Previous Chapter
"Aku mencintaimu, Sakura."
"Katakan berapa kali kalian sudah melakukannya?"
"Lepaskan tanganmu darinya!"
"Kau siapa?"
.
.
.
.
"Sasori … "
"Berbahagialah. Kau pantas mendapatkannya."
"Kau mengingat sesuatu tentang mawar merah?"
"Itu adalah jimat. Kau akan hidup bahagia setelah ini. Percayalah!"
.
.
.
.
PRAANGG!
"Perasaan tidak enak apa ini?"
"Kau tidak apa-apa?"
"Jika kau sedang tidak sehat lebih baik istirahat saja."
.
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
Gisei©Mizuira Kumiko
Rate : T
Genre : Romance/Angst/Hurt-Comfort
Alternate Universe
Warning : OoC, GaJe, Typo's, rushing
.
Enjoy, Minna!
.
.
Sakura masih tak sadarkan diri terhitung sudah satu jam terlewati. Wanita itu masih saja memejamkan kedua matanya. Tak mengindahkan tatapan khawatir dari dua pasang mata yang kini memerhatikannya.
Sasori dan Hinata—sesaat Sakura sudah dibawa oleh Sasori ke kamarnya, mereka berdua sama sekali belum beranjak kemana pun. Sasori terlihat begitu gelisah memerhatikan detik demi detik angka di jam yang dia pakai di pergelangan tangannya bertambah seiring waktu. Hinata pun tak hentinya mengelus-ngelus punggung tangan kanan Sakura guna untuk membantunya cepat sadar karena merasakan sentuhan seperti ini.
Wanita berambut indigo tersebut terduduk di sisi ranjang, sedangkan Sasori duduk di sofa tak jauh di mana dirinya berada.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan kekhawatiran mereka. Keduanya menoleh pada ambang pintu yang kini di sana berdiri seorang pelayan yang membawakan tiga cangkir teh di atas nampan. Seulas senyum kecil terpasang di bibir pelayan tersebut.
"Hinata-sama, Sasori-sama, Saya membuatkan teh—untuk Sakura-sama juga jika ia sudah sadar," ucapnya dan melangkah masuk. Meletakan nampan itu di atas meja kecil samping pintu.
Hinata balas tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan pelan. Dan pelayan itu pun langsung undur diri dan keluar dari dalam ruangan tersebut setelah membungkukkan badannya.
Sasori bangkit berdiri dan mengambil dua cangkir teh tersebut. Satu untuk dirinya dan satu lagi ia berikan untuk Hinata. "Minumlah!"
Hinata melepaskan genggaman tangannya pada Sakura dan menerima cangkir teh dari Sasori. Sebelum meminumnya ia terlebih dahulu menghirup aroma menyergarkan dari teh tersebut. Hal serupa pun dilakukan oleh Sasori.
Asap yang mengepul, menandakan jika teh itu tidaklah hangat justru tak membuat Sasori maupun Hinata menunggu sampai asap yang mengepul itu menghilang. Satu teguk, dua teguk keduanya meminum teh tersebut.
Secara bersamaan pula keduanya menghela napas berat. Rasanya meski sedikit, dengan meminum teh ini dan merilekskan pikiran cukup ampuh untuk mengursir kegelisahan di hati keduanya.
"Dia tidak apa-apa. Karena itu kuyakin Sakura akan sadar."
Hinata mengangguk paham. Ia melirik jam dinding di kamar Sakura dan setelahnya menoleh pada Sasori. Bukannya Hinata hendak mengusir tamu dari rumahnya, tapi keberadaan Sasori di sini sudahlah terlalu lama. Dari pagi sampai sore hari. Meski itu atas ajakannya untuk sarapan dan sekaligus makan siang bersama, tapi tetap saja. Sasori pasti punya kesibukan tersendiri. Ia berprofesi sebagai seorang dokter, meski pemuda itu mengatakan jika hari ini dia 'off', tetap saja yang namanya kesibukan pasti ada.
Sasori yang menyadari gelagat dan tatapan mata Hinata hanya menggeleng pelan. Ia tersenyum. "Tidak apa. Aku akan menunggu sampai Sakura sadar. Aku tidaklah keberatan."
Hinata mengangguk dan mengulas sebuah senyuman. Di dalam hati wanita itu merasa bahagia setiap kali memikirkan mengenai Sakura. Wanita berambut merah muda yang kini terbaring tak sadarkan diri selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Gaara, Karin, Sasuke dan Sasori. Meski awalnya diantara mereka tercipta kesalahpahaman namun pada akhirnya mereka jugalah sumber kebahagian yang akan dicapai olehnya kelak, suatu hari nanti.
Namun, tiba-tiba saja Hinata kepikiran mengenai hubungan Sasori dan Gaara. Ia sempat curi dengar jika dulu Sasori lah yang selalu menemui Sakura di rumah sakit. Tidak mungkin jika Sasori melakukan hal itu tanpa mengenal Sakura terlebih dahulu. Jadi, ada hubungan apa antara pemuda yang kini tengah berdiri di sampingnya dengan Gaara?
"Sasori … boleh ku bertanya sesuatu?—tentang hubunganmu dan Gaara."
Sepersekian detik ada perubahan dalam raut wajah Sasori yang semula datar menjadi sedikit gelisah. Namun hal itu tanpa disadari oleh Hinata. Sasori pandai menyembunyikan ekspresi di wajahnya. "Kami sebenarnya—"
"Ngghh~!"
Lenguhan kecil dari Sakura membuat Sasori menghentikan ucapanya. Kini pandangan matanya terfokuskan pada sosok Sakura yang mulai kunjung sadar.
Meski penasaran dengan kelanjutannya Hinata tetap mengesampingkan hal tersebut. Yang terpenting di dalam pikirannya kini adalah kesadaran dan keadaan Sakura.
Sakura membuka kedua matanya perlahan dengan disertai kernyitan dahi. Tangan kanannya repleks memijat pelan sisi kepalanya yang terasa begitu pening. Rasa pusing langsung menyergapnya sedetik setelah ia membuka mata dan membiasakan retinanya menerima sentuhan cahaya dari lampu kamar.
Tentu, Sakura bisa menebak jika kini ia berada di dalam kamarnya. Dan ia pun masih ingat jika ini masih di rumah Hinata. Pingsan bukan berarti ia lupa dengan keadaan sebelum dirinya menjadi sekarang.
Dengan gerakan pelan Sakura berusaha untuk bangun namun kedua bahunya segera di dorong kembali untuk berbaring. Ia menatap pemilik tangan itu dengan tatapan heran. Namun sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya yang pucat. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak Hinata. Jangan pasang raut wajah sekhawatir itu," gurau Sakura dan kembali mencoba untuk duduk.
Kali ini Hinata membiarkannya. Jelas nampak ada raut tidak suka dengan gurauan Sakura sesaat setelah dirinya sadar. Uh, wanita merah muda itu tidak tahu betapa khawatirnya ia saat tiba-tiba saja dirinya pingsan.
"Ini … minumlah!" Sasori menyerahkan satu cangkir teh yang masih mengepul ke hadapan Sakura.
Dengan gumaman kata terima kasih Sakura menerima cangkir itu dan meniup-niupnya kecil sebelum meminum satu teguk tehnya. "Berapa lama a—"
"Satu jam." Hinata langsung menyerobot berucap menjawab pertanyaan Sakura. Wanita yang tengah mengandung muda itu memegang salah satu bahu Sakura dan menatapnya galak. "Harusnya jika kau sakit, kau memberitahuku."
Sakura segera menggeleng. "Aku tidak sakit, mungkin … "
"Sakura hanya kelelahan saja. Sudah kukatakan bukan jika Sakura baik-baik saja?" Sasori menengahi keduanya ketika mulai merasa akan ada perdebatan panjang.
Ia pun meski beberapa kali bertemu bisa menilai bagaimana sifat Hinata. Terlebih terhadap Sakura. Wanita muda itu selalu dan pasti mengkhawatirkan Sakura secara berlebihan. Jika tidak mengomel selama satu jam mungkin wanita itu tidak akan puas. Namun, karena hal itu juga ia menjadi lega bukan main karena di sisi Sakura ada orang yang seperti itu.
Hinata nampak menghela napas dan menyenderkan punggungnya pada kursi. "Kau belum makan dan akan kuhangatkan sekarang. Tunggu dan jangan membantah!"
Sakura hendak protes namun tidak jadi. Ia bukannya tidak ingin memakan masakan Hinata. Tapi, wanita itu sedang hamil muda. Tidak boleh melakukan kegiatan terlalu berlebihan terlebih pada malam hari. Itu bisa beresiko terjadi sesuatu pada janin. Sungguh, bukan hal yang Sakura inginkan jika benar-benar terjadi sesuatu dengan bayi kakak angkatnya.
Sasori yang menyadari kegelisahan Sakura hanya tersenyum. "Wanita hamil memang keras kepala," guraunya dan mengisi tempat duduk di mana tadi Hinata berada.
Sakura mendengus menahan tawa. Ia melirik jam di dinding kamarnya dan sedetik setelahnya ia melotot pada Sasori. "Kenapa saat ini kau masih ada di sini, Sasori? Kuyakin kau 'bolos' dari tugasmu."
Ctak!
Sasori langsung menjentikan keras jari telunjuk dan tengah pada dahi lebar Sakura yang tertutupi poni. Wajah imutnya jelas nampak tidak menyukai ucapan Sakura. "Hati-hati saat berbicara, Nona Berjidat Lebar."
Sakura langsung mendelik pada Sasori sambil mengelus-ngelus dahinya yang … lebar. "Yeah—dahiku memang lebar dan itu tandanya aku lebih jenius dari pada kau."
Sasori melotot mendengar ucapan Sakura dan sedetik kemudian mendengus keras. "Maaf saja. Wajahku lebih imut dibandingkan dengan gadis berjidat lebar seperti kau."
Ctak!
Sakura balas mengetuk dahi Sasori dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Ittai~" Sasori harus mengakui mulai sekarang jika ternyata tenaga Sakura lebih besar dari pada yang ia kira.
Namun sedetik setelah Sasori mengaduh kesakitan kini dirinya tertawa lepas. Begitu pun dengan Sakura. Entah bagian apa yang menurut mereka lucu, tapi dengan seperti ini setidaknya mencairkan suasana kaku sesaat Sakura sadar.
"Kau banyak pikiran—kutahu itu." Tiba-tiba saja Sasori menaruh telapak tangannya yang besar dan hangat di atas pucuk kepala Sakura dan mengelusnya sebentar sebelum menurunkan kembali tangannya. Raut wajahnya entah kenapa tiba-tiba saja menjadi murung.
Sakura hanya bungkam tak bersuara. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain guna untuk menghindari tatapan menuntut dari tatapan sepasang mata caramel di sampingnya. Ia kembali meneguk beberapa kali teh yang kini ia genggam oleh kedua tangannya. Selain ingin menghangatkan badannya ia pun ingin telapak tangannya menjadi tak beku.
"Sakura—"
"Sudahlah," potong Sakura cepat dengan tetap mengalihkan pandangannya dari Sasori. Rupanya wanita itu enggan bercerita mengenai apa yang dipikirkannya kini. Terlebih ia tidak ingin membebani Sasori dengan masalahnya. Sudah cukup pemuda itu menanggung rasa sakit di hatinya karena penolakan darinya.
Sasori … begitu baik padanya. Bahkan saat ia tidak mengingat kehadirannya saat ia di rawat di rumah sakit pasca kepergian Gaara, pemuda itu tetaplah mengingatnya dan selalu membantunya. Pun ketika ia pertama kali masuk bekerja pada hari pertama di rumah sakit milik ayah angkatnya—Namikaze Minato.
Menghembuskan napas pelan Sasori langsung bangkit dari tempat duduknya. Meski ada raut kecewa di wajahnya pemuda itu tetap memasang senyum menawan andalannya. "Baiklah—aku pamit. Selamat malam."
Tanpa menunggu balasan dari Sakura pemuda itu melangkah keluar dan menutup pintu kamar. Baru setelah itu Sakura menoleh ke arah pintu dan mengeratkan genggamannya pada badan cangkir dan bergumam, "Arigato … Sasori—dan maaf."
.
.
.
.
.
.
Dilanda rasa rindu yang membuncah di dalam dadanya Sakura beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan mendekati meja di mana handphone-nya berada. Ia baru menyadari jika layar handphone-nya berkelap-kelip menandakan ada sebuah telepon yang tak ia jawab.
Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya ketika mendapati ada nama Sasuke di layar. Segera saja ia menelpon balik dan tak memperdulikan pulsanya akan habis karena menelpon ke luar negeri. Tentu hal itu pun berlaku bagi Sasuke.
Sambil membiarkan posisi handphone itu berada di telinga kanannya Sakura kembali ke atas tempat tidur dan merebahkan diri. Memeluk guling dan beranggapan jika benda mati itu adalah tubuh calon suaminya yang ia rindukan untuk dipeluk.
Selang beberapa detik setelah ia menghubungi nomor Sasuke yang menjawabnya hanyalah mesin operator. Nomor Sasuke sedang tak aktif saat ini. Diiringi decakan sebal Sakura kembali mencoba menghubunginya namun hasilnya tetaplah sama.
Manik emeraldnya menatap ke arah luar jendela. Di langit nampak gemerlapan karena kehadiran bintang-bintang. Pun sinar rembulan menyala dengan terang. Sakura bangkit dari tempat tidur kembali dan berjalan menuju bingkai jendela. Duduk di salah satu bingkai dan membiarkan punggungnya bersender ke pada sisi kayu. Semilir angin menerbangkan ujung-ujung rambut dan poninya.
Dan wanita itu sama sekali tak terusik. Matanya fokus menatap langit yang biru gelap dengan disertai kerlipan bintang-bintang yang seolah kini tengah menyapanya.
Meski ia dan Sasuke berada dikejauhan saat ini, tetapi mereka masihlah berada di bawah langit yang sama.
Sakura mengira-ngira apakah saat ini Sasuke juga sedang menatap langit?
Di sini malam hari, mungkin di sana saat ini adalah siang. Jadi, tidak ada bintang yang nampak.
Senyum kecil menghiasi bibirnya ketika teringat malam di mana ia menaiki sebuah wahana Giant Heel di Konoha Park dengan Sasuke. Kedua pipi wanita bersurai merah muda itu memerah bak apel. Karena pada malam itu adalah di mana Sasuke mencium dirinya tepat saat keduanya berada di puncak.
Suasana yang sungguh romantis. Meski saat Sasuke mengantarnya pulang sampai depan rumah ia diceramahi panjang lebar oleh Minato dan Kushina. Dan menasehati juga memperingati mengenai batasan pacaran.
"Hhhhh…" Sakura menghela napas kecil sesaat mengingat kenangan manis saat itu semua.
Ingin kembali ke masa-masa itu namun ia tak memiliki alasan karena itu adalah sebuah masa lalu yang indah ditengah kelamnya hidupnya. Pertemuan dengan Sasuke adalah sebuah anugrah yang tak pernah terkira. Ia tidak akan berada di sini karena Sasuke. Karena jika bukan karena rasa cintanya yang begitu besar pada Sasuke ia sudah mati mengenaskan saat di rumah sakit waktu itu.
Sakura memandang luka sayatan di pergelangan tangannya. Luka akibat dari rasa sakit dihatinya membekas dikulitnya. Tanda sayatan itu menjadi bukti betapa depresinya ia setelah ditinggal setahun lebih oleh Sasuke. Tak hanya itu, jika saja Naruto tidak menarik tubuhnya, sudah dipastikan ia akan mati.
Wanita itu tersenyum lirih ketika mengingat kejadian dua tahun lalu ketika ia mencoba sebuah percobaan bunuh diri dengan berniat terjun dari atas atap gedung rumah sakit dengan ketinggian 30 lantai. Sudah pasti jika itu terjadi tulang-tulang ditubuhnya akan remuk dan patah. Dan ia akan meninggalkan dunia fana ini seketika itu juga.
Beruntung, Naruto yang menyadari dan tahu niatnya segera menarik tubuhnya terjatuh ke belakang dan menamparnya keras.
Tamparan keras itu sungguh menyakitkan namun ia menjadi sadar ketika melihat Naruto menangis untuknya.
Saat itulah kedua matanya terbuka dengan lebar karena jika ia mati, ia hanya akan membuat luka baru di hati orang-orang yang menyayanginya. Ayah-Ibu, Naruto, Hinata, mereka semua menyayanginya.
Dan ia harus hidup untuk mereka … juga Gaara. Tak terlupakan ia juga hidup untuk bertemu kembali dengan Sasuke. Meski ia membencinya tapi rasa cintanya masihlah ada. Saat dipemakaman sebenarnya ia tak bersungguh-sungguh berucap jika yang ia butuhkan di dunia ini hanyalah Gaara.
Tapi, tidak sepenuhnya benar juga, karena apa? Karena ia membutuhkan keduanya di dunia ini. Namun, saat ini hanya Sasuke lah yang ia harapkan untuk berada di sisinya.
"Sudah kuhangatkan makanannya. Ayo, cobalah. Sup buatanku pasti enak," ucap Hinata yang tiba-tiba saja sudah berada di kamar Sakura tanpa wanita itu sadari. Mungkin karena pikirannya sedang berkelana ia jadi tak menyadari kehadiran Hinata saat memasuki kamarnya.
Tak ingin mengecewakan Hinata yang sudah repot-repot membawakannya makan malam, Sakura segera menjauhi bingkai jendela dan beranjak duduk di kursi di depan ranjangnya. Di sana Hinata tengah meletakan satu mangkuk sup besar yang dari aromanya saja bisa membuat air liurnya menetes keluar. Sup yang begitu kental berbumbu yang sehat. Aahh~lemak ditubunya pasti akan bertambah karena pasti ia akan meminta sup mangkuk kedua pada Hinata.
"Oh, ya … mana Sasori?" Tanya Hinata sesaat setelah ia menaruh satu mangkuk nasi dan juga lauk pauk lainnya. Ia menatap Sakura dengan raut wajah penasaran.
Sakura tak menjawab langsung, melainkan ia mengambil sendok dan merasakan terlebih dahulu kuah sup itu. "Sup ini enak sekali."
Pertanyaan Hinata segera terlupakan olehnya. Wanita berambut indigo tersebut tersenyum lebar dengan kedua pipi merona. "Tentu saja. Naruto bahkan pernah menambah mangkuk supnya sampai mangkuk kelima."
Sakura mengerjapkan kedua matanya selama beberapa detik sebelum memekik terkejut. "Benarkah? Mungkin aku akan menambah mangkuk sup buatanmu lebih dari Kak Naruto."
Hinata yang mendengarnya hanya terkikik kecil.
##Sacrifice##
Sesudah pagi menjelang dan matahari mulai memberikan sinarnya yang sehat secara gratis Sakura mulai mengemasi barangnya yang sedikit itu. Kedua tangannya sibuk memasukkan barang bawaan pribadinya ke dalam tas miliknya. Kini ia memakai pakaian yang sama ketika kemarin datang ke rumah ini. Oh, tentu saja pakaian yang dipakainya sekarang telah dicuci terlebih dahulu dan disetrika. Rapi, wangi dan bersih.
Rambutnya yang panjang sebahu nampak terlihat basah mengkilap. Ia belum mengeringkan rambutnya dan membiarkan tetesan air kecil berjatuhan. Ia pun belum memakai bedak dan hal lainnya untuk merias wajahnya. Kini ia masih sibuk menata barang bawannya.
Dan sebuah handycam menjadi benda terakhir yang Sakura masukan ke dalam tasnya. Sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya ketika melihat handycam itu. Di dalamnya tentu saja sudah ada banyak rekaman mengenai dirinya saat berkebun kemarin. Sebenarnya ada Sasori dan Hinata juga yang waktu ikut berkebun, namun yang diambil gambarnya hanyalah dirinya seorang.
Ia tidak bisa sabar bagaimana komentar Sasuke mengenai rekaman video ini jika ia sudah mengirimkannya.
Sakura menutup resleting tasnya dan kemudian beranjak duduk di depan kaca meja rias. Mengambil sebuah hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Tak membutuhkan waktu lama, hanya dalam waktu lima menit rambutnya sudah kering. Dan kini ia mulai menyisirnya pelan. Dan Sakura mulai memakaikan alas bedak dan mengoleskan lipsgloss strawberry pada bibirnya.
Dandanan yang sederhana dan sama sekali tidak mencolok. Lagi pula dari dulu ia memang tidak begitu suka berdandan berlebihan sewaktu SMA, dan terbawa sampai sekarang. Baginya tampil apa adanya lebih penting dari pada tampil berlebihan namun bukan dirinya sama sekali.
Sakura yang selama ini selalu diperlihatkan adalah Sakura yang penuh dengan kesederhanaan. Dan Sasuke begitu menyukainya sampai sekarang. Jadi, tak ada masalah dengan penampilan selama penampilan itu bersih dan rapi.
Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya sesaat sebelum dirinya bangkit dari duduk dan berjalan mengambil tasnya. Ia mulai beranjak keluar kamar setelah memastikan jika keadaalan di dalam kamar sudah rapi.
Sakura mulai menenteng tasnya dan berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada beberapa pelayan yang sibuk menata meja makan dengan Hinata yang memberi instruksi. Sebuah senyuman lembut menghiasi kembali bibir Sakura ketika melihat Hinata begitu semangat hari ini.
"Pagi … " Sapa Sakura dan memeluk sekilas Hinata. Setelah itu ia mengambil tempat duduk di sebelah kanan dan menaruh tasnya di sampingnya.
"Pagi juga, Sakura. Kau merasa lebih baik?" Tanya Hinata dan mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Sakura. Wajahnya yang lembut masih menunjukan raut kekhawatiran. Rupanya ia masih memikirkan kejadiaan kemarin sore saat Sakura tiba-tiba saja pingsan setelah beristirahat dari kegiatan berkebun.
Sakura mengangguk. "Aa. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, Kak Hinata."
Meski ingin kembali berkomentar mengenai sikap cuek Sakura mengenai kesehatannya, Hinata memilih bungkam. Ia tahu jika Sakura begitu keras kepala. Pendirian kuat namun mudah sekali depresi atau pun stress jika ada masalah yang menghinggapi kehidupannya satu-satunya kelemahan yang dimilikinya.
"Kau yakin akan pulang hari ini? Kupikir sebaiknya kau tinggal lebih lama di rumahku dari pada tinggal sendirian di apartemenmu. Lagi pula biar ada yang menjagamu jika terjadi apa-apa. Bagaimana jika tiba-tiba saja kau pingsan lagi. Sakura—kau itu harus menjaga dan peduli pada kese—"
"Kak Hinata … " Potong Sakura cepat ketika merasa Hinata akan berucap panjang lebar. "Aku sangat berterima kasih karena kakak begitu mengkhawatirkan aku. Tapi, percayalah … aku akan baik-baik saja."
"Tapi—"
"Jika terjadi sesuatu aku akan segera menghubungi Kak Hinata. Tenang saja."
Hinata nampak ingin membantah namun hal yang dilakukannya hanyalah menghela napas dan memejamkan mata. "Janji?" Pintanya dan menatap Sakura.
"Janji."
"Baiklah … " Hinata menjawab setelah menghela napas sekali lagi.
"Lagi pula yang perlu Kak Hinata perhatikan itu adalah bayi yang ada dalam kandungan kakak. Kakak tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat, namun yang lebih penting dari itu semua adalah menjaga pikiran agar tidak tertekan dan mengontrol emosi."
Hinata tersenyum mendengarnya dan mulai mengoleskan selai kacang pada roti tawarnya. "Baikah, Bu Dokter."
Sakura ikut tersenyum dan mulai melakukan hal yang sama dengan Hinata. Bedanya ia mengoleskan selai coklat pada rotinya. Ingat, ia alergi terhadapan kacang. Jika ia memakannya satu sendok saja sudah dipastikan kulit-kulit ditubunya akan memerah dan gatal-gatal. Parahnya ia bisa langsung sesak napas. Bahkan satu jilatan pun ia tak boleh melakukannya.
"Kau akan langsung pulang ke rumah?" Tanya Hinata setelah meminum satu teguk teh dari cangkir yang baru saja disediakan oleh pelayan.
Sakura menggigit kecil rotinya dan mengunyahnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Hinata. "Tidak. Bahan makanan di rumah sudah habis. Aku akan pergi ke swalayan terlebih dahulu sebelum pulang dan setelah itu aku akan pergi ke rumah Bibi Mikoto," ungkapnya dengan pandangan mata sendu selama beberapa detik tanpa disadari oleh Hinata.
Jelas, ada kekecawaan di hatinya. Sebab, bahan makanan di dalam kulkasnya ternyata tidak bertahan selama satu minggu. Bahan makanan itu rencananya disediakan untuk kedatangan Sasuke dari Amerika nanti. Menyambutnya dengan makan malam tentu akan membuat hubungan mereka berdua semakin harmonis.
Pada awalnya Sakura memang berniat melakukan itu. Sayangnya kini bahan makanan yang sama sekali belum tersentuh itu sudah rusak dan tidak mungkin untuk dimasak. Ia pun sendiri heran kenapa bahan makanan yang ditaruh di dalam kulkas bisa membusuk hanya selang dua hari.
Faktanya Hinata nyaris lupa jika Sakura akan menginap beberapa hari di rumah Bibi Mikoto.
"Akan ku—"
"Tidak usah. Lagi pula—"
Kriiinggggg!
Bunyi bel sukses membuat ucapan Sakura terhenti. Keduanya, baik Hinata maupun Sakura saling memandang. Ada raut keheranan yang terpancar dari wajah Hinata. Segera ia beranjak berdiri dan berjalan perlahan mendekati pintu.
Letak ruang tengah dan tamu memang cukup jauh dan lagi pula terhalangi oleh sebuah tikungan. Menjadikan Sakura kini sudah tak bisa memandang sosok Hinata. Namun samar-samar ia mendengar suara percakapan.
Seorang laki-laki.
Sakura bisa mendengar jika suara yang tertangkap oleh indra pendengarannya adalah suara khas seorang laki-laki. Wanita berambut merah muda itu menautkan sebelah alisnya, berpikir. Mungkin saja yang datang adalah Sasori. Jika Naruto tidak mungkin Hinata menahannya di depan pintu masuk dan tidak memperbolehkannya masuk ke dalam rumah.
Namun, kedua dugaannya ternyata salah. Yang datang ke rumah ini bukanlah Sasori melainkan putera sulung Uchiha.
Uchiha Itachi.
Kedua bola mata Sakura nyaris keluar saking terkejutnya. Mulutnya menganga dengan lebar dan hampir saja potongan roti yang ada di dalam mulutnya terjatuh jika saja Sakura tidak cepat-cepat sadar dan menelannya. Ia segera menyambar gelas berisi air putih dan meminumnya sampai tandas.
Kini Sakura mulai duduk dengan gelisah ketika Hinata berjalan ke arahnya bersama Itachi di sampingnya. Bahkan saat ini Sakura nyaris lupa jika Hinata tentu kenal baik dengan Itachi. Saking gugup dan tidak tahu harus bersikap apa Sakura hanya terdiam seperti batu yang ditempatkan di atas kursi.
"Selamat pagi." Itachi menyapa Sakura dengan disertai senyuman kecil di bibir.
Sakura mengangkat kepalanya ragu dan balas tersenyum—meski terlihat seperti dipaksakan. "Ya, selamat pagi juga."
Hinata kembali duduk dikursinya, ia juga mempersilahkan duduk kepada Itachi.
Sakura dibuat terkejut lagi ketika Itachi mengambil tempat duduk disampingnya.
Hinata yang melihat reaksi Sakura hanya diam dan sedetik kemudian tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya pada Itachi disertai senyum di bibir. "Mau sarapan bersama kami, Kak Itachi?"
"Tidak usah. Aku sudah sarapan sebelum kemari."
"Kalau begitu … kubuatkan teh—tolong jangan menolaknya," ucap Hinata dan beranjak berdiri meninggalkan Sakura dan tamunya seorang diri.
Di dalam hati Sakura menjerit keras meminta Hinata untuk tidak meninggalkan dirinya sendiri bersama orang yang paling dirinya tidak ingin ditemui.
Jika ia berdekatan dengan Itachi entah apa yang akan terjadi. Ia takut hilang kendali saat itu.
"Wajahmu pucat."
Sakura refleks memalingkan wajahnya ke kanan menatap lawan bicara. Namun di waktu yang bersamaan pula wajah Itachi mendekati wajahnya. Terkejut? Jangan ditanya lagi. Kini seluruh wajah Sakura sudah memerah bahkan sampai ke ujung telinganya.
Tanpa menghiraukan efek dari apa yang dilakukannya Itachi meraih tengkuk Sakura dan menempelkan dahinya ke dahi wanita itu. Kedua mata onyx-nya terpejam. "Tidak panas."
Sakura mendengar gumaman kecil Itachi. Embusan napas pemuda itu menerpa wajahnya dan begitu terasa hangat. Belum lagi harum maskulin dan juga parfum yang menguar sedekat ini dari tubuh pemuda itu.
Deg! Deg!
Kini jantungnya mulai berdetak tak karuan. Terlebih ketika Itachi membuka kedua matanya dan menatap sepasang emerald miliknya begitu intens dan dalam jarak sangat dekat seperti ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Itachi dan menjauhkan kembali wajahnya dengan serta duduk seperti semula.
Dengan terbata dan juga masih diserang rasa gugup Sakura menjawabnya dengan anggukan kepala.
Itachi yang melihat dan juga menyadari reaksi yang dialami Sakura beberapa detik lalu hanya tersenyum tanpa disadari oleh Sakura.
"Aku datang kemari untuk menjemputmu."
"Eh?" Sakura mengerjap terkejut. Ia sungguh tidak menyangka atau pun menduga jika Bibi Mikoto menyuruh Itachi untuk menjemputnya langsung. Padahal tanpa dijemput pun ia pasti akan datang ke rumah Uchiha dan menginap beberapa hari di sana atas permintaan Bibi Mikoto kemarin.
"Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Katanya ada banyak hal yang ingin diceritakannya."
Sakura tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Ia masihlah terkejut dengan kedatangan pemuda itu di mana hari masih pagi seperti ini. Ditambah ia ragu jika keadaan Itachi sudah sehat untuk dibawa berjalan-jalan atau pun membawa kendaraan.
"Bagaimana lukamu?"
Itachi menyentuh dahinya yang masih diperban. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap Sakura dan tersenyum. "Sudah membaik."
"Kau … bawa mobil kemari?" Tanya Sakura ragu.
"Aa. Kenapa?"
"Pada umumnya orang yang pernah kecelakaan baik motor ataupun mobil akan mengalami sebuah trauma. Mereka akan merasa takut untuk membawa kendaraan tersebut kembali. Tentu bukan trauma berkepanjangan. Trauma itu berlangsung mungkin hanya beberapa minggu atau bulan tergantung tingkat trauma yang diderita."
"Aku mengerti. Awalnya aku juga merasakan takut, tapi ketika aku mencobanya dan baik-baik saja, maka rasa takut itu menghilang."
Sakura tak lagi bisa mengungkapkan argumennya. Entah kenapa semua pola pikir di dalam kepalanya meluap hilang entah kemana saat bersama Itachi. Yang tertinggal hanya keheningan baginya. Ia tak bisa berucap apapun lagi.
"Aku cukup terkejut kakak datang ke rumahku. Kupikir Sakura belum memperbolehkan kakak untuk keluar rumah dan pergi dengan membawa kendaraan," ucap Hinata dengan membawa satu cangkir berisi teh dan meletakannya di atas meja di depan Itachi.
"Kau benar, Hinata. Aku belum mengizinkannya untuk keluar rumah," batin Sakura dan mendengus pelan.
Itachi hanya tersenyum menanggapi ucapan Hinata. Diliriknya sekilas wajah Sakura yang tengah memakan habis sarapannya. "Aa. Sakura memang belum mengizinkan, tapi aku pribadi merasa sudah sehat. Lagi pula, bukan hanya karena atas permintaan Ibu saja aku datang ke rumah ini."
Hinata nampak mengangkat sebelah alisnya bingung. Raut wajah yang menuntut dari wanita itu membuat Itachi kembali bersuara.
"Aku datang ke rumah ini untuk menjemput Sakura adalah atas keinginanku sendiri."
Hampir Sakura kembali tersedak saat mengunyah makanan di dalam mulutnya. Benar-benar. Setiap kata yang diucapkan oleh Uchiha Itachi tidaklah sehat untuk dirinya. Begitu pun dengan keadaan jantungnya yang kini berdetak hebat tak karuan. Sakura tak mau membayangkan bagaimana wajahnya kini.
Hinata terdiam setelah mendengar penuturan Itachi. Raut wajahnya terlihat begitu tenang namun berbanding terbalik dengan pikirannya yang kini gusar dan gelisah bukan main. Sedikit—hanya sedikit saja Hinata bisa merasakan ada siratan tesembunyi dari ucapan Itachi. Entah kenapa ia merasakan hal ini padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah.
Ada apa sebenarnya?
Kehidupan normal yang baru saja Sakura rasakan sepertinya akan mengalami sebuah guncangan. Guncangan yang dahsyat dengan melibatkan beberapa perasaan.
Mungkin karena ia sedang hamil makanya ia menjadi sensitive seperti ini. Tapi, perasaan gelisah ini tiba-tiba muncul ke permukaan setelah pertemuannya yang entah ke berapa dengan Itachi.
Ada rasa yang berbeda.
Wanita berambut indigo itu merasakan jika tatapan Itachi pada Sakura menyimpan sesuatu. Sesuatu yang begitu kompleks dan misterius. Pandangan orang ketika sedang jatuh cinta sangatlah simpel dan mudah sekali tertebak.
Namun, sorot mata pemuda itu jauh dari sekedari cinta. Ada sebuah hasrat yang begitu menggebu-gebu yang Hinata sendiri tak bisa menjelaskannya.
Pastinya ia bisa merasakannya … perasaan pemuda itu begitu kuat dan besar. Seolah semua pandangannya terhadap dunia ini hanya tertuju pada diri Sakura seorang. Semua kehidupannya hanya berpusat pada Sakura. Semua masa depannya ia berikan pada Sakura. Semua jiwa dan raganya ia serahkan pada Sakura.
Jika Sakura tak menerimanya—
—hati, bahkan jiwa dan tubuh pemuda itu …
… mati.
##Sacrifice##
Tak ada jalan lain selain meminta Itachi untuk mengantarnya terlebih dahulu pulang menuju apartemennya. Bukan hanya untuk menaruh pakaian kotor di apartemennya tapi juga untuk membawa tas yang lebih besar yang bisa menampung pakaian-pakaiannya.
Dengan kata lain Sakura kembali berkemas kini di dalam kamarnya. Sedangkan Itachi kini sedang duduk di ruang tamu setelah ia juga menyuguhi pemuda tersebut dengan secangkir kopi hitam dan beberapa topless kue kering dengan rasa yang begitu luar biasa manis.
Bahkan selera pemuda itu dan dirinya sama. Sama-sama menyukai suguhan kopi hitam dengan ditemani cemilan manis.
Sasuke saja tidak menyukai makanan atau pun minuman yang manis-manis. Teh yang ditambahkan setengah sendok gula saja pemuda itu akan langsung meminta ganti dengan teh yang baru. Apalagi sebuah cemilan yang bahannya memang sengaja ditutupi dengan butiran gula.
Pemuda itu sama sekali tidak menyentuh makanan manis itu ketika ia menyuguhkanya.
Gerakan tangan Sakura ketika melipat pakaiannya terhenti total. Ia menggigit bibir bawahnya lagi karena baru tersadar jika barusan saja ia kembali membanding-bandingkan Sasuke dengan Itachi.
Uchiha Sasuke dan Uchiha Itachi adalah orang yang berbeda meski mempunyai ikatan sedarah sebagai keturunan murni keluarga Uchiha.
Mereka berdua berbeda baik fisik, sifat, sikap, kegemaran, dan masih banyak hal lainnya.
Tapi, kenapa ia membandingkan hal kesukaan antara Sasuke dan Itachi seolah sedang menilai siapa yang pantas untuk mendampinginya?
Sudah jelas ia akan memilih Sasuke karena sebentar lagi mereka berdua akan berjanji sehidup semati di depan altar. Mereka berdua akan segera menikah, tidak lama lagi.
Di tambah tidak ada alasan untuk keduanya berpisah. Mereka telah bersatu baik secara fisik maupun batin. Malam di mana ia menyerahkan tubuhnya seutuhnya pada pemuda itu menjadi tanda jika mereka tak akan terpisahkan oleh siapapun. Baik oleh zaman dan waktu. Mereka akan bersama-sama, selamanya.
Dengan menancapkan baik-baik hal tersebut di hatinya Sakura mulai kembali melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper berukuran sedang. Sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya.
Ia akan melupakannya. Melupakan kejadian waktu itu bersama Itachi. Tidak ada alasan baginya untuk kembali pada masa lalu.
Masa depanlah yang harus ia pikirkan sekarang. Masa depannya bersama Uchiha Sasuke.
Dan Sakura hanya berharap ia mampu melakukannya saat ini juga.
Sebuah pengharapan yang Sakura sama sekali tak tahu apakah akan berhasil sesuai keinginannya atau tidak.
.
.
.
.
.
Itachi yang tengah duduk santai bersender pada punggung sofa melirik sosok Sakura yang baru saja keluar dari sebuah kamar. Wanita itu menyeret sebuah koper kecil. Entah bagaimana bisa dan apa sebabnya tiba-tiba saja pemuda itu tersenyum saat melihatnya. Beranjak berdiri mendekati Sakura, Itachi segera mengambil alih pegangan koper dari tangan wanita itu. "Aku saja," ucapnya datar.
Sakura tak bisa menolak karena kini tubuhnya lagi-lagi kaku tak bergerak ketika tak sengaja jari-jari tangannya bersentuhan dengan jari pemuda itu. Hanya sentuhan kecil nan singkat mengapa efeknya sebesar ini terhadap dirinya?
Wanita berambut merah muda itu kini diliputi perasaan ragu akan kesetian hatinya pada Sasuke. Jika ia mencintai sepenuh hati calon suaminya itu, lantas kenapa jantungnya merasa berdebar setiap kali ia berdekatan tak ada batas dengan pemuda lain?
Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah calon kakak iparnya sendiri dan … masa lalunya.
"Ada apa?" Itachi angkat bicara ketika melihat Sakura hanya diam terpaku melihatnya dengan pandangan mata aneh. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Sakura mengerjapkan kedua matanya beberapa kali dan seakan baru tersadar ia langsung menggeleng cepat dengan gugup. Dipaksakannya sebuah senyum di bibirnya. "Ti-tidak apa-apa … ahahaha," ucapnya dengan disertai tawa yang terdengar semakin aneh.
Itachi kini tengah menahan senyum lebar di wajahnya. Melihat ekpresi wanita dihadapannya sungguh selalu membuat ia ingin tersenyum. Wajah bahagia memang menjadi hal utama yang ia begitu sukai. Sebisa mungkin ia tidak akan menghilangkan wajah bahagia wanita itu. Jauh di dalam lubuk hatinya pemuda itu sudah berjanji akan selalu berada di samping wanita itu dan melindunginya dari jauh.
"A-ayo kita berangkat!" Sakura berjalan kikuk menjauhi Itachi yang kini tengah memandang lembut punggungnya.
"Aa."
Belum Sakura mencapai pintu keluar rumahnya, terdengar belnya di tekan dari arah luar. Ada tamu yang datang. Diliputi sebuah rasa penasaran akhirnya Sakura memutuskan untuk menahan sebentar kepergiannya.
Ia membuka pintu dan seraut wajah asing pria berdiri dihadapannya.
"Ada paket atas nama Nona Haruno. Anda Nona Haruno?" Tanya pria itu dengan pandangan bertanya seakan memastikan jika ia tak salah mengetuk pintu apartemen seseorang.
Mengangguk pelan Sakura menerima bungkusan paket yang berukuran sedang itu dari tangan sang pria. Setelah memberikan tanda tangannya sebagai bukti jika paket itu sudah sampai pada sang penerima, pria itu segera undur diri setelah mengucapkan 'Selamat siang'.
Kedua manik emeraldnya memandang penasaran isi dari bungkusan dengan bahan kertas tebal berwarna hijau muda itu. Di sisi kanan bawah ada nama pengirim.
Uchiha Sasuke.
Paket yang kini ada ditangannya dikirim atas nama Sasuke. Hampir saja ia lupa dengan ucapan Bibi Mikoto mengenai Sasuke mengirimkan paket ke apartemennya.
"Dari siapa?"
Sakura terdiam setelah ia menutup pintu apartemennya dan beranjak melangkah memasuki kembali ruang tamu. Menaruh bungkusan paket itu atas sofa dan menatap Itachi dengan raut wajah menimang-nimang.
"Sasuke … "
"Kau tidak membukanya?" Tanya Itachi dengan intonasi nada yang berbeda kini.
Sakura menyerngit bingung namun tak ambil pusing. "Nanti saja."
Itachi melirik bungkusan paket itu dan setelahnya berbalik memunggungi Sakura. Berjalan tak bersuara meninggalkan wanita itu yang kini dilanda kebingungan dengan perubahan sikap Itachi kini.
Lagi—tak mau ambil pusing segera saja Sakura mengejar sosok Itachi yang sudah keluar pintu apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya Sakura tak menginginkan keadaan seperti ini. Berdua saja di dalam mobil dengan Uchiha Itachi membuatnya tak bisa duduk tenang. Ada saja kegelisahan dihatinya, entah saat Itachi diam-diam meliriknya atau pun saat pemuda itu tiba-tiba saja tersenyum lembut padanya.
Sakura merasa saat ini ia sedang berselingkuh dari Sasuke. Dan yang lebih buruk ia berselingkuh dengan kakak kandung dari calon suaminya. Inilah akibat dari apa yang ia lakukan. Jika saja ia tak membalas ciuman Itachi saat itu dan menolaknya mungkin Itachi akan langsung mundur.
Sepasang emerald milik gadis itu memandang keberadaan cincin di jari manisnya. Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan konyol melintas di dalam kepalanya. Ia bertanya-tanya, apakah Itachi mengetahui hubungan dirinya dan Sasuke sudah sejauh mana? Atau ia yang harus menanyakannya?
Dengan menghembuskan napas pelan dan menutup kedua matanya barang sebentar Sakura merubah posisi duduknya sedikit lebih miring ke kanan. Menatap wajah Itachi dari samping yang tengah serius berkonsentrasi menyetir. "I—Itachi … "
"Mmm?" Tanpa melepaskan pandangan dari depan Itachi merespon dengan gumaman pelan.
Hal itu membuat Sakura gugup dan entah kenapa ia menjadi berdebar-debar begini.
"A-apa kau tahu … mengenai hubunganku dengan … Sasuke?"
Tak ada raut terkejut sama sekali dari wajah datar Itachi. Hal ini membuat Sakura sedikitnya merasa heran atas sikap tenang pemuda itu. Apa ia berniat untuk merebut dirinya dari Sasuke? Sakura rasanya ingin tertawa keras saat mendapat pikiran seperti itu.
Menggelikan. Ia diperebutkan oleh kedua laki-laki dari Uchiha. Bermimpi saja ia tidak pernah namun kini pikiran itu terlintas begitu saja beberap detik lalu di dalam kepalanya.
Tentu saja itu adalah pikiran terkonyol yang pernah terpikirkan olehnya. Mana mungkin bisa seperti itu.
"Aku tahu."
Setelah mendengar jawaban Itachi, Sakura merasa lega bukan main. Itu artinya jika pemuda itu tahu mengenai hubungannya dengan Sasuke, kejadian saat itu hanyalah terbawa oleh suasana.
"Aku tahu namun aku tetap mencintaimu … Sakura."
Sakura membulatkan kedua matanya. Meski tak ingin saat Itachi mengatakan itu ia menahan napas sejenak dengan jantung berdebar kencang.
Kedua tangan mungil wanita itu mengepal di atas paha. Sakura mengigit bibir bawahnya karena tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia bingung. Sungguh saat ini ia dibuat bingung dengan situasi. Sakura menundukan kepalanya dalam tak mau menatap wajah Itachi.
Sebuah derai tawa lemah dan terdengar begitu menyakitkan terlontar keluar dari mulut Itachi. "Aku adalah orang terbodoh di dunia ini yang mencintai calon adik iparnya sendiri."
Sakura merasakan sesak yang begitu menyakitkan di dadanya. Mendengar gumaman lirih pemuda di sampinya membuat hatinya seolah-seolah tercabik-cabik secara brutal. Jika ia mendengarnya sudah seperti ini, lantas bagaimana keadaan hati orang yang mengatakannya?
Ia sungguh tak bisa membayangkannya.
Mungkin jika dalam keadaan dan situasi yang berbeda ia akan mengatakan hal ini pada pemuda tersebut, "Tidak ada yang salah dengan mencintai. Setiap orang berhak merasakannya. Dan tergantung tekad orang tersebut untuk memilih memperjuangkannya atau … melepasnya."
Setidaknya itulah kata-kata yang akan diucapkannya dan memberi sebuah semangat. Sayangnya ia tak bisa mengatakan hal tersebut karena ia peran utama wanita yang ada di dalam lingkaran masalah tersebut.
"Aku tak bisa melupakanmu dan aku tak pernah bisa untuk menghilangkan perasaan ini."
Itachi menyentuh dadanya dan menatap sayu wajah Sakura yang kini semula menunduk menjadi menatapnya.
"Itachi … " Lirih Sakura dan menutup bibirnya dengan linangan air mata di kedua pipi.
"Aku begitu mencintaimu tapi aku juga begitu menyayangi Sasuke. Aku … tidak ingin kehilangan satu pun dari kalian."
"…" Sakura tak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Tenggorokannya serasa tercekat sesuatu.
"Sakura—kumohon bantu aku untuk menyelesaikan akhir dari ini semua. Akhir di mana kubisa memilikmu tanpa harus menyakiti Sasuke."
Deg!
Lagi—hatinya begitu terasa sakit saat mendengar pemintaan lirih pemuda tersebut. Hatinya serasa ditusuk oleh ribuan pisau berulang-ulang. Sungguh perih dan menyakitkan.
Mana mungkin ia bisa memutuskan untuk memilih diantara keduanya. Ia tak ingin menyakiti hati seorang pun. Ia ingin semua orang yang ada disekelilingnya bahagia. Ia … tidak sanggup untuk memutuskan mana yang jalan yang harus diambilnya.
"Apa yang harus kulakukan?—Kami-sama … tolonglah aku. Tolonglah kami," batin Sakura berteriak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ia hanyalah seorang manusia—wanita—yang tentunya mempunyai keegoisan di dalam diri. Maka saat keegoisan itu mendominasi maka ia pun tak bisa memutuskan. Antara memilih, menyakiti dan merelakan.
Memilih diantara dua hati yang begitu menjeratnya begitu dalam.
Menyakiti diantara dua hati yang begitu rapuh.
Merelakan salah satu di antara dua hati yang memberikan kehidupan padanya.
Apakah ia mampu?
.
.
.
.
Tzuduku
Balasan review non-login :
_QRen : Tentu. Happy End.
Ttp dukung dngn cara me-review yaaaaa!:*
_Salsalala : Ahahaha. Maaf. Kelamaan ya update'y? q sibuk di dunia nyata niiihhh. Jadi fic-ku yang lain termasuk ini pd terbngkalai.
Kenapa disiksa mulu? Err… sebenarnya aku menyiksa Sasuke di sini, Sakura ga terlalu. Eits~bukan berarti q ga suka Sasuke looohhh. Tapi yaaaa tuntutan ceritanya memang seperti ini. Ahaha#ngeles
Arigatoooooo:) atas dukungannya.
_Guest : Lu-lupa?#pingsan. Aaaaaa~pasti krn q lama update makanya lupa. Gomeeeennnnnnn. Ta-tapiiiii klu ga kbrtan silahkan bc dar awal chap lagi, ga smuanya psti lngsng inget kok.
Hehehehe.
_RyeoRezClouDy : Aaakkkkhhh~namamu susah diketiknya#digiles
Yupz. Genre angst belum tentu akhirnya Sad.
Oke. Tetep dukung sampai akhir nanti yaaa.
Arigatooooo.
_SasuSaku Uchiha : Cewe wajar kok plin-plan. Soalnya q juga gitu. Hahahaha#digetok
Meski angst belum tentu akhirnya Sad looohhh. Haha.
Tetep dukung sampai akhir yaaa.
Arigatouuuuu~
.
.
Haaaiiiii:*Lama tak bertemu(?) ada yg kangen sama fic ini?
Hehe.
Yosh! Chapter ini ga da kejutannya, mungkin di chapter depan. Err… ga da hal yang mau q omongin sih. Soalnya blm da konfliknya yang terjalin antara Itachi-Sakura-Sasuke. Mungkin beberapa chapter depan aku bakal berusaha mmancing emosi pra reader biar lbh 'greget' saat bca interaksi Sasuke-Itachi.
Moga z bisa. Ahahah.
Oke. Minta reviewnya ya termausk kritik dan saran di dalamnya.
Jaa mata ne~
^o^
