Tapi, setelah memikirkannya kembali, aku tahu jika itu tidak benar. Dia berbohong hanya untuk dirinya sendiri. Dia sangat mencintaimu, Sasuke. Karena itu aku mengerti kenapa dia melakukan hal itu padaku—padamu," ucap Sakura dan menundukan wajahnya semakin dalam.
"Kau membencinya?"
Sakura menggigit bibir bawahnya kuat. "Aku pernah membencinya. Tapi, kini aku sadar. Jika Karin pasti selama ini juga membenciku. Kita berdua sama-sama egois. Andaikan waktu bisa di ulang kembali."
"Hn. Sudahlah. Kita lupakan saja masa lalu."
"Aku setuju denganmu. Yang terpenting adalah sekarang. Benar 'kan?"
"Hn."
"…"
"…"
"…"
"…"
"Besok kau ada waktu?"
Pertanyaan Sasuke sukses membuat jantung Sakura berdetak lumayan kencang.
"Akan ada banyak waktu. Karena aku sudah mengambil cuti selama satu bulan penuh ke depan."
"Keputusan yang bijaksana."
Sakura menarik diri dari pelukan Sasuke dan menatap wajah kekasihnya itu dengan wajah gugup. "Kau ingin mengajakku jalan-jalan?" Tanyanya.
Sasuke menghela napas pendek. "Entahlah."
"Ada apa?"
"Ada masalah dengan perusahaan ayahku. Itachi masih belum pulih sepenuhnya jadi aku—"
"Kapan kau akan pergi? Ke Amerika?" Sakura dengan cepat memotong ucapan Sasuke. Genggaman tangannya pada mug mengeras. Ia sudah mengira kata apa yang selanjutnya akan Sasuke ucapkan. Ia akan pergi menggantikan Itachi untuk menangani masalah di perusahaan. Dan berapa lama waktunya membuat Sakura sedikitnya merasa gundah.
"Hn. Besok pagi. Karena itu malam ini aku datang menemuimu … untuk mengatakan hal ini."
"Terima kasih."
"Hn?" Sasuke cukup merasa bingung dengan jawaban dari Sakura. Pemuda itu mengira bahwa Sakura akan marah, tapi melihat senyuman di bibir gadis itu mematahkan asumsinya.
Dengan wajah tertunduk Sakura mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini. "Karena kau sudah menjelaskan alasan kepergianmu dan juga menemuiku."
Sasuke menarik kedua sudut bibirnya berlainan arah. "Hn."
Dan keduanya pun kembali terhanyut dalam ciuman hangat dan panas yang dimulai oleh Sasuke terlebih dahulu.
##Sacrifice##
Sakura mempercepat langkahnya setelah keluar dari sebuah supermarket yang letaknya lumayan jauh dari apartemennya. Masih dengan memakai sebuah piyama namun bagian atasnya dirangkap dengan jaket. Gadis itu membeli beberapa bahan makanan. Ia berencana untuk memasak makanan kesukaan Sasuke.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih sepuluh menit. Terhitung sudah dua puluh menit yang lalu ketika ia pamit untuk keluar sebentar pada Sasuke karena membeli bahan makanan. Sakura berharap bahwa Sasuke masih berada di dalam aprtemennya dan tidak pergi ke mana-mana. Karena jujur saja ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan pemuda itu untuk mengganti waktu yang dulu tak pernah ia nikmati berdua.
Mungkin akan lebih mudah jika ia memesan saja makanan lewat via telepon. Tapi, Sakura bersikeras ingin memasakan makanan untuk Sasuke. Karena ini adalah pertama kalinya ia mempunyai kesempatan untuk menunjukan kemampuannya dalam hal memasak.
Sakura langsung naik menuju lantai di mana ia tinggal, menunggu dengan tidak sabar di dalam lift. Pintu besi itu terbuka dengan sangat lama menurut Sakura. Dan setelah terbuka ia langsung berlari keluar. Berhenti di depan pintu kamarnya, sebelum mendorong pintu itu ke dalam Sakura menghembuskan napasnya sekali.
"Sasuke, maaf membuatmu menunggu lama. Aku harap kau tidak ma—Sasuke?"
"…"
"…"
"…"
"…"
"Kau di mana?" Tanya Sakura setelah ia menemukan bahwa tak ada seorang pun di ruangan tengah. Sakura beralih menuju kamarnya, berharap mungkin Sasuke memutuskan untuk tidur sambil menunggu dia datang. Tapi, di dalam kamarnya tak ada siapa-siapa.
Tak menyerah. Sakura kembali memeriksa dapur dan juga kamar mandi. Tetap tak ada sosok Sasuke. Akhirnya Sakura langsung menjatuhkan diri di kursi di ruang tengah. Ia menghembuskan napasnya dengan berat. Memejamkan kedua matanya sejenak. Dua kantung belanjaannya teronggok begitu saja di bawah kakinya.
"Dia sudah pergi. Haaaahhhhhh!"
Secarik kertas terselip di bawah mug kopi yang tadi Sasuke minum menyita perhatian Sakura. Gadis itu menegakan punggungnya lalu menarik kertas itu dan membaca isinya. Segaris senyum simpul menghiasi bibirnya ketika membaca paragraf terakhir catatan yang ditinggalkan oleh Sasuke untuknya.
"Dia bilang akan memberikan kejutan untukku setelah kepulangannya nanti. Manis sekali," puji Sakura dengan kedua pipi merona merah.
Dan pada akhirnya Sakura memutuskan untuk menaruh bahan makanan yang sudah dibelinya itu ke dalam kulkas. Berharap saat kepulangan Sasuke nanti bahan makanan itu masih tetap awet. Setelah itu ia pergi ke kemar mandi setelah mengunci pintu masuk apartemennya.
Sakura membasuh wajahnya dengan air segar lalu setelah itu menggosok gigi. Kegiatan rutin yang memang harus dilakukan sebelum pergi tidur. Setelah itu ia beranjak pergi menuju kamarnya dan tidur dengan cepat. Biasanya ia kesulitan untuk tidur. Malam ini gadis itu akan mengarungi alam mimpi dengan wajah tersenyum. Seperti dulu.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis itu memeluk kedua lututnya di depan dada, di sudut kamar yang gelap. Tubuhnya basah kuyup dan ia nampak menggigil kedinginan. Wajahnya sangat pucat, bibirnya membiru. Kedua matanya nampak sembab karena air mata terus-menerus mengalir entah dalam waktu berapa lama. Rambutnya berantakan, nyaris seperti sudah tak di sisir beberapa hari. Selain itu rambutnya terlihat lepek dan tetes-tetes air berjatuhan dari ujung rambutnya.
Suara isak tangis terdengar dari gadis itu. Isak tangis yang begitu menyayat hati. Begitu terdengar pilu. Seolah siapa saja yang mendengarnya akan merasakan perasaan yang sama. Hati yang tersayat-sayat oleh jutaan pisau. Tak ada yang dilakukan gadis itu lagi selain menangis dan menatap wajah seseorang yang tertidur dihadapannya.
"Hiks! Hiks!"
Di tengah kesunyian malam terlihat dua aliran bening yang berkilau dari kedua pipi gadis itu. Suara isak tangisnya terdengar begitu pelan, serak dan nyaris tak terdengar.
Namun demikian, seorang gadis yang tadinya terlelap dalam tidurnya itu terbangun. Suara isak tangis itu sedikit mengusiknya. Gadis itu duduk di atas tempat tidur, kedua mata emerald-nya bergerilya ke sekeliling kamarnya. Ia yakin bahwa suara itu berasal di dalam kamarnya sendiri. Tapi, suara milik siapa?
Dan kedua matanya membulat sempurna ketika melihat ada siluet seseorang di pojok kamarnya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Berjalan mendekati sosok orang di pojok kamarnya dengan detak jantung yang tak beraturan. Sejujurnya ia takut. Tapi, rasa penasaran berhasil mengalahkan rasa takutnya.
"S—s-sia-pa?" Tanya Sakura pelan dan nyaris hanya seperti bisikan saja.
"…"
"…"
"…"
Cukup lama tak ada jawaban dari sosok orang yang di tanya oleh Sakura. Namun, sedetik kemudian isak tangis itu tiba-tiba saja berhenti. Dan sebuah suara halus dan pelan terdengar untuk menjawab pertanyaan Sakura. "Ini aku," ucapnya singkat.
Sakura mematung dengan kedua lutut gemetar. Suaranya nyaris tercekat di tenggorokannya sendiri. Dan sulit untuk mengeluarkannya. "K-kau … Karin?"
"S—Sakura … "
"KARIINNN!" Sakura langsung berlari dan memeluk tubuh dingin sahabatnya itu dengan erat. Dan ia kembali menitikan air mata. Dan dapat dirasakan oleh Sakura sendiri jika Karin membalas memeluk tubuhnya erat.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Sakura setelah melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Karin di tengah kegelapan di dalam kamarnya. Beberapa kali tangan gadis itu menyapu pipi sahabatnya yang basah karena genangan air matanya sendiri.
"Aku datang untuk menemuimu," jawab Karin dan tersenyum kecil.
"Kau basah kuyup, dan tanganmu dingin sekali," ucap Sakura dan menggosok-gosokan tangannya yang hangat pada tangan Karin. "Ayo, berdiri! Jangan duduk di sini."
Karin menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa. Kedua kakiku sakit," ucapnya dengan linangan air mata.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakimu bisa sakit, Karin?"
"Aku hanya sedikit ceroboh."
Sakura tak kembali bertanya dan langsung bangkit berdiri. Ia berniat menghidupkan lampu kamarnya namun sepertinya ada yang salah. Lampunya tak mau menyala padahal biasanya hanya sekali tekan maka sinar terang akan menerangi kamarnya.
"Tidak perlu menghidupkan lampunya," ucap Karin.
"Baiklah. Tunggu di sini, aku akan mengambilkan handuk untukmu," ucap Sakura lalu bergegas keluar kamar.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Sakura mengambil beberapa handuk di dalam kamar mandi. Belum satu menit pun gadis itu sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan ia melihat jika Karin masih tetap dalam posisinya. Meringkuk di pojok kamar sambil memeluk kedua lututnya. Sakura bertanya-tanya dalam hati, "Bagian kaki mana yang terasa sakit?"
Jujur, Sakura tak dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Ia tak bisa memastikan ada luka apa di kedua kaki Karin yang membuatnya tak bisa berjalan bahkan berdiri. Apakah separah itu lukanya?
"Sakura … "
Mengerjap terkejut akhirnya Sakura segera mendekati Karin. Ia terlalu sibuk berpikir sampai lupa jika sahabatnya itu sedang membutuhkan handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Dengan cekatan Sakura langsung mengeringkan rambut Karin terlebih dahulu baru setelah itu badannya. Bahkan karena terlalu gelap membuat Sakura tak sadar jika ada noda hitam yang melekat dan menempel pada handuknya yang putih bersih itu.
"Ada yang ingin kuberikan padamu," ucap Karin pelan dan membuka kepalan tangan kanannya. Lalu menyodorkan benda kecil itu ke depan wajah Sakura.
Kegiatan Sakura terhenti sejenak. Ia menerima kotak kecil itu lalu membukanya perlahan. Sebuah cincin putih dengan butiran berlian kecil menghiasinya membuat Sakura terperangah. Model cincin itu cukup simpel namun sangat cantik. Berlian-berlian kecil itu nampak berkilau di kegelapan. "Cantik sekali."
"Gaara yang menyiapkan cincin itu."
"Eh?"
"Ia memintaku untuk menemaninya membeli sebuah cincin sebagai kado ulang tahunmu. Sayangnya, ia tak punya waktu dan kesempatan untuk menyerahkannya padamu. Dan akhirnya ia menitipkannya padaku. Kau menyukainya?"
Sebuah cairan bening langsung meleleh keluar dari kedua sudut mata emerald Sakura. Ia terisak pelan sambil menganggukan kepalanya. "Aku menyukainya—sangat. Terima kasih, Karin."
Karin tersenyum dengan raut wajah lega dan kebahagian yang begitu kentara terlihat. "Sakura, aku datang menemuimu untuk meminta maaf. Aku sudah menyakiti hatimu dan juga menghancurkan seluruh hidupmu. Maukah kau memaafkanku?" Tayanya penuh harap.
Sakura langsung mengangguk dan tersenyum tipis. Tapi juga sekaligus heran kenapa tiba-tiba sahabatnya itu berkata seperti itu. "Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau menyadari kesalahanmu."
Karin langsung menarik Sakura ke dalam pelukannya. Lagi-lagi cairan bening mengalir deras dari kedua matanya. "Terima kasih," bisiknya lemah.
"…"
"Sakura … "
"Mmmm?"
Masih tetap memeluk tubuh Sakura, Karin kembali berucap dengan suara parau dan lemah. "Kado ulang tahun yang kuberikan padamu dulu, kau masih menyimpannya?"
"Tentu saja."
"Kotak musik kecil itu, adalah benda paling berharga yang kumiliki dan telah kuberikan padamu," ucap Karin dan sengaja memberikan jeda pada ucapannya. "Jaga baik-baik. Dan jika kotak musik itu mengeluarkan suaranya, itu artinya aku datang untuk menemuimu."
"Apa … maksudmu?" Tanya Sakura tak mengerti.
"Selamat tinggal."
##Sacrifice##
Sakura terbangun keesokan harinya karena mendengar suara alarm dari handphone miliknya sendiri yang ia letakan dekat bantal di atas tempat tidurnya. Kedua mata emerald-nya perlahan terbuka dan gadis itu langsung menyerngit bingung kenapa ia bisa tidur meringkuk di pojok kamarnya. Setelah meregangkan sedikit tubuhnya, Sakura bangkit berdiri.
Gadis itu berjalan ke tempat tidurnya dan mematikan alarm. Setelah itu kedua matanya bergerilya ke sana ke mari seperti tengah mencari sesuatu atau mungkin seseorang. Menghela napas pelan akhirnya Sakura memutuskan untuk keluar kamar. Ia ingin membasuh wajahnya dengan air segar, lalu membuat secangkir teh hangat.
Namun, gerakan tanganya ketika memutar knop pintu terhenti begitu saja. Sakura memandangi tangan kanannya, lebih tepatnya pada jari manisnya. Di sana tersemat sebuah cincin putih. Kedua mata emerald Sakura membulat sempurna setelah mengingat kejadian semalam. Tadinya ia pikir itu hanya mimpi.
"Karin!" Serunya pelan. Ia sekali lagi mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya. Tak ada siapa pun. Dan ia melihat ada sebuah handuk yang teronggok begitu saja di mana ia tadi tergeletak tertidur. Dengan cepat Sakura mengambilnya, lalu merentangkannya.
Sebuah noda merah, nyaris menghitam yang sudah mengering ada pada handuk itu. Dan Sakura ingat betul jika handuk ini ia pakai untuk mengeringkan rambut Karin. Yang jadi pertanyaannya, kenapa bisa ada noda darah di handuk ini? Apa Karin terluka di bagian kepalanya? Tapi, sahabatnya itu bilang jika kedua kakinya lah yang terasa sakit.
Jantung Sakura tiba-tiba saja berdetak dengan begitu cepatnya ketika melihat jika ada sebuah jejak-jejak kaki berwarna merah seperti darah di sekitar pojok kamarnya. Jejak kaki siapa?
"Karin, kau di mana?" Tanya Sakura dengan suara yang cukup kencang dan bergegas keluar kamar. Ia berpikir, mungkin Karin memutuskan untuk mandi, jadilah ia memeriksa kamar mandinya. Namun, nihil. Tak ada seorang pun. Tak menyerah dan dengan disertai rasa takut yang begitu menyelimuti hatinya Sakura beranjak menuju dapur. Tapi, sekali lagi ia tak mendapati siapa pun di dalam dapurnya.
"Di mana dia?" Tanya Sakura pelan. "Apa sudah pergi?"
Sakura melangkahkan kedua kakinya menuju pintu masuk ke dalam apartemennya. Ia mengangkat tangannya dan memutar knop pintu. Menariknya ke depan. Tapi, pintu itu tak bergerak karena memang masih dalam keadaan terkunci. Dengan tangan gemetar Sakura membuka kunci pintunya itu lalu mendorong knopnya ke depan.
"Pagiiiiii, adikku sayang," ucap seorang pemuda berambut kuning spike di ambang pintu dengan senyuman cerah di wajahnya.
Sakura terpaku, bukan karena kehadiran kakak angkatnya sepagi ini. Tapi, terpaku karena baru saja pikiran tak masuk akal melintas di dalam otaknya. "Pi-pintunya terkunci," ucapnya pelan.
"Hah?" Tanya Naruto dengan sebelah alis terangkat.
Wajah Sakura berubah menjadi pucat pasi. Kedua tangannya gemetar, lututnya terasa lemas. Kedua matanya membulat sempurna. Dan segaris air mata keluar dari salah satu sudut matanya. "Apa … yang terjadi?" Tanyanya sambil memegang kedua sisi kepalanya erat.
Naruto langsung menghambur masuk dan memegangi kedua bahu Sakura erat ketika ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan keadaan adiknya. Ia menuntun Sakura masuk dan mendudukannya pelan di kursi ruang tengah. Meletakan tangannya di atas tangan Sakura. "Ada apa?" Tanyanya pelan.
Sakura menatap wajah kakaknya itu dengan ekspresi takut dan cemas. "K—Karin … "
"Kenapa dengannya?" Tanya Naruto.
"S-semalam dia … menemuiku. Tapi, aku bingung, dia masuk ke dalam kamarku lewat mana?"
Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah Naruto dengar. Pemuda itu terkekeh kecil. "Tentu saja lewat pintu. Kau ini! Aku kira ada kejadian apa sampai membuat badanmu gemetar."
"Pi-pintunya terkunci. Aku yakin semalam aku sudah menguncinya."
Senyuman di wajah Naruto menghilang dalam sekejap. Ia memandang wajah adiknya untuk memastikan apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya gurauan saja. Tapi, melihat raut wajah ketakutan di wajah Sakura membuat Naruto berpikir dua kali. Dan pada saat itu juga ia melihat Sakura memegang sebuah handuk yang ternodakan oleh warna hitam pekat. "Itu kenapa?" Tanya Naruto.
Sakura langsung tersadar bahwa ia memegang bukti bahwa memang benar jika Karin bersama dengannya kemarin malam. "Ini … "
Naruto langsung ikut bangkit berdiri ketika melihat Sakura bergegas berlari menuju kamarnya. Naruto mengikutinya dengan wajah bingung.
Sakura menunjuk jejak-jejak kaki berlumuran darah yang terletak di pojok kamarnya pada Naruto setelah ia sampai di dalam kamarnya. "Lihat itu!"
Naruto sukses membulatkan kedua matanya. Ia memandang jejak-jejak kaki itu lebih dekat. Jejak kaki itu sudah mengering. Ia melihat kedua kaki Sakura dengan seksama, tapi tak melihat jika adiknya itu terluka di bagian kakinya. Mungkinkah jika …
"Semalam aku melihat jika Karin sedang meringkuk sambil memeluk kedua lututnya di pojok kamarku. Ia menangis dan saat kutanya apa yang dilakukannya di sini, dia menjawab bahwa dia ingin menemuiku. Karin memberiku cincin ini," ucap Sakura dan memperlihatkan cincin itu pada Naruto.
"Cincin itu … "
"Cincin ini adalah pemberian Gaara, dia tak punya kesempatan untuk menyerahkannya padaku. Karena itu dia meminta bantuan pada Karin—hiks!"
"…"
"Lalu handuk ini—handuk ini kugunakan untuk mengeringkan rambut Karin karena pada saat itu dia basah kuyup. Tapi, kenapa bisa ada noda darah di handuk ini. Dan juga, saat kumengatakan agar jangan duduk di lantai, Karin berkata jika kedua kakinya sakit dan tidak bisa berdiri," ucap Sakura panjang lebar. "Pada saat itu lampu kamarku mati, aku tak bisa melihat bagaimana keadaan sesungguhnya."
"…"
"Karin meminta maaf padaku—hiks! Dia meminta maaf," ucap Sakura dan langsung jatuh terduduk dengan linangan air mata di kedua pipinya. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Pintu apartemenmu terkunci, kamarmu berada di lantai 20. Tak mungkin 'kan? Tak mungkin jika Karin bisa masuk lewat jendela," ucap Naruto dan menundukan wajahnya. "Mungkinkah … Karin … "
Tok! Tok!
Sebuah ketukan yang terdengar begitu nyaring membuat keduanya terkesiap. Dengan perlahan Naruto membantu Sakura berdiri dan memapahnya untuk ikut bersamanya membuka pintu. Dan ketika Naruto membuka pintunya seraut wajah yang tak asing berada dihadapan keduanya.
"Neji?"
"Ada kabar buruk," ucap Neji dan memandang wajah Sakura dengan raut wajah sedih.
Deg! Deg!
Sakura merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dan entah kenapa dadanya terasa sesak sekali.
"Karin … "
"A-ada … apa?" Tanya Naruto.
"Se-semalam dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia."
Sakura membulatkan kedua matanya. Seluruh badannya kembali gemetar. Dan tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang luar bisa di bagian kepalanya. Serasa ditikam beribu-ribu jarum. Membuat penglihatannya mulai buram dan beberapa detik kemudian ia terseret ke dalam lubang hitam tak berujung. Membuatnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
Pemakaman itu dilaksanakan setelah semua orang yang memiliki ikatan keluarga dan juga orang-orang yang berteman dengan Karin berkumpul. Cuaca pada pagi ini begitu gelap dan mendung. Petir menyambar-nyambar dan berkilat berbahaya di atas langit sana. Angin berembus dengan kencang sehingga menciptakan sensasi dingin menusuk kulit.
Mungkin alam menyambut duka kepergian gadis berambut merah itu. Dan jauh di antara banyaknya kerumunan orang-orang berpakaian hitam itu berdiri seorang gadis berambut merah jambu. Kedua matanya terlihat bengkak dan sembab. Hidungnya memerah. Wajahnya pucat, tangannya nampak gemetar. Dan cairan bening yang mengalir dari kedua matanya tak berhenti keluar. Semakin banyak dan semakin banyak.
Sekarang gadis itu yakin—sangat yakin—jika semalam itu memang Karin yang mendatanginya. Ia datang untuk meminta maaf dan memberikan cincin titipan dari Gaara padanya. Mungkin Karin tidak akan bisa tidur dengan tenang jika sebelum menemuinya. Harusnya Sakura segera tahu jika ada yang tak beres dengan sahabatnya itu. Mana mungkin Karin tiba-tiba saja berada di dalam kamarnya. Mana mungkin.
Suara dan ucapannya saat malam itu masih terasa hangat di telinganya. Ketika Karin berkata jika kedua kakinya sakit memang benar seperti itu lah apa yang terjadi. Neji berkata jika Karin mengalami luka yang sangat parah pada kedua kakinya, dan juga bagian belakang kepalanya akibat tabrakan itu. Sudah jelas memang darah yang mengering di lantai kamarnya itu adalah darah milik Karin.
Dan mengenai keadaannya yang basah kuyup karena memang kejadian tabrakan itu terjadi saat malam hari dan hujan deras. Betapa dinginnya saat itu yang dirasakan oleh Karin. Kenapa hal menyedihkan seperti itu harus menimpa pada salah satu sahabatnya?
Dua orang.
Gaara dan Karin.
Orang-orang yang sangat berharga bagi dirinya sudah menghilang selamanya di depan matanya sendiri.
"Sakura …. " Seorang pemuda berpakaian serba hitam menyentuh lengannya dari arah belakang dan membalikkan tubuh Sakura. Lalu memeluknya dengan begitu erat. Mengelus-ngelus punggung dan belakang rambutnya dengan pelan. "Aku sudah mendengarnya dari Naruto. Jika Karin—dia datang menemuimu malam itu."
Sakura menganggukkan kepalanya lalu menenggelamkan seluruh wajahnya di dada Sasuke. Melingkarkan kedua lengannya erat ke pinggang pemuda itu. Dan suara tangis pun kembali pecah. "Aku sungguh tidak percaya—hiks! Karin … Karin sudah meninggalkan kita—hiks!"
"Sssstt! Jangan bicara lagi." Sasuke menuntun Sakura untuk meninggalkan pemakaman itu. Rasanya ia pikir Sakura tak akan sanggup berdiri dan melihat peti mati sahabatnya itu dikuburkan. Mungkin ia juga tak akan mampu untuk melihatnya. Karena bagaimana pun orang terakhir yang menemui Karin saat dia masih hidup adalah dirinya. "Kau tahu Sakura? Mungkin ini adalah yang terbaik bagi Karin. Selama ini dia sudah menderita dengan penyakit yang ia sembunyikan dari kita semua."
"Apa maksudmu, Sasuke?" Tanya Sakura dan menengadahkan kepalanya memandang wajah Sasuke.
"Dia sakit. Jantungnya bermasalah. Mungkin dari luar ia terlihat baik-baik saja, tapi di dalam tidak."
Sakura menutup mulutnya sendiri untuk mencegah ia berteriak. "Jadi selama ini—"
Sasuke langsung menahan tubuh Sakura yang tiba-tiba saja ambruk. Kedua mata emerald gadis itu tertutup rapat. Dan Sasuke dapat merasakan jika kedua tangannya begitu terasa dingin. Dengan gerakan cepat pemuda itu langsung menggendong tubuh Sakura di depan dadanya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Menjauhkannya dari pemakaman ini mungkin adalah hal yang terbaik bagi Sakura, pikir Sasuke.
Tzuzuku
Balas review dulu~
Lala Yoichi : Nie dah dilanjutin. Review lg, ya!^^
Miyank : Ampunn*sembah sujud*. Q pasti bakal buat SS hidup bahagia kok di ending nanti. Jadi, jangan apa-apain Saya ya!*peace* Tp, review lg ya.*kick*
Poetrie-chan : Hai juga. Pastinya. Makasih udh mau review.
Via : Insyaallah. Tp, q kan ga tau nick name fb km? Apa kita dah berteman. Klu nggak biar q add.
Aiko Kirisawa : Kyaaaaa~kau review ketiga fic-ku. Makasih banyak. *Hug and kiss*.
Nope. But … I think you will now in this chapter. Sorry. I like Karin too. ^^
Makasih juga buat Gracia De Mouis Lucheta yg dah menjadikanku Author Fav-nya dan sudah memasukan story-ku ke list Fav-nya. Thank's a lot.^^
.
.
.
Minnaaaaaaa~ o genki desu ka? :)
Gomen. Karena update-nya telat lagi. =.=
Ehm! Bagi yang minta adegan SasuSaku, dah da tuh!*blushing*
Gimana? Suka ga? O.o
Mmmm … kalau ada yang bingung kenapa bisa ada Sasuke di sana sedangkan dia bilang besoknya mau ke Amerika pas sama Sakura, anggap z dia mengulur waktu selama satu hari hanya untuk menghadiri pemakaman Karin. ^^
Jujur. Aku merinding sendiri pas buat adegan KarinSaku. Mana ngetiknya pas malem-malem lagi. Tapi-tapi, kira-kira horror-nya ke rasa ga tuh? Hahahahahahah!
Masalah Gaara dan Karin udah selesai. Chapter selanjutnya Itachi akan muncul. Horeeeeeee~
Ini tuh belum sampai tahap ending loh. Tp, q usahain bkl cepet tamat. Biar reader ga pada bosen z bacanya!:P
Tapiiiiiii~q yakin pasti kalian selalu mendukung aku koq. Iya 'kan*ngedipin mata*
Ok.
Eh, eh, satu lagi pertanyaanku. Ga da hubungannya sama fic nie sih. Q Cuma pengen tanya siapa diantara kalian yang suka nonton Fairy Tail? Pada suka sama pair Gray x Lucy ga? Jawab, yaaa~
Jaa ne~
Reviews
