Previous Chapter

"Aku ingin kau menikah denganku."

"Itachi akan pulang dari rumah sakit hari ini, aku akan pergi menjenguknya."

"Bagaimana perasaanmu ketika kau tahu kau sedang mengandung?"

.

.

.

"Kau sudah menyelamatkan keluargaku."

"Kau tadi bilang ingin menjenguk Itachi 'kan? Dia ada di kamarnya."

"Kita pernah bertemu sebelumnya."


Naruto©Masashi Kishimoto

Gisei©Mizuira Kumiko

Rate : T

Genre : Romance/Angst/Hurt-Comfort

Alternate Universe

Warning : OoC, GaJe, Typo's, rushing

.

Enjoy, Minna!


Setitik air mata jatuh membasahi pipi Sakura. Di tengah kedua matanya terpejam ia balas memeluk sosok pemuda itu. Sosok yang entah bagaimana bisa ia lupakan kehadirannya—dulu dan sekarang. Semakin lama tangis Sakura mengencang sampai kedua bahunya gemetar.

Rasa terkejut yang menerpa hatinya kini begitu membuatnya gemetar seluruh tubuh. Ia begitu tak menyangka jika Itachi akan mengenalkannya kembali pada ingatan yang telah terkubur begitu dalam di dalam kepalanya.

Pertemuan pertama antara dirinya dan pemuda itu. Jauh sebelum ia bertemu dengan Sasuke. Kini lambat-laun ia mulai mengingatnya kembali, meski ada beberapa potong kejadian yang samar-samar ia ingat.

Hal pertama yang ia ingat ketika Itachi mengatakan kata 'hujan' adalah saat itu. Saat ia menunggu kedatangan Gaara di sisi jalanan umum. Ditemani dengan sebuah boneka panda besar yang ia dekap di dada, kepalanya tertunduk menatap sepasang sepatu mungil berwarna coklat yang ia pakai dan miliki satu-satunya saat itu.

Namun, tiba-tiba saja langit berubah menjadi mendung, awan gelap membawa udara dingin yang menusuk kulit. Rinai hujan mulai turun tak lama kemudian. Tergantikan dengan tetesan air hujan yang membasahi tanah kering. Menghantarkan bau tanah yang basah—bau khas ketika hujan sudah turun.

Kristal-kristal air hujan turun membasahi jalanan kota dengan begitu derasnya. Banyak para pejalan kaki sejenak berhenti di bawah pohon atau pun di depan toko-toko kecil untuk sekadar berteduh. Menghindari diri dari air hujan yang akan membuat mereka basah kuyup dan berakhir dengan kedinginan.

Namun, berbeda dengan gadis kecil yang tengah memeluk boneka panda dengan erat dikedua tangannya ini. Gadis kecil itu hanya terdiam berdiri mematung, dengan kepala tertunduk. Membuat tetesan air yang jatuh dari atas ubun-ubun kepalanya, turun ke ujung-ujung rambutnya dan berakhir di kedua sepatunya.

Seluruh tubuh gadis itu tak luput dari siraman air hujan.

Dan saat itu lah pertemuannya dengan Itachi. Saat itu ia berkisar seperti remaja berumur 14 tahun, dengan seragam sekolah yang begitu terlihat cocok sekali ia kenakan.

Saat itu Itachi datang menghampiri dan memayungi dirinya. Ia tersenyum ramah dan bertanya, "Apa kau tersesat, gadis manis?"

Sungguh, saat itu Sakura hanya bisa terdiam membisu memerhatikan setiap detail pahatan sempurna yang Kami-sama ciptakan untuk laki-laki dihadapannya. Dimatanya sosok Itachi saat itu begitu sempurna dan mengagumkan. Senyumannya pun dapat membuat kedua pipinya merona hebat. Dan tatapannya yang dalam namun misterius dapat membuat jantungnya berdebar-debar.

Ingatannya terhenti sampai di situ. Ia tak bisa lagi mengingatnya. Mengingat apa kata-kata balasan yang ia ucapkan untuk membalas pertanyaan Itachi. Yang pasti ingatan itu akan kembali datang untuk ia gali.

Lalu, saat semua ingatannya mengenai Itachi kembali, apa yang akan dilakukannya?

"Aku mencintaimu, Sakura."

Deg!

Rasanya Sakura merasa jika ada yang menembak jantungnya membuat ia mati sekali. Pernyataan cinta dari pemuda itu bukanlah yang Sakura harapkan saat ini maupun selanjutnya.

Sakura langsung membuka kedua matanya dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Itachi. "Aku—"

Kedua mata emerald itu sukses membulat sempurna ketika pemuda itu melakukan sesuatu terhadap dirinya.

Bibir.

Pemuda itu menciumnya tepat di bibir dan sukses membungkam perkataannya. Dan bodohnya ia membalas ciuman pemuda itu di bibirnya sedetik setelahnya. Sakura balik memagut mesra dengan kedua telapak tangan yang ia taruh di dada Itachi. Tak berusaha mendorong melainkan ia meremas baju pemuda itu menandakan jika ia pun menikmati ciuman manis ini.

Kedua matanya terpejam menikmati sensasi manis dan juga hangat yang bibirnya rasakan. Ada perasaan asing yang menjalari hatinya kini. Perasaan asing yang tak boleh ia biarkan masuk ke hatinya.

Namun apa daya. Perasaan asing itu sudah terlanjur masuk bahkan mulai menguasai hati dan pikirannya.

.

.

.

.

.

Tiga puluh menit berlalu semenjak kejadian itu namun Sakura masih duduk terdiam menghadap sosok pemuda yang tengah tertidur lelap didepannya. Sebelah tangan wanita itu digenggam oleh sosok yang tertidur tersebut. Genggaman yang begitu hangat. Genggaman yang sulit untuk wanita itu lepaskan. Ia ingin, namun entah kenapa ia tidak bisa melakukannya. Hatinya kembali diliputi oleh kegelisahan.

Kenyataan yang sama sekali tak ia duga kini datang menghampiri hidupnya. Hidupnya yang nyaris sempurna kini mulai diliputi oleh kebimbangan dan kerisauan.

Sepasang emerald milik wanita itu menggulirkan pandangannya dari tangan yang menggenggam tangannya menuju sosok tampan itu. Sosok yang selama ini hadir di dalam masa lalunya, dan sekarang datang kembali memenuhi hidupnya.

Entah Sakura harus menyebutnya sebuah takdir yang manis atau … pahit. Sosok yang ada dihadapannya hadir di waktu yang tidak tepat namun tidak bisa dikatakan begitu juga. Saat ini di dalam kepalanya ada beberapa hal yang pastinya ia lupakan, kejadian di masa lalu. Kejadian yang ia putuskan untuk menghapusnya.

Tak disangka, ia juga menghapus kehadiran sosok Itachi di dalam kepalanya sejak hari itu. Hari di mana dirinya bertemu Naruto dan diadopsi oleh keluarga Namikaze. Sosoknya tergantikan dengan yang lain.

Uchiha Sasuke.

Entah bagaimana awalnya sosok Sasukelah yang dulu membuat dirinya melupakan Itachi.

Deg!

Sakura tertegun sejenak, jika dari awal ia sudah bertemu Itachi, lalu kemana hatinya harus berlabuh sekarang?

Bukankah saat malam di mana ia menyerahkan segalanya untuk Sasuke, ia sudah memutuskan?

Lalu, kenapa di saat Itachi mengakui awal pertemuan mereka ia kembali goyah?

Sakura mencengkram erat dadanya. Rasanya begitu tersiksa, sakit.

Kenapa mencintai dan dicintai seseorang menyakitkan seperti ini?

Apa yang harus dilakukannya untuk sekarang dan selanjutnya?

Memejamkan kedua matanya rapat dan menghembuskan napas pelan telah Sakura lakukan. Namun debaran jantungnya yang mulai berdetak kencang ketika teringat kembali ciuman yang mereka berdua lakukan—ah, mengingatnya tak bisa mencegah seluruh wajahnya memanas.

Sensasi asing yang mengalir di dalam dadanya ketika bibir pemuda itu menyentuh bibirnya begitu … memabukkan.

Sesegera mungkin Sakura menggelengkan kepalanya. "Ini tidak boleh," pikirnya kalut. Ia tidak bisa terus membiarkan perasaan asing yang melingkupi hatinya tumbuh semakin besar.

"Ini salah," batinnya menyangkal keras sekali lagi.

Harusnya saat Itachi mencium bibirnya ia tak membalas. Itu lah di mana letak kesalahannya yang membuat masalah kian rumit. Tidak mungkin ia menjauhi Itachi karena hal ini. Dan tidak mungkin juga ia mengabaikan perasaan Itachi. Lantas, hal apa yang harus ia lakukan untuk memecahkan masalah yang mendera hidupnya ini?

Ujian kali ini begitu sulit membuat Sakura merasa ia tak mampu melewatinya. Belum lagi jika kejadiaan ini diketahui oleh Sasuke sendiri. Membayangkannya saja Sakura tak berani melakukannya. Lalu bagaimana dengan Paman Fugaku dan Bibi Mikoto jika tahu masalah ini? Apa mereka berdua akan membencinya?

Memikirkan mereka berdua, lebih penting memikirkan apa tanggapan Sasuke mengenai dirinya?

Sakura memandang cincin perak yang melingkari jari manisnya. Entah kenapa keberadaan cincin itu membuat rasa bersalah di hatinya untuk Sasuke semakin menjadi-jadi. Meski hanya berciuman Sakura merasa jika ia sudah melakukan kesalahan yang berat. Oh, tentu. Membalas ciuman calon kakak ipar sendiri adalah sebuah kesalahan fatal.

Saat itu Sakura sama sekali tak memikirkan dampak bagi Itachi, dirinya dan Sasuke.

Ugh! Masalah kian menjadi rumit dengan perasaan baru yang memenuhi rongga dadanya kini.

Berpikir berpuluh kali pun alasan mengapa takdir mempermainkannya adalah hal percuma. Sebab, karena ulah dirinya sendiri lah takdir seperti ini yang harus dijalaninya.

Entah, bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Sasuke setelah ini.

Apa ia berpura-pura saja dan berbohong? Tapi itu pasti tidak akan bertahan lama.

Apa ia berkata jujur saja? Dan pastinya hubungannya dengan Sasuke akan berakhir saat itu juga.

Apa ia harus diam? Tentu itu bukan keputusan yang bijak.

Lalu apa yang harus dilakukannya? Menunggu.

Menunggu sampai Sasuke tahu kenyataannya sendiri dan saat itulah ia akan meminta maaf padanya?

Tok! Tok!

Ketukan pintu menyadarkan pergolakan batin dalam dirinya. Lantas cepat-cepat ia melepaskan tangannya yang digenggam Itachi dan beranjak bangun.

Sosok Mikoto sudah berdiri diambang pintu dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya. Kedua mata onyx miliknya bergulir dari wajah Sakura menuju sosok Itachi yang terbaring. Sosok pemuda itu tertidur dengan mimic tenang.

"Dia kelihatan pulas sekali tidurnya."

Mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa Sakura membalas senyuman Mikoto. "Ya, obatnya sudah mulai bekerja dengan semestinya."

Mikoto meraih lengan kanan Sakura dan mengapitnya lalu membawa keluar dirinya dari kamar Itachi.

Setelah menutup pintunya Mikoto tersenyum pada Sakura. "Kau ingin tinggal untuk makan malam bersama kami?" tawarnya di tengah dirinya membawa Sakura menuruni anak tangga menuju dapur.

Penuh dengan pertimbangan Sakura mencoba tersenyum disertai gelengan kepala. Rasanya ia ingin segera pulang ke rumah dan mengistirahat tubuh dan pikirannya yang lelah. "Aku ingin, namun aku harus menemani Hinata. Kasihan, dia sendirian di rumahnya karena ditinggal pergi oleh Kak Naruto."

Mengangguk mengerti Mikoto tersenyum ramah pada Sakura. Ia melepaskan apitan tangannya pada lengan kanan Sakura dan digantikan dengan rangkulan di bahu. Hal tersebut membuat Sakura terkejut bukan main.

"Kalau begitu kau harus berjanji akan menginap beberapa hari di rumah Bibi lain waktu," ucap Mikoto.

Sontak wajah Sakura langsung memucat. Ajakan mengenai menginap di rumah Uchiha entah kenapa membuat Sakura berpikir jika Mikoto sedang merencanakan sesuatu. Ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Lagi pula jika ia bersedia menginap, maka bisa dipastikan ia akan selalu bertatap muka dengan Itachi.

Uh-oh. Itu bukanlah hal yang baik untuknya.

"Tentu Sakura akan menerima ajakan Bibi. Ia pasti merasa senang. Benar 'kan Sakura?" Sebuah suara halus dari arah kanan mereka membuat Sakura kembali terkejut dengan wajah yang semakin pucat.

Bagaikan robot Sakura menganggukan kepalanya patah-patah. Namun di dalam hati ia sedang menggerutu mengenai kemunculan Hinata yang tidak tepat dengan perkataan jawaban yang memposisikan dirinya dalam keadaan yang tidak baik.

Ia ingin menyangkal, namun apa tanggapan Mikoto nanti terhadap dirinya?

Uh-oh. Memperlihatkan sikap tidak baik yang dapat membuat calon mertua berpikiran buruk tentangnya bukanlah sesuatu yang bagus. Itu buruk.

"Kalau begitu jika minggu depan kau menginap di rumah ini bagaimana? Apa kau bisa?"

"T-tentu … bisa, Bu." Sakura hanya berharap menyanggupi permintaan Mikoto bukanlah sebuah mimpi buruk yang akan meledakan dirinya sampai mati dan tak akan bisa bangun lagi.

##Gisei##

Setelah mengambil beberapa potong baju dan keperluan lainnya—yang tak akan ia dapatkan saat menginap di rumah Hinata sudah beres—lantas Sakura masukkannya ke dalam mobil, segera saja Sakura memasukkan kunci mobil pada lubangnya dan tancap gas dari apartemennya. Menurut keterangan Mikoto paket yang Sasuke kirimkan akan sampai di apartemennya satu atau dua hari dari sekarang.

Karena itu menginap satu hari satu malam di rumah Hinata dan meninggalkan apartemennya tidak masalah. Ia bisa kembali saat sore atau malam hari keduanya. Sebenarnya Hinata sudah menyuruhnya untuk menginap selama satu minggu di rumahnya. Menggantikan kehadiran Naruto yang absen berada di rumah selama dua minggu karena mengurusi bisnis antara dua keluarganya.

Namun Sakura menolaknya dengan halus. Bukan tidak ingin menemani Hinata tapi Sakura ingin menyendiri beberapa hari dan berstirahat di rumahnya saja. Menikmati hari cuti yang memang seharusnya sudah ia pergunakan beberapa bulan terakhir ternyata bukanlah hal buruk. Dan Hinata pun nampak tak keberatan dengan alasannya menolak permintaan itu.

Sungguh, Hinata adalah seorang wanita yang begitu pengertian. Beruntung sekali kakaknya itu memperistri wanita selembut dan secantik Hinata. Lembut dan cantik seperti hatinya.

"Barang bawaanmu lebih sedikit dari yang aku bayangkan." Hinata berkomentar setelah matanya melirik ke arah belakang jok kemudi yang hanya terdapat satu tas berukuran kecil. "Apa isinya?"

Sakura hanya bisa tersenyum dan membiarkan Hinata melihat isi tasnya.

Satu piyama berwarna biru polos, satu pakaian santai—sebuah dress mini berwarna merah marun. Ada satu tas kecil yang Hinata pikir isinya adalah alat make-up milik Sakura. Lalu yang menyita perhatiannya dari isi tas itu selain barang-barang yang ia lihat adalah adanya sebuah handicam.

Hinata melayangkan tatapan bertanya setelah mengambil handicam itu di tangannya pada Sakura.

Tanpa meliirik Hinata, Sakura menjawab dengan gugup. "Err—handicam itu untuk merekam."

"Merekam?" Hinata masih bingung dengan jawaban yang Sakura berikan. Ia berpikir untuk merekam apa di rumahnya? Di rumahnya tak ada apapun yang bisa direkam. Yah, kecuali taman belakang rumahnya yang indah di samping kebun kecil miliknya yang ia rawat sendiri beserta para pelayan di rumahnya.

"Aku pernah mengatakan akan berkebun di rumahmu pada Sasuke dan—"

Hinata memiringkan kepalanya menunggu kelanjutan ucapan Sakura.

"—Sasuke memintaku untuk merekam semua yang aku lakukan saat berkebun di rumahmu nanti."

Dengan wajah yang sudah seluruhnya memerah Sakura berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.

Hinata hanya bisa memasang wajah melongo dengan bibir sedikit terbuka. Kedua matanya berkedip beberapa kali mencerna apa yang diucapkan Sakura. Namun sedetik kemudian wajah bingungnya tergantikan dengan seraut wajah geli dan derai tawa mengalun indah dari suaranya yang halus. Menambah rona merah semakin menjadi di wajah Sakura.

"Jadi, Sasuke ingin mengetahui kegiatan apa yang kau lakukan saat di rumahku nanti? Sekalian saja kau merekam setiap kegiatan yang kau lakukan setiap harinya dan kirimkan rekaman video ini pada Sasuke."

Dan Sakura mengangguk setelahnya membuat Hinata memekik terkejut. Ia tak percaya jika Sasuke benar-benar ingin mengetahui setiap gerak-gerik keseharian Sakura selama pemuda itu tak berada di sampingnya. Entah ini gila atau apa, tapi menurut Hinata ini cukuplah manis.

Pemuda itu seakan ingin memantau miliknya dari jauh. Cukup mengganggu Hinata berpikir. Tapi selama Sakura sendiri yang melakukannya merasa tak terganggu tak ada hal yang bisa dilakukannya selain ikut melibatkan diri.

"Baiklah, biarkan aku yang nanti merekamnya. Oke?"

Sakura mengangguk dengan roman malu, "Jangan beritahukan siapapun mengenai hal ini."

Hinata mengangguk meski derai tawa dari bibirnya belum berhenti. "Aku punya beberapa potong baju tidur yang harus kau kenakan saat nanti aku merekammu. Yang pastinya akan membuat Uchiha bungsu itu merona hebat."

Blush!

Entah pikiran apa yang merasuki dirinya saat ini. Tapi, Sakura membayangkan jika ia berpakaian tidur dengan bahan yang begitu minim dan tipis. Memperlihatkan lekuk tubuhnya dan berpose sexy di atas tempat tidur. Pasti Sasuke akan—

Duk!

"Cukup mengkhayalnya."

—Hinata memukul pelan sisi kepala Sakura dengan mimic geli. Sungguh akibat dari ucapannya barusan telah membuat Sakura mengkhayalkan apa, tapi dilihat dari wajahnya yang merona hebat pasti hal yang 'tidak-tidak'.

Meski dengan gugup dan terbata Sakura menyangkal ucapan Hinata terhadap dirinya. "A-aku tidak mengkhayalkan apapun."

Hinata yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum.

.

.

.

.

.

Sakura melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk kecil yang membungkus kepalanya. Tubuhnya masih terbalut handuk sebatas pertengahan paha ketika menyadari jika sudah ada Hinata berada di ruangan yang akan menjadi kamarnya untuk sementara. Wanita cantik itu terlihat memunggungi Sakura dan tengah menaruh sebuah nampan kecil di atas buffet kecil di samping tempat tidur.

Hinata membalikkan badannya lantas sedetik kemudian tersenyum menyadari jika Sakura sedang berdiri di dekat lemari pakaian. "Aku bawakan teh madu untukmu. Cocok untuk diminum saat udara dingin seperti saat ini."

Membalas tersenyum Sakura menganggukan kepalanya seraya bergumam kata terima kasih. Sakura duduk di tepi tempat tidur, di samping di mana piyamanya tergeletak. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah dan banyak meneteskan air.

Hinata berjalan mendekat perlahan sambil sekali dua kali mengelus perutnya yang sedikit dapat dirasakan jika bayinya bergerak di dalam sana. Setelah berada dalam jarak dekat dengan Sakura tiba-tiba saja kedua alisnya mengkerut, dahinya terlipat. Kedua mata lavendernya memicing memerhatikan bercak-bercak dan ruam kemerahan di sekitar bahu dan leher Sakura. "Kau memakan selai kacang tadi?" Tanyanya.

Sakura menghentikan kegiatannya dari mengeringkan rambut dan menatap Hinata dengan gumaman pelan sebagai respon dari pertanyaan wanita itu.

"Alergimu kambuh."

"Eh?" Sakura terlihat kebingungan dengan ucapan Hinata. Sedetik kemudian ia menggeleng tanda tidak menyetujui ucapan yang dilontarkan oleh wanita berambut indigo tersebut.

Jari-jari lentik Hinata bergerak menuju bahu dan leher Sakura. "Ini lihat! Leher dan sekitar bahumu banyak bercak dan ruam kemerahan."

Seketika itu juga tubuh Sakura menegang mendengar ucapan Hinata. Mencoba bersikap biasa saja disertai tawa renyah namun terlihat seperti ringisan darinya Sakura menjawab ucapan Hinata. "Ya, alergiku kambuh. Tadi sore tak sengaja aku memakan se—"

"Tunggu dulu. Ini bukan bekas alergi. Bercak merah ini terlihat seperti … "

"—a-apa?"

Sedetik setelah berpikir kiranya mengenai bercak merah itu Hinata segera mencengkram kedua bahu Sakura. Menatap lurus mata emerald wanita itu dengan wajah tegas dan bibir terkatup rapat. Terlihat dari roman wajahnya Hinata seperti sedang marah. Sakura berpikir mungkin Hinata kecewa pada dirinya dan marah karena sudah melakukan hubungan terlalu jauh dengan Sasuke sebelum upacara pernikahan diadakan.

Sakura tahu ini kesalahan. Namun, dia sudah terlalu yakin dengan keputusannya untuk menyerahkan segalanya pada malam itu pada Sasuke. Apapun tanggapan Hinata maupun orang terdekatnya jika mengetahui hal ini ia sudah menyiapkan mentalnya. Hinata akan memarahinya habis-habisan pun ia akan terima dengan bersikap diam mendengarkan. Kalau pun Hinata ma—

"Katakan berapa kali kalian sudah melakukannya?" Tanya Hinata.

—HAH? Saking tak percaya dengan tanggapan Hinata, Sakura hanya melongo dengan wajah bodohnya.

"Ayo ceritakan bagaimana bisa kalian berakhir dengan melakukan 'itu'!" Dengan semburat merah tipis di wajahnya dan lengkungan senyuman kecil menghiasi bibirnya Hinata kembali bertanya. Wajah tegas dan serius beberapa waktu lalu hilang tergantikan roman bahagia.

Sakura hanya bisa tergagap ketika menjawabnya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus bahkan sampai ketelinganya. Ia tak menyangka jika tanggapan Hinata akan seperti ini. "Se—sesaat dia me-melamarku," jawabnya.

Ia berpikir jika Hinata akan memarahinya. Namun, sepertinya sejauh ini Hinata mendukung perbuatannya. Ah, Sakura baru menyadarinya sekarang. Jika Hinata selalu mendukung apapun keputusan yang dibuatnya, dulu dan sekarang.

"KYAAAAAA~lain kali saat kalian melakukannya lagi tolong direkam. Aku ingin melihatnya."

WHAT?

Mendadak Sakura merasa telinganya tuli sampai-sampai dia tidak tahu apa yang Hinata bicarakan saat itu.

.

.

.

.

.

0-0-0-0-0

Gadis kecil berambut seperti permen kapas itu nampak termenung. Ia berdiri di pinggir jalan dengan kepala tertunduk. Kedua mata emerald-nya lekat-lekat memandang ujung sepatu miliknya yang ia kenakan saat ini dan yang satu-satunya ia punya. Namun bukan ujung sepatunya lah yang menjadi pusat pikirannya saat ini.

Yang ada di pikirannya saat ini penuh dengan sosok Gaara. Ia memikirkan bagaimana nasib dirinya dan kakak angkatnya itu mulai dari sekarang. Tiga bulan telah berlalu semenjak di mana malam ia dan Gaara melarikan dari panti asuhan.

Terlintas di benaknya untuk kembali ke tempat terkutuk itu. Namun, ketika teringat sosok Gaara ia mengurungkannya. Kakak angkatnya itu sudah terlalu banyak memberi padanya. Meski Sakura tidak ingin tapi kini ia menggantungkan hidupnya pada Gaara seorang. Hanya Gaara yang ia miliki saat ini.

Sedetik pernah berpikir untuk membalas semua perbuatan baik pemuda itu padanya. Tapi, memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pusing. Ia tidak tahu apa yang harus diberikannya pada pemuda itu. Ia tidak memiliki apapun yang bisa diberikan.

Besok tepat hari ulang tahun Gaara. Seharusnya ia menyiapkan kado, namun ketika melihat keadaan dirinya saat ini apa yang bisa dilakukannya.

Meski setelah tiga bulan berlalu ia dan Gaara berhasil menemukan sebuah tempat yang bisa disebut sebagai 'rumah'. Nyatanya itu hanyalah sebuah rumah bekas yang sudah tak di isi namun masih layak pakai. Atapnya meski sering kali bocor dikala hujan datang, namun sedikitnya bisa menghangatkan tubuh mereka. Perabotan bekas yang masih tertinggal di rumah itu masih ada beberapa yang bisa dipakai.

Sakura dan Gaara bergotong-royong membersihkan rumah itu dari debu, kotoran dan sarang laba-laba yang menghiasi sudut-sudut dinding rumah. Meski kelelahan namun keduanya tertawa setelah melihat rumah itu jauh lebih bersih dari kesan pertama yang mereka dapatkan—kotor dan bau.

Sakura menengadahkan kepalanya memandang bentangan langit di atas kepalanya. Langit sore hari ini begitu gelap seperti akan turun hujan. Dan udara pun mulai bertransformasi semakin menjadi dingin. Banyak juga para pejalan kaki yang bergegas saling mendahului untuk segera mencapai tujuan.

Dia sendiri tak berpikiran untuk segera pulang ke 'rumahnya'. Ia sedang menunggu kedatangan Gaara di sisi jalanan umum ini. Terlebih ia tak begitu menyukai suasana hening jika ia sendirian di rumah. Lebih baik di sini, memerhatikan berbagai macam orang yang berlalu-lalang di depan matanya.

Tes! Tes!

Satu dua tetes air terjatuh ke pipinya. Hujan sudah mulai akan turun. Ini bagus, pikir Sakura kecil. Sudah lama ia tak menikmati ketika air hujan membasahi tubuhnya. Saat di panti ia sering kali berlari keluar rumah saat hujan turun dan bermain di bawahnya.

Sakura merasa jika air hujan menerpa dirinya semua kesedihannya akan luntur dan lenyap. Terdengar konyol memang namun hal itu cukup ampuh baginya untuk melepaskan kesedihan dihatinya.

Hujan semakin deras megguyur tubuhnya namun Sakura masih bergeming di tempat. Ia menundukan kepalanya dan kembali memerhatikan ujung sepatunya. Kedua tangannya semakin erat memeluk boneka panda besar di dadanya yang selalu ia bawa kemana-mana.

Sedetik kemudian Sakura merasa jika tetesan air hujan itu berhenti menghujaninya. Diliputi rasa penasaran Sakura mengangkat kepalanya dan saat itu juga ia merasa waktu disekelilingnya berhenti.

Ada sebuah senyuman yang begitu membuat dirinya lupa akan segalanya. Senyuman dari seorang laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Gaara—tengah memayungi dirinya dengan sebuah payung biru.

Sakura merasa kedua pipinya menghangat, berbanding terbalik dengan udara disekelilingnya yang dingin. Jantungnya berdebar kencang seperti bom yang akan meledak sewaktu-waktu.

"Kau tersesat, gadis manis?"

Sakura ingin menjawab namun bibirnya kelu. Yang dilakukannya hanya bia menggerakan bibir tanpa ada suara yang keluar.

Ada apa dengan tenggorokanku? Pikir Sakura.

Kenapa ia tak bisa mengeluarkan jawaban sepatah kata pun?

"Hujan semakin deras. Sebaiknya kita berteduh."

Sakura hanya memandang tangan mungilnya yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam genggaman tangan laki-laki itu.

"Kau pasti kedinginan. Mau minum teh di café ujung sana?"

Sakura lagi-lagi tak menjawab yang diartikan oleh laki-laki yang menggenggam tangannya jika gadis yang baru ditemuinya itu tak dapat berbicara.

"Lepaskan tanganmu darinya?" Seru Gaara yang tiba-tiba saja datang dan menarik bahu Sakura untuk mendekat padanya.

"Kau siapa?" Tanya anak laki-laki berambut hitam yang masih memayungi tubuh Sakura. Tak lupa juga jika tangannya masih menggenggam tangan Sakura. Mengeratkannya yang dapat diartikan Sakura jika laki-laki itu sedang berusaha melindunginya. Entah kenapa ada perasaan hangat yang menjalari hatinya.

"Aku? Kakaknya. Jika sudah mengerti cepat lepaskan tanganmu dari Sakura."

Mengerti jika terjadi kesalahpahaman anak laki-laki berambut hitam itu pun segera melepaskan tangan Sakura. Dengan senyum ramah yang terlukis di bibirnya anak laki-laki itu memperkenalkan diri. "Namaku Itachi. Jadi namamu Sakura?"

Sakura mengangguk menjawab pertanyaan Itachi dengan pipi merona. Gaara yang melihatnya jadi geram sendiri dan segera menarik pergelangan tangan Sakura dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkan sosok Itachi yang terdiam mematung di bawah payung yang sempat melindunginya dari guyuran hujan.

"Kita akan segera bertemu lagi … Sakura—" ucap Itachi sambil tersenyum penuh arti memandang punggung kecil gadis kecil itu. "—pasti dan dalam waktu dekat."

0-0-0-0-0

.

.

.

.

.

Sakura terperanjat bangun dari mimpinya. Ia menghembuskan napas pelan dan melirik jam di dinding kamarnya. Ternyata sudah pagi, dan ada seberkas cahaya yang melewati celah kecil dari jendela yang masih tertutupi gorden. Matahari sudah beranjak bangun dan melakukan tugasnya dengan semestinya.

Sepertinya ia tidur begitu nyenyak sampai baru bangun jam 8 pagi. Jujur saja banyak yang dipikirkannya semalam mengenai Itachi. Ah, semalam pun ia bermimpi mengenai kejadian saat di mana ia dan Itachi dulu bertemu pertama kali.

Entah kenapa Sakura merasakan firasat buruk mengenai hal ini. Semenjak Itachi memberitahunya ia menjadi sering kepikiran mengenai masa lalunya yang berat saat bersama Gaara dulu.

Mencoba mengenyahkan pikiran buruk Sakura segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu turun dengan perlahan dari tempat tidur. Kedua kakinya melangkah membawa dirinya ke dalam kamar mandi setelah sebelumnya ia menyambar handuk di samping lemari. Handuk itu sudah ada di sana, tergantung dengan semestinya.

Mungkin Hinata yang menaruhnya di sana, pikir Sakura.

"Sakura!"

Seruan seseorang membuat tangan kanan Sakura berhenti memutar knop pintu kamar mandi. Kepalanya menoleh menuju ambang pintu kamarnya di mana di sana berdiri sosok Hinata lengkap dengan senyuman kecil di bibirnya.

"Ah, Kak Hinata, selamat pagi," sapa Sakura dan mengurungkan niat masuk ke kamar mandi lalu beranjak mendekati Hinata.

"Selamat pagi," balas Hinata dan membuka lebih lebar pintu kamar Sakura. "Tidurmu pasti begitu nyenyak."

Dengan roman malu yang menghiasi wajahnya Sakura tersenyum kikuk. "Ya, tidurku nyenyak."

Namun tidak sepenuhnya benar. Memang dirinya bangun terlalu siang, tapi ia tidur semalam lebih dari jam 12 malam. Artinya sama saja dengan dia tidur awal dan bangun pagi.

"Bergegaslah mandi dan segera turun. Ada rekanmu yang mencarimu."

"Rekan? Siapa?"

Tersenyum jahil Hinata berbisik di telinga Sakura. Beberapa detik kemudian Sakura langsung berlari menuju kamar mandi dan dapat terdengar dari dalam pekikkan Sakura seperti suara mengaduh. Mungkin wanita itu terjatuh karena berlari saat masuk kamar mandi.

Terkekeh pelan Hinata segera menutup pintu kamar Sakura dan mengalihkan pandangannya pada seseorang yang tengah menyenderkan punggungnya pada dinding di samping pintu kamar. "Kau mau menemaniku minum teh? Hitung-hitung untuk menunggu 'Tuan Putri' kita selesai berdandan," tawarnya ramah.

Mengangguk setuju seseorang itu mengikuti langkah Hinata menuju arah belakang rumah. Taman.

Cuaca pagi ini begitu bagus. Matahari bersinar dengan indahnya dan baik untuk membakar kulit. Udara pun terasa begitu sejuk. Cocok untuk acara minum teh di tempat terbuka seperti taman yang kini keduanya tuju.

"Bagaimana hasil kesehatannya? Apa ada sesuatu yang serius?"

Sosok laki-laki berambut merah itu memberikan senyuman menenangkan di wajahnya yang membuat Hinata rileks seketika itu juga.

"Syukurlah tak ada hal serius yang terjadi pada Sakura. Tadinya aku sudah begitu khawatir jika luka di dahi dan rasa sakit di perutnya akan menimbulkan dampak bahaya."

"Ya, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengeceknya tiga kali dan hasilnya tetap sama. Sakura—dia baik-baik saja. Tak ada yang perlu ditakuti."

Mengangguk mengerti Hinata membalas senyuman laki-laki itu.

.

.

.

.

.

Sakura mengecek sekali lagi penampilannya di depan cermin. Memutar sekali tubuhnya dan senyuman manis terkembang di bibirnya sedetik kemudian. Hm. Penampilannya cukup manis meski tubuhnya hanya berbalut sebuah dress mini berwarna merah.

Dengan langkah terhitung kelewat semangat ia keluar dari dalam kamar. Dan gadis itu melupakan mengenai ponselnya yang sejak tadi bergetar menandakan ada telepon masuk di atas tempat tidurnya.

Sepertinya akan ada yang mengamuk beberapa saat lagi dari sang penelpon.

Hinata langsung beranjak berdiri secara perlahan ketika melihat sosok Sakura berjalan mendekati tempatnya berada. Disebelahnya Sasori meperlihatkan senyumannya yang menawan pada Sakura.

"Hai," sapa Sasori dan dengan santai melambaikan sebelah tangannya pada Sakura. Lelaki itu memangku sebelah kakinya—dengan posisi paha kanan di atas paha hiri— dan punggung tangan kiri yang menyangga dagunya. Pose santai seperti itu menambah kesan 'good-looking' untuk wajahnya yang imut.

Balas melambaikan tangan dan mengucapkan kata 'Hai' pelan lantas Sakura memposisikan dirinya duduk dihadapan Sasori. Mengantikan posisi Hinata yang beberapa saat dulu duduk di kursi yang kini ditempatinya.

Hinata merangkul kedua bahu Sakura dengan kedua tangannya sambil berdiri. "Nah, karena Sakura sudah ada di sini saatnya aku pergi."

Dan dengan senyuman terakhir di bibirnya wanita yang tengah hamil muda itu beranjak pergi meninggalkan Sakura dan Sasori berdua. Mereka membutuhkan privasi. Setidaknya itulah yang Hinata tangkap ketika melihat roman wajah Sasori yang berubah serius saat menatap Sakura.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"

Sasori mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman di bibirnya. "Ra-ha-sia," jawabnya yang membuat Sakura seketika menggembungkan pipi kesal.

"Huh!" Sakura membuang muka dengan menaruh kedua lipatan lengannya di dada. Berpura-pura memerlihatkan wajah cemberut dan marah.

Sasori langsung tertawa renyah akibat ulah wanita manis berambut merah muda tersebut. "Aku mengetahuinya dari Hinata."

"Eh?"

Sasori meminum seteguk teh dari cangkir kecil yang ia angkat ke bibirnya beberapa detik setelah keterkejutan Sakura. "Hinata mengatakannya padaku saat di rumah sakit."

"Oh, begitu. Lalu, ada keperluan apa kau datang menemuiku? Tidak biasanya. Apa ada hal yang penting?"

"…" Sasori tak menjawab. Kedua mata caramel-nya memerhatikan jari manis kanan Sakura yang dilingkari oleh sebuah cincin putih dengan batu berlian yang begitu berkilau dan cantik. Pemuda itu mulai berpikir dan dapat sebuah kesimpulan yang entah kenapa langsung saja membuat hatinya tercubit.

Melainkan segera menjawab, Sasori malah menghela napas dengan kedua mata terpejam. Seperti tengah menghadapi masalah yang begitu berat di dalam hidupnya. Oh, tentu masalah keberadaan cincin itu telah banyak membuat hatinya begitu tersiksa dan pedih rasanya.

"Rasanya aku sudah begitu sangat terlambat—tidak! Aku memang sudah terlambat."

Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung. Dahinya mengkerut sedikit. Ia hendak melayangkan pertanyaan lagi ketika tiba-tiba saja Sasori meraih tangan kanannya. "Cincin ini—kau dan Sasuke … sudah …"

Entah kenapa perasaan bersalah hinggap di hati Sakura detik ini juga. Melihat ke dalam sorot sepasang mata Sasori yang begitu terlihat sendu membuat hatinya ikut bersedih. "Aa. Dia sudah melamarku … dan aku … menerimanya. Maafkan aku, Sasori."

Sasori memejamkan kedua matanya sekilas sebelum memberikan senyuman miris di bibirnya. "Selamat dan kau tak perlu meminta maaf padaku. Sejak awal ini bukanlah salahmu."

"Sasori … " Lirih Sakura dengan mata berkaca-kaca melihat kepedihan di mata pemuda itu.

"Berbahagialah. Kau pantas mendapatkannya."

Keduanya terdiam setelahnya. Sakura mencengkram erat ujung rok di bawah meja dengan kedua bahu gemetar. Ia bersiap akan segera menangis ketika Sasori tiba-tiba saja menyodorkan sebuah map ke hadapannya.

"Hasil lab kesehatanmu. Semuanya baik-baik saja." Sasori segera menjawab sorot mata pertanyaan dari Sakura.

Dengan gerakan tangan pelan Sakura menerima amplop tersebut lalu membukanya. Kedua mata emerald-nya bergulir ke kanan dan ke kiri membaca catatan hasil kesehatannya. Seketika itu juga sebuah perasaan lega melingkupi hatinya. Ia menjadi tak resah saat membaca hasil bagus dari laporan di tangannya.

"Mawar merah … " Sasori tiba-tiba saja beranjak bangun dan mendekati sekumpulan tanaman berduri yang terawat dengan baik di samping tempat untuk meminum teh di halaman belakang rumah Hinata.

Sakura mengikuti pergerakan langkah Sasori setelah menaruh asal amplop di atas meja. Ia mengamati punggung tegap pemuda tersebut dengan perasaan bersalah yang semakin berkecamuk di hatinya.

"Kau mengingat sesuatu tentang mawar merah?"

"Eh? Apa maksudmu?"

"Sudah kuduga kau tidak mengingatnya."

"Apa yang kau ingin sampaikan padaku, Sa—"

Grep!

Sakura langsung membelalakan kedua matanya karena terkejut ketika Sasori menarik dirinya ke dalam sebuah pelukan yang hangat dan begitu erat. Sakura mencoba berontak kecil dengan mendorong dada pemuda itu pelan.

"Akulah orangnya …"

"Eh?"

"Akulah orang yang telah menemuimu saat di rumah sakit waktu itu—"

Tubuh Sakura langsung gemetar dan kedua tangannya berganti menjadi sebuah cengkraman di kemeja Sasori.

"—dan memberimu satu buket mawar merah."

Deg!

Sakura terpaksa menggali kembali ingatannya di masa lalu. Waktu ketika ia mengalami depresi saat ditinggal mati oleh Gaara dan juga saat dicampakkan oleh Sasuke. Di dalam kepalanya kini terbayang kejadian saat di taman rumah sakit. Di sebuah bangku ia terduduk sendiri namun sedetik kemudian kesendiriannya itu terusik dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja menyerahkan satu buket mawar merah ke hadapannya.

Kini terekam jelas diingatannya jika pada saat itu ia langsung berteriak memanggil nama Gaara dan memeluk seseorang itu begitu erat sambil menangis tersedu. Sekarang Sakura paham, jika orang yang menemaninya saat di taman waktu itu adalah Sasori. Sekarang Sakura ingat jika orang yang memberikannya sebuket mawar merah itu adalah Sasori. Sekarang Sakura tahu jika orang yang mau menjadikan dadanya sebagai sandaran ketika ia menangis saat itu adalah Sasori.

Kemiripin antara Sasori dan Gaaralah yang membuat dirinya salah paham setelah sekian lamanya.

"M—ma-maafkan … aku, Sasori. A-aku melupakan hari itu. Hari di mana kau menyelamatkanku dari kesedihan."

Samar-samar kini Sakura mengingat hari-hari di mana Sasori selalu mengunjungi dirinya di rumah sakit. Selalu memberinya satu buket mawar merah. Selalu menyemangatinya. Selalu menghiburnya. Meski saat itu Sakura mengira jika yang melakukan semua hal itu adalah Gaara. Hatinya belum mau menerima kenyataan jika Gaara sudah tiada.

"Tak apa." Sasori segera melepaskan pelukannya pada tubuh Sakura dan langsung mendaratkan kecupan hangat di dahinya.

Sakura langsung terpaku dibuatnya. "Sasori?"

"Itu adalah jimat. Kau akan hidup bahagia setelah ini. Percayalah!"

Entah kenapa Sakura merasa de javu saat Sasori melantunkan kalimat itu. Dengan kedua pipi yang basah oleh air mata Sakura tersenyum tipis menatap wajah sosok penyelamatnya. "Arigato."

Namun, satu hal yang pasti… Sakura tidaklah mengetahui alasan dibalik kemunculan Sasori tiba-tiba di hadapannya sesaat sesudah kematian Gaara. Mungkin hanya belum tahu—belum saatnya.

Rupanya takdir masih ingin mempermainkannya—membuat semuanya semakin menjadi sulit dan tak terelakan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke melirik jam dinding di ruang kerjanya dan kemudian pandangannya kembali bergulir ke sebuah berkas-berkas penting yang berserakan di atas meja kerjanya. Namun, beberapa kali juga kedua mata onyx-nya bergulir memandang layar handphone-nya yang berada tak jauh di mana berkas-berkas itu berada.

Sebuah helaan napas pendek keluar dari mulutnya. Sedetik kemudian Sasuke menyenderkan punggungnya ke kursi belakang setelah beberapa jam yang lalu selalu duduk tegak. Sangat melelahkan. Jika ditilik mengenai kegiataan yang dilakukannya hari ini. Sungguh nyaris membuatnya depresi dan gila.

Meeting dengan beberapa klien. Rapat dengan staf-staf penting lainnya untuk membicarakan mengenai proyek baru yang akan berjalan sekitar satu bulan yang akan datang. Belum lagi mengurusi masalah serius yang hampir saja membuat perusahaan kakaknya hancur.

Beruntung Itachi masih mempunyai dirinya yang bisa diandalkan untuk mengatasi masalah hal seperti ini. Tentunya keabsenan kakaknya mampu membuat perusahaan ini sedikit goyah. Pemicunya mungkin tidak adanya pimpinan yang cakap dalam berbicara seperti Itachi.

Lagi, Sasuke melirik handphone-nya. Beberapa saat lalu ia mencoba menghubungi Sakura, namun tak ada jawaban.

Saat ini di mana dirinya berada adalah tengah malam. Mungkin di Jepang saat ini sekitar pukul 7 atau 8 pagi. Tentunya Sakura sudah bangun, mungkin saja lebih awal. Tapi anehnya saat ia menelpon beberapa kali tak ada jawaban sama sekali. Sakura tidak pernah meninggalkan handphone-nya, ia selalu membawanya ke mana-mana.

Ah, tapi mungkin saja calon istrinya itu lupa akibat kegiatan berkebun yang dilakukannya kini di rumah Hinata.

Sebuah senyum tipis terulas di bibir Sasuke. Membayangkan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh Sakura entah kenapa membuatnya begitu antusias ingin melihat rekaman videonya. Ya, ia tahu jika keinginannya untuk selalu tahu apa yang dilakukan oleh Sakura terdengar konyol. Ia akui itu, namun di satu sisi juga ia akan merasa puas. Karena setidaknya rasa rindu yang membuncah di dalam dadanya bisa terselamatkan hanya dengan melihat dan mendengar suara Sakura.

Kembali melirik angka jarum jam di dinding, Sasuke segera membenarkan posisi duduknya menjadi tegak kembali. Ia memutar kursinya menjadi menghadap meja setelah sebelumnya ia memutar posisi kursi itu menjadi menghadap kaca jendela. Ia pikir dengan mengalihkan barang sebentar kedua matanya dari dokumen dan file-file penting itu akan merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang, dan juga untuk menghilangkan bayangan wajah Sakura agar lebih bisa berkonsentrasi. Namun, kenyataannya saat ini hal itu tak berguna.

Sekarang malah terbayangkan jika kertas-kertas file yang ada di depan wajahnya tercetak jelas wajah Sakura yang tersenyum, marah, merenggut, sebal, bahkan saat menangis pun. Semua terbayang. Sungguh, Sasuke tak mengerti kenapa ia sampai begitu merindukan Sakura padahal baru sehari berlalu semenjak kepergiannya. Apakah ini arti dari besarnya rasa cinta dirinya terhadap Sakura?

Sasuke memejamkan kedua matanya kembali selama beberapa detik dan matanya kembali berkutat dengan membaca lembar demi lembar file penting yang berisi laporan mengenai perkembangan perusahaan kakaknya selama enam bulan terakhir.

Terdengar decakan kecil dari Sasuke ketika pemuda itu sebenarnya menginginkan laporan keuangan perusahaan ini yang paling terbaru, setidaknya satu atau dua bulan yang lalu. Terpaksa Sasuke segera menelpon sekretaris Itachi dan meminta bisa menyiapkan laporan itu sekarang juga.

.

.

.

.

.

.

Namun jawaban yang didapatkan tak membantu sama sekali. Beberapa detik setelah Sasuke menghubungi sekretaris Itachi ia segera menggeledah laci meja dan lemari-lemari yang ada di ruang kerja kakaknya itu. Sekretaris itu mengatakan jika laporan keuangan perusahaan sudah ia serahkan pada Itachi sekitar tiga minggu yang lalu. Itu berarti satu minggu sebelum kakaknya pulang ke Jepang.

Yang jadi permasalahannya saat ini adalah ia tak menemukan buku laporan itu di mana pun—tidak di rak-rak buku, laci atau pun lemari.

Sasuke tertegun sejenak. Ia melirik meja kerja Itachi dengan dahi sedikit terlipat. Pria muda itu tengah berpikir. Sasuke berjalan menjauhi lemari kecil dekat pintu keluar dan berjalan mendekati meja. Jika dugaannya tepat, setiap di ruang kerja pasti ada sebuah brankas yang biasanya berada di salah satu laci paling bawah.

Mencoba sebuah keberuntungan sepihak Sasuke kembali menduduki kursi dan membungkukkan badannya sedikit. Tangan kanannya meraih laci kiri bawah meja, di bukanya laci itu namun isinya hanyalah berkas-berkas yang begitu tidak penting. Berganti memeriksa laci kanan bawah meja Sasuke menemukannya saat membuka laci itu.

Sebuah kotak brankas dengan beberapa digit angka sebagai password untuk membukanya. Sekali lagi Sasuke memutar keras otaknya untuk berpikir sekiranya angka berapa yang kakaknya gunakan untuk membuka kode brankas ini. Tak kehabisan akal Sasuke segera meraih jurnal Itachi yang tak jauh terletak di hadapannya.

Ia membuka lembar demi lembar catatan kecil itu dengan pandangan mata penuh selidik. Tak ada yang bisa dijadikan petunjuk, tentu saja. Kakaknya tak mungkin menulis kode rahasia brankas perusahaannya secara sembarang. Tapi … harus bagaimana lagi?

Sasuke mencoba memasukkan tanggal lahir Itachi. Berharap jika brankas itu—

Biiiiippppp!

—terbuka. Namun sepertinya hal ini lebih sulit dari pada yang ia duga. Mesin brankas itu mengeluarkan bunyi jika salah memasukkan kode.

Tak menyerah Sasuke mencoba memasukkan juga tanggal lahir dirinya. Namun masih sama hasilnya. Bunyi nyaring dari brankas itu membuktikan jika kode yang dimasukkan salah.

Tanggal lahir Mikoto maupun Fugaku telah ia masukkan juga namun hasilnya nihil. Tanggal di mana Itachi diangkat menjadi direktur di perusahaan Ayahnya menjadi pilihan yang terakhir. Dengan sangat ragu Sasuke memasukkan tanggal itu dan sedetik kemudian ia kembali berdecak sebal karena lagi-lagi brankas itu mengeluarkan bunyi.

Terpaksa Sasuke mencoba berpikir kembali. Orang pada umumnya akan menjadikan tanggal saat di mana sebuah peristiwa penting yang terjadi di dalam hidupnya sebagai sesuatu yang berharga. Pertanyaannya … tanggal berapa yang membuat Itachi merasa jika ada hal penting yang terjadi di dalam hidupnya?

Tanggal lahir—coret.

Tanggal lahir salah satu nggota keluarga—juga coret.

Tanggal pengangkatan Itachi sebagai Direktur—coret juga.

Sasuke melirik kembali buku kecil ditangannya. Ia menutup buku itu lantas membuka cepat menggunakan ibu jarinya. Sekali tak ada yang disadarinya. Baru saat ia membuka cepat untuk kedua kalinya ia baru menyadari jika beberapa lembar bagian depan terisi. Bagian tengah kosong. Dan bagian terakhir lembaran buku itu berisikan tulisan kecil di pojok bawah.

Meski tulisan itu kecil namun tak bisa luput dari pandangan kedua matanya. Dengan perlahan Sasuke membuka buku kecil itu dari arah belakang. Ia cukup terkejut jika Itachi menulis sebuah tanggal, bulan, serta tahun dengan tinta berwarna merah muda.

Warna merah muda langsung mengingatkannya akan sosok Sakura.

Enam digit angka : 28-03-00

Meski masih diliputi rasa ragu Sasuke menekan enam digit angka dan tak dapat diduga jika brankas itu terbuka. Sasuke terdiam beberapa detik dan tak melakukan apapun selain berpikir. Kepalanya dipenuhi pertanyaan kenapa bisa angka itu yang menjadi kode rahasia brankasnya.

Tanggal 28, angka '03' dalam bulan berarti Maret.

Tanggal 28, bulan Maret adalah hari ulang tahun Sakura.

Lalu mengenai angka '00' Sasuke masih berpikir.

Keenam angka itu berputar-putar di dalam kepalanya. Sasuke memejamkan kedua matanya dan kembali menyenderkan punggungnya. Tak dihiraukannya sama sekali bahwa ia berhasil membuka brankas itu. Entah bagaimana bisa tiba-tiba saja terbayang diingatannya jika ia pernah melihat angka kombinasi ini sebelumnya. Tapi kapan? Itulah yang berusaha digali dalam ingatannya.

Tunggu dulu, batin Sasuke.

Pemuda itu sadar akan sesuatu. Jika tak salah ingat, tanggal 28, bulan Maret, tahun 2000 adalah hari dimana ia bertemu dengan Sakura saat pesta penyambutan untuk dirinya menjadi bagian dari keluarga Namikaze. Acara pengangkatan dan pemberitahuan resmi pada semua orang jika Sakura telah diadopsi dan diangkat anak oleh Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina.

Ya, benar. Tidak salah lagi. Itachi menggunakan tanggal, bulan dan tahun saat peristiwa itu sebagai kode brankasnya. Tapi … kenapa? Kenapa harus tanggal dan bulan di mana Sakura berulang tahun?

Ada apa sebenarnya ini?

Mencoba tak berpikiran negatif terhadap kakaknya dulu Sasuke segera kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya. Ia segera mencari file yang dicarinya dan ketika ia sudah menemukannya segera ditaruhnya di atas meja. Tak tahu jika ada dua file yang ditariknya secara bersamaan maka salah satu file yang bukan menjadi tujuannya terjatuh berserakan di bawah kakinya.

Menggeram kesal Sasuke segera memungutnya dan mengumpulkannya menjadi satu, juga merapikannya. Dan saat itulah ia membaca seraca random isi dari map itu. Isinya adalah surat jual-beli rumah yang terdapat tanda tangan Itachi di dalamnya. Itu berarti Itachi sudah membeli sebuah rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya begitu pun dirinya di sebuah daerah bernama Ame.

Dan Sasuke menemukan sebuah foto yang menggambarkan bagaimana bentuk rumah jadi itu. Rumah yang cukup besar berada dekat sisi pantai. Pertanyaan yang membuatnya terheran-heran adalah untuk apa Itachi membeli rumah? Pertanda tanggal saat transaksi jual-beli rumah ini sekitar dua tahun yang lalu.

Cukup lama dan itu berarti saat Itachi pulang ke Jepang untuk mengunjungi Ayah dan Ibu. Entah bagaimana bisa kini terngiang jelas ucapan Itachi padanya saat ia dan dirinya tengah mengobrol tentang sebuah masa depan di dalam kamar.

.

.

"Kudengar Ayah dan Ibu sudah memintamu untuk segera menikah?" Tanya Sasuke dengan raut wajah serius.

Itachi melirik sosok adiknya sekilas sebelum menjawab pertanyaan Sasuke dengan santai. "Ya."

"Lalu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya tinggi ketika melihat raut wajah Itachi yang tenang-tenang saja.

"Aku mengatakan pada Ayah dan Ibu jika aku sudah memilih seseorang sebagai istriku nanti."

"Benarkah itu?" Sasuke sangat tertarik dan antusias mendengar jawaban tak percaya yang di dengarnya.

"Ya. Aku mencintai seseorang dari dulu hingga sekarang."

"Kau mau memperkenalkannya padaku?"

"Tentu. Suatu hari nanti akan kubawa dia kehadapanmu dan kepada Ayah-Ibu."

.

.

Saat Sasuke menanyakan siapa seseorang yang dimaksud oleh Itachi, kakaknya itu hanya menjawab pertanyaan dari dirinya dengan sebuah senyuman. Ia sungguh penasaran saat itu dengan gadis yang dipilih oleh Itachi.

Lalu, perihal keberadaan rumah ini. Mungkinkah Itachi menyiapkannya untuk Istri dan dirinya kelak setelah menikah? Sangat wajar. Diumur yang sekarang memang sudah sepantasnya Itachi memikirkan hal sejauh ini. Namun ada sesuatu yang entah kenapa membuat dadanya sesak seperti ini. Ada sesuatu yang membuat firasatnya menjadi tak mengenakan mengenai keberadaan rumah ini. Entah apa itu tapi ada hubungannya dengan Sakura.

Ya, Tuhan. Cobaan apalagi yang akan menimpa dirinya dan Sakura? Tidak cukupkah penderitaannya selama ini karena harus berpisah dengan Sakura?

Pluk!

Sebuah foto terjatuh dari lembaran kertas yang digenggam oleh Sasuke. Pemuda itu memungutnya tanpa membalikkan foto itu.

Deg!

Jantungnya tiba-tiba saja berdebar menyakitkan ketika ia menggenggam foto itu. Diliputi rasa penasaran Sasuke membalikkan fotonya dan kedua matanya sukses terbelalak sempurna. Dadanya merasakan rasa sesak teramat sangat membuat pemuda itu mencengkram bagian dadanya erat.

Foto itu berisikan siluet seorang gadis yang tubuhnya terbalut oleh seragam SMP Sakura Gaoka. Siluet seorang gadis yang memiliki rambut sewarna dan secantik bunga Sakura. Mata sehijau emerald. Bibir semerah delima. Kulit seputih pualam.

Sama.

Sosok di dalam foto itu sama dengan sosok wanita-nya.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Pertanyaan itu terus menerus berputar di dalam kepalanya.

"Ukh!" Sasuke mengerang sakit dan kemudian mencengkram kedua sisi kepalanya. Membiarkan foto itu terjatuh dari genggaman tangannya. Kedua mata onyx-nya memandang siluet Sakura yang berada di foto dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Sakura…" Desah Sasuke pelan. Kedua mata onyx-nya masih memandang lekat wajah Sakura. Namun, detik demi detik berlalu pandangan matanya pada foto itu memburam dan tak jelas. Dan rasa sakit pun menyerang hebat bagian kepala dan merambat pada kedua matanya. Seolah bola matanya itu berusaha ditarik keluar. Begitu menyakitkan sampai tak tertahankan.

"Sakura…" Kembali Sasuke menggumamkan nama itu seiring kesadarannya yang perlahan menipis dan menghiang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

PRAANGG!

Sakura terkejut bukan main ketika gelas yang digenggamnya meluncur jatuh menghantam lantai. Hinata maupun Sasori sama dibuat terkejutnya. Pecahan gelas itu berserakan bercampur warna merah sirup yang tadi Sakura minum. Warna merah itu entah kenapa seperti genangan darah di mata Sakura.

Seketika perasaan takut menjalari hatinya dan wajah Sasuke terbayang-bayang di dalam kepalanya. Firasat buruk segera menyergap relung hatinya.

"Perasaan tidak enak apa ini?" Batin Sakura kalut.

"Kau tidak apa-apa?" Sasori berlari mendekati Sakura dan mencengkram bahunya erat.

Hinata menyusul dibelakangnya dengan menunjukan raut wajah khawatir. "Jika kau sedang tidak sehat lebih baik istirahat saja."

Sakura hanya terdiam dengan wajah pucat. Tak juga menatap wajah Sasori maupun Hinata yang berada di depannya. Kedua mata hijau emerald-nya hanya memandang genangan warna merah di bawah kakinya. Dan sedetik kemudian tubuh wanita itu merosot begitu saja dengan kedua mata terpejam.

Sasori segera menangkap tubuh Sakura sebelum terjatuh menghantam lantai. Pemuda itu langsung panik seketika begitu pun Hinata.

Sakura … tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

.

Tsuzuku

Balasan review non-login :

Guest : Hahaha. Gomen. Sepertinya keinganmu tidak terkabul. Itachi cinta banget sama Sakura. Dan seterusnya konflik akan menyangkut mereka bertiga setelah ini. Review?

Akasuna no Ei-chan : Gomen. Update-nya ngaret. Wkwkwkkwkwk.

Duplikat Sasuke? Oh, itu masih rahasia*smirk*

Review?

Guest2 : Gomen. Ini udah di update. Kebangetan ya? Hahaha. Maklum z deh. Q hiatus lama bngt krn laptopnya rusak..

cHerry'bLossomsxxx : Kok review chapter 3? Kenapa ga yang di chapter terbaru z?

Yupz. S. G = Sabaku Gaara. Tebakanmu benar.

Novri S : Hai-hai. Ini udh di update loooh… Silahkan menikmati(?)

Jeni : Arigato

Oke. Tentu z. q bakalan bikin fic GaaSaku lagi. Udah da rencananya kok. Ini udh di update. Review?

.

.

YAATTTTTAAAAA! Akhirnya bisa juga update fic ini. Maaf bngt bagi yang nunggu-nunggu kelanjutannya. Untuk menebus keterlambatannya aku menambahkan seribu word dari biasanya. Jadi agak panjangan dikit. Hehehhe.

Gimana? Gimana? Makin penasaran kah akan klnjutannya?

Q tetapkan jika mulai saat ini Itachi terlibat dlm konflik SasuSaku. Well, sbnrnya dr awal Itachi duluan yang cinta sama Sakura baru Sasuke. Nanti akan ada flashback dikit mengenai gimana Itachi bisa jatuh cinta ma Sakura.

Ada yang udh nonton Drama Korea Stairway to Heaven? Fic ini memang terinsiprasi dari sana. Jadi jangan kaget klu mslkan ada beberapa adegan yang mirip dengan DraKor itu. Tapi, aku bikin kebalikkannya sih. Klu di Drama Korea-nya kan yang meninggal karena Kanker itu cewek-nya tapi di sini …. *rahasia*

Oke. Mau main tebak-tebakkan lagi? Aku bertanya kalian jawab, ga dijawab juga ga apa-apa sih. Hahaha.

Pertanyaannya :

Pertama : Bagaimana bisa Sasori terlibat?

Kedua : Apa Itachi juga mengenal Gaara?

Ketiga : Bagaimana nasib Sasuke setelah mengetahui jika ternyata Itachi juga mencintai Sakura?

Keempat : Siapa yang bakal dipilih sama Sakura, Itachi atau Sasuke?

Kelima : Happy Ending or Sad Ending?

Haha. Pertanyaan kelima kyknya bkl bnyk yang nebak Sad Ending ya jika melihat jika ini fic Angst. Tapi jangan salah loooohh. Author satu ini sangat anti dengan …*piiipppp*

Oke. Masih rahasia dan blm saatnya ksh tau mengenai endingnya. Meski tinggal bebrpa chapter lagi tp ga bkl seru klu dh diksh tau akhirnya. Bener ga? Biar readers pd bingung sendiri mikir gmn endingnya dan mulai berimajinasi.

Terakhir… minta review-nya yaaaaa.

Doumo arigato, Minna^^

See you in the next chapter.

Banyak kejutan lainnya loooohhh.

REVIEWS