Previous chapter
"A-a-a-apa … y-yang kau lakukan, HAH?"
"Aku lebih menyukai aroma tubuhmu yang sekarang."
"Kapan kau akan pergi? Ke Amerika?"
.
.
.
"S—s-sia-pa?"
"Aku menyukainya—sangat. Terima kasih, Karin."
"Selamat tinggal, Sakura."
Naruto©Masashi Kishimoto
Gisei©Mizuira Kumiko
Genre : Angst/Romance
Rated : T+
AU
Sakura bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Ia sudah mencoba untuk merubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan atau ke kiri. Tapi, semua itu percuma. Bulir-bulir keringat nampak mulai bermunculan di permukaan kulitnya. Kedua matanya masih terpejam, dan beberapa kali dalam tidurnya Sakura meracau tidak jelas. Setitik air mata keluar dari sudut matanya yang terpejam.
Dan detik berikutnya Sakura langsung mengerjap bangun. Sejenak gadis itu merasa bingung. Kedua matanya bergerilya ke setiap sudut ruangan yang tak asing baginya. Perlahan Sakura mulai bangun dari berbaringnya dan menghidupkan lampu kamar tepat di sampingnya. Keadaan kamar yang gelap entah kenapa membuat hatinya gelisah karena kejadian kemarin malam.
Ya, Sakura merasa takut jika sahabatnya itu mengunjunginya lagi dalam keadaan seperti itu. Untuk saat ini mungkin ia sebaiknya menginap di rumah Hinata. Jika ia sendiri entah pikiran apa yang akan muncul di dalam kepalanya.
Sakura menyingkap selimut yang menutup tubuh bagian bawahnya lalu mulai turun dari atas tempat tidur. Sejenak gadis itu tertegun karena pakaian yang dikenakannya sudah berubah. Saat di pemakamaan ia masih ingat jika ia memakai baju hitam, tapi kenapa sekarang ia malah memakai piyama?
Sakura mengerling jam dinding di kamarnya. Sebuah helaan napas pendek keluar dari mulut gadis itu. Lama sekali dirinya tidur, pikirnya.
Gadis itu mulai melangkahkan kedua kakinya keluar kamar. Dan ia langsung mencium aroma harum yang menguar dari arah dapur. Hatinya bertanya-tanya, siapa yang sedang memasak di dapurnya? Apakah Hinata datang mengunjunginya hari ini karena mengkhawatirkannya? Atau kah—
"Sa-su-ke … "
—Sakura berucap dengan pelan setibanya di dapur. Ia sangat terkejut melihat kekasihnya berada di sana. Di tangan kanannya memegang sebuah spatula, dan pemuda itu memakai sebuah celemek untuk menutupi bagian depan tubuhnya agar tidak kotor.
"Tidurmu nyenyak?"
Sakura berjalan kikuk mendekati dapur dan duduk di sebuah kursi di depan meja. Menyangga dagunya dengan lipatan dua tangan lalu memandang sosok Sasuke dengan sebelah alis terangkat. "Kapan kau datang?" Tanyanya balik.
Sasuke mematikan api di kompor terlebih dahulu sebelum berbalik menghadap Sakura dengan sebuah senyum kecil di bibirnya. "Waktu itu kau pingsan. Dan aku yang mengantarmu pulang. Kau ingat?"
Sakura menyentuh keningnya sendiri dengan mata terpejam. "Maaf. Aku baru mengingatnya."
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke dan berjalan mendekati Sakura. Duduk di kursi di hadapan gadis itu.
Sakura memijit pelan keningnya. "Kepalaku rasanya sakit sekali."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Sakura langsung menatap heran wajah Sasuke. Kedua alisnya saling berkedut. Dan sebuah tawa tertahan keluar dari bibirnya. "Kita tidak perlu pergi ke rumah sakit. Aku dokter dan aku tahu keadaan tubuhku sendiri."
Kedua pipi Sasuke langsung merona merah. Merasa malu karena ia lupa bahwa Sakura adalah seorang dokter yang pasti lebih memahami keadaan tubuhnya sendiri di banding orang lain. Pemuda itu merasa menjadi orang yang bodoh saat ini dan terlebih di hadapan kekasihnya tersebut.
"Terima kasih, Sasuke." Sakura mengulas sebuah senyum simpul melihat bagaimana Sasuke mengkhawatirkan keadaanya. Entah kenapa ada rasa hangat yang menjalar di bagian dadanya. Begitu terasa nyaman.
Sasuke menggaruk pipi kanannya pelan dan mengalihkan pandangannya dari wajah Sakura dan menundukkan kepalanya. "Aku mencoba memasak makanan untukmu, tapi … rasanya pasti tidak enak," ucapnya nyaris seperti sebuah gumaman pelan.
"Apapun rasanya aku pasti akan memakannya," ucap Sakura dan tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit. "Karena ini adalah masakan pertama yang kau berikan untukku."
Sakura merasa jika kabut hitam yang sejak pagi menutupi hatinya saat melihat pemakaman Karin kini mulai menghilang. Tak seluruhnya—tapi gadis itu yakin jika ia bisa melupakan kejadian pahit itu untuk menghadapi masa depannya nanti. Masa lalu ada hanya untuk diingat sebagai tolak ukur dalam menjalani sebuah masa depan agar menjadi lebih baik.
Sasuke segera duduk di hadapan Sakura setelah mengambil dua piring untuk dirinya dan juga untuk Sakura. Dan di dalam hati pemuda itu berdoa untuk rasa masakan yang dibuatnya. Semoga rasanya tidak asin atau semacamnya, pikirnya.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Rintik-rintik air hujan nampak terlihat membentur kaca jendela di ruangan itu. Kilatan petir terlihat menyambar-nyambar di atas langit yang gelap di luar sana. Begitu pun suara gemuruh yang terdengar samar-samar. Cuaca pada malam ini sangat buruk, sama seperti malam-malam sebelumnya.
Kepala gadis itu menyandar di bahu orang yang tengah duduk menemaninya di ruang tengah. Televisi di hadapan keduanya menyala, menampilkan gambar sebuah film drama korea. Entah keduanya memerhatikan jalan cerita film itu atau tidak. Karena gadis itu kini memejamkan kedua matanya dan deru napasnya terdengar begitu halus dan juga tenang. Ia tak tertidur, hanya berusaha membuat dirinya nyaman.
Sedangkan pemuda yang menjadi tempat tumpuan gadis itu hanya menghela napas beberapa kali dengan gusar. Dan pemuda itu juga nampak beberapa kali membenahi letak duduknya. Wajahnya terlihat begitu cemas.
Kedua mata onyx pemuda itu melirik wajah Sakura dalam diam. Bibirnya yang mungil membuat pemuda itu ingin sekali mengecupnya.
Sedetik kemudian Sakura membuka kedua matanya. Ia meraih salah satu mug yang berisi kopi yang baru saja beberapa menit lalu Sasuke buatkan untuknya. Sebuah senyum simpul terlukis di bibir gadis itu ketika sadar mug yang digunakan oleh Sasuke.
"Mug ini, kenapa kau memilihnya?" Tanya Sakura mencoba memancing ingatan Sasuke. Sebenarnya ia sudah mendengar cerita lengkap dari Hinata mengenai keadaan Sasuke. Dan ia hanya ingin memastikannya saja. Apakah benar jika pemuda itu belum sepenuhnya ingat mengenai kejadian-kejadian terdahulu yang pernah di alami antara keduanya?
Sasuke nampak terkejut dan mencoba memahami maksud pertanyaan Sakura. "Hn. Aku hanya asal mengambilnya. Ada masalah?"
Sakura langsung mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata onyx di depannya dengan begitu dalam. "Kau tidak mengingatnya?"
"Apa?"
"Mug ini adalah pemberianmu saat aku berulang tahun yang ke-15. Mug ini sepasang. Kau lihat!" Ucap Sakura dan meraih satu mug lagi yang di mana itu adalah kopi milik Sasuke. "Ada inisial nama di sini."
Sasuke merasa jika jantungnya berhenti berdetak selama satu detik sebelum kembali berdetak dengan begitu cepat. Pemuda itu langsung menatap kedua mata emerald di hadapannya dengan pandangan meminta maaf. "Maaf. Aku tidak—"
"Aku tahu. Kau mengalami amnesia saat di Amerika. Tidak apa-apa. Aku bisa memahami keadaanmu."
Sasuke langsung tersenyum tipis menanggapi ucapan Sakura. Dengan pelan Sasuke mengelus sisi kepala gadis itu dan menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinganya. Selanjutnya Sasuke mulai mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Sakura dan menciumnya sekilas sebelum ia teringat benda yang ada di dalam sakunya kini.
Sakura nampak menautkan kedua alisnya bingung. Melihat jika Sasuke tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Dan kedua mata emerald itu langsung membulat sempurna ketika melihat benda itu. Sakura langsung menutup kedua mulutnya agar tidak memekik terkejut.
Sasuke membuka kotak kecil berwarna merah marun di depan wajah Sakura. "Aku … ingin memberikan cincin ini sebelum pergi ke Amerika. Sakura, aku sedang melamarmu."
Kedua mata emerald itu langsung berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat membuatnya kesulitan untuk membuka pita suaranya. Jantungnya berdetak begitu cepat. Ia sudah menunggu kejadian ini beberapa tahun silam. Dan ia sungguh tak menyangka jika harapannya untuk dilamar oleh pemuda itu menjadi kenyataan. Mimpi yang menjadi kenyataan.
Sakura hanya terdiam ketika Sasuke meraih tangan kirinya lalu menyematkan cincin berhiaskan batu berlian itu di jari manisnya. "Aku ingin kau menikah denganku."
Sakura langsung mengangguk dan menghambur memeluk tubuh Sasuke dengan begitu eratnya. Dan sebuah isak tangis terdengar dari bibir gadis itu.
Sasuke menyudahi pelukan itu lalu mencium bibir Sakura, kali ini lebih dalam dan lebih intens. Sebelah tangan pemuda itu bertengger di samping wajah Sakura, lebih mendekatkan kepala gadis itu. Sedangkan tangan satunya ia letakan di punggung Sakura. Perlahan Sasuke mendorong tubuh Sakura pelan sampai gadis itu terbaring dan ia berada di atasnya.
Melumat, menghisap, berbagi saliva. Dan berbagi perasaan cinta di antara keduanya.
Sakura tak akan pernah melupakan malam ini. Malam di mana mimpinya di lamar oleh pemuda itu menjadi kenyataan. Dan malam di mana satu-satunya harta yang paling berharga bagi dirinya diserahkan pada pemuda itu.
Dan ia tak akan pernah menyesal.
##Sacrifice##
Pagi-pagi sekali Sakura terbangun, setelah ia selesai mandi dan berpakaian ia sempatkan untuk membuat dua cangkir teh untuk dirinya dan Sasuke sebelum pergi mengantar pemuda itu ke bandara. Dengan rambut yang sentengah kering Sakura sibuk di dalam dapur mungilnya. Mengambil dua cangkir beserta piring kecil sebagai tempat menaruh cangkir itu.
Mengangkat teko kecil di atas kompor yang beberapa menit lalu dimatikan olehnya karena air di dalam teko itu sudah mendidih dan mengeluarkan bunyi nyaring. Dengan hati-hati setelah memakai sarung tangan dari bahan Sakura menuangkan air mendidih itu ke cangkir yang di mana sudah ia beri teh dalam bentuk kantung kecil. Setelah menaruh teko itu ke atas kompor kembali Sakura mulai mencelup-celupkan kantung teh itu sampai air panas itu berubah warna menjadi coklat.
Aroma melati langsung menguar beserta asap yang mengepul keluar dari dalam cangkir. Udara pagi setelah hujan semalaman sangat terasa dingin menusuk kulit, tapi setidaknya dengan meminum secangkir teh panas akan membuat tubuh menjadi hangat dan juga nyaman. Sekaligus membuat pikiran kita menjadi lebih segar.
Ting! Ting!
Suara sendok membentur cangkir keramik terdengar nyaring. Sakura mengaduk-ngaduk teh miliknya setelah ia memasukkan beberapa sendok gula pasir ke dalamnya. Dan untuk Sasuke, Sakura sudah paham betul jika pemuda itu tak suka yang manis-manis dan tak pernah mau meminum atau apapun yang terasa manis. Karena itu, hanya cangkirnya saja yang ia beri gula.
Sakura mengangkat telinga cangkir itu dan mendekatkannya ke bibirnya. Meniup-niupnya terlebih dahulu sebelum menghirup aroma melati itu. Dengan pelan dan begitu teramat diresapi Sakura mulai meminumnya.
Sebenarnya air untuk menyeduh teh itu tak terlalu panas, jadi dalam beberapa menit saja bisa langsung di minum namun harus di tiup terlebih dahulu agar bisa langsung di minum.
Sepasang tangan bergerak melingkari pinggang Sakura dari belakang membuat gadis itu sedikit terkejut. Ia menengokan kepalanya ke belakang sedikit dan tersenyum tipis melihat Sasuke yang tengah memeluknya.
"Kubuatkan teh untukmu."
"Hn." Sasuke menjawab pelan dan mencium pipi Sakura sekilas sebelum mengambil cangkir yang ada di hadapan gadis itu lalu meminumnya sedikit demi sedikit. "Manis."
"Eh?" Sakura terkejut ketika mendengar ucapan Sasuke. Ia melepaskan diri dari pelukan pemuda itu dan mengambil cangkir yang Sasuke genggam lalu meminum tehnya. Kedua alis Sakura berkedut ketika lidahnya tak merasakan rasa manis sama sekali.
"Rasa tehnya menjadi manis karena ada kau dihadapanku."
Blush!
Dengan rona merah di pipi Sakura terheran-heran sendiri dari mana Sasuke belajar untuk menggombal seperti tadi. Meskipun wajah pemuda itu datar tapi dari nada bicaranya terdengar sedang menggoda. Dan tatapan matanya yang begitu indah namun tajam malah membuat dirinya terpesona.
Sasuke tersenyum tipis dan mengambil kembali cangkir itu dari tangan Sakura lalu meminumnya kembali. Berjalan sedikit menjauhi Sakura dan duduk di sebuah kursi di depan meja, yang berarti ia duduk di hadapan Sakura.
"Kau belajar menggombal seperti tadi dari Kak Naruto?" Tanya Sakura dan juga ikut duduk di hadapan Sasuke. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua punggung tangan dan di bibirnya tersungging sebuah senyuman manis.
"Hn." Sasuke hanya tertawa kecil dan kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sakura terkesiap ketika ingat jika kakak Sasuke akan keluar dari rumah sakit hari ini. Kejadian buruk beberapa hari belakangan telah sukses menyita semua perhatiannya sampai ia melupakan pasiennya sendiri. Meskipun ia mengambil cuti dan menyerahkan tugasnya pada Sasori tapi rasanya akan sangat tidak sopan sekali jika tidak menjenguknya.
"Sasuke, kakakmu akan pulang dari rumah sakit hari ini 'kan? Kau tidak ingin menemuinya dulu?"
Dari raut wajahnya Sasuke sedang menimbang-nimbang ucapan Sakura. Apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu memang benar, tapi masalah yang menimpa perusahaan kakaknya bukanlah hal sepele. Ia sudah memundurkan jadwal keberangkatannya sehari karena menghadiri pemakan Karin. Dan tidak ada waktu untuk mengundurnya lagi. Terpaksa ia harus berangkat sekarang. Dengan keputusan yang menurutnya sangat berat Sasuke memilih untuk berangkat tanpa menemui Itachi atau pun keluarganya. Ia pikir bisa menghubungi mereka semua setibanya di sana.
"Hn. Sepertinya tidak. Aku harus segera berangkat. Sekarang."
Sakura mengangguk mengerti dan kemudian ikut bangkit berdiri. Merapikan rok selutut yang ia kenakan hari ini dan setelahnya menyusul Sasuke menuju ruang tengah. Sakura memerhatikan penampilan pemuda itu pagi ini.
Rapi dan terlihat begitu tampan. Meskipun hanya memakai sebuah celana hitam panjang dan atasan kemeja berwarna biru tua yang kemudian pemuda itu rangkap dengan jas warna abu-abu. Tak lupa sebuah dasi berwarna hitam melingkar dengan rapi di lehernya.
Sakura berpikir jika Sasuke berniat sekali untuk menginap di apartemennya. Karena Sasuke sudah membawa pakaian itu di dalam mobil. Dari pemakaman Sasuke mengantar dirinya sampai ke tempat ini, lalu menyuruh supirnya untuk pulang membawa mobilnya. Sedangkan untuk berangkat ke bandara Sasuke meminta untuk dirinya saja yang mengantarnya. Tidak ada barang bawaan Sasuke yang lain selain tas berisi laptop, paspor, tiket, dan berkas-berkas penting lainnya.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Sakura dan menyambar tas kecil dari atas sofa yang sudah ia persiapkan sejak Sasuke masih berkutat memasang dasi di lehernya bebarapa menit lalu.
"Hn."
Dengan senyum simpul Sakura langsung menggandeng lengan Sasuke dan keluar dari apartemennya setelah mengunci pintunya dengan aman.
.
.
.
.
Setelah mengantar Sasuke ke bandara dan juga setelah melihat kepergian pemuda itu sampai pemeriksaan tiket, Sakura segera kembali menuju mobilnya dan meninggalkan tempat luas itu. Entah kenapa ia sedikit tak menyukai suasana di bandara yang sangat ramai. Itu membuat kepalanya pusing. Terlebih kejadian masa lalu ketika ia mengejar Sasuke sampai bandara dan terlambat datang untuk mencegahnya pergi menimbulkan rasa resah dan takut di dalam hatinya.
Dengan pelan Sakura mengemudikan mobil silver miliknya di tengah hiruk-pikuk jalanan yang mulai di isi oleh mobil, motor atau kendaraan lain. Maklum, matahari sudah akan mencapai pucuk kepala, hari sudah mulai memasuki fase siang. Sengatan sinar matahari yang begitu terasa membakar kulit menjadikan para pengendara motor enggan untuk bersantai-santai di jalanan. Para pengendara beroda dua saling mendahului mobil di depan mereka hanya untuk segera mencapai tujuan. Dan Sakura harus ekstra hati-hati agar mobilnya tak menabrak salah satu pengendara motor itu.
Sakura melirik ke arah kanan jalan. Jajaran toko-toko yang mulai dikerumini oleh orang-orang dan para pejalan kaki yang rela turun dari atas trotoar hanya untuk menghindari para pembeli yang memenuhi tempatnya untuk berjalan.
Dan sebuah toko yang menjual parsel yang begitu cantik menyita perhatian Sakura. Dengan senyum kecil di bibirnya gadis itu menepikan mobilnya ke sisi jalan. Dan setelah mematikan mesin dan mencabut kunci mobil dari lubangnya Sakura mulai turun setelah sebelumnya melepaskan sabuk pengaman.
Ia mulai berjalan mendekati toko itu dan kemudian masuk ke dalamnya. Udara dingin namun begitu terasa sejuk dirasakannya ketika ia baru saja mendorong pelan pintu toko itu. Dengan langkah pelan Sakura mulai memilih-milih bungkusan buah apa yang dikiranya bagus dengan hiasan pita yang cantik.
Sakura meneliti baik-baik parsel yang ada di hadapannya. Tidak hanya harus bagus di luar, tapi juga harus bagus di dalamnya. Akan percuma jika hiasan di luar terlihat bagus, buah-buahan yang ada di dalamnya jauh dari kata bagus.
Namun, sedetik kemudian perhatian gadis itu buyar ketika ia mendengar suara seseorang yang begitu teramat dikenalnya. Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko itu dan ia langsung tersenyum tipis ketika kedua matanya mengarah ke pojok kanan belakang toko itu.
"Kak Hinata!" Seru Sakura dan berjalan mendekati orang yang dipanggilnya dengan sebuah senyum kecil di bibirnya.
"Eh? Kenapa kau bisa ada di sini, Sakura?" Tanya Hinata balik dengan raut muka terkejut.
"Aku sedang membeli sebuah parsel—"
"Untuk?" Hinata dengan cepat memotong Sakura.
"Itachi akan pulang dari rumah sakit hari ini, aku akan pergi menjenguknya."
Hinata nampak menganggukan kepalanya. "Boleh aku ikut?"
Sakura juga baru teringat jika keluarga Hinata berteman baik dengan keluarga Sasuke. Tak masalah memperbolehkannya ikut, lebih baik berdua daripada sendiri. "Tentu."
.
.
.
.
.
Satu buah keranjang parsel ukuran sedang dan satu buah kue tar yang juga berukuran sedang sudah ada di dalam mobil di belakang jok kemudi. Sakura mulai memakai kembali sabuk pengamannya begitu pun dengan Hinata. Selang beberapa detik kemudian mobil silver itu mulai kembali ke jalan dan bersatu dengan mobil lainnya.
Hinata duduk dengan tenang di samping Sakura. Wanita manis itu menyenderkan punggungnya dengan nyaman ke punggung kursi dengan helaan napas pelan. Tapi, sedetik kemudian ia melirik Sakura dengan ekor matanya. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.
Sakura menengok sebentar pada wanita di sampingnya dengan sebuah senyum tipis. "Sangat baik. Kakak sendiri?"
"Sama sepertimu. Tapi, aku sedikit tersiksa dengan rasa mual yang kurasakan. Terlebih Naruto sedang pergi, tak ada yang bisa kusuruh untuk membeli sesuatu jika aku sedang ngidam," keluh Hinata dan mengelus perutnya yang mulai terlihat membesar. Umur kandungannya baru saja mencapai bulan ke-3. Meskipun seperti itu ukuran perutnya sudah seperti berumur 4 bulan. "Kau tahu? Naruto bilang di dalam perutku ada dua bayi."
Sebuah senyum geli terlukis di bibir Hinata ketika membayangkan ucapan suaminya. Begitu pun dengan Sakura, gadis itu tertawa tertahan.
"Sepertinya memang seperti itu," timpal Sakura.
"Kau mengatakannya karena ukuran perutku?"
Sakura mengangguk. "Perutmu sudah terlihat besar meskipun kandunganmu masih berusia 3 bulan," ucapnya dan ikut mengelus perut Hinata dengan pelan.
"Bayi, ya?" Batin Sakura dan tersenyum penuh arti setelah kembali memegang stir kemudi dengan kedua tangan.
"Ada apa?" Tanya Hinata yang menyadari perubahan raut wajah Sakura. Sebelah alisnya terangkat ketika membaca raut wajah bahagia di wajah gadis di sampingnya.
"Bagaimana perasaanmu ketika kau tahu kau sedang mengandung?" Tanya Sakura balik tanpa menatap wajah Hinata.
Hinata nampak terkejut bukan karena pertanyaan Sakura, tapi raut wajah gadis itu ketika mengatakannya. Kedua mata emerald-nya terlihat begitu hidup dan bercahaya. Wajahnya berseri-seri. Senyuman di bibirnya benar-benar melukiskan bagaimana situasi hati gadis itu. Dan ini adalah kedua kali Hinata melihat Sakura seperti ini. Yang pertama, sejak dulu sekali ketika gadis itu masih berpacaran dengan Sasuke. Dan kedua, sekarang.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Sakura menggeleng pelan. "Hanya ingin tahu."
Hinata nampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sakura. "Mmm—bahagia, itu adalah hal pertama yang kurasakan. Lalu selanjutnya aku merasakan rasa haru—dan aku menitikan air mata saat mendengar penuturan dokter. Sekaligus aku merasakan tanggung jawab yang besar untuk merawat bayi ini tetap sehat di dalam kandungan sebelum tiba kelahirannya.—yang paling bahagia tentu saja ayah dari anak ini, Naruto saat itu langsung menghujaniku dengan pelukan kebahagian. Dikatakan jika sudah ada anak di dalam keluarga, keluarga itu sudah mencapai bentuk sempurna."
"—begitu."
"Kalau kau sudah menikah dengan Sasuke, kau akan tahu bagaimana rasanya mengandung anak pertama dari buah cinta kalian."
Kedua pipi Sakura langsung merona merah membayangkan hal apa yang sudah dilakukan olehnya dan Sasuke semalam. Mungkin sebelum ada upacara pernikahan sudah akan ada bayi di dalam perutnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ayah, ibu, dan kakak angkatnya mengetahui hal ini. Dan juga bagaimana reaksi dari calon mertuanya nanti?
"Sakura?" Hinata menyentuh pelan bahu gadis itu.
"Sasuke … sudah melamarku."
Hinata langsung membulatkan kedua matanya karena terkejut. Ia pikir tak akan secepat ini pemuda itu meminta Sakura untuk menikah dengannya. Sedetik kemudian Hinata langsung memeluk tubuh Sakura dari samping dengan erat. "Selamat untukmu, Sakura. Akhirnya kalian berdua bisa bersatu."
Sakura tersenyum dan mengelus pelan lengan Hinata yang sedang memeluknya. "Semua ini berkatmu juga, Kak. Jika kau tak menceritakan semuanya padaku, hal ini tak akan pernah terjadi. Terima kasih."
Segaris aliran air mata mengalir membasahi kedua pipi Sakura. Meskipun seperti itu sebuah senyum kebahagian tak luntur dari bibirnya.
Namun sedetik kemudian Hinata melepaskan pelukannya pada tubuh Sakura dengan kedua alis yang saling berkedut. "Kau tidak sedang hamil 'kan sekarang, Sakura?"
"Eh?—t-te-tentu saja … t-ti-tidak."
##Sacrifice##
Setibanya di kediaman Uchiha, Sakura dan Hinata di sambut hangat oleh Fugaku dan juga Mikoto. Keduanya memang baru saja tiba di rumah bersama Itachi dari rumah sakit.
Fugaku hanya duduk di ruang bersantai, terdiam membisu dengan lembaran koran pagi di kedua tangannya. Segelas kopi hitam nampak berdiri dengan tegak di meja di depannya. Sedangkan Mikoto berada di ruang tamu bersama Sakura dan juga Hinata. Sepertinya Fugaku tak ingin terjun ke dalam pembicaraan khusus para wanita itu. Dan ia lebih memilih mencari informasi seputar tempat tinggalnya yang diberitakan banyak kasus perampokan.
Mikoto mengelus perut Hinata pelan dengan tangan kanan. Segaris senyum simpul terlukis di bibirnya. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia dan juga binar-binar cahaya kehidupan kembali memenuhi kedua matanya. Sepertinya, awan mendung yang sempat menutupi kebahagiannya itu telah sirna tak berbekas.
"Apa kau ingin makan makanan yang rasanya pedas?" Tawar Mikoto dan menatap Hinata lembut.
Dengan kedua pipi merona merah wanita berambut indigo tersebut mengangguk pasti. Rasanya memang benar jika siang ini ia sudah ingin makanan yang rasanya asam, pedas dan manis.
Mikoto melirik Sakura dan tersenyum tipis padanya. "Kau ingin membantu Ibu menyiapkanya, Nak Sakura?" Ucapnya.
Sakura terkejut dengan sedikit membulatkan kedua matanya. Entah kenapa jantungnya langsung berdetak begitu cepatnya. Meskipun Sakura sangat akrab dengan Mikoto sejak dulu. Tapi, tetap saja jika harus berdekatan dengan wanita itu rasanya berdebar-debar. Karena Sakura merasa jika harus memberikan kesan yang baik untuk calon mertuanya. Bersikap sesopan mungkin, tak melakukan kesalahan, dan tak boleh mengeluh jika di suruh ini-itu. Dulu, Sakura pernah sampai menitikan air mata ketika Mikoto berkata jika ia ingin punya anak perempuan yang sikapnya sama seperti Sakura.
Baik, sopan, santun dan terlebih adalah memiliki wajah yang cantik, itu kata-kata Mikoto yang pernah diucapkan padanya.
Dengan cepat Sakura mengangguk dan bangkit berdiri. Menerima uluran tangan Mikoto yang menyuruhnya untuk mengikutinya ke dapur. Sebelum sepenuhnya pergi Sakura melirik Hinata yang tengah mengepalkan tangan di samping wajahnya dan berkata, "Ganbatte," dengan raut wajah penuh semangat.
.
.
Kedua pembantu yang tadi berada di dalam dapur segera menyingkir pergi dengan membungkukkan badan ketika melihat jika majikan mereka datang mengunjungi dapur. Jelas, raut wajah keterkejutan terlukis di wajah kedua pelayan itu ketika melihat ada seorang gadis cantik yang menemani Mikoto ke dapur.
Salah satu dari pelayan itu yang memang sudah kenal Sakura sejak dulu hanya tersenyum ramah dan mengucapkan kata, "Selamat datang kembali, Nona Sakura."
Sakura hanya bisa mengangguk dengan rona merah di pipi. Ternyata ia masih di sambut baik oleh para pembantu di rumah ini sejak keabsenan dirinya selama 3 tahun lebih tak mengunjungi rumah ini.
Mikoto meminta Sakura untuk mengambil keranjang buah yang diletakan di samping kulkas lalu menaruhnya di atas meja. Mikoto sibuk mempersiapkan pisau, piring dan pengupas buah yang dia ambil dari dalam buffet kecil yang menempel di dinding bagian atas. Sedangkan Sakura mulai memakaikan sebuah celemak ke bajunya agar tak kotor.
Buah mangga yang terlihat masih keras, pasti umurnya baru setengah matang dengan rasa asam. Buah bintang dengan kulitnya yang begitu cantik, kuning keemasan, dan rasanya pasti manis-asam kecut. Lalu, buah nanas ukuran sedang yang dapat dilihat dari warna luarnya pasti sudah berumur tua dan rasanya pasti sangat manis. Belum lagi jambu air yang warnanya begitu merah merekah. Entah rasanya seperti apa karena jambu air biasanya menipu dengan penampilannya.
Mikoto menyerahkan satu pisau pada Sakura, sedangkan dirinya sendiri mulai mengambil buah mangga dan mengupasnya dengan mundur ke belakang.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Kudengar dari Sasuke akhir-akhir ini kau sering merasakan sakit di kepalamu."
"Eh?—u-uhm ... keadaanku baik-baik saja … Ibu."
Mikoto tersenyum mendengar penuturan Sakura yang terlihat masih kaku. Wanita itu memakluminya karena ini adalah kedua kalinya ia mengobrol berdua dengan gadis itu. "Terima kasih."
Sakura mengerutkan dahinya bingung. Apa maksud kata 'terima kasih' yang diucapkan oleh wanita cantik di depannya ini.
"Kau sudah menyelamatkan keluargaku," ucap Mikoto dan menghentikan aktivitasnya mengupas buah lalu menatap Sakura dengan pandangan lembut.
Sakura sangat merasa terkejut mendengarnya. Ia berpikir jika jasanya tidaklah sebesar apa yang dikatakan oleh Mikoto. Dan ia tak mengerti memang apa yang sudah dilakukannya untuk keluarga Uchiha?
"Kau membawa kembali kebahagian di rumah ini.—Sasuke, sudah berubah kembali seperti yang dulu. Fugaku sudah tak pernah marah-marah lagi karena sikap kasar Sasuke setelah kalian putus. Lalu terakhir, kau sudah menyelamatkan Itachi. Kami tak tahu harus membalas kebaikanmu dengan—"
"Oeekkk!" Sakura menutup mulutnya dengan dua tangan dan langsung berlari menuju kamar mandi yang untungnya ada di dekat dapur. Gadis itu memegang perutnya dan memuntahkan sejumlah kecil air yang dapat diingat oleh Sakura jika itu adalah air teh yang tadi pagi ia minum. Tak ada lagi yang dimuntahkannya karena memang Sakura belum makan makanan apapun.
Mikoto tergopoh-gopoh mendekati Sakura dengan wajah panik. Wanita itu sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Mikoto membantu dengan menepuk-nepukkan punggung Sakura dan memijit tengkuknya. Muntahan memang sebaiknya dikeluarkan.
"Apa kau sudah sarapan sebelum datang kemari?" Tanya Mikoto dan mengelap keringat di dahi Sakura.
Sakura menggeleng pelan dengan wajah yang sudah pucat.
"Apa yang membuatmu mual?" Tanya Mikoto lagi.
Sakura nampak berpikir sebentar sebelum menunjuk keranjang buah yang mengeluarkan berbagai macam bau. "Mungkin karena bau buah-buah itu. Maaf."
Mikoto nampak masih terlihat khawatir lalu menuntun Sakura untuk duduk di kursi di depan meja. Dahi wanita itu sedikit terlipat ketika ia merasakan tak ada bau sama sekali yang tercium dari keranjang buah itu. Bau yang sama sekali tercium alami, umum bagi sebuah buah. Tapi, tak begitu mencolok karena bau buah itu samar-samar. "Tapi, kenapa Sakura—" batinnya.
Kedua iris onyx Mikoto entah kenapa teralih dari wajah pucat Sakura ke bagian perut gadis itu yang rata. Ekspresi wajahnya begitu tak tertebak. Mikoto hanya memandang perut gadis itu dengan berbagai kesimpulan yang ia dapat sendiri. "Nak Sakura … "
"Mmm?" Sakura menengadahkan kepalanya menatap wajah Mikoto dengan ekspresi polos.
"Apakah kau saat ini sedang … " Mikoto tak melanjutkan ucapannya dan hanya memandang perut Sakura.
Sakura yang tak mengerti ucapan Mikoto mengikuti arah pandang wanita itu. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil mengelus perutnya sendiri. Yang diartikan Mikoto jika memang benar ada makhluk kecil di dalam perut itu. Mikoto langsung terpekik pelan sambil menutup kedua mulutnya.
Sakura yang masih tidak mengerti hanya menatap bingung wajah Mikoto. Dan ketika tangan Mikoto menyentuh perutnya, Sakura langsung membelalakan kedua matanya. Terkejut, karena ia baru mengerti arti ucapan wanita itu. Dengan segera Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya di tambah mengibas-ngibaskan sebelah tangannya. Wajahnya sudah memerah tak karuan. "Bu-bukan seperti itu. Ibu salah paham," kilahnya dengan ekspresi malu.
.
.
.
.
.
Sakura berharap akan ada sebuah lubang yang begitu dalam untuk menyembunyikkannya agar tak mendapat pandangan aneh dari Mikoto dan Fugaku yang seolah-olah ia adalah benda yang paling menarik. Dengan kepala tertunduk gadis itu mulai menyendokkan sup tomat yang masih terlihat ada uap yang mengepul di hadapannya.
Hinata yang berada di sampinganya tengah menahan tawa dengan wajah memerah. Wanita itu tengah asyik memakan buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil dengan tambahan bumbu gula merah dan cabai rawit itu dengan ekspresi yang begitu nikmat.
"Tambah lagi supnya?" Tanya Mikoto dan tersenyum tetap masih dengan ekspresi yang menakutkan bagi Sakura.
"T-tidak. Ini sudah cukup."
"Makanlah yang banyak." Fugaku berkata dengan nada ramah dan menatap Sakura dengan senyum kecil khas seorang bapak kepada anaknya.
Sakura mengangguk pelan dan kembali menyendokkan sup tomat itu ke dalam mulutnya. Entah kenapa ia merasa begitu senang saat lidahnya merasakan rasa manis-pedas dari sup tomat itu. Rasanya begitu menyegarkan untuk menghilangkan mual di perutnya.
Seorang pelayan datang menginterupsi acara makan siang itu dan membisikan sesuatu ke telinga Mikoto. Yang entah kenapa membuat jantung Sakura berdetak begitu cepat ketika lagi-lagi Mikoto tersenyum padanya.
Mikoto langsung bangkit berdiri mengikuti pelayan itu setelah pamit sebentar pada semuanya.
Sakura mulai merasakan bulir-bulir keringat muncul dari pori-pori kulitnya. Tangannya sudah mulai berkeringat dan terasa dingin. Jantungnya sudah berdebar begitu kencang.
Fugaku mengambil gelas berisi air putih di samping kirinya lalu menenggaknya sampai habis. Setelah itu mengelap bibirnya dengan serbet kecil. Sedetik kemudian menatap Hinata dengan pandangan bertanya. "Mana suamimu, Nak Hinata? Kenapa dia tak ikut menemanimu datang ke rumah ini?"
Hinata menelan buah yang ada di tenggorokannya tersebut terlebih dahulu sebelum balas menatap Fugaku dengan senyuman kecil di bibirnya. "Naruto sedang pergi bisnis ke luar kota. Saat dia pulang nanti kami akan kembali mengunjungimu, Paman."
Fugaku mengangguk-anggukan kepala dan setelah itu bangkit berdiri. Ikut meninggalkan meja makan setelah pamit pada Sakura dan Hinata.
Kepergian Fugaku di sambut helaan napas oleh Sakura.
"Kau kenapa?" Tanya Hinata dengan wajah geli.
"Kau tidak tahu betapa malunya aku saat di dapur tadi," ungkap Sakura.
Hinata langsung tertawa pelan dan menepuk-nepuk bahu Sakura. "Kau tidak perlu malu. Bukankah sebentar lagi juga kau akan menikah dengan Sasuke, dan tak lama kemudian akan ada makhluk kecil di dalam perutmu itu. Benar 'kan?"
Sakura lagi-lagi menghela napas dan menjauhkan mangkuk sup yang sudah kosong isinya dari hadapannya. Mengambil segelas air dan menenggaknya sedikit demi sedikit. Ia hampir saja tersedak saat minum ketika Mikoto muncul dengan berkata—
"Sasuke tadi menelpon dan mengatakan jika dia mengirimkan sebuah peket ke apartemenmu."
—sambil tersenyum penuh arti.
"I-iya. Terima kasih."
"Kau tadi bilang ingin menjenguk Itachi 'kan? Dia ada di kamarnya."
Sakura mengangguk dan bangkit berdiri mengikuti punggung Mikoto dengan langkah terburu-buru. Menaiki undakan tangga pendek dan berjalan menyusuri lorong terbuka yang mengarah ke taman belakang. Mikoto berhenti di depan sebuah pintu berplitur coklat dan mengetuknya pelan. Terdengar suara bariton seseorang yang mengatakan kata 'masuk' dari dalam.
Mikoto membuka pintu itu lebar-lebar dan mempersilahkan Sakura masuk terlebih dahulu ke dalam. Wanita itu tak ikut masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan tangan yang masih memegang knop pintu. "Ada yang harus Ibu kerjakan. Tidak apa 'kan jika Ibu tinggal kalian berdua?"
Sakura menggelengkan kepala pelan. "Tidak masalah, Bu."
"Baiklah. " Mikoto kembali mengumbar senyum dan menutup pintunya kembali.
Dengan sedikit perasaan canggung Sakura menarik kursi tak berpunggung dan membawanya mendekat ke samping tempat tidur. Di tempat tidur itu terduduk seorang pemuda tampan yang terlihat menyenderkan punggungnya dengan nyaman. Selimut tebal menutupi pinggang sampai bawah kaki. Kedua matanya beralih dari buku yang dibacanya dan menatap Sakura dengan ekspresi yang lagi-lagi Sakura tak bisa tebak. Entah kenapa gadis itu merasa jika cara memandang pemuda itu dan Sasuke berbeda jauh. Mata onyx di depannya menyimpan lebih banyak rahasia.
Sakura melirik beberapa gulungan perban di atas meja di samping tempat tidur, begitu pun dengan plester, kapas dan cairan bening alkohol di dalam botol. "Kau sudah mengganti perbannya?"
"Belum." Itachi menjawab dengan begitu singkat dengan lagi-lagi raut wajah datar yang membuat jantung Sakura berdetak begitu cepat.
Jujur, ia bersyukur jika Sasuke sedikit lebih berekspresi jika berbicara atau pun menjawab perkataannya. Karena orang yang cenderung diam itu sangat menarik untuk diperhatikan. Begitu pun dengan Itachi, pertemuannya hari ini entah kenapa sudah membuat Sakura penasaran akan ada apa di balik wajah datar itu. Ada apa di balik pandangan matanya yang begitu menyeretnya masuk dan membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya ke yang lain.
"Kalau begitu. Bagaimana jika aku saja yang—"
"Hn. Kau bertanggung jawab akan hal itu."
"Eh?" Sakura cukup terkejut dengan perkataan pemuda yang ada di hadapannya tersebut.
"Terima kasih."
Lagi-lagi dengan ekspresi datar seperti itu Sakura tak tahu kata apa yang akan keluar dari bibirnya lagi. Sedetik kemudian Sakura tersenyum simpul. "Sama-sama."
Dengan kedua tangan yang sedikit gemetar Sakura mulai menyentuh kening Itachi dan membuka perbannya dengan pelan. Membersihka luka memanjang yang sudah setengah kering itu dengan cairan alkohol dengan bantuan kapas. Dengan tangan yang sudah terampil mengurus luka, Sakura mulai mengambil satu gulungan perban, lalu memotongnya menjadi dua dan melipatnya dengan ukuran masing-masing 3 senti. Tapi, sebelum itu ia memasangkan plester coklat di kedua ujung perban itu agar bisa ditempelkan di kening bagian kiri Itachi.
Sakura baru menyadari jika dari tadi kedua mata onyx itu tak lepas dari wajahnya ketika ia mengganti perban. Gadis itu terdiam dan balik menatap mata onyx itu dengan mata emerald-nya. Tak Sakura sadari sendiri jika jari-jarinya mulai bergerak turun ke bawah dan mengelus pelan pipi bagian kanan Itachi yang menunjukan luka lebam kebiruan akibat benturan keras saat pemuda itu kecelakaan.
Diluar dugaan Itachi menangkap tangan Sakura tapi tak membiarkan tangan gadis itu turun dari pipinya. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh pemuda itu. Ia memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan tangan lembut Sakura di pipinya. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Ita—"
"Kita pernah bertemu sebelumnya," ucap Itachi memotong ucapan Sakura. Pemuda itu kembali membuka kedua matanya dan menurunkan tangan Sakura yang dari tadi bertengger di pipinya. Tak melepaskan tangan itu, melainkan kini menggenggamnya dengan lembut. "15 tahun lalu, ada seorang gadis kecil yang menangis di pinggir jalan dengan memeluk sebuah boneka panda besar di kedua tangannya. Ia berdiri sendirian di bawah guyuran hujan—"
Sakura langsung membulatkan kedua matanya. Tenggerokannya tercekat membuatnya tak bisa mengeluarkan suara. Ia hanya bisa membuka mulutnya dan kemudian menutupnya kembali. Jantungnya langsung berdebar kencang ketika Itachi beringsut maju dan menarik dirinya ke dalam sebuah pelukan erat dan begitu terasa hangat.
Merengkuh tubuh mungil gadis itu dengan kedua tangannya yang kekar. Merasakan kehangatan tubuhnya ketika memeluknya. Merasakan aroma wangi yang menguar keluar dari tubuh gadis itu. Menenggelamkan wajahnya di lekukan leher jenjang gadis itu. Dan ikut merasakan debaran jantung gadis itu yang begitu cepat.
Sakura merasa jika seluruh tubuhnya memanas dan berkumpul di wajah. Dadanya entah kenapa terasa begitu sesak membuatnya sulit untuk bernapas. Tangannya gemetar dan lunglai begitu saja di samping tubuhnya. Gadis itu tak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali. Lebih tepatnya ia tak mampu melepaskan pelukan erat pemuda itu padanya. Hati kecilnya merasa jika pelukan ini adalah pelukan yang pernah ia rasakan dan rindukan dulu. Tapi, Sakura tak mengingat kapan ia mendapatkan pelukan seperti ini.
Gadis berambut merah muda itu menahan napas sejenak ketika kepala pemuda itu sedikit bergerak di atas bahunya. Ia pikir pemuda itu akan menyudahi pelukan ini, tapi sepertinya satu detik pun pemuda itu tak pernah berpikir demikian. Sakura merasakan embusan napas hangat mendekati telinganya.
Waktu seakan berhenti bergulir ketika bibir Itachi bergerak mengucapkan kalimat tepat di telinga kanan gadis itu yang membuatnya sangat terkejut. Tanpa bisa gadis itu cegah kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dan selanjutnya Sakura pun melingkarkan kedua lengannya memeluk tubuh pemuda itu tak kalah erat. Dengan air mata yang sudah menetes dari matanya dan dengan suara yang bergetar Sakura memanggil nama pemuda itu. "Itachi—ternyata kau ..."
Sebuah senyum yang lebih lebar terlukis di bibir Itachi dan pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya. Dan mulai pada hari itu juga ia mulai menata kembali hati dan perasaannya pada gadis itu.
.
.
.
.
.
Someone from the past has come back to you.
What will you do to him who had the same feeling great as your lover?
That will give you the answer is your heart.
Wait and you will know.
.
.
.
All people will shed tears and sacrifice himself for someone he loves.
Tsuzuku
Balasan review buat yg ga login :
Alvin The Nuri : Loh, bagaimana km tahu nama panggilan q Ira? Km peramal, ya?*ditimpuk*
Hehehe. Makasih atas pujiannya Alvin-san.^^
Review lg ya!
Thanks.
SakuraBELONGtoSASUKE : Hey, km review dua fic-ku. Makasih bngt.^^
Nie dh di update secepat yg q bisa.
Thanks.
Review lg, ya!
Otaku-chan : Bukan km z loh yg nangis. Author-nya sendiri juga nangis pas buat scene per chapter-nya*hiks!Hiks*
Ofcourse, I'll make Sasuke and Sakura happier.
Just wait. Ok!
Akasuna no Ei-chan : Really? Kyaaaa~ ga sia2 bertapa di dalam kamar sblm pembuatan fic nie.*ngaco*
Pasti. Q bakal bikin fic genre angst lagi dngn beda cerinta.
Makasih. Review lg, ya Ei-chan.^^
Aiko Kirisawa : Hai, qt bertemu lagi. Makasih krn sudah mereview fic-ku. Nanti aka nada pertemua Kiba. Dan memang, iya, q bakal menjadikan pairing ItaSakuSasu sebagai penutup fic nie mncapai ending.
Ok. Nie dah di update, Aiko-chan.^^
Miyank : R-rated M*pingsan*
*bangun lagi*Nanti q minta tmn-ku untuk buat SS Rated M.
Makasih buat review-nya.
LovyS : CHAYO. Makasih buat review-nya. ^^
Sslove : Seneng dngenya jika feel di fic nie dpt.
Yupz. Q update secepat yg q bisa. Thank's.
^^
.
.
Hai-hai.*melambaikan tangan*
Minna-sama, gimana kabarnya?
Mudah2an selalu sehat, ya!
.
.
Anooooo~jangan bunuh Saya krn sering nyiksa Sasuke di sini:P
Q sayang sama Sasuke kok, krn itu aku selalu membuat dia tersiksa dulu tp saat waktunya tiba q bakal bikin dia sangat bahagia di akhir nanti sama Sakura.^^*beladiri*
Begitu pun dengan Gaara dan Karin, yang kubuat tersiksa secara batin dan fisik, Cuma berakhir tragis.
=.=''
Cinta itu pasti selalu ada pihak yang tersakiti atau pun menjadi pihak yang selalu mengalah. *halah*
Yang jelas, fic ini ga bakal lama mencapai ending.
Masih banyak kejadian di fic ini yang bakal menguras air mata kalian sampai habis*justkidding*
Tapi, yang pasti Itachi bakal menjadi peran yang sangat penting bagi keberlangsungan hubungan Sasuke dan Sakura. Begitu pun dengan Sasori yang akan melakukan sesuatu untuk Itachi demi kebahagian Sakura.
Sore ja …
Kasih aku saran dan kritiknya.
Agar fic ini menjadi lebih baik.
.
.
REVIEWS
